Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan Sabtu 18 Apr 2026, 14:30 WIB
Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Industri musik Indonesia telah menjalani transformasi yang panjang dari era rilisan fisik hingga menjamurnya platform digital. Pada dekade 1970 hingga 1990-an, kaset menjadi cara utama untuk mendistribusikan musik di Indonesia, bahkan disebut sebagai “era kaset” karena perannya yang signifikan dalam menyebarkan musik ke berbagai daerah. Memasuki tahun 2000-an, CD dan kemudian platform digital seperti layanan streaming mulai mengambil alih, secara bertahap menggantikan budaya konsumsi musik fisik yang ada.

Namun, di tengah gelombang digitalisasi yang kencang, denyut musik tidak sepenuhnya berpindah. Di kota seperti Bandung yang lama dikenal sebagai salah satu barometer musik di tanah air, ekosistem musik tetap hidup dalam berbagai cara. Termasuk melalui tempat-tempat kecil yang masih mengandalkan rilisan fisik sebagai media utama. Dari lingkungan kampus hingga distro dan toko kaset, Bandung telah membentuk identitas musiknya yang kuat sejak tahun 1990-an.

Fenomena serupa dapat ditemukan di kota lain di timur Indonesia seperti Makassar, meskipun dengan skala dan dinamika yang berbeda. Walaupun industri musik masih terpusat di Jawa, namun perkembangannya meluas dengan karakteristik lokal yang berbeda di wilayah timur Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa musik tetap menjadi sarana ekspresi yang menghubungkan generasi serta wilayah.

Bandung dan Makassar Dalam Irama yang Berbeda

Bandung terkenal sebagai kota yang melahirkan banyak band dari beragam genre, mulai dari rock, britpop, hingga alternative. Dalam konteks ini, toko musik seperti DU 68 Musik menjadi saksi dari perjalanan tersebut dan juga sebagai tempat nostalgia berbagai generasi penggemar musik.

“Tren musik itu muter. Yang dulu tidak laku, sepuluh tahun kemudian dicari lagi,” kata pemilik toko DU 68 Musik, Irham Vickry, saat ditemui di tokonya. “Saya lihat siklusnya sekitar 10–15 tahun, selalu berulang,” lanjutnya.

Dia juga memberikan contoh bagaimana tahun 1990-an di Bandung dihiasi oleh berbagai rona genre, dari heavy metal hingga britpop dan grunge yang masing-masing memiliki basis penggemar yang kuat. “Dulu itu lagi ramai heavy metal, thrash metal, terus muncul grunge sama britpop kayak Oasis sama Blur,” ucap Vickry sambil menatap tumpukan kaset di rak tokonya. “Band-band kayak Metallica, Sepultura, Nirvana itu juga lagi naik waktu itu,” tambahnya.

Walaupun tren terus berganti, ada satu genre yang menurutnya tetap konsisten dominan hingga sekarang. “Dari dulu sampai sekarang, yang paling banyak dicari itu rock,” kata Vickry. “Karena mereka loyal, penggemarnya kuat,” lanjutnya.

Sebaliknya, di Makassar yang dijuluki Kota Pelabuhan dan Kota Daeng ini menunjukkan geliat yang berbeda. Kota ini masih dalam tahap perkembangan yang lebih tersegmentasi dalam hal rilisan fisik, dengan ekosistem yang belum sebesar di Bandung. “Makassar itu tidak sebesar Bandung atau Jakarta, segmennya masih tight banget,” kata penjual rilisan musik analog asal Makassar, Toyong (26), saat ditemui di Toko DU 68 Musik. “Jika dibandingkan dengan Bandung atau Jakarta, pasarnya di sana lebih kecil dan lebih spesifik,” lanjutnya.

Toyong menceritakan bahwa di Makassar hanya ada dua toko rilisan fisik musik, selebihnya adalah toko online. Untuk tren yang sedang muncul, Toyong mengamati adanya pergeseran minat yang cukup menarik, terutama di kalangan anak muda. “Di Makassar sekarang orang lebih ke kaus band dulu. Biasanya dari kaus, baru ke CD atau kaset, baru ke vinyl,” jelas Toyong dengan logat dan aksen khas timurnya. “Yang sekarang-sekarang sih kayak The Jeblogs, Cindy, Alkateri juga,” kata Toyong menyebutkan nama-nama band yang ramai digemari di Makassar.

Ia juga menyinggung mengenai perkembangan genre di wilayah timur Indonesia yang lebih luas. “Kalau di timur kayak Ambon, Jayapura, hip-hop itu maju banget sekarang,” kata Toyong. “Lagu-lagu yang ramai di TikTok banyak dari sana,” lanjutnya mengarah pada lagu yang sering muncul di FYP belakangan, seperti Tabola Bale, Pica-Pica, atau Stecu-Stecu.

Vinyl Balcony dan Homicide dalam "Memoar’98". Karya ini adalah bagian dari EP Reuni Balcony yang sempat dilepas ke publik pada 2012. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Vinyl Balcony dan Homicide dalam "Memoar’98". Karya ini adalah bagian dari EP Reuni Balcony yang sempat dilepas ke publik pada 2012. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pride, Kelawasan, dan Keunikan Musik Analog

Di tengah mudahnya akses digital, rilisan fisik justru memberikan pengalaman yang berbeda bagi beberapa pencinta musik. Ini dirasakan oleh generasi muda yang kini mulai kembali tertarik pada kaset, CD, hingga vinyl.

“Kalau dengerin (rilisan) fisik, kita jadi dengerin satu album penuh. Jadi tahu lagu-lagu lain, bukan cuma satu lagu aja,” ucap salah satu konsumen DU 68 Musik, Alika Khadijah Rinjani (22). “Di Spotify kan bisa skip, kalau di kaset atau CD kita harus nikmatin semuanya,” lanjutnya.

Selera musik mereka menunjukkan koneksi antargenerasi yang masih relevan hingga kini. “Aku paling sering dengerin rock, kayak Led Zeppelin, Metallica, sama Aerosmith,” ucap Alika menyebutkan tiga band kesukaannya.

Bagi Alika dan Malik, rilisan fisik menawarkan pengalaman otentik untuk menghargai musik secara utuh tanpa fitur skip. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bagi Alika dan Malik, rilisan fisik menawarkan pengalaman otentik untuk menghargai musik secara utuh tanpa fitur skip. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sementara penikmat musik lain yang sedang berkunjung ke salah satu toko rilisan fisik musik tertua di Bandung ini—M. Malik Syafiq Rahmansyah (19)—memiliki pilihan yang lebih bervariasi, mulai dari musik klasik hingga heavy metal. “Kalau aku suka Cream, terus Judas Priest, sama musik-musik blues, jazz, sama rock,” kata Malik.

Bagi Malik, pengalaman ini lebih dari sekadar mendengar, melainkan soal kepemilikan dan rasa emosional dengan musik. “Ada pride tersendiri punya rilisan fisik dari musisi yang kita suka,” ucap Malik. “Dan dari segi audio juga beda, vinyl atau kaset itu lebih terasa,” tambahnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa rilisan fisik tidak hanya sekadar media yang tertinggal, tetapi juga memberikan pengalaman alternatif yang tidak dapat ditawarkan oleh platform digital.

DU 68 Musik menjadi ruang nostalgia bagi generasi pengguna kaset pita. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
DU 68 Musik menjadi ruang nostalgia bagi generasi pengguna kaset pita. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Nostalgia dan Harapan

Tidak hanya sebagai tempat jual beli musik analog, ruang seperti DU 68 telah menjadi ruang nostalgia yang menyatukan berbagai latar belakang. Dari mahasiswa, profesional, kolektor lama hingga generasi baru, semua berkumpul di satu tempat yang sama. “Di sini semua orang datang, dari berbagai latar belakang. Polisi, dosen, musisi, semua ada,” kata Malik. “Jadi bukan cuma cari musik, tapi juga cari relasi dan keluarga,” lanjutnya.

Situasi serupa juga terlihat di Makassar, meskipun dihadapkan pada tantangan yang berbeda. Toyong menyadari adanya potensi besar, terutama bila ekosistem produksi dan distribusi bisa lebih mandiri di wilayah timur Indonesia. Namun, di tengah keterbatasan ekosistem di luar Jawa, optimisme tetap muncul dari penikmat musik dari SD yang kini jadi kolektor dan distributor musik analog ke beberapa kota ini.

“Aku optimis rilisan fisik di Makassar masih punya masa depan,” kata Toyong dengan suara berat kerasnya sambil tersenyum. “Mungkin ke depannya akan terganggu karena digital, tapi semoga dengan adanya tempat-tempat kayak gini komunitasnya tetap hidup,” kata Alika di sesi lain wawancara.

Dalam ketidakpastian masa depan industri musik, satu hal yang tidak berubah: hubungan emosional antara manusia dan musik. Di Bandung maupun Makassar, musik terus menemukan jalannya. Melalui kaset, vinyl, atau percakapan hangat di ruang-ruang kecil yang tetap ada. “Generasi berganti, tapi penikmat musik akan selalu ada,” tutup Vickry tersenyum yakin.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 20 Mei 2026, 11:38

Inflasi Mengganas: Pilih Menabung Sampai Bonyok atau Berutang Biar Jadi Bos?

Memegang uang tunai terlalu lama di dalam tabungan adalah sebuah kerugian karena nilainya menyusut.

Ilustrasi uang tunai rupiah. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 10:13

Hadiah Kecil untuk Lembang (Lembangku Sayang, Lembangku Malang)

Untuk melahirkan rasa sayang dan kepedulian itu maka, marilah mengenal Lembang lebih dekat.

Para pemuda yang tergabung dalam komunitas pecinta budaya Lembang mengikuti tur sejarah Lembang untuk meningkatkan kesadaran para pemuda. (Sumber: Dokumentasi Indra Riyadi)
Beranda 20 Mei 2026, 09:39

Menjaga Damai dan Bahagia para Oma hingga Tuhan Memanggilnya

Panti Nazareth di Bandung bukan sekadar tempat tinggal lansia, tetapi ruang untuk menemani para oma menjalani masa tua dengan hangat.

Yunanth, staf administrasi dan bagian umum di Panti Nazareth. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 20 Mei 2026, 08:51

Molornya Acara Nobar 'Pesta Babi': Pilih Bertahan atau Pergi

Untuk peduli dan mengajak banyak orang peduli dengan isu-isu krusial dan besar.

Bagaimana mungkin kita mengajak orang lain untuk peduli kepada mereka yang diperlakukan semena-mena. Sementara dengan orang terdekat kita tidak peduli dengan waktunya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 05:35

Tamasya ke Pantai Pasir Putih Pangandaran, Surga Tersembunyi di Balik Hutan Pananjung

Tersembunyi di balik hutan Pananjung, Pantai Pasir Putih Pangandaran dikenal dengan air jernih, terumbu karang, dan suasana yang lebih sunyi.

Pantai Pasir Putih Pangandaran.
Wisata & Kuliner 20 Mei 2026, 03:00

Tamasya Bukit Strawberry Lembang, Bucket List Wisata Panorama Perbukitan di Bandung Barat

Panduan wisata Bukit Strawberry Lembang lengkap: tiket masuk, petik strawberry, wahana keluarga, glamping, kuliner, hingga waktu terbaik berkunjung.

Bukit Strawberry Lembang.
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 20:05

Bertahan dari Stereotipe 'Perempuan Belum Menikah'

Seberdaya apapun seorang perempuan tapi jika belum menikah, mereka seringkali dianggap tidak cukup lengkap hidup di tengah masyarakat.

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Fanny Hariadi)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 17:52

Eksistensialisme Mahasiswa Zaman Now: Daya Nalar Mengikis, yang Penting Eksis!

Menurunnya daya nalar adalah lampu kuning bagi masa depan.

Ilustrasi mahasiswa. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Magang Foto/Habib Riyadhi A.S)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 17:35

Panduan Berkunjung ke Keraton Kanoman Cirebon, Jejak Kesultanan Zaman Baheula

Keraton Kanoman Cirebon menawarkan wisata sejarah, museum pusaka, dan tradisi kesultanan yang masih bertahan di tengah hiruk-pikuk pasar kota tua.

Gedung Gajah Mungkur di kompleks Keraton Kanoman CIrebon. (Sumber: Wikimedia)
Beranda 19 Mei 2026, 16:25

Bagi Wagino, Menjaga Buku Sama Artinya dengan Menjaga Harapan Orang untuk Belajar

Di tengah budaya digital, Wagino M Putra tetap menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, dan percaya membaca adalah pondasi penting bagi generasi muda.

Wagino M Putra tetap setia menjaga toko bukunya di Dipatiukur, Bandung, sambil meyakini bahwa buku tidak akan tergantikan oleh layar ponsel. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 19 Mei 2026, 16:25

Digitalisasi yang Tanpa Sadar Mendongkrak Kenaikan Kelas UMKM Cikopi Mang Eko

Inilah sisi menarik lain dari Cikopi Mang Eko yang jarang diceritakan, tentang peran vital digitalisasi yang tanpa sadar telah mendongkrak 'UMKM Naik Kelas'.

Muchtar Koswara, pemiliki Cikopi Mang Eko,  di Jalan Golf Dalam, Arcamanik, Kota Bandung, (11/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 15:27

Menolak Lupa Mei 98: Kini Indonesia Cemas akan Rupiah Kian Melorot

Jika pemerintah terus abai, krisis kepercayaan publik yang meruntuhkan Orde Baru bukan tidak mungkin akan terulang kembali.

Massa membakar kursi dan benda lainnya saat kerusuhan Mei 1998 di Jakarra. (Sumber: Publication of the Indonesian government without copyright notice)
Wisata & Kuliner 19 Mei 2026, 14:53

Panduan Jelajah Wisata Lembang Bandung, Iteneray Liburan Pilihan Destinasi Favorit

Jelajahi wisata favorit Lembang seperti Farmhouse, Floating Market, The Lodge Maribaya, hingga Curug Maribaya lengkap dengan tips waktu kunjungan terbaik.

Farmhouse Susu Lembang. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ikon 19 Mei 2026, 14:05

Jembatan BBS, Dari Muara Sampah Sampai Jadi Tempat Nongkrong

Jembatan BBS di Bandung Barat dikenal sebagai spot nongkrong estetik di atas Citarum, meski kawasan ini juga menjadi tempat penumpukan sampah.

Jembatan Babakan Sapan (BBS) di Bandung Barat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 13:44

Dari Pesisir Lasem hingga Jadi Maestro Kuliner di Bandung: Mengenang Dedikasi Julie Sutarjana

Julie Sutarjana pernah melewati "masa sulit" perjuangan ekonomi di Bandung.

Julie Sutarjana. (Sumber: Instagram | Foto: kedainyonyarumah.bdg)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 11:49

Untuk Bertahan Jangan jadi Manusia Polos di Bandung

Bertahan bukan tentang bisa makan dan memiliki pekerjaan saja melainkan bertahan dari segala tindak kriminalitas dan modus penipuan yang terjadi di ruang publik di Kota Bandung.

Ilustrasi rawan modus penipuan di ruang publik di Kota Bandung (Sumber: AI)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 10:36

Bangkit di Kota Hujan: Dari PHK hingga Peluang Baru

Hari Kebangkitan Nasional 20 Mei, menjadi perjuangan nyata bagi warga Bandung di tengah badai PHK.

Kota Hujan di Bandung. (Sumber: Humas Kota Bandung)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 09:11

Mengapa Kasus Ban Truk Lepas Terus Berulang?

Kasus ban truk lepas yang terus berulang menunjukkan pentingnya perawatan kendaraan, inspeksi rutin, dan penguatan budaya keselamatan transportasi jalan.

Dua gerobak pedagang di Kawasan Simpang DAM, Kota Batam, hancur dihantam ban truk pengangkut tanah yang lepas pada Senin (30/6/2025). (Sumber: Youtube/Official UTV)
Ayo Netizen 19 Mei 2026, 08:10

Syukur, Takabur, dan Kufur

Dari momen sederhana itu tersimpan harapan agar langkah kecil hari ini menjadi motivasi untuk terus mencintai Al-Qur’an, menjaganya dalam ingatan, dan menghidupkannya dalam keseharian.

Di balik kelancaran menghafal hingga 5 juz para murid hari ini, Sabtu (16/6/2026) ada komitmen dan disiplin kuat dalam menjaga rutinitas. (Sumber: Tangkap layar Instagram @sdialamanahbdg)
Ayo Netizen 18 Mei 2026, 20:54

Potret Bandung Era Tahun 70-an dalam Koran GALA Edisi Lawas

Membaca surat kabar lama sering kali terasa seperti menaiki mesin waktu.

Halaman depan surat kabar GALA edisi 16 Mei 1973, terbit 53 tahun silam, yang menjadi salah satu potret dinamika sosial, politik, dan kehidupan Kota Bandung pada masanya. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)