Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

6 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Industri musik Indonesia telah menjalani transformasi yang panjang dari era rilisan fisik hingga menjamurnya platform digital. Pada dekade 1970 hingga 1990-an, kaset menjadi cara utama untuk mendistribusikan musik di Indonesia, bahkan disebut sebagai “era kaset” karena perannya yang signifikan dalam menyebarkan musik ke berbagai daerah. Memasuki tahun 2000-an, CD dan kemudian platform digital seperti layanan streaming mulai mengambil alih, secara bertahap menggantikan budaya konsumsi musik fisik yang ada.

Namun, di tengah gelombang digitalisasi yang kencang, denyut musik tidak sepenuhnya berpindah. Di kota seperti Bandung yang lama dikenal sebagai salah satu barometer musik di tanah air, ekosistem musik tetap hidup dalam berbagai cara. Termasuk melalui tempat-tempat kecil yang masih mengandalkan rilisan fisik sebagai media utama. Dari lingkungan kampus hingga distro dan toko kaset, Bandung telah membentuk identitas musiknya yang kuat sejak tahun 1990-an.

Fenomena serupa dapat ditemukan di kota lain di timur Indonesia seperti Makassar, meskipun dengan skala dan dinamika yang berbeda. Walaupun industri musik masih terpusat di Jawa, namun perkembangannya meluas dengan karakteristik lokal yang berbeda di wilayah timur Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa musik tetap menjadi sarana ekspresi yang menghubungkan generasi serta wilayah.

Bandung dan Makassar Dalam Irama yang Berbeda

Bandung terkenal sebagai kota yang melahirkan banyak band dari beragam genre, mulai dari rock, britpop, hingga alternative. Dalam konteks ini, toko musik seperti DU 68 Musik menjadi saksi dari perjalanan tersebut dan juga sebagai tempat nostalgia berbagai generasi penggemar musik.

“Tren musik itu muter. Yang dulu tidak laku, sepuluh tahun kemudian dicari lagi,” kata pemilik toko DU 68 Musik, Irham Vickry, saat ditemui di tokonya. “Saya lihat siklusnya sekitar 10–15 tahun, selalu berulang,” lanjutnya.

Dia juga memberikan contoh bagaimana tahun 1990-an di Bandung dihiasi oleh berbagai rona genre, dari heavy metal hingga britpop dan grunge yang masing-masing memiliki basis penggemar yang kuat. “Dulu itu lagi ramai heavy metal, thrash metal, terus muncul grunge sama britpop kayak Oasis sama Blur,” ucap Vickry sambil menatap tumpukan kaset di rak tokonya. “Band-band kayak Metallica, Sepultura, Nirvana itu juga lagi naik waktu itu,” tambahnya.

Walaupun tren terus berganti, ada satu genre yang menurutnya tetap konsisten dominan hingga sekarang. “Dari dulu sampai sekarang, yang paling banyak dicari itu rock,” kata Vickry. “Karena mereka loyal, penggemarnya kuat,” lanjutnya.

Sebaliknya, di Makassar yang dijuluki Kota Pelabuhan dan Kota Daeng ini menunjukkan geliat yang berbeda. Kota ini masih dalam tahap perkembangan yang lebih tersegmentasi dalam hal rilisan fisik, dengan ekosistem yang belum sebesar di Bandung. “Makassar itu tidak sebesar Bandung atau Jakarta, segmennya masih tight banget,” kata penjual rilisan musik analog asal Makassar, Toyong (26), saat ditemui di Toko DU 68 Musik. “Jika dibandingkan dengan Bandung atau Jakarta, pasarnya di sana lebih kecil dan lebih spesifik,” lanjutnya.

Toyong menceritakan bahwa di Makassar hanya ada dua toko rilisan fisik musik, selebihnya adalah toko online. Untuk tren yang sedang muncul, Toyong mengamati adanya pergeseran minat yang cukup menarik, terutama di kalangan anak muda. “Di Makassar sekarang orang lebih ke kaus band dulu. Biasanya dari kaus, baru ke CD atau kaset, baru ke vinyl,” jelas Toyong dengan logat dan aksen khas timurnya. “Yang sekarang-sekarang sih kayak The Jeblogs, Cindy, Alkateri juga,” kata Toyong menyebutkan nama-nama band yang ramai digemari di Makassar.

Ia juga menyinggung mengenai perkembangan genre di wilayah timur Indonesia yang lebih luas. “Kalau di timur kayak Ambon, Jayapura, hip-hop itu maju banget sekarang,” kata Toyong. “Lagu-lagu yang ramai di TikTok banyak dari sana,” lanjutnya mengarah pada lagu yang sering muncul di FYP belakangan, seperti Tabola Bale, Pica-Pica, atau Stecu-Stecu.

Vinyl Balcony dan Homicide dalam "Memoar’98". Karya ini adalah bagian dari EP Reuni Balcony yang sempat dilepas ke publik pada 2012. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Vinyl Balcony dan Homicide dalam "Memoar’98". Karya ini adalah bagian dari EP Reuni Balcony yang sempat dilepas ke publik pada 2012. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Pride, Kelawasan, dan Keunikan Musik Analog

Di tengah mudahnya akses digital, rilisan fisik justru memberikan pengalaman yang berbeda bagi beberapa pencinta musik. Ini dirasakan oleh generasi muda yang kini mulai kembali tertarik pada kaset, CD, hingga vinyl.

“Kalau dengerin (rilisan) fisik, kita jadi dengerin satu album penuh. Jadi tahu lagu-lagu lain, bukan cuma satu lagu aja,” ucap salah satu konsumen DU 68 Musik, Alika Khadijah Rinjani (22). “Di Spotify kan bisa skip, kalau di kaset atau CD kita harus nikmatin semuanya,” lanjutnya.

Selera musik mereka menunjukkan koneksi antargenerasi yang masih relevan hingga kini. “Aku paling sering dengerin rock, kayak Led Zeppelin, Metallica, sama Aerosmith,” ucap Alika menyebutkan tiga band kesukaannya.

Bagi Alika dan Malik, rilisan fisik menawarkan pengalaman otentik untuk menghargai musik secara utuh tanpa fitur skip. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bagi Alika dan Malik, rilisan fisik menawarkan pengalaman otentik untuk menghargai musik secara utuh tanpa fitur skip. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Sementara penikmat musik lain yang sedang berkunjung ke salah satu toko rilisan fisik musik tertua di Bandung ini—M. Malik Syafiq Rahmansyah (19)—memiliki pilihan yang lebih bervariasi, mulai dari musik klasik hingga heavy metal. “Kalau aku suka Cream, terus Judas Priest, sama musik-musik blues, jazz, sama rock,” kata Malik.

Bagi Malik, pengalaman ini lebih dari sekadar mendengar, melainkan soal kepemilikan dan rasa emosional dengan musik. “Ada pride tersendiri punya rilisan fisik dari musisi yang kita suka,” ucap Malik. “Dan dari segi audio juga beda, vinyl atau kaset itu lebih terasa,” tambahnya. Fenomena ini menunjukkan bahwa rilisan fisik tidak hanya sekadar media yang tertinggal, tetapi juga memberikan pengalaman alternatif yang tidak dapat ditawarkan oleh platform digital.

DU 68 Musik menjadi ruang nostalgia bagi generasi pengguna kaset pita. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
DU 68 Musik menjadi ruang nostalgia bagi generasi pengguna kaset pita. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

Nostalgia dan Harapan

Tidak hanya sebagai tempat jual beli musik analog, ruang seperti DU 68 telah menjadi ruang nostalgia yang menyatukan berbagai latar belakang. Dari mahasiswa, profesional, kolektor lama hingga generasi baru, semua berkumpul di satu tempat yang sama. “Di sini semua orang datang, dari berbagai latar belakang. Polisi, dosen, musisi, semua ada,” kata Malik. “Jadi bukan cuma cari musik, tapi juga cari relasi dan keluarga,” lanjutnya.

Situasi serupa juga terlihat di Makassar, meskipun dihadapkan pada tantangan yang berbeda. Toyong menyadari adanya potensi besar, terutama bila ekosistem produksi dan distribusi bisa lebih mandiri di wilayah timur Indonesia. Namun, di tengah keterbatasan ekosistem di luar Jawa, optimisme tetap muncul dari penikmat musik dari SD yang kini jadi kolektor dan distributor musik analog ke beberapa kota ini.

“Aku optimis rilisan fisik di Makassar masih punya masa depan,” kata Toyong dengan suara berat kerasnya sambil tersenyum. “Mungkin ke depannya akan terganggu karena digital, tapi semoga dengan adanya tempat-tempat kayak gini komunitasnya tetap hidup,” kata Alika di sesi lain wawancara.

Dalam ketidakpastian masa depan industri musik, satu hal yang tidak berubah: hubungan emosional antara manusia dan musik. Di Bandung maupun Makassar, musik terus menemukan jalannya. Melalui kaset, vinyl, atau percakapan hangat di ruang-ruang kecil yang tetap ada. “Generasi berganti, tapi penikmat musik akan selalu ada,” tutup Vickry tersenyum yakin.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)