Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

4 menit baca
Abah Omtris
Ditulis oleh Abah Omtris diterbitkan
Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)

Setiap anak Indonesia hafal Pancasila.

Setidaknya lima sila itu pernah diucapkan berulang kali di ruang kelas, upacara sekolah, atau berbagai acara kenegaraan. Kita mengenalnya sejak kecil. Kita menghafalnya bahkan sebelum memahami maknanya.

Namun ada sebuah pertanyaan yang jarang diajukan:

Mengapa bangsa yang begitu akrab dengan Pancasila justru semakin asing terhadap jalan pikiran yang melahirkannya?

Pertanyaan itu terasa penting setiap kali Bulan Bung Karno tiba. Tanggal 1 Juni diperingati sebagai Hari Lahir Pancasila. Tanggal 6 Juni adalah hari kelahiran Bung Karno. Tanggal 21 Juni merupakan hari wafat sang Proklamator.

Tetapi di tengah berbagai seremoni dan pidato kebangsaan, perhatian kita sering berhenti pada hasil akhir, sementara proses intelektual yang melahirkan Pancasila perlahan dilupakan.

Kita mewarisi lima sila.

Tetapi tidak selalu mewarisi tradisi berpikir yang melahirkannya.

Akibatnya, Pancasila semakin sering hadir sebagai hafalan, sementara keberanian untuk membaca, berdiskusi, dan memperdebatkan gagasan semakin jarang ditemukan.

Padahal Bung Karno tidak sampai pada Pancasila melalui jalan hafalan.

Ia sampai ke sana melalui pergulatan panjang dengan persoalan kolonialisme, kemiskinan, ketimpangan sosial, imperialisme, dan pencarian bentuk kemerdekaan yang sesuai dengan kenyataan Indonesia.

Dengan kata lain, Pancasila tidak lahir dari ruang hampa. Ia lahir dari tradisi berpikir.

Jalan Panjang Menuju Pancasila

Sering kali Pancasila dipahami seolah-olah lahir begitu saja pada 1 Juni 1945 ketika Bung Karno berpidato di hadapan sidang BPUPKI.

Padahal pidato itu bukanlah titik awal. Ia merupakan puncak dari perjalanan intelektual yang telah berlangsung selama bertahun-tahun.

Jauh sebelum berbicara tentang dasar negara, Bung Karno telah memikirkan persoalan rakyat yang hidup di bawah kolonialisme. Ia memikirkan hubungan antara kemerdekaan politik dan keadilan sosial. Ia mempertanyakan mengapa sebagian besar rakyat hidup dalam kemiskinan di tanah yang kaya akan sumber daya.

Pergulatan itulah yang kemudian melahirkan Marhaenisme.

Bagi banyak orang hari ini, Marhaenisme sering dipahami sekadar sebagai keberpihakan kepada kaum miskin. Padahal ia jauh lebih luas dari itu. Marhaenisme merupakan upaya memahami struktur penindasan yang membuat rakyat tetap terbelakang, sekaligus menawarkan jalan pembebasannya.

Yang menarik, Bung Karno tidak sekadar meminjam teori-teori yang berkembang di Eropa. Ia berusaha menyesuaikannya dengan kenyataan Indonesia. Karena itu ia tidak menggunakan istilah proletariat sebagaimana lazim digunakan dalam tradisi Marxis, melainkan memilih istilah Marhaen yang dianggap lebih mencerminkan kondisi rakyat Indonesia saat itu.

Pilihan tersebut menunjukkan satu hal penting: Bung Karno tidak hanya mencari jawaban, tetapi juga berusaha memahami kenyataan bangsanya dengan cara berpikir yang merdeka.

Ketika Teori Menjadi Alat Perjuangan

Dalam perkembangan berikutnya, gagasan tersebut dipertegas melalui Deklarasi Marhaenis yang dirumuskan pada 1964.

Salah satu gagasan penting yang muncul adalah keyakinan bahwa tidak ada gerakan revolusioner tanpa teori perjuangan yang revolusioner.

Bagi para perumusnya, teori bukanlah barang mewah yang hanya layak dibicarakan di ruang kuliah atau forum intelektual. Teori adalah alat untuk memahami kenyataan dan mengubahnya.

Karena itu rakyat tidak ditempatkan sebagai objek pembangunan, melainkan sebagai subjek sejarah.

Kesadaran tidak dianggap lahir dengan sendirinya. Ia harus dibangun melalui pendidikan, organisasi, diskusi, dan pengalaman perjuangan.

Pandangan seperti ini memiliki konsekuensi yang besar. Ia menuntut masyarakat yang aktif berpikir, aktif belajar, dan aktif terlibat dalam kehidupan publik.

Singkatnya, ia menuntut warga negara yang sadar.

Dari Pergulatan Gagasan ke Budaya Hafalan

Persoalannya, perjalanan bangsa ini justru menunjukkan gejala yang berbeda.

Selama puluhan tahun, pendidikan kewarganegaraan lebih banyak menekankan hafalan daripada pemahaman. Pancasila diajarkan sebagai rumusan yang sudah selesai, bukan sebagai hasil pergulatan pemikiran yang panjang.

Akibatnya lahir generasi yang mengenal kesimpulan tetapi tidak mengenal proses berpikir yang melahirkannya.

Kita mengenal simbol, tetapi tidak memahami substansinya.

Kita mengenal tokohnya, tetapi tidak membaca karya-karyanya.

Kita mengenal slogan-slogannya, tetapi tidak memahami persoalan yang ingin dijawab oleh slogan-slogan tersebut.

Di sinilah kontradiksi besar itu muncul.

Bangsa yang mengaku menghormati Bung Karno justru semakin jauh dari tradisi intelektual yang membentuk Bung Karno.

Ia dikenang sebagai tokoh besar, tetapi jalan pikirannya semakin jarang dipelajari.

Ketika Kemerdekaan Kehilangan Arah

Dampak dari hilangnya tradisi berpikir ini tidak berhenti pada dunia pendidikan.

Ia juga memengaruhi cara bangsa ini memandang kemerdekaan.

Salah satu tujuan utama kemerdekaan adalah menghapus penindasan dan mewujudkan keadilan sosial. Namun hingga hari ini ketimpangan ekonomi masih menjadi persoalan yang nyata. Politik semakin mahal dan bergantung pada kekuatan modal. Ruang publik lebih sering dipenuhi pencitraan daripada perdebatan gagasan.

Dalam situasi seperti itu, pertanyaan yang dahulu diajukan Bung Karno sebenarnya masih relevan:

Siapa yang menikmati hasil pembangunan?

Siapa yang tertinggal?

Siapa yang memperoleh keuntungan terbesar dari sistem yang berjalan hari ini?

Dan sejauh mana rakyat benar-benar menjadi subjek dalam perjalanan bangsa ini?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak dapat dijawab hanya dengan menghafal Pancasila.

Ia membutuhkan keberanian untuk berpikir.

Membaca Kembali untuk Merdeka

Barangkali persoalan terbesar Indonesia hari ini bukan karena kita kekurangan Pancasila.

Pancasila hadir di ruang kelas, kantor pemerintahan, pidato pejabat, hingga berbagai peringatan kenegaraan.

Yang semakin langka justru tradisi berpikir yang pernah melahirkannya.

Kita menjadi bangsa yang rajin mengutip tetapi malas membaca.

Rajin memperingati tetapi enggan mengkaji.

Rajin menghafal tetapi takut berpikir.

Padahal Bung Karno tidak mewariskan sekadar seperangkat jawaban. Ia mewariskan keberanian untuk bertanya, membaca, dan merumuskan jalan sendiri bagi bangsanya.

Karena itu Bulan Bung Karno seharusnya tidak berhenti pada mengenang seorang tokoh.

Ia harus menjadi momentum untuk menghidupkan kembali tradisi membaca, berdiskusi, dan berpikir kritis yang pernah melahirkan gagasan-gagasan besar bangsa ini.

Sebab kemerdekaan sejati tidak hanya ditentukan oleh bebasnya wilayah dari penjajahan, melainkan juga oleh merdekanya akal budi warga negaranya.

Dan kemerdekaan pikiran selalu dimulai dari keberanian untuk membaca. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Abah Omtris
Tentang Abah Omtris
Musisi balada juga aktif di berbagai komunitas lainnya

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Jul 2026, 18:04

Cara Ampuh Menerangi Jalan Kota Bandung

Menindak tegas begal bukan sekadar menjadi program tapi melanjutkan keluhan masyarakat yang diprioritaskan

Petugas dari Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung melakukan perbaikan lampu penerangan jalan umum di jalan Katapang, Kota Bandung, Senin, 9 Juni 2025. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 15:30

Mafia Olahraga, Sebuah Stigma Menakutkan

Olahraga yang seharusnya menjadi ruang sportivitas kini dihantui oleh mafia yang terhubung dengan jaringan global.

Uang rupiah. (Sumber: Unsplash | Foto: Mufid Majnun)
Wisata & Kuliner 19 Jul 2026, 14:01

Keripik Paru Klaten, Oleh-oleh Gurih Legendaris dari Kampung Tegal Kepatihan

Dari Kampung Tegal Kepatihan hingga dikenal luas, Keripik Paru Klaten menjadi ikon kuliner khas. Ketahui sejarah, proses, dan tempat membelinya.

Keripik Paru Klaten.
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 11:33

Marak Begal, Gangster, dan Matel Menelan Korban, Warga Bandung Pertanyakan Aksi Walikota dan Aparat

Bandung darurat 'Red Zone' akibat maraknya begal, gangster, dan matel yang menelan banyak korban.

Senjata Tajam. (Sumber: Pixabay/KhanaBadosh | Foto: Pixabay/KhanaBadosh)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 08:00

Ketika Deru Knalpot dan Distorsi Musik Menyatukan Ribuan Pecinta Otomotif Bandung

Seri pembuka Kejurnas Slalom MLDSPOT Autokhana 2026 sukses mengguncang GOR Arcamanik Bandung.

Gate masuk event MLDSPOT Autokhana, pada 11 Juli 2026 (Sumber: Athhar Jundi Pratama Attaqa | Foto: Athhar Jundi Pratama Attaqa)
Ayo Netizen 19 Jul 2026, 07:50

Mengembalikan Fungsi Bandara Husein Bukan Romantisme Masa Lalu

Keberhasilan reaktivasi Bandara Husein pada akhirnya tidak akan ditentukan oleh hari pertama operasional, melainkan oleh apa yang terjadi berbulan-bulan setelahnya.

Petugas Avsec melakukan patroli di pintu keberangkatan domestik Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 21:21

Panduan Wisata ke Kawah Ijen Banyuwangi: Blue Fire, Tiket, dan Tips Lengkap

Panduan lengkap wisata Kawah Ijen Banyuwangi, mulai harga tiket 2025, fenomena Blue Fire, rute pendakian, jam terbaik, hingga tips agar perjalanan lebih aman.

Kawah Ijen Banyuwangi. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 20:15

Luka, Algoritma, dan Dogma

Luka hanya dapat disembuhkan oleh kepedulian, algoritma dapat diimbangi dengan literasi, dan rapuhnya interaksi sosial hanya dapat dipulihkan saat kita meluangkan waktu untuk benar-benar hadir bersama

Kita tidak akan sepenuhnya paham bagaimana rasanya di-bully, sebelum kita merasakan sendiri dampaknya. (Sumber: Unsplash/Carolina)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 17:29

Alih Fungsi Jalur Sepeda Menjadi Parkir Motor: Inkonsistensi Kebijakan Transportasi Kota Bandung

Alih fungsi jalur sepeda di Jalan Lembong menjadi parkir motor bukan sekadar persoalan parkir, tetapi mencerminkan inkonsistensi kebijakan Kota Bandung dalam mewujudkan transportasi berkelanjutan.

Pemandangan miris di Jalan Lembong, Kota Bandung pada Kamis (16/7/2026). Jalur sepeda yang dibangun untuk menjamin keselamatan pesepeda, justru beralih fungsi menjadi ruang parkir sepeda motor. (Foto: Alkhalifi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:58

Mengapa Isolasi Politik Pasca Tragedi Bubat Membuat Sunda Makin Mandiri?

Mengulas bagaimana Kerajaan Sunda memperkuat kemandirian politik, ekonomi, dan pertahanannya setelah Perang Bubat melalui kebijakan isolasi dari Majapahit.

Ilustrasi peristiwa Perang Bubat di Taman Citra Resmi, Purwakarta. (Sumber: nationalgeographic.grid.id | Foto: Cut Menas Nila Tanu Sukma Devi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 16:25

Satu Peluncuran, Tiga Cara Bercerita: Menganalisis Penyampaian Pesan Produsen Ponsel Pintar Ternama

Memahami bagaimana cara jenama besar menyebarkan informasi tentang produk terbaru.

Ilustrasi ponsel pintar. (Sumber: Pexels | Foto: Efrem Efre)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 15:18

Revolusi Perancis dan Bandung Nol Kilometer

Revolusi Prancis berawal dari penjara Bastille tahun 1789 telah membuat perubahan besar hak asasi manusia juga mempengaruhi perkembangan Bandung.

Monumen titik nol kilometer Kota Bandung diresmikan Gubernur H. Danny Setiawan pada 18 Mei 2004 dan didedikasikan untuk masyarakat Priangan korban kerja paksa. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Anya Dellanita)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 14:50

Islam di Kerajaan Demak: Warisan Peradaban dan Hukum Islam

Kemunculan Demak tidak terlepas dari melemahnya Majapahit yang memberi kesempatan bagi para penguasa Islam di pesisir Jawa untuk membangun kekuasaan.

Masjid Agung Demak, yang terletak di Kauman, Demak, Jawa Tengah, dibangun pada abad ke-15 M oleh Raden Patah, pendiri Kesultanan Demak, bersama para Wali Songo. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hastosuprayogo)
Wisata & Kuliner 17 Jul 2026, 13:56

Panduan Wisata ke Pantai Legon Pari Sawarna, Laguna Tersembunyi di Ujung Jalan Setapak

Panduan lengkap Pantai Legon Pari Sawarna, mulai dari harga tiket, rute menuju lokasi, aktivitas, camping, hingga rekomendasi penginapan terbaru.

Pantai Legon Pari Sawarna. (Sumber: wisatasawarna.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 13:42

Soedirman dalam Tulisan Tempo

Review buku Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir karya Tempo.

Buku "Soedirman: Seorang Panglima, Seorang Martir" (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Nahla Lisana, 2026)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 12:33

Persib dan Mimpi Menjadi Kekuatan Indonesia

Persib memiliki peluang menjadi salah satu lokomotif perubahan sepak bola di Tanah Air.

Pemain Persib Bandung melakukan selebarasi saar mengalahkan tamunya Selangor FC dengan skor 2-0. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 17 Jul 2026, 10:59

Soekarno-Hatta: Jalur Maut di Kota Bandung yang Terbelenggu Sekat Birokrasi

Selama birokrasi belum mampu di-bypass demi keselamatan, aspal Soekarno-Hatta akan tetap menjadi "jalur tengkorak" yang menanti nyawa lainnya.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 09:55

Hikayat Stasiun Kereta Api di Padang Panjang

dari awal berjalannya kereta api Padang Panjang sampai Berhentinya beroperasinya kereta api Padang Panjang

Stasiun Kereta Api Padang Panjang. (atourin.com)
Ayo Netizen 17 Jul 2026, 06:51

Reaktivasi SPP Sekolah Negeri di Jawa Barat

Pemerintah wajib menjaga stabilitas kehidupan masyarakat dalam pendidikan. Masyarakat tidak ingin ada beban biaya lagi dalam menuntut pendidikan

Sejumlah siswa SD pergi sekolah menaiki rakit bambu melintasi Waduk Saguling. (Sumber: Ayobandung | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 16 Jul 2026, 19:41

Perkembangan Lukisan dari Zaman purba sampai Era Digital

Lukisan-lukisan yang kini kita kenal, menyimpan sejarahnya tersendiri tanpa kita sadari.

Lukisan digital printing. (Sumber: Taswadi. 2019. "Teknik Digital Printing Lukisan Warli Haryana." Irama: Jurnal Seni, Desain dan Pembelajarannya, Fakultas Pendidikan Seni dan Desain UPI)