Tanara Berarti Tanah Merah

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan
SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Di Italia ada kata terrarossa (terarosa) yang berarti tanah merah. Tanah hasil dari pelapukan batu kapur atau gamping. Di Indonesia banyak terdapat di perbukitan kapur, yang oleh penduduk setempat dimanfaatkan sebagai kawasan untuk menanam pohon jati, seperti di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. 

Ada juga kata terracotta (terakota), yang menunjukkan pada tanah yang berwarna merah kecoklatan atau jingga sedikit kusam. Tanah ini bukan hanya tanah dari hasil pelapukan batu kapur, tapi tanah lempung yang di dalamnya mengandung zat besi, sehingga menjadi merah. Setelah diolah, tanah merah itu akan dibentuk menjadi wadah sesuai dengan yang diinginkan pembuatnya atau pemesannya. Wadah yang sudah dibentuk dan mengeras, lalu dibakar, agar menjadi kuat dan tidak tembus air. Wadah itu dikenal sebagai tembikar. Bahkan sampai saat ini, perabotan itu masih digunakan menjadi menjadi perabotan keseharian dalam rumahtangga, mulai tempat penyimpan air, piring, alat menanak nasi, memasak lauk-pauk, memasak sayur-mayur, dll. Dalam perkembangannya, terakota bukan hanya dimanfaatkan menjadi perabotan rumah tangga, tapi dimanfaatkan menjadi karya seni dan media untuk kepentingan religi.

Dalam kata terrarossa dan terracotta terdapat kata ra yang bermakna merah. Demikian juga dalam bahasa Sumba, rara, berarti merah, seperti digunakan dalam toponim Desa Tanarara di Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Desa Tanarara berada di Kawasan batukapur atau kars. Batukapur yang melapuk menjadi tanah merah (terarosa) yang mengendap di ceruk-ceruk, lalu ditumbuhi rumput. Pada musim penghujan, kawasan Tanarara menjadi perbukitan sabana yang bergelombang hingga di lembah-lembahnya. Pada musim penghujan, nampak seperti hamparan karpet hijau mahaluas, tempat kuda-kuda digembalakan. Sebaliknya, pada musim kemarau, rumput itu menjadi mati, kering menguning. Perbukitan dan lembah berubah menjadi padang rumput keemasan. 

Pada tahun 1970, Taufik Ismail menulis puisi Beri Daku Sumba, yang dimuat dalam majalah sastra Horizon, Agustus 1971.

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka

Dimana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak mengeluh

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda

Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

Di Jawa Barat dan Banten pun terdapat toponim yang memakai kata ra seperti di Sumba. Di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, terdapat toponim Tanara, yang berada di Desa Banjarsari. Toponim Tanara ini selain menjadi nama kampung, juga digunakan menjadi nama SD Negeri Tanara, dan menjadi nama perkebunan teh Tanara yang menjadi bagian dari perkebunan teh Malabar.

Di Kabupaten Tangerang, Banten, ada toponim Tanara di Desa Jenggot, Kecamatan Mekar Baru. Juga ada toponim Kecamatan Tanara di Kabupaten Serang, Banten.

Toponim Tanara, baik yang ada di Jawa Barat maupun di Banten, merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah. Secara umum disebut tanah podsolik, atau tanah podsolik merah kuning, merujuk pada warna tanah tersebut yang dominan berwarna merah. Tanah merah di Jawa Barat dan Banten bukan berasal dari hasil pelapukan batu kapur atau batuan yang mengandung zat besi, tapi umumnya berupa material hasil letusan gunung api yang bersifat asam. Biasanya material letusan yang dihamburkan pada saat letusan gunung api dengan tipe letusan plinian yang membentuk kaldera.

Ra yang bermakna merah disematkan juga pada bayi secara umum, yang kemudian bergeser lebih kepada bayi perempuan, yang disebut rara, yang berarti bayi yang masih merah, yang dalam bahasa Sunda baru disebut orok beureum. Makna rara kemudian bergeser lagi maknannya menjadi perempuan atau gadis, dan rara yang menunjukkan gelar kebangsawanan.

Di Italia terdapat kata terrarossa dan terracotta. Di Sumba ada toponim Tanarara. Di Jawa Barat dan Banten, ada toponim Tanara. Semua kata itu merujuk pada akar kata ra yang bermakna merah. Ini menunjukkan bahwa pada mulanya, ada kosa kata-kosa kata yang sama, yang digunakan dalam berbahasa. Namun dalam perjalanannya, para penutur bahasa itu mengembara ke berbagai daerah yang terhampar di permukaan bumi. Para pengembara penutur Bahasa tersebut kemudian ada yang terisolasi oleh lautan, danau yang luas, sungai yang deras, menyebabkan ada kosa kata yang hilang digantikan kosa kata baru, atau ada kosa kata bergeser maknanya. Namun ada juga kata yang tetap utuh, yang di suatu tempat masih produktif digunakan, namun di tempat lain sudah tidak digunakan lagi. Sebagai contoh dalam tulisan ini, di Sumba, kata rara masih digunakan dalam berbahasa sampai sekarang, dan menjadi toponim Tanarara. Di Jawa Barat dan Banten, kata ra sudah tidak produktif lagi dalam berbahasa, namun abadi menjadi toponim, Tanara.

Toponim Tanarara dan Tanara, terdiri dari tana dan rara atau ra, yang bermakna tanah merah. Tana dan rara atau ra, diucapkan dan ditulis tanpa huruf h. Apakah kata darah dan merah berasal dari kata ra yang ditambahkan huruf h di belakangnya? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 09:15

Harpelnas: Bangkitkan Senyum Pelanggan di Bandung

Tema Harpelnas 2026 sangat relevan untuk perkembangan perekonomian Bandung.

Ilustrasi peringatan Hari Pelanggan Nasional (Harpelnas) 2026 (Sumber: Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 04 Sep 2026, 18:01

Dari Teknologi Maritim ke Instagram: Cara Kapal Selam Diperkenalkan ke Publik

Komunikasi digital yang efektif bukan hanya soal pesan yang konsisten, tetapi juga bagaimana pesan tersebut disesuaikan dengan karakter setiap platform.

Ilustrasi Kapal Selam. (Sumber: Garda Bima Brimantara | Foto: Garda Bima Brimantara)