Tanara Berarti Tanah Merah

4 menit baca
T Bachtiar
Ditulis oleh T Bachtiar diterbitkan Jumat 05 Jun 2026, 20:28 WIB
SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)

Di Italia ada kata terrarossa (terarosa) yang berarti tanah merah. Tanah hasil dari pelapukan batu kapur atau gamping. Di Indonesia banyak terdapat di perbukitan kapur, yang oleh penduduk setempat dimanfaatkan sebagai kawasan untuk menanam pohon jati, seperti di Jawa Tengah dan di Jawa Timur. 

Ada juga kata terracotta (terakota), yang menunjukkan pada tanah yang berwarna merah kecoklatan atau jingga sedikit kusam. Tanah ini bukan hanya tanah dari hasil pelapukan batu kapur, tapi tanah lempung yang di dalamnya mengandung zat besi, sehingga menjadi merah. Setelah diolah, tanah merah itu akan dibentuk menjadi wadah sesuai dengan yang diinginkan pembuatnya atau pemesannya. Wadah yang sudah dibentuk dan mengeras, lalu dibakar, agar menjadi kuat dan tidak tembus air. Wadah itu dikenal sebagai tembikar. Bahkan sampai saat ini, perabotan itu masih digunakan menjadi menjadi perabotan keseharian dalam rumahtangga, mulai tempat penyimpan air, piring, alat menanak nasi, memasak lauk-pauk, memasak sayur-mayur, dll. Dalam perkembangannya, terakota bukan hanya dimanfaatkan menjadi perabotan rumah tangga, tapi dimanfaatkan menjadi karya seni dan media untuk kepentingan religi.

Dalam kata terrarossa dan terracotta terdapat kata ra yang bermakna merah. Demikian juga dalam bahasa Sumba, rara, berarti merah, seperti digunakan dalam toponim Desa Tanarara di Kecamatan Lewa, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Desa Tanarara berada di Kawasan batukapur atau kars. Batukapur yang melapuk menjadi tanah merah (terarosa) yang mengendap di ceruk-ceruk, lalu ditumbuhi rumput. Pada musim penghujan, kawasan Tanarara menjadi perbukitan sabana yang bergelombang hingga di lembah-lembahnya. Pada musim penghujan, nampak seperti hamparan karpet hijau mahaluas, tempat kuda-kuda digembalakan. Sebaliknya, pada musim kemarau, rumput itu menjadi mati, kering menguning. Perbukitan dan lembah berubah menjadi padang rumput keemasan. 

Pada tahun 1970, Taufik Ismail menulis puisi Beri Daku Sumba, yang dimuat dalam majalah sastra Horizon, Agustus 1971.

Rinduku pada Sumba adalah rindu padang-padang terbuka

Dimana matahari bagai bola api, cuaca kering dan ternak mengeluh

Rinduku pada Sumba adalah rindu seribu ekor kuda

Yang turun menggemuruh di kaki bukit-bukit yang jauh.

Di Jawa Barat dan Banten pun terdapat toponim yang memakai kata ra seperti di Sumba. Di Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, terdapat toponim Tanara, yang berada di Desa Banjarsari. Toponim Tanara ini selain menjadi nama kampung, juga digunakan menjadi nama SD Negeri Tanara, dan menjadi nama perkebunan teh Tanara yang menjadi bagian dari perkebunan teh Malabar.

Di Kabupaten Tangerang, Banten, ada toponim Tanara di Desa Jenggot, Kecamatan Mekar Baru. Juga ada toponim Kecamatan Tanara di Kabupaten Serang, Banten.

Toponim Tanara, baik yang ada di Jawa Barat maupun di Banten, merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah. Secara umum disebut tanah podsolik, atau tanah podsolik merah kuning, merujuk pada warna tanah tersebut yang dominan berwarna merah. Tanah merah di Jawa Barat dan Banten bukan berasal dari hasil pelapukan batu kapur atau batuan yang mengandung zat besi, tapi umumnya berupa material hasil letusan gunung api yang bersifat asam. Biasanya material letusan yang dihamburkan pada saat letusan gunung api dengan tipe letusan plinian yang membentuk kaldera.

Ra yang bermakna merah disematkan juga pada bayi secara umum, yang kemudian bergeser lebih kepada bayi perempuan, yang disebut rara, yang berarti bayi yang masih merah, yang dalam bahasa Sunda baru disebut orok beureum. Makna rara kemudian bergeser lagi maknannya menjadi perempuan atau gadis, dan rara yang menunjukkan gelar kebangsawanan.

Di Italia terdapat kata terrarossa dan terracotta. Di Sumba ada toponim Tanarara. Di Jawa Barat dan Banten, ada toponim Tanara. Semua kata itu merujuk pada akar kata ra yang bermakna merah. Ini menunjukkan bahwa pada mulanya, ada kosa kata-kosa kata yang sama, yang digunakan dalam berbahasa. Namun dalam perjalanannya, para penutur bahasa itu mengembara ke berbagai daerah yang terhampar di permukaan bumi. Para pengembara penutur Bahasa tersebut kemudian ada yang terisolasi oleh lautan, danau yang luas, sungai yang deras, menyebabkan ada kosa kata yang hilang digantikan kosa kata baru, atau ada kosa kata bergeser maknanya. Namun ada juga kata yang tetap utuh, yang di suatu tempat masih produktif digunakan, namun di tempat lain sudah tidak digunakan lagi. Sebagai contoh dalam tulisan ini, di Sumba, kata rara masih digunakan dalam berbahasa sampai sekarang, dan menjadi toponim Tanarara. Di Jawa Barat dan Banten, kata ra sudah tidak produktif lagi dalam berbahasa, namun abadi menjadi toponim, Tanara.

Toponim Tanarara dan Tanara, terdiri dari tana dan rara atau ra, yang bermakna tanah merah. Tana dan rara atau ra, diucapkan dan ditulis tanpa huruf h. Apakah kata darah dan merah berasal dari kata ra yang ditambahkan huruf h di belakangnya? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Jun 2026, 20:28

Tanara Berarti Tanah Merah

Toponim Tanara merujuk pada keadaan kawasan tersebut, yaitu tanah yang berwarna merah.

SD Negeri Tanara di Kampung Cibolang, Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 19:09

Antara Batik dan Jas: Gaya Berpakaian Pribumi di Batavia

Evolusi berpakaian pribumi di Batavia pada tahun 1900-1942.

Kumpulan pribumi menggenakan jas dan sarung batik. (Sumber: Koleksi Digital Universitas Leiden)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:32

Obsesi Nasi: Hilangnya Diversitas Pangan Pokok Indonesia & Lingkaran Setan Food Estate

Membedah kebijakan penguasa membuat rakyat Indonesia ketergantungan beras dan kehilangan keragaman pangan lokal.

Presiden Soeharto panen padi perdana di Desa Jatimulya, Kec. Pusakanegara, Kabupaten Subang, Jawa Barat (8/7/1987). (Sumber: Perpusnas | Foto: Perpusnas)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 18:05

10 Netizen Terpilih Mei 2026 dan Format Baru untuk Bulan Berikutnya

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Warga beraktivitas di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 17:04

Bahan Bakar Plastik Menyisakan Risiko Lingkungan

Sampah dapat berkurang, tapi pencemarannya belum tentu hilang. Inilah sisi lain dari pengolahan sampah plastik menjadi bahan bakar alternatif yang jarang dibahas.

Tumpukan sampah plastik di Indonesia. (Sumber: pexels | Foto: Tom Fisk)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 16:46

Panduan Jelajah Dufan: Daftar Wahana Terbaik, Harga Tiket, dan Jam Operasional

Jelajahi Dunia Fantasi Jakarta dengan panduan lengkap berisi daftar wahana, harga tiket Dufan, jam buka, dan fasilitas yang tersedia.

Wisata Dufan. (Sumber: ancol.com)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 15:38

Menelusuri Jejak Stasiun Karees, Penghubung Bandung-Kopo yang Kini Terlupakan

Artikel ini mencoba untuk menelusuri jejak dan sejarah dari Stasiun Karees yang menjadi titik awal penghubung Kota Bandung dengan Kopo atau Soreang.

Jejak rel kereta api di Cibangkong (Sumber: Dokumen Pribadi | Foto: Muhammad Saeful Ihsan)
Wisata & Kuliner 05 Jun 2026, 13:37

5 Kafe dan Resto Viral Terbaru di Bandung yang Wajib Dicoba

Rekomendasi tempat makan dan kafe viral Bandung dengan konsep unik, dessert estetik, hingga menu rumahan yang banyak dibicarakan.

The Deli Bakes, salah satu kafe favorit di Bandung. (Sumber: Taboo)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 12:45

Menilik Awal Pendakian Gunung Gede

Melihat jejak lawas pendakian awal Gunung Gede.

Pemandangan Indah Surya Kencana di Gunung Gede. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Moch Shezar Rachman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 10:18

ASGAR, dari Desa Banyuresmi sampai Menguasai Pulau Jawa

Mulai dari tahun 1930-an, memotong rambut punya peran sebagai penolong ekonomi bagi warga Garut.

Alat cukur merupakan simbol perjuangan ekonomi dan lahirnya identitas Asgar Garut (Sumber: Pexels | Foto: RDNE Stock Project)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 09:48

Geografis-Historis Lembang: Rahasia di Balik Lokasi Wisata Favorit di Bandung

Lembang yang sekarang dikenal sebagai tempat favorit dengan penuh wisata, ternyata disebabkan oleh beberapa faktor.

Foto Rumah Ursone (Piknik Kopi) di Lembang (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hilman)
Ayo Netizen 05 Jun 2026, 08:57

Jejak Gultik: Transformasi Makanan Pekerja Malam Menjadi Identitas Blok M

Bukan hanya enak, ini kisah sejarah di balik Gultik (Gulai Tikungan) Blok M dan awal kemunculannya yang legendaris.

Sajian kuliner legendaris Gultik Blok M (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Ilyasa Salsabila)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 20:23

Dari Tangan ke Kaki: Mimpi Sepatu Cibaduyut yang Tak Boleh Mati

Koku Footwear bukan semata urusan bisnis. Banyak keterkaitan emosi soal kelangsungan sebuah legacy.

Perajin sepatu kulit Koku Footwear di Cibaduyut, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, (26/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Wisata & Kuliner 04 Jun 2026, 19:21

Sop Iga Rp10.000 yang Tak Pernah Sepi, Kuliner Legendaris di Kadungora Garut

Sop iga Rp10 ribu di Kadungora jadi favorit musafir dengan rasa kaldu kuat dan harga yang tetap ramah.

Warung Sop Iga A4 di Kadungora, Garut. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Bandung 04 Jun 2026, 18:50

Tertarik Bisnis Kuliner? Sistem Waralaba Putus Ini Janjikan Keuntungan Penuh untuk Mitra

Memiliki usaha sendiri kian jadi jalur alternatif yang simple di tengah kebingungan memilih profesi apa yang bisa dijadikan sandaran untuk mencari pundi-pundi rupiah.

Ilustrasi. Industri bisnis waralaba kian ngetren di tengah berkembangnya zaman modern. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 04 Jun 2026, 18:50

Hikayat Kopo, Kawasan Ekonomi Bandung yang jadi Bahan Guyon Warganet

Di balik citra macet dan banjir, Kopo ternyata memiliki sejarah panjang sebagai kawasan ekonomi penting Bandung.

Situasi kemacetan lalu lintas di Kopo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 04 Jun 2026, 18:01

Perjalanan Dua Era Pemerintahan Membuka Mata Indonesia terhadap Aksara

Menilik lembaran historis "Pemberantasan Buta Huruf" di Indonesia.

Pidato Presiden Soekarno pada "Pameran Bebas Buta Huruf" di Gelora Bung Karno, 1964. (Sumber: Instagram Arsip Nasional Republik Indonesia)
Ayo Biz 04 Jun 2026, 17:11

Perjalanan 'Desa yang Biasa Saja' Berhasil Bangun Esensi Ekonomi daripada Sibuk Seremoni

Untuk memahami pencapaian Margamukti hari, perlu kembali ke kondisi beberapa tahun lalu, yang sejujurnya tidak terlalu indah untuk diceritakan.

Kantor Desa Margamukti, Sumedang Utara, Kabupaten Sumedang, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Komunitas 04 Jun 2026, 16:58

Bertahan 15 Tahun, Komunitas Fingerboard di Kota Bandung Tak Kehilangan Pemain

Di tengah gempuran tren digital, komunitas fingerboard di Kota Bandung tetap bertahan lebih dari 15 tahun, menjadi ruang pertemanan, belajar, dan berbagi lintas generasi.

Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)