Simfoni Hijau Tanah Priangan: Mengupas Cita Rasa Kearifan Lokal Gastronomi Sunda

5 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Makanan khas Sunda nasi tutug oncom, di Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)
Makanan khas Sunda nasi tutug oncom, di Bandung, Jawa Barat. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Dudygr)

Tanah Priangan tidak hanya menjanjikan pemandangan hijau yang memanjakan mata, tetapi juga simfoni rasa yang berakar kuat pada kearifan lokal. Seringkali, kuliner Sunda dipandang sebelah mata sebagai "makanan sederhana" karena dominasi sayur mentah dan pengolahan yang tampak praktis. Padahal, jika kita menilik lebih dalam, setiap suapan menyimpan filosofi tentang hubungan harmonis antara manusia dan alam.

Mendiang Bondan Winarno sering menggunakan istilah "mak nyus" untuk menggambarkan kelezatan yang paripurna, dan dalam khazanah kuliner Sunda, istilah itu bukan sekadar pujian, melainkan pengakuan atas kedalaman rasa yang lahir dari kreativitas tanpa batas.

Keajaiban Oncom: Dari Ampas Menjadi Legenda

Oncom adalah monumen kreativitas masyarakat Sunda dalam menyiasati keterbatasan. Lahir dari proses fermentasi bungkil kacang tanah atau ampas tahu, oncom membuktikan bahwa bahan yang sering dianggap "sisa" bisa bertransformasi menjadi kuliner kelas dunia.

Identitas unik oncom terletak pada fleksibilitasnya yang mampu tampil bersahaja namun tetap menggugah selera melalui kekayaan olahan yang merentang dari hidangan rumahan hingga kudapan populer. Oncom seringkali hadir dalam sajian seperti ulukutek leunca dan pepes yang memberikan ledakan rasa gurih serta segar, atau diolah menjadi sambal oncom berkarakter kuat yang menjadi topping legendaris untuk serabi, nasi kuning, hingga saus cocol ulen bakar.

Sebagai kudapan ikonik, oncom menjadi ruh utama dalam combro serta isian pedas untuk lontong maupun nasi tutug oncom yang setia menjadi pengganjal perut di perjalanan. Bahkan dalam penyajian klasiknya, oncom cukup diiris tebal, dibumbui garam, lalu digoreng atau dibakar untuk menjadi teman sempurna bagi sepiring nasi hangat.

Bagi orang Sunda, oncom bisa dan biasa diolah bersama berbagai macam makanan untuk lauk pauk atau juga dipakai untuk campuran sayur.

Nasi Timbel: Solusi "Packaging" Tradisional yang Jenius

Nasi timbel adalah potret estetika dan kepraktisan yang menyatu. Jauh sebelum wadah plastik modern dikenal, masyarakat Sunda telah menemukan cara jenius untuk membawa bekal perjalanan. Syarat mutlak nasi timbel yang autentik adalah penggunaan nasi pulen yang dibungkus daun pisang saat kepulan uap panasnya masih membumbung.

Proses ini menciptakan aroma aromatik dari daun yang layu terkena panas, sebuah sensasi unik yang tidak bisa digantikan oleh wadah apa pun. Kreativitas dalam membungkus ini pun berkembang menjadi ciri khas kuat dalam budaya kuliner Sunda, yang tidak hanya terbatas pada hidangan utama seperti pepes, tetapi juga merambah ke berbagai kudapan tradisional yang ikonik seperti awug, bubur lolos, buras, katimus, hingga nagasari.

Kini, nasi timbel telah berevolusi. Di berbagai rumah makan, hadir variasi nasi timbel yang dibakar terlebih dahulu sebelum disajikan. Sentuhan api ini memberikan aroma asap (smoky) yang khas dan daya tarik visual yang kuat. Lebih dari sekadar rasa, tampilan nasi timbel yang bersahaja di atas piring bambu mampu membangkitkan memori akan suasana perdesaan Sunda yang asri dan tenang.

"Kuluban Sunda": Tradisi Lalapan yang Berusia Seribu Tahun

Banyak yang mengira kegemaran makan sayuran mentah adalah tren gaya hidup sehat modern. Faktanya, tradisi lalapan telah mendarah daging di Bumi Pasundan selama lebih dari satu milenium. Hal ini dibuktikan dalam Prasasti Taji tahun 901 Masehi yang mencatat istilah 'Kuluban Sunda', yang secara harfiah berarti lalap atau sajian sayur-sayuran segar.

Keanekaragaman jenis tanaman yang dikonsumsi masyarakat Sunda memiliki jumlah yang sangat mencengangkan. Berdasarkan penelitian Prof. Unus Suriawiria, ditemukan tidak kurang dari 200 jenis tanaman yang lazim dijadikan lalap oleh masyarakat tersebut. Jika masyarakat umum biasanya hanya mengenal selada atau timun, meja makan orang Sunda tampil jauh lebih berwarna dan kaya rasa dengan kehadiran berbagai bahan alami yang unik.

Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)
Lalapan dan sambal terasi. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Midori)

Kekayaan ini tercermin dari penggunaan bahan-bahan eksotis seperti leunca dan kenikir, hingga penggunaan buah nangka muda serta petai yang memberikan tekstur kontras dalam setiap suapan. Selain itu, kehadiran honje atau bunga kecombrang turut memberikan sentuhan aroma floral yang khas, mempertegas karakter kuliner Sunda yang tidak hanya segar, tetapi juga memiliki kedalaman aroma yang tidak ditemukan pada budaya kuliner lainnya.

Satu yang musti disebut saat membincang lalap, yaitu sambal. Dalam gastronomi Sunda, lalap dan sambal adalah pasangan yang terikat dalam simbiosis rasa; lalap akan terasa hambar tanpa sentuhan sambal yang pedas menggigit. Namun, kegemaran ini bukan tanpa alasan. Secara fungsional, kebiasaan mengonsumsi sambal berkaitan erat dengan kondisi geografis wilayah Priangan.

Suhu udara pegunungan yang cenderung dingin membuat masyarakatnya membutuhkan asupan yang mampu menstimulasi panas tubuh. Di sinilah sambal berperan—bukan hanya sebagai penyedap, melainkan sebagai penghangat badan di tengah sejuknya udara dataran tinggi. Rasa pedas yang membakar di lidah memberikan kenyamanan tersendiri, menciptakan kehangatan yang menjalar hingga ke jiwa.

Kontribusi Signifikan dalam Dunia "Street Food" Indonesia

Tak dapat dipungkiri, kuliner Sunda adalah pilar penting yang memperkaya khazanah jajanan Nusantara. Banyak hidangan yang bermula dari gerobak pinggir jalan di Bandung atau Bogor kini telah menjelma menjadi favorit nasional.

Kuliner Sunda telah memberikan berbagai kontribusi gemilang bagi khazanah boga Indonesia, mulai dari deretan street food populer seperti batagor, cireng, siomay, seblak, hingga martabak manis Bandung yang digemari lintas generasi. Selain camilan, wilayah ini juga melahirkan hidangan legendaris yang kaya rasa seperti Sate Maranggi, Mi Kocok, Soto Mi Bogor, Laksa, hingga Ayam Bakar Pasundan dan Bekakak.

Pengalaman bersantap pun semakin lengkap dengan kehadiran minuman tradisional yang menyegarkan maupun menghangatkan seperti bajigur, bandrek, es goyobod, es oyen, es sekoteng, dan es cincau. Sebagai pelengkap, kekayaan kuliner ini juga dikenal melalui buah tangan ikoniknya yang telah mendunia, mulai dari manisnya dodol Garut dan peuyeum Bandung, hingga gurihnya tahu Sumedang dan segarnya asinan Bogor.

Menjelajahi khazanah kuliner Sunda adalah upaya menghargai bagaimana tradisi, mitos, dan politik pangan berkelindan dalam sepiring hidangan. Dari kearifan mengolah oncom hingga sejarah seribu tahun 'Kuluban Sunda', setiap elemennya menunjukkan bahwa kuliner bukan sekadar soal rasa, melainkan identitas bangsa yang melegenda.

Seluruh pengetahuan mendalam ini, termasuk tradisi dan tata cara makan masyarakat Sunda, dibedah secara tuntas oleh Prof. Murdijati Gardjito, Heni Pridia, dan Marosimy Millaty dalam buku "Kuliner Sunda, Nikmat Sedapnya Melegenda" (2019). Buku ini tidak hanya menjadi referensi sejarah, tetapi juga panduan praktis karena dilengkapi dengan lebih dari 200 resep tradisional yang bisa Anda coba di dapur sendiri. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 29 Jun 2026, 18:06

Antara Nostalgia dan Ekspektasi dalam Perilisan Live Action Film Animasi Klasik

Strategi komunikasi digital Lilo & Stitch memakai website sebagai media informatif dan Instagram sebagai platform emosional untuk membangun nostalgia dan meningkatkan antusiasme audiens.

Lilo & Stitch. (Sumber: Pexels | Foto: Vinícius Vieira ft)
Wisata & Kuliner 29 Jun 2026, 17:26

Panduan Wisata Pantai Yogyakarta, Jelajah Pantai Selatan dari Bantul hingga Gunungkidul

Rekomendasi pantai di Jogja untuk snorkeling, berenang, camping, dan menikmati sunset, termasuk Pantai Nglambor, Wediombo, dan Pok Tunggal.

Pantai Indrayanti atau Pantai Pulang Syawal di Jpgja. (Sumber: Pemkab Gunungkidul)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 17:02

Ketika Anak Bangsa Memilih Paspor Lain

Di era mobilitas global, tantangan Indonesia bukan sekadar mencegah talenta terbaik pergi, melainkan memastikan mereka tetap berkontribusi bagi bangsa.

Ilustrasi paspor asing. (Sumber: Pexels | Foto: Ethan Wilkinson)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 16:12

Kekaguman Publik terhadap Grafik GTA VI pada Trailer 2 Rockstar Games

Membahas bagaimana Rockstar Games berhasil membangun kekaguman publik terhadap kualitas grafik pada Trailer 2 Grand Theft Auto VI.

Grand Theft Auto VI. (Rockstar Games)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 15:39

Pasunda Bubat: Tragedi Nyata atau Rekayasa Kolonial

Peristiwa Pasunda Bubat (1357) sebagai tragedi nyata akibat ambisi Gajah Mada yang kemudian dimanfaatkan Belanda sebagai alat adu domba untuk memecah belah persatuan Sunda dan Jawa di Nusantara.

Sebuah patung yang menggambarkan Dyah Pitaloka melakukan bunuh diri saat perang bubat. (Sumber: Wikipedia Commons)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 15:08

Fenomena Jualan: 'Real-Time' yang Mengubah Ritel

Live streaming commerce telah mengubah cara konsumen di Indonesia dalam membeli produk secara menyeluruh, belanja yang tadinya bersifat pasif kini telah berubah menjadi interaktif dan dinamis.

Staf NVSR sedang melakukan Live Streaming produk di platform digital. (Foto: Rizma Riyandi)
Beranda 29 Jun 2026, 14:45

Lembur Jurig, Hiburan Murah Warga Maleer di Tengah Himpitan Ekonomi

Lembur Jurig di Maleer menjadi hiburan murah bagi warga di tengah himpitan ekonomi. Wahana horor swadaya ini juga diharapkan menggerakkan ekonomi warga.

Karang Taruna Maleer berpose sebelum beraksi menakut-nakuti warga dalam wahana Lembur Jurig. (Foto: Indra)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 14:20

Filosofi di Balik Semangkuk Bubur Asyura: Harmoni Sejarah, Spiritual, dan Budaya Nusantara

Aroma gurih Bubur Asyura (atau Bubur Suro) selalu berhasil memanggil warga untuk berkumpul.

Bubur Asyura khas Banjar. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 13:39

Kendaraan Listrik Jadi Sumber Masalah Baru

Esai ini membahas dampak lingkungan kendaraan listrik akibat eksploitasi sumber daya alam dan limbah baterai serta pentingnya pengelolaan yang berkelanjutan.

Rizki Ahmad sedang melakukan pengisian baterai motor listrik di Kantor Pos Ujung Berung Kota Bandung, pada Kamis, 9 April 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 13:06

Bagaimana Ojek Online Cetak Laba Pertama Dikomunikasikan lewat Website, Instagram, dan Media Online

Mengupas di balik kabar bersejarah GoTo yang akhirnya mencetak laba bersih pertama sebesar Rp171 miliar pada kuartal I 2026 dikemas dalam tiga cara yang berbeda.

Salah satu driver ojol menunggu orderan di pinggir jalan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 29 Jun 2026, 11:26

Wisata Braga Bandung: Tempat Hits, Kuliner Legendaris, dan Spot Foto Terbaik

Panduan lengkap wisata Braga Bandung mulai dari Museum Asia Afrika, Sumber Hidangan, Braga Permai, hingga spot foto bangunan kolonial yang instagramable.

Suasana malam Jalan Braga, Bandung. (Sumber: bandung.go.id)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 11:19

Menjaga Ingatan Melalui Arsip Koleksi Koran Lawas

Setiap lembar koran yang menguning, setiap majalah yang mulai rapuh dimakan usia, menyimpan denyut kehidupan zamannya.

Koleksi surat kabar lawas milik Kin Sanubary. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 10:23

Kemandirian Ekonomi di Balik Bencana

Setiap bencana pasti merenggut kehidupan masyarakat di sekitarnya.

Warga di lokasi bencana sedang membantu mencari korban tertimbun longsor di Arjasari, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 09:07

Perkembangan Jalan Layang Pasupati di Kota Bandung Tempo Dulu hingga Sekarang

Jalan layang Pasopati yang megah dan selalu menjadi ikon dari Bandung itu telah digagas bahkan jauh sebelum masa kemerdekaan.

Foto pemandangan Jembatan Pasopati pada malam hari (Sumber: pexels.com)
Ayo Netizen 29 Jun 2026, 08:40

Di Balik Puing Bencana: Ancaman Asbes yang Mengintai Relawan

Bukan hanya warga, para relawan kebencanaan pun berisiko terpapar dampak asbes saat menjalankan misi kemanusiaan.

Sebuah pembangunan gedung sarana warga sudah tidak memakai asbes sebagai atap (Foto: Abah Omtris)
Ayo Netizen 28 Jun 2026, 19:12

Strategi Pengembangan Kompetensi ASN

Pengembangan kompetensi harus diselaraskan dengan tujuan dan visi misi organisasi.

Ilustrasi Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia)
Bandung 28 Jun 2026, 19:11

Modal Jeli Intip Peluang: Kisah dari Pinggiran Kiaracondong, Saat Warmindo Dituntut Kreatif dan Naik Kelas

Modal jeli intip peluang, warkop modern di Kiaracondong Bandung, JustFoodHub.id jadi bukti nyata kreativitas pelaku UMKM lokal untuk tampil berdaya dan naik kelas.

Modal jeli intip peluang, warkop modern di Kiaracondong Bandung, JustFoodHub.id jadi bukti nyata kreativitas pelaku UMKM lokal untuk tampil berdaya dan naik kelas. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 28 Jun 2026, 18:16

Hari Keluarga Nasional Lebih Afdol Diperingati dengan Wisata Jalan Kaki

Bentuk "Keluarga Berencana" yang hakiki adalah berjalan kaki.

Wisata jalan kakai di sekitar Alun-Alun Kota Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 28 Jun 2026, 17:00

Di Dalam Iklan Surat Kabar pada Masa Kolonial di Batavia

Iklan surat kabar kolonial Batavia bukan sekadar promosi,

Majalah Djawa Baroe (Sumber: https://hdl.handle.net/1887.1/item:3236771)
Ayo Netizen 28 Jun 2026, 15:57

Mampukah Bajigur Merebut Hati Anak Muda? Melawan Gempuran Kedai Minuman Modern

Agar tidak hilang tergerus zaman, bajigur harus bersedia bersolek dan beradaptasi.

Minuman tradisional bagjigur. (Sumber: flickr.com | Foto: Yopi Pratama)