Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

6 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Objek Pajak Bumi dan Bangunan Perdesaan dan Perkotaan (PBB-P2) cepat berkembang sehingga perlu dikelola dengan teknologi terkini. Pemerintah daerah perlu melakukan verifikasi data Pajak Bumi dan Bangunan dengan tujuan untuk memperoleh data yang lebih valid dan terbarukan.

Perlu optimasi dan validasi data yang sesuai dengan kondisi terkini, sehingga masih banyak data objek pajak yang kurang sesuai dengan kondisi di lapangan. Pendapatan PBB selama ini menjadi pemasukan daerah yang amat berarti. Setiap tahun perlu validasi PBB utamanya bagi rumah komersial seperti restoran, pertokoan, perkantoran, hingga rumah kontrakan. Sensus PBB bertujuan untuk melakukan pendataan secara menyeluruh ke seluruh objek pajak PBB sebaiknya disertai dengan penggunaan teknologi terkini.

Seperti penggunaan drone untuk mengambil data atau gambar fisik objek pajak yang berupa bangunan atau bidang tanah untuk usaha atau perkebunan. Penggunaan drone untuk memotret kompleks perumahan, bangunan komersial dan usaha pertanian atau perkebunan yang menjadi objek pajak lebih efektif dibanding dengan cara manual.

Demo penggunaan drone buatan Iter Aero di Kabupaten Subang untuk perkebunan yang disaksikan oleh Menteri Koperasi Fery Juliantono dan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Demo penggunaan drone buatan Iter Aero di Kabupaten Subang untuk perkebunan yang disaksikan oleh Menteri Koperasi Fery Juliantono dan Menteri Lingkungan Hidup Jumhur Hidayat (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Masih banyak warga yang menutup diri dari kedatangan tim surveyor dari Badan Pelayanan Pajak Daerah (BPPD). Padahal tim tidak hanya mendata ulang pemilik SPPT, tetapi juga mendata apabila ada objek pajak yang belum terdaftar atau terjadi perubahan luasan tanah, maupun luasan bangunan. Selama ini, masyarakat dinilai tidak semuanya tertib dalam memberikan perubahan data pada SPPT sehingga menurunkan validitas data di BPPD.

Banyak kasus yang terjadi di masyarakat. Seperti tanahnya dipecah karena berbagai hal seperti hak waris. Atau bisa juga penggabungan karena perluasan dua bidang tanah. Kasus seperti ini biasanya tidak dilaporkan.

Dalam situasi penerimaan negara yang terus digempur ketidakpastian, maka usaha untuk mengkonsolidasikan potensi penerimaan dari sektor pajak sangatlah berarti. Sayangnya, sebagian besar pemerintah daerah belum melakukan pembenahan prosedur penatausahaan PBB khususnya bagi rumah komersial dan rumah mewah. Mengingat prosedur PBB yang berlaku pada Kantor Pelayanan Pajak (KPP) Pratama selama ini belum efektif.

Perlu digaris bawahi PBB dan Pajak Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (PBPHTB) selama ini adalah salah satu sumber pendapatan daerah, tetapi bukan termasuk sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kedua pajak tersebut merupakan pajak pusat, sedangkan daerah hanya menerima bagian dari kedua pajak tersebut sebagai dana perimbangan yang besarnya cukup signifikan. Oleh sebab itu pihak pemerintah daerah harus sekuat tenaga membantu mengintensifkan pemungutan PBB dengan melibatkan segenap perangkat daerah.

Saatnya melakukan pembenahan PBB dengan inovasi teknologi yang tepat. Objek PBB terbagi dalam sektor pedesaan, perkotaan, perkebunan, perhutanan dan pertambangan. Sektor perkebunan adalah objek PBB di bidang budidaya perkebunan yang dilakukan oleh BUMN, BUMD dan pihak swasta. Objek pajak perkebunan memiliki peranan yang signifikan dalam penerimaan PBB secara nasional.

Sistem informasi yang telah ada yaitu Sistem Manajemen Informasi Objek Pajak (SISMIOP ) belum efektif menangani penatausahaan PBB. Ketiadaan informasi spasial menimbulkan masalah penetapan klasifikasi dan status pembayaran wajib pajak. Perlu segera membentuk sistem basis data atribut PBB yang terintegrasi dengan SISMIOP dan sistem basis data spasial. 

Menurut Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) realisasi pendapatan tingkat kabupaten/kota masih belum optimal. Realisasi pendapatan daerah khususnya pendapatan asli daerah (PAD) yang rendah karena manajemen aset daerah yang selama ini belum dikelola dengan baik. Bahkan aset daerah seperti tanah dan properti justru dibiarkan menganggur begitu saja. Atau disewakan informal alias di bawah tangan kepada pihak swasta tanpa memperhatikan prinsip bisnis atau usaha yang wajar. Selain itu masih banyak aset pemda seperti tanah yang belum memiliki sertifikat sehingga mudah diserobot pihak lain. Manajemen aset daerah yang masih buruk diperparah lagi dengan sistem pengelolaan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), Pajak Penerangan Jalan Umum (PPJU), dan pajak lainnya yang menjadi hak pemda, namun belum dikelola dengan baik.

Penerbangan uji coba drone untuk keperluan perkebunan di Subang (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Penerbangan uji coba drone untuk keperluan perkebunan di Subang (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Efektivitas Pengelolaan PBB dengan Drone

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi. Teknologi ini menggantikan survei konvensional dengan hasil yang lebih cepat, efisien, akurat, dan berbiaya lebih rendah. 

Pemutakhiran peta Blok PBB dengan drone menghasilkan peta foto resolusi tinggi (orthophoto) yang digunakan untuk memperbarui peta dasar PBB P2 (Perdesaan dan Perkotaan), memastikan batas tanah dan luas bangunan tercatat dengan akurat.

Juga sangat efektif untuk Identifikasi objek pajak baru, karena drone mampu mendeteksi perubahan fisik di lapangan, seperti bangunan baru, perluasan bangunan (extension), atau perubahan fungsi lahan, yang sering kali terlewatkan dalam survei darat.

Penilaian Properti (Valuasi) dengan gambar udara 3D membantu penilai pajak melihat kondisi atap, dimensi rumah, dan fitur properti lainnya untuk menghitung Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) secara lebih objektif. 

Langkah-langkah penggunaan drone untuk PBB ;

  • Perencanaan penerbangan untuk menentukan rute terbang, cakupan area, dan titik pengambilan gambar agar cakupan maksimal.
  • Akuisisi data (pemotretan) dengan menggunakan drone dengan kamera RGB atau LiDAR untuk mengambil foto udara dengan overlap yang tinggi.
  • Pemrosesan data (Photogrammetry) yakni mengolah gambar mentah menjadi orthophoto dan model 3D menggunakan perangkat lunak seperti Agisoft atau ArcGIS untuk digitalisasi batas bidang tanah.
  • Integrasi GIS dengan menghubungkan data hasil drone dengan sistem informasi geografis (GIS) dan basis data wajib pajak (SISMIOP) untuk pembaruan PBB secara digital. 

Beberapa kota/kabupaten yang telah menggunakan drone untuk PBB, antara lain DKI Jakarta. Menggunakan drone untuk memotret bangunan guna mendata ulang rumah yang mendapat pembebasan PBB serta pendataan objek pajak reklame. Kota Semarang juga telah menerapkan drone untuk penilaian PBB guna meningkatkan efisiensi dan akurasi dibandingkan metode manual. Begitu juga Kota Depok dan Salatiga yang telah melakukan pemetaan udara dan LiDAR 3D yang digunakan untuk mendukung data PBB. Keniscayaan, penggunaan drone ini membantu pemerintah daerah untuk memutakhirkan peta blok PBB dan memastikan luas bangunan yang terdata sesuai dengan kondisi riil di lapangan. 

Penulis mengunjungi hanggar drone PT Iter Aero di kawasan Katapang Kabupaten Bandung yang telah memiliki sertifikat produksi (DOA) dari Kementerian Perhubungan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Penulis mengunjungi hanggar drone PT Iter Aero di kawasan Katapang Kabupaten Bandung yang telah memiliki sertifikat produksi (DOA) dari Kementerian Perhubungan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)

Industri Drone Meraih Sertifikasi

Di Kabupaten Bandung ada industri drone yang memproduksi beberapa jenis drone sesuai dengan misinya. Perusahaan yang berlokasi di Katapang tersebut bernama PT Iter Aero, perusahaan yang bergerak di bidang pesawat nirawak dan pengembangan pesawat drone.

Iter Aero juga telah memproduksi drone kargo muatan sekitar 5 Kilogram dengan jarak tempuh sekitar 100 Km dan dengan bobot mencapai 25 kg lalu panjang drone sekitar 2,5 meter sedangkan sayapnya mencapai 3,5 meter.

Drone kargo ini bisa melakukan suplai medis seperti kantong darah, Peralatan mesin ringan, pertolongan pertama untuk kondisi darurat, mengawasi wilayah perbatasan, inspeksi infrastruktur, mengawasi masuknya nelayan asing, survei bila terjadi bencana, pemetaan/videografi pariwisata.

CEO PT Iter Aero Dr.Hisar M Pasaribu, yang juga sebagai pengajar di Fakultas Teknik Mesin dan Dirgantara (FTMD) ITB, telah menorehkan sejarah baru bagi industri dirgantara nasional dengan berhasil meraih sertifikasi Design Organization Approval (DOA) Class D dari Direktorat Kelaikudaraan dan Pengoperasian Pesawat Udara (DKPPU), Kementerian Perhubungan. Pencapaian ini menandai langkah penting Iter Aero sebagai perusahaan dirgantara lokal pertama yang memperoleh kewenangan penuh untuk merancang, menguji, dan mengembangkan pesawat udara secara mandiri, khususnya drone kargo IA-25 yang tengah disiapkan untuk tahap komersialisasi.

DOA merupakan izin strategis bagi organisasi rancang bangun pesawat udara komersial. Dengan status tersebut, Iter Aero kini berhak melakukan seluruh proses desain, pengujian kelaikudaraan, hingga pengajuan sertifikasi jenis (type certificate) untuk pesawat tak berawak, sesuai regulasi CASR Part 22. Langkah ini sekaligus menempatkan Iter Aero di jajaran perusahaan global elit yang memiliki kompetensi di bidang remotely piloted aircraft system (RPAS) atau sistem pesawat udara nirawak. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)