Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

6 menit baca
Karina Olyvia Faizal
Ditulis oleh Karina Olyvia Faizal diterbitkan Senin 08 Jun 2026, 10:41 WIB
Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)

Ternyata kesegaran air hujan yang kita rasakan sehari-hari tidak sepenuhnya bersih. Baru-baru ini, peneliti dari BRIN (Badan Riset Inovasi Nasional) menemukan terdapat hujan mikroplastik di Jakarta dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun. Menurut dari BRIN (2025). Sekitar lima belas partikel mikroplastik per meter persegi ditemukan setiap hari di sampel hujan di wilayah pesisir Jakarta. Air hujan yang menyatu bersama akibat sampah yang sangat tak terkelola dengan baik dan benar.

Menurut seorang peneliti dari BRIN (2025) yang bernama Muhammad Reza Cordova, riset yang dilakukan sejak tahun 2022 menunjukkan bahwa setiap sampel air hujan di ibu kota Jakarta mengandung mikroplastik. Partikel plastik ini berasal dari limbah sampah plastik yang terbuang ke udara (akibat pembakaran sampah plastik) yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang kurang bijak dalam memilah sampah. Sistem pengelolaan sampah yang ada di Jakarta sudah sepatutnya bisa menangani hal ini dengan cepat. Menurut artikel dari TEMPO penelitian BRIN (2025) menunjukkan bahwa mikroplastik sudah mencemari udara di Jakarta saat hujan turun. Ini merupakan urgensi yang sangat serius, dan membuktikan bahwa udara yang kita hirup sedang tidak baik-baik saja.

Lalu, fenomena ini bukan hanya sekedar bencana alam, melainkan sebuah tanda bahwa lingkungan yang ada di Jakarta sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan sistem administrasi pengelolaan yang baik dan campur tangan dari pemerintah dengan serius. Fenomena ini harus segera ditangani dengan baik oleh pemerintah. Namun, apa peran pemerintah dan bagaimana solusi untuk mengatasi masalah hujan mikroplastik ini?

Penumpukan Sampah sebagai Kegagalan Perencanaan Kota 

Menurut dari unggahan instagram @dinaslhdki (2026) sampah yang ada di Jakarta terus meningkat setiap hari dan sementara TPA (Tempat Pembuangan Akhir) menjadi sangat terbatas dan juga tekanan pada ruang kota dan lingkungan akan semakin meningkat jika semua sampah plastik langsung dibuang begitu saja dan ini akan menjadi masalah jangka panjang untuk masa yang akan datang.

Ini merupakan bukti nyata bahwa tata kelola sampah yang ada di Jakarta kurang teratasi dengan baik dan minimnya tempat TPA yang layak untuk sampah-sampah plastik tersebut, sampah yang banyak dan menumpuk dapat mencemari lingkungan, mengganggu kesehatan, dan masalah jangka panjang lainnya. Ini bisa dibilang kegagalan dari pemerintah daerah maupun pusat dalam menangani perencanaan kota yang kurang memuaskan.

Pada tahun 2025 akhir fenomena ini bukan sekedar bencana alam yang mengkhawatirkan banyak kalangan masyarakat, tetapi menjadi peringatan dan tanda yang keras bahwa sistem administrasi pengelolaan sampah Jakarta sedang tidak baik dan perlu campur tangan pemerintah yang secara serius.

 Pengelolaan Sampah yang Masih Lemah

Pemerintah pusat maupun daerah seharusnya pengelolaan sampah yang baik dan benar. Menurut Next Indonesia (2026) setelah pandemi, timbulan sampah nasional melonjak dari periode 2021 hingga 2025, sementara kapasitas pengelolaan justru turun dari di atas 60% hingga menjadi 33%. Jumlah daerah yang melaporkan ke SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional) menjadi memperparah situasi, ini menandakan bahwa adanya krisis layanan dan data, saat ini mayoritas sampah berada di luar sistem resmi.

Dengan kata lain, sampah liar ini berubah menjadi mikroplastik karena kalau kapasitas pengelolaan sampah menurun menjadi 33% berarti ada 67% sampah yang sama sekali tidak terurus dengan baik. Sampah yang menumpuk seperti gunung ini bisa saja dibuang ke sungai, dibakar secara ilegal, atau menumpuk di lahan kosong bahkan di tengah jalan.

Lalu, dengan banyaknya daerah yang tidak melapor ke SIPSN membuat pemerintah tidak mempunyai data yang tidak begitu akurat, karena bagaimana pemerintahan dapat membuat kebijakan yang tepat jika mereka tidak tahu persis berapa banyak sampah yang dibuat oleh warganya sendiri? Tanpa data yang akurat ini akan sulit untuk mencapai tujuan dan ini akan menjadi salah sasaran.

Dampak  Mikroplastik bagi Kesehatan Manusia

Menurut dari artikel StanfordReport pada tahun 2025 mikroplastik ini ada dimana saja, ada di air minum yang kita minum, pakaian yang kita selalu pakai, makanan yang kita makan, dan bahkan udara yang selalu kita hirup. Mikroplastik sudah menguasai dunia dan ekosistemnya, dan juga telah memasuki tubuh manusia yang bersarang dari jaringan otak hingga organ reproduksi.

Partikel-partikel plastik yang menguap ke udara yang diakibatkan oleh pembakaran sampah plastik liar dan menjadi hujan akan menjadi ancaman kesehatan yang tak terlihat untuk masyarakat, seperti yang sudah dijelaskan oleh Kemenkes (2025) bahwa paparan jangka panjang terhadap hujan mikroplastik ini adalah peradangan jaringan tubuh. Selain itu, bahan kimia sepertu phthalates dan bisphenol A (BPA) yang terikat pada mikroplastik memiliki potensi untuk mengganggu kesehatan sistem hormon, proses reproduksi, dan perkembangan janin pada ibu hamil. Namun, para ahli menyatakan bahwa hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang kuat yang menunjukkan bahwa menyebabkan penyakit tertentu secara langsung. Tingkat perannya pada populasi masyarakat masih rendah dan masih menjadi subjek penelitian yang harus diperhatikan.

Walaupun belum ada data yang akurat dimana ada seseorang yang jatuh sakit karena hujan mikroplastik ini, masalah ini harus cukup dibawa serius karena memungkinkan untuk menjadi peringatan keras untuk selalu waspada dan menjaga kesehatan, karena dampak jangka panjang pada kesehatan untuk masyarakat Jakarta maupun luar Jakarta jelas akan terjadi jika kita tidak hati-hati dan tidak menganggap masalah ini dengan serius.

Peran Pemerintah dalam Penanganan Krisis Mikroplastik  di Jakarta

Indonesia sebagai negara yang demokratis, perlu adanya partisipasi masyarakat yang juga ikut melaporkan kepada pemerintah baik itu pemerintah pusat maupun daerah, untuk melapor titik-titik tumpukan sampah plastik yang masih berserakan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pemerintah Indonesia tidak bekerja sendirian, pemerintah juga harus mempercayai warganya dalam menangani isu sampah plastik yang masih belum terkelola dengan baik di sekitarnya.

Masyarakat yang ada di Jakarta juga mempunyai tanggung jawab dalam memelihara lingkungannya sendiri. Pemerintah seharusnya mempunyai aturan yang tegas dalam mengelola sampah yang baik dan benar. Jika mikroplastik hujan di Jakarta dapat diatasi dengan baik seperti adanya larangan yang ketat, pengawasan yang ketat, dan pengelolaan sampah yang ketat, masalah ini dapat teratasi dengan baik dan benar.

Pemerintah memandang ini sebagai isu yang sangat serius, terlebih lagi ini untuk kesehatan masyarakat. Salah satu tindakan tindakan yang diambil adalah  memantau TPA open dumping dikelola yaitu dengan mengubah landfill sampah yang menjadi landfill saniter. Landfill saniter adalah metode pengelolaan sampah di tempat TPA dengan cara membuang, menimbun, memadatkan sampah di area cekung. Landfill ini memiliki lapisan tanah lempung (campuran seimbang antara partikel pasir, debu, dan tanah liat). Untuk menghindari air lindi, yaitu cairan yang dihasilkan dari pembusukan sampah organik. Dibandingkan dengan membiarkan sampah ditumpuk secara terbuka, penutupan diharapkan dapat mencegah penyebaran mikroplastik secara terbuka kepada masyarakat publik.

Jakarta yang merupakan ibu kota negara Indonesia seharusnya bisa memberikan contoh tata kelola lingkungan yang baik dan layak. Jika hujan di ibu kota mengandung mikroplastik yang bisa saja berdampak pada kesehatan masyarakat, ini menunjukkan kelemahan tata kelola pemerintah dalam menjaga lingkungan. Ancaman ini merupakan silent killer yang tak kasat mata yang dapat membahayakan kesehatan warga. Mikroplastik yang terdiri dari partikel-partikel yang kecil bukan sekedar kotoran biasa, tetapi bisa terhirup ke paru-paru dan kemudian memasuki aliran darah melalui udara yang kita hirup setiap hari.

Pemerintah yang sebagai aktor publik harus bisa menjamin kesehatan dan keselamatan warganya. Ketika populasi sampah berada di luar sistem resmi (seperti yang ada di bagian pembahasan pengelolaan sampah yang masih lemah), pemerintah bisa dianggap gagal dalam menyediakan layanan publik yang layak untuk masyarakat, karena kesehatan warga itu penting dan juga lingkungan yang ada di sekitarnya.


Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Karina Olyvia Faizal
Mahasiswi S1 Administrasi Publik Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)