Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

6 menit baca
Karina Olyvia Faizal
Ditulis oleh Karina Olyvia Faizal diterbitkan
Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)

Ternyata kesegaran air hujan yang kita rasakan sehari-hari tidak sepenuhnya bersih. Baru-baru ini, peneliti dari BRIN (Badan Riset Inovasi Nasional) menemukan terdapat hujan mikroplastik di Jakarta dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun. Menurut dari BRIN (2025). Sekitar lima belas partikel mikroplastik per meter persegi ditemukan setiap hari di sampel hujan di wilayah pesisir Jakarta. Air hujan yang menyatu bersama akibat sampah yang sangat tak terkelola dengan baik dan benar.

Menurut seorang peneliti dari BRIN (2025) yang bernama Muhammad Reza Cordova, riset yang dilakukan sejak tahun 2022 menunjukkan bahwa setiap sampel air hujan di ibu kota Jakarta mengandung mikroplastik. Partikel plastik ini berasal dari limbah sampah plastik yang terbuang ke udara (akibat pembakaran sampah plastik) yang disebabkan oleh aktivitas manusia yang kurang bijak dalam memilah sampah. Sistem pengelolaan sampah yang ada di Jakarta sudah sepatutnya bisa menangani hal ini dengan cepat. Menurut artikel dari TEMPO penelitian BRIN (2025) menunjukkan bahwa mikroplastik sudah mencemari udara di Jakarta saat hujan turun. Ini merupakan urgensi yang sangat serius, dan membuktikan bahwa udara yang kita hirup sedang tidak baik-baik saja.

Lalu, fenomena ini bukan hanya sekedar bencana alam, melainkan sebuah tanda bahwa lingkungan yang ada di Jakarta sedang tidak baik-baik saja dan membutuhkan sistem administrasi pengelolaan yang baik dan campur tangan dari pemerintah dengan serius. Fenomena ini harus segera ditangani dengan baik oleh pemerintah. Namun, apa peran pemerintah dan bagaimana solusi untuk mengatasi masalah hujan mikroplastik ini?

Penumpukan Sampah sebagai Kegagalan Perencanaan Kota 

Menurut dari unggahan instagram @dinaslhdki (2026) sampah yang ada di Jakarta terus meningkat setiap hari dan sementara TPA (Tempat Pembuangan Akhir) menjadi sangat terbatas dan juga tekanan pada ruang kota dan lingkungan akan semakin meningkat jika semua sampah plastik langsung dibuang begitu saja dan ini akan menjadi masalah jangka panjang untuk masa yang akan datang.

Ini merupakan bukti nyata bahwa tata kelola sampah yang ada di Jakarta kurang teratasi dengan baik dan minimnya tempat TPA yang layak untuk sampah-sampah plastik tersebut, sampah yang banyak dan menumpuk dapat mencemari lingkungan, mengganggu kesehatan, dan masalah jangka panjang lainnya. Ini bisa dibilang kegagalan dari pemerintah daerah maupun pusat dalam menangani perencanaan kota yang kurang memuaskan.

Pada tahun 2025 akhir fenomena ini bukan sekedar bencana alam yang mengkhawatirkan banyak kalangan masyarakat, tetapi menjadi peringatan dan tanda yang keras bahwa sistem administrasi pengelolaan sampah Jakarta sedang tidak baik dan perlu campur tangan pemerintah yang secara serius.

 Pengelolaan Sampah yang Masih Lemah

Pemerintah pusat maupun daerah seharusnya pengelolaan sampah yang baik dan benar. Menurut Next Indonesia (2026) setelah pandemi, timbulan sampah nasional melonjak dari periode 2021 hingga 2025, sementara kapasitas pengelolaan justru turun dari di atas 60% hingga menjadi 33%. Jumlah daerah yang melaporkan ke SIPSN (Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional) menjadi memperparah situasi, ini menandakan bahwa adanya krisis layanan dan data, saat ini mayoritas sampah berada di luar sistem resmi.

Dengan kata lain, sampah liar ini berubah menjadi mikroplastik karena kalau kapasitas pengelolaan sampah menurun menjadi 33% berarti ada 67% sampah yang sama sekali tidak terurus dengan baik. Sampah yang menumpuk seperti gunung ini bisa saja dibuang ke sungai, dibakar secara ilegal, atau menumpuk di lahan kosong bahkan di tengah jalan.

Lalu, dengan banyaknya daerah yang tidak melapor ke SIPSN membuat pemerintah tidak mempunyai data yang tidak begitu akurat, karena bagaimana pemerintahan dapat membuat kebijakan yang tepat jika mereka tidak tahu persis berapa banyak sampah yang dibuat oleh warganya sendiri? Tanpa data yang akurat ini akan sulit untuk mencapai tujuan dan ini akan menjadi salah sasaran.

Dampak  Mikroplastik bagi Kesehatan Manusia

Menurut dari artikel StanfordReport pada tahun 2025 mikroplastik ini ada dimana saja, ada di air minum yang kita minum, pakaian yang kita selalu pakai, makanan yang kita makan, dan bahkan udara yang selalu kita hirup. Mikroplastik sudah menguasai dunia dan ekosistemnya, dan juga telah memasuki tubuh manusia yang bersarang dari jaringan otak hingga organ reproduksi.

Partikel-partikel plastik yang menguap ke udara yang diakibatkan oleh pembakaran sampah plastik liar dan menjadi hujan akan menjadi ancaman kesehatan yang tak terlihat untuk masyarakat, seperti yang sudah dijelaskan oleh Kemenkes (2025) bahwa paparan jangka panjang terhadap hujan mikroplastik ini adalah peradangan jaringan tubuh. Selain itu, bahan kimia sepertu phthalates dan bisphenol A (BPA) yang terikat pada mikroplastik memiliki potensi untuk mengganggu kesehatan sistem hormon, proses reproduksi, dan perkembangan janin pada ibu hamil. Namun, para ahli menyatakan bahwa hingga saat ini, belum ada bukti ilmiah yang kuat yang menunjukkan bahwa menyebabkan penyakit tertentu secara langsung. Tingkat perannya pada populasi masyarakat masih rendah dan masih menjadi subjek penelitian yang harus diperhatikan.

Walaupun belum ada data yang akurat dimana ada seseorang yang jatuh sakit karena hujan mikroplastik ini, masalah ini harus cukup dibawa serius karena memungkinkan untuk menjadi peringatan keras untuk selalu waspada dan menjaga kesehatan, karena dampak jangka panjang pada kesehatan untuk masyarakat Jakarta maupun luar Jakarta jelas akan terjadi jika kita tidak hati-hati dan tidak menganggap masalah ini dengan serius.

Peran Pemerintah dalam Penanganan Krisis Mikroplastik  di Jakarta

Indonesia sebagai negara yang demokratis, perlu adanya partisipasi masyarakat yang juga ikut melaporkan kepada pemerintah baik itu pemerintah pusat maupun daerah, untuk melapor titik-titik tumpukan sampah plastik yang masih berserakan di wilayah Jakarta dan sekitarnya. Pemerintah Indonesia tidak bekerja sendirian, pemerintah juga harus mempercayai warganya dalam menangani isu sampah plastik yang masih belum terkelola dengan baik di sekitarnya.

Masyarakat yang ada di Jakarta juga mempunyai tanggung jawab dalam memelihara lingkungannya sendiri. Pemerintah seharusnya mempunyai aturan yang tegas dalam mengelola sampah yang baik dan benar. Jika mikroplastik hujan di Jakarta dapat diatasi dengan baik seperti adanya larangan yang ketat, pengawasan yang ketat, dan pengelolaan sampah yang ketat, masalah ini dapat teratasi dengan baik dan benar.

Menurut artikel dari Newswire (2025) pemerintah memandang ini sebagai isu yang sangat serius, terlebih lagi ini untuk kesehatan masyarakat. Salah satu tindakan tindakan yang diambil adalah memantau TPA open dumping dikelola yaitu dengan mengubah landfill sampah yang menjadi landfill saniter. Landfill saniter adalah metode pengelolaan sampah di tempat TPA dengan cara membuang, menimbun, memadatkan sampah di area cekung. Landfill ini memiliki lapisan tanah lempung (campuran seimbang antara partikel pasir, debu, dan tanah liat). Untuk menghindari air lindi, yaitu cairan yang dihasilkan dari pembusukan sampah organik. Dibandingkan dengan membiarkan sampah ditumpuk secara terbuka, penutupan diharapkan dapat mencegah penyebaran mikroplastik secara terbuka kepada masyarakat publik.

Jakarta yang merupakan ibu kota negara Indonesia seharusnya bisa memberikan contoh tata kelola lingkungan yang baik dan layak. Jika hujan di ibu kota mengandung mikroplastik yang bisa saja berdampak pada kesehatan masyarakat, ini menunjukkan kelemahan tata kelola pemerintah dalam menjaga lingkungan. Ancaman ini merupakan silent killer yang tak kasat mata yang dapat membahayakan kesehatan warga. Mikroplastik yang terdiri dari partikel-partikel yang kecil bukan sekedar kotoran biasa, tetapi bisa terhirup ke paru-paru dan kemudian memasuki aliran darah melalui udara yang kita hirup setiap hari.

Pemerintah yang sebagai aktor publik harus bisa menjamin kesehatan dan keselamatan warganya. Ketika populasi sampah berada di luar sistem resmi (seperti yang ada di bagian pembahasan pengelolaan sampah yang masih lemah), pemerintah bisa dianggap gagal dalam menyediakan layanan publik yang layak untuk masyarakat, karena kesehatan warga itu penting dan juga lingkungan yang ada di sekitarnya.


Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Karina Olyvia Faizal
Mahasiswi S1 Administrasi Publik Universitas Katolik Parahyangan

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 26 Jul 2026, 10:47

5 Street Food Pilihan di Bandung yang Wajib Dicoba

Cari street food murah di Bandung? Cek lima kuliner legendaris dengan cita rasa autentik dan harga terjangkau yang wajib Anda coba.

Kolak Bu Mimin. (Sumber: YouTube K U B I L E R)
Ayo Netizen 26 Jul 2026, 10:02

Estetika Kota Bandung Menuju Kota Cerdas Berkelanjutan

Berestetika di kota tidak sekadar teknologinya melainkan gambaran umum bahwa kota Bandung diurus dan ditata sedemikian rupa.

Pelajar menggunakan Alun-alun Regol sebagai tempat santai dan ngobrol-ngobrol. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Jul 2026, 21:02

Stamp Hunting di Kota Kembang: Fenomena Demam “Museum Passport” dan Candu Baru Kaum Metropolis Bandung

Siapa sangka selembar kertas dan ketukan tinta bisa memicu adrenalin sedahsyat ini? Di Jakarta, demam stamp hunting sudah lebih dulu meledak. Sekarang fenomenanya menular ke Kota Bandung.

Para Stamp Hunter Peserta Komunitas Cerita Bunda Lintas Generasi Berfoto di Museum KAA (Sumber: Pribadi | Foto: Pribadi)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 19:06

Ketika Pelajar Diminta Pulang Cepat, Apakah Bandung Menjadi Lebih Aman?

Jika seorang pelajar dianggap aman hanya karena berada di rumah setelah pukul 21.00, lalu bagaimana dengan keamanan kota setelah jam itu?

Warga berlalu lalang di kawasan Asia Afrika, Kota Bandung, pada malam hari. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ditya Rafi Muttaqin/Magang)
Linimasa 24 Jul 2026, 18:41

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari

Seni ukir kayu menjadi cara warga Kampung Bunisakti, Arjasari, memperkenalkan daerahnya. Beragam ukiran bernilai seni diproduksi dengan teknik khas.

Menengok Produksi Kerajinan Ukir Arjasari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 18:33

5 'Warung' Sarapan di Pilihan Bandung, dari Kedai Legendaris hingga Hidden Gem

Jelajahi 5 kedai sarapan favorit di Bandung dengan pilihan menu rumahan, panorama asri, hingga hidden gem yang cocok untuk memulai hari.

Sajian di Sepiring Pagi.
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 17:15

Di Balik Kampanye Digital Jakarta International Marathon 2025: Analisis Merek Air Mineral Nasional

Membedah hal-hal yang tidak terlihat di balik kampanye digital.

Ilustrasi. (Sumber: AI)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 16:18

Pesta Kesenian Bali sebagai Bukti Apresiasi Seni yang Perlu Ditularkan ke Provinsi Lain

Ketika suatu festival seni dapat memberi inspirasi bagi daerah lain.

Pertunjukan Pesta Kesenian Bali tahun 2026 (Sumber: Youtube: Disbud Prov. Bali)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:27

Mega Korupsi Era 90-an Skandal Bapindo dan Eddy Tansil Mengguncang Indonesia

Pengusaha bernama lengkap Edy Tansil (Tan Tjoa Ing) dituntut hukuman penjara seumur hidup serta diwajibkan membayar uang pengganti sebesar Rp800 miliar.

Surat kabar Bandung Pos edisi akhir Juli 1994 yang menampilkan berita utama mengenai kasus mega korupsi Eddy Tansil. (Sumber: Foto dan koleksi surat kabar Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 15:10

Modernisasi Berkebaya yang Berbudaya

Tidak dapat ditawar lagi dengan berkebaya. Kebaya sudah menjadi identitas yang sangat penting bagi Indonesia.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 14:17

Telusur Arca Derenten: Ikonografi Durga-Agastya, Omon-Omon dari Kebun Binatang ke Museum Kota

Pengejawantahan arkeolog sebagai 'detektif masa lalu': mengkaji ikonografi Arca batu, menelusuri jejak hilangnya, hingga mengurai urgensi lembaga Museum Kota

Pintu masuk kebun binatang Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 13:40

Pentingnya Patuh Minum Obat Hipertensi: Penyuluhan Mahasiswa PKPA UMB di Puskesmas Cibiru

Kegiatan kolaborasi yang dilakukan oleh mahasiswa dan praktisi fasilitas pelayanan kesehatan di puskesmas dengan tujuan meningkatkan kualitas hidup pasien di puskesmas cibiru.

Mahasiswa PKPA Universitas Muhammadiyah Bandung sedang melaksanakan Penyuluhan di Puskesmas Cibiru. Kamis (23/6/2026). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Indri Wahyuni A)
Wisata & Kuliner 24 Jul 2026, 13:22

Lontong Goreng Gasibu, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Gedung Sate Bandung

Cari sarapan enak di Bandung? Lontong Goreng Gasibu menawarkan lontong goreng hangat dan tahu Sumedang dengan harga mulai Rp4.000 di kawasan Lapangan Gasibu.

Lontong Goreng Gasibu. (Sumber: Instagram @hayulahgaskeun)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 10:22

Sate, Sang Mahakarya Kuliner Nusantara: Dari Warisan Budaya hingga Diplomasi Rasa Dunia

Indonesia boleh dibilang merupakan "Negeri Seribu Sate".

Pedagang sate. (Sumber: Pexels | Foto: nourrie zein)
Ayo Netizen 24 Jul 2026, 07:55

Kesantunan Berdigital bagi Anak

Kecerdasan buatan tidak boleh membatasi proses tumbuh kembang anak.

Orang tua dan anaknya. (Sumber: Pexels/Lgh_9)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 19:42

Gunung Alit Telah Lahir di Kawah Ratu Gunung Tangkuban Parahu

Gunung Alit ini lahir di sisi utara Kawah Ratu Gunung Tangkubanparahu.

Gunung Alit lahir di dalam Kawah Ratu pascaletusan Juli–Agustus 2019. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 18:02

Serunya Belajar di Alam Bebas

Pendidikan terbaik bukan selalu tentang seberapa cepat anak mampu membaca, menulis, berhitung. Melainkan ketika anak tumbuh menjadi manusia yang rasa ingin tahunya tetap hidup, hatinya tetap lembut

Asyiknya Kakang naik Bebek Gowes di Pondok Tandang Bakti Cigendel, Kecamatan Pamulihan, Kabupaten Sumedang, Ahad (31/5/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 17:00

Hari Anak Nasional: Kenalkan Proses Kreatif Sejak Dini Lewat Program Little Creator

Kreativitas di segala bidang kehidupan adalah kunci masa depan anak.

Program Kreator Cilik yang diselenggarakan oleh Omochatoys menekankan proses kreatif sejak usia dini (Foto: dok Omochatoys)
Wisata & Kuliner 23 Jul 2026, 16:22

Wahana Pilihan TMII, dari Kereta Gantung hingga Drone Show Gratis

Rencanakan kunjungan ke TMII dengan panduan wahana terbaik, lengkap dengan tiket, museum pilihan, Jagat Satwa Nusantara, dan tips berkunjung hemat.

Museum Indonesia TMII. (Sumber: TMII)
Ayo Netizen 23 Jul 2026, 16:21

Hari Anak Nasional: Sudahkah Anak-Anak Indonesia Merdeka?

Apakah anak-anak layak dikatakan sudah merdeka? jika rasa aman, nyaman dan hak-hak dasar dalam hidup mereka belum sepenuhnya bisa ditunaikan.

Seorang anak sekolah di Aceh yang menyebrangi jembatan tali menuju sekolah. (Sumber: Generated AI (Terinspirasi dari Video Asli di Aceh))