Jejak Sejarah Ujungberung, Kota Lama dan Kiblat Skena Underground di Timur Bandung

5 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Peta peta topografi Lembar Ujungberung tahun 1910. (Sumber: KITLV)
Peta peta topografi Lembar Ujungberung tahun 1910. (Sumber: KITLV)

AYOBANDUNG.ID - Orang Bandung hari ini sering mendengar nama Ujungberung bukan dari buku sejarah, melainkan dari scene musik underground. Kawasan ini memang dikenal sebagai “kota cadas”-nya Bandung. Tapi jauh sebelum para gegedug Ujungberung Rebels berteriak-teriak di panggung, Ujungberung sudah lebih dulu punya cerita panjang. Ceritanya kadang mistis, kadang romantis, kadang kolonial, bahkan kadang bikin peta birokrasi berubah-ubah.

Penamaan Ujungberung tak lahir begitu saja. Dalam buku Ujungberung Serambi Timur Bandung (2009), Anto S. Widjaya menulis ada beberapa versi soal asal-usul nama ini. Versi pertama yang agak drama percintaan, berkaitan dengan mitos Sangkuriang dan Dayang Sumbi.

Ceritanya, Sangkuriang sedang sibuk bikin perahu dan danau raksasa, syarat agar ia bisa menikahi Dayang Sumbi, ibunya sendiri. Dayang Sumbi jelas panik, siapa pula yang mau dipersunting anaknya sendiri. Maka ia melambaikan selendang mayang sambil memohon matahari segera terbit. Ada pula yang bilang, lambaian itu kode agar para perempuan kampung menumbukkan alu di lesung, tanda pagi tiba.

Baca Juga: Sejarah Stroberi Ciwidey, Pernah jadi Sentra Produksi Terbesar dari Bandung Selatan

Singkat cerita, Sangkuriang gagal, ngamuk, lalu menendang perahunya sampai jadi Gunung Tangkuban Perahu. Selendang ibunya berubah jadi Gunung Manglayang. Tempat di mana nafsu Sangkuriang “mentok” itu disebut Ujungberun atau ujung dari nafsu berung-berung yang tak kesampaian.

Versi kedua lebih saintifik. Nama Ujungberung dikaitkan dengan Danau Bandung Purba, yang terbentuk sekitar enam ribu tahun lalu akibat letusan Gunung Tangkuban Parahu. Letusan itu menyumbat aliran Citarum Purba, membuat sebagian Bandung tergenang. Luasnya diperkirakan 50 km dari timur ke barat, dan 30 km dari utara ke selatan. Ujungberung dianggap salah satu tepiannya.

“Ujung” dalam toponimi Nusantara sering berarti daratan menjorok seperti Ujung Kulon atau Ujung Pandang. Jadi bisa dibilang, Ujungberung memang “tanjung” di tepian danau purba.

Boleh saja mau pilih versi mitologi atau geologi, keduanya sama-sama seru. Yang jelas, nama Ujungberung sudah muncul jauh sebelum kolonial Belanda menggambar-gambar peta Priangan.

Dari Distrik Kolonial hingga jadi Bagian Kota Bandung

Secara historis, Ujungberung mulai disebut pada abad ke-17 ketika wilayah Priangan berada di bawah Mataram Islam, pada masa Sultan Agung. Tapi titik balik besarnya terjadi awal abad ke-19, saat Herman Willem Daendels membangun Jalan Raya Pos (De Grote Postweg) pada 1810. Dalam Bunga Rampai Pelestarian Budaya dan Sejarah Lokal (2012) terbitan Kemendikbud, Euis Thresnawaty S menyebut jalan lurus nan panjang ini membelah Ujungberung jadi dua: Oedjoengbroeng Kaler di utara dan Oedjoengbroeng Kidoel di selatan.

Ujungberung Kidul sebagian masih rawa bernama Geger Hanjuang, sisa Danau Bandung Purba. Sedangkan bagian utara sudah diincar Belanda untuk perkebunan kopi. Tak heran, nama-nama tempat di selatan banyak mengandung “ci” atau “ranca”: Cicadas, Cikadut, Cipadung, Rancaoray. Sementara utara lebih suka “pasir”: Pasirjati, Pasirluhur, Pasirleutik. Toponimi lokal jadi arsip geologi yang hidup.

Baca Juga: Ujungberung dan Gedebage Langganan Banjir, Seberapa Berdampak Kolam Retensi?

Setelah jalan pos dibuka, orang mulai berdatangan. Ada buruh kopi dari Sukabumi, Bogor, Cianjur, juga dari Garut, dibawa paksa untuk menggarap lahan milik tuan tanah Belanda. Salah satunya Andries de Wilde, yang konon punya dua pertiga wilayah Ujungberung atau sekitar 28 ribu hektar. Para Preangersplanters juga menjadikan Ujungberung Kaler sebagai pusat perkebunan kopi dan sapi. Sementara pribumi, bangsawan lokal, dan pegawai kolonial mengatur distrik. Tahun 1815, pemerintahan distrik resmi diberlakukan.

Alun-alun Ujungberung. (Sumber: Ayobandung)
Alun-alun Ujungberung. (Sumber: Ayobandung)

Ujungberung terus diutak-atik administratif: dibagi jadi Ujungberung Wetan dan Ujungberung Kulon pada 1840, lalu dipecah lagi jadi onderdistrik pada awal abad ke-20. Tahun 1870-an, Undang-Undang Agraria dan reorganisasi wilayah Priangan membuat pembangunan infrastruktur meningkat. Pusat pemerintahan Ujungberung Wetan dipindahkan dari Nyublek ke sekitar alun-alun Ujungberung, dekat posisi sekarang.

Jumlah penduduk pun berkembang. Pada 1869, Distrik Ujungberung Kulon berisi hampir 19 ribu jiwa, sementara Ujungberung Wetan lebih dari 12 ribu jiwa. Mereka tersebar di puluhan kampung, sebagian besar dekat jalur Jalan Raya Pos dan perkebunan.

Pada abad ke-20, peta Ujungberung makin sering digunting-tempel. Staatsblaad 1901 membagi distrik jadi onderdistrik Cibiru, Cibeunying, Buah Batu, Lembang, Balubur, hingga Andir. Kota Bandung yang terus membesar membuat wilayah Ujungberung berkurang. Tahun 1911, sebagian Distrik Ujungberung Kulon dipangkas masuk wilayah Kota Bandung. Tahun 1913, Distrik Ujungberung Wetan disederhanakan jadi empat onderdistrik: Cibeunying, Buah Batu, Cibiru, dan Ujungberung. Tapi 1929 dipangkas lagi jadi tiga onderdistrik: Ujungberung, Cicadas, Buah Batu.

Di masa Jepang, Ujungberung jadi salah satu titik logistik. Setelah kemerdekaan, wilayah ini ikut masuk dalam pertarungan politik dan pembangunan. Perubahan besar berikutnya terjadi pada 1987, ketika hampir sepertiga wilayah Ujungberung resmi masuk Kota Bandung. Pemerintahan kawedanaan dihapus. Sejak itu, Ujungberung hanya menjadi kecamatan biasa. Dari distrik kolonial yang pernah menguasai puluhan ribu hektar, kini tinggal bagian timur Bandung dengan alun-alun, pasar, dan citra “metal”.

Walau pangkatnya turun, jejak masa lalu masih terasa. Nama kampung-kampung yang berhubungan dengan rawa, bukit, dan air jadi penanda. Sisa jalan pos yang kini jadi jalur utama Bandung–Cirebon juga masih setia menghubungkan Ujungberung dengan dunia luar. Bahkan legenda Dayang Sumbi dan Sangkuriang masih diceritakan anak-anak sekolah.

Di akhir abad ke-20 ia berubah jadi ladang musik cadas. Pada awal 1990-an, muncul Ujungberung Rebels, komunitas musik underground yang menjadi salah satu kiblat musik cadas di Indonesia. Ujungberung Rebels muncul dari keresahan anak muda Bandung Timur di masa itu. Di kawasan Ujungberung, sekumpulan remaja yang gandrung musik keras mulai berkumpul. Awalnya mereka hanya nongkrong, bertukar kaset Metallica, Slayer, dan Sepultura. Dari situ tumbuh semangat membuat musik sendiri. Komunitas ini lahir dari kultur persaudaraan: siapa pun yang suka musik cadas bisa bergabung.

Baca Juga: Tragedi AACC Bandung 2008, Sabtu Kelabu Konser Beside

Pada pertengahan 1990-an, band seperti Burgerkill, Jasad, hingga Forgotten mulai mengibarkan bendera metal dari Ujungberung. Mereka tidak sekadar meniru Barat, tapi memberi napas lokal. Lirik dan gaya hidup para musisi kerap membawa aroma perlawanan. Ujungberung Rebels akhirnya menjadi identitas, bukan sekadar nama. Di Bandung, bahkan Indonesia, istilah itu jadi sinonim dengan “komunitas metal yang militan”.

Dari gigs kecil di lapangan hingga festival besar, mereka menjaga semangat kolektif. Bagi anak muda yang haus kebebasan, Ujungberung Rebels jadi rumah. Dari sinilah Bandung dijuluki “kota metal” Indonesia, dengan Ujungberung sebagai episentrumnya.

Sejarah Ujungberung ibarat wayang dengan banyak lakon. Ada lakon Sangkuriang, lakon tuan tanah Belanda, sampai lakon anak muda dengan gitar listrik full distorsi. Bedanya, kalau wayang biasanya punya dalang, Ujungberung seolah jalan sendiri tanpa naskah. Itulah sebabnya, meski kini cuma kecamatan, namanya tetap terdengar lebih gahar ketimbang wilayah sekitarnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)