Turisme Bandung: Antara Kemilau Paris van Java dan Krisis Eksistensial Kota Kreatif

T.H. Hari Sucahyo
Ditulis oleh T.H. Hari Sucahyo diterbitkan Senin 01 Des 2025, 16:11 WIB
Galactic Glow di Paris van Java Mall Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Galactic Glow di Paris van Java Mall Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Turisme, dalam wujudnya yang paling gencar dan masif, telah menjelma menjadi sebuah dilema eksistensial bagi Kota Bandung. Dikenal sejak era kolonial sebagai Paris van Java karena keindahan alam dan arsitektur Art Deco-nya, dan kini diakui secara global sebagai Kota Kreatif UNESCO, Bandung menjadi magnet yang tak terhindarkan bagi jutaan wisatawan, khususnya dari wilayah Jabodetabek, yang membanjiri kota setiap akhir pekan dan hari libur.

Di balik label dan daya tarik yang berkilauan  ini, turisme di Bandung beroperasi layaknya pisau bermata dua yang tumpul dan berkarat. Sembari menjanjikan devisa dan menggerakkan roda perekonomian lokal, model turisme yang saat ini dominan yang berorientasi pada kecepatan, volume, dan konsumsi instan, justru secara sistemik menggerogoti kualitas hidup warga, menghancurkan aset lingkungan yang menjadi daya tarik utama, dan secara halus mengikis kekayaan budaya yang seharusnya dilindungi.

Kritik paling fundamental harus diarahkan pada kegagalan Bandung dalam mengelola kapasitas fisik dan sosial kota. Turisme massal yang berfokus pada kluster-kluster tertentu, seperti area factory outlet di Riau dan Dago, kluster kuliner, dan destinasi alam di Lembang dan Ciwidey, menciptakan krisis overtourism lokal yang terwujud dalam bentuk kemacetan total. Kemacetan ini bukan sekadar ketidaknyamanan lalu lintas; ia adalah manifestasi nyata dari ketidakadilan spasial dan sosial.

Warga Bandung dipaksa menghabiskan waktu berjam-jam di jalanan yang seharusnya efisien, menghambat akses terhadap fasilitas vital, dan menimbulkan kerugian ekonomi kolektif akibat inefisiensi mobilitas. Penduduk lokal sering merasa diasingkan dan terperangkap di kota sendiri, menjadi figuran yang mobilitasnya terhambat oleh kendaraan bernomor polisi luar kota. Gejala overtourism ini diperparah oleh infrastruktur yang rentan, di mana pembangunan jalan tol justru mempermudah masuknya volume turis tanpa diimbangi dengan sistem transportasi publik yang memadai untuk distribusi internal.

Ancaman ekologis menjadi krisis kedua yang jauh lebih serius dan bersifat jangka panjang. Kawasan Bandung Utara (KBU), yang merupakan paru-paru dan area resapan air utama bagi Bandung Raya, berada di bawah tekanan pembangunan yang intens. Permintaan pasar turisme yang tak pernah puas akan café with a view, vila harian mewah, dan resor telah memicu praktik pembangunan serampangan yang seringkali melanggar ketentuan Koefisien Dasar Hijau (KDH) dan peraturan tata ruang.

Pembangunan ini menyebabkan penyusutan drastis ruang terbuka hijau, yang secara langsung mengurangi daya serap air, meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi seperti banjir bandang dan tanah longsor, dan yang paling ironis, menurunkan debit air tanah yang menjadi sumber air bersih bagi seluruh penduduk kota. Turisme di sini tidak hanya merusak, tetapi memakan aset ekologis sendiri demi keuntungan cepat, sebuah bentuk ekstraksi sumber daya alam yang tidak berkelanjutan.

Selain itu, lonjakan volume turis secara langsung berkorelasi dengan volume sampah yang harus dikelola. Kota Bandung, yang sudah bergulat dengan masalah pengelolaan limbah yang kompleks (termasuk krisis di TPA regional), semakin tertekan oleh tumpukan sampah turisme yang musiman namun masif, mencemari lingkungan dan menambah beban operasional yang harus ditanggung oleh Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD).

Secara ekonomi dan sosial, turisme di Bandung juga menciptakan disparitas yang dalam. Meskipun sektor ini menghasilkan devisa, manfaatnya tidak terdistribusi secara merata. Mayoritas keuntungan cenderung mengalir ke segelintir konglomerat besar pemilik jaringan hotel, factory outlet raksasa, dan operator tur berskala nasional.

Penduduk lokal sering hanya mendapatkan pekerjaan level bawah, musiman, dan rentan tanpa jaminan sosial yang memadai, menciptakan ilusi kemakmuran tanpa daya tahan ekonomi. Fenomena gentrifikasi turisme semakin memperburuk keadaan. Di area heritage seperti Jalan Braga atau kawasan Dago lama, maraknya investasi properti untuk diubah menjadi penginapan atau kafe viral menaikkan harga sewa dan properti secara tidak proporsional.

Para pemilik usaha kecil, pedagang kaki lima, dan bahkan penduduk asli yang telah lama tinggal di sana dipaksa pindah karena tidak mampu bersaing dengan biaya hidup yang melonjak, sehingga terjadi erosi identitas sosial dan budaya di jantung kota. Ruang publik dan interaksi sosial yang otentik digantikan oleh lanskap komersial yang homogen, di mana produk yang dijual seringkali lebih melayani selera turis daripada kebutuhan warga.

Di sisi budaya, turisme massal telah mendorong praktik komodifikasi yang dangkal. Warisan budaya Sunda dan sejarah kolonial seringkali direduksi menjadi sekadar latar belakang estetika untuk keperluan foto atau ornamen dekoratif. Ritual, kesenian tradisional, atau bahkan kuliner otentik disederhanakan dan dipersingkat agar sesuai dengan jadwal tur yang padat, mengorbankan kedalaman makna demi daya tarik komersial.

Dekorasi Halloween di Paris van Java Mall Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Dekorasi Halloween di Paris van Java Mall Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kritik ini juga harus diarahkan pada praktik turistifikasi yang cenderung cepat puas dengan spot foto viral dan pengalaman Instagenic, mengabaikan kekayaan narasi sejarah arsitektur Art Deco atau filosofi kearifan lokal Sunda. Wisatawan menjadi konsumen pasif yang hanya menyentuh permukaan budaya, dan komunitas lokal didorong untuk memproduksi pertunjukan yang bersifat artifisial, yang dikenal sebagai staged authenticity, demi memenuhi ekspektasi pasar.

Untuk membalikkan keadaan dan mengarahkan Bandung menuju model yang benar-benar regeneratif, diperlukan intervensi kebijakan yang radikal dan holistik. Solusi tidak lagi hanya berfokus pada "mempertahankan" status quo yang sudah rusak, tetapi pada upaya memperbaiki, memulihkan, dan meningkatkan kualitas lingkungan dan sosial kota.

Pertama, Manajemen Mobilitas dan Spasial harus diutamakan. Pemerintah harus menerapkan kuota kunjungan yang ketat pada area-area ekologis yang sensitif, seperti KBU dan Ciwidey, terutama selama musim puncak. Ini harus didukung oleh sistem Park and Ride skala besar yang terletak strategis di pintu masuk kota, memaksa wisatawan menggunakan transportasi publik atau shuttle service internal untuk berkeliling.

Retribusi yang dikumpulkan dari kuota dan Park and Ride ini harus dialokasikan 100% untuk rehabilitasi lahan di KBU dan pemeliharaan infrastruktur lingkungan kota. Solusi jangka panjang adalah akselerasi pengembangan moda transportasi massal yang dapat diandalkan, seperti light rail transit (LRT) atau sistem bus rapid transit (BRT) yang terintegrasi, untuk mengurangi ketergantungan pada kendaraan pribadi dan mengurai beban jalan.

Kedua, Transisi Ekonomi menuju Inklusivitas dan Keberlanjutan Lokal harus dilakukan. Pemerintah harus secara tegas menertibkan properti sewa jangka pendek ilegal yang beroperasi tanpa izin dan tanpa kontribusi pajak yang jelas, yang merupakan penyebab utama gentrifikasi. Pajak turisme yang dikumpulkan harus transparan dan diprioritaskan untuk dana pengembangan komunitas lokal, bukan sekadar masuk ke kas umum.

Perlu ada regulasi yang mewajibkan hotel dan restoran berskala besar untuk membangun rantai pasok lokal yang ketat, di mana persentase minimum bahan baku (makanan, minuman, suvenir) harus bersumber dari petani, produsen, dan pengusaha mikro di Bandung Raya. Ini akan memastikan bahwa uang turis berputar di ekonomi lokal, bukan hanya mengalir ke korporasi asing.

Ketiga, Reorientasi Kultural dan Edukasi Wisatawan adalah kunci. Bandung harus bergeser dari Turisme Factory Outlet ke Turisme Budaya Mendalam. Kurasi itinerary wisata harus fokus pada narasi sejarah arsitektur, filosofi Sunda, dan praktik kreatif yang otentik. Pengelolaan destinasi wisata alam dan budaya harus diserahkan atau melibatkan secara signifikan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) atau koperasi komunitas lokal, memastikan bahwa mereka memiliki hak kedaulatan dan veto atas jenis pengembangan yang akan dilakukan di wilayah mereka.

Selain itu, edukasi pra-perjalanan harus diwajibkan oleh agen tur dan platform booking untuk mengubah turis menjadi wisatawan yang sadar (conscious travelers). Wisatawan harus mengerti bahwa mereka memiliki tanggung jawab etis dan lingkungan, dan bahwa setiap kunjungan mereka dapat menjadi peluang untuk regenerasi, bukan sekadar rekreasi.

Turisme memiliki potensi unik untuk menjadi kekuatan konservasi dan pemberdayaan. Namun, bagi Bandung, potensi itu tidak akan terwujud jika kota ini terus menerus diukur hanya dari volume uang yang masuk. Bandung harus mengganti lensa ekonomi sempit dengan visi keberlanjutan holistik, menempatkan kesejahteraan warga lokal dan kesehatan ekosistem sebagai metrik keberhasilan utama.

Perjalanan berikutnya ke Bandung harus menjadi sebuah janji moral, di mana setiap kedatangan meninggalkan jejak modal sosial dan ekologi yang positif. Ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan Paris van Java dari dirinya sendiri dan memastikan bahwa Kota Kreatif ini tidak hanya bertahan, tetapi benar-benar berkembang untuk generasi mendatang. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

T.H. Hari Sucahyo
initiator of the "Adiluhung" study circle and the Pusaka AgroPol study group

Berita Terkait

News Update

Beranda 04 Feb 2026, 11:56 WIB

Ironi Co-firing Biomassa PLTU di Jawa Barat, Klaim Transisi Energi dan Dampaknya bagi Warga

Skema yang diklaim lebih ramah lingkungan ini dinilai belum sepenuhnya menjawab persoalan mendasar, terutama dampak lingkungan dan kesehatan warga yang hidup berdampingan dengan PLTU.
Ilustrasi PLTU. (Sumber: Bruno Miguel / Unsplash)
Beranda 04 Feb 2026, 09:42 WIB

Jika Kebun Binatang Bandung Hilang, Apa yang Tersisa dari Kota Ini?

Tempat ini merupakan rangkaian panjang sejarah dan ungkapan cinta warga kota yang telah terbangun sejak satu abad lalu.
Pegunjung memanfaatkan Kawasan Kebun Binatang Bandung yang rindang dan sejuk untuk berkumpul dan makan bersama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 09:39 WIB

Aan Merdeka Permana Penulis Spesialis Tema Padjadjaran

Yayasan Kebudayaan Rancagé menetapkan sastrawan Sunda senior Aan Merdeka Permana sebagai peraih Hadiah Jasa 2026.
Buku-buku karya Aan Merdeka Permana. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 04 Feb 2026, 08:04 WIB

Ngabuburit dari Masa ke Masa

Ngabuburit di kota Bandung mengalami pergeseran nilai dan aktifitas serta cara melakukannya.
Masjid Al-Jabar di Kota Bandung. (Sumber: Pexels/Andry Sasongko)
Bandung 03 Feb 2026, 21:16 WIB

Misi Kemanusiaan dan Esensi CSR Berkelanjutan dalam Memulihkan Luka Bencana Cisarua

CSR berkelanjutan bukan hanya tentang memberi, tetapi tentang hadir dan tetap ada hingga masyarakat benar-benar mampu berdiri kembali di atas kaki sendiri.
Dalam skenario bencana sebesar Cisarua, kecepatan respons adalah kunci utama untuk menyelamatkan nyawa dan harapan. (Sumber: SANY Indonesia)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 19:40 WIB

Kisah Sentra Karangan Bunga Pasirluyu Bandung, Panen Rezeki saat Rajab dan Syaban

Jalan Pasirluyu Selatan Bandung berubah menjadi sentra karangan bunga. Bulan Rajab dan Syaban membawa lonjakan pesanan papan ucapan pernikahan dan hajatan.
Salah satu deretan toko bunga di Pasirluyu, Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Beranda 03 Feb 2026, 19:00 WIB

Info Ciumbuleuit, Homeless Media yang Hidup dari Kepercayaan Warga Sekitar

“Kalau sampai ada yang keberatan atau komplain, jujur saja bingung mau berlindung ke siapa. Kita kan nggak punya lembaga atau badan hukum,” tuturnya.
Pemilik dan pengelola akun Info Ciumbuleuit, Dio Rama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 18:19 WIB

UU ITE dan Ancaman Kebebasan Ekspresi: Menggugat Pelanggaran Asas Lex Certa

Menganalisis pelanggaran asas lex certa dalam UU ITE yang memicu chilling effect dan mengancam kebebasan berekspresi serta kualitas demokrasi di Indonesia.
Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 17:02 WIB

Lakon Kelaparan dan Kemiskinan Melalui Puasa Ramadan

Puasa itu mengajarkan menahan diri, zakat menyempurnakannya. Ia menumbuhkan kesadaran sosial dan kebahagiaan bagi sesama.
Ilustrasi puasa Ramadan. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdullah Arif)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:33 WIB

Sejarah Pasteur Bandung, Jejak Peradaban Ilmu Pengetahuan di Kota Kembang

Kawasan Pasteur Bandung tumbuh dari pusat riset vaksin kolonial menjadi simpul penting ilmu kesehatan nasional yang jejaknya masih bertahan hingga kini.
Suasana di Jalan Pasteur, Kota Bandung. Salah satu titik lalu lintas yang selalu padat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Jelajah 03 Feb 2026, 16:31 WIB

Hikayat Indische Partij, Partai Politik Pertama yang Lahir dari Bandung

Didirikan di Bandung pada 1912, Indische Partij menjadi organisasi politik pertama yang secara terbuka menuntut kemerdekaan penuh dari kekuasaan kolonial Belanda.
Logo Indische Partij.
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 15:13 WIB

Di Tengah Tekanan Zaman, Seni Menjadi Cara Bertahan

Di tengah kecemasan, kisah “Nihilist Penguin” bertemu tekanan hidup kota. Dari luka personal lahir Florist Project dan lagu “Cemas”, seni yang tak menggurui, tapi menemani manusia belajar bertahan.
Belajar dan menanamkan cinta pada anak-anak (Sumber: Arsip Penulis, Ekspedisi Nusantara Jaya 2016)
Bandung 03 Feb 2026, 12:52 WIB

Berlari Menjemput Cahaya Pendidikan: Jejak Kebaikan di Balik DH Run 2026

Di balik kemeriahan medali dan garis finis, DH Run 2026 membawa misi sosial yang menyentuh akar kehidupan.
Konferensi pers DH Run 2026 yang membawa misi sosial untuk menyentuh akar kehidupan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 12:43 WIB

Raih Hadiah Jasa Rancage, Aan M.P. Sebut KDM Tidak Senang Bantu Sastrawan Miskin

Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa.
Aan Merdeka Permana, lahir di Bandung, 16 Novémber 1950 dipandang panitia pantas menerima Hadiah Jasa. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 11:11 WIB

Tema Ayo Netizen Februari 2026: Bandung Raya dan Bulan Puasa

Tema ini menjadi ajakan terbuka bagi para penulis Ayo Netizen untuk mengirim tulisan terbaik.
Ayo Netizen Ayobandung.id mengangkat tema "Bandung Raya dan Bulan Puasa: Tradisi, Ekonomi, dan Realita Saat Ini" untuk edisi Februari 2026. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan AI ChatGPT)
Bandung 03 Feb 2026, 10:58 WIB

Dari Kaki Lima ke Ruko Lantai Tiga: Strategi Awug Cibeunying Bertahan di Tengah Zaman

Rizky turut serta menjaga kualitas dan kuantitas awug supaya tetap terjaga meski pasang-surut perubahan zaman telah dihadapi bersama keluarga besarnya selama membangun bisnis ini.
Kios Awug Cibeunying. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 03 Feb 2026, 09:36 WIB

Kian Banyak Tertemper Kereta Api, Perlintasan Sebidang Titik Paling Mematikan

Setelah perlintasan sebidang dibangun jalan layang atau terowongan, ternyata kebijakan daerah sangat lemah.
Perlintasan sebidang di Cimindi yang sangat rawan. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Bandung 03 Feb 2026, 09:19 WIB

Digitalisasi Jejak Karbon: Menakar Teknologi Berkelanjutan dalam Layanan Pelanggan Singapore Airlines

Penumpang dan pelanggan kargo SIA dapat menghitung dan mengimbangi emisi karbon penerbangan mereka, baik sebelum maupun setelah terbang.
Maskapai Singapore Airlines. (Sumber: Singapore Air)
Beranda 03 Feb 2026, 07:12 WIB

Di Antapani, Komunitas Temu Tumbuh Menjadi Tempat Pulang bagi Percakapan yang Jujur

Nilai-nilai dalam kacamata tuntutan masyarakat inilah yang kemudian memantik kecenderungan rasa cemas manusia di masa kini.
Komunitas Temu Tumbuh membuka ruang diskusi yang aman dan nyaman untuk saling berbagi dan bertumbuh. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 02 Feb 2026, 19:47 WIB

Susah Payah Menjaga Tertib Bahasa Dicengkram Mesin Algoritma

Standar Bahasa Indonesia perlahan tidak lagi dibentuk oleh komunitas diskusi, melainkan oleh mesin berbasis data global.
Ilustrasi bahasa mesin yang menentukan algoritma. (Sumber: Sketsa oleh ChatGPT)