Bandung, Kota Macet yang Gerimisnya Masih Romantis, Adeuy!

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Senin 01 Des 2025, 13:13 WIB
Bandung, kota yang romantis, kreatif, dan tentu saja ... macet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Farisi)

Bandung, kota yang romantis, kreatif, dan tentu saja ... macet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Farisi)

Bayangkan ini: kamu baru saja menyesap kopi di Braga, matahari sudah mulai turun di balik Tangkuban Parahu, dan kamu berpikir, “Ah, sepertinya pulang sekarang saja, biar nggak macet.” Lalu kamu menyalakan mesin mobil, buka Google Maps... dan disambut warna merah pekat seperti sambal cengek di warung padang.

Selamat datang di Bandung: kota yang romantis, kreatif, dan tentu saja ... macetnya legendaris.

Dalam catatan data statistik Dinas Perhubungan Kota Bandung 2024, terdapat lebih dari 20 titik rawan kemacetan utama di kota ini. Beberapa di antaranya meliputi Jalan Soekarno-Hatta, Pasteur, Setiabudi, Dago, Cibiru, dan Buah Batu. Rata-rata kecepatan kendaraan di jam sibuk hanya 15–20 km/jam, jauh di bawah standar kota ideal. Kemacetan meningkat hingga 35 persen pada akhir pekan, terutama di kawasan wisata seperti Lembang, Dago dan Braga.

Faktor utama penyebabnya adalah pertumbuhan kendaraan mencapai 5 persen per tahun, sementara kapasitas jalan nyaris tidak bertambah. Bandung pun menjadi simbol klasik kota cantik campernik yang tersandera oleh lalu lintasnya sendiri: macetos!

Menurut data TomTom Traffic Index 2024, Bandung menempati posisi ketiga kota termacet di Indonesia, setelah Jakarta dan Denpasar. Rata-rata pengendara di Bandung menghabiskan sekitar 39 persen waktu perjalanan ekstra karena kemacetan. Artinya, kalau kamu biasanya butuh 30 menit ke kantor, siap-siaplah 40—45 menit dengan bonus pemandangan bumper mobil di depanmu.

Kalau dikonversi ke waktu hidup, warga Bandung bisa kehilangan sekitar 100 jam per tahun hanya untuk duduk diam di jalan sambil mendengarkan radio lokal yang muter lagu-lagu nostalgia.

Namun, macet di Bandung itu punya karakter unik. Tidak melulu membuat kesal — kadang justru jadi bahan refleksi. Saat motor-motor saling selip di antara mobil, ada rasa “gotong royong” terselubung. Pengendara saling tatap, saling angguk, seolah berkata, “Mangga heula tipayun, atuh...”

Ada juga ritual klasik warga Bandung: ngalieur jalur (baca:mencari jalan alternatif). Begitu jalan utama padat, langsung cari jalan tikus di gang sempit, berharap lebih cepat. Tapi biasanya, lima menit kemudian, gang itu juga macet. Seolah seluruh kota punya radar serupa.

Ironi Kota Kreatif yang Macet

Dalam konteks kekiwarian, Dago menjadi panggung ekspresi identitas. Kawasan yang semula eksklusif, kini terbuka, namun tetap mempertahankan nuansa selektif melalui simbol-simbol gaya hidup modern. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Dalam konteks kekiwarian, Dago menjadi panggung ekspresi identitas. Kawasan yang semula eksklusif, kini terbuka, namun tetap mempertahankan nuansa selektif melalui simbol-simbol gaya hidup modern. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Sebagai kota kreatif berdasarkan gelar dari UNESCO, Bandung dikenal penuh ide. Tapi entah kenapa, kreativitas itu belum sepenuhnya menular ke sistem transportasi publiknya. Jumlah kendaraan pribadi di Bandung mencapai lebih dari 1,7 juta unit (BPS Kota Bandung, 2024), sementara panjang jalan hanya sekitar 1.200 kilometer. Dengan pertumbuhan kendaraan sekitar 5 persen per tahun, tidak heran kalau macet sudah jadi gaya hidup yang kadung membudaya.

Tapi di sisi lain, macet di Bandung juga memberi ruang untuk merenung. Di tengah antrean panjang di Jalan Dago atau Setiabudi, kamu bisa memikirkan hidup, pekerjaan, bahkan mantan. Kadang, macet membuat kita belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa dipercepat — seperti hubungan, karier, atau bahkan sinyal HP di tengah hujan.

Dan di situ letak romantismenya: Bandung memaksa kita untuk melambat. Untuk melihat pedagang cilok yang tetap tersenyum meski asap knalpot menari di sekitarnya. Untuk menikmati langit sore yang oranye di antara deretan mobil. Ironinya, banyak warga urang Bandung yang lebih hafal shortcut lewat gang (baca: jalan tikus) daripada rute bus kota.

Pada akhirnya, Bandung tetap Bandung—kota yang membuat kita mengeluh, tapi juga sulit ditinggalkan. Mungkin kemacetan ini semacam ujian cinta: kalau kamu masih sabar terjebak di jalan Pasteur setiap weekend, berarti kamu benar-benar mencintai kota ini.

Jadi, lain kali saat terjebak macet di Bandung, tenangkan diri. Buka jendela, hirup udara (campur asap), dan katakan: “Macet atuh... tapi ini Bandung, cuy. Tetap cinta ya!” (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung
Nilai artikel ini
Klik bintang untuk menilai

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Des 2025, 14:47 WIB

Orang Sunda 'Jago'-nya Ciptakan Akronim Nama Makanan yang Lucu dan Gampang Diingat

Semua akronim itu dibuat para penciptanya untuk memudahkan mengingat, selain juga ada unsur heureuy sesuai karakter urang Sunda.
Cimol. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: AWG97)
Beranda 05 Des 2025, 12:58 WIB

Banjir Bandang Cililin Bukan Lagi Bencana Tahunan, Tapi Alarm Kerusakan Hulu Bandung Barat

Air bah menyapu sedikitnya 5 hektare lahan pertanian, puluhan ton ternak ikan, serta merendam sentra wisata kuliner yang menjadi penggerak ekonomi warga.
Seorang pekerja sedang membersihkan wisata kuliner Lembah Curugan Gunung Putri yang diterjang banjir bandang, pada Kamis 4 Desember 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 12:54 WIB

Pedagang Kaki Lima dan Parkir Liar Hantui Mobilitas Kota Bandung

Kemacetan Kota Bandung diperparah akibat PKL dan parkir liar yang memakan badan jalan.
Aktivitas pedagang kaki lima mengurangi ruang kendaraan di ruas Jalan Moch. Toha, Kota Bandung, Selasa (2/12/25). (Sumber: Nathania)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 11:54 WIB

Dibangun untuk Olahraga, Taman Fitnes Tak Terawat malah Dipakai Nongkrong

Fasilitas yang berkarat dan kondisi taman yang tak terjaga membuat Taman Fitnes Jl. Teuku Umar tak optimal digunakan.
Tampak depan taman fitnes, dengan suasana sendu disore hari. (02/12/2025) (Sumber: Penulis | Foto: Syafitriani Rahmawati)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 10:46 WIB

Perpaduan Cita Rasa Yoghurt dan Ice Cream Tianlala

Perpaduan yogurt segar dan ice cream lembut di Tianlala menawarkan rasa unik yang sulit dilupakan. Suasananya nyaman, harganya ramah, membuat pengalaman mencicipinya semakin menyenangkan.
Tianlala seperti oase kecil yang bisa membangkitkan mood siapa saja yang lewat. (Sumber: Dok. Penulis).
Ayo Netizen 05 Des 2025, 09:38 WIB

Polemik Beton di Atas Awan, Infrastruktur Ikonik Bandung ‘Warisan RK’

Kritik kepada wali kota bandung atas aksi lempar melempar tanggung jawab terkait Teras Cihampelas.
Tulisan “Teras Cihampelas” yang dulu ramai, sekarang terlihat sunyi dan sepi 
(1/12/2025) (Sumber: Calya Pratista) (Sumber: Calya Pratista | Foto: Calya Pratista)
Ayo Netizen 05 Des 2025, 08:45 WIB

Pisang Ijo Hadir dengan Inovasi Baru di Bojongsoang

Gerai Pisang Ijo di Bojongsoang menawarkan inovasi dengan es krim fla, dan keju.
Gerai Pisang Ijo menghadirkan cita rasa baru jajanan tradisional melalui perpaduan fla manis, keju, dan es krim yang berlokasi di Jalan Raya Bojongsoang, Kabupaten Bandung, Sabtu (01/11/2025) (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Ruth Sestovia Purba)
Beranda 05 Des 2025, 07:38 WIB

Sinyal Krisis Ekologis Mengintai Jawa Barat

Iwang mendesak agar pemerintah memperketat aktivitas di kawasan hutan dan memperkuat penegakan hukum sebelum kondisi berubah menjadi krisis ekologis yang lebih parah.
Air Sungai Cibitung di Kabupaten Bandung Barat meluap akibat tak mampu lagi menahan debit besar akibat hujan deras. (Sumber: sekitarbandung.com)
Beranda 04 Des 2025, 21:52 WIB

Ratusan Hektare Kebun Teh Malabar Hilang: Benarkah Karena HGU Habis dan Lemahnya Pengawasan?

Secara keseluruhan, dalam satu tahun terakhir, sekitar 150 hektare kebun teh telah hilang akibat penyerobotan dan pembabatan liar.
Ilustrasi kebun teh. (Foto: Rashid/Unsplash)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 20:11 WIB

Polisi Tidur Besar dan Tinggi di Batununggal Seakan Tak Ada Habisnya

Polisi tidur di Batununggal yang terlalu besar dan banyak membuat warga terganggu dan membahayakan pengendara.
Salah satu polisi tidur yang ada di jalan tersebut membuat warga resah. Batununggal, Kota Bandung, Selasa 2 Desember 2025. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Alyssa Aura Jacinta)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 18:41 WIB

Parkir liar di Jalan Riau Kota Bandung Rugikan Hak Pengguna Sepeda dan Pejalan Kaki

Jalan Riau Kota Bandung menjadi saksinya saat trotoar dan jalur pesepeda kehilangan haknya.
Kendaraan parkir sembarangan menutup jalur sepeda dan trotoar di Jalan Riau, Kota Bandung, sehingga mengganggu pengguna trotoar dan jalur sepeda.Jln.Riau, Kota Bandung, Jumat, 28 November 2025 (Sumber: Nazira Takiya | Foto: Nazira Tazkiya)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 18:19 WIB

Talenta Pelajar Bandung dan Urgensi Alat Peraga Pendidikan

Talenta pelajar di Bandung banyak yang sulit berkembang karena kondisi sekolah kekurangan alat peraga pendidikan dan fasilitas laboratorium sekolah.
Alat peraga pendidikan di Pudak Training Center Gedebage Bandung (Sumber: Dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 17:53 WIB

Tari Merak dan Dinamika Gen Z, Menari Sambil Mengejar Karier

Usia transisi antara remaja dan dewasa umumnya menjadi masa seseorang membangun karier.
Rani Nurhayani memperagakan keindahan kostum Tari Merak pada Jumat (31/10/2025) di Desa Cangkuang Kulon, Kecamatan Bojongloa Kidul, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Nadia Khaerunnisa)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 17:45 WIB

Minimnya Penerangan di Sebagian Jalan Soekarno-Hatta Bandung pada Malam Hari

Kurangnya penerangan jalan pada beberapa titik Jalan Soekarno-Hatta Bandung menjadi keluhan warga dan pengguna jalan.
Salah satu ruas jalan Soekarno Hatta Bandung ketika malam hari yang minim dengan  penerangan, Minggu, 30 November 2025, Jalan Soekarno Hatta Bandung. (Sumber: Dok. Penulis | Foto: Sela Rika)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 16:46 WIB

Tahura Gunung Kunci Wisata Alam Bersejarah di Sumedang

Tahura Gunung Kunci di Sumedang bukan hanya tempat wisata alam yang asri, tapi juga menyimpan nilai sejarah dan budaya penting.
Ruang bunker pertahanan Belanda yang mempunyai 17 ruangan di dalamnya, yang terletak di Desa Citamiyang, Kecamatan Sumedang Selatan, Kabupaten Sumedang, Kamis ( 6/11/2025 ). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Aulira)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 16:35 WIB

Y2K Fever di Bandung: Gaya Lama yang Menjadi Simbol Diri Generasi Z

Gaya Y2K kini kembali menjadi tren lifestyle di kalangan Gen-Z.
Beberapa anak muda sedang berbelanja pakaian bergaya Y2K di toko Disclosure, Kelurahan Cihapit, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, pada Selasa (4/11/2025) (Sumber: Adventia)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 15:21 WIB

Bukan Sekadar Ngopi, Coffee Matter Jadi Tempat Nongkrong Plus Event Komunitas di Bandung

Lagi cari spot ngopi yang santai tapi tetep aesthetic? Coffee Matter bisa jadi jawabannya.
Sajian Coffee Matter. (Sumber: Dok. Penulis | Foto: Najla Fayrus)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 15:06 WIB

Antara Popularitas dan Progres: Sepuluh Bulan Pemerintahan Farhan–Erwin

Refleksi 10 bulan pemerintahan Farhan-Erwin.
Walikota dan Wakil Walikota Bandung, M. Farhan dan Erwin. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Jelajah 04 Des 2025, 13:04 WIB

Jejak Lutung Kasarung, Film Indonesia Perdana Diputar di Bandung Tahun 1926

Sejarah pemutaran film Loetoeng Kasaroeng pada 1926 di Bandung, produksi pribumi pertama yang memadukan legenda Sunda, dukungan bangsawan Bandung, serta upaya teknis awal industri film Hindia Belanda.
Para pemain film Loetoeng Kasaroeng. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 04 Des 2025, 12:52 WIB

Evaluasi Program Bandung Smart City: Inovasi Digital Berjalan, Penerapan Masih Tertinggal

Program Bandung Smart City dinilai belum optimal karena aplikasi error, layanan tidak terintegrasi, data lambat diperbarui, dan sosialisasi minim.
Tampilan beranda program layanan Bandung Smart City (Sumber: Website resmi Bandung Smart City | Foto: Screenshot Indah Sari Pertiwi)