Bandung, Kota Macet yang Gerimisnya Masih Romantis, Adeuy!

3 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Bandung, kota yang romantis, kreatif, dan tentu saja ... macet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Farisi)
Bandung, kota yang romantis, kreatif, dan tentu saja ... macet. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Farisi)

Bayangkan ini: kamu baru saja menyesap kopi di Braga, matahari sudah mulai turun di balik Tangkuban Parahu, dan kamu berpikir, “Ah, sepertinya pulang sekarang saja, biar nggak macet.” Lalu kamu menyalakan mesin mobil, buka Google Maps... dan disambut warna merah pekat seperti sambal cengek di warung padang.

Selamat datang di Bandung: kota yang romantis, kreatif, dan tentu saja ... macetnya legendaris.

Dalam catatan data statistik Dinas Perhubungan Kota Bandung 2024, terdapat lebih dari 20 titik rawan kemacetan utama di kota ini. Beberapa di antaranya meliputi Jalan Soekarno-Hatta, Pasteur, Setiabudi, Dago, Cibiru, dan Buah Batu. Rata-rata kecepatan kendaraan di jam sibuk hanya 15–20 km/jam, jauh di bawah standar kota ideal. Kemacetan meningkat hingga 35 persen pada akhir pekan, terutama di kawasan wisata seperti Lembang, Dago dan Braga.

Faktor utama penyebabnya adalah pertumbuhan kendaraan mencapai 5 persen per tahun, sementara kapasitas jalan nyaris tidak bertambah. Bandung pun menjadi simbol klasik kota cantik campernik yang tersandera oleh lalu lintasnya sendiri: macetos!

Menurut data TomTom Traffic Index 2024, Bandung menempati posisi ketiga kota termacet di Indonesia, setelah Jakarta dan Denpasar. Rata-rata pengendara di Bandung menghabiskan sekitar 39 persen waktu perjalanan ekstra karena kemacetan. Artinya, kalau kamu biasanya butuh 30 menit ke kantor, siap-siaplah 40—45 menit dengan bonus pemandangan bumper mobil di depanmu.

Kalau dikonversi ke waktu hidup, warga Bandung bisa kehilangan sekitar 100 jam per tahun hanya untuk duduk diam di jalan sambil mendengarkan radio lokal yang muter lagu-lagu nostalgia.

Namun, macet di Bandung itu punya karakter unik. Tidak melulu membuat kesal — kadang justru jadi bahan refleksi. Saat motor-motor saling selip di antara mobil, ada rasa “gotong royong” terselubung. Pengendara saling tatap, saling angguk, seolah berkata, “Mangga heula tipayun, atuh...”

Ada juga ritual klasik warga Bandung: ngalieur jalur (baca:mencari jalan alternatif). Begitu jalan utama padat, langsung cari jalan tikus di gang sempit, berharap lebih cepat. Tapi biasanya, lima menit kemudian, gang itu juga macet. Seolah seluruh kota punya radar serupa.

Ironi Kota Kreatif yang Macet

Dalam konteks kekiwarian, Dago menjadi panggung ekspresi identitas. Kawasan yang semula eksklusif, kini terbuka, namun tetap mempertahankan nuansa selektif melalui simbol-simbol gaya hidup modern. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Dalam konteks kekiwarian, Dago menjadi panggung ekspresi identitas. Kawasan yang semula eksklusif, kini terbuka, namun tetap mempertahankan nuansa selektif melalui simbol-simbol gaya hidup modern. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Sebagai kota kreatif berdasarkan gelar dari UNESCO, Bandung dikenal penuh ide. Tapi entah kenapa, kreativitas itu belum sepenuhnya menular ke sistem transportasi publiknya. Jumlah kendaraan pribadi di Bandung mencapai lebih dari 1,7 juta unit (BPS Kota Bandung, 2024), sementara panjang jalan hanya sekitar 1.200 kilometer. Dengan pertumbuhan kendaraan sekitar 5 persen per tahun, tidak heran kalau macet sudah jadi gaya hidup yang kadung membudaya.

Tapi di sisi lain, macet di Bandung juga memberi ruang untuk merenung. Di tengah antrean panjang di Jalan Dago atau Setiabudi, kamu bisa memikirkan hidup, pekerjaan, bahkan mantan. Kadang, macet membuat kita belajar menerima bahwa tidak semua hal bisa dipercepat — seperti hubungan, karier, atau bahkan sinyal HP di tengah hujan.

Dan di situ letak romantismenya: Bandung memaksa kita untuk melambat. Untuk melihat pedagang cilok yang tetap tersenyum meski asap knalpot menari di sekitarnya. Untuk menikmati langit sore yang oranye di antara deretan mobil. Ironinya, banyak warga urang Bandung yang lebih hafal shortcut lewat gang (baca: jalan tikus) daripada rute bus kota.

Pada akhirnya, Bandung tetap Bandung—kota yang membuat kita mengeluh, tapi juga sulit ditinggalkan. Mungkin kemacetan ini semacam ujian cinta: kalau kamu masih sabar terjebak di jalan Pasteur setiap weekend, berarti kamu benar-benar mencintai kota ini.

Jadi, lain kali saat terjebak macet di Bandung, tenangkan diri. Buka jendela, hirup udara (campur asap), dan katakan: “Macet atuh... tapi ini Bandung, cuy. Tetap cinta ya!” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 05 Agu 2026, 17:10

10 Netizen Terpilih Juli 2026, Menangkap Isu Begal hingga Jalur Maut

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Juli 2026.

Pengguna jalan melintas di dekat satu tombol darurat (panic button) yang dipasang di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Rabu 26 November 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 16:15

Perlindungan Pohon: Mengajak Generasi Muda Kota Bandung Cinta Lingkungan

Jika ditarik lebih luas bahwa perlindungan terhadap lingkungan yang lestari di Kota Bandung harus ditegakkan. Sebab pohon yang tumbuh dengan baik seharusnya dipertahankan untuk menjadi penghijauan.

Pengunjung berjalan di Forest Walk Babakan Siliwangi, Kota Bandung, Selasa 16 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Agu 2026, 15:21

Panduan Pendakian Gunung Ciremai: Jalur, Tiket, Booking, dan Tips Terbaru

Panduan lengkap Gunung Ciremai mulai dari jalur Apuy, Palutungan, Linggarjati, tiket, booking online, estimasi pendakian, hingga tips mencapai puncak 3.078 mdpl.

Gunung Ciremai. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 15:02

Bulan Dedaunan

Bahasa Jepang dari bulan Agustus adalah Hachigatsu, yang artinya "bulan dedaunan".

Ilustrasi dedaunan pada pohon. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Sejarah 05 Agu 2026, 14:14

Hikayat Bandung Surganya Kopi Terbaik

Bandung menjadi rumah bagi Java Preanger, kopi legendaris yang mendunia. Simak sejarah, budaya, dan perjalanan kopi terbaik dari tanah Priangan.

Ilustrasi proses pengolaha kopi Jawa Barat. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 13:26

Bangkitkan Peradaban Bambu, Bangun Pasar Kerajinan sebagai Gabungan Koperasi

Produk kerajinan yang berbasis sumber daya lokal mestinya bisa mendominasi pasar di dalam negeri maupun pasar ekspor.

Ilustrasi sentra kerajinan rakyat dalam naungan Koperasi (Sumber: Kreasi dengan AI Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 11:30

Jelajah 10 Kuliner Terbaik Tatar Sunda (Bagian 1): Menjelajah Warisan Rasa Jawa Barat Versi Taste Atlas

Dari 10 hidangan yang terpilih, artikel ini akan mengulas 5 di antaranya.

Pedagang batagor. (Sumber: Unsplash | Foto: Reyhan Aviseno)
Ayo Netizen 05 Agu 2026, 10:01

PHK Massal Garmen Cimahi di Era 'China + Many'

Gelombang PHK itu tentu saja bukan sekadar kabar lokal semata. Ia juga merupakan potongan kecil dari puzzle besar yang sedang berubah di jagad industri garmen global.

Sejumlah buruh perempuan di salah satu pabrik tekstil, Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 18:59

Surabi Cangkring Dago, Kuliner Pagi Favorit di Kawasan Bandung Utara

Cari surabi oncom autentik di Bandung? Surabi Cangkring Dago menawarkan cita rasa tradisional dengan harga mulai Rp3.000 per porsi.

Surabi telur oncom. (Sumber: Surabi Cangkring)
Linimasa 04 Agu 2026, 18:15

Jelajah Perkebunan Teh Rakyat Terluas di Priangan Timur

Perkebunan teh rakyat di Tasikmalaya berkembang sejak awal abad ke-20 dan kini menjadi sumber penghidupan ribuan keluarga di Priangan Timur.

Perkebunan teh Tasikmalaya yang tersebar di di Taraju, Bojonggambir dan Sodonghilir berawal dari pengembangan kolonial Belanda dan kini didominasi kebun rakyat yang diwariskan lintas generasi. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Mayantara 04 Agu 2026, 18:13

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'

Pengguna media sosial tidak hanya mengonsumsi, tetapi juga terlibat dalam (re)produksi konten sebagaimana dalam fenomena “getcho money up”.

Kicau Mania vs. 'Getcho Money Up'. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 17:32

Wisata Literasi di Bandung, Ini Ide Tema Ayo Netizen dari Pages & Plates Festival 2026

Acara bertajuk Pages & Plates Festival 2026 ini menjadi momentum yang layak ditangkap penulis Ayo Netizen.

Festival Literasi Pages and Plates 2026 featuring Big Bad Wolf Books di Bikasoga Sport Center, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 16:50

Di Balik Transformasi KA Cikuray, Ada Strategi Komunikasi yang Menyatukan Masyarakat

Transformasi KA Cikuray dengan fasilitas terbaik dengan harga ekonomis.

Kereta Api Cikuray rangkaian baru 2026. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hamzz P)
Wisata & Kuliner 04 Agu 2026, 15:34

Panduan Kuliner Sate Puncak Cipanas: Warung Legendaris di Jalur Wisata Pegunungan

Cari sate enak di Puncak? Temukan rekomendasi Warung Sate Shinta, Hanjawar, H. Kadir, Sate Maranggi Sari Asih, hingga SMP Gadog lengkap dengan harga dan lokasinya.

Sate.
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 14:17

Memperketat Pengawalan Angkutan Getah Pinus, Mencegah Pencurian dan Angkutan Ilegal

KPH Bandung Utara memperkuat pengamanan hasil hutan melalui pengawalan ketat angkutan getah pinus di wilayah Resort Polisi Hutan (RPH) Cikalong.

Petugas dari Perhutani Bandung Utara saat melakukan pengawasan. (Sumber: Liputan | Foto: Humas )
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 11:43

Aktualisasi Hari Kemerdekaan

Seruan kemerdekaan harus digemakan sampai ke pelosok-pelosok

Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih di Puncak Gunung Hawu. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 04 Agu 2026, 09:08

Kala Pohon Kota Tumbang, Hukum Mengarah ke Mana?

Jika penebangan pohon berkaitan dengan kepentingan bisnis -- misalnya membuka ruang, akses, atau visibilitas -- maka korporasi bisa masuk sebagai subjek hukum.

Lokasi pohon-pohon yang ditebang disegel Pemkot Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Beranda 04 Agu 2026, 08:14

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!

Festival Mendongeng Cerita Rakyat Suara Nusantara hadir di Jabar! Ajak generasi muda hidupkan legenda rakyat. Pendaftaran masih dibuka, buruan cek!

Buka Peluang Bakat Muda, Festival Mendongeng Suara Nusantara Jawa Barat Masih Buka Pendaftaran!
Wisata & Kuliner 03 Agu 2026, 18:19

Situ Lengkong Panjalu, Tempat Wisata Estetik dan Bersejarah di Ciamis

Panduan wisata Situ Lengkong Panjalu Ciamis lengkap: sejarah Kerajaan Panjalu, Nusa Gede, Museum Bumi Alit, tradisi Nyangku, tiket masuk, dan rute.

Situ Lengkong Panjalu, Ciamis.
Ayo Netizen 03 Agu 2026, 18:09

Pandemi Senyap Kapitalisme dalam Industri Gula dan Obat-obatan

Membongkar masalah ketimpangan yang serius di balik industri gula dan obat-obatan. Keduanya berkolaborasi dalam industri kematian yang mengancam masyarakat berpenghasilan rendah.

Pabrik gula. (Sumber: Pexels | Foto: Deepak Sharma)