Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Sensasi Makanan Nusantara yang Unik di Saung Balarea Masakan Sunda Asli

Alfina Nurhasanah
Ditulis oleh Alfina Nurhasanah diterbitkan Senin 01 Des 2025, 10:44 WIB
Para pengunjung Saung Balarea sedang menikmati hidangan khas Sunda yang lezat di restoran bergaya pedesaan yang nyaman dengan pemandangan sawah (04/11/25). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Alfina Nurhasanah)

Para pengunjung Saung Balarea sedang menikmati hidangan khas Sunda yang lezat di restoran bergaya pedesaan yang nyaman dengan pemandangan sawah (04/11/25). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Alfina Nurhasanah)

Di meja-meja kayu, lalapan segar tersaji berdampingan dengan sambal terasi yang baru diulek. Aroma pedasnya berpadu dengan suara riuh obrolan pelanggan yang menikmati makan siang mereka. Tradisi sederhana ini menggambarkan kebiasaan masyarakat Sunda yang tak pernah lepas dari lalapan dan sambal segar sebuah kenikmatan khas yang masih bertahan di Saung Balarea Masakan Sunda Asli, yang berada di Desa Cikoneng, Kecamatan Bojongsoang, Kabupaten Bandung.

Saung Balarea Masakan Sunda Asli menjadi salah satu tempat makan yang mempertahankan cita rasa khas daerah. Tempat ini dikenal dengan sajian lalapan segar dan berbagai sambal tradisional yang menjadi daya tarik utama bagi pengunjung. Cita rasa pedas dan segar yang berpadu dengan suasana pedesaan membuat pengalaman makan terasa autentik dan menenangkan. 

Kami sedang menikmati berbagai hidangan lengkap khas Sunda (nasi, ayam bakar, sate kulit, selada air, dan lalapan) dengan sambal pedas sebagai pelengkap. (04/11/25) (Sumber: Alfina Nurhasanah | Foto: Alfina Nurhasanah)
Kami sedang menikmati berbagai hidangan lengkap khas Sunda (nasi, ayam bakar, sate kulit, selada air, dan lalapan) dengan sambal pedas sebagai pelengkap. (04/11/25) (Sumber: Alfina Nurhasanah | Foto: Alfina Nurhasanah)

Firla, mahasiswi Administrasi Bisnis angkatan 2024 asal Jawa Barat, mengaku tak bisa lepas dari lalapan dan sambal segar setiap hari. Baginya, kebiasaan makan lalapan mentah bukan hanya soal selera, tetapi juga bentuk penghormatan terhadap tradisi leluhur dan identitas budaya Sunda.         “Orang Sunda terbiasa makan dari hasil alam sendiri, jadi lalapan mentah itu sudah menjadi bagian dari identitas kami,” ujarnya.

 Ia menambahkan, waktu terbaik menikmati lalapan adalah saat makan siang.

“Pas siang tuh paling enak, karena cuacanya panas, terus lalapan sama sambal bikin segar banget, dan sensasi renyah lalapan dan pedas sambal membuat masakan Sunda terasa hidup,” ujarnya pada Selasa (04/11/2025).

Hidangan nasi padang dengan berbagai lauk kaya bumbu khas Minangkabau di RM Sederhana sebagai kontras dari tampilan hidangan Sunda yang didominasi lalapan segar. (12/11/25)| Sumber: Alfina Nurhasanah (Sumber: Alfina Nurhasanah | Foto: Alfina Nurhasanah)
Hidangan nasi padang dengan berbagai lauk kaya bumbu khas Minangkabau di RM Sederhana sebagai kontras dari tampilan hidangan Sunda yang didominasi lalapan segar. (12/11/25)| Sumber: Alfina Nurhasanah (Sumber: Alfina Nurhasanah | Foto: Alfina Nurhasanah)

Berbeda dengan Firla, Suci Putri Arian, mahasiswi Administrasi Bisnis angkatan 2024 asal Sumatera Barat, tumbuh dengan cita rasa kuat khas masakan Padang yang sarat rempah. Ia menjelaskan bahwa masakan Padang dikenal lewat kekayaan bumbu dan teknik memasaknya yang matang.          

“Masakan Padang itu soal rempah dan rasa yang berlimpah, bahkan bisa nempel banget di lidah, Sekali masak saja sudah tercium wanginya. Lalapan mah beda budaya, kalau kita lebih ke bumbu,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa sambal Padang umumnya dimasak matang dengan cabai merah, menghasilkan rasa pedas yang tajam dan aromatik.

Meski berasal dari dua budaya yang berbeda, baik Firla maupun Suci sepakat bahwa generasi muda perlu menjaga dan melestarikan kebiasaan makan daerah di tengah maraknya pengaruh makanan cepat saji. Menurut mereka, menikmati masakan tradisional bukan hanya soal selera, tetapi juga wujud identitas dan kebanggaan terhadap warisan budaya Indonesia.

Dengan tetap menyantap hidangan khas daerah, generasi muda dapat melestarikan cita rasa Nusantara sekaligus menerapkan pola makan yang lebih sehat dibandingkan kebiasaan mengonsumsi fast food yang praktis namun kurang bergizi. Bagi mereka, menyantap makanan khas daerah adalah cara sederhana namun bermakna untuk menghargai budaya sendiri.

Dua gaya makan yang berbeda Sunda dengan kesegaran lalapannya dan Padang dengan kekayaan bumbunya menunjukkan satu hal yang sama yaitu kuliner Nusantara bukan sekadar soal rasa, melainkan cerminan kepribadian dan nilai hidup yang terus diwariskan antar generasi. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Alfina Nurhasanah
Mahasiswa Digital Public Relation Telkom University

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)