Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Kisah Hagya Coffee & Roastery, Ubah Pandemi Jadi Berkah Lewat Biji Kopi

Iwan Fauzi
Ditulis oleh Iwan Fauzi diterbitkan Minggu 30 Nov 2025, 18:15 WIB
Tampak depan Hagya Coffee & Roastery di Bandung pada Minggu (02/11/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Iwan Fauzi)

Tampak depan Hagya Coffee & Roastery di Bandung pada Minggu (02/11/2025). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Iwan Fauzi)

Banyak orang yang datang secara khusus untuk mencicipi kopi dan membeli biji kopi pilihan hasil roastery mereka. Hagya Coffee & Roastery yang didirikan oleh Adink merupakan roastery sekaligus kedai kopi yang menyajikan biji kopi pilihan yang menetap dan terus berkembang di Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung.

Di saat banyak usaha kuliner terpuruk akibat pandemi COVID-19, sebuah UMKM di Bandung justru menemukan "berkah" di tengah kesulitan. Adalah Hagya Coffee & Roastery, yang memulai perjalanannya dari sebuah gang kecil, berhasil bertahan dan kini berkembang pesat dengan fokus pada penjualan biji kopi (roastery).

Pemilik Hagya Coffee & Roastery, Adink, mengungkapkan, "Pandemi itu berkah buat kita sebenarnya. Kedai-kedai itu kita tutup semua. Orang-orang pengen ngopi, mereka beli ke rosteri."

Saat itu, terjadi pergeseran konsumsi. Masyarakat yang tidak bisa mengunjungi kafe, mulai membeli biji kopi untuk diseduh dengan peralatan manual di rumah masing-masing. Melihat peluang ini, Hagya mengambil langkah berani dengan mengoperasikan roastery mereka di dalam gang selama 24 jam penuh.

"Gak ada di Bandung itu rosterinya 24 jam. Cuma kita dua. Di gang lagi," tambahnya.

Berbeda dari kedai kopi kebanyakan, Hagya menegaskan bahwa kafe yang mereka miliki saat ini hanyalah "bonus". Fokus utama bisnis mereka adalah dari "hulu" (kebun) hingga "tengah" (proses roasting). Untuk menjamin kualitas, Hagya bahkan memiliki kebun kopi sendiri di Kamojang dan memfokuskan diri pada biji kopi asli Jawa Barat, terutama dari Pangalengan dan Ciwidey.

Adink memiliki misi khusus untuk mengedukasi masyarakat dan mengangkat kembali pamor kopi Jawa Barat. Menurutnya, kopi Jabar "telat" berkembang meski merupakan salah satu bibit kopi asli (POC) di Indonesia. Misi edukasi ini bahkan menyentuh kalangan yang tak terduga.

"Aku tuh di gang tuh disana, ngedukasi bapak-bapak ini. Yang ngeronda dulu, aku kasih," ceritanya, mengenalkan kopi berkualitas di luar kebiasaan kopi saset.

"Aku tuh pengen, 5 ribu nih masyarakat kita menikmati kopi dengan harga murah," ujar Adink, menyoroti keinginan untuk mematahkan stigma bahwa kopi berkualitas harus mahal.

Misi ini diwujudkan dengan menyediakan kopi berkualitas yang bisa dinikmati dengan harga terjangkau, yang dimulai dari kisaran Rp 5.000.

Biji kopi Arabika Grade 1 hasil sangrai Hagya Coffee. (Foto: Iwan Fauzi)
Biji kopi Arabika Grade 1 hasil sangrai Hagya Coffee. (Foto: Iwan Fauzi)

Keistimewaan utama Hagya terletak pada kontrol penuh dari hulu (kebun) hingga hilir. Dengan memiliki kebun sendiri dan belajar langsung dari proses pasca panen, Adink dapat memahami karakter unik setiap biji kopi yang mereka olah.

"Uniknya kopi itu, tiap daerah pasti beda rasanya. Manglayang saja ada 4 distributor, rasanya beda. Kita harus pintar-pintar ngeracik... harus tau karakter kopi daerah itu gimana," jelas Adink.

Sebagai inti bisnis, proses roasting di Hagya dijaga dengan sangat ketat. Semua dimulai dari pemilihan biji kopi mentah (Greenville) berkualitas Grade 1, yang dipastikan utuh dan tidak bolong.

Setelah itu, tim Hagya melakukan pengecekan detail:

  • Kadar Air (Moisture): Biji kopi harus memiliki kadar air ideal sekitar 10-12% sebelum masuk mesin sangrai.
  • Kepadatan (Density): Kadar mineral atau kepadatan biji kopi dihitung untuk menentukan suhu awal roasting yang tepat. "Kalau kita dapat di sini nih (level density tertentu), temperatur aku ngambil 170 kalau masuk," jelasnya.

Bahkan, biji kopi Grade 2 dan Grade 3 pun tidak terbuang. Biji tersebut tetap disortir dan memiliki pasarnya sendiri, sehingga tidak ada yang terbuang.

Selama bertahun-tahun, bisnis ini tumbuh murni mengandalkan kekuatan word of mouth (dari mulut ke mulut). Pelanggan datang membawa teman, dan terus bergulir. Setelah 4 tahun berjuang dari gang kecil, Hagya Coffee akhirnya berhasil pindah ke lokasi yang lebih besar dan representatif.

Kini, Adink mengakui pentingnya adaptasi digital.

"Saya mulai terbuka lah ke dunia gitu. Mulial belajar. Ternyata penting nih, zaman sekarang tuh," akunya.

Sambil mulai mendelegasikan urusan media sosial, ia kini berfokus untuk belajar sisi pemasaran dan bahkan berencana melakukan ekspansi ke komoditas lain seperti cokelat. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Iwan Fauzi
Tentang Iwan Fauzi
Digital Public Relation Student at Telkom University and Head of Digital Strategy & Development at DIG Indonesia

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)