Pasang Surut Perkembangan Radio Siaran di Bandung

8 menit baca
Kin Sanubary
Ditulis oleh Kin Sanubary diterbitkan
Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Penulis bersama para penyiar B-Radio Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Dunia radio tengah menghadapi tantangan besar di era digital. Jumlah pendengar radio konvensional terus menurun seiring perubahan pola konsumsi media masyarakat, terutama generasi muda yang kini lebih akrab dengan podcast, Spotify, YouTube, dan media sosial. Meski demikian, radio belum benar-benar ditinggalkan. Medium ini justru sedang bertransformasi agar tetap relevan mengikuti perkembangan zaman.

Banyak stasiun radio kini mengembangkan layanan streaming, visual radio, podcast, hingga integrasi media sosial dengan pendekatan digital. Upaya tersebut dilakukan untuk menjangkau pendengar yang lebih luas sekaligus menyesuaikan diri dengan kebiasaan masyarakat, terutama kaum muda yang menginginkan akses informasi dan hiburan secara cepat, praktis, dan fleksibel.

Di tengah gempuran platform digital, radio sesungguhnya masih memiliki kekuatan yang sulit tergantikan, yakni kedekatan emosional dan interaktivitas yang alami. Sapaan penyiar, percakapan langsung dengan pendengar, kirim salam, hingga kemampuan menyampaikan informasi secara cepat tetap menjadi daya tarik tersendiri.

Karena itu, inovasi menjadi kunci utama keberlangsungan radio. Pengelola radio dituntut kreatif mengembangkan konten digital, membangun komunitas, sekaligus menjaga loyalitas pendengar. Tantangan juga datang dari sisi bisnis karena pendapatan iklan radio konvensional cenderung menurun. Namun di sisi lain, radio digital mulai memperlihatkan peluang pertumbuhan yang menjanjikan.

Di tengah derasnya arus media digital, radio konvensional sebenarnya masih setia mengudara. Frekuensinya tetap aktif, program-

programnya terus berjalan, dan suara penyiar masih menyapa pendengar setiap hari. Persoalannya kini bukan lagi apakah radio masih ada, melainkan apakah radio masih benar-benar didengar, khususnya oleh generasi muda.

Fenomena menurunnya pendengar radio bukanlah hal baru. Anak muda kini lebih dekat dengan layanan audio digital dibanding radio tradisional. Radio kerap dianggap tertinggal oleh perkembangan teknologi. Padahal persoalan utamanya bukan semata-mata soal teknologi, melainkan bagaimana radio mampu menyesuaikan strategi komunikasi dengan perubahan karakter dan kebiasaan khalayaknya.

Catatan Perkembangan Radio Siaran di Bandung Era 1960-an hingga 1980-an

Dari jendela rumah, kost-an, warung kopi, hingga dashboard mobil yang melaju di jalanan Kota Bandung pada pagi hari, suara radio pernah menjadi denyut kehidupan masyarakat Jawa Barat. Lagu-lagu romantis yang dibawakan Chintami Atmanegara, Dian Piesesha, Betharia Sonata, hingga sederet penyanyi populer lainnya mengalun akrab menemani aktivitas warga, kala itu sedang marak lagu-lagu karya Pance Pondaag, Rinto Harahap dan Obbie Messakh.

Pada masa itu, radio bukan sekadar media hiburan. Ia menjadi teman perjalanan, sumber informasi, bahkan ruang pergaulan baru bagi masyarakat kota maupun daerah. Hampir setiap sudut kehidupan sehari-hari bersentuhan dengan radio.

Sebelum dekade 1960-an, masyarakat Indonesia umumnya hanya mengenal siaran Radio Republik Indonesia (RRI), itu pun dengan jam siaran yang terbatas. Sebagian pendengar mencoba menangkap siaran radio luar negeri melalui gelombang pendek yang kadang terdengar samar. Situasi berubah drastis setelah Indonesia memasuki masa Orde Baru.

Tahun 1966 menjadi titik penting lahirnya radio-radio siaran swasta di Jawa Barat. Bersamaan dengan perubahan politik nasional, muncul radio-radio perjuangan seperti Radio Ampera, Radio KAMI, Radio HANURA, dan sejumlah pemancar lainnya yang dekat dengan gerakan mahasiswa saat itu. Studio sederhana mereka banyak bermarkas di Gedung Yulius Usman maupun kampus-kampus perguruan tinggi di Bandung.

Ketika gelombang aksi mulai mereda, aktivitas radio berkembang menjadi wadah kreativitas anak muda. Para penggemar elektronika mulai merakit sendiri perangkat pemancar dari komponen bekas yang diburu di pasar loak Jatayu dan Cikapundung. Dari eksperimen sederhana itulah lahir banyak radio amatir yang kemudian mengudara di langit Bandung.

Fenomena ini berkembang sangat cepat. Radio-radio kecil bermunculan dengan nama-nama unik dan nyentrik sesuai selera pengelolanya.

Warga Bandung saat itu mengenal nama-nama seperti ANGELIQUI, AMSTERDAM, BBY, BLIBIS, BLUE ANGEL, BLUE JEAN RANCING, BLACK LIZARD, BONK KENK, CALI GULA, DOUBLE YANKEE, DELTA INDIA, BABY FACE, DRAGON, SABLENK FAMILY, SABLON, MUSTANG SALLY, GO CART 22 serta puluhan nama lainnya.

Sebagian radio digunakan sebagai sarana komunikasi komunitas, namun banyak pula yang mulai menyiarkan lagu-lagu hiburan secara bebas. Karena belum ada pengaturan frekuensi yang jelas, siaran mereka kerap saling bertabrakan, bahkan mengganggu komunikasi kedinasan pemerintah dan militer.

Situasi tersebut mendorong lahirnya upaya penertiban. Pada 8 Juni 1967, Pangdam VI/Siliwangi melalui instruksi khusus meminta aparat melakukan pengawasan terhadap pemancar liar dan radio amatir yang dianggap menyimpang dari ketentuan.

Menariknya, setelah dilakukan pemeriksaan, sebagian besar radio tersebut ternyata tidak bergerak dalam aktivitas politik, melainkan murni didorong semangat eksperimen, hobi, dan hiburan masyarakat.

Dari sinilah muncul gagasan pembinaan radio secara lebih terarah. AKBP M.H. Tommy Patah menjadi salah satu tokoh penting dalam proses tersebut. Melalui dukungan Pangdak VIII Brigjen Pol. Drs. M.A.R. Djajalaksana, dibentuklah Biro Khusus Pengawasan/Pengamanan Elektronika yang berkantor di Jalan Lembong 23 Bandung.

Lembaga inilah yang kemudian ikut membina perkembangan radio-radio siaran di Jawa Barat. Dari tempat itu pula lahir Radio Parahyangan, sebuah radio percontohan yang dikelola lebih profesional untuk kepentingan penerangan umum dan keamanan masyarakat.

Radio Parahyangan sempat menjadi salah satu radio populer di Bandung. Nama-nama penyiar seperti Deddy Damhudi, Didi Yudha, dan Neni Yogapranata ikut membesarkan pamor radio tersebut.

Seiring waktu, pemerintah mulai membuka ruang yang lebih jelas bagi keberadaan radio non-RRI. Radio-radio siaran kemudian dibagi dalam beberapa kategori, mulai dari radio komersial, radio hiburan nonkomersial, hingga radio eksperimental milik kampus seperti radio ITB, IKIP, dan Unpad. Pada masa inilah dunia radio di Jawa Barat berkembang sangat dinamis. Bandung bahkan menjadi salah satu barometer perkembangan radio swasta nasional.

Pemerintah Provinsi Jawa Barat di bawah kepemimpinan Solihin GP kemudian membentuk Studio Radio Daerah (Sturada) di berbagai kabupaten dan kotamadya guna mendukung program pembangunan daerah. Regulasi demi regulasi lahir untuk mengatur frekuensi, jam siaran, kewajiban relay berita RRI, hingga pembentukan badan hukum radio.

Memasuki dekade 1970-an, radio-radio swasta mulai bergerak menuju industri yang lebih profesional. Penggunaan gelombang MW dan FM mulai diatur lebih ketat. Seleksi dilakukan terhadap ratusan radio yang mengudara di Jawa Barat.

Di Bandung sendiri, jumlah radio sempat membludak. Jika pada akhir 1960-an terdapat lebih dari seratus pemancar radio, maka pada awal 1970-an jumlah tersebut mulai diciutkan melalui proses seleksi dan anjuran merger.

Dari proses itu muncul sejumlah radio yang dianggap kuat dan layak berkembang, di antaranya Radio Continental, Radio Compass-22, Radio Merzy-73, Radio Mara-27, Radio Kencana, Radio Leidya, Radio Dwi Karya, Radio Estrelita, Radio Fortune, Radio Mutiara, dan Radio Columbia.

Nama-nama radio tersebut kemudian menjadi bagian penting sejarah penyiaran di Jawa Barat, terutama pada era 1970-an hingga 1990-an ketika radio menjadi medium hiburan paling dekat dengan masyarakat.

Melalui radio, masyarakat mendengar lagu-lagu populer, sandiwara radio, kirim salam, informasi lalu lintas, hingga berita nasional. Radio juga melahirkan banyak penyiar legendaris dan menjadi ruang tumbuh budaya populer anak muda perkotaan.

Menurut penyiar senior Yudi Muklas dalam bukunya Oz History: Land of Kaleidoscopic Music, perkembangan radio-radio pemancar amatir di Bandung berjalan beriringan dengan tumbuhnya budaya musik anak muda era 1960-an hingga 1970-an. Radio-radio tersebut menjadi ruang ekspresi generasi muda yang menggemari musik psychedelic, progressive rock, jazz rock, hingga brass rock.

Dari situ kemudian muncul radio-radio amatir seperti Flippies Psychedelic, Bonk Kenks, No Name, Funny Man, Blue Angel, Way Ji (YG–Young Generation), Smers, VOC, Sablenk Family, Blue Jean Racing, Fly Door, Cosa Nostra, Babylons, hingga El DC.

Meski identik dengan musik rock progresif, tidak seluruh radio tersebut hanya memutar lagu-lagu keras. Banyak pula lagu melodius dan romantis yang berbeda dari arus utama musik pop pada masa itu. Keragaman inilah yang menjadikan radio-radio Bandung memiliki karakter kuat dan dekat dengan selera anak muda zamannya.

Komunitas pendengar radio di Bandung mengadakan kopdar dan silaturahmi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Komunitas pendengar radio di Bandung mengadakan kopdar dan silaturahmi. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)

Data Radio Siaran di Bandung

(Berdasarkan data Departemen Penerangan RI, Subdit Siaran Dalam Negeri, Seksi Bimbingan Radio Siaran)

Berikut sejumlah radio siaran yang pernah tercatat berkembang di Bandung dan sekitarnya:

Radio Ariesta

Jl. Karapitan Blok No. 20 Bandung

Radio Blue Jean Racing 

Jl. Garputala No. 2 Bandung

Radio Bonk Kenks 

Jl. Westchoff No. 18 Bandung

Radio Chevy 88

Jl. Pasirkaliki 59 Bandung

Radio Columbia 

Jl. Paria No. 8 Bandung

Radio Contessa 

Jl. Burangrang 2 Bandung

Radio Continental Alpha

Jl. Cikapayang 7 Bandung

Radio Dahlia Flora  Jl. Emur 1/2 Bandung

Radio Dwi Karya 69  Jl. Arteri By Pass Kopo Bandung

Radio Elgangga 

Jl. Ambon No. 18 Bandung

Radio Estrelita 

Jl. Karanglayung 27/A Bandung

Radio Famor 

Jl. Sumur Bandung No. 3 Bandung

Radio Suara Fortune Jl. RE Martadinata 229 Bandung

Radio Ganesha Nada Jl. Dr. Slamet 53 Bandung

Radio Garuda Tunggal Angkasa 

Jl. Veteran 89 Bandung

Radio Generasi Muda Jl. Kebon Gedang 73 Bandung

Radio Leidya 

Jl. Siliwangi 5 Bandung

Radio Maestro 

Jl. Kacapiring 12 Bandung

Radio Mara 

Jl. RE Martadinata 16 Bandung

Radio MG D’Estaing Jl. Merdeka 64 Bandung

Radio Mutiara 

Jl. Cikamiri 7 Cisadea, Kabupaten Bandung

Radio OZ 

Jl. Geusanulun 11 A Bandung

Radio Paksi 

Jl. Cikutra, Gang Sukasirna 6 Bandung

Radio Paramuda 

Jl. Gandapura 67 Bandung

Radio Sara 88 

Jl. Sukarasa 143-E Cicadas Bandung

Radio Sriwijaya 

Jl. Kemuning 1 Bandung

Radio Volvo 

Jl. Lengkong Besar 14 Bandung

Radio Gema Wargakarya Satnawa Jl. Labuan 41 Bandung

Radio Cendrawasih Jl. Raya Timur 726 Cimahi

Radio Dana Perlaya

Jl. Babakan 85 Majalaya

Radio Lita Sari 

Jl. Budhi 42 Cilember Cimahi

Radio Unasco 

Jl. Kebon Cau 67 Cimahi

Radio Maya BC 

Jl. Balekambang Majalaya

Radio Mustang 

Jl. Dewi Sartika 10 Bandung

Radio Sangkuriang  Jl. Babakan Ciparay 232/195 Bandung

Radio Kencana

Jl. Mohammad Toha 146 Bandung

Radio Mustika Parahyangan 

Jl. Gatot Subroto Maleer 5 No. 19 Bandung

Radio Sonatha 47

Jl. Ahmad Yani Bandung

Pada akhirnya, radio bukan sekadar soal gelombang udara atau perangkat pemancar. Ia adalah jejak ingatan kolektif sebuah zaman. Dari suara kresek-kresek radio amatir di gang-gang Kota Bandung, lagu-lagu yang mengalun dari kamar anak muda, hingga sapaan akrab penyiar yang menemani perjalanan malam masyarakat, radio pernah menjadi bagian penting denyut kehidupan di Jawa Barat.

Kini, ketika dunia bergerak menuju era digital, radio memang tidak lagi menjadi pusat perhatian seperti dahulu. Namun sejarah membuktikan bahwa radio selalu memiliki kemampuan untuk beradaptasi. Selama masih ada suara yang ingin didengar, cerita yang ingin dibagikan, dan pendengar yang merindukan kedekatan yang hangat dan manusiawi, radio akan tetap menemukan ruangnya di tengah perubahan zaman. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Kin Sanubary
Tentang Kin Sanubary
Kolektor media cetak lawas. Peraih Anugerah PWI Jawa Barat 2023 Kategori Pangajen Rumawat Kalawarta

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 11 Agu 2026, 20:01

Membaca Gaya Komunikasi di Balik Publikasi Koleksi Jam Tangan Edisi Khusus

Analisis ini berfokus pada cara perusahaan menyampaikan produknya kepada publik, bukan membahas spesifikasi produk secara rinci.

Ilustrasi iklan.
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 18:10

Menulis sebagai Cara Membangun Pengetahuan

Sebuah refleksi tentang menulis yang tidak berhenti pada keterampilan menyusun kata dan kalimat, tetapi melihat menulis sebagai bagian dari proses membangun pengetahuan dan membentuk cara berpikir.

Ilustrasi mengetik artikel dengan laptop. (Sumber: Unsplash | Foto: Sergey Zolkin)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 17:02

Indonesia Raya Tercipta di Bandung

Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924.

Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Beranda 11 Agu 2026, 16:53

Bandung Makin Panas di Siang dan Makin Dingin di Malam, Ada Apa dengan Suhu Kota?

Suhu Kota Bandung menunjukkan perubahan menarik. Siang makin panas dan malam tetap dingin. Pohon serta ruang hijau punya peran pent

Kota Bandung tampak seperti cekungan dengan dominasi kawasan pemukiman serta industri. Sementara bagian hijau sudah sangat kurang. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 16:08

Penyiaran Proklamasi Kemerdekaan di Bandung

Berita mengenai proklamasi kemerdekaan dengan cepat menyebar dan meluas dalam masyarakat Kota Bandung.

Jawa hokokai pada 1944. (Sumber: Polri.go.id)
Wisata & Kuliner 11 Agu 2026, 15:39

Panduan Wisata Telaga Biru Cicerem, Danau Jernih di Kaki Gunung Ciremai

Jelajahi Telaga Biru Cicerem, telaga alami dengan air biru kehijauan yang jernih, ikan warna-warni, dan panorama kaki Gunung Ciremai.

Telaga Biru Cicerem. (Sumber: Instagram @telagabiruciceremofficial)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 15:17

Dilema PKL: Tertib atau Mati Pelan-pelan

Data menunjukkan bahwa sektor informal, seperti PKL, masih menjadi tulang punggung tenaga kerja di Indonesia.

Petugas Satpol PP Kota Bandung menggunakan alat berat merobohkan bangunan liar dan lapak PKL di Jalan Ibrahim Adjie, Kiaracondong, Kota Bandung, Senin 10 Agustus 2026. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 13:48

Berjumpa dengan Bari Lukman, Pengibar Merah Putih Pertama di Bandung

Yang menarik, perjumpaan dengan Bari Lukman tidak diawali oleh pencarian seorang tokoh sejarah.

Bari Lukman (memegang bolpoin) bersama rekan-rekan wartawan di Bandung. (Sumber: Dokumentasi  Kin Sanubary)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 12:27

Jejak Memori Rijsttafel: Simfoni Akulturasi dan Potret Budaya Kolonial di Nusantara

Sebagai warisan budaya, Rijsttafel mengajak kita untuk melakukan penelusuran terhadap sebuah tradisi adiboga yang tumbuh di tengah ketegangan kolonialisme.

Momen rijsttafel pada tahun 1880-an. (Sumber: Collectie Stichting Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Jhr. Josias Cornelis Rappard)
Ayo Netizen 11 Agu 2026, 08:58

Membangkitkan Kembali Pesawat Kebanggaan Indonesia 

Membangkitkan kembali pesawat asli Indonesia sebenarnya perwujudan yang logis bagi Indonesia, pemerintahan saat ini pun perlu mendanainya dengan sungguh-sungguh.

Kondisi Bandara Husein Sastranegara sebelum penerbangan dipindahkan. (Sumber: Ayobandung)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 18:19

Resensi Novel 'Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname': Kisah Jungkir Balik Sebuah Keluarga Jawa

Novel ini menceritakan tentang sebuah keluarga Jawa yang mencoba untuk mengadu nasib ke Suriname.

Buku "Permulaan Sebuah Musim Baru di Suriname". (Sumber: Ayobandung.id)
Bandung 10 Agu 2026, 17:54

Inovasi Kudapan Nostalgia, Cara Kuliner Lokal Bandung Bikin Biskuit Gabin Naik Kelas

Dinamika jajanan di Kota Bandung rasanya tidak pernah kehabisan akal untuk memanjakan lidah para pencintanya, tak terkecuali untuk inovasi biskuit gabin.

Biskuit gabin, kudapan sederhana yang akrab dengan memori masa kecil yang dapat panggung untuk tampil lebih modern dan kekinian. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 17:47

Berburu Buku Tahun 1980-an

Kilasan informasi masa tahun 1980-an tentang literasi yang dominasi membaca buku, koran, majalah, novel dan komik

Ilustrasi toko buku di Pasar Palasari. (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 10 Agu 2026, 17:47

Warung Perkedel Ibu Kokom, Hidden Gem Kuliner Bandung di Cimenyan

Warung Ibu Kokom menjadi destinasi kuliner favorit di Cimenyan berkat perkedel renyah, sambal terasi, dan terutama pemandanagan serta suasana alam yang sejuk.

Perkedel di Warung Ibu Kokom Cimenyan. (Sumber: Instagram @warung_ibukokom)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 16:24

Shrinkflation Tanda Inflasi Tersembunyi pada Suatu Negara

Shrinkflation adalah fenomena ekonomi ketika perusahaan mengurangi kuantitas atau ukuran suatu produk tanpa menaikkan harga jual secara langsung. Fenomena ini umumnya jarang diketahui oleh konsumen.

Ilustrasi shrinkflation dengan kemasan produk yang makin kecil akibat inflasi. (Sumber: Flickr | Foto: Brett Jordan)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 15:52

Makna Kemerdekaan untuk Kembalikan Esensi Pajak Penerangan Jalan di Bandung

Sangat ironis jika bulan kemerdekaan diwarnai dengan ruas jalan dan ruang publik yang gelap gulita.

Ilustrasi makna hari kemerdekaan untuk mengatasi kegelapan di ruas jalan dan ruang publik. (Sumber: Hasil kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 12:51

Ketika Tuntutan Produktivitas dalam Hustle Culture Memicu Beban Mental Mahasiswa

Berangkat dari keresahan mahasiswa terhadap tuntutan selalu produktif, yang di mana sering disalahartikan sebagai keharusan selalu terlihat sibuk.

Seorang wanita duduk di atas tempat tidur sambil memegang bantal, dikelilingi kertas dan laptop, menunjukkan ekspresi stress. (Sumber: pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 11:12

Sawah, Kerbau (Baja), dan Kenangan

Munding boleh berganti traktor. Sawah bisa saja berubah wajah menjadi rumah, kos-kosan. Permainan anak-anak boleh berganti zaman. Tapi kenangan tentang kebersamaan semestinya tetap tumbuh

Asyiknya membajak sawah menggunakan kerbau dulu, kini digantikan perannya oleh traktor (Sumber: Instagram @kangnandarvlog)
Ayo Netizen 10 Agu 2026, 09:27

Kala Kemarahan Pejabat Jadi Konten Pemerintahan

Sebuah teguran langsung pejabat kepada bawahannya dan viral dapat membuat masyarakat merasa pemerintah hadir. Itu bukan sesuatu yang harus diremehkan.

Ilustrasi pejabat memarahi bawahan (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: AI Gemini)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)