Indonesia Raya Tercipta di Bandung

4 menit baca
Malia Nur Alifa
Ditulis oleh Malia Nur Alifa diterbitkan
Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Ilustrasi Wage Rudolf Soepratman. (Sumber: Ayobandung.id)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • W.R. Soepratman pernah tinggal di Cimahi dan bekerja sebagai wartawan di surat kabar Kaoem Moeda yang terbit di Bandung.

  • Gagasan menciptakan lagu kebangsaan muncul setelah W.R. Soepratman membaca tantangan di majalah Timboel pada 1924, yang kemudian mendorongnya menciptakan lagu Indonees, Indonees.

  • Lagu ciptaannya diperkenalkan pada Kongres Pemuda II, 28 Oktober 1928, dengan iringan biola yang dimainkan W.R.Soepratman sendiri, sebelum kemudian dikenal sebagai Indonesia Raya.

Siapa yang tidak mengenal W.R. Soepratman? W.R. adalah kepanjangan dari Wage Rudolf Soepratman, demikian nama komposer lagu kebangsaan Indonesia Raya. Terdapat sebuah fakta sejarah yang jarang diungkap, dan jarang sekali ditulis di buku-buku sejarah sekolah. Ketika itu saya mendapatkan informasi lisan dari para pengurus komunitas Tjimahi Heritage (sekitar 2017), dan akan coba saya menuliskannya di sini.

W.R. Soepratman ternyata pernah tinggal cukup lama di Bandung raya, tepatnya di kota Cimahi. Beliau menciptakan lagu Indonesia Raya ketika sedang bekerja di surat kabar Kaoem Moeda yang terbit di Bandung pada tahun 1924–1925.

Wage Soepratman adalah putra ketujuh dari seorang tentara KNIL, Djoemeno Senen. Ia dilahirkan di Jatinegara pada 9 Maret 1903 ketika sang ayah tersebut bertugas di Batavia. Masa kecilnya ia habiskan di kawasan Cimahi yang merupakan sebuah kota satelit Bandung, yang dikenal sebagai pusat kemiliteran Hindia Belanda.

Ibunya meninggal saat Wage berusia 9 tahun, lalu Wage selanjutnya tinggal di Makassar, mengikuti Rukiyem kakaknya yang telah menikah dengan seorang tentara KNIL bernama Willem Van Eldik. Oleh kakak iparnya Wage diangkat sebagai anak dan diberi tambahan nama Rudolf, hingga namanya kini Wage Rudolf Soepratman. Penambahan nama ini tiada lain agar dirinya dapat masuk sekolah ELS yang memang hanya menerima orang-orang Belanda dan kaum bangsawan pribumi saja. Sayangnya, pemberian nama itu pun tetap tidak membuat Wage diterima di sekolah tersebut.

Tak lama Wage dikeluarkan dari sekolahnya, namun ia tidak berputus asa, oleh kakaknya ia disekolahkan di sekolah dasar untuk kaum pribumi (Ongko Loro). Pendidikannya pun berlanjut hingga sekolah guru. Tamat mengikuti pendidikan Wage mulai berkarir sebagai guru sekolah dasar. Selama tinggal di Makassar inilah Wage kerap bermain musik, utamanya adalah biola. Bahkan ia bersama sejumlah rekannya membentuk grup musik berirama jazz, Black dan White Jazz Band.

Pada tahun 1924 Wage memilih kembali ke Jawa, pada mulanya ia kembali ke rumah keluarganya di Surabaya, lalu ia kembali ke Cimahi ke rumah keluarganya di kawasan Warung Contong, sayang sekali rumah keluarga Wage di Warung Contong, Cimahi kini telah berubah wujud menjadi sebuah minimarket. Di Bandung, Wage mendapatkan pekerjaan sebagai wartawan surat kabar Kaoem Moeda yang dikelola oleh Abdoel Moeis, salah satu tokoh pejuang Indonesia yang juga merupakan sastrawan ternama. Dalam aktivitasnya sebagai wartawan inilah Wage banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bukan tidak mungkin selama menjadi wartawan di Bandung itu pula, ia menyimak pemikiran dan sepak terjang para tokoh seperti Ir. Soekarno yang pada saat itu juga tinggal di Bandung.

Suatu hari jiwa patriotiknya tergetar membaca sebuah artikel yang dimuat di majalah Timboel terbitan Solo “Manakah Komponis Indonesia yang Bisa Menciptakan Lagu Kebangsaan Indonesia yang Dapat Membangkitkan Semangat Rakyat”, demikian tulisan di dalam artikel tersebut. Sebagai seorang pemuda yang memiliki kepiawaian bermain musik, tantangan itu segera ia jawab. Pada 1924 Wage pun akhirnya berhasil merampungkan sebuah lagu persembahan perjuangan yang diberi judul Indonees, Indonees (Indonesia).

Sayangnya Wage harus berpindah – pindah kerja sebagai wartawan, penerbitan media massa pada masa itu memang jarang yang berumur panjang baik karena kesulitan ekonomi juga karena kejamnya penguasa Hindia Belanda dalam memberangus media yang melontarkan kritik atau menyuarakan perjuangan bangsa. Setelah berpindah dari Kaoem Moeda ke Kaoem Kita, Wage tercatat pernah bekerja di kantor berita Alpena sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke Jakarta untuk bekerja di koran Sin Po.

Sebenarnya ketika digelar kongres pemuda I di Jakarta pada 1926, Wage berniat untuk memperdengarkan lagu ciptaannya itu, namun entah mengapa hal itu urung dilakukan. Barulah ketika diadakan kongres pemuda II pada 28 Oktober 1928 di Jakarta, Wage mulai memperkenalkan lagu ciptaannya tersebut, dengan menggunakan iringan biola ia mainkan sendiri sebuah kelompok paduan suara dari KBI (pramuka saat itu). Mereka menyanyikan lagu ciptaan Wage di hadapan para anggota kongres.

Lagu tersebut kemudian menciptakan perhatian publik, bahkan menimbulkan kehebohan ketika diberitakan di media massa. Pihak intelijen dan penguasa Hindia Belanda juga berusaha untuk mempengaruhi publik agar tidak ikut menyanyikan lagu tersebut terutama secara terang-terangan dan terbuka. Tak hanya itu pihak pemerintah Hindia Belanda pun memburu Wage dan memintanya untuk tidak menggunakan sejumlah kata yang menurut pihak pemerintah dapat membahayakan kekuasaan Belanda di Nusantara. Namun demikian, pada masa-masa selanjutnya lagu ini semakin sering diperdengarkan oleh para pejuang kemerdekaan dalam berbagai kesempatan. Kelak pada tahun 1944 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengubah judulnya menjadi “Indonesia Raya”.

Dalam buku biografi Wage Rudolf Soepratman yang ditulis oleh Antony C. Hutabarat ketika tahun 1930, bung Karno mulai menjalani persidangan di pengadilan distrik Bandung (kini Gedung Indonesia Menggugat), Wage hadir disana. Bung Karno yang baru saja tiba di depan pintu masuk melihat kehadirannya dan berkata dalam bahasa Belanda: “Bukankah Anda pencipta lagu Indonesia? Berjuanglah terus demi kemerdekaan kita tuan Soepratman, Merdeka!” Tentu saja hal ini membuat Wage menjadi sorotan mata dalam pintu masuk ruang sidang, dan pertemuan ini membuat kesan yang sangat mendalam bagi diri seorang Wage.

Wage pun menderita sakit, namun ia terus berkarya, ia berhasil menciptakan sejumlah lagu lainnya yang tak kalah patriotiknya seperti Ibu Kita Kartini, Di Timur Matahari, Bendera Kita dan Pandu Indonesia. Sayangnya, sakit yang ia derita harus mengakhiri perjalanan hidupnya pada usia muda. Wage menghembuskan nafas terakhirnya pada 17 Agustus 1938, tepat 7 tahun sebelum negri ini merdeka dan betul-betul menggunakan lagu ciptaannya hingga kini. Dan pemerintah Indonesia pada 2013 meresmikan tanggal kelahiran Wage di 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Malia Nur Alifa
Tentang Malia Nur Alifa
Periset sejarah Lembang sejak 2009. Menuliskan beberapa buku sejarah tentang Lembang dan pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)