Siapa yang tidak mengenal W.R. Soepratman? W.R. adalah kepanjangan dari Wage Rudolf Soepratman, demikian nama komposer lagu kebangsaan Indonesia Raya. Terdapat sebuah fakta sejarah yang jarang diungkap, dan jarang sekali ditulis di buku-buku sejarah sekolah. Ketika itu saya mendapatkan informasi lisan dari para pengurus komunitas Tjimahi Heritage (sekitar 2017), dan akan coba saya menuliskannya di sini.
W.R. Soepratman ternyata pernah tinggal cukup lama di Bandung raya, tepatnya di kota Cimahi. Beliau menciptakan lagu Indonesia Raya ketika sedang bekerja di surat kabar Kaoem Moeda yang terbit di Bandung pada tahun 1924–1925.
Wage Soepratman adalah putra ketujuh dari seorang tentara KNIL, Djoemeno Senen. Ia dilahirkan di Jatinegara pada 9 Maret 1903 ketika sang ayah tersebut bertugas di Batavia. Masa kecilnya ia habiskan di kawasan Cimahi yang merupakan sebuah kota satelit Bandung, yang dikenal sebagai pusat kemiliteran Hindia Belanda.
Ibunya meninggal saat Wage berusia 9 tahun, lalu Wage selanjutnya tinggal di Makassar, mengikuti Rukiyem kakaknya yang telah menikah dengan seorang tentara KNIL bernama Willem Van Eldik. Oleh kakak iparnya Wage diangkat sebagai anak dan diberi tambahan nama Rudolf, hingga namanya kini Wage Rudolf Soepratman. Penambahan nama ini tiada lain agar dirinya dapat masuk sekolah ELS yang memang hanya menerima orang-orang Belanda dan kaum bangsawan pribumi saja. Sayangnya, pemberian nama itu pun tetap tidak membuat Wage diterima di sekolah tersebut.
Tak lama Wage dikeluarkan dari sekolahnya, namun ia tidak berputus asa, oleh kakaknya ia disekolahkan di sekolah dasar untuk kaum pribumi (Ongko Loro). Pendidikannya pun berlanjut hingga sekolah guru. Tamat mengikuti pendidikan Wage mulai berkarir sebagai guru sekolah dasar. Selama tinggal di Makassar inilah Wage kerap bermain musik, utamanya adalah biola. Bahkan ia bersama sejumlah rekannya membentuk grup musik berirama jazz, Black dan White Jazz Band.
Pada tahun 1924 Wage memilih kembali ke Jawa, pada mulanya ia kembali ke rumah keluarganya di Surabaya, lalu ia kembali ke Cimahi ke rumah keluarganya di kawasan Warung Contong, sayang sekali rumah keluarga Wage di Warung Contong, Cimahi kini telah berubah wujud menjadi sebuah minimarket. Di Bandung, Wage mendapatkan pekerjaan sebagai wartawan surat kabar Kaoem Moeda yang dikelola oleh Abdoel Moeis, salah satu tokoh pejuang Indonesia yang juga merupakan sastrawan ternama. Dalam aktivitasnya sebagai wartawan inilah Wage banyak berinteraksi dengan tokoh-tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia. Bukan tidak mungkin selama menjadi wartawan di Bandung itu pula, ia menyimak pemikiran dan sepak terjang para tokoh seperti Ir. Soekarno yang pada saat itu juga tinggal di Bandung.
Suatu hari jiwa patriotiknya tergetar membaca sebuah artikel yang dimuat di majalah Timboel terbitan Solo “Manakah Komponis Indonesia yang Bisa Menciptakan Lagu Kebangsaan Indonesia yang Dapat Membangkitkan Semangat Rakyat”, demikian tulisan di dalam artikel tersebut. Sebagai seorang pemuda yang memiliki kepiawaian bermain musik, tantangan itu segera ia jawab. Pada 1924 Wage pun akhirnya berhasil merampungkan sebuah lagu persembahan perjuangan yang diberi judul Indonees, Indonees (Indonesia).
Sayangnya Wage harus berpindah – pindah kerja sebagai wartawan, penerbitan media massa pada masa itu memang jarang yang berumur panjang baik karena kesulitan ekonomi juga karena kejamnya penguasa Hindia Belanda dalam memberangus media yang melontarkan kritik atau menyuarakan perjuangan bangsa. Setelah berpindah dari Kaoem Moeda ke Kaoem Kita, Wage tercatat pernah bekerja di kantor berita Alpena sebelum akhirnya memutuskan untuk pindah ke Jakarta untuk bekerja di koran Sin Po.
Sebenarnya ketika digelar kongres pemuda I di Jakarta pada 1926, Wage berniat untuk memperdengarkan lagu ciptaannya itu, namun entah mengapa hal itu urung dilakukan. Barulah ketika diadakan kongres pemuda II pada 28 Oktober 1928 di Jakarta, Wage mulai memperkenalkan lagu ciptaannya tersebut, dengan menggunakan iringan biola ia mainkan sendiri sebuah kelompok paduan suara dari KBI (pramuka saat itu). Mereka menyanyikan lagu ciptaan Wage di hadapan para anggota kongres.
Lagu tersebut kemudian menciptakan perhatian publik, bahkan menimbulkan kehebohan ketika diberitakan di media massa. Pihak intelijen dan penguasa Hindia Belanda juga berusaha untuk mempengaruhi publik agar tidak ikut menyanyikan lagu tersebut terutama secara terang-terangan dan terbuka. Tak hanya itu pihak pemerintah Hindia Belanda pun memburu Wage dan memintanya untuk tidak menggunakan sejumlah kata yang menurut pihak pemerintah dapat membahayakan kekuasaan Belanda di Nusantara. Namun demikian, pada masa-masa selanjutnya lagu ini semakin sering diperdengarkan oleh para pejuang kemerdekaan dalam berbagai kesempatan. Kelak pada tahun 1944 Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia mengubah judulnya menjadi “Indonesia Raya”.

Dalam buku biografi Wage Rudolf Soepratman yang ditulis oleh Antony C. Hutabarat ketika tahun 1930, bung Karno mulai menjalani persidangan di pengadilan distrik Bandung (kini Gedung Indonesia Menggugat), Wage hadir disana. Bung Karno yang baru saja tiba di depan pintu masuk melihat kehadirannya dan berkata dalam bahasa Belanda: “Bukankah Anda pencipta lagu Indonesia? Berjuanglah terus demi kemerdekaan kita tuan Soepratman, Merdeka!” Tentu saja hal ini membuat Wage menjadi sorotan mata dalam pintu masuk ruang sidang, dan pertemuan ini membuat kesan yang sangat mendalam bagi diri seorang Wage.
Wage pun menderita sakit, namun ia terus berkarya, ia berhasil menciptakan sejumlah lagu lainnya yang tak kalah patriotiknya seperti Ibu Kita Kartini, Di Timur Matahari, Bendera Kita dan Pandu Indonesia. Sayangnya, sakit yang ia derita harus mengakhiri perjalanan hidupnya pada usia muda. Wage menghembuskan nafas terakhirnya pada 17 Agustus 1945, tepat 10 tahun sebelum negri ini merdeka dan betul-betul menggunakan lagu ciptaannya hingga kini. Dan pemerintah Indonesia pada 2013 meresmikan tanggal kelahiran Wage di 9 Maret sebagai Hari Musik Nasional. (*)