Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

7 menit baca
Totok Siswantara
Ditulis oleh Totok Siswantara diterbitkan
Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ilustrasi Ketua PII Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)

Setelah terpilih sebagai Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Kota Bandung periode 2026–2029, Gunta Akhiri bertekad menjadikan organisasinya sebagai “Rumah Besar Para Insinyur”.

Bandung memiliki sejarah panjang sebagai salah satu pusat pendidikan teknik dan pengembangan teknologi di Indonesia. Kehadiran Institut Teknologi Bandung (ITB), berbagai perguruan tinggi lainnya, industri, serta ekosistem inovasi menjadikan Kota Bandung memiliki modal penting untuk memperkuat peran keinsinyuran dalam pembangunan.

Musyawarah Cabang (Muscab) PII Kota Bandung yang berlangsung pada 26 September 2026 di Gedung TP Rahmat, Labtek VI, Institut Teknologi Bandung (ITB), Bandung, menjadi momentum penting bagi organisasi profesi insinyur tersebut. Selain mengevaluasi program sebelumnya, Muscab menjadi ruang untuk menyusun arah pengembangan organisasi dan memperkuat kontribusi keinsinyuran bagi Kota Bandung.

Tantangan Kota Semakin Kompleks

Pembangunan perkotaan menghadapi persoalan yang semakin kompleks. Infrastruktur, transportasi, energi, lingkungan, teknologi informasi, tata ruang, hingga pengembangan kawasan membutuhkan pendekatan yang tidak hanya cepat, tetapi juga berbasis ilmu pengetahuan dan standar profesional.

Karena itu, organisasi profesi seperti PII tidak cukup hanya aktif dalam kegiatan internal. Kompetensi para insinyur perlu diterjemahkan menjadi solusi konkret terhadap berbagai persoalan pembangunan.

Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2014 tentang Keinsinyuran menempatkan keinsinyuran sebagai kegiatan yang berkaitan dengan penerapan ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memajukan peradaban serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Regulasi tersebut juga mengatur pentingnya standar layanan, standar kompetensi, Program Profesi Insinyur (PPI), serta registrasi insinyur sebagai bagian dari upaya menjaga mutu dan profesionalitas praktik keinsinyuran.

Dari kiri ke kanan: Ketua PII Wilayah JABAR, Hambali, Ketua PII Cabang Kota Bandung Gunta Akhiri dan Ketua sebelumnya Ony Arifianto. (Sumber: dokpri | Foto: Gunta Akhiri)
Dari kiri ke kanan: Ketua PII Wilayah JABAR, Hambali, Ketua PII Cabang Kota Bandung Gunta Akhiri dan Ketua sebelumnya Ony Arifianto. (Sumber: dokpri | Foto: Gunta Akhiri)

PII dan Tradisi Pengabdian untuk Bangsa

Mengawali masa jabatannya, Gunta Akhiri menekankan bahwa sejak awal pembangunan Indonesia, kemajuan infrastruktur dan teknologi tidak dapat dilepaskan dari kontribusi para insinyur.

PII yang berdiri pada 23 Mei 1952 merupakan organisasi profesi yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan pembangunan nasional. PII tidak sekadar menjadi wadah berkumpulnya para ahli teknik, tetapi juga memiliki tanggung jawab untuk mendorong kemajuan teknologi, profesionalisme, dan pengabdian kepada masyarakat.

Di tengah derasnya globalisasi dan disrupsi digital, peran organisasi profesi insinyur semakin penting. Payung hukum keinsinyuran memberikan landasan agar praktik profesi berlangsung secara profesional, bertanggung jawab, dan memperhatikan keselamatan serta kepentingan masyarakat.

Tiga Pilar Perjuangan Keinsinyuran

Dalam perspektif Gunta Akhiri, terdapat sejumlah agenda strategis yang perlu diperkuat dalam perjalanan PII.

Pertama, kemandirian dan kedaulatan teknologi. Indonesia perlu meningkatkan kemampuan untuk menghasilkan inovasi dan teknologi sendiri sehingga tidak hanya menjadi pasar bagi produk dan teknologi dari negara lain. Penguatan industri nasional dan hilirisasi menjadi bagian penting dari agenda tersebut.

Kedua, pembangunan berkelanjutan atau sustainable engineering. Praktik keinsinyuran harus semakin memperhatikan keselamatan, kesehatan dan keselamatan kerja, efisiensi sumber daya, serta kelestarian lingkungan. Tantangan perubahan iklim membuat aspek keberlanjutan tidak lagi dapat ditempatkan sebagai agenda tambahan.

Ketiga, peningkatan martabat dan daya saing profesi. Pengakuan terhadap kompetensi insinyur melalui pendidikan profesi, sertifikasi, dan registrasi menjadi penting agar tenaga profesional Indonesia mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional.

Membangun Solidaritas Sesama Insinyur

Agenda besar tersebut tidak akan mudah diwujudkan apabila para insinyur bergerak sendiri-sendiri dalam sekat bidang keahlian dan kepentingan sektoral.

Karena itu, membangun solidaritas sesama profesional teknik menjadi agenda internal yang penting. PII perlu menjadi ruang yang mempertemukan berbagai disiplin keinsinyuran sekaligus membangun budaya kolaborasi.

Perekatnya antara lain adalah standar etika profesi. Melalui Program Profesi Insinyur, nilai-nilai etika dan tanggung jawab profesi menjadi bagian penting dalam membentuk karakter seorang insinyur.

Di dalam PII juga terdapat berbagai Badan Kejuruan yang mewadahi bidang-bidang keahlian, seperti teknik sipil, elektro, mesin, industri, pertambangan, dan berbagai bidang lainnya.

Struktur tersebut membuka ruang knowledge sharing antara insinyur senior dan generasi muda. Pengalaman para senior dapat bertemu dengan gagasan serta teknologi baru yang dibawa generasi muda.

Dengan demikian, organisasi bukan hanya menjadi tempat berhimpun, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sepanjang hayat bagi para profesional.

Rumah Besar yang Menghubungkan Generasi

Konsep “Rumah Besar Para Insinyur” yang dikembangkan Gunta Akhiri menjadi relevan dengan kebutuhan tersebut.

Rumah besar bukan sekadar tempat berkumpul. Ia harus menjadi ruang yang membuat para insinyur merasa memiliki organisasi, memperoleh kesempatan mengembangkan kompetensi, membangun jejaring, sekaligus memberikan kontribusi kepada masyarakat.

Insinyur senior membawa pengalaman. Insinyur muda membawa energi dan gagasan baru. Perguruan tinggi membawa pengetahuan dan riset. Dunia usaha membawa kebutuhan nyata industri. Pemerintah membawa kebijakan dan kewenangan pembangunan.

Jika seluruh kekuatan tersebut dipertemukan, PII Kota Bandung dapat memainkan peran sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan, teknologi, kebijakan, dan kebutuhan masyarakat.

Bandung sebagai Laboratorium Keinsinyuran

Kota Bandung merupakan salah satu pusat pendidikan, teknologi, industri kreatif, ekonomi, dan inovasi di Jawa Barat.

Kondisi tersebut memberikan ruang yang luas bagi para insinyur untuk berkontribusi dalam berbagai persoalan perkotaan. Mulai dari transportasi, infrastruktur, energi, pengelolaan lingkungan, teknologi informasi, industri, hingga pengembangan kawasan perkotaan berkelanjutan.

Bandung bahkan dapat diposisikan sebagai semacam laboratorium keinsinyuran perkotaan. Berbagai persoalan kota dapat menjadi ruang bagi lahirnya inovasi dan model solusi yang kemudian dapat direplikasi di daerah lain.

Karena itu, PII Kota Bandung perlu membangun komunikasi dan kolaborasi yang lebih intensif dengan Pemerintah Kota Bandung, perguruan tinggi, dunia usaha, industri, komunitas profesional, serta masyarakat.

Dari Rumah Besar Bandung untuk Indonesia

Peran PII Kota Bandung pada akhirnya tidak berhenti pada persoalan internal organisasi. Ada agenda pembangunan nasional yang lebih besar.

Indonesia tengah menghadapi tantangan untuk meningkatkan produktivitas, memperkuat industri, meningkatkan nilai tambah sumber daya alam, serta membangun ekonomi berbasis pengetahuan dan teknologi.

Dalam konteks tersebut, dunia keinsinyuran dapat berkontribusi melalui penguatan teknologi, inovasi, produktivitas industri, dan pembangunan infrastruktur yang berkelanjutan.

Agenda tersebut sejalan dengan kebutuhan Indonesia untuk memperkuat fondasi ekonomi agar mampu keluar dari jebakan pendapatan menengah (middle-income trap) dan mencapai visi pembangunan jangka panjang menuju Indonesia Emas 2045.

Wisuda Program Studi Program Profesi Insinyur (PS PPI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (Foto: Dokumen UPI Bandung)
Wisuda Program Studi Program Profesi Insinyur (PS PPI) Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung. (Foto: Dokumen UPI Bandung)

Lima Agenda Strategis Keinsinyuran

Dalam kerangka transformasi tersebut, terdapat sejumlah agenda yang dapat menjadi perhatian dunia keinsinyuran.

Pertama, percepatan reindustrialisasi. Penguatan manufaktur dan hilirisasi diperlukan agar Indonesia tidak hanya mengekspor komoditas, tetapi semakin mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi.

Kedua, transisi energi dan keberlanjutan. Pengembangan teknologi energi bersih, efisiensi energi, serta penerapan prinsip green economy dan blue economy membutuhkan keterlibatan para insinyur.

Ketiga, digitalisasi dan smart city. Perkembangan kecerdasan buatan, otomasi, Internet of Things, dan smart engineering membuka peluang baru dalam pengelolaan infrastruktur serta pelayanan publik.

Keempat, ketahanan pangan dan infrastruktur nasional. Keinsinyuran dapat berperan dalam pengembangan teknologi pertanian, pengolahan pangan, sistem irigasi, rantai pasok, serta pembangunan infrastruktur yang mendukung pemerataan ekonomi.

Kelima, peningkatan kompetensi dan sertifikasi berstandar global. Insinyur Indonesia perlu memiliki kompetensi yang dapat diakui dan bersaing di tingkat internasional.

Tantangan Besar: Ketersediaan Insinyur Profesional

Agenda pembangunan tersebut tentu membutuhkan sumber daya manusia teknik dalam jumlah dan kualitas yang memadai.

Indonesia masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kebutuhan tenaga insinyur profesional. Perbandingan jumlah insinyur terhadap jumlah penduduk sering digunakan untuk menggambarkan kebutuhan tersebut, meskipun angka dan metodologi penghitungannya dapat berbeda antar sumber.

Karena itu, peningkatan jumlah insinyur harus berjalan beriringan dengan peningkatan kualitas. Yang dibutuhkan bukan hanya tambahan jumlah lulusan teknik, tetapi profesional yang memiliki kompetensi, pengalaman, integritas, serta memahami standar keselamatan dan etika profesi.

Di tingkat regional dan global, persaingan tenaga profesional semakin terbuka. Hal ini membuat peningkatan kompetensi insinyur Indonesia menjadi kebutuhan strategis.

Mempercepat Program Profesi Insinyur

Salah satu instrumen penting untuk memperkuat profesionalisme adalah Program Profesi Insinyur (PPI).

PII bersama perguruan tinggi dan lembaga terkait dapat terus memperluas sosialisasi dan akses terhadap pendidikan profesi. Salah satu jalur yang dapat dimanfaatkan adalah Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) bagi mereka yang telah memiliki pengalaman dan kompetensi relevan.

Melalui RPL, pengalaman pembelajaran dan profesional yang telah dimiliki seseorang dapat dinilai sesuai ketentuan yang berlaku. Dengan mekanisme tersebut, proses memperoleh pengakuan kompetensi dapat menjadi lebih terarah tanpa mengabaikan standar pendidikan profesi.

Percepatan ini penting karena Indonesia membutuhkan lebih banyak tenaga profesional yang mampu mengawal pembangunan industri, infrastruktur, teknologi, dan inovasi.

Menjadikan PII Kota Bandung sebagai Rumah Bersama

Pada akhirnya, tantangan PII Kota Bandung bukan sekadar bagaimana memperbanyak kegiatan organisasi. Tantangannya adalah bagaimana menjadikan organisasi tersebut benar-benar relevan dengan kebutuhan para insinyur dan masyarakat.

Rumah besar para insinyur harus menjadi rumah yang terbuka bagi generasi muda, menghargai pengalaman para senior, mempertemukan berbagai disiplin ilmu, dan membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan.

Dari Bandung, semangat tersebut dapat dikembangkan menjadi kontribusi yang lebih luas bagi pembangunan Jawa Barat dan Indonesia.

Gunta Akhiri memiliki periode 2026–2029 untuk menerjemahkan gagasan tersebut menjadi kerja nyata. Ukuran keberhasilannya kelak bukan hanya terlihat dari ramainya kegiatan organisasi, tetapi dari seberapa jauh PII Kota Bandung mampu memperkuat profesionalisme anggotanya dan menghadirkan solusi keinsinyuran bagi masyarakat.

Sebab pada akhirnya, rumah besar para insinyur bukanlah sekadar bangunan organisasi. Ia adalah ruang bersama untuk berbagi pengetahuan, menjaga etika profesi, memperkuat solidaritas, dan mengabdikan teknologi bagi kemajuan bangsa. (TS)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)