Arsitektur di Era AI: Masa Depan atau Mimpi Buruk?

4 menit baca
Jovena Celestine
Ditulis oleh Jovena Celestine diterbitkan
Museum Srihadi Soedarsono, Jln. Ciumbuleuit, Bandung. (Foto: Jovena Celestine)
Museum Srihadi Soedarsono, Jln. Ciumbuleuit, Bandung. (Foto: Jovena Celestine)

Dewasa ini AI yang dikenal Artificial Intelligence telah menjadi perbincangan hangat karena dapat menggantikan profesi arsitek di masa depan dengan kemudahannya dalam membuat rancangan-rancangan pembangunan yang lebih cepat, efisien, dan terlihat akurat.

Prediksi ini membuat munculnya dua kubu yang bertentangan, di satu sisi terdapat kelompok yang percaya bahwa profesi arsitek lama-kelamaan akan lenyap dan tergantikan oleh cerdasnya AI, tapi kelompok yang lain justru percaya dengan adanya kolaborasi antara AI dengan manusia akan menciptakan proses yang lebih efisien, optimal, meningkatkan eksplorasi, dan mengurangi kesalahan. Pandangan orang mengenai AI di masa kini yang keliru ini membuat pandangan tersebut bermunculan, karena mereka berasumsi bahwa setiap hal dapat dipecahkan, diselesaikan, dan dibuat dengan kecerdasan AI, padahal kecerdasan ini juga sebaliknya diciptakan oleh manusia.

Pada dasarnya kecerdasan AI hanya bergantung pada informasi, ilmu, dan sumber yang diciptakan oleh manusia, eksplorasi kreativitas selebihnya serta ide ide jenius hanya mampu dilakukan oleh manusia, karena AI hanya sistem yang bekerja melalui proses data yang ada dan tercatat sedangkan seorang arsitek memiliki modal “intuisi” yang melibatkan emosi, pengalaman, dan etika. Namun muncul satu pertanyaan penting, seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi yang pesat apakah profesi arsitek masih diperlukan? Atau justru profesi arsitek seharusnya dihilangkan karena sudah tergantikan?

Arsitektur sebagai jembatan penghubung antara desain dan struktur, memerlukan kreativitas manusia sebagai modal utamanya yang dapat menghasilkan karya-karya unik dalam mencerminkan nilai kemanusiaan. AI unggul dalam menghasilkan segala sesuatu dengan cepat, mudah, dan optimal namun ide yang dihasilkannya homogen hanya berdasarkan sumber dan data yang sudah ada dan dikembangkan.

Sedangkan seorang arsitek menghasilkan ide dengan pengalaman, budaya, adaptasi, estetika subjektif dan kontekstual berdasarkan “needs and wants” yang justru membuat desain-desain yang dihasilkan terasa lebih autentik, personal, hanya “satu-satunya”, hal itu disebabkan setiap orang memiliki ide kreatif yang tidak bisa di generasi orang lain terlebih AI. Namun, bukan tentang siapa yang lebih baik dalam menghasilkan dan mengembangkan desain, tetapi bagaimana kita sebagai seorang arsitek memanfaatkan teknologi kecerdasan ini sebagai rekan kerja yang membantu mempermudah cara kerja dalam mempercepat waktu, serta bagaimana jika statement “tergantikan” diubah menjadi “Teamwork”? 

Keseimbangan antara teknologi dan kreativitas manusia kini menjadi urgensi, dimana AI berperan sebagai sarana pendukung dalam proses menciptakan ide-ide baru dan bukan sebagai pengganti (Garcia-Valldecabres et al., 2020). Meskipun AI dianggap tidak dapat menggantikan, jika dibiarkan berkembang pesat dengan sendirinya tanpa kita yang mau ikut turut berkembang dan terjebak hanya mengandalkan potensi kecerdasan ini, tentu saja lama-kelamaan potensi AI untuk lebih maju dan berevolusi lebih tinggi dibandingkan seorang arsitek itu sendiri.

Dalam beberapa masalah sejenis, tercatat output yang dihasilkan AI dinilai jauh lebih unggul dibandingkan hasil perolehan manusia yang memicu kekhawatiran hilangnya eksistensi seorang seniman (Widyakusuma, 2024). Dengan inilah profesi arsitek menjadi terancam, hilangnya daya saing, atau bahkan kasus terparahnya melalui manipulasi algoritma desain yang menyebabkan kegagalan konstruksi tidak terdeteksi dan tidak sesuai dengan standar verifikasi manusia sehingga membahayakan keselamatan dari bangunan itu sendiri. Meskipun AI menawarkan kemudahan dalam kita berproses menghasilkan sesuatu, penting untuk sadar akan dampak bahayanya jika terus menerus bergantung pada kecerdasan digital, supaya jangan arsitek dikenal sebagai “korban AI”. 

Untuk menghadapi ancaman ini, seorang arsitek dengan atau tanpa AI, diharapkan untuk mau terus belajar, eksplorasi, mengasah seluruh keterampilan mereka dalam aspek yang tidak dapat dilakukan oleh AI, dan jadikan kecerdasan digital ini sebagai platform untuk meningkatkan skill. “Mimpi buruk” menjadi “skill wajib untuk sukses”, merupakan motto ideal untuk arsitektur di era AI, karena dengan kolaborasi yang tepat disitulah produktivitas dibangun, menjadikannya sebagai penguat eksistensi profesi arsitek.

Baca Juga: Terompet, Kembang Api, dan Petasan

Seperti adanya AI dapat mempercepat proses final design rendering 3D, yang tadinya dibuat berjam-jam atau bahkan berhari-hari dapat dipersingkat hanya dalam hitungan menit. Bagaikan Manusia sebagai pengendalinya dan AI yang mengoptimalkan, menyempurnakan, melengkapi, sebuah desain akan dihasilkan dengan sangat sempurna membangun masa depan arsitek yang berkelanjutan. Dengan mempertahankan hak cipta, keaslian karya, etika dalam penggunaan AI sebuah karya orisinal dapat dihasilkan tanpa adanya pengorbanan pada nilai kreatif dan tanggung jawab profesional arsitek, sehingga AI berfungsi sebagai pendukung proses desain, bukan sebagai pengganti peran manusia dalam menciptakan ruang yang bermakna dan beridentitas.

“AI for architect” merepresentasikan kehidupan di dunia Arsitektur, di mana AI sudah tidak seharusnya dipahami semata-mata hanya sebagai ancaman tapi sebagai alat yang memperluas kapasitas dan menolong proses cara kerja seorang arsitek. Arsitek dituntut untuk bertransformasi, bukan hanya sekedar mengandalkan AI saja, tetapi menjadi pengendali nilai, estetika, dan etika dalam proses desain, supaya nilai keputusan utama tetap ada pada seorang arsitek.

Oleh karena itu, tantangan utama arsitek di era AI ini, bukan hanya sekedar “bersaing” dan menolak teknologi, tetapi bagaimana cara kita mengelola tanpa menghilangkan identitas desain dari seorang arsitek itu sendiri. Dengan keseimbangan antara AI dengan arsitektur ini, masa depan desain dapat dihasilkan dengan sangat sempurna: kolaborasi ide manusia yang selalu unik, orisinal, dan tidak pernah habis dan bantuan teknologi AI yang selalu melengkapi dan menyempurnakan. Pertanyaannya bukan lagi tergantikan, tapi akankah kita mampu memanfaatkan kecerdasan teknologi ini untuk memperkaya desain Arsitektural tanpa menghilangkan kreativitas manusia? (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)