Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Arsitektur di Era AI: Masa Depan atau Mimpi Buruk?

Jovena Celestine
Ditulis oleh Jovena Celestine diterbitkan Senin 29 Des 2025, 14:37 WIB
Museum Srihadi Soedarsono, Jln. Ciumbuleuit, Bandung. (Foto: Jovena Celestine)

Museum Srihadi Soedarsono, Jln. Ciumbuleuit, Bandung. (Foto: Jovena Celestine)

Dewasa ini AI yang dikenal Artificial Intelligence telah menjadi perbincangan hangat karena dapat menggantikan profesi arsitek di masa depan dengan kemudahannya dalam membuat rancangan-rancangan pembangunan yang lebih cepat, efisien, dan terlihat akurat.

Prediksi ini membuat munculnya dua kubu yang bertentangan, di satu sisi terdapat kelompok yang percaya bahwa profesi arsitek lama-kelamaan akan lenyap dan tergantikan oleh cerdasnya AI, tapi kelompok yang lain justru percaya dengan adanya kolaborasi antara AI dengan manusia akan menciptakan proses yang lebih efisien, optimal, meningkatkan eksplorasi, dan mengurangi kesalahan. Pandangan orang mengenai AI di masa kini yang keliru ini membuat pandangan tersebut bermunculan, karena mereka berasumsi bahwa setiap hal dapat dipecahkan, diselesaikan, dan dibuat dengan kecerdasan AI, padahal kecerdasan ini juga sebaliknya diciptakan oleh manusia.

Pada dasarnya kecerdasan AI hanya bergantung pada informasi, ilmu, dan sumber yang diciptakan oleh manusia, eksplorasi kreativitas selebihnya serta ide ide jenius hanya mampu dilakukan oleh manusia, karena AI hanya sistem yang bekerja melalui proses data yang ada dan tercatat sedangkan seorang arsitek memiliki modal “intuisi” yang melibatkan emosi, pengalaman, dan etika. Namun muncul satu pertanyaan penting, seiring berjalannya waktu dan perkembangan teknologi yang pesat apakah profesi arsitek masih diperlukan? Atau justru profesi arsitek seharusnya dihilangkan karena sudah tergantikan?

Arsitektur sebagai jembatan penghubung antara desain dan struktur, memerlukan kreativitas manusia sebagai modal utamanya yang dapat menghasilkan karya-karya unik dalam mencerminkan nilai kemanusiaan. AI unggul dalam menghasilkan segala sesuatu dengan cepat, mudah, dan optimal namun ide yang dihasilkannya homogen hanya berdasarkan sumber dan data yang sudah ada dan dikembangkan.

Sedangkan seorang arsitek menghasilkan ide dengan pengalaman, budaya, adaptasi, estetika subjektif dan kontekstual berdasarkan “needs and wants” yang justru membuat desain-desain yang dihasilkan terasa lebih autentik, personal, hanya “satu-satunya”, hal itu disebabkan setiap orang memiliki ide kreatif yang tidak bisa di generasi orang lain terlebih AI. Namun, bukan tentang siapa yang lebih baik dalam menghasilkan dan mengembangkan desain, tetapi bagaimana kita sebagai seorang arsitek memanfaatkan teknologi kecerdasan ini sebagai rekan kerja yang membantu mempermudah cara kerja dalam mempercepat waktu, serta bagaimana jika statement “tergantikan” diubah menjadi “Teamwork”? 

Keseimbangan antara teknologi dan kreativitas manusia kini menjadi urgensi, dimana AI berperan sebagai sarana pendukung dalam proses menciptakan ide-ide baru dan bukan sebagai pengganti (Garcia-Valldecabres et al., 2020). Meskipun AI dianggap tidak dapat menggantikan, jika dibiarkan berkembang pesat dengan sendirinya tanpa kita yang mau ikut turut berkembang dan terjebak hanya mengandalkan potensi kecerdasan ini, tentu saja lama-kelamaan potensi AI untuk lebih maju dan berevolusi lebih tinggi dibandingkan seorang arsitek itu sendiri.

Dalam beberapa masalah sejenis, tercatat output yang dihasilkan AI dinilai jauh lebih unggul dibandingkan hasil perolehan manusia yang memicu kekhawatiran hilangnya eksistensi seorang seniman (Widyakusuma, 2024). Dengan inilah profesi arsitek menjadi terancam, hilangnya daya saing, atau bahkan kasus terparahnya melalui manipulasi algoritma desain yang menyebabkan kegagalan konstruksi tidak terdeteksi dan tidak sesuai dengan standar verifikasi manusia sehingga membahayakan keselamatan dari bangunan itu sendiri. Meskipun AI menawarkan kemudahan dalam kita berproses menghasilkan sesuatu, penting untuk sadar akan dampak bahayanya jika terus menerus bergantung pada kecerdasan digital, supaya jangan arsitek dikenal sebagai “korban AI”. 

Untuk menghadapi ancaman ini, seorang arsitek dengan atau tanpa AI, diharapkan untuk mau terus belajar, eksplorasi, mengasah seluruh keterampilan mereka dalam aspek yang tidak dapat dilakukan oleh AI, dan jadikan kecerdasan digital ini sebagai platform untuk meningkatkan skill. “Mimpi buruk” menjadi “skill wajib untuk sukses”, merupakan motto ideal untuk arsitektur di era AI, karena dengan kolaborasi yang tepat disitulah produktivitas dibangun, menjadikannya sebagai penguat eksistensi profesi arsitek.

Baca Juga: Terompet, Kembang Api, dan Petasan

Seperti adanya AI dapat mempercepat proses final design rendering 3D, yang tadinya dibuat berjam-jam atau bahkan berhari-hari dapat dipersingkat hanya dalam hitungan menit. Bagaikan Manusia sebagai pengendalinya dan AI yang mengoptimalkan, menyempurnakan, melengkapi, sebuah desain akan dihasilkan dengan sangat sempurna membangun masa depan arsitek yang berkelanjutan. Dengan mempertahankan hak cipta, keaslian karya, etika dalam penggunaan AI sebuah karya orisinal dapat dihasilkan tanpa adanya pengorbanan pada nilai kreatif dan tanggung jawab profesional arsitek, sehingga AI berfungsi sebagai pendukung proses desain, bukan sebagai pengganti peran manusia dalam menciptakan ruang yang bermakna dan beridentitas.

AI for architect” merepresentasikan kehidupan di dunia Arsitektur, di mana AI sudah tidak seharusnya dipahami semata-mata hanya sebagai ancaman tapi sebagai alat yang memperluas kapasitas dan menolong proses cara kerja seorang arsitek. Arsitek dituntut untuk bertransformasi, bukan hanya sekedar mengandalkan AI saja, tetapi menjadi pengendali nilai, estetika, dan etika dalam proses desain, supaya nilai keputusan utama tetap ada pada seorang arsitek.

Oleh karena itu, tantangan utama arsitek di era AI ini, bukan hanya sekedar “bersaing” dan menolak teknologi, tetapi bagaimana cara kita mengelola tanpa menghilangkan identitas desain dari seorang arsitek itu sendiri. Dengan keseimbangan antara AI dengan arsitektur ini, masa depan desain dapat dihasilkan dengan sangat sempurna: kolaborasi ide manusia yang selalu unik, orisinal, dan tidak pernah habis dan bantuan teknologi AI yang selalu melengkapi dan menyempurnakan. Pertanyaannya bukan lagi tergantikan, tapi akankah kita mampu memanfaatkan kecerdasan teknologi ini untuk memperkaya desain Arsitektural tanpa menghilangkan kreativitas manusia? (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Jovena Celestine
Architecture Student at Universitas Katolik Parahyangan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)