Terompet, Kembang Api, dan Petasan

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ilustrasi keramaian tahun baru. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi keramaian tahun baru. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore itu cerah. Baru saja pulang kerja, sudah disambut anak ketiga Kakang yang menunggu di depan pintu masuk. “Bah, bawa kertas buat menggambar, kan?” katanya.

Kujawab singkat, “Muhun.”

Tak lama, Aa Akil, anak kedua, ikut nimbrung dengan pertanyaan polosnya, “Kenapa sih tiap tahun baru selalu ada petasan dan bunyi terompet?”

"Tos jadi kebiasaan A!" ujarku.  

Geliat Produksi Terompet di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Geliat Produksi Terompet di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Tradisi Terompet

Rasanya tak afdhal bila pergantian (malam) tahun baru tidak dibarengi dengan turun ke jalan-jalan; peniupan terompet; petasan kembang api; kumpul-kumpul sambil bakar-bakar ikan, ayam, jagong, ubi; pesta pora di tempat hiburan.

Gegap-gempina ini mendakan pergantian tahun dimulai. Pelbagai harapan dan semangat hidup untuk diniatkan sejak ditiupkan terompet supaya selasar, damai, aman dan terhindar dari segala marabahaya dalam menjalani kehidupan yang sedang dilanda petaka dari Tuhan atas kesombongan dan kelaliman umat manusia. 

Menilik pesta sejagat tidak hanya momentum untuk berpesta, berhura-hura, tetapi sarat dengan tradisi keagamaan (kaum pagan, Kristen, Yahudi dan tradisi China). Tradisi meniup terompet pada mulanya merupakan cara orang-orang kuno untuk mengusir setan. Orang-orang Yahudi belakangan melakukan itu sebagai kegiatan ritual yang dimaknai sebagai gambaran ketika Tuhan menghancurkan dunia. 

Mereka melakukan ritual meniup terompet ini pada waktu perayaan tahun baru Yahudi, Rosh Hashanah, yang berarti "Hari Raya Terompet", biasa jatuh pada bulan September (Oktober). Bentuk terompet yang melengkung melambangkan tanduk domba yang dikorbankan dalam peristiwa pengorbanan Isaac (Nabi Ishaq dalam tradisi Muslim). 

Dalam kepercayaan China perayaan pesta petasan, kembang api dan terompet menjadi syarat mutlak untuk perayaan. Mengingat ritual ini tidak hanya untuk mengusir setan tetapi dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan, kebahagiaan dan kemakmuran. (Pikiran Rakyat, 30/12/2010)

Kerinduan untuk menghadirkan kembali waktu mitos (mythical time) primordial (masehi) petanda manusia tradisional (homo religious). Ini dikemukakan Mircea Eliade (1907-1986) pakar studi agama-agama dan fenomenologi saat memotret masyarakat arkais (purba) cenderung untuk hidup sebisa mungkin dalam kesakralan dan dekat dengan objek suci dan pusat dunia. 

Ingat, kebanyakan masyarakat primitif, tahun baru itu ekuivalen dengan munculnya taboo pada panen baru yang dengan demikian dinyatakan dapat dimakan dan tidak berbahaya bagi seluruh masyarakat. 

Ketika berbagai spesies gandum, buah-buahan ditanam, menua dengan berhasil pada musim yang berbeda, kita seringkali menemukan berbagai festival Tahun Baru. Ini berarti pembagian waktu ditentukan oleh ritual yang menjamin kesinambungan hidup masyarakat dalam keseluruhannya. 

Penerimaan tahun matahari sebagai unit waktu, pada mulanya berasal dari Mesir. Mayoritas kebudayaan yang lain --dan Mesir sendiri sampai periode tertentu-- menggunakan tahun yang berdasarkan bulan dan matahari sekaligus memiliki 360 hari dengan 12 bulan yang masing-masing terdiri atas 30 hari yang di dalamnya ditambahkan lima hari pada bulan tertentu. 

Orang Indian Zuni menyebut bulan dengan "langkah tahun" dan tahun sebagai "bagian waktu". Awal tahun berbeda-beda dari satu negara ke negara lain juga dalam periode yang berbeda, kalender mereformasi pengenalan yang terus-menerus untuk membuat makna ritual festival cocok dengan musim yang dianggap sesuai. Sekalipun demikian, baik instabilitas maupun kebebasan permulaan Tahun Baru (Maret-April, 19 Juli-seperti di Mesir Kuno-September, Oktober, Desember-Januari dan sebagainya). 

Indahnya Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Indahnya Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sakralitas waktu

Konsep tentang akhir dan awal periode waktu berdasarkan atas pengamatan ritme biokosmis dan membentuk bagian sistem yang lebih besar-sistem pemurnian periodik, (semisal pembersihan dosa, puasa, pengakuan dosa) dan regenerasi hidup periodik. Dengan mengasumsikan sebagai penciptaan baru, yakni pengulangan aksi kosmogonik dan menimbulkan persoalan tentang pembebasan "sejarah" 

Sakralitas waktu menjadi bagian penting manakala setiap perayaan keagamaan, waktu peribadatan, reaktualisasi kejadian-kejadian sakral yang terjadi pada zaman mitos (permulaan) dapat mewujud dalam kehidupan sehari-hari kita. Upaya mereaktualisai kosmogoni hadir dalam perayaan tahun baru.

Pasalnya, meindikasikan waktu diulang lagi mulai dari awal, yakni retsorsi waktu primordial, murni ada pada saat penciptaan sekaligus peserta pesta dapat menemukan kembali kelahiran pertama dari waktu sakral. Inilah menjadi alasan tahun baru merupakan kesempatan untuk pemurnian untuk penghapusan dosa, pengusiran setan (tolakbala), bukan sekedar penghapusan dosa. 

Sir George Frazer dalam The Golden Bough yang berjudul The Scapegoat, prosesi pengusiran setan, dosa dan penyakit ini mewujud dalam ritus; puasa, pembersihan badan dan pemurnian; pemadaman api dan secara ritual menyalakannya dalam bagian kedua upacara; pengusiran setan melalui bunyi-bunyian (terompet), tangisan, pemukulan (pintu, kohkol, bedug) yang diikuti dengan pengejarannya melalui perkampungan dengan kebisingan dan hullaboloo (tolakbala); pengusiran ini dapat dilaksanakan dalam bentuk pepohonan, hewan dan manusia.

Dengan demikian, festival tahun baru ini hanya mengulang waktu asali (kosmik), mengaktualisasikan kosmogoni, perjalanan dari kekacauan (chaos) menuju keteraturan dan keharmonisan (cosmos). 

Mari kita lihat peringatan tahun baru Babylonia, Akitu dapat dilaksanakan pada saat siang dan malam, lamanya sama di musim semi (the spiring equinox), di bulan Nisa dan di musim gugur (the autumnal equinox) di bulan Tisrit. 

Selama berlangsung perayaan akitu yang berlangsung secara dua belas tahun, apa yang disebut epik penciptaan, Enuma elis diceritakan secara sungguh-sungguh beberapa kali di kuil Marduk. Demikinalah pertarungan antara Madruk dan raksas laut Tiamat direaktualisasikan-pertarungan yang berlangsung in illo tempore yang mengakhiri kekacauan melalui kemenangan akhr dewa. Marduk menciptakan kosmos dari potongan badan Tiamat yang hancur dan menciptakan manusia dari darah demon Kingu, makhluk yang diciptakan oleh Tiamat untuk menyimpan Tablet Nasib (Enuma elis, VI, 33). 

Peringatan atas penciptaan pada hakikatnya merupakan reaktualisasi aksi kosmogonik, perjalanan dari kekacauan (chaos) menuju keteraturan (cosmos) yang dinyatakan baik oleh ritual maupun mantera yang dilantunkan selama upacara berlangsung. Peristiwa istiknya muncul "semoga dia terus menundukkan Tiamat dan memperpendek harinya" seru orang yang melakukan upacara. Pertempuran, kemenangan dan penciptaan berlangsung pada saat itu juga. 

Bagi A. J Wesinck, sarjana Belanda berpendapat fenomena ini menunjukkan adanya simetri antara berbagai sistem mythioco-ceremonial tahun baru di seluruh dunia semitik; dalam setiap sistem ini kita menemukan ide-ide pokok tentang kembalinya kekacauan secara tahunan yang diikuti oleh penciptaan baru. 

Kontruksi waktu kosmik melalui pengulangan kosmogoni secara lebih jelas lagi ditunjukkan oleh simbolisme pengorbanan Brahmanik. Setiap korban Brahmanik menandakan penciptaan baru dunia. (bandingkan, misalnya Satapatha Brahmana, vi,5,1 ff).

Peristiwa ini telah menemukan pada setiap korban Brahman itu mereaktualisaikan aksi kosmogonik arrketifipis dan kejadian antara waktu mistik dengan sekarang mengasumsikan pembebesan waktu profan dan regenerasi dunia yang terus menerus. (Mircea Eliade, 2002; 53-96).

Bahaya! Jangan Nyalakan Kembang Api Setelah Pakai Hand Sanitizer (Sumber: Ayobandung.com | Foto: M. Naufal Hafizh)
Bahaya! Jangan Nyalakan Kembang Api Setelah Pakai Hand Sanitizer (Sumber: Ayobandung.com | Foto: M. Naufal Hafizh)

Asal-Usul Kembang Api yang Membara

Sebagian besar sejarawan meyakini kembang api pertama kali ditemukan di China, meskipun ada pendapat lain yang menyebut Timur Tengah, India. Penemuan ini terjadi secara tidak sengaja sekitar tahun 800 M, ketika para ahli kimia China mencampurkan kalium nitrat, sulfur, dan arang untuk mencari ramuan kehidupan kekal.

Campuran ini justru menghasilkan mesiu mentah yang kelak mengubah sejarah. Setelah diketahui dapat menimbulkan ledakan, masyarakat Tionghoa memanfaatkan bunyi kerasnya yang dipercaya mampu mengusir roh jahat.

Kembang api pertama dibuat dengan memasukkan mesiu ke dalam batang bambu yang dilemparkan ke api hingga meledak. Seiring perkembangan teknologi, batang bambu digantikan oleh tabung kertas dan sumbu dari kertas tisu mulai digunakan.

Pada abad ke-10, mesiu mulai dimanfaatkan sebagai senjata perang, seperti petasan yang dipasang pada anak panah. Dua abad dari itu, teknologi ini berkembang menjadi roket yang dapat diluncurkan tanpa panah, menjadi dasar pertunjukan kembang api modern.

Kembang api dikenal di Eropa melalui Marco Polo pada tahun 1295, mesiu telah lebih dulu dikenal saat Perang Salib. Pada abad ke-13, penyebaran mesiu semakin luas melalui jalur diplomasi, eksplorasi, dan misi keagamaan.

Bangsa Eropa mengembangkan mesiu untuk keperluan militer, dengan tetap mempertahankan kembang api sebagai bagian dari perayaan. Di Inggris, kembang api menjadi hiburan kerajaan, tercatat dalam pernikahan Raja Henry VII pada 1486 dan Kaisar Rusia Peter the Great menggelar pertunjukan besar untuk merayakan kelahiran putranya.

Pada era Renaisans, sekolah-sekolah piroteknik berkembang di Eropa dengan Italia sebagai pelopor inovasi. Pada 1830-an, penggunaan logam dan bahan kimia memungkinkan terciptanya warna-warna cerah seperti merah, hijau, biru, dan kuning. Teknologi ini dibawa ke Amerika, dengan pertunjukan pertama tercatat pada 1608 di Jamestown. Sejak 4 Juli 1777, kembang api menjadi bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan Amerika.

Meski demikian, kekhawatiran akan keselamatan membuat berbagai wilayah menerapkan larangan dan regulasi ketat, aturan yang hingga kini masih berlaku di banyak negara. (Tempo, 31 Desember 2024).

Sekelompok anak bermain petasan (Sumber: ayobandung.com | Foto: Administrator)
Sekelompok anak bermain petasan (Sumber: ayobandung.com | Foto: Administrator)

Petasan Buang Kesialan, Bawa Keberuntungan

Petasan berkembang sebagai simbol peringatan sekaligus pertanda keberhasilan dalam berbagai peristiwa penting. Dalam tradisi perayaan Tahun Baru China, petasan dipercaya membawa keberuntungan sebagai penanda dimulainya tahun yang baru. Secara historis, petasan pertama kali ditemukan pada abad ke-2 sebelum Masehi di wilayah Liuyang kuno, Tiongkok, dengan bahan utama berupa bubuk mesiu.

Pada mulanya, masyarakat Tionghoa menggunakan petasan sebagai sarana untuk mengusir roh jahat. Seiring waktu, fungsi ini berkembang menjadi simbol perayaan dan keberhasilan dalam beragam acara, seperti pernikahan, upacara kematian, kemenangan perang, hingga perayaan keagamaan (Kompas, 25 Januari 2025).

Untuk konteks Tahun Baru dalam tradisi China, setiap aktivitas perdagangan secara tradisional diawali dengan pembakaran petasan. Ritual ini bertujuan untuk menyingkirkan nasib buruk dan pengaruh jahat yang diyakini dapat menghambat kelancaran usaha. Petasan tidak hanya dimaknai sebagai simbol keberuntungan, melainkan menjadi bagian dari rangkaian upacara sembahyang guna memohon restu dan berkat dari para dewa.

Masyarakat Tionghoa meyakini ihwal keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kepandaian, perencanaan, dan kerja keras, justru dipengaruhi oleh faktor nasib. Walhasil, momentum Tahun Baru dimanfaatkan untuk membuang kesialan yang berpotensi dapat menimbulkan kerugian. Tradisi ini dilakukan melalui ritual mandi “limau bali” (jeruk bali), upacara sembahyang untuk memohon pertolongan dewa kekayaan, Tsai Shen Yeh, yang disembah secara khusus pada setiap awal Tahun Baru (Wan Seng Ann, 2007:118).

Untuk perayaan Tahun Baru 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melarang masyarakat menyalakan kembang api maupun petasan pada malam pergantian tahun. Pasalnya, kebijakan ini sejalan dengan imbauan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), yang mengajak masyarakat mengisi malam tahun baru dengan kegiatan yang lebih positif dan bermakna. Warga diharapkan memanfaatkan momen berharga ini untuk mempererat kebersamaan, seperti menghabiskan waktu bersama keluarga, makan bersama, menggelar doa bersama.

Muhammad Farhan, menegaskan larangan menyalakan kembang api dan petasan dengan merujuk pada peraturan yang telah lama berlaku dan aturan ini diberlakukan di seluruh wilayah Kota Bandung tanpa pengecualian, guna menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan masyarakat.

Saat membaca himbauan ini, tanpa disadari bocah kelas lima itu berkata, “Bah ga seru ya tidak ada kembang api dan petasan? Cag Ah!  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Jul 2026, 20:05

Melihat Dunia dari Bandung: Dari Objek Kolonial ke Subjek Global

Suara Bandung tidak selalu terdengar konsisten. Kadang menguat, kadang tenggelam. Tergantung pada konteks global yang sedang berlangsung.

Museum Konferensi Asi-Afrika. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 18:01

Urgensi Bandara Husein Sastranegara Menuju Konektivitas ASEAN

Pemprov Jabar dan Pemkot Bandung perlu segera mendesak agar pemerintah pusat mengijinkan rute internasional untuk Bandara Husein

Bandara Husein Sastranegara dilihat dari lantai 9 Gedung Pusat Manajemen PT Dirgantara Indonesia. (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 17:00

Jejak-jejak Sejarah 'Kawadanaan' di Kecamatan Lembang

Salah satu potensi dan daya tarik wisata sejarah yang dimiliki Kota Lembang yaitu bangunan “Pendopo eks Kawedanaan”.

Alun alun Lembang tahun 1902. (Sumber: KITLV)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 16:44

Luas 150 Hektar, Bagaimana Cara Jelajah TMII dalam Sehari?

Bingung keliling TMII dalam sehari? Cek rute terbaik, rekomendasi anjungan, kereta gantung, museum, hingga atraksi Tirta Cerita.

Taman Mini Indonesia Indah (TMII).
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 16:28

Ada Lohbener, Ada Losarang

Semula, toponimi dua kecamatan ini adalah toponim sungai yang mengalir melintasi Indramayu.

Lokasi Lohbener dan Losarang di Kabupaten Indramayu. (Sumber: Google maps)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 15:22

Sisa Peradaban Lama di Utara Bandung

Tak jauh dari kawasan Kebun Binatang Bandung terdapat arca Ganesha yang terdapat di gerbang depan Institut Teknologi Bandung.

Arca Ganesha di gerbang ITB. (Sumber: Dokumentasi Malia 2026)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 14:46

Menimbang Kembali Peran Ayah dalam Memperingati Hari Ayah Nasional

Maka di Hari Ayah Nasional ini, mari kita mencoba untuk menimbang dan melihat kembali, bagaimana peran ayah sesungguhnya terhadap anak-anak dan keluarganya.

Ilustrasi seorang ayah dan anaknya. (Sumber: Pexels | Foto: Faisal Allam)
Wisata & Kuliner 10 Jul 2026, 14:03

Panduan Wisata Situ Gunung Sukabumi: Tiket, Jembatan Gantung, dan Curug Sawer

Panduan lengkap Situ Gunung Sukabumi, mulai dari harga tiket, jalur wisata, Jembatan Gantung terpanjang di Asia Tenggara, Curug Sawer, hingga cara menuju lokasi.

Danau Situ Gunung Sukabumi.
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 13:34

Diskursus Intelektual dalam Pendidikan Bernuansa Islami

Era teknologi telah memunculkan paradigma baru, bahwa pemikiran-pemikiran baru mengalami diskursus intelektual. Apakah ini juga menjadi tantangan bagi pendidikan bernuansa islami.

Anak-anak beragama Islam sedang mengaji di masjid. (Sumber: Pexels/Hera hendrayana)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 12:09

Redesain Kota Bandung: Sehat Rakyatnya Jaya Kotanya

Dapat kita ketahui bahwa kesehatan merupakan salah satu kebijakan yang perlu diambil sesegera mungkin selain pendidikan.

Suasana Jalan Braga, Kota Bandung saat diberlakukannya Braga Free Vehicle pada Sabtu, 4 Mei 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 09:47

Menyusuri Jejak Dunia Hiburan Indonesia Era Tahun 70-an

Annie Rae sebagai pendatang baru tengah menanjak popularitasnya di blantika musik pop Indonesia.

Sampul Majalah Variasari edisi Juli 1970 yang menampilkan Annie Rae, biduanita ternama asal Bandung. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 10 Jul 2026, 08:01

Kecerdasan Buatan dalam Waktu ke Waktu

Menelusur sejarah perkembangan kecerdasan buatan.

Kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, tetapi sebagai pemahaman bahwa menusia selalu mencari lebih dari Batasan yang telah ada.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 21:54

Masjid Agung Al-Ittihad: Representasi Multikulturalisme di Kota Benteng

eberadaan Masjid Agung Al-Ittihad memiliki makna yang jauh lebih luas dibanding fungsi religius semata.

Masjid Agung Al-Ittihad Kota Tangerang. (Sumber: Pemerintah Kota Tangerang)
Wisata & Kuliner 09 Jul 2026, 18:37

Kerak Telor Betawi, Kuliner Tradisional Jakarta dengan Sejarah Panjang

Kerak Telor merupakan kuliner khas Betawi yang menjadi ikon Jakarta. Simak sejarah, bahan, cara memasak, dan fakta menarik di balik hidangan legendaris ini.

Kerak Telor Betawi.
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 18:00

Asal Usul dan Perkembangan Ampiang Dadiah: Tradisi Kuliner Minangkabau dari Masa ke Masa

Membahas Ampiang Dadiah yogurt yang terbuat dari susu kerbau berasal dari Sumatera Barat.

Es Ampiang Dadiah, dibeli di Pasar Ateh, Bukittinggi. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:48

69 Tahun Navigasi Birokrasi: Mengukuhkan LAN sebagai Think Tank Strategis di Tengah Badai Disrupsi

LAN RI di usia ke-69 memperkuat perannya sebagai think tank strategis yang mendorong transformasi birokrasi melalui inovasi, digitalisasi, dan kebijakan berbasis bukti menuju Indonesia Emas 2045.

Lembaga Administrasi Negara (LAN) Republik Indonesia. (Sumber: LAN RI)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 17:11

Antara Bandung dan Yogyakarta, Semarak Kuliner Tiada Henti

Kuliner menjadi patron wisata yang menarik wisatawan. Bandung dan Yogyakarta memiliki karakter budaya yang berbeda, tetapi dengan wisata kuliner, dua kota itu menghadirkan Indonesia kini.

Kehadiran Tjitarum sebagai toko bolu dan kue bukan sekadar membuka ruang baru bagi wisatawan untuk membeli buah tangan. Namun simbol bagaimana kuliner bisa menjadi bahasa pelestarian budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:59

Bedah Konsistensi Strategi Digital PR pada Peluncuran Mobil Listrik Keluaran Terbaru

Peluncuran New Air ev & Cloud EV bukti konsistensi Wuling bangun citra kendaraan listrik modern. Lewat web & Instagram, Wuling tampilkan pesan & visual inovatif masa depan.

Ilustrasi mobil listrik. (Sumber: Wuling Motors)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 16:05

Menari, Merayakan Masa Kecil

Setiap tarian memang berhenti saat musik usai, tapi cerita ihwal keberanian Kakang berjoged untuk pertama kalinya akan terus hidup, tumbuh subur saat dirawat, dipelihara, dipupuk & menari dalam hati.

Kakang bergaya sebelum tampil menari di spot foto yang ada serambi masjid Al-Hidayah, Kebonterong Cibiru Kota Bandung, Rabu (24/6/2026) (Sumber: Istimewa | Foto: Aa Akil)
Ayo Netizen 09 Jul 2026, 15:05

Menelusuri Jejak Rasa (Bagian II): Penjaga Memori dan Tradisi Kuliner Bandung

Setelah membedah lima ikon pertama pada bagian sebelumnya, mari kita lanjutkan penelusuran enam ikon kuliner legendaris lainnya.

Hidangan Warung Kopi Purnama (Foto: GMAPS)