Terompet, Kembang Api, dan Petasan

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ilustrasi keramaian tahun baru. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi keramaian tahun baru. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore itu cerah. Baru saja pulang kerja, sudah disambut anak ketiga Kakang yang menunggu di depan pintu masuk. “Bah, bawa kertas buat menggambar, kan?” katanya.

Kujawab singkat, “Muhun.”

Tak lama, Aa Akil, anak kedua, ikut nimbrung dengan pertanyaan polosnya, “Kenapa sih tiap tahun baru selalu ada petasan dan bunyi terompet?”

"Tos jadi kebiasaan A!" ujarku.  

Geliat Produksi Terompet di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Geliat Produksi Terompet di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Tradisi Terompet

Rasanya tak afdhal bila pergantian (malam) tahun baru tidak dibarengi dengan turun ke jalan-jalan; peniupan terompet; petasan kembang api; kumpul-kumpul sambil bakar-bakar ikan, ayam, jagong, ubi; pesta pora di tempat hiburan.

Gegap-gempina ini mendakan pergantian tahun dimulai. Pelbagai harapan dan semangat hidup untuk diniatkan sejak ditiupkan terompet supaya selasar, damai, aman dan terhindar dari segala marabahaya dalam menjalani kehidupan yang sedang dilanda petaka dari Tuhan atas kesombongan dan kelaliman umat manusia. 

Menilik pesta sejagat tidak hanya momentum untuk berpesta, berhura-hura, tetapi sarat dengan tradisi keagamaan (kaum pagan, Kristen, Yahudi dan tradisi China). Tradisi meniup terompet pada mulanya merupakan cara orang-orang kuno untuk mengusir setan. Orang-orang Yahudi belakangan melakukan itu sebagai kegiatan ritual yang dimaknai sebagai gambaran ketika Tuhan menghancurkan dunia. 

Mereka melakukan ritual meniup terompet ini pada waktu perayaan tahun baru Yahudi, Rosh Hashanah, yang berarti "Hari Raya Terompet", biasa jatuh pada bulan September (Oktober). Bentuk terompet yang melengkung melambangkan tanduk domba yang dikorbankan dalam peristiwa pengorbanan Isaac (Nabi Ishaq dalam tradisi Muslim). 

Dalam kepercayaan China perayaan pesta petasan, kembang api dan terompet menjadi syarat mutlak untuk perayaan. Mengingat ritual ini tidak hanya untuk mengusir setan tetapi dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan, kebahagiaan dan kemakmuran. (Pikiran Rakyat, 30/12/2010)

Kerinduan untuk menghadirkan kembali waktu mitos (mythical time) primordial (masehi) petanda manusia tradisional (homo religious). Ini dikemukakan Mircea Eliade (1907-1986) pakar studi agama-agama dan fenomenologi saat memotret masyarakat arkais (purba) cenderung untuk hidup sebisa mungkin dalam kesakralan dan dekat dengan objek suci dan pusat dunia. 

Ingat, kebanyakan masyarakat primitif, tahun baru itu ekuivalen dengan munculnya taboo pada panen baru yang dengan demikian dinyatakan dapat dimakan dan tidak berbahaya bagi seluruh masyarakat. 

Ketika berbagai spesies gandum, buah-buahan ditanam, menua dengan berhasil pada musim yang berbeda, kita seringkali menemukan berbagai festival Tahun Baru. Ini berarti pembagian waktu ditentukan oleh ritual yang menjamin kesinambungan hidup masyarakat dalam keseluruhannya. 

Penerimaan tahun matahari sebagai unit waktu, pada mulanya berasal dari Mesir. Mayoritas kebudayaan yang lain --dan Mesir sendiri sampai periode tertentu-- menggunakan tahun yang berdasarkan bulan dan matahari sekaligus memiliki 360 hari dengan 12 bulan yang masing-masing terdiri atas 30 hari yang di dalamnya ditambahkan lima hari pada bulan tertentu. 

Orang Indian Zuni menyebut bulan dengan "langkah tahun" dan tahun sebagai "bagian waktu". Awal tahun berbeda-beda dari satu negara ke negara lain juga dalam periode yang berbeda, kalender mereformasi pengenalan yang terus-menerus untuk membuat makna ritual festival cocok dengan musim yang dianggap sesuai. Sekalipun demikian, baik instabilitas maupun kebebasan permulaan Tahun Baru (Maret-April, 19 Juli-seperti di Mesir Kuno-September, Oktober, Desember-Januari dan sebagainya). 

Indahnya Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Indahnya Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sakralitas waktu

Konsep tentang akhir dan awal periode waktu berdasarkan atas pengamatan ritme biokosmis dan membentuk bagian sistem yang lebih besar-sistem pemurnian periodik, (semisal pembersihan dosa, puasa, pengakuan dosa) dan regenerasi hidup periodik. Dengan mengasumsikan sebagai penciptaan baru, yakni pengulangan aksi kosmogonik dan menimbulkan persoalan tentang pembebasan "sejarah" 

Sakralitas waktu menjadi bagian penting manakala setiap perayaan keagamaan, waktu peribadatan, reaktualisasi kejadian-kejadian sakral yang terjadi pada zaman mitos (permulaan) dapat mewujud dalam kehidupan sehari-hari kita. Upaya mereaktualisai kosmogoni hadir dalam perayaan tahun baru.

Pasalnya, meindikasikan waktu diulang lagi mulai dari awal, yakni retsorsi waktu primordial, murni ada pada saat penciptaan sekaligus peserta pesta dapat menemukan kembali kelahiran pertama dari waktu sakral. Inilah menjadi alasan tahun baru merupakan kesempatan untuk pemurnian untuk penghapusan dosa, pengusiran setan (tolakbala), bukan sekedar penghapusan dosa. 

Sir George Frazer dalam The Golden Bough yang berjudul The Scapegoat, prosesi pengusiran setan, dosa dan penyakit ini mewujud dalam ritus; puasa, pembersihan badan dan pemurnian; pemadaman api dan secara ritual menyalakannya dalam bagian kedua upacara; pengusiran setan melalui bunyi-bunyian (terompet), tangisan, pemukulan (pintu, kohkol, bedug) yang diikuti dengan pengejarannya melalui perkampungan dengan kebisingan dan hullaboloo (tolakbala); pengusiran ini dapat dilaksanakan dalam bentuk pepohonan, hewan dan manusia.

Dengan demikian, festival tahun baru ini hanya mengulang waktu asali (kosmik), mengaktualisasikan kosmogoni, perjalanan dari kekacauan (chaos) menuju keteraturan dan keharmonisan (cosmos). 

Mari kita lihat peringatan tahun baru Babylonia, Akitu dapat dilaksanakan pada saat siang dan malam, lamanya sama di musim semi (the spiring equinox), di bulan Nisa dan di musim gugur (the autumnal equinox) di bulan Tisrit. 

Selama berlangsung perayaan akitu yang berlangsung secara dua belas tahun, apa yang disebut epik penciptaan, Enuma elis diceritakan secara sungguh-sungguh beberapa kali di kuil Marduk. Demikinalah pertarungan antara Madruk dan raksas laut Tiamat direaktualisasikan-pertarungan yang berlangsung in illo tempore yang mengakhiri kekacauan melalui kemenangan akhr dewa. Marduk menciptakan kosmos dari potongan badan Tiamat yang hancur dan menciptakan manusia dari darah demon Kingu, makhluk yang diciptakan oleh Tiamat untuk menyimpan Tablet Nasib (Enuma elis, VI, 33). 

Peringatan atas penciptaan pada hakikatnya merupakan reaktualisasi aksi kosmogonik, perjalanan dari kekacauan (chaos) menuju keteraturan (cosmos) yang dinyatakan baik oleh ritual maupun mantera yang dilantunkan selama upacara berlangsung. Peristiwa istiknya muncul "semoga dia terus menundukkan Tiamat dan memperpendek harinya" seru orang yang melakukan upacara. Pertempuran, kemenangan dan penciptaan berlangsung pada saat itu juga. 

Bagi A. J Wesinck, sarjana Belanda berpendapat fenomena ini menunjukkan adanya simetri antara berbagai sistem mythioco-ceremonial tahun baru di seluruh dunia semitik; dalam setiap sistem ini kita menemukan ide-ide pokok tentang kembalinya kekacauan secara tahunan yang diikuti oleh penciptaan baru. 

Kontruksi waktu kosmik melalui pengulangan kosmogoni secara lebih jelas lagi ditunjukkan oleh simbolisme pengorbanan Brahmanik. Setiap korban Brahmanik menandakan penciptaan baru dunia. (bandingkan, misalnya Satapatha Brahmana, vi,5,1 ff).

Peristiwa ini telah menemukan pada setiap korban Brahman itu mereaktualisaikan aksi kosmogonik arrketifipis dan kejadian antara waktu mistik dengan sekarang mengasumsikan pembebesan waktu profan dan regenerasi dunia yang terus menerus. (Mircea Eliade, 2002; 53-96).

Bahaya! Jangan Nyalakan Kembang Api Setelah Pakai Hand Sanitizer (Sumber: Ayobandung.com | Foto: M. Naufal Hafizh)
Bahaya! Jangan Nyalakan Kembang Api Setelah Pakai Hand Sanitizer (Sumber: Ayobandung.com | Foto: M. Naufal Hafizh)

Asal-Usul Kembang Api yang Membara

Sebagian besar sejarawan meyakini kembang api pertama kali ditemukan di China, meskipun ada pendapat lain yang menyebut Timur Tengah, India. Penemuan ini terjadi secara tidak sengaja sekitar tahun 800 M, ketika para ahli kimia China mencampurkan kalium nitrat, sulfur, dan arang untuk mencari ramuan kehidupan kekal.

Campuran ini justru menghasilkan mesiu mentah yang kelak mengubah sejarah. Setelah diketahui dapat menimbulkan ledakan, masyarakat Tionghoa memanfaatkan bunyi kerasnya yang dipercaya mampu mengusir roh jahat.

Kembang api pertama dibuat dengan memasukkan mesiu ke dalam batang bambu yang dilemparkan ke api hingga meledak. Seiring perkembangan teknologi, batang bambu digantikan oleh tabung kertas dan sumbu dari kertas tisu mulai digunakan.

Pada abad ke-10, mesiu mulai dimanfaatkan sebagai senjata perang, seperti petasan yang dipasang pada anak panah. Dua abad dari itu, teknologi ini berkembang menjadi roket yang dapat diluncurkan tanpa panah, menjadi dasar pertunjukan kembang api modern.

Kembang api dikenal di Eropa melalui Marco Polo pada tahun 1295, mesiu telah lebih dulu dikenal saat Perang Salib. Pada abad ke-13, penyebaran mesiu semakin luas melalui jalur diplomasi, eksplorasi, dan misi keagamaan.

Bangsa Eropa mengembangkan mesiu untuk keperluan militer, dengan tetap mempertahankan kembang api sebagai bagian dari perayaan. Di Inggris, kembang api menjadi hiburan kerajaan, tercatat dalam pernikahan Raja Henry VII pada 1486 dan Kaisar Rusia Peter the Great menggelar pertunjukan besar untuk merayakan kelahiran putranya.

Pada era Renaisans, sekolah-sekolah piroteknik berkembang di Eropa dengan Italia sebagai pelopor inovasi. Pada 1830-an, penggunaan logam dan bahan kimia memungkinkan terciptanya warna-warna cerah seperti merah, hijau, biru, dan kuning. Teknologi ini dibawa ke Amerika, dengan pertunjukan pertama tercatat pada 1608 di Jamestown. Sejak 4 Juli 1777, kembang api menjadi bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan Amerika.

Meski demikian, kekhawatiran akan keselamatan membuat berbagai wilayah menerapkan larangan dan regulasi ketat, aturan yang hingga kini masih berlaku di banyak negara. (Tempo, 31 Desember 2024).

Sekelompok anak bermain petasan (Sumber: ayobandung.com | Foto: Administrator)
Sekelompok anak bermain petasan (Sumber: ayobandung.com | Foto: Administrator)

Petasan Buang Kesialan, Bawa Keberuntungan

Petasan berkembang sebagai simbol peringatan sekaligus pertanda keberhasilan dalam berbagai peristiwa penting. Dalam tradisi perayaan Tahun Baru China, petasan dipercaya membawa keberuntungan sebagai penanda dimulainya tahun yang baru. Secara historis, petasan pertama kali ditemukan pada abad ke-2 sebelum Masehi di wilayah Liuyang kuno, Tiongkok, dengan bahan utama berupa bubuk mesiu.

Pada mulanya, masyarakat Tionghoa menggunakan petasan sebagai sarana untuk mengusir roh jahat. Seiring waktu, fungsi ini berkembang menjadi simbol perayaan dan keberhasilan dalam beragam acara, seperti pernikahan, upacara kematian, kemenangan perang, hingga perayaan keagamaan (Kompas, 25 Januari 2025).

Untuk konteks Tahun Baru dalam tradisi China, setiap aktivitas perdagangan secara tradisional diawali dengan pembakaran petasan. Ritual ini bertujuan untuk menyingkirkan nasib buruk dan pengaruh jahat yang diyakini dapat menghambat kelancaran usaha. Petasan tidak hanya dimaknai sebagai simbol keberuntungan, melainkan menjadi bagian dari rangkaian upacara sembahyang guna memohon restu dan berkat dari para dewa.

Masyarakat Tionghoa meyakini ihwal keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kepandaian, perencanaan, dan kerja keras, justru dipengaruhi oleh faktor nasib. Walhasil, momentum Tahun Baru dimanfaatkan untuk membuang kesialan yang berpotensi dapat menimbulkan kerugian. Tradisi ini dilakukan melalui ritual mandi “limau bali” (jeruk bali), upacara sembahyang untuk memohon pertolongan dewa kekayaan, Tsai Shen Yeh, yang disembah secara khusus pada setiap awal Tahun Baru (Wan Seng Ann, 2007:118).

Untuk perayaan Tahun Baru 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melarang masyarakat menyalakan kembang api maupun petasan pada malam pergantian tahun. Pasalnya, kebijakan ini sejalan dengan imbauan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), yang mengajak masyarakat mengisi malam tahun baru dengan kegiatan yang lebih positif dan bermakna. Warga diharapkan memanfaatkan momen berharga ini untuk mempererat kebersamaan, seperti menghabiskan waktu bersama keluarga, makan bersama, menggelar doa bersama.

Muhammad Farhan, menegaskan larangan menyalakan kembang api dan petasan dengan merujuk pada peraturan yang telah lama berlaku dan aturan ini diberlakukan di seluruh wilayah Kota Bandung tanpa pengecualian, guna menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan masyarakat.

Saat membaca himbauan ini, tanpa disadari bocah kelas lima itu berkata, “Bah ga seru ya tidak ada kembang api dan petasan? Cag Ah!  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)