Terompet, Kembang Api, dan Petasan

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Ilustrasi keramaian tahun baru. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi keramaian tahun baru. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sore itu cerah. Baru saja pulang kerja, sudah disambut anak ketiga Kakang yang menunggu di depan pintu masuk. “Bah, bawa kertas buat menggambar, kan?” katanya.

Kujawab singkat, “Muhun.”

Tak lama, Aa Akil, anak kedua, ikut nimbrung dengan pertanyaan polosnya, “Kenapa sih tiap tahun baru selalu ada petasan dan bunyi terompet?”

"Tos jadi kebiasaan A!" ujarku.  

Geliat Produksi Terompet di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Geliat Produksi Terompet di Kabupaten Bandung (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Tradisi Terompet

Rasanya tak afdhal bila pergantian (malam) tahun baru tidak dibarengi dengan turun ke jalan-jalan; peniupan terompet; petasan kembang api; kumpul-kumpul sambil bakar-bakar ikan, ayam, jagong, ubi; pesta pora di tempat hiburan.

Gegap-gempina ini mendakan pergantian tahun dimulai. Pelbagai harapan dan semangat hidup untuk diniatkan sejak ditiupkan terompet supaya selasar, damai, aman dan terhindar dari segala marabahaya dalam menjalani kehidupan yang sedang dilanda petaka dari Tuhan atas kesombongan dan kelaliman umat manusia. 

Menilik pesta sejagat tidak hanya momentum untuk berpesta, berhura-hura, tetapi sarat dengan tradisi keagamaan (kaum pagan, Kristen, Yahudi dan tradisi China). Tradisi meniup terompet pada mulanya merupakan cara orang-orang kuno untuk mengusir setan. Orang-orang Yahudi belakangan melakukan itu sebagai kegiatan ritual yang dimaknai sebagai gambaran ketika Tuhan menghancurkan dunia. 

Mereka melakukan ritual meniup terompet ini pada waktu perayaan tahun baru Yahudi, Rosh Hashanah, yang berarti "Hari Raya Terompet", biasa jatuh pada bulan September (Oktober). Bentuk terompet yang melengkung melambangkan tanduk domba yang dikorbankan dalam peristiwa pengorbanan Isaac (Nabi Ishaq dalam tradisi Muslim). 

Dalam kepercayaan China perayaan pesta petasan, kembang api dan terompet menjadi syarat mutlak untuk perayaan. Mengingat ritual ini tidak hanya untuk mengusir setan tetapi dipercaya dapat mendatangkan keberuntungan, kebahagiaan dan kemakmuran. (Pikiran Rakyat, 30/12/2010)

Kerinduan untuk menghadirkan kembali waktu mitos (mythical time) primordial (masehi) petanda manusia tradisional (homo religious). Ini dikemukakan Mircea Eliade (1907-1986) pakar studi agama-agama dan fenomenologi saat memotret masyarakat arkais (purba) cenderung untuk hidup sebisa mungkin dalam kesakralan dan dekat dengan objek suci dan pusat dunia. 

Ingat, kebanyakan masyarakat primitif, tahun baru itu ekuivalen dengan munculnya taboo pada panen baru yang dengan demikian dinyatakan dapat dimakan dan tidak berbahaya bagi seluruh masyarakat. 

Ketika berbagai spesies gandum, buah-buahan ditanam, menua dengan berhasil pada musim yang berbeda, kita seringkali menemukan berbagai festival Tahun Baru. Ini berarti pembagian waktu ditentukan oleh ritual yang menjamin kesinambungan hidup masyarakat dalam keseluruhannya. 

Penerimaan tahun matahari sebagai unit waktu, pada mulanya berasal dari Mesir. Mayoritas kebudayaan yang lain --dan Mesir sendiri sampai periode tertentu-- menggunakan tahun yang berdasarkan bulan dan matahari sekaligus memiliki 360 hari dengan 12 bulan yang masing-masing terdiri atas 30 hari yang di dalamnya ditambahkan lima hari pada bulan tertentu. 

Orang Indian Zuni menyebut bulan dengan "langkah tahun" dan tahun sebagai "bagian waktu". Awal tahun berbeda-beda dari satu negara ke negara lain juga dalam periode yang berbeda, kalender mereformasi pengenalan yang terus-menerus untuk membuat makna ritual festival cocok dengan musim yang dianggap sesuai. Sekalipun demikian, baik instabilitas maupun kebebasan permulaan Tahun Baru (Maret-April, 19 Juli-seperti di Mesir Kuno-September, Oktober, Desember-Januari dan sebagainya). 

Indahnya Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Indahnya Masjid Raya Al Jabbar. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sakralitas waktu

Konsep tentang akhir dan awal periode waktu berdasarkan atas pengamatan ritme biokosmis dan membentuk bagian sistem yang lebih besar-sistem pemurnian periodik, (semisal pembersihan dosa, puasa, pengakuan dosa) dan regenerasi hidup periodik. Dengan mengasumsikan sebagai penciptaan baru, yakni pengulangan aksi kosmogonik dan menimbulkan persoalan tentang pembebasan "sejarah" 

Sakralitas waktu menjadi bagian penting manakala setiap perayaan keagamaan, waktu peribadatan, reaktualisasi kejadian-kejadian sakral yang terjadi pada zaman mitos (permulaan) dapat mewujud dalam kehidupan sehari-hari kita. Upaya mereaktualisai kosmogoni hadir dalam perayaan tahun baru.

Pasalnya, meindikasikan waktu diulang lagi mulai dari awal, yakni retsorsi waktu primordial, murni ada pada saat penciptaan sekaligus peserta pesta dapat menemukan kembali kelahiran pertama dari waktu sakral. Inilah menjadi alasan tahun baru merupakan kesempatan untuk pemurnian untuk penghapusan dosa, pengusiran setan (tolakbala), bukan sekedar penghapusan dosa. 

Sir George Frazer dalam The Golden Bough yang berjudul The Scapegoat, prosesi pengusiran setan, dosa dan penyakit ini mewujud dalam ritus; puasa, pembersihan badan dan pemurnian; pemadaman api dan secara ritual menyalakannya dalam bagian kedua upacara; pengusiran setan melalui bunyi-bunyian (terompet), tangisan, pemukulan (pintu, kohkol, bedug) yang diikuti dengan pengejarannya melalui perkampungan dengan kebisingan dan hullaboloo (tolakbala); pengusiran ini dapat dilaksanakan dalam bentuk pepohonan, hewan dan manusia.

Dengan demikian, festival tahun baru ini hanya mengulang waktu asali (kosmik), mengaktualisasikan kosmogoni, perjalanan dari kekacauan (chaos) menuju keteraturan dan keharmonisan (cosmos). 

Mari kita lihat peringatan tahun baru Babylonia, Akitu dapat dilaksanakan pada saat siang dan malam, lamanya sama di musim semi (the spiring equinox), di bulan Nisa dan di musim gugur (the autumnal equinox) di bulan Tisrit. 

Selama berlangsung perayaan akitu yang berlangsung secara dua belas tahun, apa yang disebut epik penciptaan, Enuma elis diceritakan secara sungguh-sungguh beberapa kali di kuil Marduk. Demikinalah pertarungan antara Madruk dan raksas laut Tiamat direaktualisasikan-pertarungan yang berlangsung in illo tempore yang mengakhiri kekacauan melalui kemenangan akhr dewa. Marduk menciptakan kosmos dari potongan badan Tiamat yang hancur dan menciptakan manusia dari darah demon Kingu, makhluk yang diciptakan oleh Tiamat untuk menyimpan Tablet Nasib (Enuma elis, VI, 33). 

Peringatan atas penciptaan pada hakikatnya merupakan reaktualisasi aksi kosmogonik, perjalanan dari kekacauan (chaos) menuju keteraturan (cosmos) yang dinyatakan baik oleh ritual maupun mantera yang dilantunkan selama upacara berlangsung. Peristiwa istiknya muncul "semoga dia terus menundukkan Tiamat dan memperpendek harinya" seru orang yang melakukan upacara. Pertempuran, kemenangan dan penciptaan berlangsung pada saat itu juga. 

Bagi A. J Wesinck, sarjana Belanda berpendapat fenomena ini menunjukkan adanya simetri antara berbagai sistem mythioco-ceremonial tahun baru di seluruh dunia semitik; dalam setiap sistem ini kita menemukan ide-ide pokok tentang kembalinya kekacauan secara tahunan yang diikuti oleh penciptaan baru. 

Kontruksi waktu kosmik melalui pengulangan kosmogoni secara lebih jelas lagi ditunjukkan oleh simbolisme pengorbanan Brahmanik. Setiap korban Brahmanik menandakan penciptaan baru dunia. (bandingkan, misalnya Satapatha Brahmana, vi,5,1 ff).

Peristiwa ini telah menemukan pada setiap korban Brahman itu mereaktualisaikan aksi kosmogonik arrketifipis dan kejadian antara waktu mistik dengan sekarang mengasumsikan pembebesan waktu profan dan regenerasi dunia yang terus menerus. (Mircea Eliade, 2002; 53-96).

Bahaya! Jangan Nyalakan Kembang Api Setelah Pakai Hand Sanitizer (Sumber: Ayobandung.com | Foto: M. Naufal Hafizh)
Bahaya! Jangan Nyalakan Kembang Api Setelah Pakai Hand Sanitizer (Sumber: Ayobandung.com | Foto: M. Naufal Hafizh)

Asal-Usul Kembang Api yang Membara

Sebagian besar sejarawan meyakini kembang api pertama kali ditemukan di China, meskipun ada pendapat lain yang menyebut Timur Tengah, India. Penemuan ini terjadi secara tidak sengaja sekitar tahun 800 M, ketika para ahli kimia China mencampurkan kalium nitrat, sulfur, dan arang untuk mencari ramuan kehidupan kekal.

Campuran ini justru menghasilkan mesiu mentah yang kelak mengubah sejarah. Setelah diketahui dapat menimbulkan ledakan, masyarakat Tionghoa memanfaatkan bunyi kerasnya yang dipercaya mampu mengusir roh jahat.

Kembang api pertama dibuat dengan memasukkan mesiu ke dalam batang bambu yang dilemparkan ke api hingga meledak. Seiring perkembangan teknologi, batang bambu digantikan oleh tabung kertas dan sumbu dari kertas tisu mulai digunakan.

Pada abad ke-10, mesiu mulai dimanfaatkan sebagai senjata perang, seperti petasan yang dipasang pada anak panah. Dua abad dari itu, teknologi ini berkembang menjadi roket yang dapat diluncurkan tanpa panah, menjadi dasar pertunjukan kembang api modern.

Kembang api dikenal di Eropa melalui Marco Polo pada tahun 1295, mesiu telah lebih dulu dikenal saat Perang Salib. Pada abad ke-13, penyebaran mesiu semakin luas melalui jalur diplomasi, eksplorasi, dan misi keagamaan.

Bangsa Eropa mengembangkan mesiu untuk keperluan militer, dengan tetap mempertahankan kembang api sebagai bagian dari perayaan. Di Inggris, kembang api menjadi hiburan kerajaan, tercatat dalam pernikahan Raja Henry VII pada 1486 dan Kaisar Rusia Peter the Great menggelar pertunjukan besar untuk merayakan kelahiran putranya.

Pada era Renaisans, sekolah-sekolah piroteknik berkembang di Eropa dengan Italia sebagai pelopor inovasi. Pada 1830-an, penggunaan logam dan bahan kimia memungkinkan terciptanya warna-warna cerah seperti merah, hijau, biru, dan kuning. Teknologi ini dibawa ke Amerika, dengan pertunjukan pertama tercatat pada 1608 di Jamestown. Sejak 4 Juli 1777, kembang api menjadi bagian dari perayaan Hari Kemerdekaan Amerika.

Meski demikian, kekhawatiran akan keselamatan membuat berbagai wilayah menerapkan larangan dan regulasi ketat, aturan yang hingga kini masih berlaku di banyak negara. (Tempo, 31 Desember 2024).

Sekelompok anak bermain petasan (Sumber: ayobandung.com | Foto: Administrator)
Sekelompok anak bermain petasan (Sumber: ayobandung.com | Foto: Administrator)

Petasan Buang Kesialan, Bawa Keberuntungan

Petasan berkembang sebagai simbol peringatan sekaligus pertanda keberhasilan dalam berbagai peristiwa penting. Dalam tradisi perayaan Tahun Baru China, petasan dipercaya membawa keberuntungan sebagai penanda dimulainya tahun yang baru. Secara historis, petasan pertama kali ditemukan pada abad ke-2 sebelum Masehi di wilayah Liuyang kuno, Tiongkok, dengan bahan utama berupa bubuk mesiu.

Pada mulanya, masyarakat Tionghoa menggunakan petasan sebagai sarana untuk mengusir roh jahat. Seiring waktu, fungsi ini berkembang menjadi simbol perayaan dan keberhasilan dalam beragam acara, seperti pernikahan, upacara kematian, kemenangan perang, hingga perayaan keagamaan (Kompas, 25 Januari 2025).

Untuk konteks Tahun Baru dalam tradisi China, setiap aktivitas perdagangan secara tradisional diawali dengan pembakaran petasan. Ritual ini bertujuan untuk menyingkirkan nasib buruk dan pengaruh jahat yang diyakini dapat menghambat kelancaran usaha. Petasan tidak hanya dimaknai sebagai simbol keberuntungan, melainkan menjadi bagian dari rangkaian upacara sembahyang guna memohon restu dan berkat dari para dewa.

Masyarakat Tionghoa meyakini ihwal keberhasilan usaha tidak hanya ditentukan oleh kepandaian, perencanaan, dan kerja keras, justru dipengaruhi oleh faktor nasib. Walhasil, momentum Tahun Baru dimanfaatkan untuk membuang kesialan yang berpotensi dapat menimbulkan kerugian. Tradisi ini dilakukan melalui ritual mandi “limau bali” (jeruk bali), upacara sembahyang untuk memohon pertolongan dewa kekayaan, Tsai Shen Yeh, yang disembah secara khusus pada setiap awal Tahun Baru (Wan Seng Ann, 2007:118).

Untuk perayaan Tahun Baru 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung melarang masyarakat menyalakan kembang api maupun petasan pada malam pergantian tahun. Pasalnya, kebijakan ini sejalan dengan imbauan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi (KDM), yang mengajak masyarakat mengisi malam tahun baru dengan kegiatan yang lebih positif dan bermakna. Warga diharapkan memanfaatkan momen berharga ini untuk mempererat kebersamaan, seperti menghabiskan waktu bersama keluarga, makan bersama, menggelar doa bersama.

Muhammad Farhan, menegaskan larangan menyalakan kembang api dan petasan dengan merujuk pada peraturan yang telah lama berlaku dan aturan ini diberlakukan di seluruh wilayah Kota Bandung tanpa pengecualian, guna menjaga ketertiban, keamanan, dan kenyamanan masyarakat.

Saat membaca himbauan ini, tanpa disadari bocah kelas lima itu berkata, “Bah ga seru ya tidak ada kembang api dan petasan? Cag Ah!  (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Mayantara 25 Agu 2026, 10:04

Ketika Visual Menjadi Mata Uang di Ruang Digital

Di media sosial, perhatian telah berubah menjadi semacam mata uang baru.

Pengguna media sosial. (Sumber: Pexels | Foto: Ivan S)
Ayo Netizen 25 Agu 2026, 08:57

Cerita Pedagang Asongan di Bus MGI Bandung-Sukabumi

Banyak cerita kehidupan rakyat yang terdengar dari percakapan sederhana di transportasi umum. Untuk mengerti orang lain kadang kita perlu melihatnya sendiri.

Setiap orang yang kita temui pasti memiliki cerita dan tantangan hidupnya sendiri. Begitu juga dengan mereka yang berjuang menawarkan dagangannya di dalam bus (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)