Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

10 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar. Hidangan ini adalah pilar identitas sekaligus sajian sakral yang hampir selalu ada dalam momen-momen penting kehidupan masyarakat Sunda. Lebih dari sekadar makanan, Ayam Bekakak adalah simbol keharmonisan antara seni memasak, keindahan penyajian, dan tradisi lokal yang merekatkan silaturahmi serta nilai-nilai spiritual.

Secara bahasa dan wujudnya, istilah bakakak menggambarkan cara pemotongan dan penyajian ayam secara utuh. Ayam dibelah dari bagian dada hingga perut tanpa memutuskan punggungnya, lalu dibentangkan lebar-lebar. Hasilnya, bentuk ayam terlihat seperti orang yang sedang duduk bersila (dangkak dalam bahasa Sunda). Tampilannya yang megah dan berwibawa ini langsung mencuri perhatian saat disajikan di atas tampah tradisi.

Untuk urusan bahan, ada satu aturan wajib yang tak bisa ditawar: harus memakai ayam kampung jantan, bukan ayam potong (broiler). Secara ilmiah, ayam kampung punya serat daging yang lebih padat dan kokoh karena aktif bergerak. Struktur daging seperti inilah yang membuat Ayam Bekakak tahan diungkep perlahan (slow simmering) selama 45–60 menit tanpa bikin dagingnya hancur atau lepas dari tulang. Jika menggunakan ayam potong yang tinggi air dan lemak, dagingnya bakal cepat hancur sebelum bumbu sempat meresap sempurna.

Bentuk dibentangkan (didangkakkeun) yang khas beserta pemilihan bahan yang presisi ini bukan hanya soal estetika, melainkan juga sejarah panjang. Konon, bentuk unik ini berakar dari simbol kurban dalam ritual-ritual keagamaan masa lalu.

Etimologi dan Trajektori Historis

Evolusi Ayam Bekakak tidak lepas dari pertautan antara akar kebahasaan, kosmologi kuno Nusantara, dan dinamika jalur rempah. Dalam pandangan hidup Sunda, makanan dipahami melalui tingkatan kosmologis yang berjenjang: berawal dari tata salira (penataan diri), tata krama (etika sosial), tata negara (ketertiban sosial), hingga berlanjut ke tata surya (keselarasan alam semesta). Kebudayaan kuliner Sunda menempatkan pengolahan makanan sebagai tata kuliner—sebuah media yang menghubungkan mikrokosmos manusia dengan makrokosmos spiritual.

Secara etimologis, kata bekakak atau bakakak terikat erat dengan makna dasar "korban penyembelihan" (korban penyembelihan hewan atau manusia). Makna ini terdokumentasikan secara rinci dalam khazanah leksikografi bersejarah. Dalam Kamus Bahasa Sunda-Belanda (1913) karya Sierk Coolsma, bakakak didefinisikan sebagai:

"Naam van een schaap, kip of ander klein dier, dat na geslacht en gereinigd te zijn, opengespreid en in zijn geheel aan het vuur gebraden is" (Nama untuk domba, ayam, atau hewan kecil lainnya, yang setelah disembelih dan dibersihkan, dibelah/dibentangkan dan dipanggang secara utuh di atas api).

Definisi ini diperdalam dan dispesifikasikan oleh R.A. Danadibrata dalam Kamus Basa Sunda (2006): "Panggang hayam hiji nu beunang meulah palebah dada nepi kana beuteungna n.k saperti nu didangkakkeun; hayam dipakéna dina ngarewahkeun, dina upacara kapercayaan d.a dina huap-lingkung, dina sunatan jsté."

Penjelasan R.A. Danadibrata mengonfirmasi bahwa bentuk penyajian ayam yang dibelah menyerupai orang bersila (didangkakkeun) bukan sekadar teknik pemotongan teknis, melainkan wujud simbolis sakral yang digunakan dalam upacara kepercayaan, seperti huap-lingkung pada pernikahan dan khitanan.

Dari perspektif sejarah ritual Nusantara, penggunaan hewan utuh sebagai persembahan berakar dari era kepercayaan Kapitayan kuno yang mengagungkan prinsip Tan Kena Kinaya Ngapa—Zat Ilahi Tertinggi yang tidak dapat didefinisikan atau digambarkan. Dalam kosmologi Kapitayan, daya Ilahi diwujudkan melalui titik-titik spiritual yang dihormati dengan menyajikan tumpeng (merepresentasikan unsur tumbuhan/tumbu) dan ayam tukung atau ingkung (merepresentasikan unsur hewani).

Transformasi penting dari praktik persembahan kuno menjadi hidangan konsumsi sosial tercatat dalam sejarah Islamisasi Nusantara. Sebagaimana dijelaskan dalam karya KH. Agus Sanyoto, Atlas Wali Songo, Sunan Bonang saat berdakwah di wilayah Singkal, Kediri, menerapkan strategi adaptasi kebudayaan secara damai.

Untuk mengikis tradisi penumbalan ekstrem (seperti korban darah atau manusia), Sunan Bonang mengalihkan konsep tumbal tersebut menjadi sajian keselamatan (slamatan) berupa tumpeng dan ayam utuh (ingkung/tukung) yang dapat dikonsumsi bersama oleh masyarakat. Adaptasi kebudayaan ini kemudian terintegrasi dan disempurnakan di Tatar Pasundan menjadi bakakak hayam, mengubah makna korban spiritual menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Evolusi profil rasa Ayam Bekakak tidak terlepas dari trajektori niaga bumbu lintas zaman di Nusantara. Sebelum abad ke-10, sebagaimana diteliti oleh Titi Nastiti, komoditas bumbu asli yang lazim dipasarkan meliputi lengkuas, daun salam, serai, dan jahe. Rasa pedasnya tidak bersumber dari cabai modern, melainkan dari jahe merah, jahe gajah, merica lokal, serta cabai jawa. Pada era ini pula, penggunaan garam di Nusantara mulai berkembang—berawal dari ditemukannya kristal-kristal garam secara tidak sengaja di permukaan ikan yang dijemur.

Lanskap rasa tersebut berubah drastis memasuki abad ke-12 hingga ke-16 seiring maraknya perdagangan asing dan akulturasi budaya. Saudagar India memperkenalkan gula merah, bawang merah, serta teknologi budidaya padi, sementara pedagang Arab membawa rempah kering seperti kemiri dan ketumbar. Adapun bawang putih mulai dikenal luas melalui perantara saudagar Cina.

Di sisi lain, kontak niaga internasional melahirkan revolusi rasa pedas melalui hadirnya berbagai varietas cabai baru dari genus Capsicum. Cabai keriting masuk via jaringan niaga India, cabai merah dan cabai gendot dibawa oleh pedagang Portugis yang melintasi Pelabuhan Sunda, sedangkan cabai katokkon dari Sulawesi masuk melalui rute perdagangan Spanyol.

Kehadiran varietas cabai baru ini secara perlahan menggeser kepopuleran cabai jawa, jahe, dan merica sebagai penentu sensasi pedas utama. Pada akhirnya, dinamika pasokan bumbu lintas zaman inilah yang mematangkan komposisi racikan bumbu khas Ayam Bekakak hingga seperti yang kita kenal sekarang.

Racikan Rempah, Teknik Memasak, dan Profil Rasa

Pengolahan Ayam Bekakak membutuhkan ketelitian teknis dan penguasaan rasio rempah untuk menghasilkan perpaduan cita rasa gurih, manis, aromatik, serta sedikit pedas yang meresap hingga ke serat daging terdalam. Keseimbangan rasa ini dicapai melalui metodologi memasak dua tahap terintegrasi: proses ungkep dan pemanggangan perlahan (slow grilling).

Proses memasak diawali dengan tahap ungkep, yaitu merebus karkas ayam utuh yang telah dibelah didangkakkeun di dalam racikan bumbu halus, bumbu aromatik, dan cairan berupa air atau santan. Tahap ini berlangsung selama 45 hingga 60 menit dengan api sedang. Pengungkepan yang terkontrol memungkinkan penetrasi bumbu meresap ke dalam jaringan otot ayam kampung yang padat, sekaligus melembutkan tekstur daging tanpa merusak keutuhan karkas.

Setelah kuah menyusut dan bumbu meresap, ayam diangkat untuk memasuki tahap pemanggangan di atas api arang kayu. Selama pemanggangan, permukaan ayam diolesi secara berkala (basting) dengan sisa bumbu reduksi ungkep yang kaya akan gula aren dan santan. Dari sudut pandang kimia gastronomi, interaksi antara gula aren (sukrosa) dan asam amino daging di bawah paparan panas bara api memicu reaksi Maillard yang berjalan sejajar dengan karamelisasi gula.

Pada saat yang sama, lemak kelapa dari santan meleleh (rendering) menjadi minyak alami. Sinergi kimia ini menghasilkan lapisan luar yang mengilap (glossy), sedikit karamelized, beraroma smokey, dengan bagian dalam daging yang tetap basah dan lembut (juicy). Penggunaan santan ini sendiri berakar dari tradisi masyarakat pesisir Nusantara yang memanfaatkan ekstraksi minyak kelapa—di mana krim santan dipanaskan hingga menghasilkan minyak dan ampas kelapa (galendo)—sebagai teknik pengawetan alami.

Struktur komponen bumbu pembentuk profil rasa Ayam Bekakak terbagi ke dalam dua kategori utama, yaitu bumbu halus dan bumbu aromatik berbasis cairan. Bumbu halus yang diulek berfungsi sebagai fondasi utama cita rasa. Bawang merah dan bawang putih hadir menciptakan basis rasa gurih yang kaya aroma umami alami. Untuk urusan visual dan sensasi pedas yang halus, digunakan perpaduan cabai merah besar dan cabai keriting yang memberi warna merah kecokelatan nan memikat.

Kemiri sangrai menyuplai minyak alami yang memperkaya tekstur gurih sekaligus mengentalkan bumbu. Sementara itu, kunyit bakar membedah aroma amis dengan warna kuning keemasannya, berpadu harmonis dengan jahe yang memberikan efek hangat menyegarkan serta ketumbar yang memperkaya aroma herbal.

Keseluruhan rasa ini disempurnakan oleh garam sebagai penegas spektrum rasa, serta gula merah atau gula aren sebagai elemen penyeimbang vital yang menghadirkan sentuhan manis legit khas Pasundan sekaligus memicu proses karamelisasi yang sempurna saat ayam dibakar.

Kategori kedua adalah bumbu aromatik dan media cairan (liquid base) yang bekerja selama proses memasak. Serai geprek melepaskan ekstrak citral yang segar, bersanding dengan lengkuas geprek yang menyumbang aroma kayu (earthy) serta daun salam dengan nuansa herbalnya yang lembut.

Seluruh rempah ini dipadukan dengan air atau santan sebagai media perambat panas saat proses mengungkep. Penggunaan santan secara khusus menghasilkan cita rasa yang jauh lebih gurih, kaya, dan memberikan kilau menawan pada permukaan ayam setelah dipanggang.

Peran Tradisi dalam Ritual Adat Lifecycle Sunda

Dalam pandangan hidup masyarakat Sunda, Ayam Bekakak tidak lagi diperlakukan sebagai barang konsumsi harian, melainkan dinaikkan statusnya menjadi peranti ritual yang wajib hadir dalam momen-momen kritis peralihan kehidupan manusia (lifecycle rites).

Tradisi Tarik Bakakak atau Patarik-tarik Bakakak dalam pernikahan adat Sunda. (Sumber: IG annisharz)
Tradisi Tarik Bakakak atau Patarik-tarik Bakakak dalam pernikahan adat Sunda. (Sumber: IG annisharz)

Alur prosesi penyajian Ayam Bekakak dalam ritual adat Sunda diselenggarakan secara terstruktur, menyesuaikan konteks ritus kehidupan yang tengah dirayakan.

Dalam upacara pernikahan, Ayam Bekakak menjadi bagian inti dari ritus pelaminan. Setelah akad nikah usai, hidangan ini disajikan utuh di atas piring ceper tanpa nasi di hadapan kedua mempelai. Momen puncak terjadi pada tahap Patarik-tarik Bakakak, ketika pengantin pria dan wanita memegang kedua sisi karkas ayam secara bersamaan lalu menariknya hingga terbelah. Mempelai yang mendapatkan potongan lebih besar dipercaya secara simbolis akan menjadi penarik rezeki utama dalam rumah tangga. Setelah itu, masuklah tahap Uap Lingkung, di mana potongan ayam tersebut digunakan untuk saling menyuapi. Ritus saling menyuapi ini melambangkan kasih sayang, kesetaraan, sikap saling melengkapi, serta keseimbangan dalam mengelola rezeki pernikahan.

Sementara itu, dalam upacara khitanan sebagai ritus pendewasaan, Ayam Bekakak disajikan utuh di atas piring ceper khusus bagi anak yang baru dikhitan (pengantin sunat), lengkap dengan pendamping nasi kuning dan aneka jajanan pasar. Penyajian ini memegang fungsi ganda. Secara psikologis, keistimewaan hidangan ini hadir untuk menghibur sekaligus mengembalikan rasa percaya diri anak pascaprosedur khitan. Secara fisik, asupan protein tinggi berpadu dengan kandungan rempah di dalamnya bertindak sebagai penawar rasa sakit alami yang memulihkan stamina serta mempercepat proses penyembuhan.

Kehadiran sakral Ayam Bekakak dalam mengiringi setiap fase kehidupan manusia tak lepas dari saratnya makna filosofis serta spiritual yang tersimpan di dalam setiap elemen hidangannya.

Makna Spiritual, Legitimasi Budaya, dan Adaptasi Modern Ayam Bekakak

Konstruksi makna Ayam Bekakak berdiri di atas landasan kosmologi spiritual, simbolisme moral, hingga pengakuan budaya yang terus beradaptasi melintasi zaman. Pemilihan ayam jantan (ayam jago) sebagai bahan utama memuat pesan spiritual mendalam.

Secara simbolis, ayam jantan mewakili sifat keangkuhan, kesombongan, dan egoisme. Penyembelihannya dalam ritual menjadi metafora penyucian diri, yakni ajakan bagi manusia untuk 'menumbalkan' sifat buruk tersebut sebelum melangkah ke jenjang kehidupan baru, baik dalam pernikahan maupun kedewasaan pasca-khitan.

Di samping itu, dalam kepercayaan sebagian masyarakat Sunda seperti di kawasan Pandeglang, Banten, ayam jantan juga diyakini memiliki daya spiritual sebagai penolak bala—sebuah sarana untuk memohon keselamatan dari gangguan roh jahat, menolak nasib buruk, serta memohon restu leluhur agar kelancaran kenduri tetap terjaga.

Baca Juga: Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Selain sarat makna sakral, wujud Ayam Bekakak yang disajikan utuh memancarkan nilai sosial dan gotong royong. Proses pembuatannya yang rumit menjadi media perekat silaturahmi antaranggota keluarga dan masyarakat yang terlibat dalam persiapan upacara adat. Keutuhan nilai tradisi ini mendapat pengakuan resmi dari negara dengan ditetapkannya Bakakak Hayam sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2010 dalam kategori Tradisi dan Keterampilan Kerajinan Tradisional khas Tatar Pasundan dan Banten. Pengakuan tersebut menegaskan pentingnya menjaga integritas dan autentisitas kuliner legendaris ini di tengah arus zaman.

Seiring berjalannya waktu dan pesatnya pariwisata kuliner, Ayam Bekakak mengalami transformasi fungsi tanpa kehilangan jati dirinya. Hidangan yang dahulu bersifat eksklusif-sakral kini bertransformasi menjadi centerpiece kuliner populer yang mudah dijumpai di berbagai rumah makan Sunda hingga restoran modern di pusat kota seperti Bandung dan Bogor.

Kunci keberlanjutan Ayam Bekakak di era modern bertumpu pada keseimbangan antara penjagaan tradisi dan fleksibilitas adaptasi; tetap mempertahankan penggunaan ayam kampung jantan utuh demi cita rasa autentik, memanfaatkan teknik memasak modern seperti oven tanpa meninggalkan opsi pemanggangan di atas bara arang kayu untuk aroma smokey yang khas, serta merawat peran gandanya—baik sebagai elemen sakral dalam ritual adat maupun sebagai komoditas unggulan yang memperkuat daya tarik gastronomi Indonesia di mata dunia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Bandung 11 Okt 2026, 21:19

Saksi Bisu Sejarah Sejak 1897, Grand Hotel Preanger Bandung Bertransformasi Jadi Destinasi Heritage Modern

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga.

Di tengah tren heritage tourism dan staycation yang kian diminati, keberadaan bangunan cagar budaya bernilai sejarah tinggi seperti Preanger menjadi aset berharga. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 15:25

Kemacetan Kopo Itu Ada Usainya atau Tidak, sih?

Kemacetan Kopo yang disebabkan oleh keserakahan para pengendara dengan mengambil jalan pengendara lain dari lawan arus dan solusi agar kemacetan bisa berkurang.

Kemacetan di daerah Kopo. (Sumber: infobandungkota via instagram | Foto: Tanty Malia)
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 13:45

Mengapa Jalan di Kebon Gedang Kembali Rusak? Menelusuri Penyebab di Balik Kerusakan Jalan

Jalan di Kebon Gedang kembali rusak meski telah diperbaiki. Artikel ini menelusuri kemungkinan penyebabnya, mulai dari genangan air, drainase, hingga tingginya aktivitas kendaraan.

 Ilustrasi.
Ayo Netizen 11 Okt 2026, 12:37

Citarum Masuk Kamar: Dari Jam 8 Malam Sampai Pagi di Katapang

Banjir Sungai Citarum yang masuk hingga ke kamar warga menjadi potret krisis lingkungan. Artikel ini mengulas penyebab, dampak, dan solusi yang harus dilakukan bersama.

Kondisi rumah di Gang Awug, Katapang, setelah banjir semalam akibat luapan Citarum. Air coklat masih menggenang di dalam rumah. (Sumber: Dokumentasi Warga)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 16:20

Zebra Cross di depan UIN Bandung Kampus 1, Apakah Safe-Crossing?

Kurangnya fasilitas yang memadai dan faktor lainnya, zebra cross di depan UIN Bandung Kampus 1 ternyata tidak termasuk ke dalam kategori safe-crossing.

Pejalan kaki yang menyeberang di zebra cross depan gerbang pintu masuk-keluar UIN Bandung Kampus 1. Difoto pada hari Rabu, 7 Oktober 2026 pukul 06.26 WIB. (Sumber: Dok. Pribadi | Foto: Evira Dwi Shakira)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 14:39

Darurat Kesehatan Mental dan Ruang Komunikasi Terapeutik Melalui Radio

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. Ini membuktikan pemulihan jiwa butuh empati nyata, bukan sekadar engagement digital.

Di tengah kelelahan konten mental health medsos, radio bertransformasi jadi ruang konseling terapeutik. (Sumber: Pexels | Foto: Vie Studio)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 13:19

Jangan Menghukum Saritem karena Reputasinya

Saat nama Saritem disebut, publik tidak hanya membayangkan lokasi geografis di Kota Bandung. Ada citra sosial yang ikut menyeruak, yang terbentuk dari sejarah, pemberitaan, dan percakapan warga. 

Polisi melakukan razia narkoba di Saritem. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)