Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

10 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Highlights

Poin Penting

Quick Read
  • Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

  • Evolusi profil rasa Ayam Bekakak tidak terlepas dari trajektori niaga bumbu lintas zaman di Nusantara. Sebelum abad ke-10, sebagaimana diteliti oleh Titi Nastiti, komoditas bumbu asli yang lazim dipasarkan meliputi lengkuas, daun salam, serai, dan jahe.

  • Alur prosesi penyajian Ayam Bekakak dalam ritual adat Sunda diselenggarakan secara terstruktur, menyesuaikan konteks ritus kehidupan yang tengah dirayakan.

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar. Hidangan ini adalah pilar identitas sekaligus sajian sakral yang hampir selalu ada dalam momen-momen penting kehidupan masyarakat Sunda. Lebih dari sekadar makanan, Ayam Bekakak adalah simbol keharmonisan antara seni memasak, keindahan penyajian, dan tradisi lokal yang merekatkan silaturahmi serta nilai-nilai spiritual.

Secara bahasa dan wujudnya, istilah bakakak menggambarkan cara pemotongan dan penyajian ayam secara utuh. Ayam dibelah dari bagian dada hingga perut tanpa memutuskan punggungnya, lalu dibentangkan lebar-lebar. Hasilnya, bentuk ayam terlihat seperti orang yang sedang duduk bersila (dangkak dalam bahasa Sunda). Tampilannya yang megah dan berwibawa ini langsung mencuri perhatian saat disajikan di atas tampah tradisi.

Untuk urusan bahan, ada satu aturan wajib yang tak bisa ditawar: harus memakai ayam kampung jantan, bukan ayam potong (broiler). Secara ilmiah, ayam kampung punya serat daging yang lebih padat dan kokoh karena aktif bergerak. Struktur daging seperti inilah yang membuat Ayam Bekakak tahan diungkep perlahan (slow simmering) selama 45–60 menit tanpa bikin dagingnya hancur atau lepas dari tulang. Jika menggunakan ayam potong yang tinggi air dan lemak, dagingnya bakal cepat hancur sebelum bumbu sempat meresap sempurna.

Bentuk dibentangkan (didangkakkeun) yang khas beserta pemilihan bahan yang presisi ini bukan hanya soal estetika, melainkan juga sejarah panjang. Konon, bentuk unik ini berakar dari simbol kurban dalam ritual-ritual keagamaan masa lalu.

Etimologi dan Trajektori Historis

Evolusi Ayam Bekakak tidak lepas dari pertautan antara akar kebahasaan, kosmologi kuno Nusantara, dan dinamika jalur rempah. Dalam pandangan hidup Sunda, makanan dipahami melalui tingkatan kosmologis yang berjenjang: berawal dari tata salira (penataan diri), tata krama (etika sosial), tata negara (ketertiban sosial), hingga berlanjut ke tata surya (keselarasan alam semesta). Kebudayaan kuliner Sunda menempatkan pengolahan makanan sebagai tata kuliner—sebuah media yang menghubungkan mikrokosmos manusia dengan makrokosmos spiritual.

Secara etimologis, kata bekakak atau bakakak terikat erat dengan makna dasar "korban penyembelihan" (korban penyembelihan hewan atau manusia). Makna ini terdokumentasikan secara rinci dalam khazanah leksikografi bersejarah. Dalam Kamus Bahasa Sunda-Belanda (1913) karya Sierk Coolsma, bakakak didefinisikan sebagai:

"Naam van een schaap, kip of ander klein dier, dat na geslacht en gereinigd te zijn, opengespreid en in zijn geheel aan het vuur gebraden is" (Nama untuk domba, ayam, atau hewan kecil lainnya, yang setelah disembelih dan dibersihkan, dibelah/dibentangkan dan dipanggang secara utuh di atas api).

Definisi ini diperdalam dan dispesifikasikan oleh R.A. Danadibrata dalam Kamus Basa Sunda (2006): "Panggang hayam hiji nu beunang meulah palebah dada nepi kana beuteungna n.k saperti nu didangkakkeun; hayam dipakéna dina ngarewahkeun, dina upacara kapercayaan d.a dina huap-lingkung, dina sunatan jsté."

Penjelasan R.A. Danadibrata mengonfirmasi bahwa bentuk penyajian ayam yang dibelah menyerupai orang bersila (didangkakkeun) bukan sekadar teknik pemotongan teknis, melainkan wujud simbolis sakral yang digunakan dalam upacara kepercayaan, seperti huap-lingkung pada pernikahan dan khitanan.

Dari perspektif sejarah ritual Nusantara, penggunaan hewan utuh sebagai persembahan berakar dari era kepercayaan Kapitayan kuno yang mengagungkan prinsip Tan Kena Kinaya Ngapa—Zat Ilahi Tertinggi yang tidak dapat didefinisikan atau digambarkan. Dalam kosmologi Kapitayan, daya Ilahi diwujudkan melalui titik-titik spiritual yang dihormati dengan menyajikan tumpeng (merepresentasikan unsur tumbuhan/tumbu) dan ayam tukung atau ingkung (merepresentasikan unsur hewani).

Transformasi penting dari praktik persembahan kuno menjadi hidangan konsumsi sosial tercatat dalam sejarah Islamisasi Nusantara. Sebagaimana dijelaskan dalam karya KH. Agus Sanyoto, Atlas Wali Songo, Sunan Bonang saat berdakwah di wilayah Singkal, Kediri, menerapkan strategi adaptasi kebudayaan secara damai.

Untuk mengikis tradisi penumbalan ekstrem (seperti korban darah atau manusia), Sunan Bonang mengalihkan konsep tumbal tersebut menjadi sajian keselamatan (slamatan) berupa tumpeng dan ayam utuh (ingkung/tukung) yang dapat dikonsumsi bersama oleh masyarakat. Adaptasi kebudayaan ini kemudian terintegrasi dan disempurnakan di Tatar Pasundan menjadi bakakak hayam, mengubah makna korban spiritual menjadi simbol kebersamaan dan rasa syukur.

Evolusi profil rasa Ayam Bekakak tidak terlepas dari trajektori niaga bumbu lintas zaman di Nusantara. Sebelum abad ke-10, sebagaimana diteliti oleh Titi Nastiti, komoditas bumbu asli yang lazim dipasarkan meliputi lengkuas, daun salam, serai, dan jahe. Rasa pedasnya tidak bersumber dari cabai modern, melainkan dari jahe merah, jahe gajah, merica lokal, serta cabai jawa. Pada era ini pula, penggunaan garam di Nusantara mulai berkembang—berawal dari ditemukannya kristal-kristal garam secara tidak sengaja di permukaan ikan yang dijemur.

Lanskap rasa tersebut berubah drastis memasuki abad ke-12 hingga ke-16 seiring maraknya perdagangan asing dan akulturasi budaya. Saudagar India memperkenalkan gula merah, bawang merah, serta teknologi budidaya padi, sementara pedagang Arab membawa rempah kering seperti kemiri dan ketumbar. Adapun bawang putih mulai dikenal luas melalui perantara saudagar Cina.

Di sisi lain, kontak niaga internasional melahirkan revolusi rasa pedas melalui hadirnya berbagai varietas cabai baru dari genus Capsicum. Cabai keriting masuk via jaringan niaga India, cabai merah dan cabai gendot dibawa oleh pedagang Portugis yang melintasi Pelabuhan Sunda, sedangkan cabai katokkon dari Sulawesi masuk melalui rute perdagangan Spanyol.

Kehadiran varietas cabai baru ini secara perlahan menggeser kepopuleran cabai jawa, jahe, dan merica sebagai penentu sensasi pedas utama. Pada akhirnya, dinamika pasokan bumbu lintas zaman inilah yang mematangkan komposisi racikan bumbu khas Ayam Bekakak hingga seperti yang kita kenal sekarang.

Racikan Rempah, Teknik Memasak, dan Profil Rasa

Pengolahan Ayam Bekakak membutuhkan ketelitian teknis dan penguasaan rasio rempah untuk menghasilkan perpaduan cita rasa gurih, manis, aromatik, serta sedikit pedas yang meresap hingga ke serat daging terdalam. Keseimbangan rasa ini dicapai melalui metodologi memasak dua tahap terintegrasi: proses ungkep dan pemanggangan perlahan (slow grilling).

Proses memasak diawali dengan tahap ungkep, yaitu merebus karkas ayam utuh yang telah dibelah didangkakkeun di dalam racikan bumbu halus, bumbu aromatik, dan cairan berupa air atau santan. Tahap ini berlangsung selama 45 hingga 60 menit dengan api sedang. Pengungkepan yang terkontrol memungkinkan penetrasi bumbu meresap ke dalam jaringan otot ayam kampung yang padat, sekaligus melembutkan tekstur daging tanpa merusak keutuhan karkas.

Setelah kuah menyusut dan bumbu meresap, ayam diangkat untuk memasuki tahap pemanggangan di atas api arang kayu. Selama pemanggangan, permukaan ayam diolesi secara berkala (basting) dengan sisa bumbu reduksi ungkep yang kaya akan gula aren dan santan. Dari sudut pandang kimia gastronomi, interaksi antara gula aren (sukrosa) dan asam amino daging di bawah paparan panas bara api memicu reaksi Maillard yang berjalan sejajar dengan karamelisasi gula.

Pada saat yang sama, lemak kelapa dari santan meleleh (rendering) menjadi minyak alami. Sinergi kimia ini menghasilkan lapisan luar yang mengilap (glossy), sedikit karamelized, beraroma smokey, dengan bagian dalam daging yang tetap basah dan lembut (juicy). Penggunaan santan ini sendiri berakar dari tradisi masyarakat pesisir Nusantara yang memanfaatkan ekstraksi minyak kelapa—di mana krim santan dipanaskan hingga menghasilkan minyak dan ampas kelapa (galendo)—sebagai teknik pengawetan alami.

Struktur komponen bumbu pembentuk profil rasa Ayam Bekakak terbagi ke dalam dua kategori utama, yaitu bumbu halus dan bumbu aromatik berbasis cairan. Bumbu halus yang diulek berfungsi sebagai fondasi utama cita rasa. Bawang merah dan bawang putih hadir menciptakan basis rasa gurih yang kaya aroma umami alami. Untuk urusan visual dan sensasi pedas yang halus, digunakan perpaduan cabai merah besar dan cabai keriting yang memberi warna merah kecokelatan nan memikat.

Kemiri sangrai menyuplai minyak alami yang memperkaya tekstur gurih sekaligus mengentalkan bumbu. Sementara itu, kunyit bakar membedah aroma amis dengan warna kuning keemasannya, berpadu harmonis dengan jahe yang memberikan efek hangat menyegarkan serta ketumbar yang memperkaya aroma herbal.

Keseluruhan rasa ini disempurnakan oleh garam sebagai penegas spektrum rasa, serta gula merah atau gula aren sebagai elemen penyeimbang vital yang menghadirkan sentuhan manis legit khas Pasundan sekaligus memicu proses karamelisasi yang sempurna saat ayam dibakar.

Kategori kedua adalah bumbu aromatik dan media cairan (liquid base) yang bekerja selama proses memasak. Serai geprek melepaskan ekstrak citral yang segar, bersanding dengan lengkuas geprek yang menyumbang aroma kayu (earthy) serta daun salam dengan nuansa herbalnya yang lembut.

Seluruh rempah ini dipadukan dengan air atau santan sebagai media perambat panas saat proses mengungkep. Penggunaan santan secara khusus menghasilkan cita rasa yang jauh lebih gurih, kaya, dan memberikan kilau menawan pada permukaan ayam setelah dipanggang.

Peran Tradisi dalam Ritual Adat Lifecycle Sunda

Dalam pandangan hidup masyarakat Sunda, Ayam Bekakak tidak lagi diperlakukan sebagai barang konsumsi harian, melainkan dinaikkan statusnya menjadi peranti ritual yang wajib hadir dalam momen-momen kritis peralihan kehidupan manusia (lifecycle rites).

Tradisi Tarik Bakakak atau Patarik-tarik Bakakak dalam pernikahan adat Sunda. (Sumber: IG annisharz)
Tradisi Tarik Bakakak atau Patarik-tarik Bakakak dalam pernikahan adat Sunda. (Sumber: IG annisharz)

Alur prosesi penyajian Ayam Bekakak dalam ritual adat Sunda diselenggarakan secara terstruktur, menyesuaikan konteks ritus kehidupan yang tengah dirayakan.

Dalam upacara pernikahan, Ayam Bekakak menjadi bagian inti dari ritus pelaminan. Setelah akad nikah usai, hidangan ini disajikan utuh di atas piring ceper tanpa nasi di hadapan kedua mempelai. Momen puncak terjadi pada tahap Patarik-tarik Bakakak, ketika pengantin pria dan wanita memegang kedua sisi karkas ayam secara bersamaan lalu menariknya hingga terbelah. Mempelai yang mendapatkan potongan lebih besar dipercaya secara simbolis akan menjadi penarik rezeki utama dalam rumah tangga. Setelah itu, masuklah tahap Uap Lingkung, di mana potongan ayam tersebut digunakan untuk saling menyuapi. Ritus saling menyuapi ini melambangkan kasih sayang, kesetaraan, sikap saling melengkapi, serta keseimbangan dalam mengelola rezeki pernikahan.

Sementara itu, dalam upacara khitanan sebagai ritus pendewasaan, Ayam Bekakak disajikan utuh di atas piring ceper khusus bagi anak yang baru dikhitan (pengantin sunat), lengkap dengan pendamping nasi kuning dan aneka jajanan pasar. Penyajian ini memegang fungsi ganda. Secara psikologis, keistimewaan hidangan ini hadir untuk menghibur sekaligus mengembalikan rasa percaya diri anak pascaprosedur khitan. Secara fisik, asupan protein tinggi berpadu dengan kandungan rempah di dalamnya bertindak sebagai penawar rasa sakit alami yang memulihkan stamina serta mempercepat proses penyembuhan.

Kehadiran sakral Ayam Bekakak dalam mengiringi setiap fase kehidupan manusia tak lepas dari saratnya makna filosofis serta spiritual yang tersimpan di dalam setiap elemen hidangannya.

Makna Spiritual, Legitimasi Budaya, dan Adaptasi Modern Ayam Bekakak

Konstruksi makna Ayam Bekakak berdiri di atas landasan kosmologi spiritual, simbolisme moral, hingga pengakuan budaya yang terus beradaptasi melintasi zaman. Pemilihan ayam jantan (ayam jago) sebagai bahan utama memuat pesan spiritual mendalam.

Secara simbolis, ayam jantan mewakili sifat keangkuhan, kesombongan, dan egoisme. Penyembelihannya dalam ritual menjadi metafora penyucian diri, yakni ajakan bagi manusia untuk 'menumbalkan' sifat buruk tersebut sebelum melangkah ke jenjang kehidupan baru, baik dalam pernikahan maupun kedewasaan pasca-khitan.

Di samping itu, dalam kepercayaan sebagian masyarakat Sunda seperti di kawasan Pandeglang, Banten, ayam jantan juga diyakini memiliki daya spiritual sebagai penolak bala—sebuah sarana untuk memohon keselamatan dari gangguan roh jahat, menolak nasib buruk, serta memohon restu leluhur agar kelancaran kenduri tetap terjaga.

Baca Juga: Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Selain sarat makna sakral, wujud Ayam Bekakak yang disajikan utuh memancarkan nilai sosial dan gotong royong. Proses pembuatannya yang rumit menjadi media perekat silaturahmi antaranggota keluarga dan masyarakat yang terlibat dalam persiapan upacara adat. Keutuhan nilai tradisi ini mendapat pengakuan resmi dari negara dengan ditetapkannya Bakakak Hayam sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Indonesia pada tahun 2010 dalam kategori Tradisi dan Keterampilan Kerajinan Tradisional khas Tatar Pasundan dan Banten. Pengakuan tersebut menegaskan pentingnya menjaga integritas dan autentisitas kuliner legendaris ini di tengah arus zaman.

Seiring berjalannya waktu dan pesatnya pariwisata kuliner, Ayam Bekakak mengalami transformasi fungsi tanpa kehilangan jati dirinya. Hidangan yang dahulu bersifat eksklusif-sakral kini bertransformasi menjadi centerpiece kuliner populer yang mudah dijumpai di berbagai rumah makan Sunda hingga restoran modern di pusat kota seperti Bandung dan Bogor.

Kunci keberlanjutan Ayam Bekakak di era modern bertumpu pada keseimbangan antara penjagaan tradisi dan fleksibilitas adaptasi; tetap mempertahankan penggunaan ayam kampung jantan utuh demi cita rasa autentik, memanfaatkan teknik memasak modern seperti oven tanpa meninggalkan opsi pemanggangan di atas bara arang kayu untuk aroma smokey yang khas, serta merawat peran gandanya—baik sebagai elemen sakral dalam ritual adat maupun sebagai komoditas unggulan yang memperkuat daya tarik gastronomi Indonesia di mata dunia. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)