Sesi Cukur Malam

7 menit baca
mufti wibowo
Ditulis oleh mufti wibowo diterbitkan
Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)

#Cerita pendek

Hujan reda hampir sejam lalu, tetapi genangan air masih saja enggan pergi. Arga menurunkan helmnya di depan kios cukur kecil itu. Jalanan Purwokerto masih memantulkan cahaya lampu toko dan lampu merah yang berubah pelan seperti mata orang mengantuk. Air menetes dari kabel yang semrawut, jatuh satu demi satu ke trotoar yang tak pernah ramah difabel. Malam di sini selalu terasa seperti mesin tua–terus bekerja meski bautnya mulai longgar menimbulkan bunyi yang mencemaskan penghuninya.

Di bawah papan kusam bertuliskan: Pangkas Rambut Tampan dengan gambar amatiran otodidak kepala lelaki bercambang rapi, kipas angin tua berputar lambat. Udara bercampur aroma talek, minyak rambut, dan hujan yang tertinggal di pakaian pelanggan. Bima, tukang cukur sekaligus pemiliknya, sedang menyapu rambut di lantai ketika Arga masuk.

“Buka sampai malam ya?” tanya Arga.

“Yang pasti kamu akan menjadi orang terakhir hari ini.”

“Karena itu sebelum pergi aku mesti bertengkar dulu dengan istri.”

“Kamu tak berubah, selalu kerepotan dalam urusan betina.” Bima pura-pura tak acuh pada pelanggan lamanya itu. Matanya kemudian menyipit dan kemudian tersenyum. “Untuk dosen yang rambutnya mulai kalah oleh umur, kiosku tak pernah berani tutup cepat.”

Arga tertawa pendek. Lima belas tahun lalu mereka lulus SMA. Waktu menambahi garis tipis di wajah mereka seperti retakan halus pada tembok tua bangunan sekolah mereka. Arga kini mengajar sosiologi di sebuah universitas berplat merah di Kalimantan. Dia pulang setahun 2 kali, Lebaran dan setiap akhir tahun untuk memperingati hari kematian ibunya. Dua momen momen itulah yang selalu membuatnya dapat bertemu dengan Bima. Cara bicaranya tetap tenang, sedikit berat dan tebal. Ia tampak seperti orang yang terlalu lama mendengar keluhan dan kekecewaan orang tentang dunianya.

Bima tetap di Purwokerto ini, meneruskan usaha kios cukur peninggalan ayahnya. Tubuhnya padat dan geraknya hemat. Ia bukan tipe lelaki yang banyak bicara, tetapi tangannya mengenal kepala orang seperti petani mengenal tanah. Ada ketelitian yang sabar dalam caranya memegang gunting. Dia adalah gitaris band SMA. Jika ada membuatnya sekarang tampak sangat berbeda adalah kepala botaknya yang selalu bertopi.

Arga duduk di kursi. Agak canggung mulanya karena merasa kursi itu tampak kurang kokoh menopang berat badannya. Kain penutup dipasang pelan menutupi dadanya. Di luar, kendaraan melintas dengan suara seperti ombak jauh.

“Kamu mengajar teori perubahan sosial?” tanya Bima selagi menyemprotkan air ke rambut Arga.

“Kenapa?.”

“Dunia berubah?”

Arga memandang wajah sahabatnya di cermin depan.

“Cepat sekali berubah. Kita tidak sempat memahami dirinya sendiri.”

Bima mengangguk kecil. Gunting mulai bekerja. Bunyi ceklek-ceklek memenuhi ruangan seperti jam kecil yang sedang menghitung sesuatu yang tak terlihat. Mereka lama diam. Keheningan di antara mereka bukan canggung. Ia seperti bangku tua di halte bus depan sekolah yang keropos dan lapuk, tapi tetap setia menyangga.

“Dengar kabar Deni?” tanya Bima akhirnya.

Arga menghela napas tipis sebelum diikuti sebuah anggukan lemah.

Beberapa hari lalu berita itu muncul di media daring lokal. Tautan itu tersebar di banyak grup WA. Teman seangkatan mereka disebut menjadi perencana sekaligus eksekutor perampok gudang toko tempatnya bekerja malam hari. Ia membawa kabur uang dan rokok, lalu tertangkap sebelum sempat keluar Purwokerto.

“Dulu dia paling takut dipanggil guru,” kata Arga.

“Karena bapaknya galak.”

“Karena hatinya lembut.” 

Bima berhenti, membersihkan gunting dengan sisir. “Orang lembut juga bisa pecah.”

Di luar, suara sirene ambulans melintas cepat lalu hilang ditelan gedung-gedung. Arga mengingat Deni semasa sekolah. Anak kurus dengan sepatu selalu bersih. Ia sering meminjam komik, sering tertawa terlalu keras pada hal-hal sepele. Tidak ada yang tampak berbahaya darinya. Tapi Purwokerto ini telah menggiling manusia seperti arus sungai menelan daun kering—pelan dan tanpa suara.

“Kudengar istrinya sakit,” ujar Arga.

“Sakit menahun, dua kali setiap bulan rawat jalan di rumah sakit.”

“Ya.” Bima kembali mencukur.

“Orang kalau lama terjepit,” katanya pelan, “kadang mulai percaya bahwa pintu keluar harus dibobol.” Arga menatap wajah sahabatnya di cermin ingin menangkap ekspresi di mata lawan bicaranya.

Bima tidak pernah kuliah. Tetapi ada ketajaman yang tumbuh dari mengamati orang bertahun-tahun lewat pantulan kaca. Tukang cukur mendengar lebih banyak rahasia dibanding ustadz atau pendeta. Orang-orang duduk diam di kursi, melihat diri sendiri, lalu perlahan merasa perlu bicara.

“Menurutmu dia jahat?” tanya Bima.

Arga berpikir lama sebelum menjawab. “Tidak semua kriminal lahir dari kebencian. Banyak yang lahir dari putus asa.”

“Bedanya?”

“Kebencian ingin melukai. Putus asa hanya ingin keluar.”

Bima tersenyum samar. “Kamu bicara seperti buku.”

“Dan kamu tetap bicara seperti orang yang sudah memegang kepala semua orang di dunia.”

Mereka kembali diam. Lampu kios berwarna kekuningan membuat ruangan terasa seperti potongan waktu yang tertinggal dari Purwokerto. Di luar sana, apartemen tumbuh tinggi, kafe buka dua puluh empat jam, layar iklan menyala seperti mata raksasa. Tetapi di kios kecil ini, hidup berjalan pelan. Rambut jatuh ke lantai seperti daun-daun kering.

“Rudi?” tanya Bima lagi.

Arga mendecakkan lidah pelan. Rudi adalah ketua OSIS mereka dulu. Pintar, rapi, penuh percaya diri. Sekarang bekerja di kantor pemerintahan. Dua minggu lalu namanya terseret kasus korupsi proyek pembangunan pasar Purwokerto.

“Dia selalu ingin jadi orang penting sejak dulu,” kata Arga.

“Sekarang jadi berita penting.”

Tidak ada tawa setelah kalimat itu. Bima menipiskan rambut di belakang kepala Arga dengan hati-hati.

“Lucu ya,” katanya, “yang mencuri karena lapar dipukuli ramai-ramai. Tapi, yang mencuri karena serakah malah tampil penuh wibawa.”

Arga memandang jalan di luar. Lampu kendaraan bergerak seperti ikan-ikan bercahaya di sungai yang gelap. “Karena kita lebih mudah marah pada orang miskin,” katanya lirih. “Mereka mengingatkan bahwa hidup ini bisa gagal.”

Bima tidak langsung menjawab. Ia mengambil pisau cukur, mengganti mata pisaunya dengan gerakan terlatih. “Tapi tetap saja mencuri. Lapar atau rakus, keduanya mengambil yang bukan haknya.”

Arga mengangguk pelan.

“Bedanya,” lanjut Bima, “orang lapar biasanya menyesal. Orang rakus sering merasa dirinya pantas.”

Pisau cukur bergerak perlahan di dekat telinga Arga. Di cermin, wajah mereka tampak lebih tua daripada yang mereka rasakan. “Kamu pernah tergoda?” tanya Bima tiba-tiba.

“Tergoda apa?”

“Curang.”

Arga tersenyum kecil. Ia mengingat proposal proyek penelitian. Rekan dosen yang menjual nilai. Dunia akademik yang dulu ia bayangkan bersih ternyata juga penuh lumut di sudut-sudutnya. “Kadang orang tidak jadi jahat bukan karena baik. Kadang hanya karena masih takut.”

“Takut apa?”

“Kehilangan wajahnya sendiri.”

Bima berhenti mencukur. Kalimat itu menggantung sebentar di udara. Di luar, hujan turun lagi, tipis-tipis. Seperti seseorang sedang membersihkan langit dengan kain basah. Untuk beberapa detik, mereka kembali menjadi dua anak SMA yang duduk di kantin belakang sekolah, mengeluhkan PR dan guru matematika. Tetapi waktu segera menarik mereka kembali ke usia kini—usia ketika teman-teman mulai sakit, menikah, bercerai, kehilangan pekerjaan, atau masuk penjara.

“Kamu tahu yang paling menyedihkan sekarang?” kata Arga.

“Apa?”

“Aku dulu mengira hidup akan membentuk kita jadi sesuatu. Sebaliknya, hidup lebih sering mengikis.”

Bima menyeka leher Arga dengan handuk hangat. “Seperti batu di tebing sungai.”

Keheningan turun lagi. Namun keheningan kali ini terasa penuh, seperti gelas yang nyaris meluap. Bima memandangi pantulan Arga di cermin.

“Ku pikir, kita itu sebenarnya hanya menjaga diri supaya tidak retak.”

“Jika telanjur retak?”

“Tunggu saja pecahnya.”

Arga menatap matanya sendiri. Ada uban tipis di dekat pelipis. Ada letih yang tidak ada sepuluh tahun lalu. Purwokerto mengajarkan banyak hal, tetapi paling sering mengajarkan cara bertahan sambil perlahan kehilangan bagian-bagian kecil dari diri sendiri.

Bima membuka kain penutup. Potongan rambut berjatuhan ke lantai.

“Selesai.”

Arga berdiri, meraba rambutnya. “Masih bagus seperti dulu.”

“Tentu. Aku menjaga reputasi almamater.”

Arga mengambil dompet, tetapi segera diikuti gerakan angkat tangan dari Bima. “Free.”

“Jangan begitu meskipun kamu dulu mendapat nilai 110 untuk ujian nasional bahasa Inggris.”

“Bajingan betul. Untuk apa ujian begitu. Anggap saja diskon untuk orang yang masih mencoba jujur.”

Arga terdiam sebentar. Lalu ia memasukkan kembali dompetnya. Hujan di luar semakin rapat. Lampu Purwokerto tampak kabur seperti cat air.  

Sebelum keluar, Arga berhenti di depan pintu. “Kamu pernah menyesal tidak jadi orang besar?” tanyanya.

Bima memandang lantai yang dipenuhi rambut-rambut orang. Ia tersenyum. “Kalau tiap hari masih bisa pulang tanpa takut mendengar ketukan pintu tengah malam, itu sudah cukup besar buatku.”

Mereka saling mengangguk singkat. Tak ada pelukan dan kata-kata sentimental. Persahabatan lelaki seusia mereka hanya berupa kesediaan untuk tetap hadir. 

Malam di Purwokerto terus berjalan perlahan, membawa manusia dengan rahasia dan lukanya masing-masing, seperti air sungai yang tak pernah benar-benar tidur. Pikiran Bima kembali terusik oleh Mila yang setengah tahun terakhir intens berhubungan untuk bimbingan skripsi. Besok adalah tenggat untuknya membuat keputusan untuk bersedia atau tidak menikahi Mila sekaligus mengakui ayah dari jabang bayi yang sedang tumbuh dalam kandungannya. Tapi, ia tahu, istri dan anaknya akan menolak mentah-mentah ide gila Mila itu.

Fakuntsin, 2026. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

mufti wibowo
Tentang mufti wibowo
Menyukai sastra

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)