Bertahan 15 Tahun, Komunitas Fingerboard di Kota Bandung Tak Kehilangan Pemain

5 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Anggota Bandung Fingerboard menghabiskan akhir pekan dengan bermain, berdiskusi, dan saling belajar berbagai trik fingerboard. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Di tengah hiruk-pikuk Hallway Space, Pasar Kosambi, Bandung, pada sebuah Sabtu sore yang riuh, seorang remaja berusia 14 tahun terlihat fokus menatap papan kecil di atas telapak tangan. Sesekali ia menggerakkan jari telunjuk dan jari tengahnya secara sinkron. Cetak! Papan mini itu melompat, berputar beberapa kali di udara, lalu mendarat mulus di atas rintangan semen berukuran saku.

Remaja itu bernama Hazel Sakha Adikara (14). Siswa kelas VIII SMP itu "terselip" di antara puluhan pemain fingerboard lain yang sebagian besar usianya jauh lebih tua; beberapa bahkan sudah berstatus sebagai pekerja kantoran dan ayah anak satu.

Namun, di sudut subkultur ini, sekat umur luruh total. Hazel bisa dengan santai duduk jongkok dan berdiskusi soal trik dengan para senior yang sudah lebih dari satu dekade berkecimpung di dunia fingerboard Bandung.

"Awalnya susah banget. Cuma karena sering main ke sini, coba terus, akhirnya bisa," kata Hazel saat berbincang dengan ayobandung.id

Hazel Sakha Adikara mengasah keterampilan fingerboard bersama komunitas yang menjadi ruang belajar dan pertemanan lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Hazel Sakha Adikara mengasah keterampilan fingerboard bersama komunitas yang menjadi ruang belajar dan pertemanan lintas generasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Hazel mengenal fingerboard sekitar dua tahun lalu. Perkenalannya tergolong klise bagi anak zaman sekarang: berawal dari papan plastik murah seharga Rp50 ribu yang dibelinya secara iseng di minimarket modern. Rasa penasaran yang membuncah membuatnya terus mengulik lewat video digital, hingga akhirnya takdir mempertemukannya dengan komunitas Bandung Fingerboard.

Dari sana, petualangannya dimulai. Ia belajar secara otodidak, mengamati detail gerakan jemari para pemain senior, dan perlahan menguasai berbagai trik dasar.

"Paling senang kalau kumpul itu ngobrol-ngobrol sama ngulik trik. Teman baru juga banyak banget," ujarnya dengan mata berbinar.

Bagi sebagian orang awam, fingerboard mungkin hanya terlihat seperti mainan plastik remeh berbentuk skateboard mini. Namun bagi Hazel dan puluhan anggota Bandung Fingerboard lainnya, benda itu telah menjelma menjadi alasan kuat untuk bertemu, menembus batas generasi, dan membangun ruang pertemanan yang nyata di dunia fisik.

Romantisme Cikapayang dan Konsistensi Tanpa Struktur Formal

Jauh sebelum Hazel lahir ke dunia, komunitas ini sudah lebih dulu menyemai akarnya di tanah Kota Kembang. Elfa Ramdan (26), salah satu anggota lama Bandung Fingerboard, masih mengingat betul bagaimana komunitas tersebut merangkak dari pertemuan-pertemuan sederhana di ruang publik terbuka.

"Kalau saya gabung tahun 2012. Tapi Bandung Fingerboard sendiri sebenarnya sudah ada sejak tahun 2009 atau 2010," kenang Elfa.

Di masa itu, kawasan Cikapayang, Dago, adalah episentrum bagi berbagai komunitas jalanan Bandung. Tiap sore, ruang publik itu disesaki oleh anak-anak BMX, skateboarder, hingga pemain skuter. Di antara raungan roda-roda besar tersebut, terselip beberapa orang yang asyik memainkan papan mini berukuran telapak tangan. Saat awal terbentuk, jumlah mereka bisa dihitung dengan jari.

"Paling cuma lima orang waktu awal-awal," kata Elfa.

Elfa Ramdan mengenang perjalanan panjang Bandung Fingerboard yang tumbuh dari tongkrongan kecil menjadi komunitas yang bertahan hingga kini. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Elfa Ramdan mengenang perjalanan panjang Bandung Fingerboard yang tumbuh dari tongkrongan kecil menjadi komunitas yang bertahan hingga kini. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Seiring berjalannya waktu, komunitas ini bertumbuh sekaligus nomaden. Mereka berpindah-pindah tempat nongkrong dari satu sudut kota ke sudut lainnya. Dari Cikapayang, mereka sempat membuat "skatepark mini" di atas meja besi KFC Tamblong, menumpang di berbagai ruang publik, hingga akhirnya kini banyak memanfaatkan kedai kopi kekinian sebagai tempat bersandar.

Uniknya, meski mampu bertahan selama lebih dari 15 tahun, Bandung Fingerboard tidak pernah mengadopsi struktur birokrasi organisasi yang kaku. Tidak ada jabatan ketua, sekretaris, atau bendahara. Kehidupan komunitas ini murni digerakkan oleh motor-motor penggerak yang militan dan konsisten.

"Struktur organisasi kayak ketua begitu-begitu mah enggak ada. Cair saja. Cuma, yang paling sering melaksanakan dan mengurus kegiatan serius di sini itu namanya Bang Erik. Dia aslinya dari Ambon, tapi semangatnya luar biasa buat jalanin dan gerakin scene di Bandung ini," ungkap Elfa.

Komunitas yang Sehat dan Ruang Belajar Mandiri

Kehadiran sosok penggerak seperti Bang Erik dan keterbukaan para senior membuat iklim komunitas menjadi sangat sehat. Elfa menegaskan bahwa atmosfer bebas konflik inilah yang membuat para pemula, termasuk anak-anak usia sekolah, merasa aman untuk bergabung.

"Komunitasnya santai banget. Yang penting seru-seruan bareng (fun). Enggak ada yang namanya sikut-sikutan atau iri. Zamannya belajar ya belajar saja. Kalau belum bisa triknya, tinggal datang dan tanyakan," tegas Elfa.

Lebih dari sekadar tempat mengulik trik Ollie atau Kickflip, Bandung Fingerboard bertransformasi menjadi laboratorium kreatif tersembunyi bagi anak muda. Di dalam lingkaran pertemanan ini, para anggota lintas generasi saling berbagi ilmu (sharing knowledge) yang bernilai positif bagi kehidupan sehari-hari mereka.

"Banyak sisi positifnya. Anggota yang masuk ke sini tadinya mungkin cuma bisa main, tapi lama-lama jadi bisa belajar cara mendokumentasikan trik (filming), mengedit video sendiri, mendesain grafis papan (deck), sampai bikin rintangan (obstacle) sendiri. Bahkan ada yang dapat insentif atau melirik peluang bisnis dari sini dengan memproduksi papan custom sendiri," papar Elfa.

Bandung sendiri kini melahirkan deretan brand lokal independen yang diperhitungkan secara nasional, seperti Fatherwood, Cue, JERK, hingga Cars.

Selain keterampilan teknis, Elfa merasakan langsung bagaimana subkultur jalanan ini mengasah kedewasaan emosional dan kemampuan komunikasinya sejak dini.

"Saya dulu join komunitas ini waktu masih SMP, masih anak kecil. Dari sini saya jadi tahu bagaimana caranya mengobrol dan berkomunikasi dengan orang yang usianya jauh lebih tua," tambahnya.

Suasana permainan fingerboard berlangsung santai sekaligus akrab, mempertemukan pemain muda dan senior dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Suasana permainan fingerboard berlangsung santai sekaligus akrab, mempertemukan pemain muda dan senior dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Stigma "Mainan Bocah" dan Ekosistem Jutaan Rupiah

Meski memiliki dampak sosial yang nyata bagi pengembangan diri anggotanya, Elfa tidak menampik bahwa pandangan skeptis masyarakat masih sering mereka terima. Masih banyak orang awam yang memandang sebelah mata hobi ini karena keterbatasan informasi.

"Sering banget diremehin. Ada saja yang nyeletuk, 'wah naon eta ulinan tablet'. Mereka tahunya ini cuma mainan plastik Rp30 ribuan yang dijual di minimarket. Padahal kalau dibedah ke dalam, ini hobi yang serius dan menuntut kedisiplinan tinggi. Dan dari segi harga, satu setup papan profesional berbahan kayu dengan komponen truck bermerek itu harganya bisa mahal, ada yang tembus Rp1,5 juta hingga Rp1,7 juta," ketus Elfa meluruskan salah kaprah masyarakat.

Tantangan teknis dan mahalnya harga komponen justru menjadi pemantik adrenalin bagi para pemain muda. Hazel, meski baru berusia 14 tahun, sudah membuktikan keseriusannya dengan berkompetisi di berbagai gelaran lokal. Ia bahkan sempat menyabet juara pertama untuk kategori beginner (pemula).

Namun bagi Hazel, piala dan podium bukanlah alasan utama mengapa ia rela menenteng papannya setiap minggu ke tempat bernaung komunitas. Yang membuatnya selalu kembali setiap pekan adalah kehangatan atmosfer yang tidak ia temukan di tempat lain. Di tempat ini, ia menemukan pelarian yang sehat untuk menghabiskan waktu sore yang produktif tanpa harus terus-menerus terpaku pada layar ponsel pintar (smartphone).

"Kalau ada teman-teman seumuran yang belum pernah coba, mending cobain aja sekarang. Asyik," kata Hazel singkat.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:46

Medsos Mengubah Waktu dan Jarak

Medsos dapat merubah waktu dan jarak dalam penyampaian informasi

Dalam beberapa tahun ini, mengakses media sosial menjadi ritual yang seolah tanpa batas. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 04 Nov 2026, 10:18

Travel, Jalan Tol dan Perbincangan di Dalamnya

Banyak cerita-cerita yang hanya ada di perjalanan, tentang mereka yang terus berjuang di tengah kemegahan zaman.

Kemacetan akibat perbaikan dan pemeliharaan jalan di Tol Cikopo- Palimanan (Cipali). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)