Dari Paris van Java ke Pedestrian van Java

4 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Trotoar yang bersih, aman, dan nyaman menjadikan kota ramah bagi pejalan kaki. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: Arsip pribadi).
Trotoar yang bersih, aman, dan nyaman menjadikan kota ramah bagi pejalan kaki. (Sumber: Arsip pribadi | Foto: Arsip pribadi).

KOTA Bandung -- yang kini kian heurin -- pernah beken disebut Paris van Java, bukan hanya karena kotanya yang estetik mirip Paris, tapi juga karena aura jalan-jalannya yang asyik untuk dilalui.

Sayangnya, aura asyik itu kiwari tak lagi merata. Bandung seperti memiliki dua wajah. Wajah pertama, yang ramah pejalan kaki dan wajah kedua, yang tunduk pada mesin bermotor.

Lalu, apa yang perlu dilakukan?

Ukuran kebudayaan

Membayangkan pedestrian kota berarti membayangkan langkah kaki di pusat tata kota sebagai awal dari perencanaan kota. Ini bukan sekadar perkara memperlebar trotoar semata, melainkan perkara memikirkan kembali prioritas ruang publik.

Jalan kaki selalu jadi ukuran kebudayaan sebuah kota. Di kota yang sehat, trotoar adalah urat nadi sosial, tempat orang bersua, pedagang kecil berjualan, sepeda anak melaju pelan, dan obrolan santai warga mengalir penuh keakraban. 

Bandung sesunguhnya punya keuntungan. Ukuran kota yang relatif kompak, cuaca yang ramah, dan keragaman fungsi kota -- kampus, pasar, kawasan kreatif -- membuat berjalan kaki potensial jadi kebiasaan harian di kota ini. Tantangannya adalah menjadikan potensi itu konkret, bukan semata angan dan retorika.

Tak bisa kita mungkiri, infrastruktur trotoar Bandung kiwari sering tercabik-cabik oleh parkir liar, pedagang, dan utilitas kota yang menonjol tanpa penyelarasan. Ketika trotoar dipakai untuk kepentingan lainnya, pejalan kaki dipaksa turun ke jalan, berbaur dengan kendaraan.

Kebiasaan jalan kaki warga juga dibentuk oleh persepsi terkait aman atau tidaknya jalan, nyaman atau tidaknya berjalan di trotoar, dan seberapa cepat perjalanan sampai tujuan. 

Kalau warga merasakan berjalan kaki lebih ribet atau membahayakan, mereka akan memilih menunggang motor atau mobil, kendati secara logis nikreuh lebih murah dan kadang lebih cepat untuk menjangkau tujuan dalam rentang jarak yang pendek.

Solusi teknis

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu 5 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jalan Asia Afrika, Kota Bandung, Sabtu 5 April 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Perencanaan kota kerap terjebak pada solusi teknis -- memperlebar jalan untuk mengurai macet -- tanpa bertanya mengapa mobil kian dominan. Padahal, memperlebar jalan untuk mobil bukanlah solusi murni bagi kemacetan.

Kebijakan zoning, desain trotoar, pengaturan parkir, dan kebijakan angkutan umum mestinya lebih diperhatikan. 

Soal apakah Bandung ingin dipandang sebagai kota yang memanjakan kendaraan atau sebagai kota yang memuliakan langkah-langkah kecil warganya, ini bukan perkara estetika semata, ini menyangkut pula perkara menentukan pilihan anggaran dan prioritas kebijakan.

Mengubah kebiasaan dari bergantung pada kendaraan kepada bergantung pada langkah kaki memerlukan pula kampanye yang menyentuh hati. Dan kampanye itu harus konkret. Misalnya, dengan menghitung waktu tempuh, menunjukkan rute alternatif, dan melibatkan komunitas lokal.

Mobilitas alternatif seperti sepeda, angkot terintegrasi, dan layanan peningkatan aksesibilitas untuk lansia dan difabel harus jadi bagian dari ekosistem pedestrian kota.  Budaya jalan kaki butuh sinergi dengan moda lain.

Ruang publik yang berkualitas juga menyangkut penyediaan fasilitas mikroklimat, seperti keberadaan pohon peneduh, kursi, lampu jalan yang baik, dan kebersihan. Hal-hal kecil ini krusial karena mempengaruhi keputusan seseorang untuk berjalan kaki atau naik kendaraan.

Tentu, kebijakan untuk mendorong budaya jalan kaki tak akan berhasil tanpa enforcement. Contohnya, larangan parkir di trotoar harus disertai penegakan yang konsisten dan sanksi yang diberlakukan dengan adil. Penegakan yang tebang pilih hanya akan memperparah ketidakpercayaan publik.

Menguntungkan wisata

Investasi pada infrastruktur pejalan kaki jangan dipandang sebagai beban, melainkan sebagai tabungan jangka panjang, yakni pengurangan polusi, berkurangnya biaya kesehatan, dan peningkatan produktivitas. 

Selain itu, sektor wisata juga bisa diuntungkan. Bandung dikenal karena kawasan-kawasan yang asyik dilalui: Braga, Dago, dan beberapa gang kreatif. Memperluas dan menghubungkan jaringan pejalan kaki bisa memperpanjang durasi kunjungan wisatawan dan menyebarkan manfaat ekonomi ke kawasan yang lebih luas.

Ada pula dimensi sosial di mana trotoar adalah arena publik yang egaliter. Ketika orang berjalan, kesempatan bertemu antarwarga lebih besar, dan sekat sosial menipis. maka, kota yang ramah pejalan kaki cenderung lebih inklusif secara sosial

Tetapi, kita juga harus realistis tidak semua rute jalan kaki bisa langsung diprioritaskan. Perlu peta jalan (roadmap) yang memetakan koridor prioritas, fase pembangunan, dan indikator keberhasilan yang jelas. Tanpa roadmap, proyek sering putus di tengah jalan.

Partisipasi sektor privat menjadi salah satu bagian penting. Investasi pada perbaikan atau peningkatan area lahan yang menghadap jalan umum (frontage improvement), program CSR untuk penanaman pohon, dan kemitraan untuk menciptakan pedestrian plaza dapat mengurangi beban fiskal pemerintah dan mempercepat realisasi program kebijakan.

Komunitas lokal -- RT, pedagang kaki lima, warga -- harus diajak untuk merumuskan desain pembangunan. Trotoar yang dirancang tanpa dialog dengan komunitas lokal bisa saja tidak sepenuhnya mencerminkan kebutuhan warga, yang akhirnya malah bisa mubazir.

Teknologi dapat turut membantu dalam realisasi program kebijakan. Contohnya, aplikasi yang memetakan rute pejalan kaki, pelaporan parkir liar secara real-time, dan simulasi dampak desain trotoar. Namun, teknologi hanyalah alat. Keputusan politik dan budayalah yang menentukan apakah alat itu dipakai atau tidak.

Pilihan ada di tangan bersama. Pemerintah mengarahkan, swasta berinvestasi, dan warga menuntut serta merawat ruangnya. Jika langkah-langkah kecil hari ini bisa menjadi habit untuk esok, Bandung bisa berubah dari Paris van Java menjadi Pedestrian van Java, sebuah kota yang berjalan, bernafas, dan hidup bersama langkah-langkah para warganya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)