Kalau kamu lahir dan besar di Bandung, pasti punya kenangan dengan trotoar. Entah trotoar di Jalan Dago yang dulu jadi runway remaja gaul tahun 2000-an, atau trotoar di Cicadas yang sejak dulu lebih akrab dengan aroma gorengan ketimbang langkah kaki manusia.
Trotoar di Bandung bukan sekadar tempat berjalan, tapi panggung kehidupan kota — kadang panggung tragedi, kadang komedi, seringnya keduanya sekaligus.
Mari kita mundur ke 2000-an. Tahun di mana ponsel masih pakai antena, dan Bandung masih punya hawa sejuk yang bisa bikin kamu jalan kaki tanpa keringat menetes seperti di sauna. Waktu itu, berjalan di trotoar masih jadi kegiatan eksistensial.
Orang bisa menyusuri Jalan Merdeka sampai Braga tanpa perlu menyiapkan strategi zig-zag menghindari gerobak, motor parkir, atau bapak-bapak yang jual DVD bajakan dengan koleksi “Fast and Furious” sampai “Upin Ipin.”
Di tahun itu, trotoar di Bandung masih punya fungsi: tempat berjalan kaki. Bukan tempat jualan, bukan tempat parkir, apalagi tempat nongkrong mobil patroli yang lagi ngopi. Beberapa trotoar bahkan punya pesona tersendiri — seperti di sekitar Gedung Sate, yang sering dijadikan arena foto prewedding low budget: “pose di bawah pohon flamboyan, angle sedikit miring, latar belakang arsitektur kolonial, jadi deh!”
Trotoar, PKL, dan Parkir: Trinitas Urban Bandung
Namun di sisi lain, bahkan di 2000-an pun, trotoar sudah mulai kehilangan jati dirinya. PKL (Pedagang Kaki Lima) muncul dengan kreativitas luar biasa. Mereka seperti pasukan ninja urban — bisa muncul di mana saja begitu lampu merah menyala. Dalam satu langkah kamu bisa membeli cilok, terus dua langkah berikutnya sudah disapa dengan “Kang, CD bajakan murah pisan ieu!”
Bandung punya hubungan rumit dengan trotoar, PKL, dan parkiran. Seperti hubungan cinta segitiga yang nggak pernah selesai. Trotoar ingin tetap mulia sebagai tempat berjalan kaki, tapi PKL bilang, “Saya juga butuh hidup.” Lalu datang parkiran yang ikut nimbrung, “Bro, mobil juga butuh tempat rebahan.”
Kalau kamu ke pusat kota — sebut saja sekitar Jalan Asia Afrika — kamu bisa menemukan ketiganya hidup berdampingan dalam harmoni yang absurd. Trotoar di situ seperti rumah kontrakan: separuh buat PKL jual baju, seperempat buat motor parkir, sisanya buat pejalan kaki yang sudah putus asa. Dan ajaibnya, semua berjalan dengan “tertib” dalam cara Bandung yang khas: chaos yang terorganisir.
Di Bandung, parkir bukan cuma soal menaruh kendaraan, tapi soal kepercayaan. Kamu parkir di pinggir jalan, lalu entah dari mana muncul seorang pria berseragam rompi oranye dengan peluit dan senyum karismatik. Dia memberi aba-aba seperti marshal di sirkuit MotoGP, lalu mengucapkan mantra sakral: “Seribu aja, Kang.”
Padahal kamu cuma berhenti 45 detik beli es cendol.
Trotoar 2025

Dua dekade kemudian, Bandung berubah. Kota ini makin cantik, tapi juga makin padat dan panas. Trotoar pun ikut “naik kelas.” Beberapa ruas sudah dipercantik dengan paving baru, tempat duduk, dan tanaman hias. Tapi ironisnya, semakin cantik trotoarnya, semakin jarang digunakan untuk berjalan kaki. Trotoar baru di Jalan Riau misalnya, sering jadi runway dadakan bagi OOTD hunter, bukan pejalan kaki sungguhan.
Jumlah trotoar di Bandung kini diperkirakan mencapai sekitar 51.729 meter (51,7 km), tapi yang bisa disebut “layak injak tanpa risiko keseleo” mungkin cuma setengahnya. Sisanya, masih dalam kondisi “bandel tapi setia” — berlobang di sana-sini, ditumbuhi akar pohon, atau dijadikan garasi motor warga yang kreatif.
Di satu sisi, pemerintah kota terus berusaha membenahi. Di sisi lain, PKL dan parkiran seperti energi kosmis yang tak bisa dihapus. Mereka selalu menemukan cara baru untuk kembali, seolah trotoar adalah tanah kelahiran yang harus mereka bela. Trotoar kosong satu minggu, minggu berikutnya sudah ada tenda biru, kompor gas, dan wangi basreng menggoda iman.
Kita sering bicara soal keindahan kota, tapi jarang bicara soal rasa hormat terhadap ruang bersama. Trotoar adalah simbol kecil dari etika urban. Di situ ada pertemuan antara hak dan tanggung jawab. Hak untuk berjalan, tanggung jawab untuk tidak mengambil ruang orang lain. Sayangnya, dalam praktiknya, Bandung sering terjebak dalam romantika estetika tanpa etika. Kita bangga trotoar baru diunggah di Instagram, tapi tak banyak yang benar-benar menggunakannya sesuai fungsinya.
Di sinilah refleksinya muncul: apakah kita benar-benar berubah sejak tahun 2000-an?
Teknologi berubah, gaya hidup berubah, tapi budaya “nyelipin motor di mana aja asal muat” tampaknya abadi. Bahkan kadang kita menormalisasi hal itu — seperti ketika seseorang parkir di atas trotoar, lalu dengan santai berkata, “Cuma sebentar, Kang.”Sebentar yang bisa berarti satu episode sinetron penuh.
Trotoar Cermin Kota
Bandung dikenal sebagai kota kreatif. Tapi kreativitas itu juga terlihat di cara kita memperlakukan trotoar. Ada yang menjadikannya toko buku bekas, galeri seni jalanan, sampai warung kopi dadakan. Di satu sisi, ini ekspresi ekonomi rakyat yang harus dihargai. Di sisi lain, ini menunjukkan betapa kita belum menemukan keseimbangan antara ruang publik dan kebutuhan hidup sehari-hari.
Di banyak kota besar dunia, trotoar adalah tempat peradaban berjalan. Di Bandung, trotoar adalah tempat peradaban… parkir.
Tapi ya begitulah Bandung — kota dengan kehangatan sosial yang luar biasa, di mana setiap meter ruang bisa diubah jadi peluang ekonomi. Mungkin itu sebabnya meski sering bikin jengkel, kota ini tetap dicintai. Karena di balik tumpukan gerobak, ada senyum pedagang yang tulus; di balik mobil yang parkir sembarangan, ada bapak ojek yang sekadar cari rezeki.
Ketika saya berjalan di trotoar Braga tahun ini, ada rasa nostalgia bercampur haru. Di tahun 2006, saya pernah duduk di pinggir jalan yang sama, makan batagor sambil melihat orang lalu lalang. Sekarang, batagornya mungkin sudah GoFood, tapi rasa Bandung-nya masih sama — manis, gurih, sedikit macet, tapi selalu mengundang senyum.
Trotoar Bandung bukan sekadar jalur pejalan kaki. Ia adalah cermin perjalanan kota: bagaimana kita tumbuh, menyesuaikan diri, tapi juga masih mencari bentuk ideal antara ketertiban dan kehangatan. Mungkin kita belum sempurna. Tapi selama masih ada orang yang mau berjalan — meski harus zig-zag di antara gerobak dan motor — harapan itu tetap hidup.
Karena pada akhirnya, trotoar bukan soal batu dan semen, tapi tentang bagaimana sebuah kota memberi ruang bagi langkah manusia. Dan Bandung, dengan segala keruwetan dan pesonanya, selalu punya cara untuk membuat kita ingin berjalan lagi — walau pelan, walau sambil menghindari spion motor yang nyelonong.(*)
