Trotoar di Bandung: Jalan Kaki di Zaman Sandal Jepit ke Zaman Sneaker Premium

5 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kalau kamu lahir dan besar di Bandung, pasti punya kenangan dengan trotoar. Entah trotoar di Jalan Dago yang dulu jadi runway remaja gaul tahun 2000-an, atau trotoar di Cicadas yang sejak dulu lebih akrab dengan aroma gorengan ketimbang langkah kaki manusia.

Trotoar di Bandung bukan sekadar tempat berjalan, tapi panggung kehidupan kota — kadang panggung tragedi, kadang komedi, seringnya keduanya sekaligus.

Mari kita mundur ke 2000-an. Tahun di mana ponsel masih pakai antena, dan Bandung masih punya hawa sejuk yang bisa bikin kamu jalan kaki tanpa keringat menetes seperti di sauna. Waktu itu, berjalan di trotoar masih jadi kegiatan eksistensial.

Orang bisa menyusuri Jalan Merdeka sampai Braga tanpa perlu menyiapkan strategi zig-zag menghindari gerobak, motor parkir, atau bapak-bapak yang jual DVD bajakan dengan koleksi “Fast and Furious” sampai “Upin Ipin.”

Di tahun itu, trotoar di Bandung masih punya fungsi: tempat berjalan kaki. Bukan tempat jualan, bukan tempat parkir, apalagi tempat nongkrong mobil patroli yang lagi ngopi. Beberapa trotoar bahkan punya pesona tersendiri — seperti di sekitar Gedung Sate, yang sering dijadikan arena foto prewedding low budget: “pose di bawah pohon flamboyan, angle sedikit miring, latar belakang arsitektur kolonial, jadi deh!”

Trotoar, PKL, dan Parkir: Trinitas Urban Bandung

Namun di sisi lain, bahkan di 2000-an pun, trotoar sudah mulai kehilangan jati dirinya. PKL (Pedagang Kaki Lima) muncul dengan kreativitas luar biasa. Mereka seperti pasukan ninja urban — bisa muncul di mana saja begitu lampu merah menyala. Dalam satu langkah kamu bisa membeli cilok, terus dua langkah berikutnya sudah disapa dengan “Kang, CD bajakan murah pisan ieu!”

Bandung punya hubungan rumit dengan trotoar, PKL, dan parkiran. Seperti hubungan cinta segitiga yang nggak pernah selesai. Trotoar ingin tetap mulia sebagai tempat berjalan kaki, tapi PKL bilang, “Saya juga butuh hidup.” Lalu datang parkiran yang ikut nimbrung, “Bro, mobil juga butuh tempat rebahan.”

Kalau kamu ke pusat kota — sebut saja sekitar Jalan Asia Afrika — kamu bisa menemukan ketiganya hidup berdampingan dalam harmoni yang absurd. Trotoar di situ seperti rumah kontrakan: separuh buat PKL jual baju, seperempat buat motor parkir, sisanya buat pejalan kaki yang sudah putus asa. Dan ajaibnya, semua berjalan dengan “tertib” dalam cara Bandung yang khas: chaos yang terorganisir.

Di Bandung, parkir bukan cuma soal menaruh kendaraan, tapi soal kepercayaan. Kamu parkir di pinggir jalan, lalu entah dari mana muncul seorang pria berseragam rompi oranye dengan peluit dan senyum karismatik. Dia memberi aba-aba seperti marshal di sirkuit MotoGP, lalu mengucapkan mantra sakral: “Seribu aja, Kang.”

Padahal kamu cuma berhenti 45 detik beli es cendol.

Trotoar 2025

Pejalan kaki melintas di trotoar yang sudah diperbaiki di Jalan Lombok, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Pejalan kaki melintas di trotoar yang sudah diperbaiki di Jalan Lombok, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Dua dekade kemudian, Bandung berubah. Kota ini makin cantik, tapi juga makin padat dan panas. Trotoar pun ikut “naik kelas.” Beberapa ruas sudah dipercantik dengan paving baru, tempat duduk, dan tanaman hias. Tapi ironisnya, semakin cantik trotoarnya, semakin jarang digunakan untuk berjalan kaki. Trotoar baru di Jalan Riau misalnya, sering jadi runway dadakan bagi OOTD hunter, bukan pejalan kaki sungguhan.

Jumlah trotoar di Bandung kini diperkirakan mencapai sekitar 51.729 meter (51,7 km), tapi yang bisa disebut “layak injak tanpa risiko keseleo” mungkin cuma setengahnya. Sisanya, masih dalam kondisi “bandel tapi setia” — berlobang di sana-sini, ditumbuhi akar pohon, atau dijadikan garasi motor warga yang kreatif.

Di satu sisi, pemerintah kota terus berusaha membenahi. Di sisi lain, PKL dan parkiran seperti energi kosmis yang tak bisa dihapus. Mereka selalu menemukan cara baru untuk kembali, seolah trotoar adalah tanah kelahiran yang harus mereka bela. Trotoar kosong satu minggu, minggu berikutnya sudah ada tenda biru, kompor gas, dan wangi basreng menggoda iman.

Kita sering bicara soal keindahan kota, tapi jarang bicara soal rasa hormat terhadap ruang bersama. Trotoar adalah simbol kecil dari etika urban. Di situ ada pertemuan antara hak dan tanggung jawab. Hak untuk berjalan, tanggung jawab untuk tidak mengambil ruang orang lain. Sayangnya, dalam praktiknya, Bandung sering terjebak dalam romantika estetika tanpa etika. Kita bangga trotoar baru diunggah di Instagram, tapi tak banyak yang benar-benar menggunakannya sesuai fungsinya.

Di sinilah refleksinya muncul: apakah kita benar-benar berubah sejak tahun 2000-an?

Teknologi berubah, gaya hidup berubah, tapi budaya “nyelipin motor di mana aja asal muat” tampaknya abadi. Bahkan kadang kita menormalisasi hal itu — seperti ketika seseorang parkir di atas trotoar, lalu dengan santai berkata, “Cuma sebentar, Kang.”Sebentar yang bisa berarti satu episode sinetron penuh.

Trotoar Cermin Kota

Bandung dikenal sebagai kota kreatif. Tapi kreativitas itu juga terlihat di cara kita memperlakukan trotoar. Ada yang menjadikannya toko buku bekas, galeri seni jalanan, sampai warung kopi dadakan. Di satu sisi, ini ekspresi ekonomi rakyat yang harus dihargai. Di sisi lain, ini menunjukkan betapa kita belum menemukan keseimbangan antara ruang publik dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Di banyak kota besar dunia, trotoar adalah tempat peradaban berjalan. Di Bandung, trotoar adalah tempat peradaban… parkir.

Tapi ya begitulah Bandung — kota dengan kehangatan sosial yang luar biasa, di mana setiap meter ruang bisa diubah jadi peluang ekonomi. Mungkin itu sebabnya meski sering bikin jengkel, kota ini tetap dicintai. Karena di balik tumpukan gerobak, ada senyum pedagang yang tulus; di balik mobil yang parkir sembarangan, ada bapak ojek yang sekadar cari rezeki.

Ketika saya berjalan di trotoar Braga tahun ini, ada rasa nostalgia bercampur haru. Di tahun 2006, saya pernah duduk di pinggir jalan yang sama, makan batagor sambil melihat orang lalu lalang. Sekarang, batagornya mungkin sudah GoFood, tapi rasa Bandung-nya masih sama — manis, gurih, sedikit macet, tapi selalu mengundang senyum.

Trotoar Bandung bukan sekadar jalur pejalan kaki. Ia adalah cermin perjalanan kota: bagaimana kita tumbuh, menyesuaikan diri, tapi juga masih mencari bentuk ideal antara ketertiban dan kehangatan. Mungkin kita belum sempurna. Tapi selama masih ada orang yang mau berjalan — meski harus zig-zag di antara gerobak dan motor — harapan itu tetap hidup.

Karena pada akhirnya, trotoar bukan soal batu dan semen, tapi tentang bagaimana sebuah kota memberi ruang bagi langkah manusia. Dan Bandung, dengan segala keruwetan dan pesonanya, selalu punya cara untuk membuat kita ingin berjalan lagi — walau pelan, walau sambil menghindari spion motor yang nyelonong.(*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)