Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Trotoar di Bandung: Jalan Kaki di Zaman Sandal Jepit ke Zaman Sneaker Premium

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Jumat 28 Nov 2025, 23:00 WIB
Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kawasan legendaris Braga bukan sekadar jalan, melainkan lembaran sejarah yang hidup, menyatu dengan denyut nadi modernitas kota. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kalau kamu lahir dan besar di Bandung, pasti punya kenangan dengan trotoar. Entah trotoar di Jalan Dago yang dulu jadi runway remaja gaul tahun 2000-an, atau trotoar di Cicadas yang sejak dulu lebih akrab dengan aroma gorengan ketimbang langkah kaki manusia.

Trotoar di Bandung bukan sekadar tempat berjalan, tapi panggung kehidupan kota — kadang panggung tragedi, kadang komedi, seringnya keduanya sekaligus.

Mari kita mundur ke 2000-an. Tahun di mana ponsel masih pakai antena, dan Bandung masih punya hawa sejuk yang bisa bikin kamu jalan kaki tanpa keringat menetes seperti di sauna. Waktu itu, berjalan di trotoar masih jadi kegiatan eksistensial.

Orang bisa menyusuri Jalan Merdeka sampai Braga tanpa perlu menyiapkan strategi zig-zag menghindari gerobak, motor parkir, atau bapak-bapak yang jual DVD bajakan dengan koleksi “Fast and Furious” sampai “Upin Ipin.”

Di tahun itu, trotoar di Bandung masih punya fungsi: tempat berjalan kaki. Bukan tempat jualan, bukan tempat parkir, apalagi tempat nongkrong mobil patroli yang lagi ngopi. Beberapa trotoar bahkan punya pesona tersendiri — seperti di sekitar Gedung Sate, yang sering dijadikan arena foto prewedding low budget: “pose di bawah pohon flamboyan, angle sedikit miring, latar belakang arsitektur kolonial, jadi deh!”

Trotoar, PKL, dan Parkir: Trinitas Urban Bandung

Namun di sisi lain, bahkan di 2000-an pun, trotoar sudah mulai kehilangan jati dirinya. PKL (Pedagang Kaki Lima) muncul dengan kreativitas luar biasa. Mereka seperti pasukan ninja urban — bisa muncul di mana saja begitu lampu merah menyala. Dalam satu langkah kamu bisa membeli cilok, terus dua langkah berikutnya sudah disapa dengan “Kang, CD bajakan murah pisan ieu!”

Bandung punya hubungan rumit dengan trotoar, PKL, dan parkiran. Seperti hubungan cinta segitiga yang nggak pernah selesai. Trotoar ingin tetap mulia sebagai tempat berjalan kaki, tapi PKL bilang, “Saya juga butuh hidup.” Lalu datang parkiran yang ikut nimbrung, “Bro, mobil juga butuh tempat rebahan.”

Kalau kamu ke pusat kota — sebut saja sekitar Jalan Asia Afrika — kamu bisa menemukan ketiganya hidup berdampingan dalam harmoni yang absurd. Trotoar di situ seperti rumah kontrakan: separuh buat PKL jual baju, seperempat buat motor parkir, sisanya buat pejalan kaki yang sudah putus asa. Dan ajaibnya, semua berjalan dengan “tertib” dalam cara Bandung yang khas: chaos yang terorganisir.

Di Bandung, parkir bukan cuma soal menaruh kendaraan, tapi soal kepercayaan. Kamu parkir di pinggir jalan, lalu entah dari mana muncul seorang pria berseragam rompi oranye dengan peluit dan senyum karismatik. Dia memberi aba-aba seperti marshal di sirkuit MotoGP, lalu mengucapkan mantra sakral: “Seribu aja, Kang.”

Padahal kamu cuma berhenti 45 detik beli es cendol.

Trotoar 2025

Pejalan kaki melintas di trotoar yang sudah diperbaiki di Jalan Lombok, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Pejalan kaki melintas di trotoar yang sudah diperbaiki di Jalan Lombok, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)

Dua dekade kemudian, Bandung berubah. Kota ini makin cantik, tapi juga makin padat dan panas. Trotoar pun ikut “naik kelas.” Beberapa ruas sudah dipercantik dengan paving baru, tempat duduk, dan tanaman hias. Tapi ironisnya, semakin cantik trotoarnya, semakin jarang digunakan untuk berjalan kaki. Trotoar baru di Jalan Riau misalnya, sering jadi runway dadakan bagi OOTD hunter, bukan pejalan kaki sungguhan.

Jumlah trotoar di Bandung kini diperkirakan mencapai sekitar 51.729 meter (51,7 km), tapi yang bisa disebut “layak injak tanpa risiko keseleo” mungkin cuma setengahnya. Sisanya, masih dalam kondisi “bandel tapi setia” — berlobang di sana-sini, ditumbuhi akar pohon, atau dijadikan garasi motor warga yang kreatif.

Di satu sisi, pemerintah kota terus berusaha membenahi. Di sisi lain, PKL dan parkiran seperti energi kosmis yang tak bisa dihapus. Mereka selalu menemukan cara baru untuk kembali, seolah trotoar adalah tanah kelahiran yang harus mereka bela. Trotoar kosong satu minggu, minggu berikutnya sudah ada tenda biru, kompor gas, dan wangi basreng menggoda iman.

Kita sering bicara soal keindahan kota, tapi jarang bicara soal rasa hormat terhadap ruang bersama. Trotoar adalah simbol kecil dari etika urban. Di situ ada pertemuan antara hak dan tanggung jawab. Hak untuk berjalan, tanggung jawab untuk tidak mengambil ruang orang lain. Sayangnya, dalam praktiknya, Bandung sering terjebak dalam romantika estetika tanpa etika. Kita bangga trotoar baru diunggah di Instagram, tapi tak banyak yang benar-benar menggunakannya sesuai fungsinya.

Di sinilah refleksinya muncul: apakah kita benar-benar berubah sejak tahun 2000-an?

Teknologi berubah, gaya hidup berubah, tapi budaya “nyelipin motor di mana aja asal muat” tampaknya abadi. Bahkan kadang kita menormalisasi hal itu — seperti ketika seseorang parkir di atas trotoar, lalu dengan santai berkata, “Cuma sebentar, Kang.”Sebentar yang bisa berarti satu episode sinetron penuh.

Trotoar Cermin Kota

Bandung dikenal sebagai kota kreatif. Tapi kreativitas itu juga terlihat di cara kita memperlakukan trotoar. Ada yang menjadikannya toko buku bekas, galeri seni jalanan, sampai warung kopi dadakan. Di satu sisi, ini ekspresi ekonomi rakyat yang harus dihargai. Di sisi lain, ini menunjukkan betapa kita belum menemukan keseimbangan antara ruang publik dan kebutuhan hidup sehari-hari.

Di banyak kota besar dunia, trotoar adalah tempat peradaban berjalan. Di Bandung, trotoar adalah tempat peradaban… parkir.

Tapi ya begitulah Bandung — kota dengan kehangatan sosial yang luar biasa, di mana setiap meter ruang bisa diubah jadi peluang ekonomi. Mungkin itu sebabnya meski sering bikin jengkel, kota ini tetap dicintai. Karena di balik tumpukan gerobak, ada senyum pedagang yang tulus; di balik mobil yang parkir sembarangan, ada bapak ojek yang sekadar cari rezeki.

Ketika saya berjalan di trotoar Braga tahun ini, ada rasa nostalgia bercampur haru. Di tahun 2006, saya pernah duduk di pinggir jalan yang sama, makan batagor sambil melihat orang lalu lalang. Sekarang, batagornya mungkin sudah GoFood, tapi rasa Bandung-nya masih sama — manis, gurih, sedikit macet, tapi selalu mengundang senyum.

Trotoar Bandung bukan sekadar jalur pejalan kaki. Ia adalah cermin perjalanan kota: bagaimana kita tumbuh, menyesuaikan diri, tapi juga masih mencari bentuk ideal antara ketertiban dan kehangatan. Mungkin kita belum sempurna. Tapi selama masih ada orang yang mau berjalan — meski harus zig-zag di antara gerobak dan motor — harapan itu tetap hidup.

Karena pada akhirnya, trotoar bukan soal batu dan semen, tapi tentang bagaimana sebuah kota memberi ruang bagi langkah manusia. Dan Bandung, dengan segala keruwetan dan pesonanya, selalu punya cara untuk membuat kita ingin berjalan lagi — walau pelan, walau sambil menghindari spion motor yang nyelonong.(*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)