Sejarah Stroberi Ciwidey, Pernah jadi Sentra Produksi Terbesar dari Bandung Selatan

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Ilustrasi panen stroberi Ciwidey.
Ilustrasi panen stroberi Ciwidey.

AYOBANDUNG.ID - Ciwidey identik dengan stroberi, sama seperti Garut dengan dodol. Padahal dulu, buah merah itu cuma jadi tanaman pengisi sela di kebun sayur. Nasib baik membuatnya naik kelas, jadi ikon agrowisata dan sumber duit utama warga. Dari buah percobaan di atap rumah, stroberi Ciwidey sempat jadi penguasa produksi nasional.

Sejarah stroberi Ciwidey yang jadi kebanggaan warga Bandung ini lumayan panjang. Pada akhir 1990-an, seorang petani lokal bernama Jaji Mulyadi mendapatkan beberapa bibit stroberi dari seorang seorang pegawai perkebunan asal Jepang. Varietas yang dibawa bernama Nyoho, stroberi asal Jepang yang waktu itu belum banyak dikenal di Priangan.

Bibit itu tidak langsung ditanam di lahan luas, melainkan sekadar ditaruh di atas rumah. Bagi Jaji, menanam stroberi pada awalnya hanyalah hobi, semacam eksperimen kecil. Tak disangka, tanaman itu tumbuh subur di udara sejuk Ciwidey. Saat berbuah, stroberi itu tampak merah merona, ranum, dan menggoda mata.

Baca Juga: Jejak Sejarah Dodol Garut, Warisan Kuliner Tradisional Sejak Zaman Kolonial

Dari percobaan kecil itu, Ciwidey yang dingin dan berembun kemudian menjelma jadi kiblat stroberi Indonesia.

Sebelum ada Ciwidey, stroberi sudah lebih dulu tumbuh di Bali, tepatnya Candikuning, Tabanan. Di sana ditanam sederhana dengan mulsa jerami. Tapi Ciwidey punya keunggulan: suhu 11–15 derajat, ketinggian 1.400–1.700 meter, mirip habitat stroberi di Chile dan Prancis. Cocok betul.

Pada awalnya stroberi ditanam sebagai tanaman sela, diapit kubis dan wortel. Tapi petani segera sadar: harga sayuran jatuh, stroberi justru naik daun. Tahun 1997, penanaman meluas ke Desa Alamendah, dan pada 1999 banyak petani migrasi dari kol ke stroberi. Pada tahun 2007, tercatat ada 1.508 kepala keluarga hidup dari buah mungil merah ini.

Petani di perkebunan stroberi Ciwidey. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)
Petani di perkebunan stroberi Ciwidey. (Sumber: Ayobandung | Foto: Mildan Abdalloh)

Dari Kejayaan hingga Penurunan Produksi

Pada dekade awal 2000-an, stroberi Ciwidey bukan hanya urusan pasar, tapi juga wisata. Tak ada yang menyangka Ciwidey yang tadinya hanya gudang wortel dan kentang, tiba-tiba punya ikon baru. Sejak milenium berganti, stroberi mulai menyeruak dari tanah dingin pegunungan itu. Si merah manis ini kemudian bukan hanya mengubah wajah kebun, tapi juga nasib ekonomi warganya.

Konsep wisata petik sendiri yang pertama kali ramai di Lembang segera diekspor ke Ciwidey. Bedanya, di Ciwidey udara lebih dingin dan kebun stroberinya luas. Turis berbondong-bondong datang. Anak-anak girang berlari-lari di kebun sambil memetik buah merah, sementara orang tua dengan sabar menunggu di pinggir sambil merogoh dompet untuk membayar tiket. Stroberi tak lagi sekadar buah, melainkan juga pengalaman: memetik sendiri, mencicipi di tempat, lalu membawa pulang cerita.

Baca Juga: Hikayat Java Preanger, Warisan Kopi Harum dari Lereng Priangan

Lahan stroberi pun kian meluas. Pada dekade 2000-an, Ciwidey punya 184 hektar kebun stroberi. Varietas dari Ciwidey dan tetangganya, Garut, mendominasi rak-rak supermarket modern. Siapa pun yang belanja di kota besar, besar kemungkinan membawa pulang stroberi yang tumbuh di tanah Ciwidey.

Pemerintah daerah tak mau ketinggalan. Bersama asosiasi petani, mereka mendorong diversifikasi varietas. Tahun 2004 sampai 2008, Asosiasi Agrobisnis dan Pariwisata (Agista) mendatangkan 23 varietas stroberi dari luar negeri. Jumlahnya fantastis: 3,8 juta benih. Nama-namanya berkelas: Calibrate, Nyoho, California. Ciwidey berubah jadi semacam laboratorium stroberi terbuka, tempat setiap varietas dicoba nasibnya di tanah Priangan.

Puncak kejayaan itu terjadi pada 2012. Panen melimpah ruah, pasar tak pernah kekurangan suplai. Bukan hanya buah segar yang laku, produk olahan pun ramai. Selai stroberi jadi oleh-oleh favorit, dodol stroberi hadir sebagai inovasi, bahkan sambal stroberi ikut lahir, meski nasibnya lebih mirip cameo ketimbang pemeran utama. Waktu itu, Ciwidey terasa seperti ibu kota stroberi Indonesia.

Dua tahun kemudian, pada 2014, Kabupaten Bandung resmi jadi penyumbang 90% produksi stroberi nasional. Hampir semua stroberi yang disantap masyarakat Indonesia jejaknya bisa ditelusuri ke kebun Ciwidey. Dari atap rumah Jaji Mulyadi di akhir 1990-an, stroberi itu menjelma jadi penguasa nasional.

Tapi sejarah selalu punya sisi lain. Tak ada pesta yang abadi. Tahun 2016, grafik produksi mendadak anjlok. Kabupaten Bandung kehilangan 74,32% produksinya. Lahan yang dulu penuh stroberi berubah jadi vila atau kafe untuk wisatawan. Hama menyerang, cuaca makin tak bisa ditebak, petani mulai goyah. Produksi nasional pun ikut merosot sampai 62%.

Kendati demikian, Ciwidey tidak menyerah. Para petani masih menjual stroberi ke pengepul dengan harga sekitar Rp25 ribu per kilo. Tidak membuat kaya raya, tapi cukup untuk bertahan. Agrowisata tetap jadi penyelamat: wisatawan masih datang, meski jumlahnya tak sebesar masa jayanya.

Sampai saat ini, stroberi Ciwidey tetap hidup. Wisata petik sendiri masih jadi magnet, terutama saat libur Lebaran. Para pedagang oleh-oleh di pinggir jalan tersenyum lebar karena omzet melonjak.

Baca Juga: Sejarah Seblak, Kuliner Pedas Legendaris yang jadi Favorit Warga Bandung

Stroberi Ciwidey memang tidak lagi sehebat tahun-tahun emas 2012 sampai 2014. Namun buah itu masih jadi ikon Bandung Selatan. Wisatawan tetap mengaitkan Ciwidey dengan stroberi, sama seperti mengaitkan Garut dengan dodol atau Cianjur dengan beras pandan wangi—yang gaungnya sama-sama meredup tertiup angin muson timur penanda peralihan zaman.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)