Jejak Sejarah Dodol Garut, Warisan Kuliner Tradisional Sejak Zaman Kolonial

4 menit baca
Hengky Sulaksono
Ditulis oleh Hengky Sulaksono diterbitkan
Dodol Garut, kuliner khas yang sudah eksis sejak zaman kolonial. (Sumber: Kemdikbud)
Dodol Garut, kuliner khas yang sudah eksis sejak zaman kolonial. (Sumber: Kemdikbud)

AYOBANDUNG.ID - Kalau ada oleh-oleh dari Jawa Barat yang punya “kekuatan kenyal” bertahan dari zaman kolonial sampai e-commerce, maka dodol Garut lah juaranya. Dari camilan desa hingga produk global, perjalanan dodol ini bukan sekadar soal rasa manis, tapi juga tekad keras dan kisah keluarga yang melegenda.

Secara definisi, dodol memang bukan monopoli Garut. Di Nusantara ini, dodol seperti keluarga besar yang punya banyak cabang: ada dodol Betawi, dodol Kandangan dari Kalimantan, dodol Ulame dari Tapanuli, sampai dodol Buleleng dari Bali. Tapi dodol Garut punya sesuatu yang beda, yang membuatnya bertahan dari generasi ke generasi—entah itu karena kenyalnya, manisnya, atau garis takdir.

Penamaan dodol biasanya mengacu pada wilayah asalnya. Jadi, kalau dibuat di Garut ya dodol Garut. Tapi jangan salah, bukan cuma asal tempat, dodol Garut juga punya karakter rasa yang khas. Banyak yang bilang, dodol ini “manisnya pas, kenyalnya berkelas.”

Dodol Garut tidak muncul tiba-tiba seperti hujan di musim kemarau. Menurut Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pelopor usaha dodol di Garut adalah H. Sirad, yang sudah membuka usaha dodol bernama Kursinah sejak 1920-an. Tapi situs resmi Pemkab Garut menyebutkan bahwa yang pertama memulai industri dodol adalah Ibu Karsinah pada tahun 1926.

Baca Juga: Kapal Laut Garut jadi Korban Torpedo Jerman di Perang Dunia II

Waktu itu, teknologi belum secanggih sekarang. Dodol dibuat dengan bahan dasar sederhana: tepung beras ketan, gula putih, susu, dan santan kelapa. Tanpa bahan pengawet. Tapi hebatnya, dodol buatan Karsinah ini bisa tahan tiga bulan. Bergantung kondisi penyimpanannya. Bisa jadi, karena waktu masaknya yang lama dan adukannya yang penuh cinta.

Proses membuat dodol bukan kerja sebentar. Ini bukan makanan yang tinggal beli bumbu instan, campur, lalu jadi. Prosesnya butuh waktu tujuh sampai delapan jam. Adonannya harus diaduk terus-menerus biar tidak lengket, tidak gosong, dan tidak bikin perajin dodol kena omelan ibu-ibu.

Bahan dasarnya: tepung ketan yang ditumbuk atau digiling halus, gula merah, gula putih, dan santan kelapa. Gula merah dari aren atau kelapa memberi warna kecoklatan, gula putih membuat teksturnya lebih halus, dan santan kelapa menghadirkan rasa gurih. Kombinasi ini kalau salah satu kurang, bisa-bisa dodol berubah jadi lem perekat kertas.

Saat sudah matang, adonannya akan padat, kenyal, berminyak, dan bisa diiris. Kalau masih lengket di tangan, berarti belum siap disantap. Kalau lengketnya di hati, itu urusan lain.

Dari Tradisional ke Eksperimental: Dodol Bervariasi Rasa

Dulu dodol ya dodol, bentuknya kotak dan warnanya coklat. Tapi seiring waktu, bahan bakunya dimodifikasi. Masuklah pepaya, nenas, sirsak, durian, tomat, wijen, hingga kentang. Bayangkan saja, dodol rasa tomat—bisa jadi camilan sekaligus alasan tidak makan nasi.

Inovasi ini membuat dodol Garut makin digemari. Rata-rata permintaan tembus 4.378 ton per tahun. “Daerah pemasarannya sudah menjangkau Jawa, Kalimantan, Sumatera, dan Bali,” begitu catatan resmi. Bahkan sudah terbang ke Brunei, Malaysia, Jepang, Arab Saudi, Singapura, hingga Inggris. Dodol Garut pun jadi semacam duta rasa yang tanpa paspor.

Setelah masa-masa pionir seperti Karsinah dan Sirad, masuklah era para pengusaha dodol skala besar. Salah satunya adalah keluarga besar yang kelak melahirkan merek “Picnic”. Adalah Aam Mawardi yang kemudian memberi warna baru dalam sejarah dodol Garut. Laman perusahaan menyebuiAam memulai produksi dodol rumahan dengan merek Herlinah pada tahun 1950-an, terinspirasi dari nama anak ketiganya. Usaha itu dirintis di Jalan Ciledug No. 212, Garut.

Produksi Dodol Garut Picnic zaman baheula (Sumber: Dok. Dodol Picnic)
Produksi Dodol Garut Picnic zaman baheula (Sumber: Dok. Dodol Picnic)

Dia ingin dodolnya naik kelas, bukan sekadar suguhan tamu, tapi oleh-oleh berkelas. Ia pun mencoba menawarkan produknya ke toko oleh-oleh “Picnic” di Bandung. Sayangnya, ia ditolak mentah-mentah. Alasannya, dodol dianggap makanan rakyat bawah. Tapi Aam tak menyerah. Ia pun memutar strategi: mereknya ia ubah jadi “PICNIC”, untuk menghormati nama toko itu.

Strategi itu berhasil. “Nama dagang PICNIC kemudian didaftarkan ke Direktorat Paten pada 14 Juli 1959 dengan nomor register 67595,” tulis laman resmi perusahaan. Sejak itulah, nama dodol Picnic melegenda. Permintaan melonjak. Agar bisa memenuhi pasar, Aam menggandeng kakaknya, H. Iton Damiri, yang sejak 1949 lebih dulu memproduksi dodol merek Halimah. Kolaborasi pun terjadi, dengan PT Herlinah Cipta Pratama sebagai payung usahanya.

Baca Juga: Hikayat Dinasti Sunarya, Keluarga Dalang Wayang Golek Legendaris dari Jelekong

Iton sendiri adalah veteran pengungsian perang kemerdekaan. Sumber lain menyebut ia memilih usaha dodol sebagai jalan hidup setelah kecamuk perang kemerdekaan. Tahun 1949, ia memulai dengan nama Halimah. Pada 1950 diganti menjadi Fatimah, dan pada 1954 menjadi Purnama.

Pada 1955, mereka mulai menjangkau kota-kota besar di Jawa. Kemudian tahun 1957, bersama Aam, lahirlah “Herlinah” dan selanjutnya “PICNIC”.

Tak heran kalau menurut sejumlah sumber, pencatatan sejarah dodol Garut modern memang identik dengan dua sosok: H. Iton Damiri dan Aam Mawardi. Mereka bukan sekadar pedagang, tapi pelopor dalam industrialisasi dodol Garut.

Dari sekian banyak varian dan merek, dodol klasik berbahan dasar ketan tetap jadi primadona. Rasanya seperti nostalgia dalam bentuk makanan. Mau semodern apa pun dunia, rasa dodol ketan yang kenyal dan gurih itu tetap bikin orang Garut bilang, “Teu aya nu ngéléhkeun!”

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Wisata & Kuliner 21 Jun 2026, 13:04

5 Kuliner Semarang Pilihan yang Wajib Dicoba Wisatawan

Dari lumpia khas Pecinan hingga tahu gimbal dan nasi ayam malam hari, inilah rekomendasi kuliner Semarang yang wajib masuk daftar perjalanan Anda.

Kuliner Tahu Gimbal. (Sumber: Pemprov Jateng)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 12:17

Jembatan Cirahong, Warisan Belanda dengan Akses Lantai Ganda

Jembatan Cirahong, warisan dari Belanda yang memiliki dua jalur akses. Berfungsi sebagai rel kereta dan jalan bagi warga.

Jembatan Cirahong masa sekarang. (Sumber: Dokumen Pribadi)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:48

Meraih Impian dari Sekolah Terbaik

Menentukan sekolah terbaik pun harus dianggap sebagai langkah yang menentukan impian murid baru terwujud.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels/Agung Pandit Wiguna)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 10:36

Risiko Kecil dari USG yang Berlebihan

Pentingnya membatasi frekuensi USG kehamilan sesuai indikasi medis guna mencegah potensi risiko efek termal dan paparan ultrasonik berlebihan pada janin.

Ilustrasi pemeriksaan USG kandungan pada ibu hamil. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:32

Tidak Hanya Judol, Blind Box Juga Dapat Memicu Kecanduan

Blind box justru mendorong perilaku konsumtif dan impulsif pada konsumen Generasi Z.

Ilustrasi blind box. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 21 Jun 2026, 09:25

Bukan Sekadar Paspor: Makna Nasionalisme Dalam Skuad Timnas Modern

Performa baik Timnas Indonesia ikut dipengaruhi pemain diaspora.

Ole Romeny (10) bersama Ramadhan Sananta (9) di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Jumat (27/3). (Sumber: kemenpora.go.id | Foto: Herry)
Beranda 20 Jun 2026, 13:46

Mengayuh dengan Cemas di Kota yang Mengaku Ramah Pesepeda

Komunitas pesepeda Bandung memasang Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta usai tewasnya seorang remaja pesepeda, sekaligus mendesak pemerintah memperbaiki keselamatan infrastruktur jalan.

Komunitas sepeda dan pejalan kaki memasang memorial Ghost Bike di Jalan Soekarno-Hatta sebagai simbol duka atas tewasnya seorang remaja saat bersepeda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Beranda 20 Jun 2026, 05:35

Membongkar Operasi Informasi yang Tak Kasat Mata di Ruang Digital

Jurnalis diajak mengenali operasi manipulasi informasi di ruang digital, mulai dari disinformasi, narasi terkoordinasi, hingga rekayasa tren di media sosial.

Ika Ningtyas, Koordinator Cek Fakta Tempo, memaparkan cara mengenali operasi manipulasi informasi yang bekerja secara terorganisasi di ruang digital kepada para jurnalis di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 19 Jun 2026, 20:59

Dobrak Batas Sinema Remaja, Film ‘Dan Bandung’ Garapan Rudi Soedjarwo Angkat Isu Strict Parents

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung.

Peta sinema romansa tanah air bersiap menyambut angin segar lewat manuver terbaru Verona Films yang resmi mengumumkan proyek layar lebar Dan Bandung. (Sumber: Ist)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 20:00

Ciparay: Lumbung Padi Jawa Barat dari Dulu sampai Kini

Kecamatan Ciparay merupakan sentra produksi beras terbesar di wilayah Jawa Barat.

 (Sumber: KITLV, Diakses tangal 3 Juni 2026)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 18:45

Memahami Cara Ngiklan Game Digital, Bagaimana Valorant Memperkenalkan Skin Senjata agar Tak Biasa

Valorant resmi merilis skin terbarunya yang berjudul “Kuronami 2.0”, sebuah koleksi skin premium yang hadir untuk senjata Phantom, Operator, Guardian, Ghost, dan Melee.

Gambar Skin Senjata Kuronami 2.0
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:43

Naik Kereta Sambil Ketemu Karakter Favorit? Ternyata Ada Strategi Besar di Baliknya

Bagaimana sebuah kolaborasi karakter animasi lokal berhasil membuat audiens connect di berbagai platform dengan pendekatan yang disesuaikan, tanpa kehilangan benang merahnya.

Transportasi publik yang digunakan masyarakat Indonesia setiap harinya. (Sumber: Pexels | Foto: Noel Snpr)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 17:09

Hutan Pinus Rahong Pangalengan, Destinasi Sejuk dengan Sungai dan Camping Ground

Hutan Pinus Rahong menawarkan suasana teduh, camping, rafting, hingga glamping. Kenali 6 klaster wisata dan daya tarik alamnya sebelum berkunjung.

Hutan Pinus Rahong, Pangalengan.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 17:00

Toponimi Lembang (bagian 3 – Habis)

Di Lembang terdapat sebuah bukit yang berada di selatan observatorium Bosscha, yang dahulunya hanya merupakan bukit biasa yang ditumbuhi ilalang.

Kampung Lapang, Cikole, Lembang, pada saat pendudukan Jepang. Dapat terlihat Gunung Putri di belakang sebagai latar. (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 16:18

Jari, Kata, dan Hati

Sentuhan jari di atas gawai, dapat mengirim kabar baik, berbagi ilmu, menguatkan persaudaraan, sebaliknya bisa menyebarkan hoaks, ujaran kebencian, dan fitnah.

Saatnya menulis di Ayo Bandung (Sumber: Pexels/Ron Lach)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:46

Wewenang Kekuasaan Adityawarman di Kerajaan Malayu

Membahas mengenai peran Raja Adityawarman selama memimpin Kerajaaan Malayu.

Candi Muaro Jambi (Sumber: Pemerintah Provinsi Jambi (jambiprov.go.id))
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 15:09

Mengapa SNI Gempa Masih Jadi Formalitas di Indonesia

Esai ini membahas lemahnya penerapan SNI 1726:2019 sebagai standar ketahanan gempa pada bangunan rumah tinggal di Indonesia, yang saya telaah dari sudut pandang keilmuan teknik sipil.

Ilustrasi kerusakan akibat gempa.
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 13:39

Strategi Penyampaian Pesan dalam Publikasi Film melalui Website dan Media Sosial

Website resmi menyajikan informasi yang lebih lengkap mengenai film, pemeran, dan jadwal penayangannya.

Ilustrasi menonton film. (Sumber: Pexels | Foto: Pavel Danilyuk)
Ayo Netizen 19 Jun 2026, 11:44

Menelusuri Jejak dan Pola Aktivitas Manusia Masa Lampau di Situs Gua Batu

Daerah Pegunungan Meratus adalah surga bagi kehidupan ribuan tahun silam.

Kondisi Gua Batu dari Luar (Sumber: Geopark Meratus)
Wisata & Kuliner 19 Jun 2026, 11:06

Wisata Kawasan Tunjungan Surabaya: Sejarah, Kuliner, dan Walking Tour Heritage

Jelajahi Kawasan Tunjungan Surabaya yang memadukan sejarah perjuangan, bangunan kolonial, wisata kuliner, hingga walking tour heritage yang sedang populer.

Kawasan Tunjungan Surabaya. (Sumber: Pemkot Surabaya)