Hikayat Dinasti Sunarya, Keluarga Dalang Wayang Golek Legendaris dari Jelekong

5 menit baca
Hengky Sulaksono Redaksi
Ditulis oleh Hengky Sulaksono , Redaksi diterbitkan
Pertunjukan wayang golek Dadan Sunandar Sunarya. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pertunjukan wayang golek Dadan Sunandar Sunarya. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

AYOBANDUNG.ID - Tak banyak keluarga di Indonesia yang mampu bertahan lima generasi hanya dengan mengandalkan seni tradisi. Tapi keluarga Sunarya di Jelekong, Bandung, membuktikan bahwa wayang golek bukan sekadar warisan budaya—ia adalah garis hidup yang diwariskan dari satu dalang ke dalang berikutnya, dari satu cerita ke cerita yang terus tumbuh bersama zaman.

Dinasti Sunarya dimulai dari seorang lelaki yang tak banyak disebut dalam buku sejarah, tapi namanya hidup di benak para dalang: Abah Juhari. Ia adalah dalang dari Manggahang. Seperti banyak tokoh utama dalam dunia pedalangan, ia bukan hanya pendongeng, namun juga pengasuh zaman. Ia mendalang di masa sunyi, sebelum seni itu akrab dengan lampu sorot. Salah satu murid sekaligus anaknya adalah Sunarya, lelaki yang kelak dikenal sebagai Abah Sunarya.

“Dari bapaknya. Abah Juhari, dalang juga di Manggahang,” kata antropolog Prancis Sarah Anaïs Andrieu saat dihubungi Ayobandung, saat menceritakan dari mana kepiawaian Abah Sunarya berasal.

Sosok Abah Sunarya adalah figur sentral di balik berkembangnya wayang golek di abad ke-20. Ia dikenal luas pada 1940-an, di masa ketika pertunjukan wayang masih jadi tontonan rakyat sekaligus ruang kontemplasi masyarakat Sunda. Nama Abah Sunarya melejit bukan hanya karena kepiawaiannya memainkan wayang, tapi karena ia juga mewariskan tradisi itu secara konsisten kepada anak-anaknya.

Dari sembilan anak yang dilahirkannya bersama sang istri, lima di antaranya menjadi dalang: Ade Kosasih Sunarya, Nanih Kurniasih Sunarya, Iden Subasrana Sunarya, Suganjar Sunarya, dan tentu saja Asep Sunandar Sunarya yang merupakan anak ke-13 dari istrinya yang bernama Cucun Jubaedah.

Dari banyak keturunan Abah, muncullah satu yang paling cemerlang: Asep Sunandar Sunarya. Asep-lah yang membuat nama Dinasti Sunarya melesat, bukan hanya di Jawa Barat, tapi sampai ke panggung internasional.

Baca Juga: Hikayat Java Preanger, Warisan Kopi Harum dari Lereng Priangan

Ia adalah modernis dalam dunia pedalangan, seniman yang tak cuma piawai memainkan tradisi, tetapi juga gemar mendobrak pakem. Ia membuat wayang golek menjadi tontonan yang lebih hidup, lebih teatrikal, dan lebih dekat dengan zaman.

Lahir pada 3 September 1955, Asep mengawali kariernya sejak usia muda. Namanya dikenal sejak 1970-an, dan melambung pada 1980-an lewat pertunjukan di televisi, terutama program ASEP Show yang tayang tiap Ramadan di TPI. Ia bukan dalang biasa. Dalam pertunjukannya, wayang bisa salto, naik helikopter, atau muntah spaghetti.

Dalang Asep juga bereksperimen dengan musik. Ia mencipta gaya gamelan multi-laras, yang bisa berpindah-pindah mode musik tergantung suasana cerita. Tak semua seniman berani melakukannya, apalagi dalam tradisi seketat pedalangan Sunda. Tapi Asep tahu, seni bukan untuk dikurung dalam kitab tua.

“Sebagai praktisi itu harus selalu beradaptasi, apresiasi, jangan memandang sebelah mata, harus gaul dengan siapapun, yang penting bisa mengangkat budaya dan tradisi lokal,” begitu pesan Asep yang masih dikenang anak-anaknya hingga hari ini.

Ia juga membawa seni wayang golek ke luar negeri. Tahun 1989, ia tampil di Amerika Serikat. Tahun 1993, ia menjadi dosen tamu di Institut International de la Marionnette, Charleville-Mézières, Prancis. Dalam banyak pertunjukannya, Asep tak hanya mendongeng. Ia menyelipkan kritik sosial yang tajam melalui tokoh Cepot, boneka punakawan cerdik, tengil, sekaligus mewakili suara rakyat kecil.

Di masa itu, jarang ada seniman daerah yang mendapat pengakuan internasional. Asep adalah pengecualian. Ia berhasil membuat dunia melihat bahwa seni tradisi bisa setara dengan teater modern, selama punya nyawa dan keberanian untuk berubah.

Dia juga mendirikan kelompok seni Padepokan Giriharja 3 di kampung halamannya, Jelekong, untuk sebagai sarana edukasi sekaligus pewarisan tradisi dalang wayang golek DInasiti Sunarya.

Sayangnya, pada 31 Maret 2014, Asep Sunandar Sunarya wafat karena serangan jantung di Rumah Sakit Al Ihsan, Baleendah. Ia meninggalkan duka besar, bukan hanya bagi keluarga, tapi juga bagi dunia kesenian Sunda. Namun warisan itu tak putus. Anak Asep, Dadan Sunandar Sunarya, meneruskan jalur yang telah dirintis sang ayah.

“Setelah Abah (Asep), saya dipercaya untuk menjadi Pupuhu Padepokan Giriharja 3,” kata Dadan. Ia mengakui langkah itu tak mudah. Bayang-bayang sang maestro begitu besar. Tapi perlahan, ia berusaha tegak. Tahun 2017, Dadan mendapat undangan tampil di Prancis dalam festival wayang serupa yang pernah disambangi Asep di dekade sebelumnya.

Pertunjukan wayang golek Dadan Sunandar Sunarya. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pertunjukan wayang golek Dadan Sunandar Sunarya. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)

Baca Juga: Hikayat Sunda Empire, Kekaisaran Pewaris Tahta Julius Caesar dari Kota Kembang

Dalang Wayang Sebelum Dinasti Sunarya

Tapi jangan dikira Dinasti Sunarya berdiri dalam ruang kosong. Jauh sebelum Abah Sunarya naik ke panggung, seni wayang golek di Bandung sudah semarak. Dalam tulisan R. Moech. A. Affandie yang dimuat di koran Sipatahoenan tahun 1930-an, disebutkan ada setidaknya 22 dalang terkenal di wilayah Bandung Raya. Mereka datang dari berbagai kampung: Cibiru, Padalarang, Leuwigajah, Rancaekek, hingga Kiaracondong.

Dua tokoh penting di masa itu adalah Persoet dan Sawat. Persoet dikenal sebagai “Dalang Dalem” karena kerap tampil di pendopo dan disukai Kanjeng Dalem. Ia punya tiga anak: Kontja (Wanayasa), Pidjer (Purwakarta), dan Rintjig (Purwakarta). Sementara Sawat lebih sering tampil di luar lingkungan elite. Namun pengaruhnya tak kalah besar, karena ia punya murid seperti Bapa Anting, yang kemudian melahirkan nama-nama penting seperti Soewandaatmadja (alias H. Makboel) dan R. Djaja Ateng dari Cisondari.

Sarah Anaïs Andrieu juga mencatat bahwa kelahiran wayang golek sebagai bentuk seni baru di Jawa Barat bermula dari gagasan Dalem Karang Anyar Wiranatakusumah III, Bupati Bandung pada 1845. Ia memanggil tiga dalang dari Tegal dan Pekalongan untuk menciptakan bentuk baru pertunjukan wayang purwa yang cocok dimainkan siang hari. Tiga dalang itu adalah Ki Darman (pembuat wayang kayu), Ki Surasungging (penyusun repertoar musik), dan Ki Dipa Guna (dalang pertama).

Proyek itu disempurnakan oleh Wiranatakusumah IV. Ia mendatangkan Ki Anting untuk mendalang dalam bahasa Sunda agar lebih mudah dipahami rakyat. Murid Ki Anting, Brajanata, menyempurnakan gerak dan ekspresi wayang golek, menciptakan bentuk pertunjukan yang lebih hidup dan komunikatif.

Dari sanalah, rantai-rantai seni pedalangan tumbuh. Ada yang lahir dari garis darah, seperti Sunarya. Ada pula yang tumbuh dari garis murid dan sahabat, seperti keturunan Sawat. Semua membentuk ekosistem yang menjadikan Bandung Raya sebagai pusat penting wayang golek hingga hari ini.

Wayang golek bukan cuma seni pertunjukan. Ia adalah ruang tafsir atas zaman, tempat di mana kritik bisa disisipkan lewat guyonan, dan moral bisa dituturkan lewat kisah para punakawan. Dan selama masih ada nama Sunarya di Jelekong, maka cerita itu belum benar-benar berakhir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)