Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

7 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Senin 08 Jun 2026, 17:04 WIB
Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Sore mulai berganti malam di Laneo Cafe, Kota Bandung, Sabtu (31/5/2025). Di sudut ruangan, suara obrolan bercampur dengan denting gitar yang sedang dicoba sebelum tampil. Beberapa musisi terlihat saling menyapa. Sebagian sudah lama saling mengenal, sebagian lainnya baru bertemu malam itu.

Di atas panggung, satu demi satu musisi membawakan karya mereka sendiri. Tidak ada sekat genre. Tidak ada batas usia. Yang hadir malam itu dipersatukan oleh satu hal yang sama yaitu keinginan untuk terus berkarya.

Bagi penonton, acara itu mungkin terlihat seperti pertunjukan musik pada umumnya. Namun bagi para penggagas Bandung Music Indie (BMI), malam tersebut menyimpan harapan yang lebih besar. Mereka sedang mencoba menghidupkan kembali sesuatu yang menurut mereka perlahan menghilang dari Bandung: ruang bersama bagi musisi independen.

"Bandung enggak seindah dulu. Ini harus dibuat indah kembali," kata Andy, salah satu penggagas Bandung Music Indie.

Andy meyakini ruang temu fisik tetap penting untuk menjaga ekosistem dan solidaritas antarmusisi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Andy meyakini ruang temu fisik tetap penting untuk menjaga ekosistem dan solidaritas antarmusisi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Kalimat itu bukan sekadar nostalgia. Ia lahir dari pengamatan panjang terhadap perkembangan musik independen di Kota Bandung.

Selama puluhan tahun, Bandung dikenal sebagai salah satu kota paling penting dalam perjalanan musik indie Indonesia. Dari kota ini lahir berbagai band legendaris era 1990-an seperti Pas Band, Pure Saturday, Puppen, hingga Mocca yang membentuk identitas musik alternatif nasional. Bandung pernah menjadi tempat di mana musisi, seniman, penikmat musik, hingga komunitas kreatif saling bertemu dan tumbuh bersama.

Namun menurut Andy, kondisi tersebut tidak lagi sekuat dulu. Musisi masih banyak. Karya baru terus bermunculan. Namun ruang nyata yang mempertemukan mereka semakin berkurang.

Hal serupa dirasakan oleh Dani Reginus Suryana (59), atau yang akrab disapa Deni, vokalis PAS88 sekaligus pencetus utama gerakan BMI. Menurutnya, Bandung sebenarnya tidak pernah kekurangan talenta. Musisi independen, solois, maupun band baru terus lahir. Hanya saja mereka berjalan dalam jalurnya masing-masing tanpa kompas kelompok.

"Saya resah kenapa Bandung seperti hilang. Dulu musik indie Bandung begitu kuat sampai tingkat nasional, tapi belakangan kita sempat kalah taji dari Jogja, Bali, atau Jakarta. Sekarang banyak musisi bagus, banyak seniman bagus di Bandung, tapi jalan sendiri-sendiri. Enggak punya rumah," ujar Deni, musisi gaek yang sudah aktif sejak era 1990-an.

Keresahan itulah yang kemudian melahirkan Bandung Music Indie. Bagi Deni, persoalan terbesar saat ini bukan minimnya karya. Justru karya semakin melimpah. Yang menjadi masalah adalah minimnya wadah yang mampu memamerkan karya-karya orisinal tersebut secara kolektif.

"Kalau pelukis punya galeri untuk memajang kanvasnya, nah Bandung Music Indie ini adalah galerinya para musisi untuk memajangkan nada," analogi Deni.

Paradoks "Toko Roti" Digital dan Pentingnya Pembuktian Live

Di tengah perkembangan teknologi digital, paradoks industri musik hari ini semakin terasa. Siapa pun kini bisa merilis lagu ke Spotify, Apple Music, YouTube, maupun platform streaming lainnya tanpa harus bergantung kepada label rekaman besar.

Deni, yang dalam rekam jejaknya pernah mencicipi industri indie lawas hingga masuk ke major label raksasa seperti Sony Music dan EMI, mengakui bahwa teknologi hari ini memberikan kemerdekaan penuh bagi musisi, terutama dalam transparansi pengelolaan hak cipta dan royalti. Namun, kemudahan distribusi digital ternyata tidak otomatis menghadirkan ruang pertemuan yang bernyawa.

"Jangan bangga dulu kalau karyamu sudah ada di platform digital. Itu baru ibarat kamu buka toko roti. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar orang-orang tahu toko itu dan mau datang belanja roti kamu?" sentil Deni.

Deni, pencetus Bandung Music Indie, berbagi gagasan tentang pentingnya membangun kembali ruang bersama bagi musisi independen di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Deni, pencetus Bandung Music Indie, berbagi gagasan tentang pentingnya membangun kembali ruang bersama bagi musisi independen di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Itulah mengapa Andy menilai ruang fisik tetap memiliki fungsi kultural yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh kecanggihan algoritma.

"Spotify itu digital, itu tokonya. Nah, kalau acara seperti ini adalah instalasi nyata atau kantornya," kata Andy.

Menurut Andy, ruang temu fisik memungkinkan musisi dan penonton saling bertukar energi dan emosi secara langsung. Sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar dingin telepon genggam. Apalagi di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) saat ini, panggung live menjadi pembuktian paling otentik bagi seorang musisi. Penonton ingin memastikan apakah karya indah yang mereka dengar di platform digital benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara nyata di atas panggung.

Lebih jauh lagi, Bandung Music Indie mencoba menawarkan konsep yang berbeda dibanding sekadar panggung musik atau gigs biasa yang menjamur di kafe-kafe Bandung. Selama ini, banyak band lokal terjebak di zona nyaman menjadi band cover demi tuntutan komersial.

"Bagi saya, seniman, solois, atau band itu kalau belum punya lagu sendiri itu belum diwisuda. Seperti sekolah yang enggak kelar-kelar, enggak dapat ijazah," tegas Deni menyentil fenomena band cover.

Gotong Royong Melawan Mahalnya Industri

Alih-alih membatasi diri pada satu genre tertentu, BMI justru membuka ruang bagi semua jenis musik untuk tampil dalam panggung yang sama. Malam itu penonton dapat menemukan beragam warna musik dalam satu acara. Dari musik alternatif, pop, thrash metal, hingga dangdut yang biasanya memiliki basis penggemar berbeda.

"Yang suka musik keras dipaksa harus dengar dangdut. Yang suka dangdut bisa dengar genre lain. Semua lintas generasi dan lintas penggemar ketemu di sini," kata Andy sembari tertawa.

Konsep lintas genre itu sengaja dibangun agar para musisi dan penonton tidak terjebak dalam kelompok-kelompok kecil yang terkotak-kotak eksklusif.

Selain menjadi ruang pertemuan, Bandung Music Indie juga hadir sebagai solusi nyata atas tembok tebal yang selama ini dihadapi banyak musisi independen: biaya operasional peluncuran karya. Menurut Andy, untuk menggelar sebuah showcase mandiri yang layak, sebuah band minimal harus merogoh kocek belasan hingga puluhan juta rupiah.

"Kalau bikin launching sendiri untuk satu band itu bisa habis Rp15 juta sampai Rp30 juta. Berat. Makanya di BMI kita pakai sistem rereongan atau gotong royong," ujarnya.

Musisi dan penonton berkumpul dalam gelaran perdana Bandung Music Indie di Laneo Cafe, Kota Bandung, yang menghadirkan beragam genre musik dalam satu panggung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Musisi dan penonton berkumpul dalam gelaran perdana Bandung Music Indie di Laneo Cafe, Kota Bandung, yang menghadirkan beragam genre musik dalam satu panggung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Melalui konsep rereongan ini, biaya sewa tempat, sound system, dokumentasi, hingga konsumsi ditanggung bersama-sama lewat sistem patungan kolektif. Biaya keseluruhan pun bisa dipangkas hingga 75 persen.

Semangat gotong royong itu menjadi fondasi utama Bandung Music Indie. Bukan hanya soal berbagi biaya, tetapi juga berbagi ruang, penonton, jaringan, dan kesempatan. Di mata Deni, semangat kolektif seperti itulah yang dulu membuat skena musik independen Bandung tumbuh raksasa. Budaya saling bantu itu harus dihidupkan lagi agar musisi Bandung tidak tumbuh menjadi egois.

"Jangan sampai merasa besar sendiri. Seniman itu dasarnya kebersamaan. Justru yang sudah sukses harus membuka jalan dan memberi solusi bagi yang belum, jangan jalan sendiri-sendiri," cetus Deni.

Mimpi Membangun "Liga Musik" Jawa Barat

Karena itu, para penggagas yang diisi oleh kolektif musisi stok lama seperti Deni, Andy, Wawan Orain, Tius, Fahmi, hingga Pei ini berharap BMI tidak berhenti sebagai acara satu malam semata. Mereka bahkan memiliki cetak biru (blueprint) jangka panjang yang ambisius: membangun sistem menyerupai liga sepak bola.

"Kenapa orang bisa fanatik banget sama sepak bola? Karena ada liga yang berjalan terus tanpa putus. Nah, musik harusnya punya sistem liga seperti itu," ungkap Deni.

Rencananya, gerakan BMI ini akan bergulir konsisten setiap tiga bulan sekali sebagai "Chapter". Tidak berhenti di Bandung, mereka bermimpi bertindak sebagai payung federasi yang akan menginisiasi gerakan serupa di kota-kota lain di Jawa Barat. Ke depan, diharapkan lahir kolektif mandiri seperti Cirebon Music Indie (CMI) hingga Garut Music Indie (GMI).

Harapan itu tampaknya bukan sesuatu yang muluk. Baru pada gelaran perdananya (Chapter 1) di Laneo Cafe, antusiasme musisi lokal langsung meledak. Pihak penyelenggara bahkan terpaksa menolak beberapa band karena keterbatasan durasi. Andy menyebutkan saat ini sudah ada sekitar delapan band yang mengantre dan mendaftarkan diri untuk unjuk gigi di Chapter 2.

Di tengah perubahan zaman, derasnya arus digitalisasi, dan tren musisi yang bergerak sendiri-sendiri, Bandung Music Indie mencoba menghadirkan kembali sesuatu yang esensial: ruang fisik untuk kembali bertemu dan bergerak bersama.

Sebuah ruang tempat musisi lama dan musisi baru berdiri sejajar tanpa sekat senioritas. Tempat berbagai genre saling mengapresiasi. Tempat karya menemukan penikmat sejatinya di dunia nyata.

Atau seperti yang dikatakan Deni, sebuah upaya kecil nan berani untuk meniup kembali bara api yang pernah membuat Bandung menyandang predikat sebagai ibu kota musik independen di Indonesia.

"Kita sedang menyalakan api kecil. Mudah-mudahan api itu makin besar," pungkasnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Bandung 08 Jun 2026, 19:34

Menilik Eksistensi Dawa Rempah, Racikan Minuman Herbal Tradisional dengan Sentuhan Modern

Gaya hidup sehat turut menjadi tren kekinian yang santer digandrungi oleh masyarakat di masa kini. Salah satu caranya lewat menjaga kesehatan dan kebugaran.

Dawa Rempah (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:31

Hari Laut Sedunia, Masih Adakah Prospek Galangan Kapal di Jabar?

Masih sedikit industri galangan kapal di Jabar. Padahal provinsi ini memiliki sebelas pelabuhan yang bisa digunakan sebagai prasarana galangan kapal.

Ilustrasi Hari Laut Sedunia 2026, pemandangan Pantai Jayanti di Kecamatan Cidaun. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Muhammad Ikhsan)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 18:01

Polemik Penggusuran Perumahan Warga di Anyer Dalam akibat Pembangunan oleh KAI

Perumahan Warga di Anyer Dalam digusur untuk pembangunan yang dilakukan oleh oleh KAI merupakan kejadian yang terjadi 5 tahun yang lalu.

Foto Grafiti Bekas 2021 di Tembok Menyusuri di Jalan Serang menyusuri Jalan Anyer Dalam, 17 April 2026. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Hikmat Nur Hidayat)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 17:29

Polemik SPPG Sukabumi: Antara Harapan Gizi dan Alarm Nyata bagi Gen Z

Tercatat sudah tiga kali gelombang unjuk rasa terjadi di pertengahan tahun ini.

Dokumentasi demo SPPG Sukabumi
Beranda 08 Jun 2026, 17:04

Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

Bandung pernah menjadi salah satu pusat musik independen Indonesia. Melalui Bandung Music Indie, para musisi kini berupaya membangun kembali ruang bersama dan semangat kolektif yang mulai memudar.

Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 16:53

Gedung BAT Cirebon, Pusat Industri yang Kini Hidup sebagai Cagar Budaya Kota

Bukan hanya bangunan kosong, Gedung BAT Cirebon merupakan saksi bisu kejayaan industri kolonial di Kota Cirebon.

Potret Gedung BAT Cirebon saat ini (Sumber: siceppot.cirebonkota.go.id)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 15:07

Gor Saparua sebagai Ruang Ekspresi Anak Muda dan Panggung Musik Kota Bandung

Satu tempat yang sekarang banyak dipakai orang untuk mencurahkan keringat selama 1990-an-2000-an.

Gor Saparua Bandung. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Zikri)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 12:00

Perempuan yang Menjerit-Membuncah Keheningan Malam Kota Bandung

Bahkan di keheningan malam pun perempuan selalu ramai dengan isi kepalanya.

Suasana alam di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: KOSONGDANSATU)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 10:41

Ibu Kota di Bawah Hujan Plastik: Bagaimana Peran Pemerintah dalam Mengatasinya?

Hujan mikroplastik di Ibu Kota dan pernah menjadi berita hangat pada 2025 akhir tahun.

Banjir akibat hujan deras di Jakarta. (Sumber: Pexels | Foto: Jeffry Surianto)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:43

Fenomena Geologi Mata Air Asin dalam Memori Kolektif dan Toponimi Desa Ciuyah

Fenomena mata air asin di Desa Ciuyah, Kab. Sumedang, berasal dari air laut purba (connate water).

Kondisi terkini situs mata air asin purba (connate water) di Desa Ciuyah, Kecamatan Cisarua, Kabupaten Sumedang, Jawa Barat, saat didokumentasikan pada 28 Maret 2026 pukul 10.50 WIB. (Sumber: Dokumentasi Pribadi | Foto: Fatia Siti Biladi)
Wisata & Kuliner 08 Jun 2026, 09:42

Panduan Wisata Sea World: Dunia Bawah Laut yang Bisa Dijelajahi dalam 3 Jam

Panduan lengkap Sea World Ancol mulai dari harga tiket, Antasena Tunnel, feeding shark, Jellyfish Sphere, hingga tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Sea World Indonesia. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 09:02

Rompi "Psikolog Klinis" di Puskesmas: Niat Baik yang Menabrak Aturan

Pemasangan rompi bertuliskan "Psikolog Klinis" di puskesmas menuai sorotan. Di balik niat baik meningkatkan layanan, ada aturan profesi yang dipertanyakan.

Seorang warga berkonsultasi dengan psikolog di Puskesmas Ibrahim Adjie, Kota Bandung, Rabu 13 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 08 Jun 2026, 08:26

Wujudkan Optimasi Pajak Bumi dan Bangunan dengan Drone  

Mengelola Pajak Bumi dan Bangunan dengan drone sangat efektif untuk melakukan pemetaan udara, pemutakhiran data blok, dan penilaian properti secara presisi.

Demo drone produksi Iter Aero di Kabupaten Subang terkait dengan bidang perkebunan (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 19:05

Bangsa Penghafal: Ketika Pancasila Dipisahkan dari Tradisi Berpikir yang Melahirkannya

Pancasila tidak lahir dari hafalan. Ia lahir dari pergulatan pemikiran yang panjang. Ironisnya, bangsa yang mewarisinya justru semakin terbiasa menghafal daripada memahami.

Bung Karno (Foto: Dokumen Historia.ID)
Bandung 07 Jun 2026, 18:19

Dari K-Pop hingga Kuliner, Mengintip Cara Bandung dan Korea Selatan Ubah Hubungan Kultural Jadi Peluang Bisnis Kreatif

Dari kegemaran menikmati musik hingga tren produk kecantikan, adaptasi kultural ini perlahan tapi pasti membuka ruang-ruang usaha baru yang melibatkan para pelaku industri kreatif lokal.

“Oullim Korea: Rhythm & Recipes” yang memadati 23 Paskal Shopping Center, Bandung, pada 5–7 Juni 2026.
Bandung 07 Jun 2026, 15:04

Dari Tren Jadi Cuan, Kisah Mawaru Matcha Ekspansi Ratusan Gerai Lewat Minuman Kalcer

Gelombang hype yang mengakar dari tren makanan hingga minuman kalcer masa kini seperti dessert, kopi, sampai matcha greentea, kian menarik respons positif masyarakat.

Mawaru Matcha. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Sejarah 07 Jun 2026, 09:41

Riwayat Cibiru, Pusat Kesenian Hingga Kemacetan

Cibiru dikenal karena kemacetannya, tetapi kawasan ini juga menjadi rumah bagi benjang dan wayang golek.

Kondisi kemacetan di Cibiru, Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 07 Jun 2026, 08:33

Jelajah Yogyakarta untuk Pemula: Destinasi, Kuliner, dan Itinerary Pilihan

Panduan lengkap untuk pertama kali ke Yogyakarta, mulai dari transportasi, tempat menginap, wisata budaya, hingga kuliner khas yang wajib dicoba.

Tugu Jogja. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 07 Jun 2026, 07:09

Menelusuri Jejak Bioskop Capitol di Sukabumi

mengenai bioskop capitol di sukabumi, yang pernah menjadi pusat hiburan masyarakat ditahun 90-an

Bioskop Capitol sudah ada sejak masa kolonial Belanda. (Sumber: Dokumentasi Penulis)