AYOBANDUNG.ID - Sore mulai berganti malam di Laneo Cafe, Kota Bandung, Sabtu (31/5/2025). Di sudut ruangan, suara obrolan bercampur dengan denting gitar yang sedang dicoba sebelum tampil. Beberapa musisi terlihat saling menyapa. Sebagian sudah lama saling mengenal, sebagian lainnya baru bertemu malam itu.
Di atas panggung, satu demi satu musisi membawakan karya mereka sendiri. Tidak ada sekat genre. Tidak ada batas usia. Yang hadir malam itu dipersatukan oleh satu hal yang sama yaitu keinginan untuk terus berkarya.
Bagi penonton, acara itu mungkin terlihat seperti pertunjukan musik pada umumnya. Namun bagi para penggagas Bandung Music Indie (BMI), malam tersebut menyimpan harapan yang lebih besar. Mereka sedang mencoba menghidupkan kembali sesuatu yang menurut mereka perlahan menghilang dari Bandung: ruang bersama bagi musisi independen.
"Bandung enggak seindah dulu. Ini harus dibuat indah kembali," kata Andy, salah satu penggagas Bandung Music Indie.

Kalimat itu bukan sekadar nostalgia. Ia lahir dari pengamatan panjang terhadap perkembangan musik independen di Kota Bandung.
Selama puluhan tahun, Bandung dikenal sebagai salah satu kota paling penting dalam perjalanan musik indie Indonesia. Dari kota ini lahir berbagai band legendaris era 1990-an seperti Pas Band, Pure Saturday, Puppen, hingga Mocca yang membentuk identitas musik alternatif nasional. Bandung pernah menjadi tempat di mana musisi, seniman, penikmat musik, hingga komunitas kreatif saling bertemu dan tumbuh bersama.
Namun menurut Andy, kondisi tersebut tidak lagi sekuat dulu. Musisi masih banyak. Karya baru terus bermunculan. Namun ruang nyata yang mempertemukan mereka semakin berkurang.

Hal serupa dirasakan oleh Dani Reginus Suryana (59), atau yang akrab disapa Deni, vokalis PAS88 sekaligus pencetus utama gerakan BMI. Menurutnya, Bandung sebenarnya tidak pernah kekurangan talenta. Musisi independen, solois, maupun band baru terus lahir. Hanya saja mereka berjalan dalam jalurnya masing-masing tanpa kompas kelompok.
"Saya resah kenapa Bandung seperti hilang. Dulu musik indie Bandung begitu kuat sampai tingkat nasional, tapi belakangan kita sempat kalah taji dari Jogja, Bali, atau Jakarta. Sekarang banyak musisi bagus, banyak seniman bagus di Bandung, tapi jalan sendiri-sendiri. Enggak punya rumah," ujar Deni, musisi gaek yang sudah aktif sejak era 1990-an.
Keresahan itulah yang kemudian melahirkan Bandung Music Indie. Bagi Deni, persoalan terbesar saat ini bukan minimnya karya. Justru karya semakin melimpah. Yang menjadi masalah adalah minimnya wadah yang mampu memamerkan karya-karya orisinal tersebut secara kolektif.
"Kalau pelukis punya galeri untuk memajang kanvasnya, nah Bandung Music Indie ini adalah galerinya para musisi untuk memajangkan nada," analogi Deni.
Paradoks "Toko Roti" Digital dan Pentingnya Pembuktian Live
Di tengah perkembangan teknologi digital, paradoks industri musik hari ini semakin terasa. Siapa pun kini bisa merilis lagu ke Spotify, Apple Music, YouTube, maupun platform streaming lainnya tanpa harus bergantung kepada label rekaman besar.
Deni, yang dalam rekam jejaknya pernah mencicipi industri indie lawas hingga masuk ke major label raksasa seperti Sony Music dan EMI, mengakui bahwa teknologi hari ini memberikan kemerdekaan penuh bagi musisi, terutama dalam transparansi pengelolaan hak cipta dan royalti. Namun, kemudahan distribusi digital ternyata tidak otomatis menghadirkan ruang pertemuan yang bernyawa.
"Jangan bangga dulu kalau karyamu sudah ada di platform digital. Itu baru ibarat kamu buka toko roti. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar orang-orang tahu toko itu dan mau datang belanja roti kamu?" sentil Deni.

Itulah mengapa Andy menilai ruang fisik tetap memiliki fungsi kultural yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh kecanggihan algoritma.
"Spotify itu digital, itu tokonya. Nah, kalau acara seperti ini adalah instalasi nyata atau kantornya," kata Andy.
Menurut Andy, ruang temu fisik memungkinkan musisi dan penonton saling bertukar energi dan emosi secara langsung. Sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar dingin telepon genggam. Apalagi di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) saat ini, panggung live menjadi pembuktian paling otentik bagi seorang musisi. Penonton ingin memastikan apakah karya indah yang mereka dengar di platform digital benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara nyata di atas panggung.
Lebih jauh lagi, Bandung Music Indie mencoba menawarkan konsep yang berbeda dibanding sekadar panggung musik atau gigs biasa yang menjamur di kafe-kafe Bandung. Selama ini, banyak band lokal terjebak di zona nyaman menjadi band cover demi tuntutan komersial.
"Bagi saya, seniman, solois, atau band itu kalau belum punya lagu sendiri itu belum diwisuda. Seperti sekolah yang enggak kelar-kelar, enggak dapat ijazah," tegas Deni menyentil fenomena band cover.

Gotong Royong Melawan Mahalnya Industri
Alih-alih membatasi diri pada satu genre tertentu, BMI justru membuka ruang bagi semua jenis musik untuk tampil dalam panggung yang sama. Malam itu penonton dapat menemukan beragam warna musik dalam satu acara. Dari musik alternatif, pop, thrash metal, hingga dangdut yang biasanya memiliki basis penggemar berbeda.
"Yang suka musik keras dipaksa harus dengar dangdut. Yang suka dangdut bisa dengar genre lain. Semua lintas generasi dan lintas penggemar ketemu di sini," kata Andy sembari tertawa.
Konsep lintas genre itu sengaja dibangun agar para musisi dan penonton tidak terjebak dalam kelompok-kelompok kecil yang terkotak-kotak eksklusif.
Selain menjadi ruang pertemuan, Bandung Music Indie juga hadir sebagai solusi nyata atas tembok tebal yang selama ini dihadapi banyak musisi independen: biaya operasional peluncuran karya. Menurut Andy, untuk menggelar sebuah showcase mandiri yang layak, sebuah band minimal harus merogoh kocek belasan hingga puluhan juta rupiah.
"Kalau bikin launching sendiri untuk satu band itu bisa habis Rp15 juta sampai Rp30 juta. Berat. Makanya di BMI kita pakai sistem rereongan atau gotong royong," ujarnya.

Melalui konsep rereongan ini, biaya sewa tempat, sound system, dokumentasi, hingga konsumsi ditanggung bersama-sama lewat sistem patungan kolektif. Biaya keseluruhan pun bisa dipangkas hingga 75 persen.
Semangat gotong royong itu menjadi fondasi utama Bandung Music Indie. Bukan hanya soal berbagi biaya, tetapi juga berbagi ruang, penonton, jaringan, dan kesempatan. Di mata Deni, semangat kolektif seperti itulah yang dulu membuat skena musik independen Bandung tumbuh raksasa. Budaya saling bantu itu harus dihidupkan lagi agar musisi Bandung tidak tumbuh menjadi egois.
"Jangan sampai merasa besar sendiri. Seniman itu dasarnya kebersamaan. Justru yang sudah sukses harus membuka jalan dan memberi solusi bagi yang belum, jangan jalan sendiri-sendiri," cetus Deni.
Mimpi Membangun "Liga Musik" Jawa Barat
Karena itu, para penggagas yang diisi oleh kolektif musisi stok lama seperti Deni, Andy, Wawan Orain, Tius, Fahmi, hingga Pei ini berharap BMI tidak berhenti sebagai acara satu malam semata. Mereka bahkan memiliki cetak biru (blueprint) jangka panjang yang ambisius: membangun sistem menyerupai liga sepak bola.
"Kenapa orang bisa fanatik banget sama sepak bola? Karena ada liga yang berjalan terus tanpa putus. Nah, musik harusnya punya sistem liga seperti itu," ungkap Deni.
Rencananya, gerakan BMI ini akan bergulir konsisten setiap tiga bulan sekali sebagai "Chapter". Tidak berhenti di Bandung, mereka bermimpi bertindak sebagai payung federasi yang akan menginisiasi gerakan serupa di kota-kota lain di Jawa Barat. Ke depan, diharapkan lahir kolektif mandiri seperti Cirebon Music Indie (CMI) hingga Garut Music Indie (GMI).
Harapan itu tampaknya bukan sesuatu yang muluk. Baru pada gelaran perdananya (Chapter 1) di Laneo Cafe, antusiasme musisi lokal langsung meledak. Pihak penyelenggara bahkan terpaksa menolak beberapa band karena keterbatasan durasi. Andy menyebutkan saat ini sudah ada sekitar delapan band yang mengantre dan mendaftarkan diri untuk unjuk gigi di Chapter 2.
Di tengah perubahan zaman, derasnya arus digitalisasi, dan tren musisi yang bergerak sendiri-sendiri, Bandung Music Indie mencoba menghadirkan kembali sesuatu yang esensial: ruang fisik untuk kembali bertemu dan bergerak bersama.
Sebuah ruang tempat musisi lama dan musisi baru berdiri sejajar tanpa sekat senioritas. Tempat berbagai genre saling mengapresiasi. Tempat karya menemukan penikmat sejatinya di dunia nyata.
Atau seperti yang dikatakan Deni, sebuah upaya kecil nan berani untuk meniup kembali bara api yang pernah membuat Bandung menyandang predikat sebagai ibu kota musik independen di Indonesia.
"Kita sedang menyalakan api kecil. Mudah-mudahan api itu makin besar," pungkasnya.
