Bandung Pernah Jadi Kiblat Musik Indie, Kini Para Musisi Berusaha Merebutnya Kembali

7 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Atmosfer hangat dan akrab mewarnai gelaran Bandung Music Indie saat musisi lintas generasi dan penikmat musik bertemu dalam satu ruang yang sama. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Sore mulai berganti malam di Laneo Cafe, Kota Bandung, Sabtu (31/5/2025). Di sudut ruangan, suara obrolan bercampur dengan denting gitar yang sedang dicoba sebelum tampil. Beberapa musisi terlihat saling menyapa. Sebagian sudah lama saling mengenal, sebagian lainnya baru bertemu malam itu.

Di atas panggung, satu demi satu musisi membawakan karya mereka sendiri. Tidak ada sekat genre. Tidak ada batas usia. Yang hadir malam itu dipersatukan oleh satu hal yang sama yaitu keinginan untuk terus berkarya.

Bagi penonton, acara itu mungkin terlihat seperti pertunjukan musik pada umumnya. Namun bagi para penggagas Bandung Music Indie (BMI), malam tersebut menyimpan harapan yang lebih besar. Mereka sedang mencoba menghidupkan kembali sesuatu yang menurut mereka perlahan menghilang dari Bandung: ruang bersama bagi musisi independen.

"Bandung enggak seindah dulu. Ini harus dibuat indah kembali," kata Andy, salah satu penggagas Bandung Music Indie.

Andy meyakini ruang temu fisik tetap penting untuk menjaga ekosistem dan solidaritas antarmusisi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Andy meyakini ruang temu fisik tetap penting untuk menjaga ekosistem dan solidaritas antarmusisi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Kalimat itu bukan sekadar nostalgia. Ia lahir dari pengamatan panjang terhadap perkembangan musik independen di Kota Bandung.

Selama puluhan tahun, Bandung dikenal sebagai salah satu kota paling penting dalam perjalanan musik indie Indonesia. Dari kota ini lahir berbagai band legendaris era 1990-an seperti Pas Band, Pure Saturday, Puppen, hingga Mocca yang membentuk identitas musik alternatif nasional. Bandung pernah menjadi tempat di mana musisi, seniman, penikmat musik, hingga komunitas kreatif saling bertemu dan tumbuh bersama.

Namun menurut Andy, kondisi tersebut tidak lagi sekuat dulu. Musisi masih banyak. Karya baru terus bermunculan. Namun ruang nyata yang mempertemukan mereka semakin berkurang.

Hal serupa dirasakan oleh Dani Reginus Suryana (59), atau yang akrab disapa Deni, vokalis PAS88 sekaligus pencetus utama gerakan BMI. Menurutnya, Bandung sebenarnya tidak pernah kekurangan talenta. Musisi independen, solois, maupun band baru terus lahir. Hanya saja mereka berjalan dalam jalurnya masing-masing tanpa kompas kelompok.

"Saya resah kenapa Bandung seperti hilang. Dulu musik indie Bandung begitu kuat sampai tingkat nasional, tapi belakangan kita sempat kalah taji dari Jogja, Bali, atau Jakarta. Sekarang banyak musisi bagus, banyak seniman bagus di Bandung, tapi jalan sendiri-sendiri. Enggak punya rumah," ujar Deni, musisi gaek yang sudah aktif sejak era 1990-an.

Keresahan itulah yang kemudian melahirkan Bandung Music Indie. Bagi Deni, persoalan terbesar saat ini bukan minimnya karya. Justru karya semakin melimpah. Yang menjadi masalah adalah minimnya wadah yang mampu memamerkan karya-karya orisinal tersebut secara kolektif.

"Kalau pelukis punya galeri untuk memajang kanvasnya, nah Bandung Music Indie ini adalah galerinya para musisi untuk memajangkan nada," analogi Deni.

Paradoks "Toko Roti" Digital dan Pentingnya Pembuktian Live

Di tengah perkembangan teknologi digital, paradoks industri musik hari ini semakin terasa. Siapa pun kini bisa merilis lagu ke Spotify, Apple Music, YouTube, maupun platform streaming lainnya tanpa harus bergantung kepada label rekaman besar.

Deni, yang dalam rekam jejaknya pernah mencicipi industri indie lawas hingga masuk ke major label raksasa seperti Sony Music dan EMI, mengakui bahwa teknologi hari ini memberikan kemerdekaan penuh bagi musisi, terutama dalam transparansi pengelolaan hak cipta dan royalti. Namun, kemudahan distribusi digital ternyata tidak otomatis menghadirkan ruang pertemuan yang bernyawa.

"Jangan bangga dulu kalau karyamu sudah ada di platform digital. Itu baru ibarat kamu buka toko roti. Pertanyaannya, bagaimana caranya agar orang-orang tahu toko itu dan mau datang belanja roti kamu?" sentil Deni.

Deni, pencetus Bandung Music Indie, berbagi gagasan tentang pentingnya membangun kembali ruang bersama bagi musisi independen di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Deni, pencetus Bandung Music Indie, berbagi gagasan tentang pentingnya membangun kembali ruang bersama bagi musisi independen di Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Itulah mengapa Andy menilai ruang fisik tetap memiliki fungsi kultural yang tidak akan pernah bisa tergantikan oleh kecanggihan algoritma.

"Spotify itu digital, itu tokonya. Nah, kalau acara seperti ini adalah instalasi nyata atau kantornya," kata Andy.

Menurut Andy, ruang temu fisik memungkinkan musisi dan penonton saling bertukar energi dan emosi secara langsung. Sesuatu yang tidak bisa sepenuhnya digantikan oleh layar dingin telepon genggam. Apalagi di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) saat ini, panggung live menjadi pembuktian paling otentik bagi seorang musisi. Penonton ingin memastikan apakah karya indah yang mereka dengar di platform digital benar-benar bisa dipertanggungjawabkan secara nyata di atas panggung.

Lebih jauh lagi, Bandung Music Indie mencoba menawarkan konsep yang berbeda dibanding sekadar panggung musik atau gigs biasa yang menjamur di kafe-kafe Bandung. Selama ini, banyak band lokal terjebak di zona nyaman menjadi band cover demi tuntutan komersial.

"Bagi saya, seniman, solois, atau band itu kalau belum punya lagu sendiri itu belum diwisuda. Seperti sekolah yang enggak kelar-kelar, enggak dapat ijazah," tegas Deni menyentil fenomena band cover.

Gotong Royong Melawan Mahalnya Industri

Alih-alih membatasi diri pada satu genre tertentu, BMI justru membuka ruang bagi semua jenis musik untuk tampil dalam panggung yang sama. Malam itu penonton dapat menemukan beragam warna musik dalam satu acara. Dari musik alternatif, pop, thrash metal, hingga dangdut yang biasanya memiliki basis penggemar berbeda.

"Yang suka musik keras dipaksa harus dengar dangdut. Yang suka dangdut bisa dengar genre lain. Semua lintas generasi dan lintas penggemar ketemu di sini," kata Andy sembari tertawa.

Konsep lintas genre itu sengaja dibangun agar para musisi dan penonton tidak terjebak dalam kelompok-kelompok kecil yang terkotak-kotak eksklusif.

Selain menjadi ruang pertemuan, Bandung Music Indie juga hadir sebagai solusi nyata atas tembok tebal yang selama ini dihadapi banyak musisi independen: biaya operasional peluncuran karya. Menurut Andy, untuk menggelar sebuah showcase mandiri yang layak, sebuah band minimal harus merogoh kocek belasan hingga puluhan juta rupiah.

"Kalau bikin launching sendiri untuk satu band itu bisa habis Rp15 juta sampai Rp30 juta. Berat. Makanya di BMI kita pakai sistem rereongan atau gotong royong," ujarnya.

Musisi dan penonton berkumpul dalam gelaran perdana Bandung Music Indie di Laneo Cafe, Kota Bandung, yang menghadirkan beragam genre musik dalam satu panggung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Musisi dan penonton berkumpul dalam gelaran perdana Bandung Music Indie di Laneo Cafe, Kota Bandung, yang menghadirkan beragam genre musik dalam satu panggung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Melalui konsep rereongan ini, biaya sewa tempat, sound system, dokumentasi, hingga konsumsi ditanggung bersama-sama lewat sistem patungan kolektif. Biaya keseluruhan pun bisa dipangkas hingga 75 persen.

Semangat gotong royong itu menjadi fondasi utama Bandung Music Indie. Bukan hanya soal berbagi biaya, tetapi juga berbagi ruang, penonton, jaringan, dan kesempatan. Di mata Deni, semangat kolektif seperti itulah yang dulu membuat skena musik independen Bandung tumbuh raksasa. Budaya saling bantu itu harus dihidupkan lagi agar musisi Bandung tidak tumbuh menjadi egois.

"Jangan sampai merasa besar sendiri. Seniman itu dasarnya kebersamaan. Justru yang sudah sukses harus membuka jalan dan memberi solusi bagi yang belum, jangan jalan sendiri-sendiri," cetus Deni.

Mimpi Membangun "Liga Musik" Jawa Barat

Karena itu, para penggagas yang diisi oleh kolektif musisi stok lama seperti Deni, Andy, Wawan Orain, Tius, Fahmi, hingga Pei ini berharap BMI tidak berhenti sebagai acara satu malam semata. Mereka bahkan memiliki cetak biru (blueprint) jangka panjang yang ambisius: membangun sistem menyerupai liga sepak bola.

"Kenapa orang bisa fanatik banget sama sepak bola? Karena ada liga yang berjalan terus tanpa putus. Nah, musik harusnya punya sistem liga seperti itu," ungkap Deni.

Rencananya, gerakan BMI ini akan bergulir konsisten setiap tiga bulan sekali sebagai "Chapter". Tidak berhenti di Bandung, mereka bermimpi bertindak sebagai payung federasi yang akan menginisiasi gerakan serupa di kota-kota lain di Jawa Barat. Ke depan, diharapkan lahir kolektif mandiri seperti Cirebon Music Indie (CMI) hingga Garut Music Indie (GMI).

Harapan itu tampaknya bukan sesuatu yang muluk. Baru pada gelaran perdananya (Chapter 1) di Laneo Cafe, antusiasme musisi lokal langsung meledak. Pihak penyelenggara bahkan terpaksa menolak beberapa band karena keterbatasan durasi. Andy menyebutkan saat ini sudah ada sekitar delapan band yang mengantre dan mendaftarkan diri untuk unjuk gigi di Chapter 2.

Di tengah perubahan zaman, derasnya arus digitalisasi, dan tren musisi yang bergerak sendiri-sendiri, Bandung Music Indie mencoba menghadirkan kembali sesuatu yang esensial: ruang fisik untuk kembali bertemu dan bergerak bersama.

Sebuah ruang tempat musisi lama dan musisi baru berdiri sejajar tanpa sekat senioritas. Tempat berbagai genre saling mengapresiasi. Tempat karya menemukan penikmat sejatinya di dunia nyata.

Atau seperti yang dikatakan Deni, sebuah upaya kecil nan berani untuk meniup kembali bara api yang pernah membuat Bandung menyandang predikat sebagai ibu kota musik independen di Indonesia.

"Kita sedang menyalakan api kecil. Mudah-mudahan api itu makin besar," pungkasnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 23 Okt 2026, 20:14

Lemahneundeut, Jejak Tanah Neundeut atau Nendatan di Lereng Gunung

Lemahneundeut adalah masa tanah atau batuan yang bergerak ke bawah lereng.

Persawahan berteras-teras di Bandung Selatan, merupakan jejak lemahneundeut yang dikelola dengan baik. (Sumber: T. Bachtiar)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 19:17

Sosok Didi Petet sebagai Potret Bandung dalam Film Preman Pensiun

Didi Petet sudah meninggal beberapa tahun lalu, tapi sosoknya dalam film Preman Pensiun masih membekas, dan menjadi ingatan waktu yang tercermin dalam potret kehidupan sehari-hari di Bandung.

Ilustrasi Didi Petet. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 18:31

Lebih Berani di Rumah daripada di Jenewa: Posisi Indonesia dalam Perundingan Plastik

Menurut KLH/BPLH, 202), porsi plastik dalam sampah nasional naik dari 11% pada 2010 menjadi hampir 20% pada 2024 dan dapat mencapai 50% pada 2050 tanpa intervensi seriu.

Warga memungut sampah botol dan gelas plastik di bawah jembatan Babakan Sapan (BBS) Batujajar, Kabupaten Bandung Barat (KBB), Jumat 30 Juni 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:59

Kampus Bukan Tempat Pamer Knalpot: Saatnya Menjaga Kenyamanan Akademik di UIN Bandung Kampus I Cipadung

Knalpot bising di Kampus I UIN Bandung, Cipadung, mengganggu kenyamanan akademik. Saatnya bersama menjaga ketertiban kampus.

Ilustrasi knalpot brong. (Sumber: Pexels | Foto: Quốc Bùi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 16:26

CCTV Merekam, tetapi Belum Tentu Mencegah: Keamanan Lingkungan Mahasiswa Perlu Tanggung Jawab Bersama

CCTV dapat membantu merekam kejadian, menyusun kronologi, dan memberikan petunjuk untuk mengidentifikasi orang yang diduga terlibat.

Ilustrasi CCTV. (Sumber: Pexels | Foto: Bezalens JGP)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 15:32

Kisah 101 FM : Ketika Radio Bandung Masih Siaran di Gelombang AM/MW

Dari kawasan Jalan Rajamantri Kulon, Bandung, stasiun radio ini mengudara melalui jalur FM (Frequency Modulation).

Radio 101 FM Bandung, salah satu pelopor siaran radio di jalur FM di Kota Bandung pada era 1980-an hingga 1990-an. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 14:41

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon

Taman Wisata Goa Sunyaragi adalah salah satu wisata bersejarah di Kota Cirebon yang menyimpan banyak cerita menarik.

Taman Wisata Goa Sunyaragi Cirebon (11/10/26). (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 13:00

BRT Bandung Dibangun untuk Mengurai Kemacetan, Mengapa Masyarakat Justru Menanggung Dampaknya?

Pembangunan Bus Rapid Transit Bandung Raya diharapkan mengurangi kemacetan. Namun, dampak proyek halte menimbulkan pertanyaan tentang tanggung jawab pemerintah dalam menjaga kenyamanan masyarakat.

Halte BRT di Jalan Ahmad Yani, Cicadas termasuk tipe B dimana halte berada di antara jalan satu arah dengan 4 lajur. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 12:41

Mewujudkan Bandung Kota Jamu, Merawat Warisan Inggit Garnasih

Salah satu contoh inovasi Jamu kekinian di Bandung adalah Paduan Rempah, usaha minuman herbal yang dirintis Ahmad Hikmat Rahayu bersama istrinya

Acaraki Jamu tak sekadar menjual minuman herbal, tetapi menyuguhkan pengalaman gaya hidup yang berakar pada warisan budaya. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 11:27

Demam Aplikasi Pemda: Solusi Pelayanan Publik atau Cuma Proyek 'Sampah Digital'?

Membahas masalah aplikasi pemerintah yang belum efektif serta pentingnya digitalisasi pelayanan publik yang berorientasi pada kemudahan, keamanan, dan kebutuhan masyarakat.

Foto seseorang menggunakan ponsel. (Sumber: Pexels | Foto: Towfiqu barbhuiya)
Ayo Netizen 23 Okt 2026, 10:17

Menengok Terminal Ledeng, Menengok Diri Sendiri

Terminal Ledeng mengingatkan saya bahwa kita tidak pernah benar-benar berjalan di tempat yang sama, bahkan ketika melewati jalan yang benar-benar sama.

Terminal Ledeng, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Ramadhan)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 20:08

Sepuluh Tahun Wacana: Lampu Merah Soekarno-Hatta Menunggu Jawaban

Lampu merah Kiaracondong disebut jenuh sejak 2016, dan hingga kini masih bisa mencapai 12 menit. Mengapa solusi struktural belum juga datang?

Lampu merah Kiaracondong. (Sumber: Harun Yahya)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 19:29

Membangun Budaya K3 untuk Mencegah Kebakaran di Kota Bandung

Dengan budaya K3 yang kuat, pelatihan APAR yang tepat, dan partisipasi masyarakat, Kota Bandung lebih aman dari ancaman kebakaran.

Apel kesiapan petugas damkar kota Bandung. (Sumber: Bandung.go.id)
Sejarah 22 Okt 2026, 12:36

Hikayat Resolusi Jihad dan Lahirnya Hari Santri

Resulusi Jihad menjadi pembakar jiwa nasionalisme para santri untuk mempertahankan kemerdekaan. Resolusi yang dikeluarkan pada 22 Oktober 1945 saat ini diperingati sebagai Hari Santri Nasional

Ilustrasi Resolusi Jihad yang menjadi latar belakang diperingatinya Hari Santri Nasional (Foto: artificial intelligence)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 09:04

Polisi, Massa Hitam, dan Keamanan Kota Bandung

Dalam merespon demonstrasi, kemampuan membedakan aksi damai dan serangan terorganisir sangat penting.

Massa yang terdiri dari mahasiswa dan elemen masyarakat menggelar demo di sekitar Tugu Simpang Lima, Kota Bandung, pada Selasa (20/10/2026) sore (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rachmadi Rasyad)
Ayo Netizen 22 Okt 2026, 07:54

Menilik Komitmen Green Campus UIN SGD Bandung di Tengah Dominasi Kendaraan Pribadi

Kampus tidak hanya berfungsi sebagai ruang untuk mengembangkan pengetahuan, tapi juga menjadi tempat di mana kesadaran ekologis harus ditanamkan.

Suasana salah satu parkiran UIN SGD Bandung Kampus 1 di siang hari, Selasa (5/5/2026). (Foto: Meyliana Sofiyanti)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:53

Gambut Oh Gambut

Ulasan tentang tanah gambut

Gambut oh Gambut (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 19:12

Darurat Curanmor di Peundeuy Cicalengka: Saatnya Pemilik Kontrakan Bertanggung Jawab

Maraknya kasus curanmor hingga 7-10 per bulan di Peundeuy Cicalengka menuntut pergerakan pemilik kontrakan agar lebih tegas dan serius dalam mendata identitas penghuni baru.

Bisnis kontrakan daerah Peundeuy, Cicalengka. (Sumber: Pribadi | Foto: Intan oktari ramadhani)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 18:16

Lawan Arah Bukan Jalan Pintas: Saatnya Tertib di Jalan Rancaekek

Kebiasaan berbahaya pesepeda motor yang melawan arah di Jalan Raya Bandung–Garut, Rancaekek.

para pengendara yang melawan arus di Rancaekek. (Sumber: Ayojelajah.id)
Ayo Netizen 21 Okt 2026, 17:03

Selamat Ulang Tahun Lembang ke-144

Tahun ini, Lembang menginjak usia 144 tahun, tepat pada Jumat, 16 Oktober 2026.

Komunitas pelajar pecinta seni dan budaya, sesaat setelah penampilan sendra tari "Lembang Bihari ka Lembang Kiwari". (Sumber: Indra Riyadi)