Cirebon adalah salah satu daerah dengan banyak warisan arsitektur yang mencerminkan pertemuan budaya lokal, kolonial, dan industri. Salah satu warisan tersebut adalah Gedung British American Tobacco (BAT) yang masih berdiri hingga hari ini dan berfungsi sebagai cagar budaya. Perlu diketahui, BAT adalah perusahaan tembakau multinasional yang berbasis di Inggris, dengan operasi yang mencakup berbagai wilayah di seluruh dunia, termasuk Kota Cirebon.
Gedung BAT Cirebon terletak di Jalan Pasuketan No.1, Desa Lemahwungkuk, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon. Gedung ini dibangun pada awal abad ke-20 dan menjadi salah satu peninggalan arsitektur industri kolonial. Awalnya, gedung ini dimiliki oleh sebuah perseroan bernama Indo Egyptian Cigarettes Company yang didirikan pada tahun 1917. Namun, di tahun 1923, perusahaan tersebut diakuisisi oleh British American Tobacco Company yang saat itu sedang melakukan ekspansi ke Hindia Belanda.
Pada saat itu, pemilihan Cirebon sebagai lokasi industri didasarkan pada posisinya yang strategis sebagai kota pelabuhan dan kedekatannya dengan daerah penghasil tembakau, seperti Bojonegoro dan Temanggung. Posisi strategis ini mendukung pertumbuhan industri tembakau dan membentuk Cirebon menjadi salah satu pusat penting perdagangan dan produksi pada era kolonial.
Gedung BAT Cirebon kemudian di renovasi oleh arsitek F.D. Cuypers & Hulswit pada tahun 1924 yang mengubahnya menjadi gaya art deco. Di tahun yang sama, perusahaan mulai membangun pabrik pertamanya di Indonesia yang berlokasi di Kota Cirebon. Dengan hadirnya pabrik ini, perusahaan seketika menjadi produsen rokok putih terbesar di tanah air pada waktu itu.

Dalam surat kabar Het nieuws van den dag voor Nederlandsch-Indië edisi 1 Agustus 1925, peresmian gedung BAT Cirebon dilakukan pada 1 Agustus 1925. Saat baru berdiri, pabrik ini memiliki 60 mesin yang beroperasi dengan kapasitas 11 juta batang rokok per hari atau 250 juta batang rokok per bulan. Saat itu, ada sekitar 2.000 penduduk asli yang dipekerjakan di pabrik tersebut. Para pekerja mendapatkan lebih dari 36.000 gulden sebagai gaji per bulan. Terlebih lagi, seluruh pekerja bisa menikmati perawatan medis secara gratis. Akibat dari pendirian perusahaan ini, keuntungan ekonomi dan lainnya muncul bagi Cirebon. Ribuan keluarga menemukan mata pencaharian mereka di sini secara langsung dan tidak langsung.

Di sisi lain, pembangunan pasokan air yang dibutuhkan begitu lama oleh Kota Cirebon juga dipercepat dengan adanya kebutuhan besar pabrik ini. Energi yang dibutuhkan untuk mesin-mesin pun membuat pembangunan pembangkit listrik menjadi menguntungkan, sehingga kota Cirebon segera disuplai dengan lampu listrik. Oleh karenanya, pendirian BAT kala itu dianggap sangat krusial bagi perkembangan masa depan Cirebon dan sekitarnya.
Kemudian pada tanggal 29 Agustus 1925, pesta pembukaan gedung BAT Cirebon dilaksanakan. Hal tersebut tertulis dalam surat kabar De Locomotief edisi 1 September 1925. Pesta ini dihadiri oleh wali kota, manajer, Hoekman dari Departemen Pertanian, stasiun penelitian arsitektur, dan lainnya. Pada saat itu, Tuan Dainer juga hadir selaku Manajer British American Tobacco Company. Selain berpidato dan memberikan gambaran umum tentang pendirian pabrik, ia juga berterima kasih kepada pemerintah dan kota madya atas bantuan yang diberikan. Dalam pesta tersebut, sebuah kotak cerutu emas juga diberikan kepada Tuan Schotman selaku walikota Cirebon sebagai kenang-kenangan. Ia kemudian berterima kasih atas hadiah yang diberikan dan mengatakan bahwa pabrik tersebut akan membawa banyak kemakmuran bagi penduduk.
Sayangnya, keberadaan gedung BAT tidak selalu dipandang baik. Hal ini dibuktikan dalam salah satu berita di surat kabar Batavia Nieuwsblad edisi 22 Juli 1930. Akibat dari perluasan wilayah pabrik, seorang penduduk Tionghoa mengajukan protes dan meminta kompensasi kepada otoritas yang berwenang. Ia mengeluh karena terganggu oleh kebisingan mesin pabrik sehingga menyebabkan retakan di dinding rumahnya. Di tambah, ia juga terganggu oleh bau tembakau yang menyengat dan mengganggu penduduk sekitar pabrik.
Pasang surut BAT juga turut terjadi. Perkembangan politik berdampak besar terhadap kelangsungan operasional perusahaan. Selama pendudukan Jepang tahun 1942, operasi perusahaan terhenti dan pemerintah militer mengambil alih asetnya. Setelah berakhirnya Perang Dunia II, BAT melanjutkan operasional pada tahun 1949 dengan nama baru, yaitu British American Tobacco Manufacture (Indonesia) Limited. Ketidakstabilan inilah yang secara langsung mempengaruhi kegiatan industri dan struktur kepemilikan BAT di Indonesia.
Selain itu, selama konfrontasi Indonesia-Malaysia pada tahun 1963–1964, pemerintah Indonesia kemudian mengambil alih kepemilikan BAT. Namun, dengan diberlakukannya Undang-Undang No. 1 Tahun 1967 tentang Penanaman Modal Asing, perusahaan tersebut dikembalikan kepada pemilik aslinya. Hingga pada tahun 1979, perusahaan secara resmi mengubah namanya menjadi PT BAT Indonesia dan mulai menawarkan sebagian sahamnya kepada publik melalui Bursa Efek Jakarta. Hal ini menandai era baru sebagai perusahaan terbuka di Indonesia.

Gedung BAT Cirebon terus beroperasi hingga tahun 2010, hingga akhirnya seluruh proses produksi dipindahkan ke Malang, Jawa timur. Prosedur tersebut dilakukan sebagai bagian dari penggabungan bisnis bersama PT Bentoel Internasional Investama. Sejak saat itu, gedung ini tidak lagi digunakan untuk kegiatan industri, tetapi masih berdiri sebagai bangunan kosong yang memiliki nilai sejarah tinggi. Dengan demikian, gedung tersebut ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemerintah Kota Cirebon karena arsitekturnya yang khas dan kisah panjang di baliknya.
Oleh karena itu, Gedung BAT Cirebon menjadi saksi bisu dari perjalanan panjang yang memperlihatkan dinamika ekonomi, politik, dan sosial dari masa ke masa. Dari awal berdirinya sebagai pusat produksi rokok berskala internasional hingga mengalami pasang surut akibat perubahan politik global dan nasional, gedung ini telah mencerminkan bagaimana arsitektur dapat menyimpan jejak pertemuan budaya sekaligus perkembangan industri.
Meski kini tidak lagi berfungsi sebagai pabrik, statusnya sebagai cagar budaya menegaskan bahwa nilai sejarah dan arsitektur yang dimilikinya tetap relevan, menjadi pengingat akan peran penting Cirebon dalam jaringan perdagangan dan industri di Indonesia. (*)
Referensi:
Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan. (2020). Profil Budaya dan Bahasa Kota Cirebon Provinsi Jawa Barat (Cetakan ke-1). Pusat Data dan Teknologi Informasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Tashandra, N. (2022, November 6). Sejarah Gedung BAT Cirebon, Destinasi Bernuansa Eropa Tempo Dulu. Kompas.com.
