Inilah 5 Hierarki Kebutuhan Mahasiswa dari Garut di UIN Bandung Tahun 2002

3 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)
Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)

Tahun 2002, saya resmi jadi mahasiswa di UIN Bandung. Modalnya? Nekat, uang pas-pasan, dan keyakinan bahwa hidup ini—meminjam Abraham Maslow—adalah soal memenuhi kebutuhan dari yang paling dasar sampai yang paling “katanya” tinggi. Tapi setelah dijalani, kok ya hirarkinya agak melenceng.

Maslow pernah bilang, “What a man can be, he must be.”

Waktu pertama dengar, saya mikir: “Oh, berarti kalau bisa jadi sarjana, ya harus jadi sarjana.”

Setelah semester tiga: “Kalau bisa bangun pagi, ya… minimal niat dulu.”

1. Kebutuhan Fisiologis (Modol, Makan, Molor)

Sebagai warga Garut yang “kuliah di Bandung, hate mah di Garut”, fase awal kuliah itu sederhana: bertahan hidup.

Bangun pagi bukan buat belajar, tapi buat ngantri kamar mandi kosan. Kalau telat sedikit, ya sudah… Maslow langsung turun kasta.

Sarapan? Kadang nasi kuning, kadang nasi goreng, banyaknya… cukup niat saja.

Uang kiriman seringnya cukup sampai tanggal 10. Sisanya? Kreativitas. Indomie jadi sahabat, kadang dimakan tanpa telur, tanpa sayur, bahkan tanpa rasa—karena bumbunya disimpan buat besok makan sama nasi putih.

Di tahap ini, saya merasa Maslow kurang spesifik. Harusnya beliau tambahkan satu sub-level: “Kebutuhan mendesak: nemu WC saat perut sudah berdiskusi keras.”

2. Kebutuhan Keamanan (Uang Aman, Kos Aman, Hati... Belum)

Masuk semester dua, mulai mikir soal “keamanan”. Bukan keamanan masa depan, tapi keamanan dompet. Di Bandung, uang 50 ribu bisa jadi legenda. Hilang sekali, efeknya seperti krisis moneter versi pribadi.

Teman-teman mulai belajar “strategi bertahan hidup”:

• Nebeng makan di acara organisasi

• Ikut rapat yang ada snack

• Datang kajian bukan karena iman naik, tapi karena konsumsi turun

Maslow bilang manusia butuh rasa aman. Mahasiswa bilang: “Yang penting akhir bulan masih bisa beli pulsa dan nasi padang setengah.”

3. Kebutuhan Sosial (Ulin, Nongkrong, Cari Circle)

Nah ini bagian paling aktif. Kuliah? Ya kuliah. Tapi ulin tetap jalan.

Bandung itu kota yang berbahaya—bukan karena kriminal, tapi karena godaan nongkrong. Dari Dago sampai Cibiru, dari warung kopi sampai angkringan, semua terasa seperti “ruang diskusi intelektual”… yang isinya lebih banyak ketawa daripada mikir.

Persahabatan terbentuk dari hal-hal sederhana:

• Saling pinjam uang (yang kadang lupa balik)

• Saling bangunin kalau ada kelas (yang akhirnya sama-sama ketiduran)

• Saling curhat tentang tugas (yang tetap nggak dikerjakan)

Di titik ini, Maslow benar. Manusia butuh rasa memiliki. Walaupun kadang rasa memiliki itu sebatas: “Ini geng saya kalau lagi bokek.”

4. Penghargaan (IPK dan Gengsi)

Masuk semester akhir, mulai muncul kesadaran: “Kayaknya harus serius dikit deh.”

IPK jadi topik sensitif. Kalau tinggi, alhamdulillah. Kalau rendah, bilangnya: “Yang penting ilmu, bukan angka.” Padahal dalam hati: “Ya Allah, tolong minimal 3,00 lah…”

Maslow bilang manusia butuh penghargaan. Mahasiswa bilang: “Yang penting orang tua nggak nanya IPK tiap telepon.”

5. Aktualisasi Diri (Lulus… Akhirnya)

Dan akhirnya… lulus. Di momen itu, semua terasa masuk akal. Semua modol darurat, makan seadanya, ulin tanpa arah, dan molor berjamaah… semuanya jadi cerita.

Sebagai orang Garut yang belasan tahun “terdampar” di Bandung, saya akhirnya paham satu hal: Hirarki kebutuhan itu bukan garis lurus. Kadang kita naik, kadang turun, kadang berhenti di level “rebahan adalah pencapaian tertinggi”.

Maslow mungkin tidak pernah membayangkan versi mahasiswa UIN Bandung tahun 2002. Tapi kalau beliau hidup di kosan kami dulu, mungkin beliau akan revisi teorinya jadi:

1. Makan

2. Tidur

3. Cari uang

4. Nongkrong

5. Niat skripsi

Dan skripsi itu sendiri… adalah bentuk tertinggi dari self-actualization—atau mungkin self-destruction, tergantung dosen pembimbing.

Akhir kata, hidup di Bandung itu memang “kasab”—keras, penuh perjuangan. Tapi kalau pulang ke Garut, bisa “hees”—tenang, santai, sambil cerita: “Dulu saya kuliah di Bandung… belajar banyak hal.”

Walaupun yang paling diingat justru: tempat makan murah, spot nongkrong, dan teknik molor tanpa rasa bersalah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 24 Agu 2026, 20:00

Kaukus Indonesia dalam Potret Merdeka

Bagaimanakah kita melihat potret Indonesia merdeka kini? Pertanyaan yang muncul, karena proses historis panjang seakan dilupakan. Barangkali, kaukus Indonesia telah kehilangan sosok tokoh.

Panjat pinang, salah satu lomba yang sering digelar saat Hari Kemerdekaan Indonesia setiap 17 Agustus. (Sumber: Pexels | Foto: a Ayyeee Ayyeee)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 18:13

Nasib Kuyang dalam Kebakaran Hutan Kalimantan

Ketika hutan kalimantan terbakar mungkin kuyang bisa protes kepada manusia dengan menyebar teror tapi bagaimana dengan pohon, hewan atau penghuni hutan lainnya?

Ilustrasi orang utan di tengah kebakaran hutan. (Sumber: Gemini AI)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 17:07

Jejak Rasa dari Negeri Tirai Bambu: Menelusuri Warisan Kuliner Tionghoa yang Mengakar di Bandung

Kedatangan bangsa Tionghoa membawa teknik pengolahan pangan yang secara organik berfusi dengan bahan lokal, menciptakan identitas kuliner baru yang diterima secara luas.

Cakwe Lie Tjay Tat di Gor Pajajaran, Jl. Pajajaran No.37, Pasir Kaliki, Kec. Cicendo, Kota Bandung. (Sumber: Google Review | Foto: Buyung)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 16:19

Pengalaman Berburu Buku Tua di Toko Buku Tua di Kota Bandung

Seratus persen buku-buku kuliahku aku beli di Pasar Buku Palasari. Aku sering sempatkan untuk berburu membeli buku-buku tua dan buku-buku baru, bahkan termasuk ke pasar-pasar loak di Kota Bandung.

Toko Buku di bagian depan Pasar Buku Palasari. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Ridwan K)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:50

Dari Josepha Alexandra Kita Belajar untuk Berani dan Kritis Terhadap Kesewenang-wenangan

LCC 4 Pilar MPR RI yang seharusnya memperkenalkan nilai-nilai kebangsaan, nilai-nilai pancasila, dan nilai-nilai demokrasi kepada generasi muda, bukan malah mempertontonkan arogansi orang dewasa.

Potret Josepha Alexandra saat mengikuti Lomba Cerdas Cermat (LCC) 4 Pilar MPR RI tingkat Kalimantan Barat. (Sumber: YouTube | Foto: @MPRRIOfficial)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 15:28

Mitigasi Kebakaran: Kota Bandung Butuh Drone dan Bambi Bucket 

Diperlukan drone dengan kemampuan Based Fire Monitoring and Suppression System yang dilengkapi kemampuan deteksi yang menggunakan AI driven hotspot.

Mitigasi kebakaran hebat di kota Bandung dengan teknologi drone dan bambi bucket (Sumber: digambar dengan bantuan AI | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 11:39

Mamah Bule dan Kang Ian, Kisah Menarik Nenek dan Cucu yang Mewarnai Media Sosial

Akun media sosial Bridgia Adhella kini telah memiliki sekitar 71 ribu pengikut, dengan ratusan unggahan yang memperlihatkan berbagai sisi kehidupan Mamah Bule dan Kang Ian.

Nenek Bule, Adellina Ganda Prawira, bersama cucu tercinta, Kang Iyan. (Sumber: Kang Iyan)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 09:14

Urgensi Program Bandung Peduli Lansia

Perlu dicari jalan tengah terkait dengan pro kontra perawatan lansia dengan cara ageing in place versus perawatan institusi

Ilustrasi program peduli lansia di Kota Bandung (Sumber: kreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 24 Agu 2026, 08:58

Kala Ponsel para ASN Jadi Arena Judi

Perang melawan judi online tidak cukup dilakukan dengan slogan moral. Ia membutuhkan kombinasi antara teknologi, penegakan hukum, literasi digital.

ASN sedang mengikuti apel. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 20:16

Menjelajahi Autentisitas Kuliner Sunda: Telaah 50 Hidangan Khas Jawa Barat

Eksplorasi terhadap 50 masakan khas Jawa Barat ini membuktikan bahwa kuliner Sunda adalah aset budaya tak ternilai.

Buku berjudul 50 Masakan Khas Jawa Barat karya Ajen Dianawati (2025). (Sumber: Dokumentasi penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Linimasa 22 Agu 2026, 13:32

Menengok Pabrik Bata Merah Manual di Nagreg Saat Musim Kemarau

Pabrik bata merah di Nagreg meningkatkan produksi saat kemarau karena proses pengeringannya masih mengandalkan panas matahari.

Menengok pabrik bata merah manual di Nagreg saat musim kemarau. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 13:25

Menelusuri Jejak Rasa: Potret Autentik Masakan Jawa Era 1960-an

Buku "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" hadir sebagai kompas bagi mereka yang ingin mendalami seni memasak Jawa pada masanya.

Buku berjudul "Kawan Dapur: Masakan Asli Indonesia (Khusus Jawa)" karya Ida S. yang diterbitkan Toko Buku Amin Madiun. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 11:36

Cuanki Teh Yuyun Cianjur: Obat Rindu Ketika Jauh dari Bandung

Ternyata Bandung terasa Istimewa setelah ditinggalkan. Satu hal yang saya rindukan dari Bandung adalah keragaman kulinernya.

Cuanki Sambal Ijo Teh Yuyun Cianjur. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 09:19

Sejarah Nama-Nama Hari dan Hari Libur (1)

Mengulas sejarah penamaan hari, asal-usul tujuh hari dalam sepekan, serta perkembangan penanggalan dan tradisi hari libur dari berbagai peradaban.

Kalender bulan Agustus 1898. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 22 Agu 2026, 08:18

Perempuan yang Merdeka tapi Masih Takut dengan Stigma Sosial

Hari ini mungkin perempuan memiliki banyak kesempatan seperti kaum pria tapi ada yang diam-diam membuat perempuan ragu ketika penilaian sosial merenggut kepercayaan dirinya

Ilustrasi perempuan. (Sumber: Pexels | Foto: Febry Arya)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 19:18

Apalah Arti Sebuah Nama: Rekonstruksi Hubungan Agus dan Agustus

Pada ruang masyarakat sering kita mendengar atas nama Agus bagi laki-laki dan Agustina bagi perempuan. Terdengar biasa saja. Nama yang diberikan oleh orangtuanya sebatas nama.

Festival Seni dan Budaya Tamansari 2026 di Taman Cascade, kawasan bawah jembatan layang Mochtar Kusumaatmadja, Tamansari, Kota Bandung, Sabtu 15 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 17:29

Dari Serial Drama Korea 'Teach You a Lesson' dan Realitas Pendidikan Bangsa Kita

Drama yang menyajikan tentang bobroknya pendidikan di negara yang sudah dikatakan maju, serta keberpihakan pada sifat politisasi dibidang pendidikan.

Serial drama Korea "Teach You a Lesson" (Sumber: Netflix)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 16:11

Manipulasi Terselubung di Balik Penggunaan Kata Nett Zero Emission pada Perusahan Perbankan

Membahas bagaimana istilah Net Zero Emission (NZE) yang digunakan sebagai strategi pencitraan dengan menyoroti pentingnya transparansi, verifikasi independen, dan sanksi yang tegas.

Cerobong asap yang mengeluarkan asap menembus kabut tebal, yang menyoroti masalah atau kekhawatiran tentang polusi udara. (Sumber: Pexels | Foto: Сергей Нестеров)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 15:08

Pentingnya Kecerdasan Finansial di Tengah Kemudahan Transaksi Digital

Esai ini membahas pentingnya kecerdasan finansial di tengah kemudahan transaksi digital yang dapat mendorong perilaku konsumtif.

Pecahan uang seratus ribu rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Defrino Maasy)
Ayo Netizen 21 Agu 2026, 14:37

Ketergantungan Program MBG: Potret Penjajahan Era Modern

Ketika sebuah negara memiliki kendali yang sangat besar terhadap distribusi kebutuhan dasar masyarakat. Maka akankah muncul relasi baru dari ketergantungan antara negara dengan warganya

Siswa menikmati Makan Bergizi Gratis (MBG) di SMAN 9 Bandung, Jalan Suparmin, Pajajaran, Kota Bandung pada Senin, 6 Januari 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)