Inilah 5 Hierarki Kebutuhan Mahasiswa dari Garut di UIN Bandung Tahun 2002

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Selasa 07 Apr 2026, 08:57 WIB
Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)

Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)

Tahun 2002, saya resmi jadi mahasiswa di UIN Bandung. Modalnya? Nekat, uang pas-pasan, dan keyakinan bahwa hidup ini—meminjam Abraham Maslow—adalah soal memenuhi kebutuhan dari yang paling dasar sampai yang paling “katanya” tinggi. Tapi setelah dijalani, kok ya hirarkinya agak melenceng.

Maslow pernah bilang, “What a man can be, he must be.”

Waktu pertama dengar, saya mikir: “Oh, berarti kalau bisa jadi sarjana, ya harus jadi sarjana.”

Setelah semester tiga: “Kalau bisa bangun pagi, ya… minimal niat dulu.”

1. Kebutuhan Fisiologis (Modol, Makan, Molor)

Sebagai warga Garut yang “kuliah di Bandung, hate mah di Garut”, fase awal kuliah itu sederhana: bertahan hidup.

Bangun pagi bukan buat belajar, tapi buat ngantri kamar mandi kosan. Kalau telat sedikit, ya sudah… Maslow langsung turun kasta.

Sarapan? Kadang nasi kuning, kadang nasi goreng, banyaknya… cukup niat saja.

Uang kiriman seringnya cukup sampai tanggal 10. Sisanya? Kreativitas. Indomie jadi sahabat, kadang dimakan tanpa telur, tanpa sayur, bahkan tanpa rasa—karena bumbunya disimpan buat besok makan sama nasi putih.

Di tahap ini, saya merasa Maslow kurang spesifik. Harusnya beliau tambahkan satu sub-level: “Kebutuhan mendesak: nemu WC saat perut sudah berdiskusi keras.”

2. Kebutuhan Keamanan (Uang Aman, Kos Aman, Hati... Belum)

Masuk semester dua, mulai mikir soal “keamanan”. Bukan keamanan masa depan, tapi keamanan dompet. Di Bandung, uang 50 ribu bisa jadi legenda. Hilang sekali, efeknya seperti krisis moneter versi pribadi.

Teman-teman mulai belajar “strategi bertahan hidup”:

• Nebeng makan di acara organisasi

• Ikut rapat yang ada snack

• Datang kajian bukan karena iman naik, tapi karena konsumsi turun

Maslow bilang manusia butuh rasa aman. Mahasiswa bilang: “Yang penting akhir bulan masih bisa beli pulsa dan nasi padang setengah.”

3. Kebutuhan Sosial (Ulin, Nongkrong, Cari Circle)

Nah ini bagian paling aktif. Kuliah? Ya kuliah. Tapi ulin tetap jalan.

Bandung itu kota yang berbahaya—bukan karena kriminal, tapi karena godaan nongkrong. Dari Dago sampai Cibiru, dari warung kopi sampai angkringan, semua terasa seperti “ruang diskusi intelektual”… yang isinya lebih banyak ketawa daripada mikir.

Persahabatan terbentuk dari hal-hal sederhana:

• Saling pinjam uang (yang kadang lupa balik)

• Saling bangunin kalau ada kelas (yang akhirnya sama-sama ketiduran)

• Saling curhat tentang tugas (yang tetap nggak dikerjakan)

Di titik ini, Maslow benar. Manusia butuh rasa memiliki. Walaupun kadang rasa memiliki itu sebatas: “Ini geng saya kalau lagi bokek.”

4. Penghargaan (IPK dan Gengsi)

Masuk semester akhir, mulai muncul kesadaran: “Kayaknya harus serius dikit deh.”

IPK jadi topik sensitif. Kalau tinggi, alhamdulillah. Kalau rendah, bilangnya: “Yang penting ilmu, bukan angka.” Padahal dalam hati: “Ya Allah, tolong minimal 3,00 lah…”

Maslow bilang manusia butuh penghargaan. Mahasiswa bilang: “Yang penting orang tua nggak nanya IPK tiap telepon.”

5. Aktualisasi Diri (Lulus… Akhirnya)

Dan akhirnya… lulus. Di momen itu, semua terasa masuk akal. Semua modol darurat, makan seadanya, ulin tanpa arah, dan molor berjamaah… semuanya jadi cerita.

Sebagai orang Garut yang belasan tahun “terdampar” di Bandung, saya akhirnya paham satu hal: Hirarki kebutuhan itu bukan garis lurus. Kadang kita naik, kadang turun, kadang berhenti di level “rebahan adalah pencapaian tertinggi”.

Maslow mungkin tidak pernah membayangkan versi mahasiswa UIN Bandung tahun 2002. Tapi kalau beliau hidup di kosan kami dulu, mungkin beliau akan revisi teorinya jadi:

1. Makan

2. Tidur

3. Cari uang

4. Nongkrong

5. Niat skripsi

Dan skripsi itu sendiri… adalah bentuk tertinggi dari self-actualization—atau mungkin self-destruction, tergantung dosen pembimbing.

Akhir kata, hidup di Bandung itu memang “kasab”—keras, penuh perjuangan. Tapi kalau pulang ke Garut, bisa “hees”—tenang, santai, sambil cerita: “Dulu saya kuliah di Bandung… belajar banyak hal.”

Walaupun yang paling diingat justru: tempat makan murah, spot nongkrong, dan teknik molor tanpa rasa bersalah. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Apr 2026, 03:31

Doa Manusia, Semesta, dan Tuhan

Di dalam perspektif manusia, bahwa setiap ucapan adalah doa, dan karma terkadang menjadi sesuatu hal yang memabukkan.

Ilustrasi umat Islam sedang berdoa. (Sumber: Ayobandung.com)
Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)