Official Persib Logo
1933
1933

Inilah 5 Hierarki Kebutuhan Mahasiswa dari Garut di UIN Bandung Tahun 2002

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Selasa 07 Apr 2026, 08:57 WIB
Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)

Kampus tempat menimba ilmu keislaman Penulis (Sumber: uinsgd.ac.id)

Tahun 2002, saya resmi jadi mahasiswa di UIN Bandung. Modalnya? Nekat, uang pas-pasan, dan keyakinan bahwa hidup ini—meminjam Abraham Maslow—adalah soal memenuhi kebutuhan dari yang paling dasar sampai yang paling “katanya” tinggi. Tapi setelah dijalani, kok ya hirarkinya agak melenceng.

Maslow pernah bilang, “What a man can be, he must be.”

Waktu pertama dengar, saya mikir: “Oh, berarti kalau bisa jadi sarjana, ya harus jadi sarjana.”

Setelah semester tiga: “Kalau bisa bangun pagi, ya… minimal niat dulu.”

1. Kebutuhan Fisiologis (Modol, Makan, Molor)

Sebagai warga Garut yang “kuliah di Bandung, hate mah di Garut”, fase awal kuliah itu sederhana: bertahan hidup.

Bangun pagi bukan buat belajar, tapi buat ngantri kamar mandi kosan. Kalau telat sedikit, ya sudah… Maslow langsung turun kasta.

Sarapan? Kadang nasi kuning, kadang nasi goreng, banyaknya… cukup niat saja.

Uang kiriman seringnya cukup sampai tanggal 10. Sisanya? Kreativitas. Indomie jadi sahabat, kadang dimakan tanpa telur, tanpa sayur, bahkan tanpa rasa—karena bumbunya disimpan buat besok makan sama nasi putih.

Di tahap ini, saya merasa Maslow kurang spesifik. Harusnya beliau tambahkan satu sub-level: “Kebutuhan mendesak: nemu WC saat perut sudah berdiskusi keras.”

2. Kebutuhan Keamanan (Uang Aman, Kos Aman, Hati... Belum)

Masuk semester dua, mulai mikir soal “keamanan”. Bukan keamanan masa depan, tapi keamanan dompet. Di Bandung, uang 50 ribu bisa jadi legenda. Hilang sekali, efeknya seperti krisis moneter versi pribadi.

Teman-teman mulai belajar “strategi bertahan hidup”:

• Nebeng makan di acara organisasi

• Ikut rapat yang ada snack

• Datang kajian bukan karena iman naik, tapi karena konsumsi turun

Maslow bilang manusia butuh rasa aman. Mahasiswa bilang: “Yang penting akhir bulan masih bisa beli pulsa dan nasi padang setengah.”

3. Kebutuhan Sosial (Ulin, Nongkrong, Cari Circle)

Nah ini bagian paling aktif. Kuliah? Ya kuliah. Tapi ulin tetap jalan.

Bandung itu kota yang berbahaya—bukan karena kriminal, tapi karena godaan nongkrong. Dari Dago sampai Cibiru, dari warung kopi sampai angkringan, semua terasa seperti “ruang diskusi intelektual”… yang isinya lebih banyak ketawa daripada mikir.

Persahabatan terbentuk dari hal-hal sederhana:

• Saling pinjam uang (yang kadang lupa balik)

• Saling bangunin kalau ada kelas (yang akhirnya sama-sama ketiduran)

• Saling curhat tentang tugas (yang tetap nggak dikerjakan)

Di titik ini, Maslow benar. Manusia butuh rasa memiliki. Walaupun kadang rasa memiliki itu sebatas: “Ini geng saya kalau lagi bokek.”

4. Penghargaan (IPK dan Gengsi)

Masuk semester akhir, mulai muncul kesadaran: “Kayaknya harus serius dikit deh.”

IPK jadi topik sensitif. Kalau tinggi, alhamdulillah. Kalau rendah, bilangnya: “Yang penting ilmu, bukan angka.” Padahal dalam hati: “Ya Allah, tolong minimal 3,00 lah…”

Maslow bilang manusia butuh penghargaan. Mahasiswa bilang: “Yang penting orang tua nggak nanya IPK tiap telepon.”

5. Aktualisasi Diri (Lulus… Akhirnya)

Dan akhirnya… lulus. Di momen itu, semua terasa masuk akal. Semua modol darurat, makan seadanya, ulin tanpa arah, dan molor berjamaah… semuanya jadi cerita.

Sebagai orang Garut yang belasan tahun “terdampar” di Bandung, saya akhirnya paham satu hal: Hirarki kebutuhan itu bukan garis lurus. Kadang kita naik, kadang turun, kadang berhenti di level “rebahan adalah pencapaian tertinggi”.

Maslow mungkin tidak pernah membayangkan versi mahasiswa UIN Bandung tahun 2002. Tapi kalau beliau hidup di kosan kami dulu, mungkin beliau akan revisi teorinya jadi:

1. Makan

2. Tidur

3. Cari uang

4. Nongkrong

5. Niat skripsi

Dan skripsi itu sendiri… adalah bentuk tertinggi dari self-actualization—atau mungkin self-destruction, tergantung dosen pembimbing.

Akhir kata, hidup di Bandung itu memang “kasab”—keras, penuh perjuangan. Tapi kalau pulang ke Garut, bisa “hees”—tenang, santai, sambil cerita: “Dulu saya kuliah di Bandung… belajar banyak hal.”

Walaupun yang paling diingat justru: tempat makan murah, spot nongkrong, dan teknik molor tanpa rasa bersalah. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Mei 2026, 09:07

Banyak Followers dan Following, api Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

Fenomena akun Instagram tanpa postingan (tren Zero Post) menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang privasi, eksistensi, dan tekanan sosial di era media digital.

Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 25 Mei 2026, 08:24

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Konvoi juara Persib menyisakan cerita berbeda bagi warga Bandung, dari petugas kebersihan, ojol, hingga pedagang kecil yang kebanjiran pembeli.

Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 09:41

Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

Trotoar Bandung masih dipenuhi puing proyek, parkir liar, dan aktivitas lain yang mengurangi hak pejalan kaki serta aksesibilitas penyandang disabilitas.

Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)