Tantangan Komunikasi Perantau

3 menit baca
Encep Dulwahab
Ditulis oleh Encep Dulwahab diterbitkan
Pemudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Pemudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pasca mudik Lebaran, kota-kota besar didatangi para perantau baru. Para perantau yang sudah lama hidup di kota, ketika kembali ke tanah perantauan membawa calon penghuni kota. Inilah urbanisasi yang setiap tahun terus terjadi. Fenomena ini bukan sesuatu yang baru, setiap selesai mudik lebaran muncul adanya peningkatan jumlah pendatang baru ke kota-kota besar. 

Tidak terbendungnya para pendatang itu karena mereka berharap mendapatkan peningkatan taraf kehidupan yang lebih layak. Karena di desa menyempitnya ruang hidup yang ditandai dengan semakin berkurangnya lahan pertanian. Sementara di kota besar banyak kisah manis dari kesuksesan para perantau. Di kota besar banyak hal yang tidak bisa diberikan di desa, industri yang berkembang, teknologi yang maju, peradaban yang lebih tinggi, sektor jasa yang beragam, akses terhadap infrastruktur, dan gaya hidup yang mewah. 

Namun kota yang didatangi tidak hanya memberi apa yang diimpikan para perantau, kota juga menuntut berbagai hal, terutama adaptasi para perantau agar bisa diterima dengan baik oleh para penduduk kota yang lebih dulu sudah hadir. Dengan membawa budaya dan skill. Setiap pendatang membawa tradisi, impian, dan nilai-nilai dari kampung halamannya masing-masing, dan itu masuk ke dalam budaya kota, melahirkan budaya baru.

Interaksi antarwarga kota, yang sudah menetap dan pendatang dari berbagai latar belakang yang berbeda, akan terjadi saling belajar dan memperkaya budaya. Namun sisi negatifnya risiko terjadi gesekan sosial pun besar, peluang terjadi kesalahpahaman antar warga yang heterogen, bahkan konflik horizontal bisa tidak terelakkan. Gesture tertentu bisa jadi tidak menjadi masalah, namun gesture tersebut adalah fatal untuk wilayah tertentu. Begitu pun istilah-istilah di daerah tertentu dianggap tabu, namun di daerah lain istilah tersebut tidak pantas diucapkan. Hal sepele namun bisa menjadi pemicu konflik. 

Umat Islam setelah melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di pelataran Gedung Sate. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Umat Islam setelah melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di pelataran Gedung Sate. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dialog antarbudaya para pendatang dengan warga lokal, dalam rangka meningkatkan pemahaman identitas masing-masing budaya harus dilakukan. Mengingat keberagaman para pendatang dengan warga lokal yang begitu besar, maka potensi konflik pun besar pula. Tidak sedikit konflik terjadi karena kesalahpahaman budaya, kebiasaan, dan kurangnya saling toleran antar para penduduk kota, atau para pendatang dengan para penduduk asli.   

Beruntung para pendatang yang memiliki keterampilan komunikasi dan mind set yang bagus, sehingga bisa diterima dengan baik para penduduk asli. Atau para pendatang bisa beradaptasi dengan menyesuaikan diri terhadap nilai dan budaya tuan rumah sehingga memiliki hubungan sosial yang sehat. Terutama ketika mereka berkomunikasi dengan penduduk setempat di tempat-tempat umum, seperti pasar, gang-gang sempit, tempat tinggal sementara atau kos kosan, atau lingkungan lainnya. Pada waktu interaksi ini, semuanya menjadi media akulturasi dan terbentuklah identitas baru. 

Para pendatang jangan egosentris dan bangga atas asal usulnya, sehingga merendahkan identitas warga lokal. Keyakinan ini bisa menjadi masalah. Bukannya diterima dengan baik, yang ada akan mendapat penolakan dari warga lokal. Young Yun Kim (2001) menjelaskan bahwa keberhasilan para pendatang baru bukan ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan identitas asalnya, melainkan keberhasilannya melakukan komunikasi dengan menggunakan bahasa dan budaya tuan rumah. 

Para  pendatang yang mau belajar budaya dan bahasa tempat yang dikunjungi, meskipun terbata-bata menggunakannya, maka warga asli atau warga lokal akan merasa tersanjung. Para pendatang rela stres, kerja keras, dan menunjukkan itikad baik mempelajari bahasa dan budaya tempat perantauannya, ini sebagai ikhtiar untuk meraih kesuksesan dalam merantau.

Hal yang sama juga dikatakan Kim dan Kim (2021), bahwa kalau para perantau aktif terlibat dalam jaringan komunikasi, baik secara daring maupun tatap muka, menunjukkan tingkat adaptasi psikologis dan fungsional yang jauh lebih baik dibanding mereka yang hidup terisolasi. 

Meskipun para pendatang harus memiliki mental yang kuat, skill yang mumpuni, spirit kerja yang bagus, namun akan lebih lengkap membekali diri dengan kemampuan komunikasi antar budaya, yang memahami budaya setempat. Kesadaran menerima dan mempelajari budaya lokal yang didatangi ini, akan membangun dialog antarbudaya sehingga urbanisasi tidak berubah menjadi gelombang yang merusak semua pihak, baik pendatang maupun warga lama yang merasa terusik dengan kehadiran para pendatang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)