Official Persib Logo
1933
1933

Tantangan Komunikasi Perantau

Encep Dulwahab
Ditulis oleh Encep Dulwahab diterbitkan Senin 06 Apr 2026, 18:12 WIB
Pemudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pemudik di Terminal Leuwipanjang, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Pasca mudik Lebaran, kota-kota besar didatangi para perantau baru. Para perantau yang sudah lama hidup di kota, ketika kembali ke tanah perantauan membawa calon penghuni kota. Inilah urbanisasi yang setiap tahun terus terjadi. Fenomena ini bukan sesuatu yang baru, setiap selesai mudik lebaran muncul adanya peningkatan jumlah pendatang baru ke kota-kota besar. 

Tidak terbendungnya para pendatang itu karena mereka berharap mendapatkan peningkatan taraf kehidupan yang lebih layak. Karena di desa menyempitnya ruang hidup yang ditandai dengan semakin berkurangnya lahan pertanian. Sementara di kota besar banyak kisah manis dari kesuksesan para perantau. Di kota besar banyak hal yang tidak bisa diberikan di desa, industri yang berkembang, teknologi yang maju, peradaban yang lebih tinggi, sektor jasa yang beragam, akses terhadap infrastruktur, dan gaya hidup yang mewah. 

Namun kota yang didatangi tidak hanya memberi apa yang diimpikan para perantau, kota juga menuntut berbagai hal, terutama adaptasi para perantau agar bisa diterima dengan baik oleh para penduduk kota yang lebih dulu sudah hadir. Dengan membawa budaya dan skill. Setiap pendatang membawa tradisi, impian, dan nilai-nilai dari kampung halamannya masing-masing, dan itu masuk ke dalam budaya kota, melahirkan budaya baru.

Interaksi antarwarga kota, yang sudah menetap dan pendatang dari berbagai latar belakang yang berbeda, akan terjadi saling belajar dan memperkaya budaya. Namun sisi negatifnya risiko terjadi gesekan sosial pun besar, peluang terjadi kesalahpahaman antar warga yang heterogen, bahkan konflik horizontal bisa tidak terelakkan. Gesture tertentu bisa jadi tidak menjadi masalah, namun gesture tersebut adalah fatal untuk wilayah tertentu. Begitu pun istilah-istilah di daerah tertentu dianggap tabu, namun di daerah lain istilah tersebut tidak pantas diucapkan. Hal sepele namun bisa menjadi pemicu konflik. 

Umat Islam setelah melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di pelataran Gedung Sate. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Umat Islam setelah melaksanakan shalat Idul Fitri 1447 Hijriah di pelataran Gedung Sate. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Dialog antarbudaya para pendatang dengan warga lokal, dalam rangka meningkatkan pemahaman identitas masing-masing budaya harus dilakukan. Mengingat keberagaman para pendatang dengan warga lokal yang begitu besar, maka potensi konflik pun besar pula. Tidak sedikit konflik terjadi karena kesalahpahaman budaya, kebiasaan, dan kurangnya saling toleran antar para penduduk kota, atau para pendatang dengan para penduduk asli.   

Beruntung para pendatang yang memiliki keterampilan komunikasi dan mind set yang bagus, sehingga bisa diterima dengan baik para penduduk asli. Atau para pendatang bisa beradaptasi dengan menyesuaikan diri terhadap nilai dan budaya tuan rumah sehingga memiliki hubungan sosial yang sehat. Terutama ketika mereka berkomunikasi dengan penduduk setempat di tempat-tempat umum, seperti pasar, gang-gang sempit, tempat tinggal sementara atau kos kosan, atau lingkungan lainnya. Pada waktu interaksi ini, semuanya menjadi media akulturasi dan terbentuklah identitas baru. 

Para pendatang jangan egosentris dan bangga atas asal usulnya, sehingga merendahkan identitas warga lokal. Keyakinan ini bisa menjadi masalah. Bukannya diterima dengan baik, yang ada akan mendapat penolakan dari warga lokal. Young Yun Kim (2001) menjelaskan bahwa keberhasilan para pendatang baru bukan ditentukan oleh kemampuannya mempertahankan identitas asalnya, melainkan keberhasilannya melakukan komunikasi dengan menggunakan bahasa dan budaya tuan rumah. 

Para  pendatang yang mau belajar budaya dan bahasa tempat yang dikunjungi, meskipun terbata-bata menggunakannya, maka warga asli atau warga lokal akan merasa tersanjung. Para pendatang rela stres, kerja keras, dan menunjukkan itikad baik mempelajari bahasa dan budaya tempat perantauannya, ini sebagai ikhtiar untuk meraih kesuksesan dalam merantau.

Hal yang sama juga dikatakan Kim dan Kim (2021), bahwa kalau para perantau aktif terlibat dalam jaringan komunikasi, baik secara daring maupun tatap muka, menunjukkan tingkat adaptasi psikologis dan fungsional yang jauh lebih baik dibanding mereka yang hidup terisolasi. 

Meskipun para pendatang harus memiliki mental yang kuat, skill yang mumpuni, spirit kerja yang bagus, namun akan lebih lengkap membekali diri dengan kemampuan komunikasi antar budaya, yang memahami budaya setempat. Kesadaran menerima dan mempelajari budaya lokal yang didatangi ini, akan membangun dialog antarbudaya sehingga urbanisasi tidak berubah menjadi gelombang yang merusak semua pihak, baik pendatang maupun warga lama yang merasa terusik dengan kehadiran para pendatang. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Encep Dulwahab
Dosen Ilmu Komunikasi UIN Bandung

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 25 Mei 2026, 09:07

Banyak Followers dan Following, api Nol Postingan: Fenomena Silent User di Instagram

Fenomena akun Instagram tanpa postingan (tren Zero Post) menunjukkan perubahan cara generasi muda memandang privasi, eksistensi, dan tekanan sosial di era media digital.

Ilustrasi profil Instagram dengan banyak followers dan following tetapi feed kosong tanpa postingan. (Sumber: Dok. Penulis)
Beranda 25 Mei 2026, 08:24

Cerita Warga Setelah Konvoi Persib Usai

Konvoi juara Persib menyisakan cerita berbeda bagi warga Bandung, dari petugas kebersihan, ojol, hingga pedagang kecil yang kebanjiran pembeli.

Hendi Suhendi bersama petugas kebersihan lainnya menyisir kawasan pusat Kota Bandung usai perayaan kemenangan Persib. Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 24 Mei 2026, 20:27

5 Oleh-Oleh Bandung Favorit yang Selalu Ramai Pembeli, Wajib Dibawa Pulang

Wisata ke Bandung belum lengkap tanpa membawa pulang oleh-oleh favorit seperti bolu bakar, abon gulung, dan dessert kekinian.

Bolu Bakar Tunggal, salah satu oleh-oleh legendaris Bandung.
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 18:05

Meminjam Semangat Bobotoh Persib untuk Perubahan Indonesia

Perubahan besar sering kali dimulai dari akumulasi kecil seperti loyalitas, suportivitas, humanitas dan solidaritas dan semua itu bisa kita lihat dari antuasiasme Bobotoh Persib

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 16:03

Muslihat pada Buku ‘Sejarah Hari Jadi Tatar Sunda’

Penting saya melanjutkan tulisan terkait Hari Lahir Tatar Sunda.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi dan peserta memeriahkan Kirab Budaya Milangkala Tatar Sunda di Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Sabtu 16 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 13:07

Kaum Rebahan Menolak Punah: Kemalasan adalah Sumber Penderitaan Nyata

Menderita karena lelahnya belajar dan berproses itu cuma sementara. ketika kamu menguasai skill baru disitu kebanggaan.

Ilustrasi kaum rebahan. (Sumber: Pexels | Foto: bi8ie)
Mayantara 24 Mei 2026, 10:50

Deepfake, Anonimitas, dan Perubahan Wajah Ruang Publik Digital

Perubahan ini merupakan bagian dari karakter media baru atau new media.

Ilustrasi anonimitas. (Sumber: Pexels | Foto: Anete Lusina)
Ayo Netizen 24 Mei 2026, 09:41

Encib Bangkit Lagi Tahun 1980-an

Tahun 1986 adalah saat kebangkitan kembali Persib saat tampil sebagai juara Perserikatan tahun 1986'

Bobotoh Persib tahun 1985-an. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Princelg22)
Beranda 23 Mei 2026, 08:49

Persib di Ambang Juara, Pedagang Kecil Otista Bersiap "Lebaran"

Euforia Persib menuju juara membawa berkah bagi pedagang kecil di Otista. Penjual jersey dan bendera ikut panen rezeki dari ramainya warga menyambut pesta juara.

Deretan lapak penjual jersey dan bendera Persib di kawasanTegalega Kota Bandung, Jumat, 22 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 19:17

Senayan Bergema untuk Persib Sejak 1995 dan Kini 2026 

Kemenangan Persib Bandung selangkah lagi menuju juara Liga Super Indonesia 2026 membuat kenangan mendekat.

Sutiono Lamso dan Kekey Zakaria menjadi pahlawan kemenangan Persib pada partai final di Stadion Senayan, Jakarta. (Sumber: Tabloid Tribun Olahraga, 1995 | Foto: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 18:07

Gaya Hidup Demi 'Eksposur': Puncak Komedi Finansial dan Cara Waras biar Gak Tekor

Hemat pangkal kaya itu mutlak, tapi di zaman sekarang, hemat itu butuh mental baja!

Kini, media sosial menjadi panggung global, tempat siapa pun bisa menampilkan diri, membentuk citra, dan menarik perhatian. (Sumber: Pexels/RDNE Stock project)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 17:19

Lebaran Haji Tempo Dulu

Hari Raya Idul Adha pada tempo dulu lebih dikenal dengan nama Lebaran Haji.

Artikel pada salah satu koran yang terbit tahun 1936. (Sumber: Delpher.nl)
Beranda 22 Mei 2026, 15:02

Hutan di Papua Selatan yang Dincar untuk PSN Seluas 3,5 Juta Lapangan Sepakbola Standar FIFA

Film dokumenter Pesta Babi menyoroti 2,5 juta hektare hutan Papua yang masuk proyek pangan dan energi, setara 3,5 juta lapangan bola.

Tayangan di film Pesta Babi. (Sumber: Jubi TV)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 13:08

Urban Legend Rel Kereta Api: Bukan Setannya yang Budeg tapi Manusianya yang Bebal

Kadang manusia lebih setan dari setan itu sendiri. Satu tindakan impulsif atas pilihan pribadi sering kali justru mengkambinghitamkan mahluk di dunia lain.

Kereta Rel Listrik (KRL). (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: TyewongX)
Wisata & Kuliner 22 Mei 2026, 11:14

Jelajah Pesona Green Canyon Karawang, Sungai Jernih di Tengah Tebing Lumut Hijau

Green Canyon Karawang menawarkan sungai jernih, tebing lumut hijau, canyoning, dan suasana alam sejuk di kawasan Pangkalan.

Green Canyon Karawang. (Sumber: KCIC)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 09:41

Bandung: Kota Ramah Pejalan Kaki dan Disabilitas yang Masih Sebatas Slogan

Trotoar Bandung masih dipenuhi puing proyek, parkir liar, dan aktivitas lain yang mengurangi hak pejalan kaki serta aksesibilitas penyandang disabilitas.

Kondisi trotoar di Jalan Pungkur, Kota Bandung dipenuhi puing galian proyek utilitas, Kamis (21/5/2026) pagi. (Foto: Arif Budiman)
Komunitas 22 Mei 2026, 08:47

Cara Anti Leumpunk Club Susur Sudut Tersembunyi Kota Bandung Pakai GPS Sungut dan Modal Tawa

Menatap Bandung dari gang sempit bersama Anti Leumpunk Club. Modal tanya warga dan saling ledek, jalan kaki 8 km jadi ruang sehat yang penuh tawa.

Ayu dan Meiyama bersama rekannya di Anti Leumpunk Club di Lapangan Saparua, Kamis 21 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Mei 2026, 08:35

Buku, Keluarga, dan Literasi

Buku menjadi jendela dunia yang pertama kali dikenalkan dari rumah, sebelum anak mengenal ruang belajar yang lebih luas, baik di sekolah maupun di tengah masyarakat.

Seseorang sedang asyik membaca (Sumber: ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Beranda 21 Mei 2026, 21:21

Ekosistem Digital Kian Bising, Media Lokal Didorong Kembali ke Publik

Media lokal didorong kembali mengutamakan kepentingan publik di tengah ancaman AI, hilangnya trafik klik, dan maraknya buzzer di ruang digital.

Pembukaan Jateng Media Summit 2026, Kamis (21/5/2026). (Sumber: Suara.com | Foto: Budi Arista Romadhoni)
Ayo Netizen 21 Mei 2026, 20:34

Reformasi Dibungkam, Otoritarianisme Gaya Baru Bangkit Kembali

Pembatalan sepihak kegiatan peringatan 28 Tahun Reformasi di Jakarta bukan lagi sekadar persoalan administrasi hotel.

Peringatan 28 Tahun Reformasi 98 di Jakarta. (Foto: Dokumen pribadi)