Untung, (Buntung) Urbanisasi, dan Arus Balik Lebaran

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat momen Lebaran selalu menghadirkan ruang silaturahmi (perjumpaan) yang hangat dan akrab.

Di antara canda tawa dan hidangan khas, kerap terselip obrolan ringan soal mimpi merantau, tentang keinginan bekerja di kota, dan harapan (mengubah) hidup yang terasa lebih menjanjikan di Puser Dayeuh Kota.

Deretan kisah keberhasilan para perantau yang pulang kampung menjadi semacam magnet sosial. Ibarat pepatah, ada gula, ada semut.

Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ada Gula dan Semut

Ketika kehidupan di desa terasa kian pahit dan di kota menjanjikan manisnya peluang, maka arus perpindahan (urbanisasi) tak terelakkan.

Betapa tidak, kota-kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar) menjadi tujuan utama. Seolah-olah menjadi ladang harapan bagi mereka yang ingin mengubah (mengadu) nasib.

Memang urbanisasi hadir sebagai keniscayaan zaman. Bukan sekadar perpindahan fisik dari desa ke kota, melainkan cermin dari hak asasi manusia untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan layak.

Tak ada yang bisa melarangnya, sebab di dalamnya terkandung harapan, keberanian, kebutuhan untuk bertahan hidup.

Namun, harapan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Perpindahan ke kota menuntut kesiapan mulai dari administrasi yang tertib, keterampilan yang memadai, dan daya tahan menghadapi kompetisi.

Tanpa itu, kota bukan lagi ruang peluang, justru bisa menjelma menjadi ruang keterasingan yang melahirkan pengangguran, kawasan kumuh, dan lingkaran kemiskinan baru.

Secara konseptual, urbanisasi mencerminkan pertumbuhan kota yang terus membesar. Kawasan yang dahulu bukan kota perlahan berubah menjadi wilayah urban, didorong oleh pertumbuhan penduduk alami dan arus migrasi dari berbagai daerah.

Daya tarik utamanya tetap sama dari geliat ekonomi dan kelengkapan fasilitas publik yang seolah menjadi “gula” bagi para pencari kehidupan.

Rupanya, urbanisasi selalu bermuka dua. Di satu sisi, hadir sebagai motor kemajuan, tanpa arus manusia, kota mungkin tak akan berkembang secepat ini. Pada sisi lain, membawa konsekuensi dan tekanan dari perumahan, akses air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, hingga meningkatnya kawasan kumuh.

Segala ketimpangan pembangunan antara desa dan kota semakin memperkuat dorongan untuk berpindah, menciptakan lingkaran yang terus berulang.

Ironisnya, kota-kota besar tidak selalu siap menampung lonjakan maha dahsyat ini. Pembangunan yang tak seimbang dengan pertumbuhan penduduk, ditambah persaingan yang kian ketat dan kualitas sumber daya manusia yang belum merata, membuat sebagian orang tersisih.

Mereka yang gagal beradaptasi sering kali justru diposisikan sebagai sumber masalah, seolah lupa bahwa datang membawa harapan yang sama agar hidup yang lebih baik.

Urbanisasi adalah fenomena kompleks yang tak bisa dilihat secara hitam-putih. Perpaduan antara harapan dan tantangan, antara mimpi dan realitas, yang diperlukan bukan sekadar membatasi arusnya, melainkan menata keseimbangan agar “gula” pembangunan tidak hanya terpusat di kota, tetapi terasa hingga ke desa, tempat segala mimpi itu bermula. (Kompas, 9 Mei 2020)

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan urbanisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari. Pemerintah kota tidak melarang pendatang, tetapi menekankan pentingnya tertib administrasi kependudukan.

“Urbanisasi tidak pernah dilarang di Kota Bandung. Yang paling penting begitu datang perhatikan adminduk dan mendaftar ke wilayah setempat,”

Ketertiban administrasi menjadi kunci dalam perencanaan pembangunan. Data kependudukan yang akurat dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, dan perumahan.

Tentunya, pemerintah daerah dituntut tidak hanya mencatat arus pendatang, tetapi berusaha mengelolanya secara menyeluruh. Regulasi kependudukan harus berjalan seiring dengan penyediaan infrastruktur dan layanan publik yang merata.

Tanpa langkah itu urbanisasi berpotensi memicu persoalan baru, mulai dari kepadatan berlebih hingga meluasnya kawasan permukiman tidak layak. Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, arus penduduk justru dapat menjadi modal bagi pertumbuhan ekonomi kota. (www.bandung.go.id)

Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Urbanisasi dan Lebaran

Urbanisasi yang terkait erat dengan jumlah penduduk suatu wilayah di Indonesia akan semakin terasa dengan adanya fenomena lebaran dan mudik.

Pasalnya, fenomena yang melibatkan penduduk dalam jumlah besar ini dapat memengaruhi perkembangan kota-kota besar di Indonesia. Perkembangan kota besar di Indonesia seperti Jakarta, tidak bisa terlepas dari hadirnya lebaran.

Alasannya, sebagian sumber penduduk kota itu berawal dari fenomena migrasi penduduk terkait lebaran.

Lebaran adalah nama lain dari hari raya umat Islam, baik hari raya Idulfitri maupun hari raya Iduladha yang dirayakan setiap tahun (setiap bulan Syawal) setelah sebulan umat muslim melaksanakan puasa di bulan Ramadan.

1. Lebaran Idulfitri

Lebaran Idulfitri yang biasa disebut "lebaran" saja dilaksanakan ketika hari raya Idulfitri tiba. Orang-orang Islam umumnya saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangganya, familinya setelah menunaikan Salat Id.

2. Lebaran Iduladha

Lebaran Iduladha biasa disebut "Lebaran Haji", karena memang pada saat-saat itu orang-orang Islam umumnya menunaikan ibadah Haji.

Seusai Salat Id, biasanya diadakan pemotongan hewan qurban, dan daging hasil sembelih itu kemudian dibagikan kepada warga di daerah yang bersangkutan (kepada warga) yang kurang mampu. Di lebaran Idul Adha masyarakat muslim juga menunaikan ibadah Salat Id.

Ketika lebaran tiba, sudah biasa umat muslim melakukan "mudik", pergi menuju kampung halaman untuk berkumpul dengan sanak saudara, khususnya bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Di Indonesia, setiap hari raya Idulfitri selalu terjadi fenomena yang sangat khas yaitu mudik.

Bagi umat Islam, penganut agama paling banyak di Indonesia, bersilaturahmi pada saat hari lebaran (Idulfitri) adalah sesuatu yang wajib. Dimulai dari bersilaturahmi ke orang tua, saudara dan hingga ke tetangga bahkan teman lain wilayah.

Di kota-kota besar, karena rata-rata warganya adalah pendatang, maka setiap hari lebaran untuk dapat bersilaturahmi dengan orang tua, mereka kembali ke tempat kelahiran masing-masing yang sering disebut dengan istilah mudik.

Mudik tidak akan menjadi fenomena di Indonesia apabila hanya melibatkan sekelompok kecil orang. Mudik sudah menjadi tradisi tahunan dan menjadi kejadian mobilitas penduduk yang sangat besar.

Mudik adalah kegiatan perantau (pekerja migran) untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, misalnya menjelang lebaran.

Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya melakukan sowan kepada orang tua. Tradisi mudik hanya ada di Indonesia.

Beban yang paling berat yang dihadapi dalam mudik adalah penyediaan sistem transportasinya karena secara bersamaan jumlah masyarakat menggunakan angkutan umum (kendaraan) melalui jaringan jalan yang ada, sehingga sering mengakibatkan penumpang (pemakai) perjalanan menghadapi kemacetan, penundaan perjalanan. (Dewi CP, 2020: 50-53)

Infografis sisi lain urbanisasi yang terjadi di Jabar (Sumber: Open Data Provinsi Jawa Barat | Foto: Istimewa)
Infografis sisi lain urbanisasi yang terjadi di Jabar (Sumber: Open Data Provinsi Jawa Barat | Foto: Istimewa)

Dampak Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk di Jawa Barat terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2024, angka kepadatan mencapai 1.385 jiwa per kilometer persegi. Untuk di wilayah perkotaan seperti Kota Bandung, jumlah ini melonjak drastis hingga lebih dari 15.000 jiwa/km².

Fenomena ini dipicu oleh tingginya angka urbanisasi dan migrasi ke kota besar untuk mencari peluang kerja dan pendidikan.

Data terbaru menunjukkan bahwa tren kepadatan penduduk di Jawa Barat meningkat sebesar 1,26% dari tahun 2022 ke 2023. Kabupaten Pangandaran tercatat sebagai daerah dengan kepadatan terendah, yaitu hanya 396 jiwa/km².

Wilayah ini bisa menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin tinggal di lingkungan yang lebih tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Meningkatnya jumlah penduduk tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dapat menimbulkan berbagai masalah. Mulai dari keterbatasan pangan, lahan pemukiman, air bersih, hingga penurunan kualitas lingkungan dan pendidikan.

Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, sangat penting menjaga keseimbangan antara kepadatan penduduk dan kualitas hidup masyarakat.

Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bersama-sama menciptakan solusi yang berkelanjutan agar pertumbuhan penduduk tidak menjadi beban, melainkan potensi pembangunan yang lebih baik. (Open Data Provinsi Jawa Barat, 23 Juni 2025).

Sejumlah perantau sedang menjalani pemeriksaan identitas di Posko Pendataan Masyarakat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Sejumlah perantau sedang menjalani pemeriksaan identitas di Posko Pendataan Masyarakat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Menjaga Bandung Utama

Arus balik Idulfitri menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kota Bandung untuk memastikan para pendatang yang masuk melalui Terminal Leuwipanjang dan Terminal Cicaheum tercatat secara resmi dalam administrasi kependudukan (adminduk).

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan tertib adminduk bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting dari penataan kota agar mobilitas warga tetap terpantau dan tertib sesuai aturan hukum.

Mengurus adminduk memberikan berbagai keuntungan nyata bagi para pendatang. Dengan status domisili yang jelas, masyarakat dapat lebih mudah mengakses layanan publik, mengurus perizinan usaha, hingga memperoleh fasilitas keuangan seperti pengajuan kredit.

Kini, prosesnya semakin mudah dan cepat, dapat dilakukan secara daring dalam waktu singkat, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikan kewajiban administratif ini saat menetap di Kota Bandung.

Tentunya, kepatuhan terhadap aturan administrasi dan hukum menjadi kunci agar pendatang dapat beradaptasi secara sehat di lingkungan perkotaan. Pendataan yang akurat memungkinkan pemerintah merancang kebijakan yang tepat sasaran, memastikan hak dan kewajiban warga terpenuhi secara seimbang. Kehadiran pendatang justru bisa menjadi potensi positif bagi pembangunan kota, bukan menjadi beban. (www.bandung.go.id)

Sebaliknya, bila arus urbanisasi tidak diimbangi dengan keahlian dan kepatuhan administrasi, maka ini berisiko menambah beban baru bagi Kota Bandung, dengan meningkatnya angka kemiskinan dan munculnya pemukiman kumuh.

Baca Juga: 10 Kecamatan dengan Arus Pendatang Tertinggi di Kota Bandung

Kesadaran mengurus adminduk, taat aturan, memiliki kesiapan keterampilan menjadi langkah penting agar para pendatang tidak (bernasib) menjadi “buntung”, melainkan mampu berkontribusi secara aktif, produktif dalam kehidupan kota Bandung semakin Utama.

Ingat, urbanisasi pasca-Lebaran menjadi kebiasaan tahunan saat arus balik membawa pendatang baru ke kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar) untuk mencari pekerjaan. Dengan membawa sisi "untung" dari segi tenaga kerja muda, pertumbuhan ekonomi dan "buntung" menjadi beban sosial, pengangguran, permukiman kumuh.

Dengan demikian, urbanisasi hadir atas ketimpangan pembangunan yang belum usai. Selama "gula" hanya ada di kota, "semut" akan terus datang meski harus bertaruh nasib. Justru tantangan besarnya bukan lagi sekadar membatasi pendatang, melainkan bagaimana menciptakan "gula-gula" baru di pedesaan (perkampungan, lembur) agar arus balik tidak selalu menjadi pelarian, melainkan pilihan yang setara dan bermakna. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)