Untung, (Buntung) Urbanisasi, dan Arus Balik Lebaran

8 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat momen Lebaran selalu menghadirkan ruang silaturahmi (perjumpaan) yang hangat dan akrab.

Di antara canda tawa dan hidangan khas, kerap terselip obrolan ringan soal mimpi merantau, tentang keinginan bekerja di kota, dan harapan (mengubah) hidup yang terasa lebih menjanjikan di Puser Dayeuh Kota.

Deretan kisah keberhasilan para perantau yang pulang kampung menjadi semacam magnet sosial. Ibarat pepatah, ada gula, ada semut.

Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ada Gula dan Semut

Ketika kehidupan di desa terasa kian pahit dan di kota menjanjikan manisnya peluang, maka arus perpindahan (urbanisasi) tak terelakkan.

Betapa tidak, kota-kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar) menjadi tujuan utama. Seolah-olah menjadi ladang harapan bagi mereka yang ingin mengubah (mengadu) nasib.

Memang urbanisasi hadir sebagai keniscayaan zaman. Bukan sekadar perpindahan fisik dari desa ke kota, melainkan cermin dari hak asasi manusia untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan layak.

Tak ada yang bisa melarangnya, sebab di dalamnya terkandung harapan, keberanian, kebutuhan untuk bertahan hidup.

Namun, harapan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Perpindahan ke kota menuntut kesiapan mulai dari administrasi yang tertib, keterampilan yang memadai, dan daya tahan menghadapi kompetisi.

Tanpa itu, kota bukan lagi ruang peluang, justru bisa menjelma menjadi ruang keterasingan yang melahirkan pengangguran, kawasan kumuh, dan lingkaran kemiskinan baru.

Secara konseptual, urbanisasi mencerminkan pertumbuhan kota yang terus membesar. Kawasan yang dahulu bukan kota perlahan berubah menjadi wilayah urban, didorong oleh pertumbuhan penduduk alami dan arus migrasi dari berbagai daerah.

Daya tarik utamanya tetap sama dari geliat ekonomi dan kelengkapan fasilitas publik yang seolah menjadi “gula” bagi para pencari kehidupan.

Rupanya, urbanisasi selalu bermuka dua. Di satu sisi, hadir sebagai motor kemajuan, tanpa arus manusia, kota mungkin tak akan berkembang secepat ini. Pada sisi lain, membawa konsekuensi dan tekanan dari perumahan, akses air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, hingga meningkatnya kawasan kumuh.

Segala ketimpangan pembangunan antara desa dan kota semakin memperkuat dorongan untuk berpindah, menciptakan lingkaran yang terus berulang.

Ironisnya, kota-kota besar tidak selalu siap menampung lonjakan maha dahsyat ini. Pembangunan yang tak seimbang dengan pertumbuhan penduduk, ditambah persaingan yang kian ketat dan kualitas sumber daya manusia yang belum merata, membuat sebagian orang tersisih.

Mereka yang gagal beradaptasi sering kali justru diposisikan sebagai sumber masalah, seolah lupa bahwa datang membawa harapan yang sama agar hidup yang lebih baik.

Urbanisasi adalah fenomena kompleks yang tak bisa dilihat secara hitam-putih. Perpaduan antara harapan dan tantangan, antara mimpi dan realitas, yang diperlukan bukan sekadar membatasi arusnya, melainkan menata keseimbangan agar “gula” pembangunan tidak hanya terpusat di kota, tetapi terasa hingga ke desa, tempat segala mimpi itu bermula. (Kompas, 9 Mei 2020)

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan urbanisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari. Pemerintah kota tidak melarang pendatang, tetapi menekankan pentingnya tertib administrasi kependudukan.

“Urbanisasi tidak pernah dilarang di Kota Bandung. Yang paling penting begitu datang perhatikan adminduk dan mendaftar ke wilayah setempat,”

Ketertiban administrasi menjadi kunci dalam perencanaan pembangunan. Data kependudukan yang akurat dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, dan perumahan.

Tentunya, pemerintah daerah dituntut tidak hanya mencatat arus pendatang, tetapi berusaha mengelolanya secara menyeluruh. Regulasi kependudukan harus berjalan seiring dengan penyediaan infrastruktur dan layanan publik yang merata.

Tanpa langkah itu urbanisasi berpotensi memicu persoalan baru, mulai dari kepadatan berlebih hingga meluasnya kawasan permukiman tidak layak. Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, arus penduduk justru dapat menjadi modal bagi pertumbuhan ekonomi kota. (www.bandung.go.id)

Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Urbanisasi dan Lebaran

Urbanisasi yang terkait erat dengan jumlah penduduk suatu wilayah di Indonesia akan semakin terasa dengan adanya fenomena lebaran dan mudik.

Pasalnya, fenomena yang melibatkan penduduk dalam jumlah besar ini dapat memengaruhi perkembangan kota-kota besar di Indonesia. Perkembangan kota besar di Indonesia seperti Jakarta, tidak bisa terlepas dari hadirnya lebaran.

Alasannya, sebagian sumber penduduk kota itu berawal dari fenomena migrasi penduduk terkait lebaran.

Lebaran adalah nama lain dari hari raya umat Islam, baik hari raya Idulfitri maupun hari raya Iduladha yang dirayakan setiap tahun (setiap bulan Syawal) setelah sebulan umat muslim melaksanakan puasa di bulan Ramadan.

1. Lebaran Idulfitri

Lebaran Idulfitri yang biasa disebut "lebaran" saja dilaksanakan ketika hari raya Idulfitri tiba. Orang-orang Islam umumnya saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangganya, familinya setelah menunaikan Salat Id.

2. Lebaran Iduladha

Lebaran Iduladha biasa disebut "Lebaran Haji", karena memang pada saat-saat itu orang-orang Islam umumnya menunaikan ibadah Haji.

Seusai Salat Id, biasanya diadakan pemotongan hewan qurban, dan daging hasil sembelih itu kemudian dibagikan kepada warga di daerah yang bersangkutan (kepada warga) yang kurang mampu. Di lebaran Idul Adha masyarakat muslim juga menunaikan ibadah Salat Id.

Ketika lebaran tiba, sudah biasa umat muslim melakukan "mudik", pergi menuju kampung halaman untuk berkumpul dengan sanak saudara, khususnya bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Di Indonesia, setiap hari raya Idulfitri selalu terjadi fenomena yang sangat khas yaitu mudik.

Bagi umat Islam, penganut agama paling banyak di Indonesia, bersilaturahmi pada saat hari lebaran (Idulfitri) adalah sesuatu yang wajib. Dimulai dari bersilaturahmi ke orang tua, saudara dan hingga ke tetangga bahkan teman lain wilayah.

Di kota-kota besar, karena rata-rata warganya adalah pendatang, maka setiap hari lebaran untuk dapat bersilaturahmi dengan orang tua, mereka kembali ke tempat kelahiran masing-masing yang sering disebut dengan istilah mudik.

Mudik tidak akan menjadi fenomena di Indonesia apabila hanya melibatkan sekelompok kecil orang. Mudik sudah menjadi tradisi tahunan dan menjadi kejadian mobilitas penduduk yang sangat besar.

Mudik adalah kegiatan perantau (pekerja migran) untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, misalnya menjelang lebaran.

Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya melakukan sowan kepada orang tua. Tradisi mudik hanya ada di Indonesia.

Beban yang paling berat yang dihadapi dalam mudik adalah penyediaan sistem transportasinya karena secara bersamaan jumlah masyarakat menggunakan angkutan umum (kendaraan) melalui jaringan jalan yang ada, sehingga sering mengakibatkan penumpang (pemakai) perjalanan menghadapi kemacetan, penundaan perjalanan. (Dewi CP, 2020: 50-53)

Infografis sisi lain urbanisasi yang terjadi di Jabar (Sumber: Open Data Provinsi Jawa Barat | Foto: Istimewa)
Infografis sisi lain urbanisasi yang terjadi di Jabar (Sumber: Open Data Provinsi Jawa Barat | Foto: Istimewa)

Dampak Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk di Jawa Barat terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2024, angka kepadatan mencapai 1.385 jiwa per kilometer persegi. Untuk di wilayah perkotaan seperti Kota Bandung, jumlah ini melonjak drastis hingga lebih dari 15.000 jiwa/km².

Fenomena ini dipicu oleh tingginya angka urbanisasi dan migrasi ke kota besar untuk mencari peluang kerja dan pendidikan.

Data terbaru menunjukkan bahwa tren kepadatan penduduk di Jawa Barat meningkat sebesar 1,26% dari tahun 2022 ke 2023. Kabupaten Pangandaran tercatat sebagai daerah dengan kepadatan terendah, yaitu hanya 396 jiwa/km².

Wilayah ini bisa menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin tinggal di lingkungan yang lebih tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Meningkatnya jumlah penduduk tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dapat menimbulkan berbagai masalah. Mulai dari keterbatasan pangan, lahan pemukiman, air bersih, hingga penurunan kualitas lingkungan dan pendidikan.

Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, sangat penting menjaga keseimbangan antara kepadatan penduduk dan kualitas hidup masyarakat.

Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bersama-sama menciptakan solusi yang berkelanjutan agar pertumbuhan penduduk tidak menjadi beban, melainkan potensi pembangunan yang lebih baik. (Open Data Provinsi Jawa Barat, 23 Juni 2025).

Sejumlah perantau sedang menjalani pemeriksaan identitas di Posko Pendataan Masyarakat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Sejumlah perantau sedang menjalani pemeriksaan identitas di Posko Pendataan Masyarakat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Menjaga Bandung Utama

Arus balik Idulfitri menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kota Bandung untuk memastikan para pendatang yang masuk melalui Terminal Leuwipanjang dan Terminal Cicaheum tercatat secara resmi dalam administrasi kependudukan (adminduk).

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan tertib adminduk bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting dari penataan kota agar mobilitas warga tetap terpantau dan tertib sesuai aturan hukum.

Mengurus adminduk memberikan berbagai keuntungan nyata bagi para pendatang. Dengan status domisili yang jelas, masyarakat dapat lebih mudah mengakses layanan publik, mengurus perizinan usaha, hingga memperoleh fasilitas keuangan seperti pengajuan kredit.

Kini, prosesnya semakin mudah dan cepat, dapat dilakukan secara daring dalam waktu singkat, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikan kewajiban administratif ini saat menetap di Kota Bandung.

Tentunya, kepatuhan terhadap aturan administrasi dan hukum menjadi kunci agar pendatang dapat beradaptasi secara sehat di lingkungan perkotaan. Pendataan yang akurat memungkinkan pemerintah merancang kebijakan yang tepat sasaran, memastikan hak dan kewajiban warga terpenuhi secara seimbang. Kehadiran pendatang justru bisa menjadi potensi positif bagi pembangunan kota, bukan menjadi beban. (www.bandung.go.id)

Sebaliknya, bila arus urbanisasi tidak diimbangi dengan keahlian dan kepatuhan administrasi, maka ini berisiko menambah beban baru bagi Kota Bandung, dengan meningkatnya angka kemiskinan dan munculnya pemukiman kumuh.

Baca Juga: 10 Kecamatan dengan Arus Pendatang Tertinggi di Kota Bandung

Kesadaran mengurus adminduk, taat aturan, memiliki kesiapan keterampilan menjadi langkah penting agar para pendatang tidak (bernasib) menjadi “buntung”, melainkan mampu berkontribusi secara aktif, produktif dalam kehidupan kota Bandung semakin Utama.

Ingat, urbanisasi pasca-Lebaran menjadi kebiasaan tahunan saat arus balik membawa pendatang baru ke kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar) untuk mencari pekerjaan. Dengan membawa sisi "untung" dari segi tenaga kerja muda, pertumbuhan ekonomi dan "buntung" menjadi beban sosial, pengangguran, permukiman kumuh.

Dengan demikian, urbanisasi hadir atas ketimpangan pembangunan yang belum usai. Selama "gula" hanya ada di kota, "semut" akan terus datang meski harus bertaruh nasib. Justru tantangan besarnya bukan lagi sekadar membatasi pendatang, melainkan bagaimana menciptakan "gula-gula" baru di pedesaan (perkampungan, lembur) agar arus balik tidak selalu menjadi pelarian, melainkan pilihan yang setara dan bermakna. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)