Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Untung, (Buntung) Urbanisasi, dan Arus Balik Lebaran

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Kamis 26 Mar 2026, 14:56 WIB
Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat momen Lebaran selalu menghadirkan ruang silaturahmi (perjumpaan) yang hangat dan akrab.

Di antara canda tawa dan hidangan khas, kerap terselip obrolan ringan soal mimpi merantau, tentang keinginan bekerja di kota, dan harapan (mengubah) hidup yang terasa lebih menjanjikan di Puser Dayeuh Kota.

Deretan kisah keberhasilan para perantau yang pulang kampung menjadi semacam magnet sosial. Ibarat pepatah, ada gula, ada semut.

Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ada Gula dan Semut

Ketika kehidupan di desa terasa kian pahit dan di kota menjanjikan manisnya peluang, maka arus perpindahan (urbanisasi) tak terelakkan.

Betapa tidak, kota-kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar) menjadi tujuan utama. Seolah-olah menjadi ladang harapan bagi mereka yang ingin mengubah (mengadu) nasib.

Memang urbanisasi hadir sebagai keniscayaan zaman. Bukan sekadar perpindahan fisik dari desa ke kota, melainkan cermin dari hak asasi manusia untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan layak.

Tak ada yang bisa melarangnya, sebab di dalamnya terkandung harapan, keberanian, kebutuhan untuk bertahan hidup.

Namun, harapan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Perpindahan ke kota menuntut kesiapan mulai dari administrasi yang tertib, keterampilan yang memadai, dan daya tahan menghadapi kompetisi.

Tanpa itu, kota bukan lagi ruang peluang, justru bisa menjelma menjadi ruang keterasingan yang melahirkan pengangguran, kawasan kumuh, dan lingkaran kemiskinan baru.

Secara konseptual, urbanisasi mencerminkan pertumbuhan kota yang terus membesar. Kawasan yang dahulu bukan kota perlahan berubah menjadi wilayah urban, didorong oleh pertumbuhan penduduk alami dan arus migrasi dari berbagai daerah.

Daya tarik utamanya tetap sama dari geliat ekonomi dan kelengkapan fasilitas publik yang seolah menjadi “gula” bagi para pencari kehidupan.

Rupanya, urbanisasi selalu bermuka dua. Di satu sisi, hadir sebagai motor kemajuan, tanpa arus manusia, kota mungkin tak akan berkembang secepat ini. Pada sisi lain, membawa konsekuensi dan tekanan dari perumahan, akses air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, hingga meningkatnya kawasan kumuh.

Segala ketimpangan pembangunan antara desa dan kota semakin memperkuat dorongan untuk berpindah, menciptakan lingkaran yang terus berulang.

Ironisnya, kota-kota besar tidak selalu siap menampung lonjakan maha dahsyat ini. Pembangunan yang tak seimbang dengan pertumbuhan penduduk, ditambah persaingan yang kian ketat dan kualitas sumber daya manusia yang belum merata, membuat sebagian orang tersisih.

Mereka yang gagal beradaptasi sering kali justru diposisikan sebagai sumber masalah, seolah lupa bahwa datang membawa harapan yang sama agar hidup yang lebih baik.

Urbanisasi adalah fenomena kompleks yang tak bisa dilihat secara hitam-putih. Perpaduan antara harapan dan tantangan, antara mimpi dan realitas, yang diperlukan bukan sekadar membatasi arusnya, melainkan menata keseimbangan agar “gula” pembangunan tidak hanya terpusat di kota, tetapi terasa hingga ke desa, tempat segala mimpi itu bermula. (Kompas, 9 Mei 2020)

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan urbanisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari. Pemerintah kota tidak melarang pendatang, tetapi menekankan pentingnya tertib administrasi kependudukan.

“Urbanisasi tidak pernah dilarang di Kota Bandung. Yang paling penting begitu datang perhatikan adminduk dan mendaftar ke wilayah setempat,”

Ketertiban administrasi menjadi kunci dalam perencanaan pembangunan. Data kependudukan yang akurat dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, dan perumahan.

Tentunya, pemerintah daerah dituntut tidak hanya mencatat arus pendatang, tetapi berusaha mengelolanya secara menyeluruh. Regulasi kependudukan harus berjalan seiring dengan penyediaan infrastruktur dan layanan publik yang merata.

Tanpa langkah itu urbanisasi berpotensi memicu persoalan baru, mulai dari kepadatan berlebih hingga meluasnya kawasan permukiman tidak layak. Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, arus penduduk justru dapat menjadi modal bagi pertumbuhan ekonomi kota. (www.bandung.go.id)

Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Urbanisasi dan Lebaran

Urbanisasi yang terkait erat dengan jumlah penduduk suatu wilayah di Indonesia akan semakin terasa dengan adanya fenomena lebaran dan mudik.

Pasalnya, fenomena yang melibatkan penduduk dalam jumlah besar ini dapat memengaruhi perkembangan kota-kota besar di Indonesia. Perkembangan kota besar di Indonesia seperti Jakarta, tidak bisa terlepas dari hadirnya lebaran.

Alasannya, sebagian sumber penduduk kota itu berawal dari fenomena migrasi penduduk terkait lebaran.

Lebaran adalah nama lain dari hari raya umat Islam, baik hari raya Idulfitri maupun hari raya Iduladha yang dirayakan setiap tahun (setiap bulan Syawal) setelah sebulan umat muslim melaksanakan puasa di bulan Ramadan.

1. Lebaran Idulfitri

Lebaran Idulfitri yang biasa disebut "lebaran" saja dilaksanakan ketika hari raya Idulfitri tiba. Orang-orang Islam umumnya saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangganya, familinya setelah menunaikan Salat Id.

2. Lebaran Iduladha

Lebaran Iduladha biasa disebut "Lebaran Haji", karena memang pada saat-saat itu orang-orang Islam umumnya menunaikan ibadah Haji.

Seusai Salat Id, biasanya diadakan pemotongan hewan qurban, dan daging hasil sembelih itu kemudian dibagikan kepada warga di daerah yang bersangkutan (kepada warga) yang kurang mampu. Di lebaran Idul Adha masyarakat muslim juga menunaikan ibadah Salat Id.

Ketika lebaran tiba, sudah biasa umat muslim melakukan "mudik", pergi menuju kampung halaman untuk berkumpul dengan sanak saudara, khususnya bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Di Indonesia, setiap hari raya Idulfitri selalu terjadi fenomena yang sangat khas yaitu mudik.

Bagi umat Islam, penganut agama paling banyak di Indonesia, bersilaturahmi pada saat hari lebaran (Idulfitri) adalah sesuatu yang wajib. Dimulai dari bersilaturahmi ke orang tua, saudara dan hingga ke tetangga bahkan teman lain wilayah.

Di kota-kota besar, karena rata-rata warganya adalah pendatang, maka setiap hari lebaran untuk dapat bersilaturahmi dengan orang tua, mereka kembali ke tempat kelahiran masing-masing yang sering disebut dengan istilah mudik.

Mudik tidak akan menjadi fenomena di Indonesia apabila hanya melibatkan sekelompok kecil orang. Mudik sudah menjadi tradisi tahunan dan menjadi kejadian mobilitas penduduk yang sangat besar.

Mudik adalah kegiatan perantau (pekerja migran) untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, misalnya menjelang lebaran.

Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya melakukan sowan kepada orang tua. Tradisi mudik hanya ada di Indonesia.

Beban yang paling berat yang dihadapi dalam mudik adalah penyediaan sistem transportasinya karena secara bersamaan jumlah masyarakat menggunakan angkutan umum (kendaraan) melalui jaringan jalan yang ada, sehingga sering mengakibatkan penumpang (pemakai) perjalanan menghadapi kemacetan, penundaan perjalanan. (Dewi CP, 2020: 50-53)

Infografis sisi lain urbanisasi yang terjadi di Jabar (Sumber: Open Data Provinsi Jawa Barat | Foto: Istimewa)
Infografis sisi lain urbanisasi yang terjadi di Jabar (Sumber: Open Data Provinsi Jawa Barat | Foto: Istimewa)

Dampak Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk di Jawa Barat terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2024, angka kepadatan mencapai 1.385 jiwa per kilometer persegi. Untuk di wilayah perkotaan seperti Kota Bandung, jumlah ini melonjak drastis hingga lebih dari 15.000 jiwa/km².

Fenomena ini dipicu oleh tingginya angka urbanisasi dan migrasi ke kota besar untuk mencari peluang kerja dan pendidikan.

Data terbaru menunjukkan bahwa tren kepadatan penduduk di Jawa Barat meningkat sebesar 1,26% dari tahun 2022 ke 2023. Kabupaten Pangandaran tercatat sebagai daerah dengan kepadatan terendah, yaitu hanya 396 jiwa/km².

Wilayah ini bisa menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin tinggal di lingkungan yang lebih tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Meningkatnya jumlah penduduk tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dapat menimbulkan berbagai masalah. Mulai dari keterbatasan pangan, lahan pemukiman, air bersih, hingga penurunan kualitas lingkungan dan pendidikan.

Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, sangat penting menjaga keseimbangan antara kepadatan penduduk dan kualitas hidup masyarakat.

Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bersama-sama menciptakan solusi yang berkelanjutan agar pertumbuhan penduduk tidak menjadi beban, melainkan potensi pembangunan yang lebih baik. (Open Data Provinsi Jawa Barat, 23 Juni 2025).

Sejumlah perantau sedang menjalani pemeriksaan identitas di Posko Pendataan Masyarakat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Sejumlah perantau sedang menjalani pemeriksaan identitas di Posko Pendataan Masyarakat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Menjaga Bandung Utama

Arus balik Idulfitri menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kota Bandung untuk memastikan para pendatang yang masuk melalui Terminal Leuwipanjang dan Terminal Cicaheum tercatat secara resmi dalam administrasi kependudukan (adminduk).

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan tertib adminduk bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting dari penataan kota agar mobilitas warga tetap terpantau dan tertib sesuai aturan hukum.

Mengurus adminduk memberikan berbagai keuntungan nyata bagi para pendatang. Dengan status domisili yang jelas, masyarakat dapat lebih mudah mengakses layanan publik, mengurus perizinan usaha, hingga memperoleh fasilitas keuangan seperti pengajuan kredit.

Kini, prosesnya semakin mudah dan cepat, dapat dilakukan secara daring dalam waktu singkat, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikan kewajiban administratif ini saat menetap di Kota Bandung.

Tentunya, kepatuhan terhadap aturan administrasi dan hukum menjadi kunci agar pendatang dapat beradaptasi secara sehat di lingkungan perkotaan. Pendataan yang akurat memungkinkan pemerintah merancang kebijakan yang tepat sasaran, memastikan hak dan kewajiban warga terpenuhi secara seimbang. Kehadiran pendatang justru bisa menjadi potensi positif bagi pembangunan kota, bukan menjadi beban. (www.bandung.go.id)

Sebaliknya, bila arus urbanisasi tidak diimbangi dengan keahlian dan kepatuhan administrasi, maka ini berisiko menambah beban baru bagi Kota Bandung, dengan meningkatnya angka kemiskinan dan munculnya pemukiman kumuh.

Baca Juga: 10 Kecamatan dengan Arus Pendatang Tertinggi di Kota Bandung

Kesadaran mengurus adminduk, taat aturan, memiliki kesiapan keterampilan menjadi langkah penting agar para pendatang tidak (bernasib) menjadi “buntung”, melainkan mampu berkontribusi secara aktif, produktif dalam kehidupan kota Bandung semakin Utama.

Ingat, urbanisasi pasca-Lebaran menjadi kebiasaan tahunan saat arus balik membawa pendatang baru ke kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar) untuk mencari pekerjaan. Dengan membawa sisi "untung" dari segi tenaga kerja muda, pertumbuhan ekonomi dan "buntung" menjadi beban sosial, pengangguran, permukiman kumuh.

Dengan demikian, urbanisasi hadir atas ketimpangan pembangunan yang belum usai. Selama "gula" hanya ada di kota, "semut" akan terus datang meski harus bertaruh nasib. Justru tantangan besarnya bukan lagi sekadar membatasi pendatang, melainkan bagaimana menciptakan "gula-gula" baru di pedesaan (perkampungan, lembur) agar arus balik tidak selalu menjadi pelarian, melainkan pilihan yang setara dan bermakna. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mar 2026, 19:25

Syawal dan Makna yang Kita Percaya

Syawal dimaknai sebagai momentum “peningkatan”.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 18:00

Mawas Diri Usai Lebaran dan Catatan Kelam Moralitas Kepala Daerah

Masyarakat sangat kecewa melihat kelakuan para pejabat dan sederet kepala daerah yang tertangkap oleh KPK pada saat bulan suci Ramadan.

Ilustrasi Bupati Pekalongan Fadia Arafiq yang terjerat korupsi. (Sumber: prokompim.setda.pekalongankab.go.id)
Beranda 26 Mar 2026, 16:38

Website ISMN Resmi Hadir, Jadi Pusat Informasi dan Kolaborasi Akun Media Sosial Komunitas Nasional

ISMN meluncurkan website sebagai pusat informasi dan kolaborasi akun media sosial komunitas untuk memperkuat jaringan homeless media di seluruh Indonesia.

ISMN Meetup Bandung pada Oktober 2025 yang dihadiri 50 pengelola dan pemilik homeless media. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Linimasa 26 Mar 2026, 16:33

ISMN Resmi Luncurkan Website, Satukan Jaringan Media Sosial Se-Indonesia

ISMN meluncurkan website resmi sebagai pusat informasi dan kolaborasi bagi pengelola akun homeless media di seluruh Indonesia.

Portal Indonesia Social Media Network (ISMN)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 15:41

Jalan Mengatasi Invisible People

Invisible people adalah individu atau kelompok yang secara sosial dan ekonomi terpinggirkan.

Stigma terhadap pengemis di kota besar seperti Bandung bukan hal baru. Mereka kerap dilabeli sebagai beban sosial, bahkan dianggap menipu publik dengan kedok kemiskinan. (Sumber: Pexels)
Wisata & Kuliner 26 Mar 2026, 15:01

Glamping Lake Side Rancabali, Objek Wisata dengan Pelbagai Atraksi Menarik

Glamping Lake Side Rancabali menawarkan pengalaman menginap mewah, restoran kapal pinisi, dan berbagai wahana seru di kawasan Situ Patengan.

Situ Patenggang, Glamping Lake Side Rancabali. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 14:56

Untung, (Buntung) Urbanisasi, dan Arus Balik Lebaran

Urbanisasi hadir atas ketimpangan pembangunan yang belum usai. Selama "gula" hanya ada di kota, "semut" akan terus datang meski harus bertaruh nasib.

Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 26 Mar 2026, 14:42

Bidik Segmen Eksklusif, 88 Taylor Perkuat Identitas Brand melalui Layanan Batik Custom

88 Taylor memosisikan diri pada segmen pasar khusus busana formal pria dan mengusung pendekatan autentik yang tetap relevan dengan perkembangan tren masa kini.

88 Taylor memosisikan diri pada segmen pasar khusus busana formal pria dan mengusung pendekatan autentik yang tetap relevan dengan perkembangan tren masa kini. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Wisata & Kuliner 26 Mar 2026, 12:50

Liburan untuk Rebahan, Sleepcation Jadi Tren Wisata Baru

Sleepcation menjadikan tidur sebagai agenda utama perjalanan. Dari kasur premium hingga aromaterapi, hotel berlomba menciptakan pengalaman liburan yang berfokus pada istirahat.

Ilustrasi Sleepcation (Sumber: Envato)
Beranda 26 Mar 2026, 12:18

10 Kecamatan dengan Arus Pendatang Tertinggi di Kota Bandung

Data terbaru tahun 2024 mencatat 10 kecamatan di Kota Bandung dengan arus pendatang tertinggi, menunjukkan tingginya migrasi masuk ke kota ini sebagai pusat pendidikan, ekonomi, dan peluang kerja.

Petugas Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Disdukcapil) melakukan pendataan terhadap pemudik yang baru tiba di Terminal Cicaheum, Kota Bandung, Selasa 24 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mar 2026, 09:47

Akar Sejarah Halalbihalal: Transformasi Tradisi dari Era Walisongo ke Budaya Nasional Indonesia

Walaupun menggunakan istilah Arab dan telah melembaga di Indonesia, tradisi ini tidak ditemukan pada zaman Nabi Saw.

Sebuah potret yang menunjukkan tradisi makan bersama dalam acara halalbihalal tahun 1926. (Sumber foto: Delpher)
Beranda 26 Mar 2026, 07:51

Jejak Pendatang Asli Garut di Kota Bandung yang Bertahan Tiga Generasi

Kisah urbanisasi dari Garut ke Bandung tergambar dalam Barbershop Sawargi yang telah bertahan lebih dari 70 tahun, menjadi bukti bagaimana perantau membangun kehidupan dan mewariskan usaha.

Foto Eros Saifullah dan istrinya yang meninggalkan Garut untuk merantau di Kota Bandung pascakemerdekaan Indonesia. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 26 Mar 2026, 07:22

Mushaf Sundawi, Menjaga Kalam dalam Ragam Sunda

Mushaf Sundawi di Pusdai Jawa Barat menjadi warisan budaya Islam yang memadukan seni khas Sunda dengan nilai religius, ditulis tangan selama 14 bulan dan dihiasi emas 24 karat.

Mushaf Sundawi bukan sekadar Al-Qur’an, tetapi jejak budaya Sunda yang ditulis tangan dengan ketelatenan dan diwariskan dalam keheningan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ikon 25 Mar 2026, 19:53

Sejarah Masjid Salman ITB, Kawah Pergulatan Islam di Jantung Bandung

Lahir di tengah tarik-menarik ideologi 1960-an, Masjid Salman ITB berdiri berkat restu Soekarno dan menjadi simbol hadirnya Islam di jantung kampus teknik.

Masjid Salman ITB
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 18:11

Lebaran itu Tentang Asal Usul Diri: Dari Bakti Kepada Orang Tua Hingga Nasionalisme yang Sejati

Dari hal yang paling sederhana, Lebaran selalu dimulai dari keluarga.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 25 Mar 2026, 17:39

Strategi Unik Nasi Tempong Santi Jangkau Pasar Berbeda Lewat Konsep Bisnis Nomaden

Hidangan utama yang disajikan Nasi Tempong Santi dikenal memiliki cita rasa kuat dengan sentuhan bumbu pedas dan beragam pilihan sambal.

Nasi Tempong Santi mengusung konsep hidangan berat untuk memikat atensi pengunjung di tengah gelaran food festival. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 15:46

Antre Dua Jam Demi Foto Viral di Braga: Seru-Seruan atau Sekadar Ikut Tren?

Fenomena antre panjang demi foto viral di Braga, Kota Bandung.

Foto box koran yang sedang viral di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 15:18

Masalah Urbanisasi Pasca Lebaran dan Dilema Pasar Kerja Fleksibel

Urbanisasi pasca Lebaran 2026 kian rumit karena kondisi ketenagakerjaan sedang suram.

Ilustrasi urbanisasi pasca lebaran. (Sumber: Meta | Foto: Arif Minardi)
Seni Budaya 25 Mar 2026, 13:31

Dari Sungai Kuantan ke Seluruh Dunia, Sejarah Panjang Tradisi Pacu Jalur

Video Anak Coki viral pada 2025 membawa Pacu Jalur mendunia. Namun tradisi ini telah berakar sejak abad ke-17 di Sungai Kuantan, jauh sebelum era internet.

Festival Pacu Jalur. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 11:47

Mabok Kakaretaan

Dalam setiap perjalanan, kita tak hanya bergerak secara fisik, justru sedang dilatih untuk lebih memahami diri, keluarga, dan kehidupan yang serba cepat.

Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)