Untung, (Buntung) Urbanisasi, dan Arus Balik Lebaran

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Kamis 26 Mar 2026, 14:56 WIB
Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat momen Lebaran selalu menghadirkan ruang silaturahmi (perjumpaan) yang hangat dan akrab.

Di antara canda tawa dan hidangan khas, kerap terselip obrolan ringan soal mimpi merantau, tentang keinginan bekerja di kota, dan harapan (mengubah) hidup yang terasa lebih menjanjikan di Puser Dayeuh Kota.

Deretan kisah keberhasilan para perantau yang pulang kampung menjadi semacam magnet sosial. Ibarat pepatah, ada gula, ada semut.

Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ada Gula dan Semut

Ketika kehidupan di desa terasa kian pahit dan di kota menjanjikan manisnya peluang, maka arus perpindahan (urbanisasi) tak terelakkan.

Betapa tidak, kota-kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar) menjadi tujuan utama. Seolah-olah menjadi ladang harapan bagi mereka yang ingin mengubah (mengadu) nasib.

Memang urbanisasi hadir sebagai keniscayaan zaman. Bukan sekadar perpindahan fisik dari desa ke kota, melainkan cermin dari hak asasi manusia untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan layak.

Tak ada yang bisa melarangnya, sebab di dalamnya terkandung harapan, keberanian, kebutuhan untuk bertahan hidup.

Namun, harapan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Perpindahan ke kota menuntut kesiapan mulai dari administrasi yang tertib, keterampilan yang memadai, dan daya tahan menghadapi kompetisi.

Tanpa itu, kota bukan lagi ruang peluang, justru bisa menjelma menjadi ruang keterasingan yang melahirkan pengangguran, kawasan kumuh, dan lingkaran kemiskinan baru.

Secara konseptual, urbanisasi mencerminkan pertumbuhan kota yang terus membesar. Kawasan yang dahulu bukan kota perlahan berubah menjadi wilayah urban, didorong oleh pertumbuhan penduduk alami dan arus migrasi dari berbagai daerah.

Daya tarik utamanya tetap sama dari geliat ekonomi dan kelengkapan fasilitas publik yang seolah menjadi “gula” bagi para pencari kehidupan.

Rupanya, urbanisasi selalu bermuka dua. Di satu sisi, hadir sebagai motor kemajuan, tanpa arus manusia, kota mungkin tak akan berkembang secepat ini. Pada sisi lain, membawa konsekuensi dan tekanan dari perumahan, akses air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, hingga meningkatnya kawasan kumuh.

Segala ketimpangan pembangunan antara desa dan kota semakin memperkuat dorongan untuk berpindah, menciptakan lingkaran yang terus berulang.

Ironisnya, kota-kota besar tidak selalu siap menampung lonjakan maha dahsyat ini. Pembangunan yang tak seimbang dengan pertumbuhan penduduk, ditambah persaingan yang kian ketat dan kualitas sumber daya manusia yang belum merata, membuat sebagian orang tersisih.

Mereka yang gagal beradaptasi sering kali justru diposisikan sebagai sumber masalah, seolah lupa bahwa datang membawa harapan yang sama agar hidup yang lebih baik.

Urbanisasi adalah fenomena kompleks yang tak bisa dilihat secara hitam-putih. Perpaduan antara harapan dan tantangan, antara mimpi dan realitas, yang diperlukan bukan sekadar membatasi arusnya, melainkan menata keseimbangan agar “gula” pembangunan tidak hanya terpusat di kota, tetapi terasa hingga ke desa, tempat segala mimpi itu bermula. (Kompas, 9 Mei 2020)

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan urbanisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari. Pemerintah kota tidak melarang pendatang, tetapi menekankan pentingnya tertib administrasi kependudukan.

“Urbanisasi tidak pernah dilarang di Kota Bandung. Yang paling penting begitu datang perhatikan adminduk dan mendaftar ke wilayah setempat,”

Ketertiban administrasi menjadi kunci dalam perencanaan pembangunan. Data kependudukan yang akurat dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, dan perumahan.

Tentunya, pemerintah daerah dituntut tidak hanya mencatat arus pendatang, tetapi berusaha mengelolanya secara menyeluruh. Regulasi kependudukan harus berjalan seiring dengan penyediaan infrastruktur dan layanan publik yang merata.

Tanpa langkah itu urbanisasi berpotensi memicu persoalan baru, mulai dari kepadatan berlebih hingga meluasnya kawasan permukiman tidak layak. Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, arus penduduk justru dapat menjadi modal bagi pertumbuhan ekonomi kota. (www.bandung.go.id)

Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Urbanisasi dan Lebaran

Urbanisasi yang terkait erat dengan jumlah penduduk suatu wilayah di Indonesia akan semakin terasa dengan adanya fenomena lebaran dan mudik.

Pasalnya, fenomena yang melibatkan penduduk dalam jumlah besar ini dapat memengaruhi perkembangan kota-kota besar di Indonesia. Perkembangan kota besar di Indonesia seperti Jakarta, tidak bisa terlepas dari hadirnya lebaran.

Alasannya, sebagian sumber penduduk kota itu berawal dari fenomena migrasi penduduk terkait lebaran.

Lebaran adalah nama lain dari hari raya umat Islam, baik hari raya Idulfitri maupun hari raya Iduladha yang dirayakan setiap tahun (setiap bulan Syawal) setelah sebulan umat muslim melaksanakan puasa di bulan Ramadan.

1. Lebaran Idulfitri

Lebaran Idulfitri yang biasa disebut "lebaran" saja dilaksanakan ketika hari raya Idulfitri tiba. Orang-orang Islam umumnya saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangganya, familinya setelah menunaikan Salat Id.

2. Lebaran Iduladha

Lebaran Iduladha biasa disebut "Lebaran Haji", karena memang pada saat-saat itu orang-orang Islam umumnya menunaikan ibadah Haji.

Seusai Salat Id, biasanya diadakan pemotongan hewan qurban, dan daging hasil sembelih itu kemudian dibagikan kepada warga di daerah yang bersangkutan (kepada warga) yang kurang mampu. Di lebaran Idul Adha masyarakat muslim juga menunaikan ibadah Salat Id.

Ketika lebaran tiba, sudah biasa umat muslim melakukan "mudik", pergi menuju kampung halaman untuk berkumpul dengan sanak saudara, khususnya bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Di Indonesia, setiap hari raya Idulfitri selalu terjadi fenomena yang sangat khas yaitu mudik.

Bagi umat Islam, penganut agama paling banyak di Indonesia, bersilaturahmi pada saat hari lebaran (Idulfitri) adalah sesuatu yang wajib. Dimulai dari bersilaturahmi ke orang tua, saudara dan hingga ke tetangga bahkan teman lain wilayah.

Di kota-kota besar, karena rata-rata warganya adalah pendatang, maka setiap hari lebaran untuk dapat bersilaturahmi dengan orang tua, mereka kembali ke tempat kelahiran masing-masing yang sering disebut dengan istilah mudik.

Mudik tidak akan menjadi fenomena di Indonesia apabila hanya melibatkan sekelompok kecil orang. Mudik sudah menjadi tradisi tahunan dan menjadi kejadian mobilitas penduduk yang sangat besar.

Mudik adalah kegiatan perantau (pekerja migran) untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, misalnya menjelang lebaran.

Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya melakukan sowan kepada orang tua. Tradisi mudik hanya ada di Indonesia.

Beban yang paling berat yang dihadapi dalam mudik adalah penyediaan sistem transportasinya karena secara bersamaan jumlah masyarakat menggunakan angkutan umum (kendaraan) melalui jaringan jalan yang ada, sehingga sering mengakibatkan penumpang (pemakai) perjalanan menghadapi kemacetan, penundaan perjalanan. (Dewi CP, 2020: 50-53)

Infografis sisi lain urbanisasi yang terjadi di Jabar (Sumber: Open Data Provinsi Jawa Barat | Foto: Istimewa)
Infografis sisi lain urbanisasi yang terjadi di Jabar (Sumber: Open Data Provinsi Jawa Barat | Foto: Istimewa)

Dampak Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk di Jawa Barat terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2024, angka kepadatan mencapai 1.385 jiwa per kilometer persegi. Untuk di wilayah perkotaan seperti Kota Bandung, jumlah ini melonjak drastis hingga lebih dari 15.000 jiwa/km².

Fenomena ini dipicu oleh tingginya angka urbanisasi dan migrasi ke kota besar untuk mencari peluang kerja dan pendidikan.

Data terbaru menunjukkan bahwa tren kepadatan penduduk di Jawa Barat meningkat sebesar 1,26% dari tahun 2022 ke 2023. Kabupaten Pangandaran tercatat sebagai daerah dengan kepadatan terendah, yaitu hanya 396 jiwa/km².

Wilayah ini bisa menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin tinggal di lingkungan yang lebih tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Meningkatnya jumlah penduduk tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dapat menimbulkan berbagai masalah. Mulai dari keterbatasan pangan, lahan pemukiman, air bersih, hingga penurunan kualitas lingkungan dan pendidikan.

Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, sangat penting menjaga keseimbangan antara kepadatan penduduk dan kualitas hidup masyarakat.

Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bersama-sama menciptakan solusi yang berkelanjutan agar pertumbuhan penduduk tidak menjadi beban, melainkan potensi pembangunan yang lebih baik. (Open Data Provinsi Jawa Barat, 23 Juni 2025).

Sejumlah perantau sedang menjalani pemeriksaan identitas di Posko Pendataan Masyarakat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Sejumlah perantau sedang menjalani pemeriksaan identitas di Posko Pendataan Masyarakat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Menjaga Bandung Utama

Arus balik Idulfitri menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kota Bandung untuk memastikan para pendatang yang masuk melalui Terminal Leuwipanjang dan Terminal Cicaheum tercatat secara resmi dalam administrasi kependudukan (adminduk).

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan tertib adminduk bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting dari penataan kota agar mobilitas warga tetap terpantau dan tertib sesuai aturan hukum.

Mengurus adminduk memberikan berbagai keuntungan nyata bagi para pendatang. Dengan status domisili yang jelas, masyarakat dapat lebih mudah mengakses layanan publik, mengurus perizinan usaha, hingga memperoleh fasilitas keuangan seperti pengajuan kredit.

Kini, prosesnya semakin mudah dan cepat, dapat dilakukan secara daring dalam waktu singkat, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikan kewajiban administratif ini saat menetap di Kota Bandung.

Tentunya, kepatuhan terhadap aturan administrasi dan hukum menjadi kunci agar pendatang dapat beradaptasi secara sehat di lingkungan perkotaan. Pendataan yang akurat memungkinkan pemerintah merancang kebijakan yang tepat sasaran, memastikan hak dan kewajiban warga terpenuhi secara seimbang. Kehadiran pendatang justru bisa menjadi potensi positif bagi pembangunan kota, bukan menjadi beban. (www.bandung.go.id)

Sebaliknya, bila arus urbanisasi tidak diimbangi dengan keahlian dan kepatuhan administrasi, maka ini berisiko menambah beban baru bagi Kota Bandung, dengan meningkatnya angka kemiskinan dan munculnya pemukiman kumuh.

Baca Juga: 10 Kecamatan dengan Arus Pendatang Tertinggi di Kota Bandung

Kesadaran mengurus adminduk, taat aturan, memiliki kesiapan keterampilan menjadi langkah penting agar para pendatang tidak (bernasib) menjadi “buntung”, melainkan mampu berkontribusi secara aktif, produktif dalam kehidupan kota Bandung semakin Utama.

Ingat, urbanisasi pasca-Lebaran menjadi kebiasaan tahunan saat arus balik membawa pendatang baru ke kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar) untuk mencari pekerjaan. Dengan membawa sisi "untung" dari segi tenaga kerja muda, pertumbuhan ekonomi dan "buntung" menjadi beban sosial, pengangguran, permukiman kumuh.

Dengan demikian, urbanisasi hadir atas ketimpangan pembangunan yang belum usai. Selama "gula" hanya ada di kota, "semut" akan terus datang meski harus bertaruh nasib. Justru tantangan besarnya bukan lagi sekadar membatasi pendatang, melainkan bagaimana menciptakan "gula-gula" baru di pedesaan (perkampungan, lembur) agar arus balik tidak selalu menjadi pelarian, melainkan pilihan yang setara dan bermakna. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 17:37

Pilihan 5 Destinasi Wisata Puncak yang Jadi Favorit Wisatawan

Rekomendasi 5 wisata pilihan di Puncak Bogor, dari Kebun Teh Gunung Mas hingga Telaga Warna dan Kebun Raya Cibodas.

Wisata Kebun Teh Gunung Mas di Puncak Bogor. (Sumber: PTPN I Regional 2)
Linimasa 12 Mei 2026, 14:07

Hikayat Asy Syifa, Pondok Pesantren Anak Usia Dini Pertama

Pesantren Asy Syifa di Ciamis menjadi pelopor pondok khusus anak usia SD dengan pendidikan mandiri dan Al Quran.

Pesantren Asy Syifa di Ciamis. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 13:58

Panduan Wisata Keraton Kasepuhan Cirebon: Tiket, Sejarah, dan Spot Wajib Dikunjungi

Panduan lengkap wisata Keraton Kasepuhan Cirebon, mulai sejarah, tiket masuk, daya tarik, hingga tips berkunjung ke situs budaya tertua di kota.

Keraton Kasepuhan Cirebon. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 13:51

Halo-Halo Bandung, Tidak Sekadar Narasi

Lagu Halo-Halo Bandung tidak hanya sekadar lagu yang tersimpan dalam memori sejarah, dari semangat perjuangan itu melahirkan nilai kesadaran masyarakat, dan dengan kesabaran untuk merawat Bandung.

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 12 Mei 2026, 12:27

Dari Rak “Buku Seks” sampai Arab-Israel yang Sengaja Dipertemukan, Mengintip Sisi Eksentrik Batu Api

Warung Batu Api di Jatinangor menyimpan cara unik Anton Solihin menyusun buku, dari rak “buku seks” hingga koleksi Arab-Israel yang sengaja dipajang saling berhadapan.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 10:02

Pernikahan di Era Gen Z: Ibadah, Tekanan Sosial, atau Pelarian?

Di balik romantisasi cinta Gen Z, ada pergaulan bebas, tekanan mental, dan tingginya perceraian muda.

Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)
Beranda 12 Mei 2026, 09:45

Bersama T. Bachtiar, Ayobandung.id dan Himse Unpad Bahas Bandung dari Nama hingga Jejak Bencana

Ayobandung.id dan Himse Unpad menghadirkan T. Bachtiar dalam seminar interaktif yang membahas Bandung dari nama wilayah, tanah, bencana, hingga ingatan kolektif masyarakat.

Seminar interaktif “Nama yang Bercerita” bersama T. Bachtiar akan membahas cara membaca Bandung Raya melalui tanah, bencana, dan ingatan kolektif di Aula PSBJ FIB Unpad Jatinangor, 13 Mei 2026.
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 08:51

Apakah Benar Gaji Dosen Rendah karena Kompetensinya?

Rendahnya gaji dosen tidak hanya soal kompetensi, tetapi juga dipengaruhi minimnya dana riset, beban birokrasi kampus, dan sistem pendidikan yang belum ideal.

Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 20:03

Spirit Sportivitas Bola

Di balik kemegahan dan gemerlap setiap pertandingan sepakbola tersimpan sisi gelap yang mengusik para penggila sepak bola.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 19:09

Kelulusan, Selebrasi, dan Bersyukur

Hakikat kelulusan bukan terletak pada seberapa besar buket yang dibawa, panjangnya konvoi ucapan selamat, ramainya unggahan di media sosial.

Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 11 Mei 2026, 16:25

Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

Warga Cibadak di Astana Anyar telah lama hidup berdampingan lintas agama lewat kebiasaan saling membantu, menjaga lingkungan, dan menghormati perbedaan.

Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 11 Mei 2026, 14:31

Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di Kampung Kreatif Batik Difabel.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 13:53

Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

Polarisasi pendapat antara melanjutkan kuliah dan langsung membuka usaha. Melanjutkan kuliah lebih berpeluang diserap dunia kerja dan langsung membuka usaha bisa mempercepat peluang sukses.

Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)
Wisata & Kuliner 11 Mei 2026, 13:48

Jelajah Palabuhanratu Sukabumi, Kota Pelabuhan Internasional yang Berubah jadi Tujuan Wisata Penuh Legenda

Palabuhanratu menyimpan sejarah pelabuhan kolonial, pantai sepanjang 105 km, serta mitos Nyi Roro Kidul yang masih dipercaya.

Pantai Karang Sari, Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 11:05

Freddie Mercury, AIDS, dan Luka Stigma yang Belum Usai

Malam Renungan AIDS Nusantara bukan sekadar seremoni mengenang korban HIV/AIDS.

Halaman muka surat kabar terbitan Inggris yang memberitakan kepergian Freddie Mercury. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Mei 2026, 10:17

Toleransi di Cibadak Tidak Ramai Dibicarakan, Tapi Dijalani Setiap Hari

Warga Kampung Toleransi Cibadak di Astana Anyar hidup berdampingan di tengah perbedaan agama dan etnis lewat kebiasaan saling membantu dan menjaga kebersamaan.

Simbol berbagai agama berdiri berdampingan di Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 09:27

Modern untuk Kota, Melelahkan untuk Manusia

Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani.

Bandung sibuk membangun kota, tetapi belum tentu membangun kenyamanan warganya. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 08:54

Kafe untuk Perantau yang Tak Mau Pulang

Cerita pendek tentang kafe di kota besar yang dikhususnya bagi perantau yang tidak mau pulang.

Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 18:08

Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

Tantangan first mile dan last mile memengaruhi total waktu perjalanan pengguna Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh), sehingga integrasi transportasi menjadi penting.

Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)