Untung, (Buntung) Urbanisasi, dan Arus Balik Lebaran

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Kamis 26 Mar 2026, 14:56 WIB
Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sungai Cikapundung mengalir di sela pemukiman padat kawasan Tamansari, Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Saat momen Lebaran selalu menghadirkan ruang silaturahmi (perjumpaan) yang hangat dan akrab.

Di antara canda tawa dan hidangan khas, kerap terselip obrolan ringan soal mimpi merantau, tentang keinginan bekerja di kota, dan harapan (mengubah) hidup yang terasa lebih menjanjikan di Puser Dayeuh Kota.

Deretan kisah keberhasilan para perantau yang pulang kampung menjadi semacam magnet sosial. Ibarat pepatah, ada gula, ada semut.

Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kawasan pemukiman padat di Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, Kota Bandung, Sabtu 15 Februari 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Ada Gula dan Semut

Ketika kehidupan di desa terasa kian pahit dan di kota menjanjikan manisnya peluang, maka arus perpindahan (urbanisasi) tak terelakkan.

Betapa tidak, kota-kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar) menjadi tujuan utama. Seolah-olah menjadi ladang harapan bagi mereka yang ingin mengubah (mengadu) nasib.

Memang urbanisasi hadir sebagai keniscayaan zaman. Bukan sekadar perpindahan fisik dari desa ke kota, melainkan cermin dari hak asasi manusia untuk mencari kehidupan yang lebih baik dan layak.

Tak ada yang bisa melarangnya, sebab di dalamnya terkandung harapan, keberanian, kebutuhan untuk bertahan hidup.

Namun, harapan itu tidak selalu berbanding lurus dengan kenyataan. Perpindahan ke kota menuntut kesiapan mulai dari administrasi yang tertib, keterampilan yang memadai, dan daya tahan menghadapi kompetisi.

Tanpa itu, kota bukan lagi ruang peluang, justru bisa menjelma menjadi ruang keterasingan yang melahirkan pengangguran, kawasan kumuh, dan lingkaran kemiskinan baru.

Secara konseptual, urbanisasi mencerminkan pertumbuhan kota yang terus membesar. Kawasan yang dahulu bukan kota perlahan berubah menjadi wilayah urban, didorong oleh pertumbuhan penduduk alami dan arus migrasi dari berbagai daerah.

Daya tarik utamanya tetap sama dari geliat ekonomi dan kelengkapan fasilitas publik yang seolah menjadi “gula” bagi para pencari kehidupan.

Rupanya, urbanisasi selalu bermuka dua. Di satu sisi, hadir sebagai motor kemajuan, tanpa arus manusia, kota mungkin tak akan berkembang secepat ini. Pada sisi lain, membawa konsekuensi dan tekanan dari perumahan, akses air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, hingga meningkatnya kawasan kumuh.

Segala ketimpangan pembangunan antara desa dan kota semakin memperkuat dorongan untuk berpindah, menciptakan lingkaran yang terus berulang.

Ironisnya, kota-kota besar tidak selalu siap menampung lonjakan maha dahsyat ini. Pembangunan yang tak seimbang dengan pertumbuhan penduduk, ditambah persaingan yang kian ketat dan kualitas sumber daya manusia yang belum merata, membuat sebagian orang tersisih.

Mereka yang gagal beradaptasi sering kali justru diposisikan sebagai sumber masalah, seolah lupa bahwa datang membawa harapan yang sama agar hidup yang lebih baik.

Urbanisasi adalah fenomena kompleks yang tak bisa dilihat secara hitam-putih. Perpaduan antara harapan dan tantangan, antara mimpi dan realitas, yang diperlukan bukan sekadar membatasi arusnya, melainkan menata keseimbangan agar “gula” pembangunan tidak hanya terpusat di kota, tetapi terasa hingga ke desa, tempat segala mimpi itu bermula. (Kompas, 9 Mei 2020)

Wali Kota Bandung Muhammad Farhan menegaskan urbanisasi merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari. Pemerintah kota tidak melarang pendatang, tetapi menekankan pentingnya tertib administrasi kependudukan.

“Urbanisasi tidak pernah dilarang di Kota Bandung. Yang paling penting begitu datang perhatikan adminduk dan mendaftar ke wilayah setempat,”

Ketertiban administrasi menjadi kunci dalam perencanaan pembangunan. Data kependudukan yang akurat dibutuhkan untuk menentukan kebutuhan layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, transportasi, dan perumahan.

Tentunya, pemerintah daerah dituntut tidak hanya mencatat arus pendatang, tetapi berusaha mengelolanya secara menyeluruh. Regulasi kependudukan harus berjalan seiring dengan penyediaan infrastruktur dan layanan publik yang merata.

Tanpa langkah itu urbanisasi berpotensi memicu persoalan baru, mulai dari kepadatan berlebih hingga meluasnya kawasan permukiman tidak layak. Sebaliknya, jika dikelola dengan baik, arus penduduk justru dapat menjadi modal bagi pertumbuhan ekonomi kota. (www.bandung.go.id)

Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Urbanisasi dan Lebaran

Urbanisasi yang terkait erat dengan jumlah penduduk suatu wilayah di Indonesia akan semakin terasa dengan adanya fenomena lebaran dan mudik.

Pasalnya, fenomena yang melibatkan penduduk dalam jumlah besar ini dapat memengaruhi perkembangan kota-kota besar di Indonesia. Perkembangan kota besar di Indonesia seperti Jakarta, tidak bisa terlepas dari hadirnya lebaran.

Alasannya, sebagian sumber penduduk kota itu berawal dari fenomena migrasi penduduk terkait lebaran.

Lebaran adalah nama lain dari hari raya umat Islam, baik hari raya Idulfitri maupun hari raya Iduladha yang dirayakan setiap tahun (setiap bulan Syawal) setelah sebulan umat muslim melaksanakan puasa di bulan Ramadan.

1. Lebaran Idulfitri

Lebaran Idulfitri yang biasa disebut "lebaran" saja dilaksanakan ketika hari raya Idulfitri tiba. Orang-orang Islam umumnya saling bersalam-salaman dan bermaaf-maafan dengan tetangganya, familinya setelah menunaikan Salat Id.

2. Lebaran Iduladha

Lebaran Iduladha biasa disebut "Lebaran Haji", karena memang pada saat-saat itu orang-orang Islam umumnya menunaikan ibadah Haji.

Seusai Salat Id, biasanya diadakan pemotongan hewan qurban, dan daging hasil sembelih itu kemudian dibagikan kepada warga di daerah yang bersangkutan (kepada warga) yang kurang mampu. Di lebaran Idul Adha masyarakat muslim juga menunaikan ibadah Salat Id.

Ketika lebaran tiba, sudah biasa umat muslim melakukan "mudik", pergi menuju kampung halaman untuk berkumpul dengan sanak saudara, khususnya bagi yang tinggal di kota besar seperti Jakarta. Di Indonesia, setiap hari raya Idulfitri selalu terjadi fenomena yang sangat khas yaitu mudik.

Bagi umat Islam, penganut agama paling banyak di Indonesia, bersilaturahmi pada saat hari lebaran (Idulfitri) adalah sesuatu yang wajib. Dimulai dari bersilaturahmi ke orang tua, saudara dan hingga ke tetangga bahkan teman lain wilayah.

Di kota-kota besar, karena rata-rata warganya adalah pendatang, maka setiap hari lebaran untuk dapat bersilaturahmi dengan orang tua, mereka kembali ke tempat kelahiran masing-masing yang sering disebut dengan istilah mudik.

Mudik tidak akan menjadi fenomena di Indonesia apabila hanya melibatkan sekelompok kecil orang. Mudik sudah menjadi tradisi tahunan dan menjadi kejadian mobilitas penduduk yang sangat besar.

Mudik adalah kegiatan perantau (pekerja migran) untuk kembali ke kampung halamannya. Mudik di Indonesia identik dengan tradisi tahunan yang terjadi menjelang hari raya besar keagamaan, misalnya menjelang lebaran.

Pada saat itulah ada kesempatan untuk berkumpul dengan sanak saudara yang tersebar di perantauan, selain tentunya melakukan sowan kepada orang tua. Tradisi mudik hanya ada di Indonesia.

Beban yang paling berat yang dihadapi dalam mudik adalah penyediaan sistem transportasinya karena secara bersamaan jumlah masyarakat menggunakan angkutan umum (kendaraan) melalui jaringan jalan yang ada, sehingga sering mengakibatkan penumpang (pemakai) perjalanan menghadapi kemacetan, penundaan perjalanan. (Dewi CP, 2020: 50-53)

Infografis sisi lain urbanisasi yang terjadi di Jabar (Sumber: Open Data Provinsi Jawa Barat | Foto: Istimewa)
Infografis sisi lain urbanisasi yang terjadi di Jabar (Sumber: Open Data Provinsi Jawa Barat | Foto: Istimewa)

Dampak Kepadatan Penduduk

Kepadatan penduduk di Jawa Barat terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Pada tahun 2024, angka kepadatan mencapai 1.385 jiwa per kilometer persegi. Untuk di wilayah perkotaan seperti Kota Bandung, jumlah ini melonjak drastis hingga lebih dari 15.000 jiwa/km².

Fenomena ini dipicu oleh tingginya angka urbanisasi dan migrasi ke kota besar untuk mencari peluang kerja dan pendidikan.

Data terbaru menunjukkan bahwa tren kepadatan penduduk di Jawa Barat meningkat sebesar 1,26% dari tahun 2022 ke 2023. Kabupaten Pangandaran tercatat sebagai daerah dengan kepadatan terendah, yaitu hanya 396 jiwa/km².

Wilayah ini bisa menjadi pilihan menarik bagi mereka yang ingin tinggal di lingkungan yang lebih tenang dan jauh dari hiruk-pikuk kota besar.

Meningkatnya jumlah penduduk tanpa diimbangi dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) dapat menimbulkan berbagai masalah. Mulai dari keterbatasan pangan, lahan pemukiman, air bersih, hingga penurunan kualitas lingkungan dan pendidikan.

Untuk mencapai pembangunan berkelanjutan, sangat penting menjaga keseimbangan antara kepadatan penduduk dan kualitas hidup masyarakat.

Pemerintah daerah dan masyarakat perlu bersama-sama menciptakan solusi yang berkelanjutan agar pertumbuhan penduduk tidak menjadi beban, melainkan potensi pembangunan yang lebih baik. (Open Data Provinsi Jawa Barat, 23 Juni 2025).

Sejumlah perantau sedang menjalani pemeriksaan identitas di Posko Pendataan Masyarakat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Sejumlah perantau sedang menjalani pemeriksaan identitas di Posko Pendataan Masyarakat di Terminal Cicaheum, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)

Menjaga Bandung Utama

Arus balik Idulfitri menjadi momentum penting bagi Pemerintah Kota Bandung untuk memastikan para pendatang yang masuk melalui Terminal Leuwipanjang dan Terminal Cicaheum tercatat secara resmi dalam administrasi kependudukan (adminduk).

Wali Kota Bandung, Muhammad Farhan, menegaskan tertib adminduk bukan sekadar formalitas, melainkan bagian penting dari penataan kota agar mobilitas warga tetap terpantau dan tertib sesuai aturan hukum.

Mengurus adminduk memberikan berbagai keuntungan nyata bagi para pendatang. Dengan status domisili yang jelas, masyarakat dapat lebih mudah mengakses layanan publik, mengurus perizinan usaha, hingga memperoleh fasilitas keuangan seperti pengajuan kredit.

Kini, prosesnya semakin mudah dan cepat, dapat dilakukan secara daring dalam waktu singkat, sehingga tidak ada alasan untuk mengabaikan kewajiban administratif ini saat menetap di Kota Bandung.

Tentunya, kepatuhan terhadap aturan administrasi dan hukum menjadi kunci agar pendatang dapat beradaptasi secara sehat di lingkungan perkotaan. Pendataan yang akurat memungkinkan pemerintah merancang kebijakan yang tepat sasaran, memastikan hak dan kewajiban warga terpenuhi secara seimbang. Kehadiran pendatang justru bisa menjadi potensi positif bagi pembangunan kota, bukan menjadi beban. (www.bandung.go.id)

Sebaliknya, bila arus urbanisasi tidak diimbangi dengan keahlian dan kepatuhan administrasi, maka ini berisiko menambah beban baru bagi Kota Bandung, dengan meningkatnya angka kemiskinan dan munculnya pemukiman kumuh.

Baca Juga: 10 Kecamatan dengan Arus Pendatang Tertinggi di Kota Bandung

Kesadaran mengurus adminduk, taat aturan, memiliki kesiapan keterampilan menjadi langkah penting agar para pendatang tidak (bernasib) menjadi “buntung”, melainkan mampu berkontribusi secara aktif, produktif dalam kehidupan kota Bandung semakin Utama.

Ingat, urbanisasi pasca-Lebaran menjadi kebiasaan tahunan saat arus balik membawa pendatang baru ke kota besar (Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan, Makassar) untuk mencari pekerjaan. Dengan membawa sisi "untung" dari segi tenaga kerja muda, pertumbuhan ekonomi dan "buntung" menjadi beban sosial, pengangguran, permukiman kumuh.

Dengan demikian, urbanisasi hadir atas ketimpangan pembangunan yang belum usai. Selama "gula" hanya ada di kota, "semut" akan terus datang meski harus bertaruh nasib. Justru tantangan besarnya bukan lagi sekadar membatasi pendatang, melainkan bagaimana menciptakan "gula-gula" baru di pedesaan (perkampungan, lembur) agar arus balik tidak selalu menjadi pelarian, melainkan pilihan yang setara dan bermakna. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)