Akar Sejarah Halalbihalal: Transformasi Tradisi dari Era Walisongo ke Budaya Nasional Indonesia

Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan Kamis 26 Mar 2026, 09:47 WIB
Sebuah potret yang menunjukkan tradisi makan bersama dalam acara halalbihalal tahun 1926. (Sumber foto: Delpher)

Sebuah potret yang menunjukkan tradisi makan bersama dalam acara halalbihalal tahun 1926. (Sumber foto: Delpher)

Usai gempita perayaan Idulfitri, tradisi halalbihalal hadir menyemarakkan bulan Syawal sebagai ciri khas masyarakat Muslim Indonesia. Biasanya, rangkaian acara ini dimulai segera setelah Lebaran hingga penghujung bulan.

Berbeda dengan momen hari pertama Idulfitri yang fokus pada sungkeman bersama keluarga inti dan tetangga, halalbihalal cenderung dilaksanakan dalam skala yang lebih spesifik. Momen ini menjadi wadah silaturahmi bagi ikatan primordial seperti komunitas suku, instansi pemerintah, perusahaan swasta, hingga reuni alumni dan keluarga besar.

Makna dan Potret Tradisi Halal Bihalal

Secara harfiah, halalbihalal berarti “halal dengan halal” atau “saling menghalalkan”. Dalam praktiknya, tradisi ini menjadi momen berkumpulnya sekelompok umat Muslim untuk bersalaman sebagai simbol saling meminta dan memberi maaf, dengan harapan segala kekhilafan dan kesalahan (yang haram) menjadi gugur (halal).

Sebagaimana tradisi kupatan, halalbihalal merupakan fenomena budaya partikular di Indonesia yang tidak dijumpai di belahan dunia lain. Meskipun secara etimologis akarnya berasal dari bahasa Arab, secara terminologis istilah ini tidak ditemukan dalam budaya kebahasaan masyarakat Arab itu sendiri.

Walaupun menggunakan istilah Arab dan telah melembaga di Indonesia, tradisi ini tidak ditemukan pada zaman Nabi Saw. maupun generasi sesudahnya. Hingga akhir abad ke-20 pun, praktiknya tetap tidak dijumpai di negara-negara Islam selain Indonesia (Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994).

Halalbihalal sejatinya adalah produk proses budaya masyarakat Muslim Indonesia yang diwarnai semangat legalistik dan berorientasi fikih (fiqh-oriented), yang menjadi ciri khas keberagamaan masyarakat tradisional, khususnya di Jawa.

Oleh karena itu, istilah dan tradisi ini tidak hanya asing bagi masyarakat Arab, tetapi juga tidak ditemukan di kalangan masyarakat Muslim lain, termasuk rumpun Melayu seperti Malaysia dan Brunei (Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid 1, Penerbit Djambatan, 1992).

Pada realitanya, meskipun terkadang terjebak dalam aspek seremonial dan formalitas, halalbihalal menawarkan solusi praktis untuk bersilaturahmi. Alih-alih mengunjungi banyak rumah yang memakan waktu lama, seseorang dapat menjalin silaturahmi dengan banyak orang sekaligus di satu waktu dan tempat melalui acara ini.

KH Wahab Chasbullah dan Sejarah Populer Tradisi Halalbihalal

Sejak kapan tradisi halalbihalal memasyarakat di Indonesia? Ensiklopedi Islam Indonesia mencatat bahwa secara historis, halalbihalal sebagai bagian dari seremoni Idulfitri menemukan bentuk khasnya setelah masa kemerdekaan. Sebagai tradisi baru dalam sistem keagamaan, ia tumbuh subur di Jawa sebelum akhirnya menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Kehadiran tradisi ini tidak lepas dari kondisi sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang mendukung pada masanya. Dalam konteks ini, sosok KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan tokoh sentral yang disebut-sebut ‘berjasa’ memopulerkan sekaligus memasyarakatkan istilah tersebut.

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa KH Wahab Chasbullah—salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU)—memperkenalkan istilah "halalbihalal" kepada Presiden Sukarno. Saat itu, situasi politik Indonesia sedang diliputi konflik antarpemimpin bangsa. Kiai Wahab mengusulkan sebuah bentuk silaturahmi untuk mencairkan suasana.

Atas saran beliau, pada Idulfitri tahun 1948, Bung Karno mengundang seluruh tokoh politik ke Istana Negara untuk menghadiri pertemuan bertajuk "Halalbihalal". Forum tersebut berhasil mempertemukan para pemimpin yang berselisih untuk kembali menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak momentum bersejarah di Istana Negara itu, berbagai instansi pemerintah mulai rutin menyelenggarakan halalbihalal. Tradisi ini kemudian diikuti oleh masyarakat luas, khususnya umat Muslim di Jawa, dan terus lestari hingga saat ini sebagai warisan budaya nasional.

Jejak Istilah Halalbihalal di Masa Kolonial

Meskipun tradisi halalbihalal baru populer secara masif setelah kemerdekaan Indonesia, istilah ini sebenarnya telah diperkenalkan sejak tahun 1920-an.

Istilah halalbihalal telah termaktub dalam Javaans-Nederlands Woordenboek karya Dr. Theodoor Gautier Thomas Pigeaud yang terbit tahun 1938. Dalam kamus yang disusun sejak 1926 atas instruksi Gubernur Jenderal Hindia Belanda tersebut, terdapat entri kata alal behalal dan halal behalal.

Pigeaud mendefinisikan alal behalal sebagai ucapan salam (saat datang atau pergi) untuk memohon maaf atas kesalahan kepada orang yang lebih tua atau orang lain setelah masa puasa (Lebaran atau Tahun Baru Jawa). Sementara itu, halal behalal diartikan sebagai salam untuk saling memaafkan pada momen Lebaran.

Sebuah potret yang menunjukkan tradisi makan bersama dalam acara halalbihalal tahun 1926. (Sumber: (Foto: Delpher))
Sebuah potret yang menunjukkan tradisi makan bersama dalam acara halalbihalal tahun 1926. (Sumber: (Foto: Delpher))

Dalam Baoesastra Djawa susunan W.J.S. Poerwadarmina (1939) juga memuat entri alal behalal yang dimaknai sebagai “ngabekti marang wong-wong toewa (dedoewoeran) perloe ndjaloek pangapoera (ing mangsa Lebaran)”.

Majalah Suara Muhammadiyah juga menjadi saksi sejarah penggunaan istilah ini. Pada edisi menjelang 1 Syawal 1344 (tahun 1926), majalah tersebut telah memuat kata alal bahalal. Bahkan, pada edisi No. 5 tahun 1924 yang terbit sekitar bulan April, sebuah artikel sudah mencantumkan variasi kata chalal bi chalal.

Sejumlah referensi menyebutkan bahwa akar tradisi halalbihalal berasal dari ritual pisowanan yang dilakukan di Praja Mangkunegaran, Surakarta, pada abad ke-18.

Kala itu, Raden Mas Said (KGPAA Mangkunegara I) mengumpulkan para punggawa dan prajurit di balai astaka untuk melakukan sungkeman kepada raja dan permaisuri seusai perayaan Idulfitri. Tradisi pisowanan secara kolektif ini dianggap lebih efektif dan efisien dari segi waktu, tenaga, maupun biaya dibandingkan kunjungan individu.

Dari praktik inilah istilah halalbihalal mulai dikenal dan kemudian diadaptasi oleh berbagai organisasi Islam di Indonesia.

Halalbihalal: Warisan Gagasan Kanjeng Sunan Ampel

Meskipun tradisi halalbihalal baru populer secara nasional pascakemerdekaan dan sempat dijalankan oleh KGPAA Mangkunegara I pada abad ke-18, dokumen historis menunjukkan bahwa akar tradisi ini sudah diperkenalkan sejak era Walisongo.

Dalam buku Mazhab Dakwah Washatiyah Sunan Ampel (2021), disebutkan bahwa Kanjeng Sunan Ampel merupakan sosok penggagas awal tradisi halalbihalal. Narasi ini didukung oleh dua naskah kuno, yaitu:

Pertama; Naskah Primer Babad Cerbon: Menceritakan tradisi yang dijalankan oleh murid dan menantu Sunan Ampel.

Kedua; Naskah Sajarah Jawa: Menyebutkan tradisi dari murid beliau, yakni Sunan Gunung Jati.

Naskah Babad Cerbon mengisahkan suasana di Jepara sebagai berikut:

"Wong Japara sami hormat sadaya umek Desa Japara kasuled polah ing masjid kaum sami ajawa tangan sami anglampah halal bahalal sami rawuh amarek dateng Pangeran Karang Kemuning."

Terjemahannya: "Orang-orang Jepara bersama-sama memberi hormat hingga warga satu desa memenuhi Masjid Jepara. Mereka saling berjabat tangan dan berhalalbihalal sembari berkunjung kepada Pangeran Karang Kemuning."

Pangeran Karang Kemuning (Sunan Atas Angin) adalah menantu Sunan Ampel yang menikah dengan Nyai Gede Panyuran. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Ampel, Surabaya.

Sementara itu, naskah Sajarah Jawa mengisahkan pertemuan antara Sunan Gunung Jati dengan gurunya, Syekh Nurjati (Syekh Ahlul Iman):

“Semana alabuh pateng Ki Samsu ngeli samodra, nutobak paran paranai ing Carebon kawarnaha, Sunan Makedum sira, mring Seh Alul Iman guru wus dangu genpatekan. Seh Alul Iman minta sing[g]ah aneda halal bahalal, anak mas Cirebon mongke ing Kali Sampu [Kali Sampu di Cirebon] halalna.”

Terjemahannya: "Kala berlabuh dari atas perahu bersama Ki Samsu [pemilik perahu yang mengantarkan Kanjeng Sunan Gunung Jati], mengarungi laut, ombaknya landai, tidak keras, menuju Cirebon. Diceritakan Syekh Ahlul Iman atau Syekh Nurjati Cirebon sang guru yang sudah lama dinantikan ingin bertemu dan bertanya kepadanya. Syekh Ahlul Iman meminta Kanjeng Sunan Gunung Jati singgah di tempatnya, untuk berhalal bihalal dengannya. Maka sang guru pun berujar: ‘Wahai, putra Mas Cirebon yang berdiam di kali Sapu [basis pesantren awal Sunan Gunung Jati], aku halalkan kamu.’"

Baca Juga: Jejak Pendatang Asli Garut di Kota Bandung yang Bertahan Tiga Generasi

Penuturan dalam kedua naskah tersebut membuktikan bahwa halalbihalal merupakan hasil ijtihad Kanjeng Sunan Ampel. Praktik ini diperkenalkan dengan tujuan khusus, yakni sebagai sarana saling memaafkan pada momentum Lebaran atau sesudahnya.

Halalbihalal sengaja dilakukan secara kolektif karena dosa-dosa sosial manusia perlu dilebur bersama, demi terciptanya kembali suasana hidup yang rukun, harmonis, dan guyub. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 17:37

Pilihan 5 Destinasi Wisata Puncak yang Jadi Favorit Wisatawan

Rekomendasi 5 wisata pilihan di Puncak Bogor, dari Kebun Teh Gunung Mas hingga Telaga Warna dan Kebun Raya Cibodas.

Wisata Kebun Teh Gunung Mas di Puncak Bogor. (Sumber: PTPN I Regional 2)
Linimasa 12 Mei 2026, 14:07

Hikayat Asy Syifa, Pondok Pesantren Anak Usia Dini Pertama

Pesantren Asy Syifa di Ciamis menjadi pelopor pondok khusus anak usia SD dengan pendidikan mandiri dan Al Quran.

Pesantren Asy Syifa di Ciamis. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 13:58

Panduan Wisata Keraton Kasepuhan Cirebon: Tiket, Sejarah, dan Spot Wajib Dikunjungi

Panduan lengkap wisata Keraton Kasepuhan Cirebon, mulai sejarah, tiket masuk, daya tarik, hingga tips berkunjung ke situs budaya tertua di kota.

Keraton Kasepuhan Cirebon. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 13:51

Halo-Halo Bandung, Tidak Sekadar Narasi

Lagu Halo-Halo Bandung tidak hanya sekadar lagu yang tersimpan dalam memori sejarah, dari semangat perjuangan itu melahirkan nilai kesadaran masyarakat, dan dengan kesabaran untuk merawat Bandung.

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 12 Mei 2026, 12:27

Dari Rak “Buku Seks” sampai Arab-Israel yang Sengaja Dipertemukan, Mengintip Sisi Eksentrik Batu Api

Warung Batu Api di Jatinangor menyimpan cara unik Anton Solihin menyusun buku, dari rak “buku seks” hingga koleksi Arab-Israel yang sengaja dipajang saling berhadapan.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 10:02

Pernikahan di Era Gen Z: Ibadah, Tekanan Sosial, atau Pelarian?

Di balik romantisasi cinta Gen Z, ada pergaulan bebas, tekanan mental, dan tingginya perceraian muda.

Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)
Beranda 12 Mei 2026, 09:45

Bersama T. Bachtiar, Ayobandung.id dan Himse Unpad Bahas Bandung dari Nama hingga Jejak Bencana

Ayobandung.id dan Himse Unpad menghadirkan T. Bachtiar dalam seminar interaktif yang membahas Bandung dari nama wilayah, tanah, bencana, hingga ingatan kolektif masyarakat.

Seminar interaktif “Nama yang Bercerita” bersama T. Bachtiar akan membahas cara membaca Bandung Raya melalui tanah, bencana, dan ingatan kolektif di Aula PSBJ FIB Unpad Jatinangor, 13 Mei 2026.
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 08:51

Apakah Benar Gaji Dosen Rendah karena Kompetensinya?

Rendahnya gaji dosen tidak hanya soal kompetensi, tetapi juga dipengaruhi minimnya dana riset, beban birokrasi kampus, dan sistem pendidikan yang belum ideal.

Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 20:03

Spirit Sportivitas Bola

Di balik kemegahan dan gemerlap setiap pertandingan sepakbola tersimpan sisi gelap yang mengusik para penggila sepak bola.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 19:09

Kelulusan, Selebrasi, dan Bersyukur

Hakikat kelulusan bukan terletak pada seberapa besar buket yang dibawa, panjangnya konvoi ucapan selamat, ramainya unggahan di media sosial.

Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 11 Mei 2026, 16:25

Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

Warga Cibadak di Astana Anyar telah lama hidup berdampingan lintas agama lewat kebiasaan saling membantu, menjaga lingkungan, dan menghormati perbedaan.

Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 11 Mei 2026, 14:31

Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di Kampung Kreatif Batik Difabel.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 13:53

Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

Polarisasi pendapat antara melanjutkan kuliah dan langsung membuka usaha. Melanjutkan kuliah lebih berpeluang diserap dunia kerja dan langsung membuka usaha bisa mempercepat peluang sukses.

Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)
Wisata & Kuliner 11 Mei 2026, 13:48

Jelajah Palabuhanratu Sukabumi, Kota Pelabuhan Internasional yang Berubah jadi Tujuan Wisata Penuh Legenda

Palabuhanratu menyimpan sejarah pelabuhan kolonial, pantai sepanjang 105 km, serta mitos Nyi Roro Kidul yang masih dipercaya.

Pantai Karang Sari, Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 11:05

Freddie Mercury, AIDS, dan Luka Stigma yang Belum Usai

Malam Renungan AIDS Nusantara bukan sekadar seremoni mengenang korban HIV/AIDS.

Halaman muka surat kabar terbitan Inggris yang memberitakan kepergian Freddie Mercury. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Mei 2026, 10:17

Toleransi di Cibadak Tidak Ramai Dibicarakan, Tapi Dijalani Setiap Hari

Warga Kampung Toleransi Cibadak di Astana Anyar hidup berdampingan di tengah perbedaan agama dan etnis lewat kebiasaan saling membantu dan menjaga kebersamaan.

Simbol berbagai agama berdiri berdampingan di Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 09:27

Modern untuk Kota, Melelahkan untuk Manusia

Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani.

Bandung sibuk membangun kota, tetapi belum tentu membangun kenyamanan warganya. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 08:54

Kafe untuk Perantau yang Tak Mau Pulang

Cerita pendek tentang kafe di kota besar yang dikhususnya bagi perantau yang tidak mau pulang.

Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 18:08

Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

Tantangan first mile dan last mile memengaruhi total waktu perjalanan pengguna Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh), sehingga integrasi transportasi menjadi penting.

Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)