Akar Sejarah Halalbihalal: Transformasi Tradisi dari Era Walisongo ke Budaya Nasional Indonesia

6 menit baca
Badiatul Muchlisin Asti
Ditulis oleh Badiatul Muchlisin Asti diterbitkan
Sebuah potret yang menunjukkan tradisi makan bersama dalam acara halalbihalal tahun 1926. (Sumber foto: Delpher)
Sebuah potret yang menunjukkan tradisi makan bersama dalam acara halalbihalal tahun 1926. (Sumber foto: Delpher)

Usai gempita perayaan Idulfitri, tradisi halalbihalal hadir menyemarakkan bulan Syawal sebagai ciri khas masyarakat Muslim Indonesia. Biasanya, rangkaian acara ini dimulai segera setelah Lebaran hingga penghujung bulan.

Berbeda dengan momen hari pertama Idulfitri yang fokus pada sungkeman bersama keluarga inti dan tetangga, halalbihalal cenderung dilaksanakan dalam skala yang lebih spesifik. Momen ini menjadi wadah silaturahmi bagi ikatan primordial seperti komunitas suku, instansi pemerintah, perusahaan swasta, hingga reuni alumni dan keluarga besar.

Makna dan Potret Tradisi Halal Bihalal

Secara harfiah, halalbihalal berarti “halal dengan halal” atau “saling menghalalkan”. Dalam praktiknya, tradisi ini menjadi momen berkumpulnya sekelompok umat Muslim untuk bersalaman sebagai simbol saling meminta dan memberi maaf, dengan harapan segala kekhilafan dan kesalahan (yang haram) menjadi gugur (halal).

Sebagaimana tradisi kupatan, halalbihalal merupakan fenomena budaya partikular di Indonesia yang tidak dijumpai di belahan dunia lain. Meskipun secara etimologis akarnya berasal dari bahasa Arab, secara terminologis istilah ini tidak ditemukan dalam budaya kebahasaan masyarakat Arab itu sendiri.

Walaupun menggunakan istilah Arab dan telah melembaga di Indonesia, tradisi ini tidak ditemukan pada zaman Nabi Saw. maupun generasi sesudahnya. Hingga akhir abad ke-20 pun, praktiknya tetap tidak dijumpai di negara-negara Islam selain Indonesia (Ensiklopedi Islam, PT Ichtiar Baru Van Hoeve, 1994).

Halalbihalal sejatinya adalah produk proses budaya masyarakat Muslim Indonesia yang diwarnai semangat legalistik dan berorientasi fikih (fiqh-oriented), yang menjadi ciri khas keberagamaan masyarakat tradisional, khususnya di Jawa.

Oleh karena itu, istilah dan tradisi ini tidak hanya asing bagi masyarakat Arab, tetapi juga tidak ditemukan di kalangan masyarakat Muslim lain, termasuk rumpun Melayu seperti Malaysia dan Brunei (Ensiklopedi Islam Indonesia Jilid 1, Penerbit Djambatan, 1992).

Pada realitanya, meskipun terkadang terjebak dalam aspek seremonial dan formalitas, halalbihalal menawarkan solusi praktis untuk bersilaturahmi. Alih-alih mengunjungi banyak rumah yang memakan waktu lama, seseorang dapat menjalin silaturahmi dengan banyak orang sekaligus di satu waktu dan tempat melalui acara ini.

KH Wahab Chasbullah dan Sejarah Populer Tradisi Halalbihalal

Sejak kapan tradisi halalbihalal memasyarakat di Indonesia? Ensiklopedi Islam Indonesia mencatat bahwa secara historis, halalbihalal sebagai bagian dari seremoni Idulfitri menemukan bentuk khasnya setelah masa kemerdekaan. Sebagai tradisi baru dalam sistem keagamaan, ia tumbuh subur di Jawa sebelum akhirnya menyebar ke seluruh pelosok Nusantara.

Kehadiran tradisi ini tidak lepas dari kondisi sosial, budaya, politik, dan ekonomi yang mendukung pada masanya. Dalam konteks ini, sosok KH Abdul Wahab Chasbullah merupakan tokoh sentral yang disebut-sebut ‘berjasa’ memopulerkan sekaligus memasyarakatkan istilah tersebut.

Sejumlah sumber menyebutkan bahwa KH Wahab Chasbullah—salah satu tokoh pendiri Nahdlatul Ulama (NU)—memperkenalkan istilah "halalbihalal" kepada Presiden Sukarno. Saat itu, situasi politik Indonesia sedang diliputi konflik antarpemimpin bangsa. Kiai Wahab mengusulkan sebuah bentuk silaturahmi untuk mencairkan suasana.

Atas saran beliau, pada Idulfitri tahun 1948, Bung Karno mengundang seluruh tokoh politik ke Istana Negara untuk menghadiri pertemuan bertajuk "Halalbihalal". Forum tersebut berhasil mempertemukan para pemimpin yang berselisih untuk kembali menyusun kekuatan dan persatuan bangsa.

Sejak momentum bersejarah di Istana Negara itu, berbagai instansi pemerintah mulai rutin menyelenggarakan halalbihalal. Tradisi ini kemudian diikuti oleh masyarakat luas, khususnya umat Muslim di Jawa, dan terus lestari hingga saat ini sebagai warisan budaya nasional.

Jejak Istilah Halalbihalal di Masa Kolonial

Meskipun tradisi halalbihalal baru populer secara masif setelah kemerdekaan Indonesia, istilah ini sebenarnya telah diperkenalkan sejak tahun 1920-an.

Istilah halalbihalal telah termaktub dalam Javaans-Nederlands Woordenboek karya Dr. Theodoor Gautier Thomas Pigeaud yang terbit tahun 1938. Dalam kamus yang disusun sejak 1926 atas instruksi Gubernur Jenderal Hindia Belanda tersebut, terdapat entri kata alal behalal dan halal behalal.

Pigeaud mendefinisikan alal behalal sebagai ucapan salam (saat datang atau pergi) untuk memohon maaf atas kesalahan kepada orang yang lebih tua atau orang lain setelah masa puasa (Lebaran atau Tahun Baru Jawa). Sementara itu, halal behalal diartikan sebagai salam untuk saling memaafkan pada momen Lebaran.

Sebuah potret yang menunjukkan tradisi makan bersama dalam acara halalbihalal tahun 1926. (Sumber: (Foto: Delpher))
Sebuah potret yang menunjukkan tradisi makan bersama dalam acara halalbihalal tahun 1926. (Sumber: (Foto: Delpher))

Dalam Baoesastra Djawa susunan W.J.S. Poerwadarmina (1939) juga memuat entri alal behalal yang dimaknai sebagai “ngabekti marang wong-wong toewa (dedoewoeran) perloe ndjaloek pangapoera (ing mangsa Lebaran)”.

Majalah Suara Muhammadiyah juga menjadi saksi sejarah penggunaan istilah ini. Pada edisi menjelang 1 Syawal 1344 (tahun 1926), majalah tersebut telah memuat kata alal bahalal. Bahkan, pada edisi No. 5 tahun 1924 yang terbit sekitar bulan April, sebuah artikel sudah mencantumkan variasi kata chalal bi chalal.

Sejumlah referensi menyebutkan bahwa akar tradisi halalbihalal berasal dari ritual pisowanan yang dilakukan di Praja Mangkunegaran, Surakarta, pada abad ke-18.

Kala itu, Raden Mas Said (KGPAA Mangkunegara I) mengumpulkan para punggawa dan prajurit di balai astaka untuk melakukan sungkeman kepada raja dan permaisuri seusai perayaan Idulfitri. Tradisi pisowanan secara kolektif ini dianggap lebih efektif dan efisien dari segi waktu, tenaga, maupun biaya dibandingkan kunjungan individu.

Dari praktik inilah istilah halalbihalal mulai dikenal dan kemudian diadaptasi oleh berbagai organisasi Islam di Indonesia.

Halalbihalal: Warisan Gagasan Kanjeng Sunan Ampel

Meskipun tradisi halalbihalal baru populer secara nasional pascakemerdekaan dan sempat dijalankan oleh KGPAA Mangkunegara I pada abad ke-18, dokumen historis menunjukkan bahwa akar tradisi ini sudah diperkenalkan sejak era Walisongo.

Dalam buku Mazhab Dakwah Washatiyah Sunan Ampel (2021), disebutkan bahwa Kanjeng Sunan Ampel merupakan sosok penggagas awal tradisi halalbihalal. Narasi ini didukung oleh dua naskah kuno, yaitu:

Pertama; Naskah Primer Babad Cerbon: Menceritakan tradisi yang dijalankan oleh murid dan menantu Sunan Ampel.

Kedua; Naskah Sajarah Jawa: Menyebutkan tradisi dari murid beliau, yakni Sunan Gunung Jati.

Naskah Babad Cerbon mengisahkan suasana di Jepara sebagai berikut:

"Wong Japara sami hormat sadaya umek Desa Japara kasuled polah ing masjid kaum sami ajawa tangan sami anglampah halal bahalal sami rawuh amarek dateng Pangeran Karang Kemuning."

Terjemahannya: "Orang-orang Jepara bersama-sama memberi hormat hingga warga satu desa memenuhi Masjid Jepara. Mereka saling berjabat tangan dan berhalalbihalal sembari berkunjung kepada Pangeran Karang Kemuning."

Pangeran Karang Kemuning (Sunan Atas Angin) adalah menantu Sunan Ampel yang menikah dengan Nyai Gede Panyuran. Beliau dimakamkan di kompleks pemakaman Sunan Ampel, Surabaya.

Sementara itu, naskah Sajarah Jawa mengisahkan pertemuan antara Sunan Gunung Jati dengan gurunya, Syekh Nurjati (Syekh Ahlul Iman):

“Semana alabuh pateng Ki Samsu ngeli samodra, nutobak paran paranai ing Carebon kawarnaha, Sunan Makedum sira, mring Seh Alul Iman guru wus dangu genpatekan. Seh Alul Iman minta sing[g]ah aneda halal bahalal, anak mas Cirebon mongke ing Kali Sampu [Kali Sampu di Cirebon] halalna.”

Terjemahannya: "Kala berlabuh dari atas perahu bersama Ki Samsu [pemilik perahu yang mengantarkan Kanjeng Sunan Gunung Jati], mengarungi laut, ombaknya landai, tidak keras, menuju Cirebon. Diceritakan Syekh Ahlul Iman atau Syekh Nurjati Cirebon sang guru yang sudah lama dinantikan ingin bertemu dan bertanya kepadanya. Syekh Ahlul Iman meminta Kanjeng Sunan Gunung Jati singgah di tempatnya, untuk berhalal bihalal dengannya. Maka sang guru pun berujar: ‘Wahai, putra Mas Cirebon yang berdiam di kali Sapu [basis pesantren awal Sunan Gunung Jati], aku halalkan kamu.’"

Baca Juga: Jejak Pendatang Asli Garut di Kota Bandung yang Bertahan Tiga Generasi

Penuturan dalam kedua naskah tersebut membuktikan bahwa halalbihalal merupakan hasil ijtihad Kanjeng Sunan Ampel. Praktik ini diperkenalkan dengan tujuan khusus, yakni sebagai sarana saling memaafkan pada momentum Lebaran atau sesudahnya.

Halalbihalal sengaja dilakukan secara kolektif karena dosa-dosa sosial manusia perlu dilebur bersama, demi terciptanya kembali suasana hidup yang rukun, harmonis, dan guyub. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Badiatul Muchlisin Asti
Penulis dan jurnalis warga. Peminat kajian sejarah lokal dan kuliner Indonesia. Buku terbarunya "Grobogan Untold Story: Tokoh, Tradisi, dan Kuliner" (2025).

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)