Lebaran itu Tentang Asal Usul Diri: Dari Bakti Kepada Orang Tua Hingga Nasionalisme yang Sejati

5 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Lebaran seperti sebuah kejanggalan. Melelahkan, penuh basa-basi, kadang bikin jengkel tapi justru itu yang diam-diam kita rindukan. Datang sebagai peristiwa, ribut jam lima pagi, bergegas mengejar salat id, yang lalu berikutnya menjadi semacam kesadaran kolektif tentang asal-usul kita. Di tengah dunia yang bergerak cepat, yang mendorong kita menjadi individu-individu otonom, lebaran seperti menarik kita kembali pulang ke akar yang mungkin sudah lama kita abaikan.

Dari hal yang paling sederhana, Lebaran selalu dimulai dari keluarga. Kita setidaknya berusaha ke titik nol. Mudik bukan sekadar perjalanan fisik dari kota ke kampung halaman, namun juga gerakan simbolik kembali ke pangkal. Ada sesuatu yang nyaris sakral dalam momen ketika seseorang memaksakan diri pulang, meskipun harus menembus macet, berdesakan di kereta, atau menghabiskan tabungan. Seolah-olah ada panggilan batin yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan secara rasional. Pulang menjadi semacam kewajiban eksistensial, yang tidak hanya karena ada orang tua yang menunggu, tetapi karena ada bagian dari diri kita yang hanya bisa ditemukan di sana.

Di rumah, kita bertemu lagi dengan struktur yang sudah lama kita kenal seperti orang tua, sanak saudara, sepupu, bahkan kerabat jauh yang mungkin hanya muncul setahun sekali. Kita duduk bersama, makan bersama, dan ya terjebak dalam obrolan yang klise. Pertanyaan tentang pekerjaan, gaji, pasangan hidup, jumlah anak, atau perbandingan dengan saudara lain bisa terasa menyesakkan. Privasi yang selama ini kita jaga di kota tiba-tiba runtuh. Kamar yang biasanya menjadi ruang personal berubah menjadi ruang bersama. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang sedang bekerja bahwa relasi yang tidak sepenuhnya bisa direduksi menjadi kenyamanan individu.

Lebaran memperlihatkan bahwa kita tidak pernah hadir secara ujug-ujug di dunia ini. Kita lahir dari sebuah jaringan yang bernama keluarga, garis keturunan, malah sesuatu yang lebih luas dari itu. Basa-basi yang menjemukan itu, dalam cara yang aneh, justru menjadi tanda bahwa kita masih terhubung. Ia adalah bentuk sederhana dari pengakuan kalau kita masih bagian dari “kawanan,” dari sebuah klan yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Sebagaimana ada tradisi ziarah ke makam leluhur. Di bawah terik matahari, berbondong-bondong orang datang ke kuburan, membersihkan nisan, menabur bunga, dan memanjatkan doa. Aktivitas ini sering kali dianggap sebagai rutinitas belaka, oleh sebagian orang mungkin terasa “apaan sih”. Akan tetapi jika dilihat lebih dalam, ziarah adalah momen di mana batas antara yang hidup dan yang telah tiada menjadi lebih tipis. Kita diingatkan bahwa keberadaan kita adalah kelanjutan dari mereka yang sudah lebih dulu ada.

Dalam konteks ini, lebaran berbicara tentang hubungan vertikal dengan nenek moyang. Ada kesadaran bahwa hidup kita tidak berdiri sendiri, berakar pada sejarah yang panjang. Kita datang dari suatu tempat, dari tanah tertentu, dari orang-orang tertentu. Dan meskipun modernitas mencoba memutus atau setidaknya melonggarkan ikatan-ikatan ini, lebaran seperti merajutnya kembali, sekalipun hanya untuk sesaat dan dalam simpul-simpul yang ringkih.

Tradisi lain seperti mengenakan baju seragam keluarga, membawa oleh-oleh khas daerah, atau berkunjung dari satu rumah ke rumah lain juga menjadi bagian dari jaringan makna ini. Hal-hal yang tampak sepele ini sebenarnya membentuk semacam potret sosial yang khas. Mereka menciptakan rasa kebersamaan, bahkan jika itu dibangun di atas hal-hal yang sederhana. Baju yang seragam, misalnya, bukan sekadar soal estetika, ia adalah simbol bahwa kita adalah bagian dari satu kesatuan. Oleh-oleh bukan hanya barang, ia adalah tanda bahwa kita membawa sedikit dari “tempat lain” untuk dibagikan kepada yang asali.

Pemudik di Kereta Api Pasundan di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pemudik di Kereta Api Pasundan di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Lebaran tidak lepas dari gesekan. Dan di situlah momen itu menjadi nyata. Dalam pertemuan keluarga besar, perbedaan status sosial, pilihan hidup, dan pandangan sering kali muncul ke permukaan. Ada sindiran halus, perbandingan, bahkan konflik kecil yang mungkin sudah lama terpendam. Semua itu bisa membuat lebaran terasa berat. Tapi mungkin justru menjadi ada maknanya, bahwa menjadi bagian dari sebuah komunitas tidak selalu nyaman. Ia menuntut kita untuk tawar-menawar, untuk menerima, dipaksa kompak, atau setidaknya untuk bertahan dalam perbedaan.

Jika ditarik lebih jauh, pengalaman meluas menjadi pengalaman dari berbagai keluarga, menjadi sebuah tradisi komunal sebuah bangsa. Mudik, misalnya, adalah fenomena yang hampir unik dalam skalanya. Jutaan orang bergerak secara serentak, meninggalkan kota-kota besar menuju desa-desa di berbagai penjuru. Jalanan macet, pelabuhan penuh, kereta dan bus dipadati penumpang. Dari perspektif logistik, ini mungkin tampak seperti kekacauan. Namun dari perspektif sosial, ini adalah sesuatu yang luar biasa. Sebuah gerakan kolektif yang menunjukkan bahwa ikatan terhadap tanah asal masih sangat kuat.

Dalam momen ini, konsep tanah air menjadi sangat konkret. Ia bukan lagi sekadar istilah dalam buku pelajaran atau retorika politik. Tanah air adalah kampung halaman, jalan kecil yang kita kenal sejak kecil, langgar, rumah nenek kakek, makam buyut, teman-teman semasa bocah, tetangga. Nasionalisme, dalam arti tertentu, menemukan akarnya di sini. Melalui pengalaman pulang, dalam keterikatan emosional terhadap tempat dan orang-orang yang membentuk kita.

Baca Juga: Masalah Urbanisasi Pasca Lebaran dan Dilema Pasar Kerja Fleksibel

Menariknya, semua ini terjadi dalam kerangka lebaran sebagai perayaan keagamaan Islam. Namun praktik-praktik yang menyertainya sering kali melampaui batas-batas formal agama yang kita bayangkan sebagai doktrin. Ada unsur-unsur yang terasa sangat lokal, mungkin lebih tua dari agama institusional itu sendiri. Ziarah leluhur, misalnya, atau penekanan pada pulang ke asal-usul, bisa dilihat sebagai bagian dari kosmologi yang lebih luas. Sebuah cara pandang tentang dunia yang menempatkan manusia dalam bentang relasi dengan tanah, leluhur, tradisi, keluarga, dan orang tua. Kata-kata kunci yang terdengar menyebalkan, kuno, penuh etika sopan santun yang membosankan. Seperti ceramah-ceramah lama yang menasehati orang-orang muda yang suka membangkang.

Lebaran semacam persimpangan ketika identitas kita dinegosiasikan terus menerus. Kita adalah muslim, tentu. Sekaligus kita juga anak dari orang tua tertentu, bagian dari keluarga tertentu, warga dari kampung tertentu, dan pada akhirnya, bagian dari sebuah bangsa. Di tengah guncangan dunia modern seperti urbanisasi, mobilitas tinggi, individualisme, lebaran hadir sebagai interupsi pengingat bahwa kita masih punya purwadaksi. Bahwa sejauh apa pun kita pergi, selalu ada tali yang menghubungkan kita dengan kebermulaan kita. Tali itu mungkin meregang, terasa mengekang, tetapi rasa-rasanya tidak pernah benar-benar putus. Dan malah karenanya terasa penting. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 10 Sep 2026, 20:26

Warisan Gunung Sunda Purba, dari Purwakarta, Subang, sampai Bandung Barat

Menjelajah warisan Gunung Sunda Purba melalui kemegahan Gunung Burangrang. Sisi Utara membentang di Purwakarta dan Subang, sementara sisi Selatan megah berdiri di Bandung Barat.

Keadaan ronabumi seperti inilah yang dilihat oleh masyarakat, bukan Gunung Sunda yang menjulang  tinggi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:26

Transformasi Perpustakaan Meningkatkan Kunjungan Masyarakat

Setiap perpustakaan memang mengidentifikasi problematika yang sama, salah satunya berkaitan dengan kunjungan masyarakat yang minim.

Ilustrasi perpustakaan. (Sumber: Pexels | Foto: Tima Miroshnichenko)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 18:00

ASN Gen Z dan Tantangan Mengubah Kepastian Menjadi Kinerja

Artikel ini mengkaji persepsi ASN Gen Z terhadap kecocokan karier, kompetensi, dan kebutuhan pengembangan dalam birokrasi.

Aparatur Sipil Negara (ASN). (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 17:01

Polemik Desil dalam Indikator Kesejahteraan Ekonomi

Apakah desil bisa dijadikan indikator dalam menentukan strata kesejahteraan masyarakat kini? Desil hanya sebuah istilah dalam algoritma statistik. Jangan memaksa manusia menjadi angka dalam database.

Bantuan pangan cadangan beras pemerintah alokasi Juni dan Juli wilayah Kota Bandung di Kantor Kelurahan Cihapit, Jalan Sabang, Kota Bandung, Jumat 18 Juli 2025. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 16:37

Remy Sylado: Jejak Sang Maestro di Bandung

Jejak Remy Sylado di Bandung kembali ditelusuri melalui buku, arsip, dan kesaksian orang-orang terdekat yang menghidupkan kembali sosok maestro multidisipliner tersebut.

Silaturahmi menyambut terbitnya buku Remy Sylado dan Dua Brouwer yang dihadiri budayawan, pegiat seni, serta sahabat dekat Remy Sylado, di Perpustakaan Ajip Rosidi, Jalan Garut No. 2, Kota Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 15:11

KDM, Jawa Barat, dan Temtasi 2029

KDM membutuhkan policy dashboard, bukan sekadar social-media dashboard.

Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, dalam sebuah acara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 10 Sep 2026, 10:57

Kampung Sate, Ketika Bambu Bisa Diubah Menjadi Rupiah Oleh Warga Satu Kampung

Kampung Randukurung Kutawaringin dikenal sebagai sentra tusuk sate. Warga mengolah bambu secara tradisional menjadi sumber penghasilan.

Di Kampung Randukurung, bambu gombong diolah menjadi ribuan tusuk sate dengan tangan dan peralatan tradisional. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 10:44

Stok Masker mulai Langka dan Harganya Melambung Kembali

Permintaan pasar yang tinggi seringkali membuat harga pun ikut naik begitu juga dengan kondisi yang terjadi pada masker.

Maskter kesehatan. (Sumber: Pexels | Foto: cottonbro studio)
Ayo Netizen 10 Sep 2026, 08:58

Strategi Kuliah Luar Negeri Tembus Ivy League dan Program Pre-College

Sejak didirikan pada tahun 2003, Euro Management Indonesia mengembangkan pola pendampingan studi ke luar negeri secara terpadu dan terintegrasi.

Suasana belajar di Euro Management Indonesia, Menteng Jakarta. (Foto: Humas Euro MI)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)