Lebaran seperti sebuah kejanggalan. Melelahkan, penuh basa-basi, kadang bikin jengkel tapi justru itu yang diam-diam kita rindukan. Datang sebagai peristiwa, ribut jam lima pagi, bergegas mengejar salat id, yang lalu berikutnya menjadi semacam kesadaran kolektif tentang asal-usul kita. Di tengah dunia yang bergerak cepat, yang mendorong kita menjadi individu-individu otonom, lebaran seperti menarik kita kembali pulang ke akar yang mungkin sudah lama kita abaikan.
Dari hal yang paling sederhana, Lebaran selalu dimulai dari keluarga. Kita setidaknya berusaha ke titik nol. Mudik bukan sekadar perjalanan fisik dari kota ke kampung halaman, namun juga gerakan simbolik kembali ke pangkal. Ada sesuatu yang nyaris sakral dalam momen ketika seseorang memaksakan diri pulang, meskipun harus menembus macet, berdesakan di kereta, atau menghabiskan tabungan. Seolah-olah ada panggilan batin yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan secara rasional. Pulang menjadi semacam kewajiban eksistensial, yang tidak hanya karena ada orang tua yang menunggu, tetapi karena ada bagian dari diri kita yang hanya bisa ditemukan di sana.
Di rumah, kita bertemu lagi dengan struktur yang sudah lama kita kenal seperti orang tua, sanak saudara, sepupu, bahkan kerabat jauh yang mungkin hanya muncul setahun sekali. Kita duduk bersama, makan bersama, dan ya terjebak dalam obrolan yang klise. Pertanyaan tentang pekerjaan, gaji, pasangan hidup, jumlah anak, atau perbandingan dengan saudara lain bisa terasa menyesakkan. Privasi yang selama ini kita jaga di kota tiba-tiba runtuh. Kamar yang biasanya menjadi ruang personal berubah menjadi ruang bersama. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang sedang bekerja bahwa relasi yang tidak sepenuhnya bisa direduksi menjadi kenyamanan individu.
Lebaran memperlihatkan bahwa kita tidak pernah hadir secara ujug-ujug di dunia ini. Kita lahir dari sebuah jaringan yang bernama keluarga, garis keturunan, malah sesuatu yang lebih luas dari itu. Basa-basi yang menjemukan itu, dalam cara yang aneh, justru menjadi tanda bahwa kita masih terhubung. Ia adalah bentuk sederhana dari pengakuan kalau kita masih bagian dari “kawanan,” dari sebuah klan yang lebih besar dari diri kita sendiri.
Sebagaimana ada tradisi ziarah ke makam leluhur. Di bawah terik matahari, berbondong-bondong orang datang ke kuburan, membersihkan nisan, menabur bunga, dan memanjatkan doa. Aktivitas ini sering kali dianggap sebagai rutinitas belaka, oleh sebagian orang mungkin terasa “apaan sih”. Akan tetapi jika dilihat lebih dalam, ziarah adalah momen di mana batas antara yang hidup dan yang telah tiada menjadi lebih tipis. Kita diingatkan bahwa keberadaan kita adalah kelanjutan dari mereka yang sudah lebih dulu ada.
Dalam konteks ini, lebaran berbicara tentang hubungan vertikal dengan nenek moyang. Ada kesadaran bahwa hidup kita tidak berdiri sendiri, berakar pada sejarah yang panjang. Kita datang dari suatu tempat, dari tanah tertentu, dari orang-orang tertentu. Dan meskipun modernitas mencoba memutus atau setidaknya melonggarkan ikatan-ikatan ini, lebaran seperti merajutnya kembali, sekalipun hanya untuk sesaat dan dalam simpul-simpul yang ringkih.
Tradisi lain seperti mengenakan baju seragam keluarga, membawa oleh-oleh khas daerah, atau berkunjung dari satu rumah ke rumah lain juga menjadi bagian dari jaringan makna ini. Hal-hal yang tampak sepele ini sebenarnya membentuk semacam potret sosial yang khas. Mereka menciptakan rasa kebersamaan, bahkan jika itu dibangun di atas hal-hal yang sederhana. Baju yang seragam, misalnya, bukan sekadar soal estetika, ia adalah simbol bahwa kita adalah bagian dari satu kesatuan. Oleh-oleh bukan hanya barang, ia adalah tanda bahwa kita membawa sedikit dari “tempat lain” untuk dibagikan kepada yang asali.

Lebaran tidak lepas dari gesekan. Dan di situlah momen itu menjadi nyata. Dalam pertemuan keluarga besar, perbedaan status sosial, pilihan hidup, dan pandangan sering kali muncul ke permukaan. Ada sindiran halus, perbandingan, bahkan konflik kecil yang mungkin sudah lama terpendam. Semua itu bisa membuat lebaran terasa berat. Tapi mungkin justru menjadi ada maknanya, bahwa menjadi bagian dari sebuah komunitas tidak selalu nyaman. Ia menuntut kita untuk tawar-menawar, untuk menerima, dipaksa kompak, atau setidaknya untuk bertahan dalam perbedaan.
Jika ditarik lebih jauh, pengalaman meluas menjadi pengalaman dari berbagai keluarga, menjadi sebuah tradisi komunal sebuah bangsa. Mudik, misalnya, adalah fenomena yang hampir unik dalam skalanya. Jutaan orang bergerak secara serentak, meninggalkan kota-kota besar menuju desa-desa di berbagai penjuru. Jalanan macet, pelabuhan penuh, kereta dan bus dipadati penumpang. Dari perspektif logistik, ini mungkin tampak seperti kekacauan. Namun dari perspektif sosial, ini adalah sesuatu yang luar biasa. Sebuah gerakan kolektif yang menunjukkan bahwa ikatan terhadap tanah asal masih sangat kuat.
Dalam momen ini, konsep tanah air menjadi sangat konkret. Ia bukan lagi sekadar istilah dalam buku pelajaran atau retorika politik. Tanah air adalah kampung halaman, jalan kecil yang kita kenal sejak kecil, langgar, rumah nenek kakek, makam buyut, teman-teman semasa bocah, tetangga. Nasionalisme, dalam arti tertentu, menemukan akarnya di sini. Melalui pengalaman pulang, dalam keterikatan emosional terhadap tempat dan orang-orang yang membentuk kita.
Baca Juga: Masalah Urbanisasi Pasca Lebaran dan Dilema Pasar Kerja Fleksibel
Menariknya, semua ini terjadi dalam kerangka lebaran sebagai perayaan keagamaan Islam. Namun praktik-praktik yang menyertainya sering kali melampaui batas-batas formal agama yang kita bayangkan sebagai doktrin. Ada unsur-unsur yang terasa sangat lokal, mungkin lebih tua dari agama institusional itu sendiri. Ziarah leluhur, misalnya, atau penekanan pada pulang ke asal-usul, bisa dilihat sebagai bagian dari kosmologi yang lebih luas. Sebuah cara pandang tentang dunia yang menempatkan manusia dalam bentang relasi dengan tanah, leluhur, tradisi, keluarga, dan orang tua. Kata-kata kunci yang terdengar menyebalkan, kuno, penuh etika sopan santun yang membosankan. Seperti ceramah-ceramah lama yang menasehati orang-orang muda yang suka membangkang.
Lebaran semacam persimpangan ketika identitas kita dinegosiasikan terus menerus. Kita adalah muslim, tentu. Sekaligus kita juga anak dari orang tua tertentu, bagian dari keluarga tertentu, warga dari kampung tertentu, dan pada akhirnya, bagian dari sebuah bangsa. Di tengah guncangan dunia modern seperti urbanisasi, mobilitas tinggi, individualisme, lebaran hadir sebagai interupsi pengingat bahwa kita masih punya purwadaksi. Bahwa sejauh apa pun kita pergi, selalu ada tali yang menghubungkan kita dengan kebermulaan kita. Tali itu mungkin meregang, terasa mengekang, tetapi rasa-rasanya tidak pernah benar-benar putus. Dan malah karenanya terasa penting. (*)
