Lebaran itu Tentang Asal Usul Diri: Dari Bakti Kepada Orang Tua Hingga Nasionalisme yang Sejati

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Rabu 25 Mar 2026, 18:11 WIB
Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Lebaran seperti sebuah kejanggalan. Melelahkan, penuh basa-basi, kadang bikin jengkel tapi justru itu yang diam-diam kita rindukan. Datang sebagai peristiwa, ribut jam lima pagi, bergegas mengejar salat id, yang lalu berikutnya menjadi semacam kesadaran kolektif tentang asal-usul kita. Di tengah dunia yang bergerak cepat, yang mendorong kita menjadi individu-individu otonom, lebaran seperti menarik kita kembali pulang ke akar yang mungkin sudah lama kita abaikan.

Dari hal yang paling sederhana, Lebaran selalu dimulai dari keluarga. Kita setidaknya berusaha ke titik nol. Mudik bukan sekadar perjalanan fisik dari kota ke kampung halaman, namun juga gerakan simbolik kembali ke pangkal. Ada sesuatu yang nyaris sakral dalam momen ketika seseorang memaksakan diri pulang, meskipun harus menembus macet, berdesakan di kereta, atau menghabiskan tabungan. Seolah-olah ada panggilan batin yang tak sepenuhnya bisa dijelaskan secara rasional. Pulang menjadi semacam kewajiban eksistensial, yang tidak hanya karena ada orang tua yang menunggu, tetapi karena ada bagian dari diri kita yang hanya bisa ditemukan di sana.

Di rumah, kita bertemu lagi dengan struktur yang sudah lama kita kenal seperti orang tua, sanak saudara, sepupu, bahkan kerabat jauh yang mungkin hanya muncul setahun sekali. Kita duduk bersama, makan bersama, dan ya terjebak dalam obrolan yang klise. Pertanyaan tentang pekerjaan, gaji, pasangan hidup, jumlah anak, atau perbandingan dengan saudara lain bisa terasa menyesakkan. Privasi yang selama ini kita jaga di kota tiba-tiba runtuh. Kamar yang biasanya menjadi ruang personal berubah menjadi ruang bersama. Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang sedang bekerja bahwa relasi yang tidak sepenuhnya bisa direduksi menjadi kenyamanan individu.

Lebaran memperlihatkan bahwa kita tidak pernah hadir secara ujug-ujug di dunia ini. Kita lahir dari sebuah jaringan yang bernama keluarga, garis keturunan, malah sesuatu yang lebih luas dari itu. Basa-basi yang menjemukan itu, dalam cara yang aneh, justru menjadi tanda bahwa kita masih terhubung. Ia adalah bentuk sederhana dari pengakuan kalau kita masih bagian dari “kawanan,” dari sebuah klan yang lebih besar dari diri kita sendiri.

Sebagaimana ada tradisi ziarah ke makam leluhur. Di bawah terik matahari, berbondong-bondong orang datang ke kuburan, membersihkan nisan, menabur bunga, dan memanjatkan doa. Aktivitas ini sering kali dianggap sebagai rutinitas belaka, oleh sebagian orang mungkin terasa “apaan sih”. Akan tetapi jika dilihat lebih dalam, ziarah adalah momen di mana batas antara yang hidup dan yang telah tiada menjadi lebih tipis. Kita diingatkan bahwa keberadaan kita adalah kelanjutan dari mereka yang sudah lebih dulu ada.

Dalam konteks ini, lebaran berbicara tentang hubungan vertikal dengan nenek moyang. Ada kesadaran bahwa hidup kita tidak berdiri sendiri, berakar pada sejarah yang panjang. Kita datang dari suatu tempat, dari tanah tertentu, dari orang-orang tertentu. Dan meskipun modernitas mencoba memutus atau setidaknya melonggarkan ikatan-ikatan ini, lebaran seperti merajutnya kembali, sekalipun hanya untuk sesaat dan dalam simpul-simpul yang ringkih.

Tradisi lain seperti mengenakan baju seragam keluarga, membawa oleh-oleh khas daerah, atau berkunjung dari satu rumah ke rumah lain juga menjadi bagian dari jaringan makna ini. Hal-hal yang tampak sepele ini sebenarnya membentuk semacam potret sosial yang khas. Mereka menciptakan rasa kebersamaan, bahkan jika itu dibangun di atas hal-hal yang sederhana. Baju yang seragam, misalnya, bukan sekadar soal estetika, ia adalah simbol bahwa kita adalah bagian dari satu kesatuan. Oleh-oleh bukan hanya barang, ia adalah tanda bahwa kita membawa sedikit dari “tempat lain” untuk dibagikan kepada yang asali.

Pemudik di Kereta Api Pasundan di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pemudik di Kereta Api Pasundan di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Lebaran tidak lepas dari gesekan. Dan di situlah momen itu menjadi nyata. Dalam pertemuan keluarga besar, perbedaan status sosial, pilihan hidup, dan pandangan sering kali muncul ke permukaan. Ada sindiran halus, perbandingan, bahkan konflik kecil yang mungkin sudah lama terpendam. Semua itu bisa membuat lebaran terasa berat. Tapi mungkin justru menjadi ada maknanya, bahwa menjadi bagian dari sebuah komunitas tidak selalu nyaman. Ia menuntut kita untuk tawar-menawar, untuk menerima, dipaksa kompak, atau setidaknya untuk bertahan dalam perbedaan.

Jika ditarik lebih jauh, pengalaman meluas menjadi pengalaman dari berbagai keluarga, menjadi sebuah tradisi komunal sebuah bangsa. Mudik, misalnya, adalah fenomena yang hampir unik dalam skalanya. Jutaan orang bergerak secara serentak, meninggalkan kota-kota besar menuju desa-desa di berbagai penjuru. Jalanan macet, pelabuhan penuh, kereta dan bus dipadati penumpang. Dari perspektif logistik, ini mungkin tampak seperti kekacauan. Namun dari perspektif sosial, ini adalah sesuatu yang luar biasa. Sebuah gerakan kolektif yang menunjukkan bahwa ikatan terhadap tanah asal masih sangat kuat.

Dalam momen ini, konsep tanah air menjadi sangat konkret. Ia bukan lagi sekadar istilah dalam buku pelajaran atau retorika politik. Tanah air adalah kampung halaman, jalan kecil yang kita kenal sejak kecil, langgar, rumah nenek kakek, makam buyut, teman-teman semasa bocah, tetangga. Nasionalisme, dalam arti tertentu, menemukan akarnya di sini. Melalui pengalaman pulang, dalam keterikatan emosional terhadap tempat dan orang-orang yang membentuk kita.

Baca Juga: Masalah Urbanisasi Pasca Lebaran dan Dilema Pasar Kerja Fleksibel

Menariknya, semua ini terjadi dalam kerangka lebaran sebagai perayaan keagamaan Islam. Namun praktik-praktik yang menyertainya sering kali melampaui batas-batas formal agama yang kita bayangkan sebagai doktrin. Ada unsur-unsur yang terasa sangat lokal, mungkin lebih tua dari agama institusional itu sendiri. Ziarah leluhur, misalnya, atau penekanan pada pulang ke asal-usul, bisa dilihat sebagai bagian dari kosmologi yang lebih luas. Sebuah cara pandang tentang dunia yang menempatkan manusia dalam bentang relasi dengan tanah, leluhur, tradisi, keluarga, dan orang tua. Kata-kata kunci yang terdengar menyebalkan, kuno, penuh etika sopan santun yang membosankan. Seperti ceramah-ceramah lama yang menasehati orang-orang muda yang suka membangkang.

Lebaran semacam persimpangan ketika identitas kita dinegosiasikan terus menerus. Kita adalah muslim, tentu. Sekaligus kita juga anak dari orang tua tertentu, bagian dari keluarga tertentu, warga dari kampung tertentu, dan pada akhirnya, bagian dari sebuah bangsa. Di tengah guncangan dunia modern seperti urbanisasi, mobilitas tinggi, individualisme, lebaran hadir sebagai interupsi pengingat bahwa kita masih punya purwadaksi. Bahwa sejauh apa pun kita pergi, selalu ada tali yang menghubungkan kita dengan kebermulaan kita. Tali itu mungkin meregang, terasa mengekang, tetapi rasa-rasanya tidak pernah benar-benar putus. Dan malah karenanya terasa penting. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)