Bakso Urat dan Tetelan Pelepas Rindu: Ramainya Warung Bakso di Kota Bandung Setelah Lebaran

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Suasana di bakso urat Alif usai Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Suasana di bakso urat Alif usai Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Suasana di Bakso Urat Alif di Jalan Bangka No. 2 tampak ramai pada hari-hari setelah perayaan Idulfitri. Sejumlah pengunjung terlihat mengantre untuk memesan semangkuk bakso. Beberapa keluarga kecil menikmati makan bersama, sementara kelompok anak muda juga memenuhi meja-meja yang tersedia.

Di sudut warung, aktivitas pegawai terlihat tak henti-hentinya melayani pesanan. Tangan mereka sigap meracik bakso, menuangkan kuah panas ke dalam mangkuk, hingga menyajikannya kepada pelanggan yang terus berdatangan. Sesekali terdengar suara pelanggan memanggil pelayan atau menanyakan pesanan, menambah riuh suasana warung makan tersebut.

Antrean pengunjung bahkan terlihat hingga keluar area warung. Beberapa orang tampak berdiri menunggu giliran, sementara lainnya memilih menunggu di luar hingga meja kosong tersedia.

Rudi (30), salah satu pegawai Bakso Alif, mengatakan jumlah pengunjung meningkat signifikan sejak Lebaran, bahkan antreannya sampai ke pertigaan Jalan Gudang Selatan. Menurutnya, lonjakan pelanggan sudah terasa sejak hari pertama Lebaran.

“Setelah Lebaran memang ramai sekali. Pembeli datang terus dan antreannya bahkan sampai ke pertigaan Jalan Gudang Selatan,” kata Rudi saat ditemui di lokasi.

Menurutnya, peningkatan pengunjung bahkan bisa mencapai dua kali lipat dibandingkan hari biasa.

“Kalau dibanding hari biasa bisa naik sampai 100 persen. Biasanya mulai ramai itu sejak hari Lebaran, dan setelahnya masih terus ramai karena orang-orang banyak yang keluar rumah untuk jalan-jalan atau makan bersama keluarga,” ujarnya.

Rudi menuturkan, fenomena ramainya warung bakso setelah Lebaran bukan hal baru. Setiap tahun, kondisi serupa hampir selalu terjadi. Ia menilai, salah satu alasan banyak orang memilih makan bakso setelah Lebaran karena banyak tempat makan lain yang tutup selama hari raya.

“Biasanya karena warung-warung lain banyak yang tutup, jadi orang mencari tempat makan yang masih buka. Bakso jadi salah satu pilihan yang paling gampang ditemukan dan disukai banyak orang,” katanya.

Selain itu, menu bakso yang berkuah dinilai menjadi pilihan yang tepat setelah beberapa hari masyarakat mengonsumsi makanan khas Lebaran yang cenderung bersantan dan berlemak.

“Kalau habis Lebaran kan orang biasanya sudah bosan makan makanan yang bersantan seperti opor atau rendang. Jadi mereka cari yang lebih segar, yang berkuah seperti bakso,” tambahnya.

Ia juga menyebut sebagian besar pelanggan yang datang merupakan keluarga yang sedang menghabiskan waktu bersama setelah bersilaturahmi atau berjalan-jalan selama libur Lebaran.

“Yang datang macam-macam, tapi kebanyakan memang keluarga. Mereka datang makan bareng setelah silaturahmi atau setelah jalan-jalan,” jelasnya.

Semangkuk bakso dengan berbagai pilihan menu jadi pelarian setelah menyantap hidangan Lebaran.
Semangkuk bakso dengan berbagai pilihan menu jadi pelarian setelah menyantap hidangan Lebaran.

Menu yang paling banyak dipesan oleh pengunjung di tempat tersebut adalah bakso yamin serta bakso tetelan campur.

“Yang paling laris biasanya yamin sama bakso tetelan campur. Hampir setiap hari itu yang paling banyak dipesan,” katanya.

Bakso Alif sendiri telah berdiri cukup lama di kawasan tersebut dan dikenal oleh banyak pelanggan sebagai salah satu tempat makan bakso yang populer. “Bakso ini sudah sekitar 25 tahunan ada di sini,” kata Rudi.

Fenomena makan bakso setelah Lebaran juga dirasakan oleh para pengunjung. Salah satunya Aditya Rahman (22) yang datang bersama keluarganya.

Ia mengatakan momen libur panjang setelah Lebaran dimanfaatkan untuk berkumpul bersama keluarga di luar rumah.

“Saya kebetulan datang ke sini bersama keluarga. Karena ini masih suasana libur Lebaran dan juga long weekend, jadi kami menyempatkan makan keluar bersama,” ujarnya.

Aditya mengaku memilih makan bakso karena mulai bosan dengan menu khas Lebaran yang didominasi makanan bersantan.

“Sebenarnya sudah agak bosan juga dengan makanan Lebaran, karena tiap tahun pasti makan menu yang sama seperti opor atau rendang,” katanya.

Aditya Rahman memanfaatkan momen libur Lebaran untuk makan bakso bersama keluarganya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Aditya Rahman memanfaatkan momen libur Lebaran untuk makan bakso bersama keluarganya. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Selain itu, ia memiliki kenangan tersendiri dengan warung bakso tersebut karena sering datang saat masih tinggal di Bandung.

“Alasan saya makan di sini juga karena nostalgia. Dulu waktu masih tinggal di Bandung saya sering makan bakso di sini, jadi bisa dibilang ini salah satu bakso favorit saya,” ujarnya.

Ia juga menilai suasana warung bakso tersebut cukup ramai oleh pengunjung setelah Lebaran.

“Tadi waktu saya datang kondisinya cukup ramai, walaupun mungkin tidak seramai saat hari Lebaran,” katanya.

Menurutnya, bakso menjadi pilihan makanan yang banyak dicari setelah Lebaran karena rasanya berbeda dari menu khas hari raya.

“Mungkin karena orang sudah bosan dengan makanan berat seperti opor atau rendang, jadi bakso yang berkuah jadi pilihan yang lebih segar,” jelasnya.

Hal serupa juga diungkapkan oleh Diah, pengunjung yang datang bersama anak-anaknya setelah berkeliling kota.

Ia mengaku memanfaatkan libur sekolah untuk mengajak keluarga berjalan-jalan ke pusat kota.

“Iya, mumpung anak-anak masih libur sekolah. Dari pagi kita sudah putar-putar ke alun-alun juga,” ujarnya.

Menurutnya, bakso menjadi pilihan karena keluarga mulai merasa jenuh dengan makanan bersantan yang dikonsumsi selama Lebaran.

“Rasanya sudah enek lihat santan di rumah. Dari hari pertama makan opor sama rendang terus, jadi sekarang cari yang segar-segar seperti bakso,” kata Diah.

Ia bahkan menilai makan bakso setelah Lebaran seperti sudah menjadi tradisi bagi banyak orang.

“Kayaknya sudah jadi tradisi. Kalau belum makan bakso yang kuahnya pedas habis Lebaran itu rasanya ada yang kurang,” ujarnya sambil tertawa.

Diah juga melihat suasana warung bakso tersebut cukup ramai oleh pengunjung.

“Tadi saja saya harus menunggu dulu untuk dapat meja. Tapi senang juga lihat orang-orang kumpul sama keluarganya, suasananya jadi terasa Lebaran,” katanya.

Menurutnya, bakso cocok dinikmati setelah Lebaran karena memberikan sensasi berbeda setelah menyantap makanan berat selama beberapa hari.

“Bakso itu seperti penetral. Habis makan yang berat-berat dan berlemak, kena kuah panas sama sambal rasanya langsung plong di tenggorokan,” ujarnya.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 10 Okt 2026, 12:23

Gastro-Histori Roti Bagelen: Akulturasi Tiga Budaya dan Jejak Perintis Khoe Pek Goan di Garut Sejak 1885

Dalam khazanah gastro-historis Indonesia, Roti Bagelen menduduki posisi istimewa sebagai penganan legendaris yang melintasi zaman.

Roti Bagelen pertama kali terekam dalam sejarah lahir dan berkembang di Kabupaten Garut sebagai titik awal keberadaannya di Indonesia. (Sumber: Akun Shopee Bagelen Garut)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)