Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Ayo, Kendalikan Inflasi Pangan Pascalebaran!

Sri Maryati
Ditulis oleh Sri Maryati diterbitkan Rabu 25 Mar 2026, 09:54 WIB
Ilustrasi kondisi pasar tradisional pascalebaran (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Ilustrasi kondisi pasar tradisional pascalebaran (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Sehabis bulan ramadan dan lebaran 2026 masyarakat khawatir dengan kenaikan harga kebutuhan pokok. Kekhawatiran itu kian bertambah karena santer isu harga BBM dan gas akan naik akibat ulah agresi militer Amerika Serikat bersama Israel terhadap Iran.

Ibu rumah tangga dibuat pusing dengan kondisi saat ini. Sebenarnya, kenaikan harga pangan dan barang kebutuhan pokok yang masih tinggi setelah lebaran adalah fenomena yang biasa terjadi setiap tahun. Hal itu dikenal sebagai inflasi pascalebaran. Kondisi ini didorong oleh beberapa faktor utama, di mana tingginya permintaan tidak langsung turun drastis meskipun perayaan lebaran sudah berlalu. 

Namun pascalebaran kali ini sungguh mengkhawatirkan. Indikasinya bisa dilihat dari kenaikan harga bahan baku plastik akibat gejolak harga minyak dunia. Plastik yang merupakan bahan utama pengemasan produk telah mengatrol harga makanan kemasan.

Daya beli masyarakat pascalebaran kian melemah. Apalagi jika sektor industri terpukul oleh pelemahan rupiah dan terganggunya pasokan bahan baku akibat geopolitik dunia yang sedang kacau.

Data terkini menunjukkan bahwa harga berbagai komoditas pangan pokok di Indonesia melonjak tajam pada H+4 hingga H+7 pada lebaran 2026. Hingga 24/03/2026 tercatat harga komoditas utama seperti cabai rawit merah menembus Rp 141.000 per kg (naik 51,96 %), diikuti cabai merah besar, cabai hijau, dan daging ayam yang melampaui harga acuan tertinggi.

Inflasi pangan terus berlangsung hingga menyebabkan penderitaan masyarakat. Efek domino inflasi pangan sudah melampaui kenaikan Upah Minimum Regional (UMR) dan hampir menyamai kenaikan gaji Aparatur Sipil Negara (ASN).

Betapa pentingnya pengendalian inflasi pangan yang efektif oleh pemerintah pusat dan daerah. Inflasi pangan telah menggerogoti daya beli masyarakat atau membuat penghasilan riil masyarakat turun. Perlu dicatat pengeluaran rata-rata masyarakat untuk pangan telah mencapai 33,7 persen. Artinya kalau penghasilan masyarakat tetap dan harga pangan terus naik, maka porsi untuk pengeluaran pangan makin membengkak sehingga jatah untuk pengeluaran lain makin mengecil. Menjadi masalah kalau pengeluaran untuk kesehatan dan pendidikan menjadi lebih kecil.

Ada baiknya membandingkan inflasi pangan dengan kenaikan UMR dan kenaikan gaji ASN. Perbandingan itu menunjukkan bahwa yang paling terkena dampak inflasi pangan adalah buruh dan ASN. Dua kelompok inilah yang rawan terkena dampak paling besar dari inflasi pangan khususnya dan inflasi pada umumnya karena upah dan gajinya biasanya pas-pasan dan jarang dinaikkan.   

Idealnya Kepala Daerah harus mampu mengendalikan tingkat inflasi di level yang aman, yakni di angka 4,3 %. Data menunjukkan bahwa pasokan pangan pada saat ini menjadi pendorong inflasi.

Terkait dengan hal itu pentingnya pemerintah daerah memperluas program padat karya yang bertujuan untuk meningkatkan volume produksi hortikultura yang notabene adalah komponen penting untuk meredam inflasi pangan. Apalagi sentra-sentra hortikultura di negeri ini banyak yang terdegradasi akibat peralihan lahan untuk perumahan dan industri, rusaknya saluran irigasi, dan akibat terkena bencana alam dan dampak cuaca ekstrim.

Selain itu perlu membenahi pasar komoditi nasional yang merupakan sistem jaringan pasar induk. Sistem diatas bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan petani dengan mengembangkan jalur distribusi (nasional) yang berkesinambungan dan berkeadilan. Guna membuat akses yang lebih baik dalam pendistribusian produk agribisnis (lokal) ke konsumen (pasar regional/nasional).

Perlu revitalisasi pasar komoditas di berbagai daerah dengan memperkuat peran pasar induk. Dinas perindustrian dan perdagangan daerah sebaiknya menggalakkan pasar lelang forward komoditi agro. Baik secara online maupun secara manual. Lembaga tersebut perlu meningkatkan volume dan frekuensinya. Selain itu juga memperbanyak jenis komoditas yang akan dilelang seperti beras, hasil perkebunan, sayuran dan buah-buahan.

Pasar induk diharapkan mampu memberikan data atau informasi kebutuhan konsumen, di wilayah cakupannya dari segi jumlah, kualitas dan harga. Apabila jaringan pasar induk sudah memadai, maka data kebutuhan dari pasar induk akan bisa digunakan sebagai input pasar-pasar penunjang di daerah produsen untuk merencanakan pola tanam dan menyesuaikan jumlah dan kualitas yang dibutuhkan pasar.

Dengan jaringan pasar induk yang baik, akan memperlancar distribusi komoditi pertanian sehingga disparitas harga antar wilayah diperkecil dan akan membantu daerah produsen pada saat over supply agar dapat menyalurkan ke daerah lain dengan mekanisme perdagangan yang cepat dan aman. Dengan demikian tidak ada komoditas yang terbuang karena panen yang melimpah.

Ilustrasi tanaman cabai, komoditas pertanian yang harganya sering kali melonjak (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Ilustrasi tanaman cabai, komoditas pertanian yang harganya sering kali melonjak (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)

Solusi Harga Cabai Melambung Tinggi

Sehabis lebaran, komoditas cabai mengalami gejolak hingga harganya naik sangat tinggi menembus seratus ribu rupiah per-kilogram untuk cabai rawit merah. Ironisnya hal itu terus terjadi tanpa solusi yang mendasar.

Sudah berkali-kali komoditas cabai ikut mengerek angka inflasi, namun masyarakat tidak pernah kapok mengkonsumsi cabai sebagai bahan pangan sehari-hari.

Badan Pangan Nasional (Bapanas) menghimbau masyarakat untuk menanam sendiri cabai di rumah sebagai solusi di tengah melonjaknya harga cabai, terutama cabai rawit. Namun perlu diingat, menanam cabai itu gampang-gampang susah. Kadang bisa tumbuh subur, kadang juga meranggas lalu mati. Meskipun media tanam untuk cabai sudah dipersiapkan dengan baik, namun akibat cuaca dan temperatur ekstrim, tanaman cabai mudah mati.

Di berbagai daerah harga cabai masih membumbung tinggi. Krisis cabai terus berlangsung dan solusinya kurang mendasar. Krisis berupa kurangnya pasokan yang sangat tidak sebanding kebutuhan.

Yang paling mudah disalahkan adalah faktor cuaca sebagai faktor kegagalan panen. Padahal hal itu tidak sepenuhnya benar. Inovasi dan teknologi pertanian mestinya bisa mengatasi krisis cabai dengan jalan menemukan varietas atau benih cabai yang lebih adaptif dengan kondisi cuaca. Perlu rekayasa benih cabai yang mampu panen dalam kondisi cuaca ekstrim.

Akar persoalan cabai sebenarnya bermuara dengan pudarnya budaya pemuliaan benih. Pemuliaan benih cabai dan tanaman hortikultura lainnya tertinggal oleh program pemuliaan benih padi. Hal itu terlihat dari jumlah benih impor tanaman hortikultura dari luar negeri yang masih mendominasi di negeri ini.

Sebagai negara agraris seharusnya bangsa ini memiliki kemajuan dalam rekayasa perbenihan. Kemajuan itu ditandai dengan kemampuan pemerintah membagi-bagikan secara gratis benih unggul apa saja kepada rakyat luas. Dengan langkah itu maka program ketahanan pangan keluarga akan terwujud. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sri Maryati
Tentang Sri Maryati
Pemerhati sosial, penikmat destinasi wisata

Berita Terkait

News Update

Ikon 25 Mar 2026, 19:53

Sejarah Masjid Salman ITB, Kawah Pergulatan Islam di Jantung Bandung

Lahir di tengah tarik-menarik ideologi 1960-an, Masjid Salman ITB berdiri berkat restu Soekarno dan menjadi simbol hadirnya Islam di jantung kampus teknik.

Masjid Salman ITB
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 18:11

Lebaran itu Tentang Asal Usul Diri: Dari Bakti Kepada Orang Tua Hingga Nasionalisme yang Sejati

Dari hal yang paling sederhana, Lebaran selalu dimulai dari keluarga.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Bandung 25 Mar 2026, 17:39

Strategi Unik Nasi Tempong Santi Jangkau Pasar Berbeda Lewat Konsep Bisnis Nomaden

Hidangan utama yang disajikan Nasi Tempong Santi dikenal memiliki cita rasa kuat dengan sentuhan bumbu pedas dan beragam pilihan sambal.

Nasi Tempong Santi mengusung konsep hidangan berat untuk memikat atensi pengunjung di tengah gelaran food festival. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 15:46

Antre Dua Jam Demi Foto Viral di Braga: Seru-Seruan atau Sekadar Ikut Tren?

Fenomena antre panjang demi foto viral di Braga, Kota Bandung.

Foto box koran yang sedang viral di Jalan Braga, Kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 15:18

Masalah Urbanisasi Pasca Lebaran dan Dilema Pasar Kerja Fleksibel

Urbanisasi pasca Lebaran 2026 kian rumit karena kondisi ketenagakerjaan sedang suram.

Ilustrasi urbanisasi pasca lebaran. (Sumber: Meta | Foto: Arif Minardi)
Seni Budaya 25 Mar 2026, 13:31

Dari Sungai Kuantan ke Seluruh Dunia, Sejarah Panjang Tradisi Pacu Jalur

Video Anak Coki viral pada 2025 membawa Pacu Jalur mendunia. Namun tradisi ini telah berakar sejak abad ke-17 di Sungai Kuantan, jauh sebelum era internet.

Festival Pacu Jalur. (Sumber: Kemenparekraf)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 11:47

Mabok Kakaretaan

Dalam setiap perjalanan, kita tak hanya bergerak secara fisik, justru sedang dilatih untuk lebih memahami diri, keluarga, dan kehidupan yang serba cepat.

Sejumlah penumpang saat akan memasuki gerbong kereta api di Stasiun Bandung, Rabu 4 Desember 2024. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mar 2026, 09:54

Ayo, Kendalikan Inflasi Pangan Pascalebaran!

Daya beli masyarakat pascalebaran kian melemah.

Ilustrasi kondisi pasar tradisional pascalebaran (Sumber: dokpri | Foto: Sri Maryati)
Beranda 25 Mar 2026, 08:35

Saat Kota Libur, Petugas Kebersihan Justru Dikejar Lonjakan Sampah

Lonjakan wisatawan saat Lebaran di Bandung memicu kenaikan sampah hingga 20 persen, memperlihatkan beban lingkungan kota dan tantangan pengelolaan di tengah wisata massal.

Agus Suheri bersama petugas kebersihan lainnya bekerja dalam tiga shift untuk menjaga kawasan alun-alun tetap bersih. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 25 Mar 2026, 08:15

Ramai Pengunjung Tapi Sepi Pembeli: Wajah Lain Wisata Lebaran di Pusat Kota Bandung

Libur Lebaran membawa lonjakan pengunjung ke pusat Kota Bandung, namun tidak semua pelaku usaha merasakan dampaknya. Di tengah keramaian alun-alun, pedagang justru menghadapi penurunan daya beli.

Wisatawan lokal memadati kawasan Alun-alun Kota Bandung pada libur lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Wisata & Kuliner 25 Mar 2026, 02:52

Curug Sawer Cililin, Antara Mitos dan Fakta

Curug Sawer di Cililin dikenal dengan mitos mandi untuk mendapatkan jodoh. Namun faktanya, kawasan ini lebih ramai untuk healing di hutan pinus.

Curug Sawer. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Mar 2026, 20:33

Nyekar, Mengingat Waktu Basahi Rindu

Kurang afdol jika saat lebaran tidak nyekar menaburkan kembang telon di pusara orang tua.

Nyekar ke makam orang tua dan kerabat saat lebaran (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 24 Mar 2026, 13:30

Menjelajah Jalur Alternatif Cililin–Ciwidey yang Menantang

Jalur Cililin–Ciwidey menawarkan tanjakan curam, turunan tajam, dan pemandangan asri. Bisa ditempuh motor 1 jam, lebih cepat daripada jalur utama.

Pemandangan di jalur alternatif Ciwidey-Cililin. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Mar 2026, 13:05

Bioskop Bandung di Musim Lebaran

Era tahun 90-an bioskop layar lebar menjadi salah satu tempat hiburan warga kota Bandung.

Daftar film yang tayang di bioskop-bioskop yang ada di Kota Bandung menjelang Lebaran tahun 1994. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Sejarah 24 Mar 2026, 09:32

Hikayat Lebaran Para Inlander di Tanah Kompeni

Pada masa kolonial, mahasiswa dan bangsawan Hindia Belanda merayakan lebaran jauh dari kampung halaman. Di Leiden dan Den Haag, Idulfitri menjadi ajang silaturahmi diaspora sekaligus obat rindu tanah

Foto diaspora Indoneia saat lebaran di Den Haag, Belanda. (Sumber: Majalah Oost en West Februari 1934)
Linimasa 24 Mar 2026, 09:30

Mengurai Kemacetan di Jalur Wisata Ciwidey

Satlantas Polresta Bandung menerapkan penebalan personel, contra flow, dan buka tutup jalan untuk mengurai kemacetan di jalur wisata Ciwidey saat musim liburan.

Satlantas Polresta Bandung mengurai kemacetan di jalur Ciwidey. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Mar 2026, 09:27

Kalkulasi yang Mati: Mengapa Bertani Tak Lagi Rasional bagi Generasi Muda?

Minat pemuda di sektor tani bukan soal gengsi, melainkan respons logis atas asimetri pasar dan risiko modal. Saatnya negara hadir melalui asuransi pendapatan dan korporasi lahan yang adil.

Petani menggarap lahan pertaniannya di kawasan Cimenyan, Kabupaten Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 23 Mar 2026, 20:08

Bakso Urat dan Tetelan Pelepas Rindu: Ramainya Warung Bakso di Kota Bandung Setelah Lebaran

Usai Lebaran, warung bakso di Bandung dipadati pengunjung yang mencari hidangan segar seperti bakso urat dan tetelan.

Suasana di bakso urat Alif usai Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 23 Mar 2026, 19:42

Sekitar Separuh Penduduk Kota Bandung Tidak Tahu Golongan Darahnya

Sekitar separuh penduduk Kota Bandung tercatat belum mengetahui golongan darahnya, dengan jumlah mencapai 1,29 juta orang atau 49,84 persen dari total populasi.

Kantong-kantong darah dari pendonor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Andres Fatubun)
Ayo Netizen 23 Mar 2026, 19:08

Beda Hari Satu Kemenangan: Menghargai Landasan Ilmu di Balik Penentuan Hari Raya

Perbedaan hari raya dengan menilik metode mentapkan 1 syawal.

Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)