Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Setiap Habis Ramadhan

kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Senin 23 Mar 2026, 15:19 WIB
Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Suara bedug bertalu-talu, diiringi gema takbir yang bersahutan. Terdengar dari mikrofon masjid, dari kejauhan hingga yang begitu dekat dan jelas. Sesekali kembang api menghiasi langit malam, diiringi rentetan bunyi letusannya. Tanda hari kemenangan telah tiba. Seluruh umat Islam menyambutnya dengan penuh kebahagiaan.

Kebahagiaan itu hadir setelah sebulan penuh berpuasa—menahan lapar dan haus di siang hari, menjaga pandangan, serta menahan lisan agar puasa berbuah pahala.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Baru saja kita bergembira menyambut Ramadhan, kini kita harus berpisah dengan bulan yang penuh ampunan, limpahan pahala, dan keberkahan.

Baru saja kita menikmati kebersamaan dalam ibadah setiap malam—shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, menyimak kuliah subuh, hingga i’tikaf di sepuluh hari terakhir. Kini, semua aktivitas itu seakan ikut pergi bersama berlalunya Ramadhan.

Kesyahduan malam menjelang sahur menjadi momen penting untuk bermuhasabah—mengintrospeksi diri, sejauh mana kualitas dan kuantitas ibadah telah kita maksimalkan. Doa-doa panjang kita panjatkan di malam-malam sepuluh hari terakhir. Tak jarang air mata mengalir tanpa terasa, saat mengingat kesalahan masa lalu atau harapan yang belum terwujud. Kita larut dalam doa, berharap segala permohonan dikabulkan di bulan yang dijanjikan penuh keberkahan.

Namun, kesyahduan itu kini telah berlalu, seiring berakhirnya Ramadhan.

Lalu muncul pertanyaan: apakah ibadah kita diterima oleh Allah? Dan bagaimana cara menjaga agar amal-amal tersebut tetap hidup setelah Ramadhan berlalu?

Bagaimana dengan qiyamul lail atau shalat tarawih yang dahulu rutin kita kerjakan? Bagaimana dengan tilawah Al-Qur’an yang kita targetkan khatam satu, dua, bahkan tiga kali? Mampukah kita menjaga kesinambungannya?

Ada sebuah kaidah yang sering disampaikan para ulama: tanda diterimanya suatu amal adalah Allah memberikan kemudahan untuk melakukan amal kebaikan berikutnya. Artinya, jika kita berharap amalan di bulan Ramadhan diterima, maka semestinya kita berusaha melanjutkannya di bulan-bulan setelahnya.

Memang, suasana dan semangatnya tidak akan sama. Namun, justru di situlah letak keistiqamahan—tetap beramal meski dalam kondisi yang tidak lagi semeriah Ramadhan.

Salah satu amalan yang dianjurkan setelah Ramadhan adalah puasa sunnah di bulan Syawal. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab, membiasakan puasa setelah Ramadhan merupakan tanda diterimanya puasa tersebut. Karena jika Allah menerima suatu amal, Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya untuk melanjutkan dengan amal kebaikan berikutnya.

Oleh karena itu, berakhirnya Ramadhan bukanlah akhir dari peningkatan ibadah kita. Justru seharusnya menjadi awal untuk menjaga dan merawat amal-amal tersebut, serta terus memohon kepada Allah agar ibadah kita diterima dan diberikan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan.

Itu adalah hubungan kita dengan Allah. Lalu bagaimana hubungan kita dengan sesama setelah Ramadhan?

Ramadhan mengajarkan kita arti lapar dan haus—sebuah keadaan yang sering dirasakan oleh kaum dhuafa. Kita hanya memindahkan waktu makan ke sahur dan berbuka, sementara mereka bisa merasakan lapar dan haus kapan saja, tanpa kepastian.

Di sinilah kita belajar empati.

Ramadhan juga mengajarkan kita untuk berbagi. Baik secara pribadi, melalui masjid, maupun institusi—semua berlomba-lomba menyediakan takjil menjelang waktu berbuka. Dorongan ini lahir dari keyakinan bahwa memberi makan orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu sendiri, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kita melihat makanan dan minuman dibagikan di pinggir jalan kepada para pejalan kaki dan pengendara. Masjid-masjid dipenuhi oleh orang-orang yang singgah untuk berbuka. Semua terasa hangat, penuh kepedulian, dan kebersamaan.

Pertanyaannya, apakah semangat berbagi itu akan tetap hidup setelah Ramadhan berlalu?

Jangan sampai kepedulian yang tumbuh selama Ramadhan hanya menjadi kebiasaan musiman. Sebab sejatinya, nilai-nilai yang diajarkan Ramadhan adalah bekal untuk sebelas bulan berikutnya. Rasa empati kepada sesama, kepedulian kepada yang membutuhkan, serta keikhlasan dalam berbagi seharusnya tidak ikut hilang bersama berlalunya bulan suci.

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassalam bersabda:

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah banyaknya amal yang kita lakukan sesaat, tetapi bagaimana kita mampu menjaga kesinambungannya. Sedikit, namun istiqamah—itulah yang bernilai di sisi Allah.

Dalam hadis yang lain, Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassalam  juga bersabda:

"Barang siapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun." (HR. Tirmidzi)

Semangat memberi dan berbagi yang begitu terasa di bulan Ramadhan, sejatinya bisa terus kita hidupkan. Mungkin tidak dalam bentuk yang sama, tetapi dalam berbagai kesempatan yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Akhirnya, Ramadhan telah pergi, namun ruhnya jangan sampai ikut pergi. Biarkan ia tetap hidup dalam diri kita—dalam shalat kita yang lebih terjaga, dalam tilawah yang tetap mengalir, dalam sedekah yang terus bertambah, dan dalam hati yang lebih peka terhadap sesama.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya bertemu dengan Ramadhan, tetapi juga mendapatkan keberkahan dan penerimaan dari-Nya.

Dan semoga, ketika Ramadhan kembali menyapa di tahun yang akan datang, kita masih diberikan kesempatan untuk menyambutnya—dengan iman yang lebih kuat, amal yang lebih baik, dan hati yang lebih bersih.

Sebagai penutup, penggalan bait lirik dari grup legendaris Bimbo ini seakan menjadi suara hati banyak orang dalam mengingat Ramadhan—tentang rindu dan harapan untuk kembali dipertemukan dengannya:

Setiap habis Ramadhan
Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat-saat padat beribadah
Tak terhingga nilai mahalnya

Setiap habis Ramadhan
Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan
Berilah hamba kesempatan

Setiap habis Ramadhan

Rindu hamba tak pernah menghilang
Mohon tambah umur setahun lagi
Berilah hamba kesempatan

Lirik ini bukan sekadar untaian kata, tetapi doa yang terucap lirih dari hati yang merindukan suasana penuh keberkahan. Rindu akan ibadah yang terasa lebih hidup, rindu akan kedekatan dengan Allah yang begitu hangat, dan rindu akan diri yang terasa lebih baik.

Semoga kerinduan ini tidak hanya menjadi perasaan sesaat, tetapi berubah menjadi ikhtiar nyata—untuk menjaga amal, memelihara iman, dan terus melangkah dalam kebaikan.

Dan semoga, jika Allah berkenan, kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang akan datang—dalam keadaan yang lebih siap, lebih kuat, dan lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Beranda 23 Mar 2026, 20:08

Bakso Urat dan Tetelan Pelepas Rindu: Ramainya Warung Bakso di Kota Bandung Setelah Lebaran

Usai Lebaran, warung bakso di Bandung dipadati pengunjung yang mencari hidangan segar seperti bakso urat dan tetelan.

Suasana di bakso urat Alif usai Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Beranda 23 Mar 2026, 19:42

Sekitar Separuh Penduduk Kota Bandung Tidak Tahu Golongan Darahnya

Sekitar separuh penduduk Kota Bandung tercatat belum mengetahui golongan darahnya, dengan jumlah mencapai 1,29 juta orang atau 49,84 persen dari total populasi.

Kantong-kantong darah dari pendonor. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Andres Fatubun)
Ayo Netizen 23 Mar 2026, 19:08

Beda Hari Satu Kemenangan: Menghargai Landasan Ilmu di Balik Penentuan Hari Raya

Perbedaan hari raya dengan menilik metode mentapkan 1 syawal.

Salat Idulfitri di Balai Kota Bandung Berlangsung Khidmat, Jadi Ajang Silaturahmi Warga. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Muslim Yanuar)
Ayo Netizen 23 Mar 2026, 15:19

Setiap Habis Ramadhan

Baru saja kita bergembira menyambut Ramadhan, kini kita harus berpisah dengan bulan suci itu.

Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Mar 2026, 12:26

Ketergantungan Bahan Kimia dalam Pertanian: Tantangan Besar Menuju Sistem Pangan Berkelanjutan

Ketergantungan pupuk dan pestisida kimia mulai merusak kualitas tanah pertanian Indonesia.

Lanskap lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU) di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Senin 7 April 2025 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Seni Budaya 23 Mar 2026, 09:51

Hikayat Kelom Geulis, Sandal Kayu Cantik dari Tasikmalaya yang Tak Pernah Kehilangan Pesona

Kelom geulis adalah sandal kayu khas Tasikmalaya dengan ukiran warna-warni yang anggun. Berawal dari bakiak sederhana, kerajinan ini berkembang menjadi produk budaya yang dikenal hingga pasar internas

Kelom Geulis Tasikmalaya.
Ayo Netizen 23 Mar 2026, 05:17

Habis Lebaran, Tibalah Sampah

Sudah menjadi kebiasaan habis (salat) lebaran (idulfitri), tibalah (darurat) sampah

Darurat sampah di Bandung Raya menyusul peristiwa kebakaran di TPA Sarimukti. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 22 Mar 2026, 20:21

Tetap Mudik, Meski yang Dibawa Cuma Harapan Bukan Baju Baru

Kisah seorang pengemudi ojek online di Bandung yang kehilangan tabungan dan THR, namun tetap memaksakan pulang demi bertemu keluarga saat Lebaran

Pemudik di Stasiun Leuwipanjang pada Kamis 19 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 22 Mar 2026, 19:25

Paradoks Negara Agraris-Maritim: Mengapa Pertanian dan Kelautan Tak Lagi 'Seksi' bagi Investasi?

Indonesia yang kaya akan sumber daya alam, namun potensinya belum menjadi penggerak ekonomi utama.

Aset properti investasi untuk mendukung pertumbuhan sektor kelautan dan perikanan, salah satunya melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Riset Perikanan Budidaya Air Payau dan Penyuluhan Perikanan (BRPBAP3) Maros. (Sumber: kkp.go.id)
Bandung 22 Mar 2026, 15:55

Veancha Menghidupkan Semangat Teh Artisan Lokal di Tengah Arus Kuliner Viral

Veancha mengajak pengunjung untuk menjelajah rasa artisan tea berkualitas tinggi, sebuah pilihan minuman manis yang tetap mengedepankan kualitas bahan baku dibandingkan sekadar kandungan gula.

Kehadiran Veancha di pelataran Mall Tenth Avenue menjadi bukti nyata geliat UMKM lokal yang mulai digandrungi para pecinta kuliner. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 22 Mar 2026, 08:58

Kartu Lebaran dan Suasana Idulfitri di Bandung Era 1990-an

Menjelang Idulfitri pada dekade 1990-an, suasana Kota Bandung tidak hanya dipenuhi aroma kue Lebaran dan kesibukan orang bersiap mudik.

Kartu Lebaran versi ABG. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 20:26

Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi.

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ayo Netizen 21 Mar 2026, 18:20

Idulfitri 1447 H

Hikmah Ramadan itu menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejarah 21 Mar 2026, 06:30

Hikayat Lebaran Seabad Lalu di Bandung, Open House Bupati untuk Pribumi dan Eropa

Laporan majalah kolonial tahun 1926 menunjukkan bagaimana masyarakat Bandung merayakan Idulfitri dengan berbagai tradisi unik.

Lebaran di kediaman Bupati Bandung 1926. (Sumber: Majalah Indie)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)