Setiap Habis Ramadhan

5 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Warga berziarah di Tempat Pemakaman Umum Cikutra, Kota Bandung pada Sabtu, 21 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Suara bedug bertalu-talu, diiringi gema takbir yang bersahutan. Terdengar dari mikrofon masjid, dari kejauhan hingga yang begitu dekat dan jelas. Sesekali kembang api menghiasi langit malam, diiringi rentetan bunyi letusannya. Tanda hari kemenangan telah tiba. Seluruh umat Islam menyambutnya dengan penuh kebahagiaan.

Kebahagiaan itu hadir setelah sebulan penuh berpuasa—menahan lapar dan haus di siang hari, menjaga pandangan, serta menahan lisan agar puasa berbuah pahala.

Waktu terasa begitu cepat berlalu. Baru saja kita bergembira menyambut Ramadhan, kini kita harus berpisah dengan bulan yang penuh ampunan, limpahan pahala, dan keberkahan.

Baru saja kita menikmati kebersamaan dalam ibadah setiap malam—shalat tarawih, tadarus Al-Qur’an, menyimak kuliah subuh, hingga i’tikaf di sepuluh hari terakhir. Kini, semua aktivitas itu seakan ikut pergi bersama berlalunya Ramadhan.

Kesyahduan malam menjelang sahur menjadi momen penting untuk bermuhasabah—mengintrospeksi diri, sejauh mana kualitas dan kuantitas ibadah telah kita maksimalkan. Doa-doa panjang kita panjatkan di malam-malam sepuluh hari terakhir. Tak jarang air mata mengalir tanpa terasa, saat mengingat kesalahan masa lalu atau harapan yang belum terwujud. Kita larut dalam doa, berharap segala permohonan dikabulkan di bulan yang dijanjikan penuh keberkahan.

Namun, kesyahduan itu kini telah berlalu, seiring berakhirnya Ramadhan.

Lalu muncul pertanyaan: apakah ibadah kita diterima oleh Allah? Dan bagaimana cara menjaga agar amal-amal tersebut tetap hidup setelah Ramadhan berlalu?

Bagaimana dengan qiyamul lail atau shalat tarawih yang dahulu rutin kita kerjakan? Bagaimana dengan tilawah Al-Qur’an yang kita targetkan khatam satu, dua, bahkan tiga kali? Mampukah kita menjaga kesinambungannya?

Ada sebuah kaidah yang sering disampaikan para ulama: tanda diterimanya suatu amal adalah Allah memberikan kemudahan untuk melakukan amal kebaikan berikutnya. Artinya, jika kita berharap amalan di bulan Ramadhan diterima, maka semestinya kita berusaha melanjutkannya di bulan-bulan setelahnya.

Memang, suasana dan semangatnya tidak akan sama. Namun, justru di situlah letak keistiqamahan—tetap beramal meski dalam kondisi yang tidak lagi semeriah Ramadhan.

Salah satu amalan yang dianjurkan setelah Ramadhan adalah puasa sunnah di bulan Syawal. Sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Rajab, membiasakan puasa setelah Ramadhan merupakan tanda diterimanya puasa tersebut. Karena jika Allah menerima suatu amal, Dia akan memberi taufik kepada hamba-Nya untuk melanjutkan dengan amal kebaikan berikutnya.

Oleh karena itu, berakhirnya Ramadhan bukanlah akhir dari peningkatan ibadah kita. Justru seharusnya menjadi awal untuk menjaga dan merawat amal-amal tersebut, serta terus memohon kepada Allah agar ibadah kita diterima dan diberikan kekuatan untuk istiqamah dalam kebaikan.

Itu adalah hubungan kita dengan Allah. Lalu bagaimana hubungan kita dengan sesama setelah Ramadhan?

Ramadhan mengajarkan kita arti lapar dan haus—sebuah keadaan yang sering dirasakan oleh kaum dhuafa. Kita hanya memindahkan waktu makan ke sahur dan berbuka, sementara mereka bisa merasakan lapar dan haus kapan saja, tanpa kepastian.

Di sinilah kita belajar empati.

Ramadhan juga mengajarkan kita untuk berbagi. Baik secara pribadi, melalui masjid, maupun institusi—semua berlomba-lomba menyediakan takjil menjelang waktu berbuka. Dorongan ini lahir dari keyakinan bahwa memberi makan orang yang berpuasa akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa itu sendiri, tanpa mengurangi pahalanya sedikit pun.

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Kita melihat makanan dan minuman dibagikan di pinggir jalan kepada para pejalan kaki dan pengendara. Masjid-masjid dipenuhi oleh orang-orang yang singgah untuk berbuka. Semua terasa hangat, penuh kepedulian, dan kebersamaan.

Pertanyaannya, apakah semangat berbagi itu akan tetap hidup setelah Ramadhan berlalu?

Jangan sampai kepedulian yang tumbuh selama Ramadhan hanya menjadi kebiasaan musiman. Sebab sejatinya, nilai-nilai yang diajarkan Ramadhan adalah bekal untuk sebelas bulan berikutnya. Rasa empati kepada sesama, kepedulian kepada yang membutuhkan, serta keikhlasan dalam berbagi seharusnya tidak ikut hilang bersama berlalunya bulan suci.

Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassalam bersabda:

"Amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus, walaupun sedikit." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini mengajarkan bahwa yang terpenting bukanlah banyaknya amal yang kita lakukan sesaat, tetapi bagaimana kita mampu menjaga kesinambungannya. Sedikit, namun istiqamah—itulah yang bernilai di sisi Allah.

Dalam hadis yang lain, Rasulullah Shallallahu ’Alaihi Wassalam  juga bersabda:

"Barang siapa yang memberi makan kepada orang yang berpuasa, maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang berpuasa tersebut, tanpa mengurangi pahala orang itu sedikit pun." (HR. Tirmidzi)

Semangat memberi dan berbagi yang begitu terasa di bulan Ramadhan, sejatinya bisa terus kita hidupkan. Mungkin tidak dalam bentuk yang sama, tetapi dalam berbagai kesempatan yang Allah hadirkan dalam kehidupan kita sehari-hari.

Akhirnya, Ramadhan telah pergi, namun ruhnya jangan sampai ikut pergi. Biarkan ia tetap hidup dalam diri kita—dalam shalat kita yang lebih terjaga, dalam tilawah yang tetap mengalir, dalam sedekah yang terus bertambah, dan dalam hati yang lebih peka terhadap sesama.

Semoga kita termasuk orang-orang yang tidak hanya bertemu dengan Ramadhan, tetapi juga mendapatkan keberkahan dan penerimaan dari-Nya.

Dan semoga, ketika Ramadhan kembali menyapa di tahun yang akan datang, kita masih diberikan kesempatan untuk menyambutnya—dengan iman yang lebih kuat, amal yang lebih baik, dan hati yang lebih bersih.

Sebagai penutup, penggalan bait lirik dari grup legendaris Bimbo ini seakan menjadi suara hati banyak orang dalam mengingat Ramadhan—tentang rindu dan harapan untuk kembali dipertemukan dengannya:

Setiap habis Ramadhan
Hamba rindu lagi Ramadhan
Saat-saat padat beribadah
Tak terhingga nilai mahalnya

Setiap habis Ramadhan
Hamba cemas kalau tak sampai
Umur hamba di tahun depan
Berilah hamba kesempatan

Setiap habis Ramadhan

Rindu hamba tak pernah menghilang
Mohon tambah umur setahun lagi
Berilah hamba kesempatan

Lirik ini bukan sekadar untaian kata, tetapi doa yang terucap lirih dari hati yang merindukan suasana penuh keberkahan. Rindu akan ibadah yang terasa lebih hidup, rindu akan kedekatan dengan Allah yang begitu hangat, dan rindu akan diri yang terasa lebih baik.

Semoga kerinduan ini tidak hanya menjadi perasaan sesaat, tetapi berubah menjadi ikhtiar nyata—untuk menjaga amal, memelihara iman, dan terus melangkah dalam kebaikan.

Dan semoga, jika Allah berkenan, kita semua dipertemukan kembali dengan Ramadhan yang akan datang—dalam keadaan yang lebih siap, lebih kuat, dan lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula
Tag Terkait

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Jun 2026, 20:33

Menggerakkan Idealisme Mahasiswa Berprestasi

Apa yang membuat mahasiswa semangat menjalani hari-hari dan mengubah dirinya?

Ilustrasi gerakan mahasiswa berprestasi. (Sumber: Gemini AI | Foto: Gemini AI)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 19:38

Cek Kesehatan Gratis dan Investasi SDM Indonesia Emas 2045

Menganalisa manfaat Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) untuk mencapai Indonesia Emas 2045.

Cek Kesehatan Gratis (Sumber: https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis | Foto: https://ayosehat.kemkes.go.id/cek-kesehatan-gratis)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 18:39

Transformasi Perkebunan Karet Alam di Jabar, Mungkinkah?

Industri berbasis karet alam di Jawa Barat saat ini menghadapi tantangan penurunan produktivitas lahan dan pasokan lateks .

Ilustrasi perkebunana karet di Jawa Barat (Sumber: freepik)
Wisata & Kuliner 26 Jun 2026, 17:25

Panduan Berkunjung ke Pantai Sawarna: Delapan Pantai, Gua, dan Lanskap Pesisir di Selatan Banten

Jelajahi Pantai Sawarna di Lebak, Banten, dengan deretan pantai indah, gua karst, spot surfing, dan panorama Samudra Hindia yang memukau.

Sunset Pantai Tanjung Layar Sawarna. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 16:30

Perempuan dan Polarisasi Modern

Perubahan zaman modern terkadang masih diselimuti oleh isu-isu kaum marjinal, terutama kaum perempuan.

Ilustrasi perempuan Indonesia. (Sumber: Pexels | Foto: Ruly Nurul Ihsan)
Linimasa 26 Jun 2026, 16:25

Hikayat Pelatih Kuda Renggong, Bisa Berganti Ratusan Kuda Karena Tidak Cocok

Menjadi pelatih kuda renggong tak hanya butuh keahlian, tetapi juga chemistry. Usep telah berganti ratusan kuda demi menemukan pasangan terbaik.

Usep, salah seorang pelatih kuda renggong di Ujungberung, Kota Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 16:03

Publikasi Hasil Lisensi Klub Berhasil Menjaga Konsistensi Komunikasi pada Dua Platform Digital

Konsistensi komunikasi menjadi kunci kredibilitas sebuah perusahaan. Artikel ini menganalisis konsistensi komunikasi PT I.League pada dua platform digital.

Persib Bandung Vs Semen Padang FC. (Sumber: ileague.id)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 15:24

Mengenal Karel Albert Rudolf Bosscha

Karel Albert Rudolf Bosscha merupakan salah satu figur Belanda yang berperan dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan pendidikan di Indonesia

Karel Albert Rudolf Bosscha. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Jodya Maulana)
Linimasa 26 Jun 2026, 15:18

Hikayat Kampung Pembuat Panci di Bandung, Bertahan di Tengah Perubahan Zaman

Kampung Cikalang Kaler di Bandung telah puluhan tahun memproduksi panci. Kini mereka bertahan di tengah perubahan teknologi dapur modern.

Pengrajin di kampung pembuat panci Cileunyi, Kabupaten Bandung, bertahan di tengah perubahan zaman. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 15:04

Perkembangan Industri Perfilman Indonesia dari Tahun 1950-2026

Menelisik sejarah panjang perfilman di Indonesia dan karya-karya tersohor yang muncul sepanjang delapan dekade.

Judul film Darah dan Doa (1950). Film pertama yang diproduksi oleh orang Indonesia (Sumber: Wikipedia)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 14:33

Eksistensi Arumba sebagai Musik Tradisional Sunda di Tengah Modernisasi

Arumba merupakan alat musik tradisional dari Sunda yang masih eksis hingga saat ini meskipun berada di tengah arus modernisasi.

Kegiatan siswa memainkan Arumba sebagai bentuj pelestarian seni musik tradisional Sunda di lingkungan sekolah (Sumber: dokumentasi pribadi)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 14:13

Kuy Ah ... ke Sekolah Swasta

Melihat sekolah swasta yang sekarang semakin banyak melahirkan pelajar berprestasi hebat.

Ilustrasi siswa sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Airlangga Jati)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 13:09

Perbankan di Indonesia Integrasikan UMKM dalam Membangun Citra Positif

Publikasi BSI terkait integrasi UMKM halal menarik dianalisis: website menggunakan kata kunci formal, sedangkan Instagram menggunakan bahasa yang lebih sederhana bagi audiens.

Kedai-kedai UMKM di Pasar Cihapit, Kota Bandung. (Foto: Ayobandung.com/Kavin Faza)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 12:50

Dari Patriarki ke Femisida: Membaca Kekerasan terhadap Perempuan sebagai Warisan Struktur Historis

Bagaimana sistem kuasa yang diwariskan lintas generasi membentuk, menormalkan, dan melanggengkan kekerasan terhadap perempuan hingga titik terparahnya.

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Istimewa)
Wisata & Kuliner 26 Jun 2026, 11:25

Panduan Berkunjung ke Lembang Park and Zoo: Kebun Binatang Bergaya Eropa di Dataran Tinggi Bandung

Lembang Park and Zoo menawarkan kebun binatang modern, wahana bermain, safari mini, hingga cat café unik di kawasan sejuk Lembang.

Lembang Park and Zoo. (Sumber: Ayomedia | Foto: Restu Nugraha)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 09:42

HANI dan Tren Modus Operandi Kasus Narkotika

Bandung Raya kian rawan narkoba dengan adanya industri rumahan tembakau sintetis.

Polda Jabar musnahkan narkotika. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Rahmat Kurniawan))
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 09:16

Peringatan Darurat Kekerasan terhadap Perempuan

Mata dibutakan, bibir digunting: krisis keamanan berbasis gender yang mengancam perempuan.

Ilustrasi kekerasan terhadap perempuan. (Sumber: Unplash)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 08:20

Memperjuangkan Representasi Anak-Anak Autis Bersama Komunitas Autistik

Peluncuran Boneka Barbie autis pada website dan instagram PT Mattel menunjukkan bentuk penghargaan dan penghormatan kepada anak-anak penyandang autisme dalam bentuk boneka.

Ilustrasi anak autisme. (Sumber: Pexels | Foto: Mah mud)
Ayo Netizen 26 Jun 2026, 07:56

Makna Sejati Karangan Bunga KDM untuk Jakarta

Provinsi lain perlu belajar dari Jakarta terkait dengan keberhasilan mendongkrak indeks pembangunan manusia (IPM) dan sukses menata sistem pengembangan SDM.

Karangan bunga KDM untuk HUT Jakarta (Sumber: tangkapan layar)
Ayo Netizen 25 Jun 2026, 20:12

Kembang Tanpa Dedaunan

Menjaga kondisi hawa atau cuaca di Kota Bandung agar tidak menjadi lebih panas di tahun-tahun berikiutnya sesuai dengan tema hari Lingkungan Hidup sedunia tahun 2026.

The Rollies (1972). (Sumber: Wikimedia Commons)