Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan Jumat 20 Mar 2026, 16:54 WIB
Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Menjelang Hari Raya Idulfitri, ada satu kebiasaan yang hampir selalu terulang di berbagai sudut kota: orang-orang berbondong-bondong mencari tempat potong rambut.

Bagi sebagian orang, rambut rapi bukan sekadar soal penampilan, melainkan bagian dari kesiapan menyambut momen sakral yaitu bertemu keluarga, bersilaturahmi, hingga menghadiri berbagai acara.

Namun, di Kota Bandung, tradisi ini menghadirkan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, barbershop dipadati pelanggan yang rela mengantre. Di sisi lain, tukang cukur DPR alias Di bawah Pohon Rindang justru menghadapi kenyataan yang tak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Di Barber Shop Sawargi, suasana menjelang Lebaran terasa lebih sibuk dari biasanya. Kursi-kursi hampir tak pernah kosong, sementara pelanggan datang silih berganti sejak pagi hari. Tempat potong rambut yang telah berdiri sejak 1949 ini bukan sekadar ruang jasa, melainkan saksi perjalanan panjang usaha keluarga lintas generasi.

Risyad Erawan Harjani menjaga tradisi langgannya di tengah tantangan tren barbershop yang modern. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Risyad Erawan Harjani menjaga tradisi langgannya di tengah tantangan tren barbershop yang modern. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Risyad Erawan Harjani (50), generasi ketiga pengelola barbershop tersebut, mengatakan lonjakan pelanggan menjelang hari besar memang sudah menjadi pola yang berulang setiap tahun.

“Kalau mau Lebaran atau hari-hari besar seperti Tahun Baru atau Imlek, pasti lebih ramai. Bahkan orang-orang harus nge-WA dulu untuk booking. Kalau hari biasa santai, tapi sekarang bisa penuh terus,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, barbershop ini melayani sekitar 25 hingga 35 pelanggan per hari. Namun saat mendekati Lebaran, jumlah tersebut meningkat drastis.

“Bisa sampai 50, bahkan hampir 70 orang per hari. Jadi memang hampir dua kali lipat dari biasanya,” kata Risyad, yang akrab disapa Pa Icad.

Menariknya, di tengah lonjakan tersebut, pihak barbershop tetap mempertahankan harga normal tanpa menaikkan tarif.

“Potong rambut tetap Rp45 ribu. Kalau ada tambahan seperti cuci atau pijat, baru ada biaya tambahan. Tapi untuk harga dasar, kami tidak naik,” jelasnya.

Bagi Risyad, menjaga konsistensi layanan menjadi hal penting untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan yang telah datang selama puluhan tahun.

Namun, di balik eksistensinya, barbershop ini juga menghadapi tantangan zaman, terutama dalam mengikuti tren gaya rambut anak muda.

“Kalau jujur, model rambut Gen Z itu agak sulit diikuti barberman kami. Karena kebanyakan sudah terbiasa dengan model lama, sementara sekarang modelnya lebih kompleks. Itu jadi tantangan tersendiri,” ungkapnya.

Berdiri sejak 1949, Barbershop Sawargi menjadi saksi perjalanan usaha lintas generasi yang tetap bertahan di tengah perubahan tren. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Berdiri sejak 1949, Barbershop Sawargi menjadi saksi perjalanan usaha lintas generasi yang tetap bertahan di tengah perubahan tren. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Di bawah pohon rindang di Jalan Malabar, lapak cukur sederhana tetap setia melayani pelanggan meski suasana tak seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Di bawah pohon rindang di Jalan Malabar, lapak cukur sederhana tetap setia melayani pelanggan meski suasana tak seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di Bawah Pohon Rindang

Berbeda dengan kondisi di barbershop, cerita lain datang dari Yana Mulyana (55), tukang cukur DPR yang setiap hari membuka lapaknya di di kawasan Jalan Malabar.

Selama 25 tahun menekuni profesi ini, ia sudah terbiasa menghadapi lonjakan pelanggan menjelang Lebaran. Namun tahun ini, situasinya justru berbeda.

“Tahun sekarang beda. Justru lebih sepi. Biasanya seminggu sebelum Lebaran itu ramai terus dari pagi sampai siang. Sekarang paling dua atau tiga hari saja sebelum Lebaran,” katanya.

Ia menceritakan, pada tahun-tahun sebelumnya, pelanggan bisa datang tanpa henti sejak pagi hingga siang hari. Bahkan, antrean sering terjadi.

“Dulu dari pagi sampai jam dua siang terus motong rambut. Sekarang paling pagi sampai jam 11 ada, habis itu kosong lagi. Kadang sampai jam empat juga tidak ada,” ujarnya.

Penurunan jumlah pelanggan ini berdampak langsung pada penghasilannya. Jika sebelumnya ia bisa melayani hingga 30 orang per hari, kini jumlah tersebut turun drastis.

“Sekarang paling 10 orang sehari. Dulu bisa sampai 30. Jauh sekali bedanya,” katanya.

Hal serupa juga terlihat dari sisi pendapatan. Jika dulu ia bisa meraih Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari menjelang Lebaran, kini angkanya menurun signifikan.

“Sekarang paling Rp200 ribuan. Kadang tidak sampai. Bahkan lebih baik hari biasa dibanding sekarang,” ungkapnya.

Ia menduga perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi hingga perubahan kebiasaan masyarakat. Selain itu, faktor alam juga menjadi tantangan tersendiri bagi tukang cukur jalanan.

“Kalau hujan atau panas sekali, itu berpengaruh. Angin besar juga berpengaruh. Jadi memang tergantung cuaca,” katanya.

Meski demikian, ia tetap bertahan membuka lapaknya dari pagi hingga sore, berharap pelanggan tetap datang meski tak seramai dulu.

Di tengah dua kondisi yang kontras tersebut, pelanggan tetap memiliki alasan yang sama: ingin tampil rapi saat Lebaran.

Dida (23), salah satu pelanggan di Barber Shop Sawargi, mengaku potong rambut menjadi bagian dari persiapannya menyambut hari raya.

“Rambut saya sudah panjang dan tidak rapi. Apalagi mau Lebaran, mau ketemu banyak orang, bukber juga. Jadi ingin terlihat rapi dan fresh,” ujarnya.

Ia bahkan memilih barbershop tersebut secara spontan, hanya karena tertarik dengan tampilan tempatnya.

“Saya lihat dari luar tempatnya bagus, terlihat vintage. Saya berpikir kalau tempatnya bagus, barber-nya juga bagus. Jadi langsung coba ke sini,” katanya.

Meski bukan kebiasaan rutin setiap tahun, menurutnya potong rambut menjelang Lebaran tetap memiliki makna tersendiri.

“Tidak selalu setiap Lebaran harus potong. Tapi kalau sudah tidak rapi, apalagi mau ketemu keluarga, jadi ingin lebih rapi saja,” ujarnya.

Menurutnya, fenomena potong rambut sebelum Lebaran lebih berkaitan dengan keinginan untuk tampil percaya diri.

“Karena mau ketemu banyak orang, jadi ingin terlihat fresh. Biar lebih enak juga dilihat,” tambahnya.

Potong rambut menjelang Lebaran bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat merayakan momen kebersamaan. Di sisi lain, bagi Risyad dan Yanan, Lebaran juga menjadi cermin bagaimana perubahan zaman, tren, dan kondisi ekonomi ikut memengaruhi usaha dan kehidupan mereka.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 20 Mar 2026, 19:10

Yang Gak Mudik, Yuk Wisata Bandung Dilirik

Warga Bandung yang gak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Manfaatnya menggerakkan perekonomian lokal di Bandung.

Sarae Hills destinasi wisata yang tidak hanya indah, tapi juga Instagrammable. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 17:24

Idulfitri, Syawal dan Lebaran: Jalan Pulang dan Lima Tahap Pemaafan

Idulfitri, syawal dan lebaran bukan sebatas perayaan, tetapi sejuta lapisan makna yang mengantarkan manusia pada kesadaran dan peningkatan diri.

Ilustrasi suasana Idulfitri, Syawal dan Lebaran. (Sumber: Ozgar Jan dari Pixabay)
Beranda 20 Mar 2026, 16:54

Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

Tradisi potong rambut menjelang Lebaran di Kota Bandung menunjukkan kontras yang mencolok. Barbershop dipadati pelanggan, sementara lapak cukur DPR kian sepi.

Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 20 Mar 2026, 15:48

Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Nyepi mengajarkan kita sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan.

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)
Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 15:02

Pedas di Lidah, Pedas di Kantong

Di bulan Ramadhan ini konsumsi cabai biasanya meningkat cukup tajam.

16 pilihan sambal khas Nusantara dari Warung Sangrai. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 18 Mar 2026, 15:01

Tahun Ini Ada 12,74 Juta Orang Mudik Naik Motor, Ini Cerita Pilihan Hemat dan Konsekuensinya

Mudik Lebaran 2025 diprediksi melibatkan 12,74 juta pemudik sepeda motor, menjadikannya salah satu moda transportasi paling dominan di Indonesia.

Pemudik sepeda motor melintasi jalur utama di Kota Bandung dengan membawa barang bawaan saat mudik Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 13:12

Kalau Nggak Macet Bukan Mudik Namanya, tapi Pulang Pergi!

Dulu, sekitar awal 2000-an, mudik itu bukan sekadar perjalanan pulang—itu semacam ujian iman versi jalan raya.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)