Tradisi Potong Rambut Lebaran di Kota Bandung: Antrean Panjang di Barbershop dan Lapak DPR yang Makin Sepi

4 menit baca
Ilham Maulana
Ditulis oleh Ilham Maulana diterbitkan
Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Yana Mulyana dengan ruang ala kadarnya tetap bertahan di bawah rindang pohon Jalan Malabar, Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

AYOBANDUNG.ID - Menjelang Hari Raya Idulfitri, ada satu kebiasaan yang hampir selalu terulang di berbagai sudut kota: orang-orang berbondong-bondong mencari tempat potong rambut.

Bagi sebagian orang, rambut rapi bukan sekadar soal penampilan, melainkan bagian dari kesiapan menyambut momen sakral yaitu bertemu keluarga, bersilaturahmi, hingga menghadiri berbagai acara.

Namun, di Kota Bandung, tradisi ini menghadirkan dua wajah yang berbeda. Di satu sisi, barbershop dipadati pelanggan yang rela mengantre. Di sisi lain, tukang cukur DPR alias Di bawah Pohon Rindang justru menghadapi kenyataan yang tak seramai tahun-tahun sebelumnya.

Di Barber Shop Sawargi, suasana menjelang Lebaran terasa lebih sibuk dari biasanya. Kursi-kursi hampir tak pernah kosong, sementara pelanggan datang silih berganti sejak pagi hari. Tempat potong rambut yang telah berdiri sejak 1949 ini bukan sekadar ruang jasa, melainkan saksi perjalanan panjang usaha keluarga lintas generasi.

Risyad Erawan Harjani menjaga tradisi langgannya di tengah tantangan tren barbershop yang modern. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Risyad Erawan Harjani menjaga tradisi langgannya di tengah tantangan tren barbershop yang modern. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Risyad Erawan Harjani (50), generasi ketiga pengelola barbershop tersebut, mengatakan lonjakan pelanggan menjelang hari besar memang sudah menjadi pola yang berulang setiap tahun.

“Kalau mau Lebaran atau hari-hari besar seperti Tahun Baru atau Imlek, pasti lebih ramai. Bahkan orang-orang harus nge-WA dulu untuk booking. Kalau hari biasa santai, tapi sekarang bisa penuh terus,” ujarnya.

Dalam kondisi normal, barbershop ini melayani sekitar 25 hingga 35 pelanggan per hari. Namun saat mendekati Lebaran, jumlah tersebut meningkat drastis.

“Bisa sampai 50, bahkan hampir 70 orang per hari. Jadi memang hampir dua kali lipat dari biasanya,” kata Risyad, yang akrab disapa Pa Icad.

Menariknya, di tengah lonjakan tersebut, pihak barbershop tetap mempertahankan harga normal tanpa menaikkan tarif.

“Potong rambut tetap Rp45 ribu. Kalau ada tambahan seperti cuci atau pijat, baru ada biaya tambahan. Tapi untuk harga dasar, kami tidak naik,” jelasnya.

Bagi Risyad, menjaga konsistensi layanan menjadi hal penting untuk mempertahankan kepercayaan pelanggan yang telah datang selama puluhan tahun.

Namun, di balik eksistensinya, barbershop ini juga menghadapi tantangan zaman, terutama dalam mengikuti tren gaya rambut anak muda.

“Kalau jujur, model rambut Gen Z itu agak sulit diikuti barberman kami. Karena kebanyakan sudah terbiasa dengan model lama, sementara sekarang modelnya lebih kompleks. Itu jadi tantangan tersendiri,” ungkapnya.

Berdiri sejak 1949, Barbershop Sawargi menjadi saksi perjalanan usaha lintas generasi yang tetap bertahan di tengah perubahan tren. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Berdiri sejak 1949, Barbershop Sawargi menjadi saksi perjalanan usaha lintas generasi yang tetap bertahan di tengah perubahan tren. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Di bawah pohon rindang di Jalan Malabar, lapak cukur sederhana tetap setia melayani pelanggan meski suasana tak seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Di bawah pohon rindang di Jalan Malabar, lapak cukur sederhana tetap setia melayani pelanggan meski suasana tak seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)

Di Bawah Pohon Rindang

Berbeda dengan kondisi di barbershop, cerita lain datang dari Yana Mulyana (55), tukang cukur DPR yang setiap hari membuka lapaknya di di kawasan Jalan Malabar.

Selama 25 tahun menekuni profesi ini, ia sudah terbiasa menghadapi lonjakan pelanggan menjelang Lebaran. Namun tahun ini, situasinya justru berbeda.

“Tahun sekarang beda. Justru lebih sepi. Biasanya seminggu sebelum Lebaran itu ramai terus dari pagi sampai siang. Sekarang paling dua atau tiga hari saja sebelum Lebaran,” katanya.

Ia menceritakan, pada tahun-tahun sebelumnya, pelanggan bisa datang tanpa henti sejak pagi hingga siang hari. Bahkan, antrean sering terjadi.

“Dulu dari pagi sampai jam dua siang terus motong rambut. Sekarang paling pagi sampai jam 11 ada, habis itu kosong lagi. Kadang sampai jam empat juga tidak ada,” ujarnya.

Penurunan jumlah pelanggan ini berdampak langsung pada penghasilannya. Jika sebelumnya ia bisa melayani hingga 30 orang per hari, kini jumlah tersebut turun drastis.

“Sekarang paling 10 orang sehari. Dulu bisa sampai 30. Jauh sekali bedanya,” katanya.

Hal serupa juga terlihat dari sisi pendapatan. Jika dulu ia bisa meraih Rp400 ribu hingga Rp500 ribu per hari menjelang Lebaran, kini angkanya menurun signifikan.

“Sekarang paling Rp200 ribuan. Kadang tidak sampai. Bahkan lebih baik hari biasa dibanding sekarang,” ungkapnya.

Ia menduga perubahan ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi ekonomi hingga perubahan kebiasaan masyarakat. Selain itu, faktor alam juga menjadi tantangan tersendiri bagi tukang cukur jalanan.

“Kalau hujan atau panas sekali, itu berpengaruh. Angin besar juga berpengaruh. Jadi memang tergantung cuaca,” katanya.

Meski demikian, ia tetap bertahan membuka lapaknya dari pagi hingga sore, berharap pelanggan tetap datang meski tak seramai dulu.

Di tengah dua kondisi yang kontras tersebut, pelanggan tetap memiliki alasan yang sama: ingin tampil rapi saat Lebaran.

Dida (23), salah satu pelanggan di Barber Shop Sawargi, mengaku potong rambut menjadi bagian dari persiapannya menyambut hari raya.

“Rambut saya sudah panjang dan tidak rapi. Apalagi mau Lebaran, mau ketemu banyak orang, bukber juga. Jadi ingin terlihat rapi dan fresh,” ujarnya.

Ia bahkan memilih barbershop tersebut secara spontan, hanya karena tertarik dengan tampilan tempatnya.

“Saya lihat dari luar tempatnya bagus, terlihat vintage. Saya berpikir kalau tempatnya bagus, barber-nya juga bagus. Jadi langsung coba ke sini,” katanya.

Meski bukan kebiasaan rutin setiap tahun, menurutnya potong rambut menjelang Lebaran tetap memiliki makna tersendiri.

“Tidak selalu setiap Lebaran harus potong. Tapi kalau sudah tidak rapi, apalagi mau ketemu keluarga, jadi ingin lebih rapi saja,” ujarnya.

Menurutnya, fenomena potong rambut sebelum Lebaran lebih berkaitan dengan keinginan untuk tampil percaya diri.

“Karena mau ketemu banyak orang, jadi ingin terlihat fresh. Biar lebih enak juga dilihat,” tambahnya.

Potong rambut menjelang Lebaran bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia menjadi bagian dari cara masyarakat merayakan momen kebersamaan. Di sisi lain, bagi Risyad dan Yanan, Lebaran juga menjadi cermin bagaimana perubahan zaman, tren, dan kondisi ekonomi ikut memengaruhi usaha dan kehidupan mereka.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

News Update

Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 16:03

Mengapa Sejarah Kelam G30S Harus Tetap Dibaca?

Seyogianya sejarah harus tetap dibaca, meski itu adalah sejarah kelam. Sejarah bukanlah alat untuk menebar kebencian, tetapi dari sejarah kita belajar. Pentingnya menjaga nilai-nilai Pancasila.

Poster rilis film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI tahun 1984 oleh Perusahaan Produksi Film Negara. (Sumber: Wikimedia Commons)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 13:53

Mengapa Hari Tani dan Reforma Agraria Penting bagi Warga Bandung?

Petani dan usaha pertanian di Kota Bandung masih ada dan terus bertahan,

Hamparan sampah di kota Bandung dan petani yang sedang beraktivitas (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 09:25

Kenapa Biaya Publish Scopus Berbeda? Simak Alasannya!

Biaya publikasi jurnal Scopus sering disalahpahami akademisi. Pahami siapa yang menetapkan biayanya, cara cek tarif resmi, dan cara menyusun anggaran publikasi yang realistis.

Ilustrasi akademisi sedang menyusun jurnal ilmiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ron Lach)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 08:34

Pelecehan terhadap Perempuan di Ruang Keagamaan

Pelecehan seksual terhadap perempuan tidak menutup kemungkinan terjadi di ruang-ruang keagamaan.

Perempuan seringkali menjadi satu-satunya korban yang harus menanggung traumanya juga beban sosial yang seharusnya ditanggung oleh para pelaku. (Sumber: pexels)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 20:44

KDM Muncul di 'Financial Times' dan Sinyal Radar Kekuasaan Global

Ketika Financial Times mengangkat KDM dalam salah satu reportasenya, yang terjadi bukan sekadar peliputan, melainkan juga sinyal ihwal adanya potensi perubahan lanskap politik.

Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 19:26

Dari Wilayah Ilir ke Ulu: Sejarah Jembatan Ampera Peninggalan Soekarno

Jembatan Ampera merupakan jembatan yang menghubungi kedua wilayah yaitu Ulu dan Ilir yang terpisah oleh Sungai Musi. Jembatan ini menyimpan berbagai sejarah yang tersimpan di dalamnya.

 (Sumber: Balai Diklat Keuangan Palembang | Foto: Angga Sunda Prima)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 17:23

Ikon Bandung Pilihan Saya: 'Toko Buku Djawa'

Toko Buku Djawa bukan sekadar toko buku lama di Braga, tetapi juga bagian dari memori masa kecil dan jejak perubahan budaya kawasan tersebut.

Etalase toko buku Djawa di Jalan Braga no. 79, Kota Bandung. (Sumber: Flickr | Foto: fatmanabilla)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 16:27

Review Ingatan Sosok Figur Publik yang Pernah Menjabat Walikota Bandung

Setiap pemimpin akan meninggalkan kesan dan jejak sejarah. Sosok walikota Bandung yang diketengahkan di sini adalah Ateng Wahyudi dan Dada Rosada. Layak menjadi sosok figur publik untuk dikenang.

Walikota dari masa ke masa : R. Husein Wangsaatmadja (1976 - 1983), H. Ateng Wahyudi (1983 - 1993), Wahyu Hamidjaja (1983 - 1998), Aa Tarmana (1998 - 2003). (Sumber: Instagram | Foto: Musium Kota Bandung)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 15:23

Konservasi Khusus Owa dan Celepuk Indonesia

Lindungi owa, primata setia Indonesia dan celepuk, burung hantu kecil Indonesia dari kepunahan. Upaya konservasi habitat dan penyelamatan satwa ini demi menjaga keseimbangan ekosistem hutan berharga.

Owa Jawa. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: A.Baihaqi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 13:59

Keadilan Ekonomi untuk Guru

Guru masih diposisikan sebagai pahlawan, itu pun tanpa tanda jasa, tanpa ada jalan keluarnya, menganggap bahwa guru hanya sukarela, keilmuannya tidak sebesar gaji karyawan non pendidikan.

Sejumlah siswa saat beraktivitas di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 8 Cimahi, Jalan Kerkof, Kota Cimahi, Kamis 18 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 10:26

Potret Destinasi dan Lanskap Kuliner Bogor Tahun 2000

Memasuki milenium baru pada tahun 2000, Bogor tetap mengukuhkan posisinya sebagai destinasi gastronomi yang tak lekang oleh waktu.

Es Pala, minuman segar khas Bogor. (Sumber: ChatGPT | Foto: Ilustrasi oleh AI)
Ayo Netizen 23 Sep 2026, 09:02

Ada Warga yang Mungkin Hilang dari Radar Data Pemerintah Kota Bandung

Kehidupan bergerak cepat, sementara pemutakhiran data bergerak lambat. Maka, muncullah apa yang diistilahkan sebagai invisible citizens.

Warga sedang antre menerima bantuan sosial. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 18:33

Jika Ada Lagi Taman Nasional atau Taman Hutan Raya Baru di Jawa Barat

Menelusuri peluang hadirnya taman nasional atau taman hutan raya (tahura) baru sebagai benteng keanekaragaman hayati, pelindung ekosistem (flora dan fauna) serta oasis hijau masa depan Bumi Pasundan.

Bagas Aji Prakoso saat menjajal Tahura Djuanda. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 16:50

Ketika Idealisme Pengabdian Gen-Z Membentur Tembok Kaku Birokrasi

Artikel opini ini membahas paradoks antara idealisme pengabdian ASN Generasi Z dan budaya birokrasi yang masih dianggap kaku.

Tumpukan Berkas. (Sumber: Chat GPT | Foto: AI Chat GPT)
Ayo Netizen 22 Sep 2026, 15:05

Jalur FM: Ketika Suara dari Udara Menjadi Lebih Jernih

Sebelum gelombang FM semakin ramai di Bandung, perubahan serupa lebih dahulu terasa di Jakarta.

Studio Radio OZ Bandung di Jl. Setrasari II No. 14, Bandung. Radio OZ menjadi salah satu stasiun radio di Bandung yang termasuk awal bermigrasi dari jalur AM ke FM. (Sumber: Istimewa)