AYOBANDUNG.ID - Hari-hari terakhir menuju Hari Raya Idulfitri, suasana Asrama Salman ITB tidak seramai biasanya. Sinar matahari tetap menyoroti koridor asrama dengan hangat. Pohon-pohon bergerak perlahan mengikuti angin, seolah tidak menyadari bahwa beberapa orang di sana sedang merasakan kerinduan yang mendalam.
Pemerintah sendiri melalui Kementerian Agama (Kemenag) telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idulfitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Penetapan itu diumumkan langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar usai memimpin sidang isbat pada Kamis (19/3/2026). Di tengah kepastian hari kemenangan itu, tidak semua orang dapat merayakannya dengan cara yang sama.
Di tengah ramainya rencana pulang yang memenuhi obrolan penghuni asrama di grup WhatsApp, Mutiara Indah Lestari (21), yang akrab dipanggil Yara, justru memilih untuk tetap tinggal. Ia tidak menyiapkan koper atau menghitung hari untuk pulang, melainkan mempersiapkan diri untuk merayakan Lebaran yang berbeda.
“Ini pertama kalinya aku benar-benar Lebaran tidak pulang dan tidak kumpul keluarga,” ujar Yara sambil tersenyum tipis saat ditemui di Lapangan Cinta ITB.
Keputusan ini tidak muncul tiba-tiba. Ada perhitungan panjang yang mendorong Yara untuk tidak pulang ke Padang, kota asalnya, pada Lebaran tahun ini.
“Tiket ke Padang bisa sampai Rp4 jutaan sekali jalan, jadi terasa berat kalau harus pulang-pergi,” jelasnya.
Selain biaya, tanggung jawab akademik juga memaksanya untuk tinggal. Ia sadar setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi.
Tahun ini, Yara sedang dihadapkan pada proyek lomba yang tengah ia kerjakan. Dengan waktu libur yang tidak cukup panjang dan ujian kampus yang sudah di depan mata, ia semakin yakin memilih berlebaran di kota orang.
“Jadi ada yang harus dikorbankan, antara waktu, biaya, dan tanggung jawab,” katanya.
Kerinduan itu tak selalu datang dengan cara yang dramatis. Kadang, ia hadir di momen-momen sederhana, seperti saat melihat orang lain bersenang-senang bersama keluarga.
“Aku lihat orang-orang di mal belanja sama keluarganya, sedangkan aku sendiri. Rasanya bukan kesepian, tapi ada yang kurang,” ungkap Yara. Nada bicaranya menyimpan kesedihan tipis, meski senyumnya tetap terjaga.
Namun, malam takbiran menjadi puncaknya. Di situlah semua yang ia tahan perlahan runtuh.
“Aku sempat nangis karena membayangkan suasana di rumah. Tahun ini keluarga besar kumpul semua, dan yang tidak pulang cuma aku,” katanya pelan.
Walaupun tidak pulang, Yara berusaha menemukan makna Lebarannya sendiri. Ia mencari kegiatan agar hari raya tetap terasa meriah.
“Aku bakal ikut kegiatan di Salman, terus mungkin ke open house rumah rektor ITB, biar nggak ngerasa sendiri,” ujarnya.
Baginya, mengisi waktu bukan sekadar distraksi, tetapi cara bertahan agar rindu tidak datang terlalu kuat.
Merayakan Lebaran tanpa pulang berarti kehilangan banyak hal kecil yang biasanya dianggap biasa. Bagi Yara, ada lima tradisi di Padang yang tahun ini hanya bisa ia kenang.
Pertama, manambang, tradisi anak-anak berkeliling ke rumah warga untuk bersilaturahmi dan mendapatkan THR.
Kedua, malamang, hidangan khas berupa kue yang dimasak dalam bambu, kemudian dipotong kecil-kecil dan disajikan kepada tamu.
Ketiga, katupe, sebutan ketupat bagi masyarakat Padang yang disantap pagi hari setelah salat Id sebagai pembuka kebersamaan keluarga.
Keempat, rendang, hidangan khas Minang yang biasanya disajikan dari sore hingga malam hari.
Kelima, pulang basamo, tradisi besar masyarakat Minangkabau yang merantau untuk kembali ke kampung halaman secara bersamaan saat Lebaran.
Yara menjelaskan satu per satu tradisi itu dengan penuh semangat, sesekali mengecek catatan di tab ponselnya. Seolah ingin menunjukkan betapa besar rasa memiliki terhadap kampung halamannya.
Semua itu kini hanya tersimpan dalam ingatan yaitu sebuah rumah yang tetap ada, tetapi belum bisa ia kunjungi pada Lebaran kali ini.

Tanggung Jawab yang Menghalangi Langkah Pulang
Di sisi lain, Nabila Hafizah Mansyah (20) menghadapi dilema serupa. Namun, yang menahannya bukan hanya soal biaya, melainkan tanggung jawab yang sedang ia jalani.
“Aku memutuskan tidak mudik karena harus bertanggung jawab sebagai Wakadif Tarawih di Salman sampai selesai Ramadan,” jelas Nabila.
Di balik keputusan itu, ada pertimbangan rasional lain yang tak bisa diabaikan.
“Harga tiket pesawat sudah sekitar Rp1,6 juta, padahal biasanya cuma Rp1,1 juta,” ungkapnya.
Bagi Nabila, perbedaan paling terasa muncul saat malam takbiran. Suaranya sama, tetapi perasaannya berbeda.
“Yang paling berat itu pas malam takbiran dan hari H, karena biasanya aku di rumah bisa dengar takbir bareng keluarga,” ucapnya.
“Sekarang tetap dengar takbir, tapi rasanya beda karena tidak di rumah,” lanjutnya pelan.
Kerinduan semakin dalam saat ia mengenang hal-hal kecil yang biasanya selalu ada.
“Aku paling kangen lontong sayur Padang, karena di sini tidak ada yang jual,” katanya.
Di asrama, suasana pun jauh lebih sepi. Dari banyaknya penghuni, kini hanya tersisa segelintir orang yang memilih untuk tetap tinggal.
“Sekarang di asrama cuma empat orang yang tidak pulang, jadi memang lebih sepi dari biasanya,” ujar Nabila.
Namun, ia tidak sepenuhnya memandang ini sebagai kehilangan. Ada pelajaran yang ia temukan.
“Aku belajar kalau merantau itu ada konsekuensinya, termasuk tidak bisa pulang di momen seperti Lebaran,” tambahnya.
Meski terpisah oleh jarak, mereka tetap berusaha merayakan makna Idulfitri. Layar ponsel menjadi pengganti pelukan yang tertunda.
“Nanti tetap video call, maaf-maafan, biar masih terasa Lebarannya walaupun dari jauh,” ujar Yara.
“Biasanya aku video call sama keluarga di hari H supaya tetap terasa Lebarannya,” kata Nabila.
Di tengah hiruk-pikuk mudik yang tak pernah sepi, ada cerita lain yang jarang disadari tentang mereka yang tidak pulang, bukan karena tidak ingin, melainkan karena belum bisa.
