Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

4 menit baca
Halwa Raudhatul
Ditulis oleh Halwa Raudhatul diterbitkan
Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)

AYOBANDUNG.ID - Hari-hari terakhir menuju Hari Raya Idulfitri, suasana Asrama Salman ITB tidak seramai biasanya. Sinar matahari tetap menyoroti koridor asrama dengan hangat. Pohon-pohon bergerak perlahan mengikuti angin, seolah tidak menyadari bahwa beberapa orang di sana sedang merasakan kerinduan yang mendalam.

Pemerintah sendiri melalui Kementerian Agama (Kemenag) telah menetapkan 1 Syawal 1447 Hijriah atau Idulfitri jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Penetapan itu diumumkan langsung oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar usai memimpin sidang isbat pada Kamis (19/3/2026). Di tengah kepastian hari kemenangan itu, tidak semua orang dapat merayakannya dengan cara yang sama.

Di tengah ramainya rencana pulang yang memenuhi obrolan penghuni asrama di grup WhatsApp, Mutiara Indah Lestari (21), yang akrab dipanggil Yara, justru memilih untuk tetap tinggal. Ia tidak menyiapkan koper atau menghitung hari untuk pulang, melainkan mempersiapkan diri untuk merayakan Lebaran yang berbeda.

“Ini pertama kalinya aku benar-benar Lebaran tidak pulang dan tidak kumpul keluarga,” ujar Yara sambil tersenyum tipis saat ditemui di Lapangan Cinta ITB.

Keputusan ini tidak muncul tiba-tiba. Ada perhitungan panjang yang mendorong Yara untuk tidak pulang ke Padang, kota asalnya, pada Lebaran tahun ini.

“Tiket ke Padang bisa sampai Rp4 jutaan sekali jalan, jadi terasa berat kalau harus pulang-pergi,” jelasnya.

Selain biaya, tanggung jawab akademik juga memaksanya untuk tinggal. Ia sadar setiap pilihan pasti memiliki konsekuensi.

Tahun ini, Yara sedang dihadapkan pada proyek lomba yang tengah ia kerjakan. Dengan waktu libur yang tidak cukup panjang dan ujian kampus yang sudah di depan mata, ia semakin yakin memilih berlebaran di kota orang.

“Jadi ada yang harus dikorbankan, antara waktu, biaya, dan tanggung jawab,” katanya.

Kerinduan itu tak selalu datang dengan cara yang dramatis. Kadang, ia hadir di momen-momen sederhana, seperti saat melihat orang lain bersenang-senang bersama keluarga.

“Aku lihat orang-orang di mal belanja sama keluarganya, sedangkan aku sendiri. Rasanya bukan kesepian, tapi ada yang kurang,” ungkap Yara. Nada bicaranya menyimpan kesedihan tipis, meski senyumnya tetap terjaga.

Namun, malam takbiran menjadi puncaknya. Di situlah semua yang ia tahan perlahan runtuh.

“Aku sempat nangis karena membayangkan suasana di rumah. Tahun ini keluarga besar kumpul semua, dan yang tidak pulang cuma aku,” katanya pelan.

Walaupun tidak pulang, Yara berusaha menemukan makna Lebarannya sendiri. Ia mencari kegiatan agar hari raya tetap terasa meriah.

“Aku bakal ikut kegiatan di Salman, terus mungkin ke open house rumah rektor ITB, biar nggak ngerasa sendiri,” ujarnya.

Baginya, mengisi waktu bukan sekadar distraksi, tetapi cara bertahan agar rindu tidak datang terlalu kuat.

Merayakan Lebaran tanpa pulang berarti kehilangan banyak hal kecil yang biasanya dianggap biasa. Bagi Yara, ada lima tradisi di Padang yang tahun ini hanya bisa ia kenang.

Pertama, manambang, tradisi anak-anak berkeliling ke rumah warga untuk bersilaturahmi dan mendapatkan THR.

Kedua, malamang, hidangan khas berupa kue yang dimasak dalam bambu, kemudian dipotong kecil-kecil dan disajikan kepada tamu.

Ketiga, katupe, sebutan ketupat bagi masyarakat Padang yang disantap pagi hari setelah salat Id sebagai pembuka kebersamaan keluarga.

Keempat, rendang, hidangan khas Minang yang biasanya disajikan dari sore hingga malam hari.

Kelima, pulang basamo, tradisi besar masyarakat Minangkabau yang merantau untuk kembali ke kampung halaman secara bersamaan saat Lebaran.

Yara menjelaskan satu per satu tradisi itu dengan penuh semangat, sesekali mengecek catatan di tab ponselnya. Seolah ingin menunjukkan betapa besar rasa memiliki terhadap kampung halamannya.

Semua itu kini hanya tersimpan dalam ingatan yaitu sebuah rumah yang tetap ada, tetapi belum bisa ia kunjungi pada Lebaran kali ini.

Pemudik di Kereta Api Pasundan di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Pemudik di Kereta Api Pasundan di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)

Tanggung Jawab yang Menghalangi Langkah Pulang

Di sisi lain, Nabila Hafizah Mansyah (20) menghadapi dilema serupa. Namun, yang menahannya bukan hanya soal biaya, melainkan tanggung jawab yang sedang ia jalani.

“Aku memutuskan tidak mudik karena harus bertanggung jawab sebagai Wakadif Tarawih di Salman sampai selesai Ramadan,” jelas Nabila.

Di balik keputusan itu, ada pertimbangan rasional lain yang tak bisa diabaikan.

“Harga tiket pesawat sudah sekitar Rp1,6 juta, padahal biasanya cuma Rp1,1 juta,” ungkapnya.

Bagi Nabila, perbedaan paling terasa muncul saat malam takbiran. Suaranya sama, tetapi perasaannya berbeda.

“Yang paling berat itu pas malam takbiran dan hari H, karena biasanya aku di rumah bisa dengar takbir bareng keluarga,” ucapnya.

“Sekarang tetap dengar takbir, tapi rasanya beda karena tidak di rumah,” lanjutnya pelan.

Kerinduan semakin dalam saat ia mengenang hal-hal kecil yang biasanya selalu ada.

“Aku paling kangen lontong sayur Padang, karena di sini tidak ada yang jual,” katanya.

Di asrama, suasana pun jauh lebih sepi. Dari banyaknya penghuni, kini hanya tersisa segelintir orang yang memilih untuk tetap tinggal.

“Sekarang di asrama cuma empat orang yang tidak pulang, jadi memang lebih sepi dari biasanya,” ujar Nabila.

Namun, ia tidak sepenuhnya memandang ini sebagai kehilangan. Ada pelajaran yang ia temukan.

“Aku belajar kalau merantau itu ada konsekuensinya, termasuk tidak bisa pulang di momen seperti Lebaran,” tambahnya.

Meski terpisah oleh jarak, mereka tetap berusaha merayakan makna Idulfitri. Layar ponsel menjadi pengganti pelukan yang tertunda.

“Nanti tetap video call, maaf-maafan, biar masih terasa Lebarannya walaupun dari jauh,” ujar Yara.

“Biasanya aku video call sama keluarga di hari H supaya tetap terasa Lebarannya,” kata Nabila.

Di tengah hiruk-pikuk mudik yang tak pernah sepi, ada cerita lain yang jarang disadari tentang mereka yang tidak pulang, bukan karena tidak ingin, melainkan karena belum bisa.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)