Ketergantungan Bahan Kimia dalam Pertanian: Tantangan Besar Menuju Sistem Pangan Berkelanjutan

Gilang Erlangga
Ditulis oleh Gilang Erlangga diterbitkan Senin 23 Mar 2026, 12:26 WIB
Lanskap lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU) di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Senin 7 April 2025 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Lanskap lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU) di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Senin 7 April 2025 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Pertanian Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan yang sangat krusial karena model intensifikasi lahan yang diwariskan oleh era Revolusi Hijau mulai menunjukkan sisi gelapnya. Meskipun pada awalnya berhasil meningkatkan produksi secara masif, namun ketergantungan yang tinggi pada bahan kimia sintetis seperti pupuk serta pestisida kimia telah memicu kerusakan ekosistem jangka panjang.

Program intensifikasi yang berkembang sejak tahun 1970-an memang berhasil meningkatkan produksi pangan secara signifikan, khususnya pada komoditas padi. Data menunjukkan bahwa produksi beras Indonesia meningkat dari sekitar 12 juta ton pada awal 1970-an menjadi lebih dari 54 juta ton pada dekade 2010-an, bahkan Indonesia sempat mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Namun di balik keberhasilan tersebut, ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida sintetis juga meningkat tajam sebagai konsekuensi dari sistem pertanian intensif tersebut.

Menurut laporan Food and Agriculture Organization, penggunaan pupuk kimia secara global meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak era Revolusi Hijau. Tren ini juga terjadi di Indonesia, di mana konsumsi pupuk anorganik mencapai lebih dari 8 juta ton setiap tahun menurut data Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Bahkan intensitas penggunaan pupuk di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 300 kilogram per hektare lahan pertanian, hampir dua kali lipat dari rata-rata penggunaan pupuk global yang berada di kisaran 150 kilogram per hektare. Kondisi ini memaksa para petani serta pembuat kebijakan untuk mengevaluasi ulang metode konvensional yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kemakmuran.

Dampak Ketergantungan Kimia

Ladang pertanian. (Sumber: Pexels | Foto: Soo Ann Woon)
Ladang pertanian. (Sumber: Pexels | Foto: Soo Ann Woon)

Ketergantungan akut pada bahan kimia sintetis telah menciptakan lingkaran setan yang mencekik para petani baik secara ekologis maupun ekonomis. Data menunjukkan bahwa sekitar 69 persen tanah pertanian di Indonesia saat ini dikategorikan rusak parah atau tandus akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan secara terus-menerus. Penurunan kualitas tanah ini umumnya ditandai dengan rendahnya kandungan bahan organik tanah yang pada banyak lahan intensif berada di bawah 2 persen, padahal tanah yang subur idealnya memiliki kandungan bahan organik sekitar 4 hingga 5 persen.

Tanah kehilangan porositas alaminya sehingga teksturnya menjadi keras dan pH tanah menjadi terlalu asam yang pada akhirnya mematikan mikroorganisme tanah yang seharusnya menjaga kesuburan secara alami. Mikroorganisme seperti bakteri pengikat nitrogen serta jamur mikoriza memiliki peran penting dalam siklus nutrisi tanah, namun populasi organisme ini menurun drastis pada lahan yang terlalu bergantung pada pupuk kimia. Dalam jangka panjang, degradasi tanah semacam ini dapat menurunkan kemampuan tanah dalam menyimpan air dan unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman.

Selain kerusakan tanah, penggunaan pestisida kimia yang tidak tepat dosis maupun sasarannya telah memicu resistensi hama di mana organisme pengganggu tanaman justru menjadi semakin kebal. Secara global, lebih dari 500 spesies hama telah dilaporkan mengalami resistensi terhadap berbagai jenis pestisida sintetis menurut laporan Food and Agriculture Organization. Di Indonesia sendiri, penggunaan pestisida dalam sektor pertanian diperkirakan mencapai ratusan ribu ton per tahun sehingga menjadikan negara ini sebagai salah satu pengguna pestisida terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Hal ini memaksa petani untuk menggunakan dosis yang lebih tinggi lagi yang tidak hanya meningkatkan biaya produksi tetapi juga mencemari sumber air melalui proses eutrofikasi serta meninggalkan residu berbahaya pada hasil panen yang mengancam kesehatan manusia. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan pestisida dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan seperti gangguan sistem saraf, gangguan hormon, hingga peningkatan risiko penyakit kronis tertentu. Di sisi lain, serangan hama dan gulma sendiri dapat menyebabkan kehilangan hasil panen antara 10 hingga 60 persen jika tidak dikendalikan dengan baik, sehingga banyak petani akhirnya bergantung pada pestisida kimia sebagai solusi cepat meskipun berdampak jangka panjang bagi lingkungan.

Inovasi Hijau sebagai Solusi Berkelanjutan

Guna melepaskan diri dari ancaman degradasi lahan permanen, inovasi hijau hadir melalui praktik Sustainable Agriculture atau pertanian berkelanjutan yang lebih menghormati sumber daya alam. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara produktivitas pertanian dan kelestarian lingkungan melalui pemanfaatan teknologi, ilmu ekologi, serta sumber daya lokal. Dalam berbagai studi internasional, pendekatan agroekologi terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi tanah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap input kimia sintetis.

Beberapa langkah teknis yang kini menjadi urgensi meliputi:

1.     Pertanian Organik Presisi dan LEISA: Mengedepankan konsep Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) yang mengutamakan pemanfaatan sumber daya lokal seperti kompos serta pupuk hijau guna memperbaiki struktur tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada input eksternal yang mahal. Pendekatan ini juga membantu meningkatkan kandungan bahan organik tanah yang berfungsi memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air.

2.     Pengendalian Hama Terpadu (PHT): Mengalihkan fokus dari pembasmian kimiawi menuju pemanfaatan predator alami serta musuh alami untuk menjaga keseimbangan ekosistem pertanian tanpa merusak lingkungan. Program Pengendalian Hama Terpadu bahkan terbukti mampu menurunkan penggunaan pestisida hingga lebih dari 50 persen pada beberapa sistem budidaya tanaman.

3.     Teknologi Agro-Tech dan Smart Farming: Pemanfaatan Internet of Things (IoT) serta sensor tanah dan drone untuk memastikan input nutrisi diberikan secara akurat sehingga tidak ada bahan yang terbuang menjadi polutan. Teknologi pertanian presisi ini memungkinkan petani memantau kondisi tanah, kelembapan, serta kebutuhan nutrisi tanaman secara real time sehingga penggunaan pupuk dan air menjadi jauh lebih efisien.

4.     Hilirisasi Bahan Hayati: Mengembangkan industri pupuk hayati berbasis riset yang memanfaatkan limbah pertanian atau ekstrak bahan alami sebagai alternatif nutrisi tanaman yang terbarukan. Pupuk hayati berbasis mikroorganisme diketahui mampu meningkatkan aktivitas biologis tanah serta memperbaiki kesuburan tanah secara alami.

Selain itu, beberapa negara maju telah menunjukkan bahwa modernisasi pertanian tidak selalu identik dengan peningkatan penggunaan bahan kimia. Negara seperti Belanda dan Jepang misalnya mampu meningkatkan produktivitas pertanian melalui penerapan teknologi precision agriculture yang memanfaatkan sensor tanah, sistem pemantauan digital, serta otomatisasi pertanian. Dengan pendekatan tersebut, penggunaan pupuk dan pestisida dapat ditekan secara signifikan tanpa mengurangi produktivitas hasil panen.

Menagih Komitmen Strategis Pemerintah 2026

Menjelang tahun 2026, target swasembada pangan Indonesia harus sejalan dengan praktik agroekologi yang sehat melalui kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan. Pemerintah perlu segera melakukan reorientasi kebijakan mulai dari pengurangan subsidi pupuk kimia yang dialihkan secara bertahap untuk mendukung pengembangan pupuk organik serta pupuk hayati secara masif.

Saat ini pemerintah masih mengalokasikan anggaran subsidi pupuk dalam jumlah besar setiap tahun. Data dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia menunjukkan bahwa subsidi pupuk nasional mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahunnya. Jika sebagian dari anggaran tersebut dialihkan untuk pengembangan teknologi pertanian presisi, pelatihan petani, serta riset pupuk hayati, maka transformasi menuju pertanian berkelanjutan dapat berlangsung lebih cepat.

Investasi besar pada laboratorium bioteknologi di tingkat daerah menjadi harga mati agar para petani mendapatkan edukasi serta akses terhadap teknologi organik presisi. Tanpa adanya jaminan pasar untuk produk organik serta dukungan riset yang kuat, transisi menuju pertanian hijau berisiko hanya menjadi slogan seremonial belaka. Kemandirian petani dalam mengelola nutrisi serta kesehatan lahannya adalah fondasi utama bagi ketahanan pangan nasional yang tidak hanya mengejar kuantitas hasil tetapi juga kualitas lingkungan bagi generasi masa depan.

Baca Juga: Habis Lebaran, Tibalah Sampah

Masa depan pangan Indonesia tidak boleh dibangun di atas tanah yang sekarat akibat polusi kimia sintetis. Inovasi hijau melalui sinergi antara sains bioteknologi serta kebijakan yang progresif adalah satu-satunya jalan keluar untuk memastikan Indonesia tetap menjadi negara agraris yang subur. Sebelum tanah kita kehilangan seluruh kemampuannya untuk menumbuhkan kehidupan, sekarang adalah waktu yang tepat bagi semua pihak untuk berani beralih menuju sistem pertanian yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Gilang Erlangga
Siswa SMA yang belajar berpikir jernih lewat membaca dan menulis. Tertarik pada isu nyata, proses kecil, dan konsistensi.

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)