Ketergantungan Bahan Kimia dalam Pertanian: Tantangan Besar Menuju Sistem Pangan Berkelanjutan

6 menit baca
Gilang Erlangga
Ditulis oleh Gilang Erlangga diterbitkan
Lanskap lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU) di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Senin 7 April 2025 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Lanskap lahan pertanian di Kawasan Bandung Utara (KBU) di Cimenyan, Kabupaten Bandung, Senin 7 April 2025 (Sumber: ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Pertanian Indonesia saat ini berada di persimpangan jalan yang sangat krusial karena model intensifikasi lahan yang diwariskan oleh era Revolusi Hijau mulai menunjukkan sisi gelapnya. Meskipun pada awalnya berhasil meningkatkan produksi secara masif, namun ketergantungan yang tinggi pada bahan kimia sintetis seperti pupuk serta pestisida kimia telah memicu kerusakan ekosistem jangka panjang.

Program intensifikasi yang berkembang sejak tahun 1970-an memang berhasil meningkatkan produksi pangan secara signifikan, khususnya pada komoditas padi. Data menunjukkan bahwa produksi beras Indonesia meningkat dari sekitar 12 juta ton pada awal 1970-an menjadi lebih dari 54 juta ton pada dekade 2010-an, bahkan Indonesia sempat mencapai swasembada beras pada tahun 1984. Namun di balik keberhasilan tersebut, ketergantungan terhadap pupuk kimia dan pestisida sintetis juga meningkat tajam sebagai konsekuensi dari sistem pertanian intensif tersebut.

Menurut laporan Food and Agriculture Organization, penggunaan pupuk kimia secara global meningkat lebih dari tiga kali lipat sejak era Revolusi Hijau. Tren ini juga terjadi di Indonesia, di mana konsumsi pupuk anorganik mencapai lebih dari 8 juta ton setiap tahun menurut data Kementerian Pertanian Republik Indonesia. Bahkan intensitas penggunaan pupuk di Indonesia diperkirakan mencapai sekitar 300 kilogram per hektare lahan pertanian, hampir dua kali lipat dari rata-rata penggunaan pupuk global yang berada di kisaran 150 kilogram per hektare. Kondisi ini memaksa para petani serta pembuat kebijakan untuk mengevaluasi ulang metode konvensional yang selama ini dianggap sebagai satu-satunya jalan menuju kemakmuran.

Dampak Ketergantungan Kimia

Ladang pertanian. (Sumber: Pexels | Foto: Soo Ann Woon)
Ladang pertanian. (Sumber: Pexels | Foto: Soo Ann Woon)

Ketergantungan akut pada bahan kimia sintetis telah menciptakan lingkaran setan yang mencekik para petani baik secara ekologis maupun ekonomis. Data menunjukkan bahwa sekitar 69 persen tanah pertanian di Indonesia saat ini dikategorikan rusak parah atau tandus akibat penggunaan pupuk kimia yang berlebihan secara terus-menerus. Penurunan kualitas tanah ini umumnya ditandai dengan rendahnya kandungan bahan organik tanah yang pada banyak lahan intensif berada di bawah 2 persen, padahal tanah yang subur idealnya memiliki kandungan bahan organik sekitar 4 hingga 5 persen.

Tanah kehilangan porositas alaminya sehingga teksturnya menjadi keras dan pH tanah menjadi terlalu asam yang pada akhirnya mematikan mikroorganisme tanah yang seharusnya menjaga kesuburan secara alami. Mikroorganisme seperti bakteri pengikat nitrogen serta jamur mikoriza memiliki peran penting dalam siklus nutrisi tanah, namun populasi organisme ini menurun drastis pada lahan yang terlalu bergantung pada pupuk kimia. Dalam jangka panjang, degradasi tanah semacam ini dapat menurunkan kemampuan tanah dalam menyimpan air dan unsur hara yang sangat dibutuhkan tanaman.

Selain kerusakan tanah, penggunaan pestisida kimia yang tidak tepat dosis maupun sasarannya telah memicu resistensi hama di mana organisme pengganggu tanaman justru menjadi semakin kebal. Secara global, lebih dari 500 spesies hama telah dilaporkan mengalami resistensi terhadap berbagai jenis pestisida sintetis menurut laporan Food and Agriculture Organization. Di Indonesia sendiri, penggunaan pestisida dalam sektor pertanian diperkirakan mencapai ratusan ribu ton per tahun sehingga menjadikan negara ini sebagai salah satu pengguna pestisida terbesar di kawasan Asia Tenggara.

Hal ini memaksa petani untuk menggunakan dosis yang lebih tinggi lagi yang tidak hanya meningkatkan biaya produksi tetapi juga mencemari sumber air melalui proses eutrofikasi serta meninggalkan residu berbahaya pada hasil panen yang mengancam kesehatan manusia. Selain itu, beberapa penelitian menunjukkan bahwa paparan pestisida dalam jangka panjang dapat berkaitan dengan berbagai gangguan kesehatan seperti gangguan sistem saraf, gangguan hormon, hingga peningkatan risiko penyakit kronis tertentu. Di sisi lain, serangan hama dan gulma sendiri dapat menyebabkan kehilangan hasil panen antara 10 hingga 60 persen jika tidak dikendalikan dengan baik, sehingga banyak petani akhirnya bergantung pada pestisida kimia sebagai solusi cepat meskipun berdampak jangka panjang bagi lingkungan.

Inovasi Hijau sebagai Solusi Berkelanjutan

Guna melepaskan diri dari ancaman degradasi lahan permanen, inovasi hijau hadir melalui praktik Sustainable Agriculture atau pertanian berkelanjutan yang lebih menghormati sumber daya alam. Pendekatan ini menekankan keseimbangan antara produktivitas pertanian dan kelestarian lingkungan melalui pemanfaatan teknologi, ilmu ekologi, serta sumber daya lokal. Dalam berbagai studi internasional, pendekatan agroekologi terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan nutrisi tanah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap input kimia sintetis.

Beberapa langkah teknis yang kini menjadi urgensi meliputi:

1.     Pertanian Organik Presisi dan LEISA: Mengedepankan konsep Low External Input Sustainable Agriculture (LEISA) yang mengutamakan pemanfaatan sumber daya lokal seperti kompos serta pupuk hijau guna memperbaiki struktur tanah sekaligus mengurangi ketergantungan pada input eksternal yang mahal. Pendekatan ini juga membantu meningkatkan kandungan bahan organik tanah yang berfungsi memperbaiki struktur tanah serta meningkatkan kemampuan tanah menyimpan air.

2.     Pengendalian Hama Terpadu (PHT): Mengalihkan fokus dari pembasmian kimiawi menuju pemanfaatan predator alami serta musuh alami untuk menjaga keseimbangan ekosistem pertanian tanpa merusak lingkungan. Program Pengendalian Hama Terpadu bahkan terbukti mampu menurunkan penggunaan pestisida hingga lebih dari 50 persen pada beberapa sistem budidaya tanaman.

3.     Teknologi Agro-Tech dan Smart Farming: Pemanfaatan Internet of Things (IoT) serta sensor tanah dan drone untuk memastikan input nutrisi diberikan secara akurat sehingga tidak ada bahan yang terbuang menjadi polutan. Teknologi pertanian presisi ini memungkinkan petani memantau kondisi tanah, kelembapan, serta kebutuhan nutrisi tanaman secara real time sehingga penggunaan pupuk dan air menjadi jauh lebih efisien.

4.     Hilirisasi Bahan Hayati: Mengembangkan industri pupuk hayati berbasis riset yang memanfaatkan limbah pertanian atau ekstrak bahan alami sebagai alternatif nutrisi tanaman yang terbarukan. Pupuk hayati berbasis mikroorganisme diketahui mampu meningkatkan aktivitas biologis tanah serta memperbaiki kesuburan tanah secara alami.

Selain itu, beberapa negara maju telah menunjukkan bahwa modernisasi pertanian tidak selalu identik dengan peningkatan penggunaan bahan kimia. Negara seperti Belanda dan Jepang misalnya mampu meningkatkan produktivitas pertanian melalui penerapan teknologi precision agriculture yang memanfaatkan sensor tanah, sistem pemantauan digital, serta otomatisasi pertanian. Dengan pendekatan tersebut, penggunaan pupuk dan pestisida dapat ditekan secara signifikan tanpa mengurangi produktivitas hasil panen.

Menagih Komitmen Strategis Pemerintah 2026

Menjelang tahun 2026, target swasembada pangan Indonesia harus sejalan dengan praktik agroekologi yang sehat melalui kebijakan yang berpihak pada keberlanjutan. Pemerintah perlu segera melakukan reorientasi kebijakan mulai dari pengurangan subsidi pupuk kimia yang dialihkan secara bertahap untuk mendukung pengembangan pupuk organik serta pupuk hayati secara masif.

Saat ini pemerintah masih mengalokasikan anggaran subsidi pupuk dalam jumlah besar setiap tahun. Data dari Kementerian Pertanian Republik Indonesia menunjukkan bahwa subsidi pupuk nasional mencapai puluhan triliun rupiah setiap tahunnya. Jika sebagian dari anggaran tersebut dialihkan untuk pengembangan teknologi pertanian presisi, pelatihan petani, serta riset pupuk hayati, maka transformasi menuju pertanian berkelanjutan dapat berlangsung lebih cepat.

Investasi besar pada laboratorium bioteknologi di tingkat daerah menjadi harga mati agar para petani mendapatkan edukasi serta akses terhadap teknologi organik presisi. Tanpa adanya jaminan pasar untuk produk organik serta dukungan riset yang kuat, transisi menuju pertanian hijau berisiko hanya menjadi slogan seremonial belaka. Kemandirian petani dalam mengelola nutrisi serta kesehatan lahannya adalah fondasi utama bagi ketahanan pangan nasional yang tidak hanya mengejar kuantitas hasil tetapi juga kualitas lingkungan bagi generasi masa depan.

Baca Juga: Habis Lebaran, Tibalah Sampah

Masa depan pangan Indonesia tidak boleh dibangun di atas tanah yang sekarat akibat polusi kimia sintetis. Inovasi hijau melalui sinergi antara sains bioteknologi serta kebijakan yang progresif adalah satu-satunya jalan keluar untuk memastikan Indonesia tetap menjadi negara agraris yang subur. Sebelum tanah kita kehilangan seluruh kemampuannya untuk menumbuhkan kehidupan, sekarang adalah waktu yang tepat bagi semua pihak untuk berani beralih menuju sistem pertanian yang lebih sehat, mandiri, dan berkelanjutan. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Gilang Erlangga
Tentang Gilang Erlangga
Siswa SMA yang belajar berpikir jernih lewat membaca dan menulis. Tertarik pada isu nyata, proses kecil, dan konsistensi.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Agu 2026, 19:39

Dari Uang Tunai ke Sekali Klik dalam Perubahan Perilaku Keuangan Mahasiswa

Peralihan ke dompet digital mempermudah transaksi mahasiswa, namun berisiko memicu perilaku konsumtif.

Kemudahan transaksi dompet digital melalui pemindaian kode QR semakin efisien dan dekat dengan aktivitas harian mahasiswa. (Sumber: Pexels/Pavel Danilyuk)
Linimasa 09 Agu 2026, 18:31

Hikayat Baju Pendakian Indonesia yang Biasa Digunakan Para Pecinta Alam

Flanel, celana PDL, jaket bulu angsa, dan sepatu tentara pernah menjadi ciri khas pendaki Indonesia sebelum era pakaian modern.

Ilustrasi pendaki gunung. (Sumber: Pixnio)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 15:43

Kibar Sang Merah Putih pun Tak Merdeka

Bendera memang sudah merdeka dari penjajahan. Tetapi apakah manusia yang mengibarkannya sudah benar-benar merasakan kemerdekaan?

Bendera merah putih di sekeliling Lapangan Lio Genteng, RW 05, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astanaanyar, Kota Bandung, Jawa Barat, Sabtu 12 Agustus 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 12:05

Tanah, Makanan, dan Tempat

Timbal-balik antara alam dengan manusia, dan sebaliknya, khususnya tentang nama-nama batuan atau tanah yang dijadikan toponimi.

Camilan kue ladu, sangat populer di Garut, Tasikmalaya, dan Ciamis. (Sumber: T Bactiar)
Ayo Netizen 09 Agu 2026, 09:17

Hari Hutan Nasional: Menjadikan Hutan sebagai Rumah dan Harapan

Masih relevan kah peringatan Hari Hutan Nasional sekarang dengan kondisi ekologi hutan kita yang semakin gundul. Apakah pembangunan tidak menggunakan konsep lingkungan hidup yang sehat?

Siswa SD Darul Hikam Bandung memperingati Hari Bumi dengan aksi nyata menanam pohon di kawasan Dago Giri, Kabupaten Bandung Barat, Kamis, 25 April 2024.  (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Wisata & Kuliner 09 Agu 2026, 09:03

Tamasya di Dadaha Tasikmalaya: Tempat Jogging, Wisata Kuliner, dan Rekreasi Keluarga

Dadaha menjadi destinasi favorit warga Tasikmalaya dengan lintasan jogging, taman bermain anak, kolam renang, dan Pasar Kojengkang yang selalu ramai.

Suasana di Kawasan Dadaha Tasikmalaya (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 20:15

Narasi Adiboga Sunda dalam Panggung Gastrodiplomasi Handrawina Adiboga Nusantara

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia.

Lahirnya buku Handrawina Adiboga Nusantara yang diterbitkan pada tahun 2022 menandai tonggak sejarah baru dalam kodifikasi rasa Indonesia. (Sumber: Kementrian Luar Negeri)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 18:24

Wujudkan Tipe Rumah SOHO Idaman Keluarga di Bandung

Rumah tipe SOHO multi fungsi, untuk tempat tinggal keluarga sekaligus tempat usaha.

Ilustrasi tipe rumah SOHO idaman warga Bandung (Sumber: dikreasi dengan Gemini | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 16:50

Menjelang Proklamasi Kemerdekaan di Bandung (Bagian 2)

Warga Bandung bahu-membahu untuk mempersiapkan kemerdekaan, mereka dengan penuh suka cita dan dada yang menggebu-gebu mempersiapkan segalanya dengan seksama dan hati-hati.

Pasukan Pembela Tanah Air (PETA). (Sumber: 360doc)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:52

Nomor Proklamasi: Ketika Majalah Selecta Menyambut Hari Kemerdekaan RI 1969

Di sampul depan Majalah Selecta Nomor 413, terbit 17 Agustus 1969 terpampang sederhana namun penuh makna: "Nomor Proklamasi".

Sampul depan Majalah Selecta Edisi Khusus Proklamasi, terbit 17 Agustus 1969, menampilkan aktris Alice Iskak sebagai model sampul. (Sumber: Koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 15:23

Melacak Jejak Gastronomi Jawa dalam Kokki Bitja (1854): Identitas, Karakteristik, dan Kontinuitas

Buku Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854 merupakan salah satu artefak sejarah kuliner tertua dan paling signifikan di Hindia Belanda.

Buku "Kokki Bitja: Kitab Masakan Indis 1854". (Sumber: Ayobandung.id)
Wisata & Kuliner 07 Agu 2026, 15:20

Jelajah Sungai Cigerendong, Surga Tersembunyi di Dusun Cukanggaleuh Pangandaran

Jelajahi Sungai Cigerendong di Desa Parakanmanggu dengan air jernih berwarna toska, pepohonan rindang, dan suasana yang masih alami.

Sungai Cigerendong Pangandaran. (Sumber: TikTok @cigerendongpangandaran)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 13:53

Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan

Apakah masyarakat kita memang masih menonton film di bioskop dengan cara yang sama seperti sebelumnya?

Ilustrasi Dilema Bioskop Sepi di Tengah Pergeseran Budaya Instan. (Sumber: Mochamad Arbani)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 11:58

Cipatat dan Krisis Kesehatan yang Tak Terlihat

Negara wajib memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dibangun di atas kesehatan dan penderitaan masyarakat. 

Beberapa truk bayawak pengangkut batu kapur terparkir di wilayah Cipatat Kabupaten Bandung Barat. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ananda)
Ikon 07 Agu 2026, 11:15

Alun-alun Kota Cimahi, Pusat Pertemuan antara Warga dengan Ojol

Alun-alun Kota Cimahi menjadi pusat aktivitas warga, tempat bersantai, berolahraga, hingga titik berkumpul para driver ojol.

Rindang, strategis, dan nyaman, Alun-alun Kota Cimahi menjadi ruang publik sekaligus titik berkumpul para driver ojol setiap hari. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Agu 2026, 08:40

Saat Pohon Tumbang dan Rasa Aman Dipertaruhkan

Bandung sedang menghadapi ujian besar. Ujian yang menuntut respons yang tegas, kolaboratif, dan berorientasi pada kepentingan publik.

Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (DPKP) melakukan pemangkasan sejumlah pohon di ruas jalan Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 20:09

Menyambut Hari Kemerdekaan 2026, Deretan Ide Tulisan dari Semangat Kemerdekaan hingga Dinamika Kota Bandung

Tema tulisan tetap tidak dibatasi. Selama relevan dengan isu yang berkembang, setiap penulis bebas menentukan sudut pandang yang ingin diangkat.

Warga Kampung Pengkolan Pasang Bendera Merah Putih Sepanjang 540 Meter pada tahun 2023. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 18:33

Rahasia Komunikasi Digital yang Bikin Sebuah Merek Kecantikan Mudah Diingat

Menganalisis komunikasi iklan melalui website resmi dan media sosial Instagram yang menunjukkan adanya upaya perusahaan dalam membangun komunikasi yang saling terhubung.

Ilustrasi komunikasi digital merek kecantikan.
Wisata & Kuliner 06 Agu 2026, 18:07

Jelajah Gunung Salak Bogor: Pendakian, Kawah Ratu, Harga Tiket, dan Cara Booking Online

Panduan lengkap Gunung Salak mulai jalur pendakian, Kawah Ratu, harga tiket, booking online, hingga cara menuju kawasan Taman Nasional Gunung Halimun Salak.

Gunung Salak Bogor. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 06 Agu 2026, 16:17

Berita Yudha: Potret Sejarah dari Lembaran Surat Kabar Lawas

Kini, setelah 56 tahun berlalu, Berita Yudha tetap memiliki daya tarik yang kuat sebagai sumber sejarah.

Surat kabar Berita Yudha, salah satu harian berpengaruh pada era Orde Baru yang diterbitkan oleh TNI Angkatan Darat. (Sumber: Koleksi: Kin Sanubary)