Idulfitri 1447 H

5 menit baca
Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan
Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Seorang kawan menulis status di media sosial (Facebook) terkait perbedaan penetapan Idulfitri.

"Ikut pemerintah, bukan ormas. Karena penguasa suatu negeri, di mana pun Anda berada, adalah pemerintah."

Sambil melampirkan gambar yang memperkuat pesannya.

Ajak salat Ied (Sumber: Facebook Pelajar Sunnah)
Ajak salat Ied (Sumber: Facebook Pelajar Sunnah)

Saat asyik membaca tulisan itu, bukan untuk membantah, (untuk mengiyakan sepenuhnya). Hanya mencoba memahami, ihwal setiap keyakinan, selalu ada cara pandang yang ingin dipertahankan dengan segudang dalih dan alasannya.

Tiba-tiba anak kedua saya, Aa Akil (11 tahun), bertanya polos,

“Bah, kita shalat besok (Jumat) atau Sabtu?”

Kujawab singkat, “Antos keputusan sidang dulu, ya.”

Malam itu, terasa gerah. Tak lama berselang, hasil Sidang Isbat diumumkan. Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Keputusan ini disampaikan dalam sidang yang dipimpin Menteri Agama di Jakarta.

Hasil Sidang Isbat Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026 (Sumber: Instagram @kemenag_ri)
Hasil Sidang Isbat Jatuh pada Sabtu 21 Maret 2026 (Sumber: Instagram @kemenag_ri)

“Berdasarkan hasil hisab dan tidak adanya laporan rukyat hilal, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu,”

Setelah mendengar keputusan itu, bocah kelas lima SD itu bertanya,

“Bah, kita ikut hari Sabtu atau besok, seperti di sini?”

Sambil mendekat dan mengusap kepala “Muhun, enjing.”

“Kenapa, Bah?” tanyanya lagi.

“Pan tadi tos kadangu takbiran ti masjid. Janten enjing salat Id,” jawabku.

Wajahnya langsung berbinar.

“Hore… besok salat! Takbiran!,” katanya penuh semangat, sambil merencanakan mengajak sepupunya.

Informasi sholat Ied Fitri 1447 Hijriyah (Sumber: Instagram @cilongoknet)
Informasi sholat Ied Fitri 1447 Hijriyah (Sumber: Instagram @cilongoknet)

Mengelola Perbedaan, Kedewasaan Hati

Menyikapi perbedaan ini, Tatang Astarudin, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Universal Al-Islamy Kota Bandung, Dosen UIN Bandung berkirim tulisan "Perbedaan Idulfitri dan Kedewasaan Hati"

Menurutnya, perbedaan penetapan Idul Fitri bukanlah akibat “kegagalan” pemerintah atau karena kesalahan umat, tetapi konsekuensi dari terbukanya “ijtihad ilmiah”.

Dalam tradisi Islam, terdapat dua pendekatan utama dalam menentukan awal puasa dan Idul Fitri. Ada rukyatul hilal (observasi, melihat langsung bulan) dan ada metode hisab (perhitungan astronomis matematis).

Perbedaan itu lahir dari cara memahami sabda Nabi SAW, “Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari-Muslim).

Mayoritas mazhab klasik cenderung memprioritaskan rukyat literal, tetapi sebagian ulama membolehkan hisab (perhitungan) sebagai pendekatan rasional. Di Indonesia, kedua metode ini diakui sebagai hasil ijtihad yang sah. MUI menegaskan bahwa hisab dan rukyat sama-sama memiliki legitimasi syar’i.

Perbedaan penetapan Idul Fitri bukan karena “konflik dalil”, tetapi lebih karena perbedaan cara “membaca” dalil.

Dalam khazanah ushul fiqh dikenal kaidah, “Ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lain.”

Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa perbedaan dalam masalah seperti ini termasuk ikhtilaf yang mu’tabar (diakui). Untuk sains modern, perbedaan pendekatan adalah sebuah keniscayaan.

Dalam astronomi, misalnya ada perbedaan antara kriteria dan visibilitas hilal. Dalam metodologi ada observasi, ada model matematis. Dalam epistemologi ada empirisme versus rasionalisme.

Perbedaan Idulfitri adalah contoh nyata bahwa Islam tidak anti-ilmu, justru hidup dalam dinamika ke-ilmuan.

Seiring perkembangan zaman, muncul konsep imkanur rukyat, mengintegrasikan antara hisab dan rukyat sebagai jalan tengah. Pendekatan ini menunjukkan, Syariat tidak menolak sains Sains tidak menafikan wahyu. Keduanya bisa berdialog, saling melengkapi, bukan saling menegasikan dan melemahkan.

Perbedaan Idulfitri harus disikapi “biasa saja” supaya ukhuwah Islamiyah tetap terpelihara. Karena sesungguhnya yang berbahaya bukan perbedaan hari raya, tetapi “perpecahan hati” di hari raya.

Pada teori “kohesi sosial”, perbedaan tidak selalu melemahkan komunitas, sebaliknya justru bisa memperkuat komunitas, jika dikelola dengan bijak.

Dalam konsep “pluralisme epistemik”, kebenaran bisa didekati melalui berbagai metode yang valid dan sah. Hisab adalah bahasa rasio. Rukyat adalah bahasa indera. Ukhuwah adalah bahasa hati. Dan Islam merangkul ketiganya.

Jika Idulfitri terjebak pada perbedaan tentang tanggal, maka kalenderlah yang paling berhak merayakannya. Namun jika Idulfitri adalah tentang semangat kembali kepada “fitrah”, maka yang paling berhak merayakannya adalah hati yang bersih dan lapang.

Oleh karenanya, perbedaan Hari Raya Idul Fitri harus dirayakan dengan penuh kedewasaan. Tidak semua harus sama untuk bisa bersama. Tidak semua harus seragam untuk bisa sejalan. Karena pada akhirnya, cara “melihat hilal” boleh berbeda, tetapi langit kita tetap satu. (www.uinsgd.ac.id).

Ilustrasi salat Idulfitri (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)
Ilustrasi salat Idulfitri (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Kavin Faza)

Meraih Kemenangan, Mengubur Prasangka

Di balik perbedaan yang ada, kebahagiaan anak-anak tetap sederhana, ya bisa bertakbir, salat Id, dan bermain bersama.

Ingat, bagi anak-anak, Idulfitri bukanlah arena perbedaan otoritas, bukan pula ruang tarik-menarik dalil dan keputusan.

Pasalnya, idulfitri adalah momen kebersamaan, kekeluargaan. Dari bedug ditabuh, suara takbir menggema yang pertama kali didengar. Hangatnya suasana pagi yang dinanti. Sambil berjabat tangan yang saling menggenggam erat tanpa prasangka, malah bikin tersenyum (ngakak tertawa terbahak-bahak).

Justru orang dewasa kerap terjebak dalam memperbesar perbedaan, yang tak jarang berujung pada keributan, kebencian, bahkan terputusnya tali silaturahmi.

Padahal, salah satu hikmah Ramadan adalah menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.

Memang orang dewasa sering terjebak dalam dikotomi, ikut pemerintah atau ormas. Untuk anak-anak justru menghadirkan perspektif yang lebih jernih, dengan merayakan tanpa beban, tanpa prasangka basa-basi.

Di sinilah pentingnya kedewasaan dalam menyikapi perbedaan. Ketaatan kepada otoritas memang bagian dari tatanan kehidupan. Namun, merawat harmoni sosial dan kebijaksanaan dalam bersikap tak kalah penting dan bijaksana.

Segala perbedaan, bukan untuk dipertentangkan tanpa henti. Justru kenyataan yang perlu diterima dan dikelola dengan lapang dada dan berprasangka baik.

Idulfitri bukan sekadar tentang tanggal yang ditetapkan, melainkan kembalinya hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan hubungan antarsesama yang tetap terjaga.

Dengan demikian, makna sejati kerap hadir bukan dari perdebatan yang panjang, melainkan dari hati yang sederhana. Inilah pelajaran yang bisa kita ambil dari pertanyaan sederhana seorang anak, yang terkadang sering terlupakan akibat riuh, gaduh atas hiruk-pikuk dunia yang serba digital. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 06 Okt 2026, 19:22

Ruang Kreatif Revitalisasi Bahasa Ibu

Sering kali orang tua jarang menggunakan bahasa daerah di rumah karena memilih membiasakan anak berbahasa Indonesia. Terkait ini ketika orang tua berlatar beda suku dan beda bahasa.

Perempuan lokal Indonesia memakai kebaya. (Sumber: Pexels | Foto: David Tumpal)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 18:23

Mengenang Peristiwa G30S Melalui Lembaran Berita Yudha

Membuka kembali Berita Yudha edisi 30 Oktober 1965, berarti membuka sebuah jendela menuju Indonesia beberapa pekan setelah G30S.

Halaman Muka surat kabar Berita Yudha edisi Oktober 1965, yang merekam pemberitaan mengenai situasi dan peristiwa penting di Indonesia pasca-G30S. (Foto: Kin Sanubary)
Bandung 06 Okt 2026, 17:53

Mengintip Potensi Ekonomi Kreatif Kota Bandung Lewat Layar Perfilman dan Kolaborasi Komunitas

Tren pemutaran film independen, festival sinema alternatif, hingga pertumbuhan ruang pemutaran komunitas di Kota Kembang membuktikan tingginya dahaga publik terhadap ragam narasi visual.

Bandung World Cinema (BWC) 2026 dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem perfilman sekaligus mendorong pertumbuhan subsektor ekonomi kreatif di Kota Bandung.
Sejarah 06 Okt 2026, 17:16

Sejarah Naturalisasi Pemain Timnas Indonesia

Jejak naturalisasi Timnas Indonesia bukan fenomena baru. Perjalanan dari Van der Vin pada era 1950-an hingga gelombang diaspora saat ini.

Pemain Timnas Indonesia dalam laga kontra Thailand dalam Asean Cup 2026. (Sumber: Vidio)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 17:03

Bandung, Banjir, dan Rutinitas Tahunan yang Tak Pernah Ada Solusi

Banjir di Bandung kerap kali menjadi event tahunan yang tidak pernah menemukan solusi yang pasti.

Banjir Tahunan di Kab. Bandung (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 16:29

Pesona Garut: 'Surga dari Timur', Rekam Sejarah, dan Mahakarya Gastronomi Pasundan

Lanskap alam Kabupaten Garut menyajikan kekayaan vegetasi dan topografi yang memikat.

Situ Cangkuang, Leles, Garut. (Sumber: Wikimedia Commons/Lisensi CC | Foto: Mssetiadi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 15:33

Cagar Budaya dan Ragam Gaya Bangunannya di Kota Bandung

Jelajahi pesona sejarah Kota Bandung melalui jejak Cagar Budaya. Temukan kisah unik di balik arsitektur ikonis Art Deco, situs kolonial dan warisan legendaris yang tetap lestari hingga kini.

Gedung Sate, Bandung, 2024 (Sumber: Wikipedia | Foto: Rahmat Denas)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 13:08

RT/RW di Bandung Tidak Perlu Jadi Densus 88 Kecil-kecilan

Teror adalah peristiwa langka. Pergantian penghuni kontrakan adalah peristiwa sehari-hari.

Tim Densus 88. (Sumber: ayobandung.com | Foto: suara.com via ayobandung.com)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 10:49

Membincangkan Hujan di Musim Kemarau

Membicarakan hujan dalam kacamata kesadaran lingkungan dan seni.

Ilustrasi musim hujan. (Sumber: GeminiAi)
Ayo Netizen 06 Okt 2026, 06:30

PHBS Sebagai Modalitas Kesehatan Warga Kota Bandung

Tahun 2026 ini, influenza tipe A ini menjadi gambaran yang sama, meski oleh pemerintah tidak lagi di-covidkan. Namun kekhawatiran masyarakat tetap trauma dan ketakutan berlebihan.

Ilustrasi penderita influenza.
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 20:09

Ruang Terbuka Hijau di 30 Kecamatan di Kota Bandung

Artikel ini mengulas kondisi Ruang Terbuka Hijau di 30 kecamatan Kota Bandung. Temukan sebaran, fasilitas publik, keasrian lingkungan dan upaya pelestarian taman kota demi Bandung yang lebih asri.

Aktivitas warga di taman Alun-Alun Cicendo, Kota Bandung, Sabtu, 9 Juli 2022. (Sumber: Ayobandung | Foto: Magang Foto/Algifari Tohaga Abdillah)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 19:22

Ketika Wajah-Wajah Populer Mengisi Halaman Majalah Selecta Edisi Oktober 1970

Membuka kembali majalah lawas selalu menghadirkan sensasi tersendiri. Begitu pula ketika kembali membaca Majalah Selecta edisi Oktober 1970.

Hastarita Abdullah, fotomodel 17 tahun, tampil di sampul depan Majalah Selecta edisi Oktober 1970. Sementara Trio Nindya Sisters, tiga bersaudari asal Solo, tampil di sampul belakang, 56 tahun silam. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 17:03

10 Netizen Terpilih September 2026, Menangkap Ragam Isu Bandung dan Jawa Barat

Redaksi Ayobandung.id mengumumkan 10 penulis terbaik kanal "Ayo Netizen" untuk periode September 2026, dengan total hadiah tetap Rp1,5 juta.

Simulasi penanganan bencana gempa bumi akibat Sesar Lembang. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 16:16

Ronda Malam: Mereka yang Berjaga saat Warga Terlelap

Ketika warga terlelap, petugas ronda tetap terjaga. Di RW 10 Kelurahan Karang Mekar, Kota Cimahi, ronda malam menjadi ikhtiar keamanan sekaligus bukti bahwa semangat gotong royong masih menyala.

Ilustrasi warga Indonesia sedang ronda. (Sumber: Ilustrasi dibuat dengan Gemini AI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 15:02

Ruang Terbuka Hijau di Kota Bandung

Kota Bandung kini terus berbenah menambah Ruang Terbuka Hijau (RTH). Selain berfungsi menjaga keseimbangan alam dan menekan polusi, kehadiran taman kota ini juga menjadi sarana rekreasi warga.

Taman di Jl. Tongkeng No.46, Merdeka, Kec. Sumur Bandung, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 13:41

Mencegah KBGO di Kampus: Bukan Lagi Soal Perempuan Menjaga Diri

Seruan agar perempuan "pandai menjaga diri" di ruang digital tak lagi cukup. Kampus harus hadir secara sistemik menjamin ekosistem belajar yang aman bagi mahasiswi.

Pembukaan Latsar CPNS Tahun 2022 (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SkTAN)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 11:04

Kesehatan Mental Kita di Hari Sumpah Pemuda

Refleksi peringatas Sumpah Pemuda dengan isu keshatan mental.

Sumpah Pemuda & Kesehatan Mental. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 05 Okt 2026, 10:14

Amit-Amit, Jangan sampai Keranda Jadi Alat Ukur Tata Kota

Keranda seharusnya hanya mengantar manusia ke tempat peristirahatan terakhir. Ia jangan sampai berubah menjadi alat ukur apakah sebuah kota bekerja dengan baik atau tidak.

Lahan pekuburan di salah satu sudut Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 19:10

Batik dari Warisan Budaya Tradisional Menuju Fashion Internasional

Tahun 2009, UNESCO telah telah memasukkan batik Indonesia sebagai warisan budaya dunia. Batik perlu bergerak dari craft based economy menuju creative fashion industry. Dan dari produk menjadi nilai.

Koleksi batik Retno Mulyo. (Sumber: Batik Retno Mulyo)
Ayo Netizen 04 Okt 2026, 16:38

Memikirkan Kembali Sumber Daya Energi Baru: Terbarukan Berbiaya Murah dan Ramah Lingkungan

Mengulas solusi energi baru dan terbarukan yang murah serta ramah lingkungan.

Pengelola Waduk Jatiluhur menyebutkan kemarau panjang pada Juli 2023 menyebabkan tinggi muka air waduk mengalami penyusutan hingga 10 meter atau 2 meter diambang batas kritis. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)