Seorang kawan menulis status di media sosial (Facebook) terkait perbedaan penetapan Idulfitri.
"Ikut pemerintah, bukan ormas. Karena penguasa suatu negeri, di mana pun Anda berada, adalah pemerintah."
Sambil melampirkan gambar yang memperkuat pesannya.

Saat asyik membaca tulisan itu, bukan untuk membantah, (untuk mengiyakan sepenuhnya). Hanya mencoba memahami, ihwal setiap keyakinan, selalu ada cara pandang yang ingin dipertahankan dengan segudang dalih dan alasannya.
Tiba-tiba anak kedua saya, Aa Akil (11 tahun), bertanya polos,
“Bah, kita shalat besok (Jumat) atau Sabtu?”
Kujawab singkat, “Antos keputusan sidang dulu, ya.”
Malam itu, terasa gerah. Tak lama berselang, hasil Sidang Isbat diumumkan. Pemerintah menetapkan 1 Syawal 1447 H jatuh pada Sabtu, 21 Maret 2026. Keputusan ini disampaikan dalam sidang yang dipimpin Menteri Agama di Jakarta.

“Berdasarkan hasil hisab dan tidak adanya laporan rukyat hilal, disepakati bahwa 1 Syawal 1447 Hijriah jatuh pada hari Sabtu,”
Setelah mendengar keputusan itu, bocah kelas lima SD itu bertanya,
“Bah, kita ikut hari Sabtu atau besok, seperti di sini?”
Sambil mendekat dan mengusap kepala “Muhun, enjing.”
“Kenapa, Bah?” tanyanya lagi.
“Pan tadi tos kadangu takbiran ti masjid. Janten enjing salat Id,” jawabku.
Wajahnya langsung berbinar.
“Hore… besok salat! Takbiran!,” katanya penuh semangat, sambil merencanakan mengajak sepupunya.

Mengelola Perbedaan, Kedewasaan Hati
Menyikapi perbedaan ini, Tatang Astarudin, Wakil Ketua Badan Wakaf Indonesia (BWI), Ketua Dewan Pengasuh Pesantren Universal Al-Islamy Kota Bandung, Dosen UIN Bandung berkirim tulisan "Perbedaan Idulfitri dan Kedewasaan Hati"
Menurutnya, perbedaan penetapan Idul Fitri bukanlah akibat “kegagalan” pemerintah atau karena kesalahan umat, tetapi konsekuensi dari terbukanya “ijtihad ilmiah”.
Dalam tradisi Islam, terdapat dua pendekatan utama dalam menentukan awal puasa dan Idul Fitri. Ada rukyatul hilal (observasi, melihat langsung bulan) dan ada metode hisab (perhitungan astronomis matematis).
Perbedaan itu lahir dari cara memahami sabda Nabi SAW, “Berpuasalah karena melihat hilal dan berbukalah karena melihatnya.” (HR. Bukhari-Muslim).
Mayoritas mazhab klasik cenderung memprioritaskan rukyat literal, tetapi sebagian ulama membolehkan hisab (perhitungan) sebagai pendekatan rasional. Di Indonesia, kedua metode ini diakui sebagai hasil ijtihad yang sah. MUI menegaskan bahwa hisab dan rukyat sama-sama memiliki legitimasi syar’i.
Perbedaan penetapan Idul Fitri bukan karena “konflik dalil”, tetapi lebih karena perbedaan cara “membaca” dalil.
Dalam khazanah ushul fiqh dikenal kaidah, “Ijtihad tidak bisa dibatalkan oleh ijtihad lain.”
Ibnu Taimiyah menjelaskan bahwa perbedaan dalam masalah seperti ini termasuk ikhtilaf yang mu’tabar (diakui). Untuk sains modern, perbedaan pendekatan adalah sebuah keniscayaan.
Dalam astronomi, misalnya ada perbedaan antara kriteria dan visibilitas hilal. Dalam metodologi ada observasi, ada model matematis. Dalam epistemologi ada empirisme versus rasionalisme.
Perbedaan Idulfitri adalah contoh nyata bahwa Islam tidak anti-ilmu, justru hidup dalam dinamika ke-ilmuan.
Seiring perkembangan zaman, muncul konsep imkanur rukyat, mengintegrasikan antara hisab dan rukyat sebagai jalan tengah. Pendekatan ini menunjukkan, Syariat tidak menolak sains Sains tidak menafikan wahyu. Keduanya bisa berdialog, saling melengkapi, bukan saling menegasikan dan melemahkan.
Perbedaan Idulfitri harus disikapi “biasa saja” supaya ukhuwah Islamiyah tetap terpelihara. Karena sesungguhnya yang berbahaya bukan perbedaan hari raya, tetapi “perpecahan hati” di hari raya.
Pada teori “kohesi sosial”, perbedaan tidak selalu melemahkan komunitas, sebaliknya justru bisa memperkuat komunitas, jika dikelola dengan bijak.
Dalam konsep “pluralisme epistemik”, kebenaran bisa didekati melalui berbagai metode yang valid dan sah. Hisab adalah bahasa rasio. Rukyat adalah bahasa indera. Ukhuwah adalah bahasa hati. Dan Islam merangkul ketiganya.
Jika Idulfitri terjebak pada perbedaan tentang tanggal, maka kalenderlah yang paling berhak merayakannya. Namun jika Idulfitri adalah tentang semangat kembali kepada “fitrah”, maka yang paling berhak merayakannya adalah hati yang bersih dan lapang.
Oleh karenanya, perbedaan Hari Raya Idul Fitri harus dirayakan dengan penuh kedewasaan. Tidak semua harus sama untuk bisa bersama. Tidak semua harus seragam untuk bisa sejalan. Karena pada akhirnya, cara “melihat hilal” boleh berbeda, tetapi langit kita tetap satu. (www.uinsgd.ac.id).

Meraih Kemenangan, Mengubur Prasangka
Di balik perbedaan yang ada, kebahagiaan anak-anak tetap sederhana, ya bisa bertakbir, salat Id, dan bermain bersama.
Ingat, bagi anak-anak, Idulfitri bukanlah arena perbedaan otoritas, bukan pula ruang tarik-menarik dalil dan keputusan.
Pasalnya, idulfitri adalah momen kebersamaan, kekeluargaan. Dari bedug ditabuh, suara takbir menggema yang pertama kali didengar. Hangatnya suasana pagi yang dinanti. Sambil berjabat tangan yang saling menggenggam erat tanpa prasangka, malah bikin tersenyum (ngakak tertawa terbahak-bahak).
Justru orang dewasa kerap terjebak dalam memperbesar perbedaan, yang tak jarang berujung pada keributan, kebencian, bahkan terputusnya tali silaturahmi.
Padahal, salah satu hikmah Ramadan adalah menjaga dan merawat silaturahmi. Puncaknya hadir saat Idulfitri, momentum kemenangan sejati dalam menundukkan hawa nafsu, termasuk nafsu (angkara murka) untuk merasa paling benar.
Memang orang dewasa sering terjebak dalam dikotomi, ikut pemerintah atau ormas. Untuk anak-anak justru menghadirkan perspektif yang lebih jernih, dengan merayakan tanpa beban, tanpa prasangka basa-basi.
Di sinilah pentingnya kedewasaan dalam menyikapi perbedaan. Ketaatan kepada otoritas memang bagian dari tatanan kehidupan. Namun, merawat harmoni sosial dan kebijaksanaan dalam bersikap tak kalah penting dan bijaksana.
Segala perbedaan, bukan untuk dipertentangkan tanpa henti. Justru kenyataan yang perlu diterima dan dikelola dengan lapang dada dan berprasangka baik.
Idulfitri bukan sekadar tentang tanggal yang ditetapkan, melainkan kembalinya hati yang bersih, pikiran yang jernih, dan hubungan antarsesama yang tetap terjaga.
Dengan demikian, makna sejati kerap hadir bukan dari perdebatan yang panjang, melainkan dari hati yang sederhana. Inilah pelajaran yang bisa kita ambil dari pertanyaan sederhana seorang anak, yang terkadang sering terlupakan akibat riuh, gaduh atas hiruk-pikuk dunia yang serba digital. (*)
