Bandung ialah kota etnik, estetik, dan menarik untuk dilirik. Tak jarang pada musim liburan, terjadi kemacetan di mana-mana. Salah satunya kemacetan parah terpantau menjelang arus mudik lebaran pada Maret 2026 ini.
Berdasarkan laporan TomTom Traffic Index 2025, Bandung menduduki peringkat 16 kota termacet di dunia dan kota paling macet se-Indonesia. Posisi tersebut ditunjukkan dengan tingkat kemacetan 64% di mana rata-rata waktu tempuh 10 km di Bandung mencapai 32 menit.
Walau rintangan kemacetan menghadang, tak menyurutkan langkah wisatawan luar negeri ataupun wisatawan nusantara untuk tetap menjelajah Bandung. Bahkan perkembangan wisata di Bandung sangat pesat, terbukti dengan masuknya Bandung ke jajaran Top 3 Kota Wisata Asia pada awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan data okupansi hotel di kota Bandung terus meningkat. Tercatat Tingkat Penghunian Kamar (TPK) hotel pada Januari 2026 sebesar 54,90% pada hotel bintang, dan 38,87% pada hotel non bintang. Total TPK pada Januari 2026 adalah sebesar 50,86%, turun sebesar 13,28% dibandingkan dengan akhir tahun 2025.
Penurunan TPK pada Januari 2026 dapat berpengaruh terhadap kunjungan ke tempat wisata, namun tingkat signifikansinya tidak hanya diukur dari TPK saja. Sejatinya wisatawan bukan hanya berasal dari penduduk area luar Bandung saja, tapi warga kota Bandung pun pasti ingin menikmati sensasi liburan di kota sendiri, dengan memanfaatkan liburan lebaran kali ini.
Data kependudukan dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil Kota Bandung per akhir 2025, menginventarisir jumlah total penduduk kota Bandung mencapai 2.599.743 jiwa. Secara umum, meskipun terjadi eksodus mudik, sebagian besar populasi tetap menetap di Bandung atau melakukan mudik lokal. Angka spesifik warga yang tidak mudik tentu saja belum dirilis secara resmi, karena baru dapat diketahui melalui survei pasca lebaran. Namun diperkirakan jutaan orang akan tetap berada di Bandung.
Variasi Wisata di Kota Bandung
Potensi warga Bandung yang tidak mudik dapat menjadi peluang bagi industri wisata di Bandung. Beberapa jenis wisata yang dapat dinikmati di antaranya wisata alam (ekowisata), wisata budaya, wisata Bahari, wisata buatan, wisata pertanian (agrowisata), wisata religi/ziarah, wisata kuliner, wisata minat khusus/petualangan.
Beberapa rekomendasi wisata di Bandung sesuai jenis-jenis wisata yang disebutkan sebelumnya, di antaranya Taman Hutan Raya (Tahura), Hutan Kota Babakan Siliwangi, Museum Geologi, Museum Konferensi Asia Afrika, Gedung Sate, Jalan Braga (arsitektur kolonial), Saung Angklung Udjo, Kiara Artha Park, Kuliner Malam di Sudirman Street Day and Night Market, belanja di Factory Outlet Kawasan Cihampelas, dan yang lainnya.

Dengan maraknya wisata yang berkembang dan inovatif di kota Bandung, tentu saja dapat menggerakkan warga Bandung untuk tidak hanya berdiam diri di rumah pada liburan lebaran kali ini. Ada beberapa pendorong dan penarik motivasi dalam melakukan perjalanan wisata.
Pendorong Wisata
Menurut Azman (2019) faktor pendorong motivasi wisatawan melakukan perjalanan wisata di antaranya: Pertama, melepaskan diri dari rutinitas (escape), ada hal yang mendorong seseorang ingin melakukan perjalanan wisata ke daerah tujuan wisata untuk melepaskan diri dari rutinitas. Kedua, relaksasi (relaxation), ada juga seseorang yang ingin melakukan perjalanan wisata ke daerah tujuan wisata untuk relaksasi. Ketiga, bermain (play), seseorang ingin melakukan perjalanan wisata ke daerah tujuan wisata untuk bermain. Keempat, memperkuat ikatan keluarga (strengthening family bonds), seseorang melakukan perjalanan wisata ke daerah tujuan wisata untuk memperkuat ikatan keluarga. Kelima, gengsi (prestige), untuk meningkatkan gengsi menjadi faktor pendorong seseorang ingin melakukan perjalanan wisata ke daerah tujuan wisata. Keenam, interaksi sosial (social interaction), adanya faktor pendorong mengakibatkan seseorang ingin melakukan perjalanan wisata ke daerah tujuan wisata untuk berinteraksi dengan orang lain.
Penarik Wisata
Untuk faktor penarik motivasi wisatawan dalam melakukan perjalanan wisata menurut Azman (2019) di antaranya: Pertama, price, harga atau biaya wisata ke daerah tempat wisata yang menyebabkan seseorang memilih daerah tempat wisata tersebut. Kedua, culture, adanya kebudayaan di daerah tujuan wisata yang menyebabkan seseorang memilih daerah tempat wisata tersebut. Ketiga, natural environment and weather attraction, faktor lingkungan dan cuaca yang masih alami di daerah tujuan wisata yang menyebabkan seseorang memilih daerah tempat wisata tersebut. Keempat, location, faktor lokasi sebuah daerah tujuan wisata yang menyebabkan seseorang memilih daerah tempat wisata tersebut. Kelima, facilities, ketersediaan fasilitas di daerah tujuan wisata yang menyebabkan seseorang memilih daerah tempat wisata tersebut. Keenam, entertainment and relaxation, ketersediaan hiburan dan relaksasi di daerah tujuan wisata yang menyebabkan seseorang memilih daerah tempat wisata tersebut. Ketujuh, safety, tingkat keamanan pada daerah tujuan wisata yang menyebabkan seseorang memilih daerah tempat wisata tersebut.
Wisata lancar, ekonomi berkembang
Berbagai event baik menjadi pendorong atau pun penarik naiknya kunjungan wisatawan, diharapkan semakin menggerakkan ekonomi dan sektor pariwisata di kota Bandung. Pertumbuhan ekonomi sebesar 5,29% di tahun 2025, diharapkan meningkat di tahun 2026 ini. Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Bandung, Adi Junjunan Mustafa, menilai kinerja sektor pariwisata sepanjang tahun 2025 dinilai melampaui target yang telah ditetapkan Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung. Disbudpar Kota Bandung mencatat jumlah kunjungan wisatawan telah menembus 8,75 juta orang, melampaui indikator kinerja utama yang menjadi bagian dari perjanjian kinerja Kepala Disbudpar dengan Wali Kota Bandung.
Harapannya di liburan lebaran kali ini, berbagai jenis sektor pariwisata dapat memperlancar perputaran ekonomi di semua kalangan masyarakat, serta dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi di kota Bandung. Walau pada kenyataannya, capaian jumlah wisatawan tersebut belum dapat langsung dikaitkan dengan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) sektor pariwisata.
Disbudpar sendiri memproyeksikan jumlah kunjungan wisatawan berpotensi meningkat menjadi sekitar 9,1 juta orang di tahun 2026 ini, salah satunya potensi kunjungan wisata pada liburan lebaran kali ini. Proyeksi tersebut dihitung berdasarkan analisis statistik tren kunjungan yang cenderung mengalami peningkatan, potensi pasar yang sangat menjual, rencana pengembangan destinasi wisata di berbagai titik yang strategis, dan agenda pariwisata yang akan digelar sepanjang tahun 2026.
Perkembangan Wisata di Bandung
Poin-poin penting perkembangan wisata di Bandung, di antaranya: Pertama, pusat wisata baru & instagramable di mana selain wisata alam di Bandung Utara (Lembang) dan Selatan (Ciwidey), Bandung kini fokus pada urban tourism seperti kawasan Braga, Jalan Asia Afrika, dan kawasan kuliner tematik. Kedua, destinasi wisata terintegrasi dengan adanya pengembangan Bandung Timur sebagai pusat wisata terintegrasi, termasuk rencana revitalisasi lanjutan Alun-Alun Bandung. Ketiga, tren wisata terbaru yang sedang berkembang pesat termasuk glamping dengan city light view di Bandung Utara dan museum seni digital interaktif. Keempat, wisata kuliner & kreatif dengan ciri khas Bandung yang tetap menjadi primadona wisata kuliner dan belanja fashion (Paris van Java), menarik jutaan wisatawan, terutama pada akhir pekan dan musim liburan. Kelima, pengembangan eco-tourism dengan adanya perbaikan fasilitas di kawasan wisata alam seperti Tebing Keraton dan inisiatif pertanian terpadu di Sein Farm yang dimaksudkan untuk menjaga status lahan pertanian, penyediaan pangan, kepedulian hidup dan pertanian berkelanjutan.
Jadi tunggu apa lagi, para warga Bandung yang nggak mudik, yuk ramaikan wisata di Bandung! Selain manfaatnya dirasakan untuk diri sendiri dan keluarga, kita pun dapat menggerakkan perekonomian lokal khususnya di kota Bandung. Ekonomi tumbuh, masyarakat sejahtera, siapa lagi kalau bukan kita penggeraknya. (*)
