Bandung Lautan Macet Saat Liburan Akhir Pekan

6 menit baca
Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Tahun ini Bandung dikejutkan dengan sebuah fakta nominasi sebagai kota termacet no.1 di Indonesia. Dilansir dari ayobandung.com Bandung dinobatkan sebagai kota termacet menurut TomTom Traffic Ind ex 2024 karena rata-rata waktu tempuh di Kota Kembang mencapai 32 menit 37 detik per 10 kilometer menjadikannya kota dengan kategori waktu terlama yang hilang di jam sibuk.

Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa masih banyak permasalahan kompleks yang berkaitan dengan arus lalu lintas di Kota Bandung. Tentu banyak faktor yang menjadi alasan dan penyumbang kemacetan di Kota Bandung.

Sebetulnya jauh sebelum Kota Bandung dinobatkan menjadi kota termacet, saya pribadi sudah merasakan dampak kemacetan sejak tahun 2011 tepatnya saat masih bersekolah. Kemacetan menjadi pemandangan yang harus dihadapi setiap hari. Bersekolah di Kota Bandung membuat saya harus melintasi kawasan Cibaduyut yang tak pernah absen dari kemacetan.

Terlebih jika akhir pekan datang dan jauh saat Cibaduyut masih ramai oleh wisatawan dari luar kota. Sejumlah bis pariwisata datang memenuhi jalan, membuat sejumlah jalanan tersendat. Apalagi jika suasana ini terjadi saat bulan Ramadhan maka kemacetan akan parah.

Saat peminat angkot masih banyak-- mendapat kenyamanan duduk menjadi suatu kemustahilan karena kita harus berdesakan dengan penumpang lain. Berbeda dengan hari ini ketika penumpang angkot mungkin saja bisa selonjoran saking tidak adanya penumpang. Saat itu justru kursi yang bermuatan 6 orang harus dipaksakan menjadi 8 orang. Lutut yang menjadi tumpuan dari keseimbangan sering kali menjadi kaku dan berujung pada kram.

Sejak dulu saya tidak menyangka bahwa kemacetan akan merata ke seluruh bagian di Kota Bandung. Saya pikir kemacetan hanya akan menjadi ciri khas bagi Cibaduyut dan Rancamanyar. Namun tidak bisa dipungkiri ketika tingkat konsumsi masyarakat akan kendaraan roda dua semakin menggebu. Mungkin awalnya masyarakat ingin memiliki kendaraan yang lebih fleksibel. Terlebih rute angkot dari zaman dulu hingga sekarang masih tetap sama--belum ada perubahan--belum menjangkau semua jalan.

Awalnya kendaraan beroda dua ini tentu menjadi barang mewah yang tidak mudah didapatkan oleh masyarakat. Hanya masyarakat tertentu yang punya kestabilan finansial yang bisa mendapatkan barang ini. Namun dealer motor banyak bertransformasi karena melihat peluang konsumtif di masyarakat yang bisa menjadi lahan keuntungan. Dikeluarkanlah kredit dengan berbagai down payment murah dan angsuran sekecil-kecilnya dalam jangka waktu yang panjang.

Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Sekilas terlihat seolah masyarakat yang diuntungkan dengan hal ini tapi justru produsenlah yang mendulang keuntungan tanpa batas. Motor yang dikreditkan punya bunga yang bisa mencapai 2-3 kali lipat dari harga aslinya. Belum lagi jika konsumen tidak sanggup membayar biaya cicilan dalam beberapa bulan maka motor akan disita. Setelah itu motor sitaan tersebut akan dijual lagi oleh dealer kepada konsumen lain dan bisa jadi dikreditkan kembali. Begitu seterusnya rantai hutang-perhutangan dalam masyarakat menengah ke bawah.

Sebagai warga Kota Bandung yang cukup lama tinggal di kawasan Cibaduyut-Rancamanyar saya makin merasakan dampak kemacetan akibat dari volume jumlah kendaraan yang kian hari meningkat. Kemacetan juga akan bertambah ketika musim liburan panjang dan akhir pekan datang. Pada satu sisi saya senang ketika Bandung menjadi pilihan masyarakat luar kota untuk liburan. Bisa membuka peluang UMKM untuk berkembang, pemasukan daerah yang cukup hingga potensi terkenalnya budaya Sunda ke berbagai kota dan negara.

Hanya saja terkadang saya juga merasa risih karena kemacetan makin menyesakkan mobilitas saya sebagai warga Kota Bandung. Dulu kemacetan akhir pekan hanya terjadi di jam sibuk pada siang hari hingga malam. Tapi hari ini setiap sabtu dan minggu pagi di jam 8 pagi saya sudah terjebak kemacetan yang cukup panjang jika ingin berangkat ke pusat Kota Bandung untuk memenuhi keperluan atau mengikuti berbagai event atau kegiatan.

Menurut saya Kota Bandung belum siap dengan lonjakkan peminat wisata dari luar kota yang semakin meningkat. Hal ini terbukti dari fasilitas jalan yang masih tetap sama dari tahun ke tahun dan belum ada upaya pelebaran. Belum adanya regulasi dan penataan jam sibuk menjadikan Kota Bandung menjadi lautan macet di akhir pekan.

Saya sebagai warga Kota Bandung seolah dipaksa untuk berdamai dengan kemacetan akhir pekan karena melonjaknya wisatawan yang datang. Saya seolah dipaksa untuk menggadaikan ketenangan di lalu lintas kepada mereka wisatawan luar kota yang juga ingin mendapatkan ketenangan saat melancong ke Kota Bandung.

Saat wisatawan luar kota ingin mengurai stres dengan menikmati indahnya alam Kota Bandung. Justru saya sendiri sebagai warga Kota Bandung kadang merasa stres dengan kemacetan akhir pekan. Seolah tidak ada jeda ketika Senin-Jumat melintasi mobilitas macet di jam kerja lantas ketika libur di akhir pekan masih harus berjibaku dengan kemacetan yang lebih parah.

Dilansir dari detik.com menurut Julian Amri Wijaya seorang psikolog sekaligun dosen di Universitas Padjadjaran mengatakan bahwa dampak negatif dari kemacetan secara psikis adalah stres. Selaku pengguna transportasi umum kadang tingkat stres semakin meningkat ketika sudah berurusan dengan waktu. Meski sudah berangkat dua jam sebelum acara di mulai tapi tetap saja waktu tersebut habis melewati kemacetan. Tingkat stres juga tentu kerap dihadapi para pengemudi yang memiliki potensi tingkat stres lebih tinggi.

Jika sudah stres banyak dampak buruk yang dialami pengendara, bahkan tak jarang mereka adu jotos atau baku hantam karena tidak mau saling mengalah dalam berkendara. Julian

Baru-baru ini kemacetan saya rasakan kembali saat berkunjung ke daerah sekitaran ITB. Seperti biasa saya sudah mengetahui situasi jika akhir pekan pasti kawasan Dago akan dipenuhi oleh sejumlah wisatawan dan akan terjadi kemacetan. Namun pada 8 November 2025 saya tidak menyangka bahwa kemacetan yang parah berdampak kepada saya untuk menunggu TMB selama 2 jam.

Sebelumnya meski macet paling lama hanya menunggu 30 menit. Namun Sabtu itu kemacetan memang tidak terelakkan. Beberapa penumpang lain bahkan sudah ada yang menunggu di halte Rs. Boromeous jauh sebelum saya datang. Kemacetan membuat kaki cukup pegal karena halte yang tidak difasilitasi oleh tempat duduk. Angin semakin berhembus kencang, langit makin mendung dan hujan mulai turun sementara TMB masih belum datang karena terjebak kemacetan.

Tak hanya ketiadaan fasilitas kursi tapi sekedar atap sebagai pelindung dari hujan pun tidak ada. Kami sebagai penumpang akhirnya ikut berteduh dekat pos satpam yang jika hujannya makin deras tentu akan membuat baju kami basah. Tepat 2 jam akhirnya TMB datang namun dengan sejumlah penumpang yang sudah memenuhi area kursi. Kami semua yang sudah menunggu 2 jam di halte terpaksa harus berdiri kembali selama perjalanan hingga sampai di pemberhentian terakhir di Terminal Leuwi Panjang. Lonjakkan penumpang datang 3 kali lipat karena keterbatasan bus yang terjebak dalam kemacetan.

Akhir pekan yang seharusnya dinikmati dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan sirna sudah. Yang banyak tersisa hanya dumelan, rasa sesak di dada juga kesal yang tak kunjung berakhir hingga malam hari sebelum kemacetan benar-benar terurai. Energi positif dan semangat yang seharusnya bisa dibawa untuk menghadapi hari Senin-Jumat jauh sudah terkuras bahkan bisa bertambah stres seiringnya tekanan kerja.

Dalam beberapa tulisan, saya selalu menggaungkan dan berharap agar warga Kota Bandung bisa mengurangi konsumtif terhadap penggunaan kendaraan bermotor. Tidak usalah membeli motor keluaran baru jika motor yang lama bisa berfungsi dengan baik. Melalui tulisan, saya juga berharap banyak warga Kota Bandung yang terinspirasi bisa beralih secara perlahan menggunakan transportasi umum.

Saya paham masih banyak kendala dalam fasilitas yang ada di transportasi khususnya di Kota Bandung. Salah satunya belum terhubungnya rute yang baik antar jalan dan antar daerah. Namun saya yakin jika kita terus bersama bersinergi untuk merubah pola penggunaan transportasi--maka lambat laun pemerintah juga akan berbenah. Saya yakin jika penimat transportasi umum semakin meningkat maka pemerintah juga akan membuka mata dan menyadari bahwa masyarakatnya sangat membutuhkan fasilitas tersebut.

Biarlah--urusan wisatawan luar kota-- -pemerintah yang memikirkan, karena itu sangat jauh di luar kuasa kita sebagai masyarakat. Biarlah pemerintah yang mengurus regulasi penataan sejumlah kendaraan dari luar kota untuk lebih tertib dan tidak menimbulkan keruwetan dengan kemacetan.

Tugas sederhana kita sebagai warga Kota Bandung adalah mengendalikan yang bisa kita kendalikan. Salah satunya adalah kesadaran kita terhadap pola konsumtif terhadap kendaraan. Juga bersama-sama mengurai kemacetan dengan menggunakan transportasi umum jika jarak tempuhnya masih dekat. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Okt 2026, 20:18

Generasi Berempati Ekologis

Refleksi guru dalam isu darurat dampah di Bandung Raya.

Generasi berempati ekologis. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 19:45

Pesantren dan Pluralitas Indonesia

Bagaimana kita melihat pesantren kini dalam pluralitas? Masyarakat tidak cukup hanya diajarkan untuk "toleran". Mereka perlu memahami mengapa perbedaan harus dihormati dan hidup bersama secara adil.

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:38

Hidangan-Hidangan Nostalgia: Tanggung Jawab Bersama Melestarikan Warisan Kuliner Nusantara

Mari kita melangkahkan kaki lebih dalam untuk menjelajahi keunikan serta kekayaan rasa hidangan utama tradisional yang tersebar dari Sabang sampai Merauke.

Populer di Bandung sejak 1930, Colenak Tapai Pisang menyajikan perpaduan tapai singkong dan pisang tanduk panggang dengan saus gula merah kelapa, nikmat disantap hangat bersama teh panas. (Sumber: Dokumentasi Primarasa)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 18:04

Curug Putri Palutungan Terjun dari Atas Lava Gunung Gegerhalang

Gunung Gegerhalang itu ibu dari Gunung Cereme. Bila direkonstruksi, tinggi Gunung Gegerhalang itu diperkirakan mencapai 4.000 m dpl.

Dinding lembah di sisi timur Curug Putri, berupa susunan batutemplek, lava yang membeku dari aliran Gunung Gegerhalang peruode ke-2. (Foto: T Bachtia)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 17:35

UU Pelindungan Ketenagakerjaan: Mampukah Membuka Jalan bagi Gen Z?

Jika aturan memberikan perlindungan yang jelas sekaligus menciptakan kepastian hukum, perusahaan memiliki dasar yang lebih baik untuk menyusun rencana usaha dan perekrutan.

Harapan UU Pelindungan Ketenagakerjaan dan Nasib Gen Z. (Sumber: dok FSP LEM SPSI | Foto: Arif Minardi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 16:45

Menyelisik Peristiwa ’65 dari Kacamata Seorang Anak 7 Tahun: Membaca Candik ala 1965

Candik Ala 1965 membuka cara membaca peristiwa 1965 melalui pengalaman seorang anak yang belum memahami sepenuhnya konflik politik di sekitarnya.

Buku "andik Ala 1965" karya Tinuk R. Yampolsky. (Foto: Nur Febri Putranto)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 15:32

Bandung dan Cirebon: Dua wilayah di Jawa Barat yang Memiliki Suhu Udara Berkebalikan

Bandung dan Cirebon merupakan dua kota yang berada dalam satu wilayah Jawa Barat tapi memiliki kondisi cuaca yang jauh berbeda

Dua kota yang masuk ke wilayah Jawa barat tapi memiliki cuaca yang berbeda. (Sumber: Generated AI)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 10:16

Kala Bandung Tua Perlu Belajar dari Bandung Muda

Bandung Tua perlu belajar dari Bandung muda. Bukan berarti setiap gagasan anak muda pasti benar. Juga bukan berarti generasi yang lebih tua harus menyerahkan kemudi begitu saja. 

Aktivitas lari yang jadi tren di Bandung kiwari. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 08:04

Jejak Rasa di Tanah Seberang: Sejarah, Adaptasi, dan Evolusi Kuliner Jawa di Suriname

Migrasi besar-besaran tenaga kerja dari Jawa ke Suriname terjadi pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.

Sebuah foto yang memperlihatkan seorang perempuan Jawa di Suriname sedang menyiapkan hidangan ala Jawa untuk sebuah perjamuan. (Sumber: collectie.wereldmuseum.nl)
Ayo Netizen 09 Okt 2026, 07:43

Masa Depan Bandung Command Center: Dari Monitor ke Otak Kota

BCC masa depan idealnya mempunyai tiga lapisan. Pertama, IoT menjadi mata dan telinga kota. Kedua, AI menjadi mesin analisisnya. Ketiga, manusia tetap menjadi pengambil keputusan.

Ruang utama Bandung Command Center (BCC). (Sumber: sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 19:14

Ketika Keamanan Pangan Kota Bandung Diuji Kasus 88 Seoul

Momentum untuk melihat kembali bagaimana keamanan pangan dan perlindungan konsumen diterapkan dalam industri kuliner Kota Bandung yang terus berkembang.

Ilustrasi Walikota Bandung sedang sidak keamanan pangan. (Sumber: ilustrasi dikreasi dengan chatgpt | Foto: Sri Maryati)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 18:13

Bagaimana Menjadikan Kota Bandung sebagai Sentra Batik Utama di Jawa Barat

Bandung berpotensi menjadi sentra batik utama Jawa Barat. Melalui inovasi motif modern, penguatan pengrajin lokal dan dukungan festival budaya, batik Bandung siap mendominia pasar lokal dan global.

Damakara Store di Cihapit. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Rizma Riyandi)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 17:43

Khazanah Masakan Bogor Tempo Doeloe: Warisan Gastronomi Leluhur yang Kian Langka

Kuliner Bogor tempo doeloe adalah bagian tak terpisahkan dari identitas budaya Sunda dan kekayaan gastronomi Nusantara.

Cungkring merupakan sajian khas Bogor berupa sate kulit sapi yang dibalut gurihnya bumbu rempah dan kacang. (Sumber: Youtube | Foto: Dyodoran)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 16:17

Mang Jaya, Maestro Dongeng Sunda yang Melintasi Zaman

Lebih dari setengah abad Mang Jaya menjaga dongeng dan bahasa Sunda tetap hidup melalui kekuatan suara dan imajinasi.

Sosok Mang Jaya, maestro dongeng Sunda yang telah puluhan tahun menghidupkan tradisi mendongeng dan memperkenalkan kekayaan cerita Sunda kepada lintas generasi. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 15:46

Memaknai Kembali Bandung Heritage

Ada sudut-sudut kota Bandung yang menyimpan cerita sejarah tapi tergerus oleh waktu. Bandung bukan hanya kota arsitektur, tapi juga tempat bahasa Sunda dicetak, dibaca dan disebarluaskan.

Gedung peninggalan Era Kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Pexels | Foto: Andaru Firmansyah)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 13:10

Bandung Tak Bisa Hanya Diurus lewat 'PowerPoint'

Bandung tidak perlu menciptakan sejarah baru. Sejarahnya sudah ada. Yang dibutuhkan adalah menghubungkan titik-titik sejarah yang selama ini berdiri sendiri.

Salah satu sudut kawasan heritage Braga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Arif Ruhiyat)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 12:18

Masakan-Masakan Tionghoa Populer dalam Buku 'Masakan Aneka Warna' (1969)

Buku berjudul Masakan Aneka Warna disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio (yang juga ditulis sebagai Ibu Satrio Samuel).

Buku berjudul "Masakan Aneka Warna" disusun oleh Ny. W.J. Corputty dan Nn. Ong Kim Nio dan diterbitkan pertama kali oleh PN Balai Pustaka tahun 1969. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Wisata & Kuliner 08 Okt 2026, 11:18

Perkedel Bondon, Pengisi Perut Masinis Hingga Tempat Mangkal Para Perempuan Malam di Bandung

Perkedel Bondon lahir dari kebutuhan akan panganan para pekerja kereta api di Kota Bandung yang hanya melayani pelanggannya pada malam hari.

warung perkede Bondon di Jalan Stasiun Timur Kota Bandung (ist)
Ayo Netizen 08 Okt 2026, 10:34

Menolong Tak Cukup dengan Peduli: Ketika Mental Tak Baik-Baik Saja

Tidak semua orang yang sedang berjuang dengan masalah mental berkata, “Saya butuh pertolongan.” Kadang, yang dibutuhkan hanyalah seseorang yang peka kalau saya sedang tidak baik-baik saja.

Pembukaan Program Psikoedukasi Kesehatan Mental Remaja Pusjar SKTAN Tahun 2026. (Sumber: Humas Pusjar SKTAN | Foto: Humas Pusjar SKTAN)
Sejarah 08 Okt 2026, 09:24

Pertumbuhan Penduduk dan Hilangnya Penampung Air di Bandung

Banyak daerah di Bandung yang menggunakan nama Situ. Istilah ini merujuk pada keberadaan sebuah danau di tempat tersebut. Seperti Situ Aksan, Situ Sudimampir dan Situ Gunting

Situ aksan pada zama dahulu.(foto Istimewa)