Selamat Hari Raya Idul Adha
1447 H • Hari Raya Kurban & Kebajikan

Bandung Lautan Macet Saat Liburan Akhir Pekan

Dias Ashari
Ditulis oleh Dias Ashari diterbitkan Selasa 11 Nov 2025, 09:47 WIB
Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Sejumlah kendaraan terjebak kemacetan di Jembatan Layang Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja, Kota Bandung, Jumat 19 September 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Tahun ini Bandung dikejutkan dengan sebuah fakta nominasi sebagai kota termacet no.1 di Indonesia. Dilansir dari ayobandung.com Bandung dinobatkan sebagai kota termacet menurut TomTom Traffic Ind ex 2024 karena rata-rata waktu tempuh di Kota Kembang mencapai 32 menit 37 detik per 10 kilometer menjadikannya kota dengan kategori waktu terlama yang hilang di jam sibuk.

Fenomena ini menjadi bukti nyata bahwa masih banyak permasalahan kompleks yang berkaitan dengan arus lalu lintas di Kota Bandung. Tentu banyak faktor yang menjadi alasan dan penyumbang kemacetan di Kota Bandung.

Sebetulnya jauh sebelum Kota Bandung dinobatkan menjadi kota termacet, saya pribadi sudah merasakan dampak kemacetan sejak tahun 2011 tepatnya saat masih bersekolah. Kemacetan menjadi pemandangan yang harus dihadapi setiap hari. Bersekolah di Kota Bandung membuat saya harus melintasi kawasan Cibaduyut yang tak pernah absen dari kemacetan.

Terlebih jika akhir pekan datang dan jauh saat Cibaduyut masih ramai oleh wisatawan dari luar kota. Sejumlah bis pariwisata datang memenuhi jalan, membuat sejumlah jalanan tersendat. Apalagi jika suasana ini terjadi saat bulan Ramadhan maka kemacetan akan parah.

Saat peminat angkot masih banyak-- mendapat kenyamanan duduk menjadi suatu kemustahilan karena kita harus berdesakan dengan penumpang lain. Berbeda dengan hari ini ketika penumpang angkot mungkin saja bisa selonjoran saking tidak adanya penumpang. Saat itu justru kursi yang bermuatan 6 orang harus dipaksakan menjadi 8 orang. Lutut yang menjadi tumpuan dari keseimbangan sering kali menjadi kaku dan berujung pada kram.

Sejak dulu saya tidak menyangka bahwa kemacetan akan merata ke seluruh bagian di Kota Bandung. Saya pikir kemacetan hanya akan menjadi ciri khas bagi Cibaduyut dan Rancamanyar. Namun tidak bisa dipungkiri ketika tingkat konsumsi masyarakat akan kendaraan roda dua semakin menggebu. Mungkin awalnya masyarakat ingin memiliki kendaraan yang lebih fleksibel. Terlebih rute angkot dari zaman dulu hingga sekarang masih tetap sama--belum ada perubahan--belum menjangkau semua jalan.

Awalnya kendaraan beroda dua ini tentu menjadi barang mewah yang tidak mudah didapatkan oleh masyarakat. Hanya masyarakat tertentu yang punya kestabilan finansial yang bisa mendapatkan barang ini. Namun dealer motor banyak bertransformasi karena melihat peluang konsumtif di masyarakat yang bisa menjadi lahan keuntungan. Dikeluarkanlah kredit dengan berbagai down payment murah dan angsuran sekecil-kecilnya dalam jangka waktu yang panjang.

Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Kendaaran terjebak kemacetan parah di Jalan Merdeka, Kota Bandung, Rabu 31 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)

Sekilas terlihat seolah masyarakat yang diuntungkan dengan hal ini tapi justru produsenlah yang mendulang keuntungan tanpa batas. Motor yang dikreditkan punya bunga yang bisa mencapai 2-3 kali lipat dari harga aslinya. Belum lagi jika konsumen tidak sanggup membayar biaya cicilan dalam beberapa bulan maka motor akan disita. Setelah itu motor sitaan tersebut akan dijual lagi oleh dealer kepada konsumen lain dan bisa jadi dikreditkan kembali. Begitu seterusnya rantai hutang-perhutangan dalam masyarakat menengah ke bawah.

Sebagai warga Kota Bandung yang cukup lama tinggal di kawasan Cibaduyut-Rancamanyar saya makin merasakan dampak kemacetan akibat dari volume jumlah kendaraan yang kian hari meningkat. Kemacetan juga akan bertambah ketika musim liburan panjang dan akhir pekan datang. Pada satu sisi saya senang ketika Bandung menjadi pilihan masyarakat luar kota untuk liburan. Bisa membuka peluang UMKM untuk berkembang, pemasukan daerah yang cukup hingga potensi terkenalnya budaya Sunda ke berbagai kota dan negara.

Hanya saja terkadang saya juga merasa risih karena kemacetan makin menyesakkan mobilitas saya sebagai warga Kota Bandung. Dulu kemacetan akhir pekan hanya terjadi di jam sibuk pada siang hari hingga malam. Tapi hari ini setiap sabtu dan minggu pagi di jam 8 pagi saya sudah terjebak kemacetan yang cukup panjang jika ingin berangkat ke pusat Kota Bandung untuk memenuhi keperluan atau mengikuti berbagai event atau kegiatan.

Menurut saya Kota Bandung belum siap dengan lonjakkan peminat wisata dari luar kota yang semakin meningkat. Hal ini terbukti dari fasilitas jalan yang masih tetap sama dari tahun ke tahun dan belum ada upaya pelebaran. Belum adanya regulasi dan penataan jam sibuk menjadikan Kota Bandung menjadi lautan macet di akhir pekan.

Saya sebagai warga Kota Bandung seolah dipaksa untuk berdamai dengan kemacetan akhir pekan karena melonjaknya wisatawan yang datang. Saya seolah dipaksa untuk menggadaikan ketenangan di lalu lintas kepada mereka wisatawan luar kota yang juga ingin mendapatkan ketenangan saat melancong ke Kota Bandung.

Saat wisatawan luar kota ingin mengurai stres dengan menikmati indahnya alam Kota Bandung. Justru saya sendiri sebagai warga Kota Bandung kadang merasa stres dengan kemacetan akhir pekan. Seolah tidak ada jeda ketika Senin-Jumat melintasi mobilitas macet di jam kerja lantas ketika libur di akhir pekan masih harus berjibaku dengan kemacetan yang lebih parah.

Dilansir dari detik.com menurut Julian Amri Wijaya seorang psikolog sekaligun dosen di Universitas Padjadjaran mengatakan bahwa dampak negatif dari kemacetan secara psikis adalah stres. Selaku pengguna transportasi umum kadang tingkat stres semakin meningkat ketika sudah berurusan dengan waktu. Meski sudah berangkat dua jam sebelum acara di mulai tapi tetap saja waktu tersebut habis melewati kemacetan. Tingkat stres juga tentu kerap dihadapi para pengemudi yang memiliki potensi tingkat stres lebih tinggi.

Jika sudah stres banyak dampak buruk yang dialami pengendara, bahkan tak jarang mereka adu jotos atau baku hantam karena tidak mau saling mengalah dalam berkendara. Julian

Baru-baru ini kemacetan saya rasakan kembali saat berkunjung ke daerah sekitaran ITB. Seperti biasa saya sudah mengetahui situasi jika akhir pekan pasti kawasan Dago akan dipenuhi oleh sejumlah wisatawan dan akan terjadi kemacetan. Namun pada 8 November 2025 saya tidak menyangka bahwa kemacetan yang parah berdampak kepada saya untuk menunggu TMB selama 2 jam.

Sebelumnya meski macet paling lama hanya menunggu 30 menit. Namun Sabtu itu kemacetan memang tidak terelakkan. Beberapa penumpang lain bahkan sudah ada yang menunggu di halte Rs. Boromeous jauh sebelum saya datang. Kemacetan membuat kaki cukup pegal karena halte yang tidak difasilitasi oleh tempat duduk. Angin semakin berhembus kencang, langit makin mendung dan hujan mulai turun sementara TMB masih belum datang karena terjebak kemacetan.

Tak hanya ketiadaan fasilitas kursi tapi sekedar atap sebagai pelindung dari hujan pun tidak ada. Kami sebagai penumpang akhirnya ikut berteduh dekat pos satpam yang jika hujannya makin deras tentu akan membuat baju kami basah. Tepat 2 jam akhirnya TMB datang namun dengan sejumlah penumpang yang sudah memenuhi area kursi. Kami semua yang sudah menunggu 2 jam di halte terpaksa harus berdiri kembali selama perjalanan hingga sampai di pemberhentian terakhir di Terminal Leuwi Panjang. Lonjakkan penumpang datang 3 kali lipat karena keterbatasan bus yang terjebak dalam kemacetan.

Akhir pekan yang seharusnya dinikmati dengan penuh ketenangan dan kebahagiaan sirna sudah. Yang banyak tersisa hanya dumelan, rasa sesak di dada juga kesal yang tak kunjung berakhir hingga malam hari sebelum kemacetan benar-benar terurai. Energi positif dan semangat yang seharusnya bisa dibawa untuk menghadapi hari Senin-Jumat jauh sudah terkuras bahkan bisa bertambah stres seiringnya tekanan kerja.

Dalam beberapa tulisan, saya selalu menggaungkan dan berharap agar warga Kota Bandung bisa mengurangi konsumtif terhadap penggunaan kendaraan bermotor. Tidak usalah membeli motor keluaran baru jika motor yang lama bisa berfungsi dengan baik. Melalui tulisan, saya juga berharap banyak warga Kota Bandung yang terinspirasi bisa beralih secara perlahan menggunakan transportasi umum.

Saya paham masih banyak kendala dalam fasilitas yang ada di transportasi khususnya di Kota Bandung. Salah satunya belum terhubungnya rute yang baik antar jalan dan antar daerah. Namun saya yakin jika kita terus bersama bersinergi untuk merubah pola penggunaan transportasi--maka lambat laun pemerintah juga akan berbenah. Saya yakin jika penimat transportasi umum semakin meningkat maka pemerintah juga akan membuka mata dan menyadari bahwa masyarakatnya sangat membutuhkan fasilitas tersebut.

Biarlah--urusan wisatawan luar kota-- -pemerintah yang memikirkan, karena itu sangat jauh di luar kuasa kita sebagai masyarakat. Biarlah pemerintah yang mengurus regulasi penataan sejumlah kendaraan dari luar kota untuk lebih tertib dan tidak menimbulkan keruwetan dengan kemacetan.

Tugas sederhana kita sebagai warga Kota Bandung adalah mengendalikan yang bisa kita kendalikan. Salah satunya adalah kesadaran kita terhadap pola konsumtif terhadap kendaraan. Juga bersama-sama mengurai kemacetan dengan menggunakan transportasi umum jika jarak tempuhnya masih dekat. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Dias Ashari
Tentang Dias Ashari
Menjadi Penulis, Keliling Dunia dan Hidup Damai Seterusnya...

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 26 Mei 2026, 18:26

Makna Berkurban di Tengah Hidup yang Serba Sulit

Hari Raya Idul Adha tidak hanya dimaknai sebagai ibadah kurban, tetapi juga refleksi atas berbagai pengorbanan masyarakat yang sering kali tidak terlihat di tengah hidup yang semakin sulit.

Ilustrasi hewan kurban. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 17:05

Melon Premium Margamukti, dari Desa ‘Tanpa Keunikan’ sampai Berhasil Ciptakan Ekosistem Mandiri

BUMDes Marga Makmur menciptakan ‘pasar’. Menciptakan jaringan petani sampai menghubungkan mereka kepada para pembeli.

Hasil budidaya melon premium di Desa Margamukti, Sumedang Utara, (22/5/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 15:15

Demokratisasi Rasa: Potret Arsitektur Sosial dan Spiritual di Atas Meja Makan Idul Adha

Pesta kuliner yang terjadi selama Idul Adha merupakan manifestasi dari rasa syukur yang mendalam.

Ilustrasi olahan rendang dari daging kurban Idul Adha. (Sumber: Unsplash | Foto: prananta haroun)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 14:04

Duel Klasik Persib vs PSMS di Final Divisi Utama Perserikatan 1985

Final Divisi Utama Perserikatan 1985 antara Persib Bandung melawan PSMS Medan di Stadion Utama Senayan, Jakarta, pada 23 Februari 1985.

Berdiri dari kiri: Iwan Sunarya, Dede Iskandar, Sobur, Kosasih, Wawan Karnawan,  Ajat Sudrajat. Jongkok: Jafar Sidik, Suryamin, Sukowiyono, Adeng Hudaya dan Robby Darwis. (Sumber: tabloid BOLA edisi Februari 1983 | Foto: koleksi Kin Sanubary)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 13:00

Wededed ... Ikoniknya para Bobotoh Encib

Selebrasi para bobotoh Persib saat ini yang paling ikonik adalah sepeda motor yang digeber-geber sehingga menghasilkan suara wededed.

Ribuan Bobotoh mengikuti konvoi perayaan juara Super League 2025–2026 di Kota Bandung, Minggu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 12:12

Di Balik Konvoi Juara Persib 2026, Netizen Heran Banyak Kejadian 'Aneh' Tahun Ini

Keresahan sebagaian publik yang terjadi pada momentum konvoi juara tim Persib Bandung tahun 2026.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 26 Mei 2026, 11:24

3 Catatan untuk Konvoi Persib di Masa Depan: Sterilisasi Jalur, Keselamatan Bobotoh, dan Masalah Sampah

Konvoi juara Persib menyisakan sejumlah evaluasi, mulai dari sterilisasi jalur, keselamatan Bobotoh saat berdesakan, hingga 112 ton sampah di Kota Bandung.

Pemain dan official Persib Bandung bersama Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 26 Mei 2026, 09:58

Pemandian Air Panas Cimanggu kini hadir dengan wajah baru sebagai Jiwanta Hot Spring di kawasan Ciwidey.

Jiwanta Hot Spring menghadirkan konsep baru pemandian air panas alami dengan fasilitas lebih modern di Ciwidey.

Pemandian Air Panas Cimanggu. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 26 Mei 2026, 09:51

Dupan, Ketika Citarum Menolak Surut

Banjir kembali merendam Sapan Bandung. Luapan Sungai Citarum membuat Dupan terus hidup sebagai langganan genangan warga.

Banjir Citarum di Sapan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Biz 26 Mei 2026, 09:29

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026

PT PLN Nusantara Power UP Cirata sukses memborong penghargaan bergengsi TOP CSR Awards 2026 atas komitmen keberlanjutan sosial mereka.

Ukir Prestasi Gemilang, PT PLN Nusantara Power UP Cirata Sabet Trofi TOP CSR Awards 2026
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 08:21

Remitologisasi Sunda: Milangkala Tatar Sunda Mestinya 11 Oktober

Remitologisasi merupakan hak, bahkan kewajiban, bagi suatu bangsa yang sedang krisis jatidiri. Namun, mesti dilakukan dengan baik dan benar.

Prasasti Kebon Kopi II/Prasasti Pasir Muara. (Sumber: Leiden Library)
Ayo Netizen 26 Mei 2026, 07:40

Fenomena Mematikan Centang Biru pada WhatsApp dalam Perspektif Etika Komunikasi Digital

Fenomena mematikan centang biru WhatsApp mencerminkan perubahan etika komunikasi digital antara kebutuhan privasi, kenyamanan, dan ekspektasi respons instan.

Ilustrasi fenomena mematikan fitur centang biru pada WhatsApp. (Sumber: Dok. Penulis)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 19:25

Bandung Kembali Berpestapora untuk Tiga Kali Berturut-turut

Persib Bandung resmi menyambit gelar Liga Indonesia yang ke-5 kalinya dalam tiga kali berturut-turut. Euforia perayaan di Kota Bandung pun kembali menjadi perhatian.

Para Bobotoh merayakan gelar juara Persib Bandung di Liga Super Indonesia 2025/2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis).
Ayo Biz 25 Mei 2026, 18:51

Cerita dari Sumedang Utara, ‘Revolusi Mindset’ Warga Margamukti hingga Jadi Desa BRILiaN

Masuk 15 besar Desa BRILiaN 2025 bukan garis finish, melainkan titik awal bagi Desa Margamukti.

Kepala Desa Margamukti, Siti Nuraeni Sofa (tengah berjilbab hitam baju orange) saat acara promosi B2B budidaya melon premium. (Sumber: Ayobandung.id/Aris Abdulsalam)
Linimasa 25 Mei 2026, 17:18

Sisa-sisa Kejayaan Persib Bandung di Si Jalak Harupat

Si Jalak Harupat masih menyimpan jejak kejayaan Persib lewat pedagang jersey dan kenangan juara liga.

Kondisi pedagang suvenir Persib di Stadion Si Jalak Harupat. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 15:29

Persib Juara ala Atomic Habits

Analisa kemenangan Persib lewat Prinsip Atomic Habits-nya James Clear.

Pemain Persib Bandung mengangkat piala usai pertandingan melawan Persijap Jepara dalam Super League 2025-2026 di Stadion Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), Gedebage, Kota Bandung, Sabtu 23 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 12:10

Magot, dan Kesabaran Warga Bandung Mengurus Sampah Dapur

Majelis Ta'lim Baitul Mu'min membuat acara pengajian mengundang mahasiswa ITB menggelar pelatihan pengolahan sampah organik rumah tangga dengan menggunakan magot BSF atau larva Black Soldier Fly.

Jamaah Masjid Baitul Mu'min Mengikuti Pelatihan Pengolahan sampah dengan Magot. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Uwes Fatoni)
Beranda 25 Mei 2026, 10:17

Bandung Berpesta Semalaman untuk Persib, Petugas dan Warga Lokal Bersihkan Sampah Sejak Pagi Buta

Pas datang tadi mah kondisinya kacau, Kang. Pabalatak pisan. Plastik, botol minuman, bungkus makanan, bekas flare, pokokna loba pisan.

Handoyo bersama warga dan unsur kewilayahan ikut turun membersihkan sampah bekas konvoi di kawasan Pasupati, Senin 25 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 25 Mei 2026, 10:16

Persib, Bobotoh, dan Komunikasi Kota yang Membiru

Persib juara bukan sekadar prestasi, tetapi peristiwa komunikasi publik. Konvoi bobotoh menjadi bahasa kolektif yang membangun identitas, emosi, dan solidaritas kota.

Puluhan ribu bobotoh memenuhi jalan Asia-Afrika, Kota Bandung saat konvoi Persib Bandung juara Super League 2025-2026, Sabtu 24 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Biz 25 Mei 2026, 09:45

Support System yang Membentuk Ekosistem: Potret UMKM Bandung Hari Ini

Seperti inilah cara ekosistem UMKM di bawah binaan BRI menjalani arah bisnis yang sehat.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)