Memupuk Persaudaraan, Merawat Harmoni

Ibn Ghifarie
Ditulis oleh Ibn Ghifarie diterbitkan Jumat 20 Mar 2026, 15:48 WIB
Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)

Ilustrasi perayaan Nyepi di Bali (Sumber: Freepik)

Umat Hindu menyakini perayaan hari Nyepi 1948 Saka yang jatuh pada 19 Maret 2026 itu harus menjadi momentum yang tepat untuk menebar dan mengaktualisasikan nilai-nilai Dharma, membangkitkan kesadaran persaudaraan dan persatuan guna mewujudkan keberagaman yang toleran, rukun, damai dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika.

Pasalnya, segenap umat Hindu berkeyakinan persaudaraan, keharmonisan dan perdamaian merupakan segenap berkah terpenting dalam pergantian Nyepi.

Kemenag menerbitkan panduan pelaksanaan takbiran di Bali jika bertepatan dengan Hari Raya Nyepi 2026 untuk menjaga toleransi umat. (Sumber: Ilustrasi generate by AI)
Kemenag menerbitkan panduan pelaksanaan takbiran di Bali jika bertepatan dengan Hari Raya Nyepi 2026 untuk menjaga toleransi umat. (Sumber: Ilustrasi generate by AI)

Satu Bumi, Keluarga

Ini terlihat dari menetapkan tema utama perayaan Nyepi 2026 bertajuk "Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga, Nusantara Harmoni, Indonesia Maju” yang diangkat Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI).

Bimas Hindu Kementerian Agama RI menjelaskan tema ini menjadi ikhtiar bersama untuk menekankan pentingnya persaudaraan, toleransi, serta menjaga keseimbangan alam dan kehidupan bersama.

Semuanya ini dilakukan sebagai upaya memperkuat nilai persaudaraan universal dan keharmonisan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Dalam pembinaannya, Pembimas Hindu Jawa Barat, Eko Prasetyo, S.Ag, menekankan ihwal tema Vasudhaiva Kutumbakam mengandung makna mendalam bahwa seluruh umat manusia merupakan satu keluarga besar yang hidup di satu bumi yang sama.

Oleh karena itu, umat Hindu diharapkan mampu menjadi teladan dalam membangun kehidupan yang harmonis, saling menghormati, dan menjaga kerukunan, baik antarumat seagama maupun dengan masyarakat luas,”

Dengan mendorong terwujudnya pura yang ramah anak, ramah lansia, dan ramah disabilitas, sehingga pura dapat menjadi pusat kegiatan keagamaan yang inklusif dan memberikan rasa aman, nyaman bagi seluruh umat.

Ketua Panitia Nyepi Tahun Baru Saka 1948, I Komang Ardana, menyampaikan apresiasi atas kehadiran Pembimas Hindu Jawa Barat dan seluruh umat yang hadir saat Dharma Tula ini sebagai wujud kebersamaan umat Hindu dalam menyambut Hari Suci Nyepi.

Ketua PHDI Kabupaten Bekasi, Kombes Pol (Purn) Dr. Drs. I Made Pande Cakra, M.Si, menegaskan nilai Vasudhaiva Kutumbakam hendaknya menjadi landasan dalam kehidupan sehari-hari umat Hindu, khususnya dalam menjalin hubungan yang harmonis dengan sesama umat dan masyarakat sekitar, guna menciptakan lingkungan yang aman, nyaman, dan tenteram.

Menteri Agama Nasaruddin Umar mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan Hari Suci Nyepi Tahun Baru Saka 1948 sebagai momentum memperkuat persaudaraan dan merawat harmoni di tengah keberagaman.

Mengingat perayaan Nyepi tahun ini terasa istimewa karena berlangsung dalam suasana bulan suci Ramadan serta berdekatan dengan Idulfitri 1447 H. Pasalnya, pertemuan dua momentum keagamaan ini menjadi simbol kuat nilai kebersamaan lintas iman.

Ini bukan sekadar kebetulan, melainkan pengingat bahwa kita berada dalam satu semangat Vasudhaiva Kutumbakam: Satu Bumi, Satu Keluarga,"

Perbedaan bukanlah sekat, melainkan kekuatan untuk mempererat persaudaraan sebagai bangsa. Nilai itu, tercermin dalam ajaran Catur Brata Penyepian yang dijalankan umat Hindu saat Nyepi.

Melalui Amati Geni, umat diajak memadamkan api dalam diri seperti amarah dan egoisme. Amati Karya menjadi ruang untuk berhenti sejenak dari aktivitas fisik dan melakukan introspeksi. Amati Lelungan mengajarkan untuk tidak bepergian, memberi kesempatan bagi alam untuk beristirahat dan memulihkan keseimbangan. Amati Lelanguan mendorong umat melepaskan hiburan duniawi demi menemukan kejernihan batin.

Dengan menjalankan Nyepi, umat Hindu sesungguhnya sedang memberikan jeda kepada alam semesta. Jika kita memuliakan alam, maka alam pun akan memuliakan harkat kemanusiaan kita,”

Semangat Vasudhaiva Kutumbakam akan terus mendorong umat Hindu berperan aktif dalam menjaga kerukunan dan memperkuat kohesi sosial di Indonesia. (RRI, 15 Mar 2026 12:55 WIB, www.jabar.kemenag.go.id., www.kemenag.go.id)

Sejatinya perayaan tahun baru saka yang bertepatan pada tanggal satu bulan ke sepuluh (eka sukla paksa Waisak) sehari setelah Tilem Kasanga (panca dasi Krsna Paksa Caitra) yang diresmikan sejak penobatan raja Kaniskha dari dinasti Kushana suku bangsa Yuehchi pada tahun 78 (79) masehi ini mesti menjadi modal utama dalam membangun kehidupan bersama yang damai, rukun, toleran dan harmonis di bumi persada ini.

Kendati, dalam catatan Negarakertagama, dahulu pada masa kerajaan Majapahit pergantian tahun saka dari bulan Caitra ke Waisaka ini dirayakan secara besar-besaran. Beragam cara ritual dilakukan oleh umat Hindu.

Peringati Hari Raya Nyepi 2026, BRI Peduli Salurkan CSR 2.000 Paket Sembako bagi Warga Desa Angseri dan Desa Sarimekar di Bali. (Sumber: Dok BRI Peduli)
Peringati Hari Raya Nyepi 2026, BRI Peduli Salurkan CSR 2.000 Paket Sembako bagi Warga Desa Angseri dan Desa Sarimekar di Bali. (Sumber: Dok BRI Peduli)

Berkah Nyepi Terdalam

Ingat, perayaan Nyepi harus dilakukan melalui tahapan ritual; Melasti (pertobatan), Tawur (mengembalikan keseimbangan alam, manusia), Catur Brata Nyepi (empat ritual puasa; Amati geni/tidak menyalakan api; Amati Karya/tidak melakukan pekerjaan sehari-hari; Amati Lelungaan/tidak bepergian; Amati Lelanguan/tidak menghibur diri, hingga tidak boleh memasak dan juga tidak memakai lampu penerangan) dan Ngembak Geni (melakukan dharma santi/ibadah sosial berupa silaturahmi pada sanak, kerabat, tetangga).

Cita-cita agung dari perayaan ini untuk mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan lahir batin (jagadhita dan moksa), terbinanya kehidupan yang berlandaskan kebenaran (satyan), kesucian (siwam), dan keharmonisan dan keindahan (sundaram).

Ilustrasi membaca Al-qur'an, SARA bisa membuat hancurnya tali persaudaraan yang telah lama terjalin di antara umat pemeluk agama. Jangan dibiarkan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ilustrasi membaca Al-qur'an, SARA bisa membuat hancurnya tali persaudaraan yang telah lama terjalin di antara umat pemeluk agama. Jangan dibiarkan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Modal Keragaman Nusantara

Menurut Swami Vivekananda dalam pidatonya tanggal 26 September 1893 di depan Sidang Parlemen Agama-agama Dunia di Chicago, Amerika Serikat menguatkan kembali kebenaran tesis Tantular tentang Bhineka Tunggal Ika, menyatakan, "Agama Hindu tidak dapat hidup tanpa Agama Budha, demikian pula sebaliknya agama Budha tidak bisa hidup tanpa Agama Hindu. Menyadari apa yang diperlihatkan oleh perpisahan ini kepada kita, adalah bahwa orang-orang Budha tidak tahan tanpa otak dan filsafat orang Hindu, sebaliknya orang-orang Hindu tidak bisa hidup hidup tanpa nurani orang-orang Budha. Perpisahan antara orang-orang Hindu dengan orang-orang Budha adalah penyebab kehancuran India." (Swami Vivekannda;1993:51).

Jadi pengingkaran terhadap kekuatan dari "keragaman" membawa konsekuensi melemahnya perekat persatuan kita sebagai bangsa dan persatuan kita sebagai sesama penghuni "bumi yang satu ini", yang bermuara pada disintegrasi, kehancuran bangsa, bahkan dunia ini. (Jimmy B. Oentoro, 2010: 109).

Indonesia sebetulnya memiliki perekat ampuh untuk merangkum semua perbedaan serta keberagaman etnik-kultural dan religi. Perekat itu adalah pancasila.

Tantangan fundamental muncul di kemudian hari bersamaan dengan rontoknya rezim yang pernah membajak pancasila menjadi alat persatean, bukan persatuan. Tantangan fundamental Indonesia saat ini adalah bahwa epistemologi perbedaaan dan keberagamaan etnik-kultural dan religi ternyata belum selesai.

Karena persoalan yang satu itu belum diselesaikan secara tuntas, bangsa ini pun sakit. Ini kini dilanda demam tinggi "kita-mereka"; "kita-mereka menjadi garis demarkasi yang tegas dan tebal itu antaretnik-kultural dan religi. Sudah pasti, demam tinggi "kita-mereka" ini berdampak buruk bagi bangsa dan negara yang masyarakatnya terdiri dari ragam etnis, kultur dan religi ini.

Saking tingginya demam "kita-mereka" ini pun gampang dikipas-kipasi menjadi semakin memuncak pada upaya meniadakan dan membisukan yang lain. Terbukti, demam tinggi, "kita-mereka" telah membakar Maluku, Poso, Sampit dan Sambas. Selain keempat tempat ini, juga membisukan penganut agama tertentu, misalnya penyegelan gereja; membisukan penganut aliran keagamaan tertentu seperti Ahmadiyah. (Yudhis M. Burhanuddin, 2008: 27-28).

Ayam bandhurayam neti gananā laghuchetasām, udāracaritānāṁ tu vasudhaiva kutumbakam.” Maha Upanisad (VI.72)

Bila orang sempit pikir menganggap ‘ini saudara, itu bukan, bagi mereka yang berhati luhur seluruh dunia adalah satu keluarga Konsep persaudaraan dalam Hindu yang menekankan kasih sayang, kesetaraan, dan keharmonisan antar sesama manusia serta alam semesta.

Konsep Vasudhaiva Kutumbakam menekankan bahwa perbedaan bangsa, agama, maupun latar belakang tidak boleh menjadi sekat pemisah. Semua makhluk hidup, termasuk manusia dan alam semesta, adalah bagian dari keluarga besar ciptaan Tuhan.

Prinsip ini mengajarkan nilai kasih sayang, kesetaraan, dan rasa kemanusiaan. Setiap orang didorong untuk menghormati dan membantu satu sama lain sebagaimana saudara dalam keluarga.

Vasudhaiva Kutumbakam menjadi dasar untuk menciptakan harmoni, toleransi, dan perdamaian dunia. Ketika kita menyadari bahwa seluruh dunia adalah satu keluarga, sekat-sekat perbedaan lenyap. Kita tidak lagi melihat siapa yang berbeda keyakinan, warna kulit, atau asal bangsa, melainkan yang terlihat hanyalah sesama ciptaan Tuhan yang layak dikasihi, dihormati, dan dijaga.

Baca Juga: Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Inilah makna sejati dari Vasudhaiva Kutumbakam, persaudaraan universal yang menuntun kita menuju kedamaian dan harmoni kehidupan. “Dengan semangat Vasudhaiva Kutumbakam, kami memohon agar dunia ini hidup dalam kasih, persaudaraan, dan kedamaian” (www.tegal.kemenag.go.id)

Mari kita jadikan perayaan Dharma Santi ini sebagai momentum penyadaran diri, perekat persaudaraan dalam menjaga keutuhan bangsa secara bersama-sama untuk menumbuh suburkan kegairahan dan kesejukan dalam setiap pemeluk (pemuka) agama guna menciptakan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bahagia dengan cara menebarkan sikap cinta kasih, damai, menghargai orang dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan pancasila.

Walhasil, Nyepi mengajarkan kita pada sikap memperkuat persaudaraan, persatuan, semangat toleransi, perdamaian untuk meraih kehidupan yang rukun, harmoni, bahagia dan sejahtera dapat terus terjaga di tengah perbedaan. Selamat Hari Raya Nyepi 1948. Semoga semua makhluk berbahagia. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Ibn Ghifarie
Tentang Ibn Ghifarie
Pegiat kajian agama dan media di Institute for Religion and Future Analysis (IRFANI) Bandung.

Berita Terkait

News Update

Bandung 06 Mei 2026, 20:20

Mulai Rp10 Ribu, Aksesori Batu Rimba Buktikan Produk Lokal Bisa Tampil Berkelas dan Bernilai Estetika Tinggi

Di tengah geliat keragaman aspek budaya nasional yang dipadu-padankan dengan ranah bisnis, kini pelaku UMKM aksesori turut menjadi sasaran atensi.

Batu Rimba asal Kalimantan, produk ini menampilkan gelang jenis batu alam hingga mutiara Lombok. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 18:29

Separuh Kehidupan untuk Kemacetan di Kota Bandung

Bagi pengguna fasilitas transportasi umum, kemacetan adalah pergumulan yang melelahkan tapi harus dilewati setiap hari.

Kemacetan Cibaduyut Saat Ramadhan 2026. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 17:21

Bandung Kini, Mereka yang Bertahan di Antara Deru Zaman

Di tengah impitan kondisi sosial yang terasa begitu tajam, warga Bandung harus bisa tetap bertahan hidup dengan cara pengorbanan dan kesabaran. Yang akhirnya akan menemukan solusi terbaik.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 16:38

Panduan Wisata ke Little Venice Kota Bunga, Wisata Kanal ala Italia di Kaki Gunung Gede

Destinasi tematik di Kota Bunga ini menghadirkan kanal buatan, bangunan Eropa, dan wahana keluarga dengan latar pegunungan.

Little Venice Kota Bunga Puncak.
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 14:59

Menuju Pelestarian Cagar Budaya Kota Bandung yang Progresif dan Berkeadilan: Kebijakan Insentif Pajak Bumi dan Bangunan

Strategi pelestarian cagar budaya yang progresif dan berkelanjutan untuk menciptakan simbiosis mutualisme antara pelestarian Cagar Budaya dan kepastian hak ekonomi pemilik Cagar Budaya.

Pengendara melintas di Jalan Asia-Afrika, Kota Bandung, Selasa 21 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 06 Mei 2026, 13:51

Panjat Dinding, Prestasi dan Profesi yang Langka

Prestasi panjat dinding Indonesia didominasi nomor speed, sementara kekurangan route setter jadi kendala perkembangan atlet.

Panjat dinding. (Sumber: Ayomedia | Foto: Irfan Al Faritsi)
Wisata & Kuliner 06 Mei 2026, 11:25

5 Tempat Kuliner dan Restoran Pilihan dengan View Ikonik di Ciwidey Bandung

Panduan tempat makan di Ciwidey dengan view paling menarik. Dari warung sederhana hingga restoran unik di tepi danau.

Warung Kabut, Ciwidey.
Ayo Biz 06 Mei 2026, 11:23

Kita Butuh Isinya, Bukan Wadahnya

Jaga Bumi Ecomart mengajak belanja tanpa kemasan sekali pakai lewat konsep *refill* dan *reuse*. Pesannya sederhana: yang dibutuhkan adalah isi, bukan wadah, demi mengurangi sampah.

Beragam produk hasil recycle di Jaga Bumi Ecomart, menunjukkan limbah dapat diolah menjadi barang bernilai guna. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 09:45

Tujuan Kawula Muda Nonton Film di Tahun 1980-an

Kawula muda Kota Bandung sangat beruntung karena kota tempat mereka beraktifitas di sekolah punya seribu buat menghilangkan kepenatan sebagai pelajar di tahun 1980-an.

Bioskop Majestic, Kota Bandung. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Chainwit)
Ayo Netizen 06 Mei 2026, 07:39

Dari Loyalitas ke Konsumsi, Ketika Bobotoh dan Merchandise Jadi Satu Cerita

Dukungan klub kini bukan hanya emosi, tapi juga konsumsi. Artikel ini mengulas perubahan loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender.

Loyalitas Bobotoh dalam merchandise Persib x Weekend Offender. (Sumber: TikTok @terracedistric)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 20:28

Panduan Wisata Taman Safari Bogor, Tiket, Wahana, dan Safari Journey

Panduan lengkap Taman Safari Bogor mencakup harga tiket, Safari Journey, wahana, pertunjukan satwa, serta tips berkunjung agar pengalaman lebih maksimal.

Wisata Taman Safari Indonesia di kawasan Puncak, Bogor. (Sumber: Taman Safari Indonesia)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 18:05

Mobilitas Tinggi, Perlindungan Rendah: Catatan Hari Buruh dari Sektor Transportasi Darat

Mobilitas transportasi darat meningkat, tetapi perlindungan pengemudi tertinggal. Hari Buruh menyoroti risiko tinggi, jam kerja panjang, dan lemahnya pengawasan di sektor logistik dan bus.

Ilustrasi sejumlah pengemudi truk logistik dan bus sedang memperingati hari buruh 1 Mei. (Sumber: Google Gemini, 2026)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 17:22

Meng(hardik)nas, Peringatan, dan Kesadaran

Kemajuan bangsa sangat ditentukan oleh kualitas pendidikannya. Ikhtiar memperbaiki pendidikan dimulai dari ruang kelas, tempat manusia tidak hanya diajarkan pengetahuan, sebagai manusia seutuhnya.

Sejumlah siswa berjualan aneka produk makanan saat acara Market Day di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Selasa (5/12/2023) (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 16:28

Lembangku Sayang, Lembangku Malang (Prolog)

Keheningan dan kesederhanaan Lembang mampu menjadi dirinya sendiri, mampu menorehkan kesan yang tiada duanya.

Kartu pos yang bergambarkan gunung Tangkuban Parahu pada masa kolonial Belanda. Lokasi tepat dari gambar ini adalah kawasan jalan Setiabudi atas/Terminal Ledeng, dan foto diambil dari loteng Villa Isola). (Sumber: wereledculturn.nl)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 13:37

10 Netizen Terpilih April 2026: Bandung di Mata Pendatang, antara Bayangan dan Kenyataan

Berikut adalah nama-nama penulis yang meraih apresiasi dengan total hadiah senilai Rp1,5 juta.

Penari membawakan tarian tradisional di Taman Braga dan depan Gedung YPK, Jalan Naripan, Kota Bandung, Rabu 29 April 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Wisata & Kuliner 05 Mei 2026, 13:14

Tamasya ke Pulau Biawak, Wisata Pulau Konservasi di Laut Jawa

Wisata Pulau Biawak Indramayu mencakup akses dari Karangsong, mercusuar Belanda, habitat biawak liar, kondisi terumbu karang, serta tips kunjungan ke pulau.

Pulau Biawak, Indramayu. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 05 Mei 2026, 10:46

Mal BTM yang Tergerus Perubahan Cara Orang Berbelanja

Mal BTM di Bandung perlahan sepi seiring perubahan cara orang berbelanja ke digital, memangkas peran toko fisik dan menggeser rantai distribusi tradisional.

Suasana mal BTM terasa sunyi, pengunjung tak lagi seramai dulu. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 05 Mei 2026, 09:25

Setiap Kata adalah Arsip Sejarah

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama.

Beberapa kejadian menunjukkan bagaimana para public figure dan pejabat yang kembali mengulangi kesalahan yang sama. (Sumber: Pexels | Foto: BOOM 💥 Photography)
Beranda 05 Mei 2026, 09:15

Nasib Pekerja Informal yang Setiap Hari Dikejar Setoran, Tapi Masa Depan Tak Pernah Ikut Dijamin

Kisah dua saudara yang berjuang di tengah keterbatasan peluang kerja dan ketidakpastian upah sebagai petugas parkir demi menyambung hidup hari demi hari.

Sudah hampir 20 tahun Ade bekerja sebagai petugas parkir untuk menyambung hidup. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 04 Mei 2026, 21:56

Belajar dari Tragedi KA Argo: Sudah Saatnya Ubah Cara Awasi Perlintasan Biar Mobil Mogok Tak Lagi Jadi Maut

Tragedi KA Argo 2026 mendesak PT KAI untuk memodernisasi keamanan perlintasan sebidang guna mencegah mobil mogok akibat gangguan elektromagnetik dan rel yang tidak rata.

(Sumber: Pixels | Foto: Irsyad Rifqi)