Pedas di Lidah, Pedas di Kantong

kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan Rabu 18 Mar 2026, 15:02 WIB
16 pilihan sambal khas Nusantara dari Warung Sangrai. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

16 pilihan sambal khas Nusantara dari Warung Sangrai. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

“Denganmu makan menjadi asyik, tetapi hargamu sering membuat tidak asyik.”

Mungkin ungkapan itu bisa ditujukan pada jenis tanaman yang satu ini. Warnanya merah menyala, sangat menarik, dan rasanya pun tak kalah menyala—pedas membakar lidah. Dialah cabai rawit merah, tanaman yang sangat akrab di lidah masyarakat Indonesia.

Sejak dahulu nenek moyang bangsa Indonesia telah memanfaatkan berbagai rempah-rempah, termasuk cabai, dalam mengolah masakan. Dari Sabang sampai Merauke, hampir setiap daerah memiliki hidangan khas dengan cita rasa pedas yang menggugah selera. Sayur lodeh, ayam geprek, rica-rica, sambal dabu-dabu, tongseng, hingga seblak adalah beberapa contoh hidangan yang memanfaatkan cabai dan rempah-rempah sebagai penambah cita rasa.

Masyarakat Sunda di Jawa Barat memiliki tradisi kuliner yang kuat dengan lalapan (sayuran mentah) dan sambal. Sambal dan lalapan menjadi komponen yang tak terpisahkan dari hidangan seperti nasi liwet, ikan bakar, atau berbagai gorengan. Kuliner Sunda terkenal dengan cita rasa segar, pedas, dan kaya sayuran. Bagi orang Sunda, makanan tanpa sambal ibarat sayur tanpa garam—terasa kurang lengkap dan kurang menggugah selera.

Di bulan Ramadhan ini konsumsi cabai biasanya meningkat cukup tajam. Selain untuk olahan masakan seperti sayur dan sambal, tradisi berbuka dengan gorengan—seperti bala-bala atau tahu isi—yang terasa kurang lengkap tanpa cabai rawit turut menjadi salah satu faktor meningkatnya konsumsi cabai di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di Jawa Barat.

Ketika permintaan terhadap suatu barang meningkat sementara pasokan tidak mencukupi, hukum ekonomi pun berjalan: harga akan melonjak naik. Itulah yang kerap terjadi pada komoditas cabai, baik cabai rawit, cabai merah besar, maupun cabai domba.

Fenomena ini bukan sekadar persepsi masyarakat. Laporan dari Aktual.com menyebutkan Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, menyatakan kenaikan harga cabai rawit yang menembus Rp130 ribu per kilogram di sejumlah pasar masih tergolong wajar menjelang Hari Raya Idul Fitri. Pernyataan itu disampaikan saat Budi meninjau harga kebutuhan pokok di Pasar Rawasari, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2026).

Pertanyaan yang sering muncul setiap tahun adalah: mengapa harga cabai hampir selalu melonjak saat Ramadhan dan menjelang Lebaran, bahkan kadang melebihi harga ayam atau daging? Jawaban yang sering disampaikan adalah meningkatnya permintaan sementara pasokan terbatas karena sebagian daerah mengalami gagal panen akibat faktor cuaca, seperti hujan yang terus-menerus. Pada akhirnya, alam sering menjadi pihak yang disalahkan.

Situasi ini sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Berganti pemerintahan atau berganti Menteri Pertanian maupun Menteri Perdagangan, persoalannya tetap sama: harga tidak terkendali dan sering melambung tinggi.

Antara News melaporkan Direktur Eksekutif dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti menyebut kenaikan harga cabai menjelang Ramadhan sebagai inflasi musiman yang terjadi hampir setiap tahun dan seharusnya dapat diantisipasi oleh pemerintah melalui pengelolaan pasokan yang lebih baik.

“Ikan Bakar Sambal Pesisir”, wujud kecintaan pada rempah dan laut Nusantara yang menyatu dalam sepiring hidangan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
“Ikan Bakar Sambal Pesisir”, wujud kecintaan pada rempah dan laut Nusantara yang menyatu dalam sepiring hidangan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Harga komoditas akhirnya dibiarkan mengikuti mekanisme pasar, tergantung pada keseimbangan antara suplai dan permintaan. Namun pertanyaannya, apakah memang sesederhana itu? Ataukah ada pihak-pihak lain yang turut memainkan peran sehingga menjelang Ramadhan dan Lebaran harga beberapa komoditas tertentu melonjak tinggi?

Pada kenyataannya, setiap kenaikan harga komoditas pertanian tidak selalu dinikmati oleh para petani penggarap atau pemilik lahan. Hasil panen sering dibeli dengan harga standar oleh pengepul, kemudian dijual kembali ke pasar tradisional atau pasar induk dengan harga yang jauh lebih tinggi dengan alasan stok terbatas. Akibatnya, konsumen akhir yang merasakan lonjakan harga tersebut.

Sudah sejak lama kementerian terkait maupun dinas pertanian belum sepenuhnya mampu mengelola atau mengendalikan harga pasar berbagai bahan pokok kebutuhan masyarakat, termasuk cabai.

Dalam dunia pertanian memang terdapat faktor alam seperti curah hujan, banjir, atau kemarau panjang yang berada di luar kendali manusia. Namun di Indonesia, pola musim sebenarnya telah lama dapat diprediksi. Prakiraan dari BMKG cukup akurat untuk dijadikan acuan dalam menentukan waktu bercocok tanam, baik padi, palawija, maupun sayuran termasuk cabai.

Selain itu, dinas pertanian dapat melakukan sosialisasi yang lebih masif kepada para petani mengenai waktu tanam yang tepat berdasarkan prediksi musim beberapa bulan ke depan. Dengan perencanaan yang baik, proses menanam, merawat, hingga waktu panen dapat diatur agar tidak terganggu oleh perubahan cuaca.

Di sisi lain, penentuan harga beli hasil panen dari petani juga memerlukan campur tangan pemerintah agar petani turut menikmati keuntungan ketika harga komoditas yang mereka tanam mengalami kenaikan.

Dengan demikian, pemerataan keuntungan dapat dirasakan secara wajar oleh semua pihak yang terlibat—petani, pedagang, hingga konsumen. Masyarakat pun tetap bisa menikmati hidangan bercita rasa pedas tanpa harus merasakan pedasnya harga di pengeluaran. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

kurniawan abuwijdan
Network Marketer dan Peternak Pemula

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 15:02

Pedas di Lidah, Pedas di Kantong

Di bulan Ramadhan ini konsumsi cabai biasanya meningkat cukup tajam.

16 pilihan sambal khas Nusantara dari Warung Sangrai. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 18 Mar 2026, 15:01

Tahun Ini Ada 12,74 Juta Orang Mudik Naik Motor, Ini Cerita Pilihan Hemat dan Konsekuensinya

Mudik Lebaran 2025 diprediksi melibatkan 12,74 juta pemudik sepeda motor, menjadikannya salah satu moda transportasi paling dominan di Indonesia.

Pemudik sepeda motor melintasi jalur utama di Kota Bandung dengan membawa barang bawaan saat mudik Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 13:12

Kalau Nggak Macet Bukan Mudik Namanya, tapi Pulang Pergi!

Dulu, sekitar awal 2000-an, mudik itu bukan sekadar perjalanan pulang—itu semacam ujian iman versi jalan raya.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 18 Mar 2026, 11:36

Uniknya Pos Terpadu Nagreg, Lebih Mirip Restoran Nuansa Sunda

Pos terpadu di Nagreg tampil unik dengan konsep saung khas Sunda. Dilengkapi WiFi, area bermain anak, dan live music, tempat ini jadi rest area nyaman bagi pemudik.

Pos Terpadu Nagreg (Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 18 Mar 2026, 10:51

Ngabuburit Asyik dengan mobil Remote Control

Komunitas Bansel RC Lost Track mengisi ngabuburit dengan event Ramadan Adventure Ride & Enjoy di Banjaran. Lintasan buatan dan permainan seru membuat suasana lebih santai dan akrab.

Mobil remote control off-road. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 20:16

Idul Fitri: Jangan Cuma Suci, tapi Jadi Solusi

Ramadan melatih, Idul Fitri menguji: apakah kita hanya jadi pribadi lebih baik, atau naik level menjadi pelaku perubahan yang memberi dampak nyata bagi umat?

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 18:56

Apa yang Hilang dalam Lebaran

Kesempatan untuk menyentuh kembali relasi manusia, tradisi sederhana, dan pengalaman kebersamaan yang raib dalam kehidupan modern.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 17:48

Salam Tempel 2026: Ketika THR Beralih ke Dompet Digital, Masihkah Amplop Fisik Diperlukan?

Meski dompet elektronik jadi "amplop modern" yang praktis, mampukah teknologi menggantikan hangatnya tradisi salam tempel?

Tanpa punya rupiah di dompet, kehadiran paylater menambah lapisan “keajaiban” baru, kita bisa membeli hari ini dan membayarnya nanti. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 16:01

Pasca-Lebaran: Simpul Perasaan, Peluang, dan Tantangan Baru di Tanah Parahyangan

Peralihan menuju Syawal menjadi titik awal baru bagi masyarakat, ditandai dengan arus urbanisasi, pergerakan pasar kerja, fluktuasi UMKM, hingga perubahan pola konsumsi.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 15:06

Silaturahmi Lebaran di Bandung 1964 dalam Arsip Majalah Mangle

Salah satu potongan kecil itu dapat ditemukan dalam arsip Majalah Mangle edisi Januari 1964.

Karikatur klasik yang menggambarkan suasana perayaan Idulfitri 1383 H tahun 1964 di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 14:11

Kawasan Terpadu Situ Aksan dan Perumahan Bergaya Taman Villa

Keberadaan Situ Aksan sudah menjadi ciri bumi, sehingga menjadi sebutan bila akan menuju ke perkampungan yang ada di seputar situ.

Jalan-jalan yang teratur, diberi warna kuning, di sanalah (A-B-C) dibangun 150 rumah tamanvilla. Situ Aksan menjadi kekuatannya. (Sumber: Sumber citra satelit: Google maps | Foto: T Bachtiar)
Linimasa 17 Mar 2026, 14:06

Kisah Balap Lari Pakansari, Dashrun Ramadan yang Lahir dari Jalanan

Setelah tarawih, kawasan Stadion Pakansari dipenuhi anak muda yang mengikuti balap lari pendek. Tradisi spontan ini berkembang menjadi agenda olahraga populer di Kabupaten Bogor.

Lomba lari Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor. (Sumber: Pemkab Bogor)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 11:49

Kisah Rengginang di Dalam Kaleng Khong Guan yang Tak Pernah Usai

Malah kaleng kosong Khong Guan bisa juga di dalamnya berisi opak, kerupuk, atau emping.

Rengginang. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hayati Mayang Arum)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 10:29

Kala Ketupat dan Nastar Berebut Tahta di Hari Lebaran

Nastar dan ketupat sama-sama berkontribusi pada kebahagiaan Lebaran kita semua. Karena tanpa mereka, Lebaran akan terasa seperti ada yang kurang.

Ilustrasi makan bersama saat Lebaran. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Gambar: AI Gemini)
Linimasa 17 Mar 2026, 09:45

Balada Lebaran Zaman Kolonial, Kala Pribumi Berburu Utang di Rumah Gadai

Tradisi baju baru saat Lebaran ternyata sudah kuat sejak zaman Hindia Belanda. Catatan majalah Indie 1922 menyebut banyak warga meminjam uang bahkan menggadaikan barang demi tampil rapi di hari raya.

ilustrasi pribumi menggadai barang untk keperluan lebaran.
Beranda 17 Mar 2026, 08:56

Upah Tak Menentu dan Tanggung Jawab Besar, Realitas Hidup Porter Stasiun Bandung

Kisah Surya Apandi, porter Stasiun Bandung yang telah bekerja selama 27 tahun, menggambarkan perjuangan pekerja sektor informal dengan penghasilan tidak menentu di tengah ramainya arus mudik.

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 16 Mar 2026, 21:01

Mendobrak Sekat Finansial, Cara Disabilitas di Jawa Barat Kini Lebih Berdaya Lewat DIA KITA

Inisiatif DIA KITA muncul sebagai jawaban atas tantangan literasi keuangan yang sering kali belum menyentuh kebutuhan spesifik disabilitas.

Inisiatif DIA KITA muncul sebagai jawaban atas tantangan literasi keuangan yang sering kali belum menyentuh kebutuhan spesifik disabilitas.
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 20:43

Pembatasan Media Sosial Anak Resmi Berlaku 28 Maret: Solusi atau Tantangan Baru bagi Indonesia?

Mulai 28 Maret, Permen Komdigi No. 9/2026 ubah total akses digital anak bawah 16 tahun.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)