Pedas di Lidah, Pedas di Kantong

4 menit baca
kurniawan abuwijdan
Ditulis oleh kurniawan abuwijdan diterbitkan
16 pilihan sambal khas Nusantara dari Warung Sangrai. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
16 pilihan sambal khas Nusantara dari Warung Sangrai. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

“Denganmu makan menjadi asyik, tetapi hargamu sering membuat tidak asyik.”

Mungkin ungkapan itu bisa ditujukan pada jenis tanaman yang satu ini. Warnanya merah menyala, sangat menarik, dan rasanya pun tak kalah menyala—pedas membakar lidah. Dialah cabai rawit merah, tanaman yang sangat akrab di lidah masyarakat Indonesia.

Sejak dahulu nenek moyang bangsa Indonesia telah memanfaatkan berbagai rempah-rempah, termasuk cabai, dalam mengolah masakan. Dari Sabang sampai Merauke, hampir setiap daerah memiliki hidangan khas dengan cita rasa pedas yang menggugah selera. Sayur lodeh, ayam geprek, rica-rica, sambal dabu-dabu, tongseng, hingga seblak adalah beberapa contoh hidangan yang memanfaatkan cabai dan rempah-rempah sebagai penambah cita rasa.

Masyarakat Sunda di Jawa Barat memiliki tradisi kuliner yang kuat dengan lalapan (sayuran mentah) dan sambal. Sambal dan lalapan menjadi komponen yang tak terpisahkan dari hidangan seperti nasi liwet, ikan bakar, atau berbagai gorengan. Kuliner Sunda terkenal dengan cita rasa segar, pedas, dan kaya sayuran. Bagi orang Sunda, makanan tanpa sambal ibarat sayur tanpa garam—terasa kurang lengkap dan kurang menggugah selera.

Di bulan Ramadhan ini konsumsi cabai biasanya meningkat cukup tajam. Selain untuk olahan masakan seperti sayur dan sambal, tradisi berbuka dengan gorengan—seperti bala-bala atau tahu isi—yang terasa kurang lengkap tanpa cabai rawit turut menjadi salah satu faktor meningkatnya konsumsi cabai di berbagai wilayah Indonesia, khususnya di Jawa Barat.

Ketika permintaan terhadap suatu barang meningkat sementara pasokan tidak mencukupi, hukum ekonomi pun berjalan: harga akan melonjak naik. Itulah yang kerap terjadi pada komoditas cabai, baik cabai rawit, cabai merah besar, maupun cabai domba.

Fenomena ini bukan sekadar persepsi masyarakat. Laporan dari Aktual.com menyebutkan Menteri Perdagangan (Mendag) Budi Santoso, menyatakan kenaikan harga cabai rawit yang menembus Rp130 ribu per kilogram di sejumlah pasar masih tergolong wajar menjelang Hari Raya Idul Fitri. Pernyataan itu disampaikan saat Budi meninjau harga kebutuhan pokok di Pasar Rawasari, Jakarta Pusat, Senin (16/3/2026).

Pertanyaan yang sering muncul setiap tahun adalah: mengapa harga cabai hampir selalu melonjak saat Ramadhan dan menjelang Lebaran, bahkan kadang melebihi harga ayam atau daging? Jawaban yang sering disampaikan adalah meningkatnya permintaan sementara pasokan terbatas karena sebagian daerah mengalami gagal panen akibat faktor cuaca, seperti hujan yang terus-menerus. Pada akhirnya, alam sering menjadi pihak yang disalahkan.

Situasi ini sebenarnya sudah berlangsung puluhan tahun. Berganti pemerintahan atau berganti Menteri Pertanian maupun Menteri Perdagangan, persoalannya tetap sama: harga tidak terkendali dan sering melambung tinggi.

Antara News melaporkan Direktur Eksekutif dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Esther Sri Astuti menyebut kenaikan harga cabai menjelang Ramadhan sebagai inflasi musiman yang terjadi hampir setiap tahun dan seharusnya dapat diantisipasi oleh pemerintah melalui pengelolaan pasokan yang lebih baik.

“Ikan Bakar Sambal Pesisir”, wujud kecintaan pada rempah dan laut Nusantara yang menyatu dalam sepiring hidangan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
“Ikan Bakar Sambal Pesisir”, wujud kecintaan pada rempah dan laut Nusantara yang menyatu dalam sepiring hidangan. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

Harga komoditas akhirnya dibiarkan mengikuti mekanisme pasar, tergantung pada keseimbangan antara suplai dan permintaan. Namun pertanyaannya, apakah memang sesederhana itu? Ataukah ada pihak-pihak lain yang turut memainkan peran sehingga menjelang Ramadhan dan Lebaran harga beberapa komoditas tertentu melonjak tinggi?

Pada kenyataannya, setiap kenaikan harga komoditas pertanian tidak selalu dinikmati oleh para petani penggarap atau pemilik lahan. Hasil panen sering dibeli dengan harga standar oleh pengepul, kemudian dijual kembali ke pasar tradisional atau pasar induk dengan harga yang jauh lebih tinggi dengan alasan stok terbatas. Akibatnya, konsumen akhir yang merasakan lonjakan harga tersebut.

Sudah sejak lama kementerian terkait maupun dinas pertanian belum sepenuhnya mampu mengelola atau mengendalikan harga pasar berbagai bahan pokok kebutuhan masyarakat, termasuk cabai.

Dalam dunia pertanian memang terdapat faktor alam seperti curah hujan, banjir, atau kemarau panjang yang berada di luar kendali manusia. Namun di Indonesia, pola musim sebenarnya telah lama dapat diprediksi. Prakiraan dari BMKG cukup akurat untuk dijadikan acuan dalam menentukan waktu bercocok tanam, baik padi, palawija, maupun sayuran termasuk cabai.

Selain itu, dinas pertanian dapat melakukan sosialisasi yang lebih masif kepada para petani mengenai waktu tanam yang tepat berdasarkan prediksi musim beberapa bulan ke depan. Dengan perencanaan yang baik, proses menanam, merawat, hingga waktu panen dapat diatur agar tidak terganggu oleh perubahan cuaca.

Di sisi lain, penentuan harga beli hasil panen dari petani juga memerlukan campur tangan pemerintah agar petani turut menikmati keuntungan ketika harga komoditas yang mereka tanam mengalami kenaikan.

Dengan demikian, pemerataan keuntungan dapat dirasakan secara wajar oleh semua pihak yang terlibat—petani, pedagang, hingga konsumen. Masyarakat pun tetap bisa menikmati hidangan bercita rasa pedas tanpa harus merasakan pedasnya harga di pengeluaran. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 03 Nov 2026, 22:11

Lari Malam di Summarecon Bandung, Cara Sederhana Menikmati Suasana Gedebage

Summarecon Bandung jadi salah satu pilihan menarik untuk lari malam sambil menikmati suasana kawasan Gedebage yang modern dan nyaman.

Summarecon Bandung (Foto: Muhammad Dafi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 20:57

Menikmati Gedung Tua Bandung dan Efektivitas Insentif PBB Rp1

Bandung tidak hanya membutuhkan gedung baru yang megah. Kota ini Butuh keberanian untuk merawat bangunan lama yang menjadi bagian dari identitasnya.

Penulis Menikmati Jalan Asia Afrika merupakan Galeri Sejarah Terbuka yang Luar Biasa. (Sumber: Sri Maryati)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:48

ASN Award Bandung dan Masalah Bobot Kerja

Penghargaan dapat membangkitkan motivasi. Namun, bobot kerja, kompetensi, integritas, dan produktivitas yang menentukan mutu birokrasi.

Penyerahan ASN Award Kota Bandung (Sumber: Bandung.go.id)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 19:21

Pemanfataan Lahan Gambut yang Baik dan yang Buruk

Pemanfaatan lahan gambut yang tepat untuk kelestarian alam dan kenali praktik buruk yang memicu kerusakan lingkungan.

Pemanfataan Lahan Gambut Yang Baik dan Yang Buruk (Sumber: R.M.A. Ahmad Said Widodo | Foto: R.M.A. Ahmad Said Widodo diolah dengan Nano Banana 2 Lite)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 18:17

November Rain

Siap siaga dalam menghadapi awal musim penghujan di akhir tahun 2026 sekarang

Suasana Dayeuhkolot saat ini yang sering dilanda banjir besar saban musim hujan. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 17:02

Jas Almamater dan Dekadensi Kejujuran

Penting kiranya mengungkap tentang jas almamater yang tergadaikan demi isu besar dalam sumpah pemuda yang dipelesetkan menjadi gelaran aksi mahasiswa bayaran.

Massa aksi di depan gedung DPRD Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung | Foto: Gilang Fathu Romadhan)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 16:22

Tuntut Saja Negeri Ini dan Para Pemilik Kebijakan

Bolehkan kita sebagai warga negara Indonesia menuntut tentang berbagai bencana yang terjadi dan minim penanganan dari permerintah

Kebakaran yang terjadi sepanjang tahun 2026 di Indonesia. (Sumber: Pixabay)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 14:21

Asuransi Aing KDM: Seberapa Jauh Negara Hadir Melindungi Pekerja Informal Jabar?

Asuransi Aing yang digagas KDM menarik dicermati. Lewat program ini, Pemrov Jabar memberikan perlindungan jaminan sosial kepada 5,4 juta pekerja informal.

Asuransi Aing untuk pekerja informal Jabar. (Sumber: ayobandung.com | Foto: jabarprov.go.id via ayobandung.com)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 11:22

Antisipasi Banjir dalam Alunan November Rain

November Rain adalah judul lagu rock yang pernah populer. Tetapi lagu ini seakan mengingatkan kita akan musim penghujan. Mengantisipasi banjir perlu aksi nyata sedini mungkin melalui fenomena alam.

Banjir di Kampung Bojong Asih, Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, pada Minggu, 9 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 03 Nov 2026, 07:50

Ayo Mengenal Stoicisme; Berdamai dengan Hal-Hal yang Tak Bisa Kita Kendalikan

Mengajak pembaca untuk mengenal stoicisme, filosofi tentang penerimaan akan diri dan menghadapi kehidupan dengan lebih baik

ilustrasi karya seni. (Foto: Alexas Fotos)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 20:58

Komunikasi sebagai Jembatan Empati di Tengah Krisis Karhutla

Melalui komunikasi, masyarakat Bandung yang tidak merasakan langsung dampak karhutla tetap dapat membangun kepedulian, solidaritas, dan dukungan bagi masyarakat yang terdampak.

Penanganan Karhutla di Kalimantan Tengah. (Sumber: Pemprov Kalteng)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 19:02

Fenomena Kemacetan di Bunderan Cibiru berdasarkan Pengalaman Pengguna Jalan

Kemacetan sering terjadi di perkotaan akibat padatnya kendaraan, salah satunya di Bunderan Cibiru, Bandung, yang menjadi titik pertemuan arus lalu lintas masyarakat sehari-hari.

Kondisi lalu lintas di kawasan Bunderan Cibiru, Bandung. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Foto: Vania Ramadhani Sidiq)
Wisata & Kuliner 02 Nov 2026, 18:53

Ikon Taraju, Surga Tersembunyi di Tasikmalaya

Hamparan perkebunan teh dari ketinggian memang menjadi pemandangan yang memanjakan mata. Hal ini yang menjadi salah satu kelebihan Ikon Taraju di Desa Taraju, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya.

Wisatawan berswafoto di Ikon Taraju (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 18:24

Gasibu Tempo Dulu

Lahan cikal bakal Gasibu merupakan kawasan rawa yang memiliki sumber mata air dan sempat masuk dalam rencana pembangunan kompleks Gedung Sate.

Kawasan Gasibu tempo dulu. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:37

Analisis Ekologis, Sosiologis dan Ekonomi Perkebunan Teh Era Kolonial vs Perkebunan Sawit Era Modern

Membandingkan dampak ekologis, sosiologis dan ekonomi perkebunan era kolonial dan modern. Temukan transformasi besar, warisan sejarah dan tantangan keberlanjutan yang dihadapi industri ini.

Perkebunan Teh Cukul, Pangalengan. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 17:14

Seluk-Beluk Memancing

Mencermati aktivitas memancing dari sudut ekologis, psikologis, atau sejarah.

Seluk-beluk memancing. (Sumber: GeminiAI)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 15:15

Karhutla: Bencana Alam atau Persoalan Hukum?

Karhutla bukan sekadar bencana alam akibat kondisi cuaca, tetapi juga persoalan lingkungan yang menuntut tanggung jawab manusia dan penegakan hukum.

Dokumentasi penanganan kebakaran hutan dan lahan. (Sumber: gakkum.kehutanan.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 13:18

Kala Bersepeda dan Berlari di Kota Bandung Menjadi Aktivitas Berisiko

Dengan konsentrasi PM2,5 yang tinggi, maka olahraga luar ruangan di Kota Bandung menghadapi persoalan yang agak mengkhawatirkan.

Sekelompok warga bersepeda di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayo Bandung)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 11:53

Komunikasi dengan Alam

Komunikasi lingkungan dilakukan sepanjang tahun, bukan ketika musim kebakaran dan banjir muncul.

Kebakaran hutan dan lahan di Riau (04 Sep 2026). (Sumber: mediacenter.riau.go.id)
Ayo Netizen 02 Nov 2026, 10:30

Becak Cirebon: Transportasi Langka yang Masih Digunakan Sebagian Masyarakat

Transportasi umum di Kota Cirebon masih menyediakan berbagai macam pilihan mulai dari ojek online, elf, angkot hingga becak.

Becak disekitaran Grage Mall Cirebon. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)