Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

7 menit baca
Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan
Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)
Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi. Di satu sisi, umat Islam mengalami kolonialisme sebagai luka kolektif. Kita dibingkai lewat wacana global yang memposisikan Islam sebagai masalah. Namun di sisi lain, pengalaman sebagai korban itu tidak serta-merta membebaskan kita dari godaan untuk meniru pola yang sama. Kita menempatkan diri sebagai subjek yang berhak menilai, bahkan mengatur kelompok lain. Kita adalah yang ditindas dan yang berpotensi menindas.

Ambivalensi itu mulai terbentuk secara sistematis sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, ketika Nusantara berada di bawah bayang-bayang Rezim Kolonial Hindia Belanda. Melalui sistem yang sangat rapi dan mulus, umat muslim menjadi objek pengawasan, regulasi, bahkan penyelidikan epistemik.

Tokoh seperti Snouck Hurgronje (1857-1936) mengobservasi dayah di Aceh untuk memahami potensi perlawanan, menggiring penemuan akademik untuk memisahkan Islam dan politik bagi kemenangan penjajah. Begitu juga Clifford Geertz (1926-2006) yang datang jauh setelah itu, berhasil membingkai trikotomi santri, abangan, dan priyayi pada kehidupan masyarakat Jawa. Dengannya hierarki dan oposisi internal dibakukan yang kemudian diinternalisasi dalam cara kita memahami diri sendiri.

Menengok Proyeksi Barat

Dalam wacana Barat, Islam sering diproyeksikan melalui lensa orientalisme dan apa yang disebut dengan islamologi. Disiplin yang tidak pernah dikenal namanya dalam rahim keilmuan Islam sendiri.

 Misalnya, kerudung, seringkali dipandang sebagai bentuk pembungkaman atas tubuh dan pikiran perempuan, tanpa pernah didialogkan pada diri muslimah itu sendiri. Jelas generalisasi dan misrepresentasi, enggan memandangnya sebagai pilihan identitas atau ekspresi religius. Pantangan tertentu, seperti mengharamkan babi, malah dilihat sebagai dogma yang tidak masuk akal. Ajaran yang primitif, yang ketinggalan zaman. Narasi seperti ini terus diulang-ulang, memberi kesan bahwa Islam itu bodoh, penyembah batu dalam kubus hitam kotak, dan semata warisan praktik pagan Arab. Sebuah sekte sempalan dari tradisi Yudeo-Kristian.

Dalam dinamika kontemporer, stereotip ini tumbuh liar secara populis. Islam diasosiasikan sebagai kategori yang melembagakan perkawinan poligami. Begitu juga jihad yang membunuh, martir bom bunuh diri, lekat dengannya. Di antara kita sendiri, ejekan “sumbu pendek” atau label “kadrun” di ruang publik yang naas, masih berkeliaran. Praktik-praktik keberislaman tertentu rentan direduksi semata menjadi “jidat hitam”, “ukhti bau bawang”, “cadar dan tongos”, “pesantren jorok”, dan lain sebagainya.

Kecemasan pada eksistensi umat muslim, membentuk persepsi bagi sebagian orang. Katanya mending zaman Orba, ketika Soeharto lebih piawai menstabilkan negara, tidak apa-apa mengekang ekspresi kesalehan, yang paling penting negara enggak membiarkan mereka. Kemudian pertanyaannya, siapa mereka itu?

Tentu semua masalah ini tidak sederhana. Islamofobia memang tren mental global yang perlu diakui, yang memuncak pascatragedi 11 September 2001, dikaitkan dengan jaringan terorisme, Al-Qaeda, dan dunia Islam. Di Indonesia, Densus 88 Antiteror lahir pada 2003 menyikapi tragedi Bom Bali, 7 tahun berikutnya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berhasil berdiri.

Masih dalam riak-riak yang sama. Genealogi tersebut juga sejujurnya melatarbelakangi terbitnya program “Moderasi Beragama” di era Jokowi pada 2019. Ingat, ada peristiwa besar yang terkenang sebelumnya, yakni Aksi 212. Sebuah gerakan di tahun 2016 yang memprotes dugaan penistaan agama yang terjadi pada Ahok, yang kala itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ingat ada pelarangan HTI dan FPI.

Kastrasi Politik Islam(isme)

Sejarah umat Islam di Indonesia dapat kita baca sebagai kisah penjinakan politis. Kemenangan Islam atas kerajaan-kerajaan lokal seperti runtuhnya Majapahit dan bangkitnya Kesultanan Demak (abad ke-15) menandai transformasi kekuasaan yang tidak selalu damai. Raden Patah, dan kemudian Kesultanan Mataram Islam di bawah Panembahan Senopati dan Sultan Agung (abad ke-16-17), bukan hanya menjadi simbol dakwah, tetapi juga aktor penaklukan terhadap otoritas lokal.

Pesantren Sukamiskin Bandung. (Sumber: Istimewa)
Pesantren Sukamiskin Bandung. (Sumber: Istimewa)

Posisi itu berbalik drastis kala kekuasaan kolonial Eropa khususnya kapitalis VOC (abad ke-17) dan disusul Rezim Kolonial Hindia Belanda (abad ke-19) menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam. Umat Islam bergeser disubordinasi. Perang Padri (1803-1838) di Sumatera Barat atau Perang Diponegoro (1825-1830), perjuangan kebangsaan, pemberontakan, atau radikalisasi Islam?

Menjelang masa Kemerdekaan, ambivalensi itu tidak memudar. Pada 1945, Piagam Jakarta diperdebatkan dengan tokoh-tokoh seperti Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, dan Mohammad Natsir. Politik Islam menagih rekognisi konstitusional. Islam kembali “dikalahkan”, kali ini bukan oleh kolonialisme Barat tetapi oleh kompromi nasionalisme sekuler-religius. Negosiasi membawa kita pada “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Pada era demokrasi parlementer, Partai Masyumi (1945-1960) menjadi kendaraan politik utama umat Islam modernis. Namun pembubaran Masyumi oleh Soekarno pada 1960, kembali menyingkirkan Islam dari pusat kekuasaan negara. Sejak itu, gagasan politik Islam beralih ke jalur dakwah dan tarbiah. Yang paling tampak berdirinya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada 1967.

Di masa Orde Baru, aspirasi politik Islam ditekan. Ia direpresi, ditawar-tawar lagi, lalu muncul kembali secara bertahap baik melalui pengendalian Partai Persatuan Pembangunan, gerakan dakwah kampus, maupun kebangkitan identitas Islam menjelang akhir rezim Soeharto.

Pasca-Reformasi 1998, aspirasi politik Islam hidup kembali melalui berbagai partai dan gerakan, dalam bentang demokrasi yang lebih majemuk dan kompetitif. Pada masa inilah, perda-perda bernuansa syariat tumbuh subur di tengah desentralisasi dan otonomi daerah. Regulasi perizinan rumah ibadah dikukuhkan kembali, penolakan minoritas, dan aksi-aksi pelanggaran kebebasan beragama.

Baca Juga: Idulfitri 1447 H

Apa Artinya Semua ini untuk Kita?

Bagi kita, umat muslim Indonesia yang kerap mengaku bahkan mengklaim diri sebagai kelompok progresif, dengan kelakuan yang sering menyederhanakan apalagi meremehkan, peta genealogis politik umat Islam yang berada di spektrum berbeda adalah sebuah jebakan maut.

Mereka, umat muslim Indonesia yang lain, yang telah kadung dilabeli “intoleran”, “radikal”, atau “konservatif” tidak muncul dari ruang hampa, dan tidak bisa dipahami hanya sebagai versi tidak otentik dari Islam yang kita yakini.

Relasi antarkelompok muslim di Indonesia, yang berada dalam spektrum tafsir dan orientasi politik yang berbeda, kerap berakhir pada saling tuduh dan saling delegitimasi. Kita sibuk melakukan klarifikasi identitas. “Bukan liberal, tapi progresif” atau “bukan sekuler, tapi humanis”. Sementara di sisi lain ada yang menegaskan dirinya “bukan radikal, tapi kaffah” atau “bukan ekstrem, tapi murni sesuai Alquran dan Hadis”. Dalam situasi yang keruh ini, tanpa disadari kita justru sedang melanggengkan pola kolonial baru. Ialah saling menghakimi dan mengatur siapa yang benar-benar Islam dan siapa yang kurang Islam.

Akibatnya banyak momen penting untuk saling memahami terlewatkan dengan sia-sia. Kita terlalu cepat mengambil kesimpulan, terjebak dalam esensialisme. Dengan pernyataan-pernyataan normatif seperti “Rasulullah itu feminis” atau “Islam itu sejatinya toleran”. Namun pertanyaan yang jarang kita hadapi secara jujur adalah, bagaimana jika ada wajah Islam yang memang mendukung eksklusivisme? Apakah cukup kita mengatasinya dengan menyatakan bahwa “itu bukan Islam yang sejati”, sementara Islam yang “benar” adalah Islam versi kita?

Untuk konteks hari ini, pendekatan semacam itu kiranya tidak lagi memadai. Kita tidak bisa terus berislam hanya dengan bermain kata-kata, merapikan narasi, atau memproduksi branding keislaman yang tampak terbuka tetapi tetap beroperasi dalam logika penaklukan yang simbolik.

Mengklaim Islam terbuka sambil menyingkirkan versi lain Islam dengan cara yang sama eksklusifnya adalah kontradiksi yang harus dihadapi secara jujur. Kita dituntut untuk ‘bermain’ lebih adil.

Sebab bukankah Islam ramah yang kita promosikan juga kita yakini dan kita hayati sepenuh hati. Bukan sekadar sebagai identitas politik, tetapi sebagai jalan takwa, pengamalan syariat, dan komitmen etis yang berakar pada Alquran dan Sunnah Nabi? Begitu juga pada saat yang sama, apakah kita bersedia mengakui bahwa mereka yang mengambil jalan berbeda, yang mengkampanyekan #IndonesiaTanpaPacaran, membuat kontra narasi kesetaraan gender dengan “keserasian gender”, mengharamkan ucapan Natal, menyesatkan Syiah, atau bersikap vokal keberagaman, juga mengaku legitimasi keislaman dari sumber yang sama?

Maka di titik inilah kita berhadapan dengan kompleksitas Islam sebagai agama, komunitas, dan identitas politik. Islam di Indonesia tidak pernah tunggal. Ia hadir dalam spektrum tafsir, praktik, dan orientasi moral yang beragam, bahkan saling bertentangan.

Sadarilah bahwa usaha, agenda, siasat, dan seluruh tekad mereka pun tidak jauh berbeda dengan kita. Kita dan mereka sama-sama pernah dan mungkin masih menjadi korban kolonialisme. Apa yang kita dan mereka suarakan merupakan artikulasi Islam yang menginterupsi kolonialisme Barat. Kita dan mereka tumbuh dari dunia pascakolonial, dari peradaban yang diliyankan, dan dari satu ide tentang pembebasan Islam. Keduanya percaya pada amal makruf nahi munkar.

Kenyataan inilah yang menempatkan kita terus-menerus juga berada di persimpangan antara stigma eksternal warisan kolonial dan internalisasi logika kekuasaan yang hegemonik. Menghadapinya bukan berarti menyerah pada relativisme dangkal, tetapi menuntut keberanian untuk mengakui bahwa perbedaan di tubuh Islam bukanlah sebuah anomali melainkan kondisi historis yang nyata. Dan kita benar-benar ada di dalamnya. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 09 Sep 2026, 21:13

Rekam Jejak Euro Management Indonesia Siapkan SDM Indonesia Go Global

Program Academic Writing diarahkan untuk memperkuat kemampuan pegawai dalam menyusun tulisan akademik secara sistematis dan sesuai dengan standar internasional.

Keberangkatan siswa Euro Management Indonesia kuliah di  Jerman (Foto: Humas Euro Manajemen Indonesia)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 19:25

Art Zine SMPN 1 Kasokandel

Setiap karya harus diapresiasi karena kita percaya bahwa setiap anak memiliki kodratnya yang unik

 (Foto: Penulis)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 13:27

Sekolah, Gerbang Perlindungan Anak di Ruang Digital

Perlindungan anak di ruang digital tidak cukup berhenti pada literasi digital. Sekolah harus memiliki kapasitas dan mekanisme nyata untuk mendeteksi, merespons, dan merujuk.

Ancaman terhadap anak di ruang digital terus berkembang. Karena itu, sekolah harus memiliki sistem untuk mendeteksi, merespons, dan menangani risiko keamanan digital. (Sumber: unsplash.com | Foto: Javas rabni)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 11:00

Siapa yang ‘Membunuh’ Radio Bandung?

Angkasa Bandung makin tiiseun. Perlahan, satu demi satu, stasiun radio mulai pamit dari udara Bandung.

Taman Radio mengukuhkan Bandung sebagai Kota Radio. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Rahmat Herman Simabur)
Ayo Netizen 09 Sep 2026, 08:22

Belajar dari Viralitas Produk: Memotret Pentingnya Pelayanan bagi Konsumen

Terdapat beberapa peristiwa yang mengusik perhatian masyarakat, viralnya antara konsumen dan produk tertentu, maraknya kejadian viral ini mesti jadi perhatian bersama.

Pedagang melayani pembeli yang mencari buku pelajaran di Pasar Buku Palasari, Jalan Palasari, Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 20:59

Eksplorasi Bandrek: Simbol Kehangatan dan Diplomasi Rempah Tatar Sunda

Dalam khazanah kuliner Nusantara, bandrek bukan sekadar minuman penghangat raga, melainkan manifestasi filosofis dari nilai kanyaah.

Bandrek, minuman penghangat tubuh khas Tatar Sunda yang cocok diseruput di tengah sejuknya dataran tinggi Priangan. (Sumber: IG: daoendjati.smg)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 17:52

Hari Aksara Internasional dan Darurat Membaca Indonesia

Hari Aksara Internasional seyogianya bukan hanya sekadar slogan tentang huruf tapi juga manusia.

Ilustrasi huruf. (Sumber: Pexels/Brett Jordan)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 13:11

Jangan Bangun Teras Cihampelas untuk Instagram

Yang perlu dibangun pemerintah di Cihampelas bukan latar belakang foto, melainkan alasan-alasan bagi orang-orang untuk datang, tinggal, dan kembali.

Teras Cihampelas (Sumber: ayobandung.com | Foto: Dok. Pemkot Bandung via ayobandung.com)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 11:25

Abu Vulkanik, Polusi Udara dan Potensi Bandung sebagai Produsen Full Face Respirator

Perlu mitigasi agar tidak terjebak dalam situasi buruk terkait kesehatan mata dan organ

Ilustrasi APD antidebu sekaligus masker dalam satu kesatuan sistem yang disebut Full Face Respirator. (Sumber: dengan Gemini | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 08 Sep 2026, 10:55

Abu Vulkanik, Masker, dan MBG

Bila masker mengajarkan kewaspadaan. Sekolah belajar arti pentingnya adaptasi. MBG menegaskan pemenuhan gizi anak harus tetap berjalan dan abu vulkanik mengingatkan kita segala kebijakan yang baik

Sejumlah siswa mengenakan masker saat mengikuti kegiatan belajar mengajar di SD Negeri 132 Cihaurgeulis, Jalan Surapati, Kota Bandung, Senin 7 September 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 18:21

Markas Divisi Siliwangi di Purwakarta

Menelusuri jejak perjuangan militer di Purwakarta melalui sejarah Markas Divisi Siliwangi. Temukan kisah heroik, arsitektur bersejarah, dan peran pentingnya dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Komandan Divisi Siliwangi Abdul Haris Nasution dalam parade TNI di Purwakarta, 17 Januari 1947. (Sumber: Perpustakaan Nasional)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 17:11

200 Ikon Bandung #2: GMR FM, Keep Rock Until the End

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002.

GMR FM pernah menjadi bagian penting dari kehidupan anak muda Bandung dan perkembangan budaya musik rock sebelum akhirnya tutup pada 2002. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 15:58

10 Penulis Ayonetizen Terbaik Agustus 2026, Beropini di Bulan Kemerdekaan

Redaksi Ayobandung.id kembali mengumumkan para penulis terbaik di kanal "Ayo Netizen" untuk periode Agustus 2026, dengan total hadiah tetap dipertahankan sebesar Rp1,5 juta.

Pegiat panjat tebing berkostum spiderman mengibarkan bendera Merah Putih raksasa di Tebing Hawu, Kampung Cidadap, Desa Padalarang, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 17 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 14:41

Jelajah Rasa Masa Kolonial: Menu-menu Rijsttafel Populer di Awal Abad ke-20

Pada awal abad ke-20, rijsttafel bukan sekadar tradisi santap bersama, melainkan manifestasi prestise sosial dan akulturasi budaya yang kompleks di Hindia Belanda.

Momen pelayanan hidangan Rijsttafel bagi para tamu di Hotel Homann, Bandung, sekitar tahun 1933. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 12:56

Ketika Kebebasan Sipil Terasa Kian Sempit

Pertanyaan yang cukup menyakitkan, kenapa semakin banyak aturan yang mengekang kebebasan sipil? Apa yang terjadi ketika kebebasan pers juga dibungkam karena dianggap membahayakan kedudukan pemerintah.

Ilustrasi kebebasan berekspresi dan berpendapat. (Sumber: Pixabay | Foto: SimulatedCitizen)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 11:28

Sekolah Bukan Pabrik Kepatuhan

Sekolah tidak cukup menjadi tempat belajar untuk mematuhi aturan. Sekolah harus menjadi tempat anak belajar mengapa sebuah aturan diperlukan.

Sekelompok siswa sedang melakukan upacara. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 07 Sep 2026, 07:47

Pengalaman Makan Makanan Murah Meriah ala Mahasiswa di Bandung

Nostalgia kuliner Bandung 1985-1988! Kilas balik keseruan berburu makanan murah meriah legendaris ala mahasiswa tempo dulu yang bikin kangen.

Gorengan sebagai salah satu jajanan makanan murah. (Sumber: unsplash | Foto: luthfian alfajr)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 18:33

Menghadirkan Sekolah Mitigasi Bencana

Diperlukan keseriusan mendalam, sekolah-sekolah menerapkan SPAB, hingga pada akhirnya jika hanya sekadar seremonial perlu ada pertimbangan.

Puluhan anak tingkat TK dan SD mengikuti lomba mewarnai yang digelar di kawasan Tebing Pabeasan 125, Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Kamis 27 Agustus 2026. (Sumber: Ayobandung | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 15:23

Lava Lembar Batutemplek Cisanggarung, Bukan dari Letusan Efusif Gunung Sunda

Lava lembar Batutemplek Cisanggarung diduga merupakan jejak letusan efusif gunungapi purba yang mengalir mengikuti bentang alam Bandung utara dan membentuk lapisan batuan berlembar.

Batutemplek Cisanggarung merupakan lava yang melembar. (Sumber: Herlina)
Ayo Netizen 06 Sep 2026, 12:50

Harmoni Rempah dari Rumah Tua: Dokumentasi Rasa dan Kedermawanan Meja Makan Keluarga Arab-Bogor

Kuliner Arab-Bogor menjadi warisan budaya yang menjaga memori keluarga melalui rempah, teknik memasak tradisional, dan adaptasi bahan lokal.

Buku berjudul "30 Resep Masakan Arab Rumahan" karya Balqies Batarfie yang diterbitkan Gramedia Pustaka Utama, tahun 2014. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)