Islam Kita dan Islam Mereka: Sebuah Ilusi Pascakolonial

Arfi Pandu Dinata
Ditulis oleh Arfi Pandu Dinata diterbitkan Sabtu 21 Mar 2026, 20:26 WIB
Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)

Ada banyak kisah yang lazim dialami oleh para jamaah haji selama menunaikan rukun Islam kelima tersebut. (Sumber: Pexels/Mutahir Jamil)

Menjadi muslim di Indonesia adalah bagian dari perjalanan sejarah yang panjang dan sarat kontradiksi. Di satu sisi, umat Islam mengalami kolonialisme sebagai luka kolektif. Kita dibingkai lewat wacana global yang memposisikan Islam sebagai masalah. Namun di sisi lain, pengalaman sebagai korban itu tidak serta-merta membebaskan kita dari godaan untuk meniru pola yang sama. Kita menempatkan diri sebagai subjek yang berhak menilai, bahkan mengatur kelompok lain. Kita adalah yang ditindas dan yang berpotensi menindas.

Ambivalensi itu mulai terbentuk secara sistematis sejak abad ke-17 hingga awal abad ke-20, ketika Nusantara berada di bawah bayang-bayang Rezim Kolonial Hindia Belanda. Melalui sistem yang sangat rapi dan mulus, umat muslim menjadi objek pengawasan, regulasi, bahkan penyelidikan epistemik.

Tokoh seperti Snouck Hurgronje (1857-1936) mengobservasi dayah di Aceh untuk memahami potensi perlawanan, menggiring penemuan akademik untuk memisahkan Islam dan politik bagi kemenangan penjajah. Begitu juga Clifford Geertz (1926-2006) yang datang jauh setelah itu, berhasil membingkai trikotomi santri, abangan, dan priyayi pada kehidupan masyarakat Jawa. Dengannya hierarki dan oposisi internal dibakukan yang kemudian diinternalisasi dalam cara kita memahami diri sendiri.

Menengok Proyeksi Barat

Dalam wacana Barat, Islam sering diproyeksikan melalui lensa orientalisme dan apa yang disebut dengan islamologi. Disiplin yang tidak pernah dikenal namanya dalam rahim keilmuan Islam sendiri.

 Misalnya, kerudung, seringkali dipandang sebagai bentuk pembungkaman atas tubuh dan pikiran perempuan, tanpa pernah didialogkan pada diri muslimah itu sendiri. Jelas generalisasi dan misrepresentasi, enggan memandangnya sebagai pilihan identitas atau ekspresi religius. Pantangan tertentu, seperti mengharamkan babi, malah dilihat sebagai dogma yang tidak masuk akal. Ajaran yang primitif, yang ketinggalan zaman. Narasi seperti ini terus diulang-ulang, memberi kesan bahwa Islam itu bodoh, penyembah batu dalam kubus hitam kotak, dan semata warisan praktik pagan Arab. Sebuah sekte sempalan dari tradisi Yudeo-Kristian.

Dalam dinamika kontemporer, stereotip ini tumbuh liar secara populis. Islam diasosiasikan sebagai kategori yang melembagakan perkawinan poligami. Begitu juga jihad yang membunuh, martir bom bunuh diri, lekat dengannya. Di antara kita sendiri, ejekan “sumbu pendek” atau label “kadrun” di ruang publik yang naas, masih berkeliaran. Praktik-praktik keberislaman tertentu rentan direduksi semata menjadi “jidat hitam”, “ukhti bau bawang”, “cadar dan tongos”, “pesantren jorok”, dan lain sebagainya.

Kecemasan pada eksistensi umat muslim, membentuk persepsi bagi sebagian orang. Katanya mending zaman Orba, ketika Soeharto lebih piawai menstabilkan negara, tidak apa-apa mengekang ekspresi kesalehan, yang paling penting negara enggak membiarkan mereka. Kemudian pertanyaannya, siapa mereka itu?

Tentu semua masalah ini tidak sederhana. Islamofobia memang tren mental global yang perlu diakui, yang memuncak pascatragedi 11 September 2001, dikaitkan dengan jaringan terorisme, Al-Qaeda, dan dunia Islam. Di Indonesia, Densus 88 Antiteror lahir pada 2003 menyikapi tragedi Bom Bali, 7 tahun berikutnya Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) berhasil berdiri.

Masih dalam riak-riak yang sama. Genealogi tersebut juga sejujurnya melatarbelakangi terbitnya program “Moderasi Beragama” di era Jokowi pada 2019. Ingat, ada peristiwa besar yang terkenang sebelumnya, yakni Aksi 212. Sebuah gerakan di tahun 2016 yang memprotes dugaan penistaan agama yang terjadi pada Ahok, yang kala itu menjabat sebagai Gubernur DKI Jakarta. Ingat ada pelarangan HTI dan FPI.

Kastrasi Politik Islam(isme)

Sejarah umat Islam di Indonesia dapat kita baca sebagai kisah penjinakan politis. Kemenangan Islam atas kerajaan-kerajaan lokal seperti runtuhnya Majapahit dan bangkitnya Kesultanan Demak (abad ke-15) menandai transformasi kekuasaan yang tidak selalu damai. Raden Patah, dan kemudian Kesultanan Mataram Islam di bawah Panembahan Senopati dan Sultan Agung (abad ke-16-17), bukan hanya menjadi simbol dakwah, tetapi juga aktor penaklukan terhadap otoritas lokal.

Pesantren Sukamiskin Bandung. (Sumber: Istimewa)
Pesantren Sukamiskin Bandung. (Sumber: Istimewa)

Posisi itu berbalik drastis kala kekuasaan kolonial Eropa khususnya kapitalis VOC (abad ke-17) dan disusul Rezim Kolonial Hindia Belanda (abad ke-19) menaklukkan kerajaan-kerajaan Islam. Umat Islam bergeser disubordinasi. Perang Padri (1803-1838) di Sumatera Barat atau Perang Diponegoro (1825-1830), perjuangan kebangsaan, pemberontakan, atau radikalisasi Islam?

Menjelang masa Kemerdekaan, ambivalensi itu tidak memudar. Pada 1945, Piagam Jakarta diperdebatkan dengan tokoh-tokoh seperti Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, dan Mohammad Natsir. Politik Islam menagih rekognisi konstitusional. Islam kembali “dikalahkan”, kali ini bukan oleh kolonialisme Barat tetapi oleh kompromi nasionalisme sekuler-religius. Negosiasi membawa kita pada “Ketuhanan Yang Maha Esa”.

Pada era demokrasi parlementer, Partai Masyumi (1945-1960) menjadi kendaraan politik utama umat Islam modernis. Namun pembubaran Masyumi oleh Soekarno pada 1960, kembali menyingkirkan Islam dari pusat kekuasaan negara. Sejak itu, gagasan politik Islam beralih ke jalur dakwah dan tarbiah. Yang paling tampak berdirinya Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia (DDII) pada 1967.

Di masa Orde Baru, aspirasi politik Islam ditekan. Ia direpresi, ditawar-tawar lagi, lalu muncul kembali secara bertahap baik melalui pengendalian Partai Persatuan Pembangunan, gerakan dakwah kampus, maupun kebangkitan identitas Islam menjelang akhir rezim Soeharto.

Pasca-Reformasi 1998, aspirasi politik Islam hidup kembali melalui berbagai partai dan gerakan, dalam bentang demokrasi yang lebih majemuk dan kompetitif. Pada masa inilah, perda-perda bernuansa syariat tumbuh subur di tengah desentralisasi dan otonomi daerah. Regulasi perizinan rumah ibadah dikukuhkan kembali, penolakan minoritas, dan aksi-aksi pelanggaran kebebasan beragama.

Baca Juga: Idulfitri 1447 H

Apa Artinya Semua ini untuk Kita?

Bagi kita, umat muslim Indonesia yang kerap mengaku bahkan mengklaim diri sebagai kelompok progresif, dengan kelakuan yang sering menyederhanakan apalagi meremehkan, peta genealogis politik umat Islam yang berada di spektrum berbeda adalah sebuah jebakan maut.

Mereka, umat muslim Indonesia yang lain, yang telah kadung dilabeli “intoleran”, “radikal”, atau “konservatif” tidak muncul dari ruang hampa, dan tidak bisa dipahami hanya sebagai versi tidak otentik dari Islam yang kita yakini.

Relasi antarkelompok muslim di Indonesia, yang berada dalam spektrum tafsir dan orientasi politik yang berbeda, kerap berakhir pada saling tuduh dan saling delegitimasi. Kita sibuk melakukan klarifikasi identitas. “Bukan liberal, tapi progresif” atau “bukan sekuler, tapi humanis”. Sementara di sisi lain ada yang menegaskan dirinya “bukan radikal, tapi kaffah” atau “bukan ekstrem, tapi murni sesuai Alquran dan Hadis”. Dalam situasi yang keruh ini, tanpa disadari kita justru sedang melanggengkan pola kolonial baru. Ialah saling menghakimi dan mengatur siapa yang benar-benar Islam dan siapa yang kurang Islam.

Akibatnya banyak momen penting untuk saling memahami terlewatkan dengan sia-sia. Kita terlalu cepat mengambil kesimpulan, terjebak dalam esensialisme. Dengan pernyataan-pernyataan normatif seperti “Rasulullah itu feminis” atau “Islam itu sejatinya toleran”. Namun pertanyaan yang jarang kita hadapi secara jujur adalah, bagaimana jika ada wajah Islam yang memang mendukung eksklusivisme? Apakah cukup kita mengatasinya dengan menyatakan bahwa “itu bukan Islam yang sejati”, sementara Islam yang “benar” adalah Islam versi kita?

Untuk konteks hari ini, pendekatan semacam itu kiranya tidak lagi memadai. Kita tidak bisa terus berislam hanya dengan bermain kata-kata, merapikan narasi, atau memproduksi branding keislaman yang tampak terbuka tetapi tetap beroperasi dalam logika penaklukan yang simbolik.

Mengklaim Islam terbuka sambil menyingkirkan versi lain Islam dengan cara yang sama eksklusifnya adalah kontradiksi yang harus dihadapi secara jujur. Kita dituntut untuk ‘bermain’ lebih adil.

Sebab bukankah Islam ramah yang kita promosikan juga kita yakini dan kita hayati sepenuh hati. Bukan sekadar sebagai identitas politik, tetapi sebagai jalan takwa, pengamalan syariat, dan komitmen etis yang berakar pada Alquran dan Sunnah Nabi? Begitu juga pada saat yang sama, apakah kita bersedia mengakui bahwa mereka yang mengambil jalan berbeda, yang mengkampanyekan #IndonesiaTanpaPacaran, membuat kontra narasi kesetaraan gender dengan “keserasian gender”, mengharamkan ucapan Natal, menyesatkan Syiah, atau bersikap vokal keberagaman, juga mengaku legitimasi keislaman dari sumber yang sama?

Maka di titik inilah kita berhadapan dengan kompleksitas Islam sebagai agama, komunitas, dan identitas politik. Islam di Indonesia tidak pernah tunggal. Ia hadir dalam spektrum tafsir, praktik, dan orientasi moral yang beragam, bahkan saling bertentangan.

Sadarilah bahwa usaha, agenda, siasat, dan seluruh tekad mereka pun tidak jauh berbeda dengan kita. Kita dan mereka sama-sama pernah dan mungkin masih menjadi korban kolonialisme. Apa yang kita dan mereka suarakan merupakan artikulasi Islam yang menginterupsi kolonialisme Barat. Kita dan mereka tumbuh dari dunia pascakolonial, dari peradaban yang diliyankan, dan dari satu ide tentang pembebasan Islam. Keduanya percaya pada amal makruf nahi munkar.

Kenyataan inilah yang menempatkan kita terus-menerus juga berada di persimpangan antara stigma eksternal warisan kolonial dan internalisasi logika kekuasaan yang hegemonik. Menghadapinya bukan berarti menyerah pada relativisme dangkal, tetapi menuntut keberanian untuk mengakui bahwa perbedaan di tubuh Islam bukanlah sebuah anomali melainkan kondisi historis yang nyata. Dan kita benar-benar ada di dalamnya. (*)

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Arfi Pandu Dinata
Menulis tentang agama, budaya, dan kehidupan orang Sunda

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 12 Mei 2026, 19:46

Lembangku Sayang, Lembangku Malang: Warga Lokal yang Termarjimalkan

Kawasan tempat tinggal saya sekarang di Lembang adalah sebuah tempat yang dahulunya hanyalah hutan belantara tak bertuan.

Tanjakan Cibogo tahun 1955. Masih kebun dan sawah, dan sekarang kebun semakin terdesak, sawah telah hilang. (Sumber: wereldculturn.nl)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 17:37

Pilihan 5 Destinasi Wisata Puncak yang Jadi Favorit Wisatawan

Rekomendasi 5 wisata pilihan di Puncak Bogor, dari Kebun Teh Gunung Mas hingga Telaga Warna dan Kebun Raya Cibodas.

Wisata Kebun Teh Gunung Mas di Puncak Bogor. (Sumber: PTPN I Regional 2)
Linimasa 12 Mei 2026, 14:07

Hikayat Asy Syifa, Pondok Pesantren Anak Usia Dini Pertama

Pesantren Asy Syifa di Ciamis menjadi pelopor pondok khusus anak usia SD dengan pendidikan mandiri dan Al Quran.

Pesantren Asy Syifa di Ciamis. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 12 Mei 2026, 13:58

Panduan Wisata Keraton Kasepuhan Cirebon: Tiket, Sejarah, dan Spot Wajib Dikunjungi

Panduan lengkap wisata Keraton Kasepuhan Cirebon, mulai sejarah, tiket masuk, daya tarik, hingga tips berkunjung ke situs budaya tertua di kota.

Keraton Kasepuhan Cirebon. (Sumber: Ayomedia)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 13:51

Halo-Halo Bandung, Tidak Sekadar Narasi

Lagu Halo-Halo Bandung tidak hanya sekadar lagu yang tersimpan dalam memori sejarah, dari semangat perjuangan itu melahirkan nilai kesadaran masyarakat, dan dengan kesabaran untuk merawat Bandung.

Sejumlah mahasiswa menggelar aksi unjuk rasa di depan Gedung DPRD Jawa Barat, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Jumat, 1 Mei 2026, bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional (May Day). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 12 Mei 2026, 12:27

Dari Rak “Buku Seks” sampai Arab-Israel yang Sengaja Dipertemukan, Mengintip Sisi Eksentrik Batu Api

Warung Batu Api di Jatinangor menyimpan cara unik Anton Solihin menyusun buku, dari rak “buku seks” hingga koleksi Arab-Israel yang sengaja dipajang saling berhadapan.

Seorang pengunjung mencari buku di antara rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api, Jatinangor, Sabtu 9 Mei 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 10:02

Pernikahan di Era Gen Z: Ibadah, Tekanan Sosial, atau Pelarian?

Di balik romantisasi cinta Gen Z, ada pergaulan bebas, tekanan mental, dan tingginya perceraian muda.

Pernikahan sebagai ikatan suci (Sumber: Pixeabay / Foto: WenPhotos) (Sumber: Pixeabay | Foto: WenPhotos)
Beranda 12 Mei 2026, 09:45

Bersama T. Bachtiar, Ayobandung.id dan Himse Unpad Bahas Bandung dari Nama hingga Jejak Bencana

Ayobandung.id dan Himse Unpad menghadirkan T. Bachtiar dalam seminar interaktif yang membahas Bandung dari nama wilayah, tanah, bencana, hingga ingatan kolektif masyarakat.

Seminar interaktif “Nama yang Bercerita” bersama T. Bachtiar akan membahas cara membaca Bandung Raya melalui tanah, bencana, dan ingatan kolektif di Aula PSBJ FIB Unpad Jatinangor, 13 Mei 2026.
Ayo Netizen 12 Mei 2026, 08:51

Apakah Benar Gaji Dosen Rendah karena Kompetensinya?

Rendahnya gaji dosen tidak hanya soal kompetensi, tetapi juga dipengaruhi minimnya dana riset, beban birokrasi kampus, dan sistem pendidikan yang belum ideal.

Pernyataan Wamendiktisaintek, Stella Christie "Gaji rendah dosen karena tidak kompeten". (Sumber: TikTok/@alee.gresik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 20:03

Spirit Sportivitas Bola

Di balik kemegahan dan gemerlap setiap pertandingan sepakbola tersimpan sisi gelap yang mengusik para penggila sepak bola.

Ribuan bobotoh memadati Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Kota Bandung, Kamis 7 Mei 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 19:09

Kelulusan, Selebrasi, dan Bersyukur

Hakikat kelulusan bukan terletak pada seberapa besar buket yang dibawa, panjangnya konvoi ucapan selamat, ramainya unggahan di media sosial.

Ilustrasi bentuk syukur atas capaian kelulusan dengan berdoa, memohon kepada Allah SWT (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Beranda 11 Mei 2026, 16:25

Di Cibadak, Warga Beda Agama Sudah Terbiasa Hidup Berdampingan Jauh Sebelum Ada Kampung Toleransi

Warga Cibadak di Astana Anyar telah lama hidup berdampingan lintas agama lewat kebiasaan saling membantu, menjaga lingkungan, dan menghormati perbedaan.

Asoey, pengurus Vihara Dharma Ramsi, merasakan kehidupan lintas agama di Astana Anyar berjalan alami lewat kebiasaan warga yang saling menghormati. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Biz 11 Mei 2026, 14:31

Canting dan Ekosistem yang Belum Sempurna, Sebuah Harapan dari Kampung Kreatif Batik Difabel

Ekosistem yang sempurna mungkin belum ada. Tapi ekosistem yang terus berusaha, itu yang sedang terjadi di Kampung Kreatif Batik Difabel.

Kampung Kreatif Batik Difabel, bagian dari UPTD Pusat Pelayanan Sosial Griya Harapan Difabel (GHD), Dinas Sosial Provinsi Jawa Barat. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 13:53

Gelar Akademik Apakah Jaminan Kesuksesan?

Polarisasi pendapat antara melanjutkan kuliah dan langsung membuka usaha. Melanjutkan kuliah lebih berpeluang diserap dunia kerja dan langsung membuka usaha bisa mempercepat peluang sukses.

Ilustrasi wisuda. (Sumber: Pexels | Foto: Sun)
Wisata & Kuliner 11 Mei 2026, 13:48

Jelajah Palabuhanratu Sukabumi, Kota Pelabuhan Internasional yang Berubah jadi Tujuan Wisata Penuh Legenda

Palabuhanratu menyimpan sejarah pelabuhan kolonial, pantai sepanjang 105 km, serta mitos Nyi Roro Kidul yang masih dipercaya.

Pantai Karang Sari, Palabuhanratu Sukabumi. (Sumber: Flickr)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 11:05

Freddie Mercury, AIDS, dan Luka Stigma yang Belum Usai

Malam Renungan AIDS Nusantara bukan sekadar seremoni mengenang korban HIV/AIDS.

Halaman muka surat kabar terbitan Inggris yang memberitakan kepergian Freddie Mercury. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 11 Mei 2026, 10:17

Toleransi di Cibadak Tidak Ramai Dibicarakan, Tapi Dijalani Setiap Hari

Warga Kampung Toleransi Cibadak di Astana Anyar hidup berdampingan di tengah perbedaan agama dan etnis lewat kebiasaan saling membantu dan menjaga kebersamaan.

Simbol berbagai agama berdiri berdampingan di Kelurahan Cibadak. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Toni Hermawan)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 09:27

Modern untuk Kota, Melelahkan untuk Manusia

Selama kebutuhan dasar warganya masih terabaikan, Bandung akan terus terlihat modern dari luar, tetapi belum sepenuhnya menjadi kota yang nyaman untuk dijalani.

Bandung sibuk membangun kota, tetapi belum tentu membangun kenyamanan warganya. (Sumber: Designed by macrovector /Freepik)
Ayo Netizen 11 Mei 2026, 08:54

Kafe untuk Perantau yang Tak Mau Pulang

Cerita pendek tentang kafe di kota besar yang dikhususnya bagi perantau yang tidak mau pulang.

Ribuan koleksi buku tersusun padat di rak-rak sempit Perpustakaan Batu Api. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 10 Mei 2026, 18:08

Kereta Cepat dan Tantangan First Mile–Last Mile

Tantangan first mile dan last mile memengaruhi total waktu perjalanan pengguna Kereta Cepat Jakarta–Bandung (Whoosh), sehingga integrasi transportasi menjadi penting.

Layar di dalam kabin Whoosh yang menampilkan informasi kecepatan kereta saat itu. (Sumber: Dok. Penulis)