Selamat Hari Raya Idul Fitri
1446 Hijriah • Mohon Maaf Lahir & Batin

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Pernando Aigro S
Ditulis oleh Pernando Aigro S diterbitkan Kamis 19 Mar 2026, 19:09 WIB
ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)

Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Atau jangan-jangan, kita hanya hidup dalam ilusi kemerdekaan—merasa bebas, padahal pikiran kita masih mudah dikendalikan?

Pertanyaan itu mungkin terasa berlebihan. Faktanya, tidak ada lagi penjajah yang datang membawa senjata, tidak ada lagi paksaan untuk tunduk pada bangsa lain. Namun anehnya, kita tetap mudah diarahkan, mudah percaya, dan jarang mempertanyakan apa yang kita terima. Seolah-olah, tanpa disadari, kita hidup dalam bentuk penjajahan baru yang berbeda dari sebelumnya.

Bukan penjajahan fisik, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: hilangnya kemauan untuk berpikir.

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Segala sesuatu diringkas, dipercepat, dan disederhanakan—entah demi efisiensi, atau karena kita tidak lagi sabar untuk berpikir. Informasi tidak lagi dinikmati sebagai proses, melainkan dikonsumsi sebagai hasil instan. Orang tidak terbiasa membaca panjang, tidak sabar memahami secara utuh, dan lebih memilih versi singkat yang mudah dicerna. Perlahan, bukan hanya cara kita menerima informasi yang berubah, tetapi juga cara kita berpikir.

Kita mulai terbiasa memahami sesuatu tanpa benar-benar mendalaminya.

Masalahnya bukan pada kemajuan zaman atau teknologi, melainkan pada cara kita meresponsnya. Ketika segala sesuatu menjadi mudah, kita justru kehilangan satu hal penting: usaha untuk memahami. Kita tidak lagi terbiasa bertanya, tidak tertarik menggali lebih dalam, dan tidak merasa perlu berpikir lebih jauh karena merasa sudah cukup.

Di titik ini, kebodohan tidak lagi berarti tidak tahu apa-apa, tetapi berubah menjadi sikap yang memilih untuk tidak berpikir, meskipun sebenarnya mampu. Inilah yang menjadikannya ancaman yang tidak terlihat, tetapi perlahan melemahkan.

Kita sering merasa cukup hanya dengan mengetahui sedikit. Membaca sekilas dianggap sama dengan memahami, mendengar satu sisi dianggap cukup untuk menyimpulkan. Tanpa sadar, kita membangun keyakinan di atas pemahaman yang rapuh. Ketika hal ini terjadi terus-menerus, kita tidak hanya kehilangan kedalaman berpikir, tetapi juga kehilangan kesadaran bahwa kita sebenarnya tidak tahu.

Ironisnya, semua ini terjadi di negara yang secara status telah merdeka, tetapi belum sepenuhnya merdeka dalam cara berpikir dan memahami.

Manusia yang tanpa sadar “jatuh” ke dalam kendali teknologi—sebuah bentuk penjajahan modern tanpa penjajah (Sumber: https://pixabay.com/illustrations/falling-mobile-dark-night-surreal-7372662/ | Foto: Pheladii)

Hal ini terlihat dari kehidupan sehari-hari, terutama di ruang-ruang belajar. Tidak sedikit pelajar yang lebih memilih mencari ringkasan daripada membaca secara utuh, bahkan menyalin jawaban dari internet tanpa benar-benar memahaminya. Tugas diselesaikan secepat mungkin, bukan sebaik mungkin. Yang dicari bukan pemahaman, melainkan jawaban. Proses dianggap beban, bukan sesuatu yang seharusnya patut diperjuangkan.

Perpustakaan menjadi contoh yang nyata. Bangunannya berdiri megah, dipenuhi ribuan buku yang menyimpan pengetahuan, tetapi sering kali sepi dari minat. Di satu sisi, kita memiliki ruang untuk berpikir mendalam. Di sisi lain, kita justru lebih tertarik pada hal-hal yang cepat dan instan.

Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Ketika dihadapkan pada bacaan panjang, banyak yang langsung mencari kesimpulan tanpa memahami prosesnya. Dalam diskusi, tidak sedikit yang berbicara dengan yakin tanpa dasar pemahaman yang kuat.

Seseorang merasa sudah “tahu” hanya karena pernah melihat atau mendengar sekilas. Padahal, mengetahui dan memahami adalah dua hal yang berbeda. Mengetahui bisa terjadi dalam hitungan detik, tetapi memahami membutuhkan waktu, proses, dan kesabaran—sesuatu yang semakin jarang kita latih.

Kondisi ini bukan sekadar asumsi. Beberapa data yang sering dikaitkan dengan UNESCO bahkan menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, sering digambarkan sekitar 0,001%. Meskipun angka ini masih diperdebatkan, hal tersebut tetap mencerminkan satu realitas: budaya literasi di Indonesia belum menjadi kebiasaan yang kuat. Pandangan ini sejalan dengan Perpustakaan Nasional RI yang menegaskan bahwa kondisi literasi harus dipahami secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir—bukan hanya membaca, tetapi juga memahami dan mengolah informasi (Perpusnas RI, 2021).

Angka tersebut mungkin terdengar ekstrem, tetapi tidak sepenuhnya mengherankan jika dikaitkan dengan realitas. Kita lebih terbiasa berbicara daripada membaca, lebih cepat berpendapat daripada memahami. Banyak yang ingin didengar, tetapi sedikit yang benar-benar mau belajar. Masalahnya bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi juga lemahnya kemauan untuk berpikir secara mendalam.

Ketika membaca tidak lagi menjadi kebiasaan, maka kemampuan berpikir pun ikut melemah. Padahal membaca bukan sekadar menambah informasi, tetapi melatih logika, membangun cara berpikir, dan memperluas sudut pandang. Tanpa itu, kita hanya bergerak di permukaan—merasa tahu, tetapi tidak benar-benar memahami.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya kebiasaan membaca, tetapi kemampuan sebuah bangsa untuk berpikir secara mandiri.

Inilah yang membuat persoalan ini menjadi serius. Ketika sebuah bangsa terbiasa dengan pemahaman yang setengah-setengah, yang terancam bukan hanya kualitas individu, tetapi juga arah masa depannya.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang seberapa banyak kita membaca, tetapi bagaimana kita memahami. Kita mungkin telah merdeka secara fisik, tetapi apakah kita sudah merdeka dalam berpikir? Apakah kita benar-benar berproses dalam memahami, atau sekadar mengonsumsi informasi tanpa berpikir?

Jika kebebasan adalah makna kemerdekaan, maka kebebasan berpikir adalah yang paling mendasar. Dan jika itu belum kita miliki, maka pertanyaannya sederhana—apakah kita benar-benar sudah merdeka?

Karena penjajahan paling berbahaya bukan yang merampas kebebasan, tetapi yang membuat manusia tidak lagi merasa perlu untuk berpikir. (*)

REFERENSI

  • Perpustakaan Nasional RI. (2021). Kepala Perpusnas: Kondisi Literasi Harus Dipahami dari Hulu hingga Hilir. Diakses dari https://www.perpusnas.go.id/berita/kepala-perpusnas:-kondisi-literasi-harus-dipahami-dari-hulu-hingga-hilir.

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Aigro S
Mahasiswa universitas katolik Parahyangan, fakultas hukum program studi hukum S1

Berita Terkait

News Update

Linimasa 20 Mar 2026, 01:03

Kemacetan dan Sumber Rezeki Pedagang Oleh-oleh Nagreg

Kondisi lalu lintas di Nagreg sangat memengaruhi penjualan oleh-oleh. Saat ramai lancar pembeli meningkat, namun kemacetan justru membuat pemudik enggan berhenti.

Lalu lintas Nagreg saat mudik lebaran 2026. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 20 Mar 2026, 00:53

Beda Hari Lebaran di Indonesia, Bikin Orang Eropa Kebingungan

Jelang akhir Ramadan, satu pertanyaan hampir selalu muncul di Indonesia: Lebaran jatuh hari apa? Akar sejarahnya panjang. Sudah ada sejak zaman dulu.

Suasana pasca salat id Bandung 1926 (Sumber: Majalah Indie)
Beranda 19 Mar 2026, 21:21

Menitip Rindu pada Takbir: Cerita Perantau yang Menghadapi Lebaran dalam Sepi

Pemerintah menetapkan Idulfitri 1447 H jatuh pada 21 Maret 2026. Di balik momen kemenangan itu, tersimpan kisah warga perantauan yang menjalani malam takbiran tanpa pulang kampung dan menahan rindu.

Mutiara Indah Lestari tetap tegar merayakan Lebaran di perantauan, menyimpan rindu untuk keluarganya di Padang (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 20:00

Idulfitri sebagai Komunikasi Hati

Tulisan ini membahas Idul Fitri sebagai momen memulihkan komunikasi hati di tengah kebisingan digital, menekankan pentingnya ketulusan, kehadiran, dan relasi yang lebih manusiawi.

Ribuan umat muslim melaksanakan shalat Idul Fitri 1446 H di Lapangan Gasibu, Jalan Diponegoro, Kota Bandung, Senin 31 Maret 2025. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Bandung 19 Mar 2026, 19:46

Jersey Lokal Bandung RZQ Actv Buktikan Taring, Sukses Curi Perhatian di Tengah Hiruk-Pikuk Jelang Idul Fitri

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya.

Brand jersey lokal, RZQ Actv, membuktikan bahwa produk UMKM mampu bersaing dan tampil percaya diri di tengah hiruk pikuk persiapan hari raya. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 19:09

Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

Kemerdekaan fisik belum menjamin kemerdekaan berpikir.

ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 18:59

Mudik dan Kelanjutan Ramadan: Menguji Ketakwaan di Jalan Kehidupan

Mudik Lebaran selalu menghadirkan suasana yang hangat dan penuh makna.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 13:12

Petani Menua dan Anak Muda Menjauh: Siapa yang Akan Menjaga Ketahanan Pangan Indonesia?

Indonesia dikenal sebagai negara agraris, namun mengalami krisis regenerasi petani. Mampukah program Petani Milenial menjadi solusi bagi masa depan pangan Indonesia?

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Linimasa 19 Mar 2026, 12:49

Harap Cemas Pedagang Oleh-oleh Nagreg di Tengah Rencana Pembangunan Tol Cigatas

Pedagang oleh-oleh di Nagreg mulai kehilangan pembeli sejak hadirnya jalan tol. Rencana Tol Getaci memicu kekhawatiran baru soal masa depan usaha mereka.

Penjual oleh-oleh di Nagreg. (Foto: Mildan Abdalloh)
Sejarah 19 Mar 2026, 12:49

Sejarah Kue Kering Lebaran, Sajian Idulfitri yang Berakar dari Dapur Belanda

Tradisi menyajikan kue kering saat lebaran memiliki jejak sejarah kolonial. Resep kue kecil dari Eropa yang disebut koekje berkembang di Hindia Belanda dan berubah menjadi nastar hingga kastengel.

Ilustrasi kue kering lebaran.
Ayo Netizen 19 Mar 2026, 10:59

Kakaretaan, Yuk!

Di atas rel, kita belajar soal hidup, seperti kereta, akan terus berjalan.

Calon penumpang Kereta Api Pasundan tambahan berjalan menuju gerbong di Stasiun Kiaracondong, Kota Bandung, Selasa 17 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 20:29

Kisah Kue-Kue Kering Hari Raya

Tahukah kalian, bahwa kue alias “cookies” itu berasal dari bahasa Belanda yaitu “koekje”.

Sebuah mural karya harijadi sumodidjojo yang berjudul "kehidupan batavia". (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 17:21

Menata Arah Pendidikan Tinggi Keagamaan di Era Serba Cepat

Pepen Supendi, Dosen UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Ilustrasi santri yang sedang belajar di pesantren. (Sumber: Pexels/Mufid Majnun)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 15:02

Pedas di Lidah, Pedas di Kantong

Di bulan Ramadhan ini konsumsi cabai biasanya meningkat cukup tajam.

16 pilihan sambal khas Nusantara dari Warung Sangrai. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Beranda 18 Mar 2026, 15:01

Tahun Ini Ada 12,74 Juta Orang Mudik Naik Motor, Ini Cerita Pilihan Hemat dan Konsekuensinya

Mudik Lebaran 2025 diprediksi melibatkan 12,74 juta pemudik sepeda motor, menjadikannya salah satu moda transportasi paling dominan di Indonesia.

Pemudik sepeda motor melintasi jalur utama di Kota Bandung dengan membawa barang bawaan saat mudik Lebaran. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 18 Mar 2026, 13:12

Kalau Nggak Macet Bukan Mudik Namanya, tapi Pulang Pergi!

Dulu, sekitar awal 2000-an, mudik itu bukan sekadar perjalanan pulang—itu semacam ujian iman versi jalan raya.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Linimasa 18 Mar 2026, 11:36

Uniknya Pos Terpadu Nagreg, Lebih Mirip Restoran Nuansa Sunda

Pos terpadu di Nagreg tampil unik dengan konsep saung khas Sunda. Dilengkapi WiFi, area bermain anak, dan live music, tempat ini jadi rest area nyaman bagi pemudik.

Pos Terpadu Nagreg (Foto: Mildan Abdalloh)
Linimasa 18 Mar 2026, 10:51

Ngabuburit Asyik dengan mobil Remote Control

Komunitas Bansel RC Lost Track mengisi ngabuburit dengan event Ramadan Adventure Ride & Enjoy di Banjaran. Lintasan buatan dan permainan seru membuat suasana lebih santai dan akrab.

Mobil remote control off-road. (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 20:16

Idul Fitri: Jangan Cuma Suci, tapi Jadi Solusi

Ramadan melatih, Idul Fitri menguji: apakah kita hanya jadi pribadi lebih baik, atau naik level menjadi pelaku perubahan yang memberi dampak nyata bagi umat?

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 18:56

Apa yang Hilang dalam Lebaran

Kesempatan untuk menyentuh kembali relasi manusia, tradisi sederhana, dan pengalaman kebersamaan yang raib dalam kehidupan modern.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)