Dijajah Tanpa Penjajah: Ketika Kemerdekaan Kehilangan Makna

4 menit baca
Pernando Philip Aigro Simbolon
Ditulis oleh Pernando Philip Aigro Simbolon diterbitkan
ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)
ilustrasi buku sebagai sumber ilmu. (Sumber; Pixabay)

Apakah kita benar-benar sudah merdeka? Atau jangan-jangan, kita hanya hidup dalam ilusi kemerdekaan—merasa bebas, padahal pikiran kita masih mudah dikendalikan?

Pertanyaan itu mungkin terasa berlebihan. Faktanya, tidak ada lagi penjajah yang datang membawa senjata, tidak ada lagi paksaan untuk tunduk pada bangsa lain. Namun anehnya, kita tetap mudah diarahkan, mudah percaya, dan jarang mempertanyakan apa yang kita terima. Seolah-olah, tanpa disadari, kita hidup dalam bentuk penjajahan baru yang berbeda dari sebelumnya.

Bukan penjajahan fisik, melainkan sesuatu yang jauh lebih berbahaya: hilangnya kemauan untuk berpikir.

Kita hidup di zaman yang serba cepat. Segala sesuatu diringkas, dipercepat, dan disederhanakan—entah demi efisiensi, atau karena kita tidak lagi sabar untuk berpikir. Informasi tidak lagi dinikmati sebagai proses, melainkan dikonsumsi sebagai hasil instan. Orang tidak terbiasa membaca panjang, tidak sabar memahami secara utuh, dan lebih memilih versi singkat yang mudah dicerna. Perlahan, bukan hanya cara kita menerima informasi yang berubah, tetapi juga cara kita berpikir.

Kita mulai terbiasa memahami sesuatu tanpa benar-benar mendalaminya.

Masalahnya bukan pada kemajuan zaman atau teknologi, melainkan pada cara kita meresponsnya. Ketika segala sesuatu menjadi mudah, kita justru kehilangan satu hal penting: usaha untuk memahami. Kita tidak lagi terbiasa bertanya, tidak tertarik menggali lebih dalam, dan tidak merasa perlu berpikir lebih jauh karena merasa sudah cukup.

Di titik ini, kebodohan tidak lagi berarti tidak tahu apa-apa, tetapi berubah menjadi sikap yang memilih untuk tidak berpikir, meskipun sebenarnya mampu. Inilah yang menjadikannya ancaman yang tidak terlihat, tetapi perlahan melemahkan.

Kita sering merasa cukup hanya dengan mengetahui sedikit. Membaca sekilas dianggap sama dengan memahami, mendengar satu sisi dianggap cukup untuk menyimpulkan. Tanpa sadar, kita membangun keyakinan di atas pemahaman yang rapuh. Ketika hal ini terjadi terus-menerus, kita tidak hanya kehilangan kedalaman berpikir, tetapi juga kehilangan kesadaran bahwa kita sebenarnya tidak tahu.

Ironisnya, semua ini terjadi di negara yang secara status telah merdeka, tetapi belum sepenuhnya merdeka dalam cara berpikir dan memahami.

Manusia yang tanpa sadar “jatuh” ke dalam kendali teknologi—sebuah bentuk penjajahan modern tanpa penjajah (Sumber: https://pixabay.com/illustrations/falling-mobile-dark-night-surreal-7372662/ | Foto: Pheladii)

Hal ini terlihat dari kehidupan sehari-hari, terutama di ruang-ruang belajar. Tidak sedikit pelajar yang lebih memilih mencari ringkasan daripada membaca secara utuh, bahkan menyalin jawaban dari internet tanpa benar-benar memahaminya. Tugas diselesaikan secepat mungkin, bukan sebaik mungkin. Yang dicari bukan pemahaman, melainkan jawaban. Proses dianggap beban, bukan sesuatu yang seharusnya patut diperjuangkan.

Perpustakaan menjadi contoh yang nyata. Bangunannya berdiri megah, dipenuhi ribuan buku yang menyimpan pengetahuan, tetapi sering kali sepi dari minat. Di satu sisi, kita memiliki ruang untuk berpikir mendalam. Di sisi lain, kita justru lebih tertarik pada hal-hal yang cepat dan instan.

Fenomena ini sangat dekat dengan kehidupan kita. Ketika dihadapkan pada bacaan panjang, banyak yang langsung mencari kesimpulan tanpa memahami prosesnya. Dalam diskusi, tidak sedikit yang berbicara dengan yakin tanpa dasar pemahaman yang kuat.

Seseorang merasa sudah “tahu” hanya karena pernah melihat atau mendengar sekilas. Padahal, mengetahui dan memahami adalah dua hal yang berbeda. Mengetahui bisa terjadi dalam hitungan detik, tetapi memahami membutuhkan waktu, proses, dan kesabaran—sesuatu yang semakin jarang kita latih.

Kondisi ini bukan sekadar asumsi. Beberapa data yang sering dikaitkan dengan UNESCO bahkan menyebutkan bahwa minat baca masyarakat Indonesia sangat rendah, sering digambarkan sekitar 0,001%. Meskipun angka ini masih diperdebatkan, hal tersebut tetap mencerminkan satu realitas: budaya literasi di Indonesia belum menjadi kebiasaan yang kuat. Pandangan ini sejalan dengan Perpustakaan Nasional RI yang menegaskan bahwa kondisi literasi harus dipahami secara menyeluruh, dari hulu hingga hilir—bukan hanya membaca, tetapi juga memahami dan mengolah informasi (Perpusnas RI, 2021).

Angka tersebut mungkin terdengar ekstrem, tetapi tidak sepenuhnya mengherankan jika dikaitkan dengan realitas. Kita lebih terbiasa berbicara daripada membaca, lebih cepat berpendapat daripada memahami. Banyak yang ingin didengar, tetapi sedikit yang benar-benar mau belajar. Masalahnya bukan hanya rendahnya minat baca, tetapi juga lemahnya kemauan untuk berpikir secara mendalam.

Ketika membaca tidak lagi menjadi kebiasaan, maka kemampuan berpikir pun ikut melemah. Padahal membaca bukan sekadar menambah informasi, tetapi melatih logika, membangun cara berpikir, dan memperluas sudut pandang. Tanpa itu, kita hanya bergerak di permukaan—merasa tahu, tetapi tidak benar-benar memahami.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka yang hilang bukan hanya kebiasaan membaca, tetapi kemampuan sebuah bangsa untuk berpikir secara mandiri.

Inilah yang membuat persoalan ini menjadi serius. Ketika sebuah bangsa terbiasa dengan pemahaman yang setengah-setengah, yang terancam bukan hanya kualitas individu, tetapi juga arah masa depannya.

Pada akhirnya, persoalan ini bukan hanya tentang seberapa banyak kita membaca, tetapi bagaimana kita memahami. Kita mungkin telah merdeka secara fisik, tetapi apakah kita sudah merdeka dalam berpikir? Apakah kita benar-benar berproses dalam memahami, atau sekadar mengonsumsi informasi tanpa berpikir?

Jika kebebasan adalah makna kemerdekaan, maka kebebasan berpikir adalah yang paling mendasar. Dan jika itu belum kita miliki, maka pertanyaannya sederhana—apakah kita benar-benar sudah merdeka?

Karena penjajahan paling berbahaya bukan yang merampas kebebasan, tetapi yang membuat manusia tidak lagi merasa perlu untuk berpikir. (*)

REFERENSI

  • Perpustakaan Nasional RI. (2021). Kepala Perpusnas: Kondisi Literasi Harus Dipahami dari Hulu hingga Hilir. Diakses dari https://www.perpusnas.go.id/berita/kepala-perpusnas:-kondisi-literasi-harus-dipahami-dari-hulu-hingga-hilir.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Artikel Rekomendasi Untuk Anda

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Pernando Philip Aigro Simbolon
Pindah Akun, Ke Pernando Aigro S, soalnya ini akun dari Kampus, bukan akun utama.

Berita Terkait

News Update

Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 16:22

Panduan Berkunjung ke The Great Asia Africa Lembang: Keliling Tujuh Negara di Kaki Gunung Tangkuban Perahu

The Great Asia Africa menghadirkan replika budaya Jepang, Korea, India, Thailand, hingga Timur Tengah dalam satu destinasi wisata di Lembang.

The Great Asia Africa Lembang (Sumber: Ayomedia)
Linimasa 24 Jun 2026, 13:45

Menengok Pembuat Bet Pingpong Kayu Jati Bandung

Berawal dari hobi saat pandemi, Abah Jae di Cimenyan sukses membuat bet pingpong handmade dari limbah kayu jati berkualitas.

Abah Jae, pembuat bet pingpong kayu jati Bandung. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 13:04

Regenerasi Petani: Peluang dan Tantangan Pada Pendidikan Pertanian

Jika lahan sawah sudah tidak ada, lantas apakah regenerasi petani akan tercipta? Sedangkan profesi petani di Indonesia memunculkan permasalahan kritis.

Petani membajak sawah menggunakan traktor di Gedebage, Kota Bandung, Kamis 4 Januari 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al- Faritsi)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:49

Radio Nirom Rancaekek, Saksi Hidup Siaran Radio Hindia Belanda

NIROM (Nederlandsch-Indische Radio Omroep Maatschaapij) merupakan siaran radio swasta yang didirikan pada tahun 1928.

Stasiun Malabar Di gunung Puntang (Sumber: muspen.komdigi.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 12:08

Menelusuri Jejak Masa Lalu Rumah Indis dan Pabrik Gula Sewugalur

Badai datang melalui krisis ekonomi global pada masa Malaise yang menyebabkan pabrik gulung tikar.

kondisi pabrik gula sewugalur pada masa masih beroprasi tahun 1917. (KITLV/kebudayaan.kemdikbud.go.id)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 11:59

Restaurant Indonesia: Awal Pendirian dan Perjuangan Para Eksil Orde Baru

Perjalanan para eksil Orde Baru dalam mendirikan Restaurant Indonesia pada 1982.

Restaurant Indonesia di Paris. (Sumber: Facebook milik Restaurant Indonesia.)
Wisata & Kuliner 24 Jun 2026, 11:22

Panduan Wisata Gembira Loka Zoo Yogyakarta: Harga Tiket, Wahana, dan Koleksi Satwa

Gembira Loka Zoo Yogyakarta menawarkan ratusan koleksi satwa, wahana keluarga, Zona Cakar, hingga Kereta Taring. Simak panduan lengkap sebelum berkunjung.

Gembira Loka Zoo Yogyakarta. (Sumber: Shutterstock)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 10:43

Analisis Konteks Historis Dibalik Pembuatan Film Kuldesak 1998

Artike lini membahas tentang latar belakang historis dari pembuatan Film Kuldesak 1998

Cuplikan adegan aktor Ryan Hidayat dan Iwa K dalam film Kuldesak 1998. (Sumber: Komunitas Pecinta Film Jadul Indonesia, Facebook. facebook.com)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 09:28

Ayobandung sebagai Inspirasi Literasi di Era Digitalisasi

Di era digitalisasi, apakah literasi semakin bagus atau kian redup.

Ilustrasi website Ayobandung.id. (Sumber: Pexels/gravity cut)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 08:58

Pengembangan Mainan Anak Bercorak Tradisional

Perlu strategi komersialisasi produk mainan tradisional dengan  menerapkan kemasan  yang menarik.

Permainan tradisional Sunda di halaman Gedung Pakuan. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 24 Jun 2026, 08:42

Menerobos Aturan di Simpang: Salah Pengendara atau Desain Jalan?

ATCS Dishub Kota Bandung mencatat ratusan pelanggaran di 10 lokasi simpang dengan tingkat pelanggaran tertinggi setiap bulan.

Dua pengendara sepeda motor kedapatan berhenti di zebra cross (4/5/2026). (Sumber: Instagram/@atcs.kotabandung)
Wisata & Kuliner 23 Jun 2026, 18:54

Panduan Wisata Waduk Jatiluhur, Bendungan Terbesar Indonesia yang jadi Destinasi Favorit

Panduan lengkap Waduk Jatiluhur Purwakarta, mulai dari sejarah bendungan terbesar di Indonesia, aktivitas wisata, kuliner khas, hingga tips berkunjung terbaru.

Waduk Jatiluhur. (Sumber: Disparbud Purwakarta)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 18:11

Penyalin Cahaya: Ketika Kekerasan Seksual tidak Memandang Gender

Kekerasan dan Pelecehan Seksual hari ini tidak memandang gender karena bisa terjadi kepada perempuan maupun laki-laki.

Penyalin Cahaya adalah film yang merepresentasikan kekerasan dan pelecehan seksual yang tidak memandang gender. (Istimewa)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 17:56

Membedah Konsistensi Pesan Promo Launching Brand oleh Perusahaan Sportswear di Berbagai Platform

Kolaborasi Nike dan NAKED Copenhagen menghadirkan produk yang menggabungkan unsur fashion dan sneakers dalam satu desain yang unik.

Diambil dari Website Resmi Nike
Ayo Biz 23 Jun 2026, 17:38

'Ngeureuyeuh' Membawa Athiya Cake dari Dapur Rumahan Jadi Pemberi Lapangan Kerja

Kini, di pertengahan 2026, dapur Rika tidak lagi sepi seperti dahulu. Pesanan mengalir hampir setiap hari.

Produk Athiya Cake di kompleks perumahan Mega Mutiara Tasik Regency, Kabupaten Tasikmalaya, (20/6/2026). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Aris Abdulsalam)
Sejarah 23 Jun 2026, 16:25

Hikayat Ngamplang, dari Pusat Pemulihan Paru Pertama Hingga Pemberi Julukan Swiss Van Java

Dibangun pada 1912 sebagai sanatorium, Ngamplang kemudian berkembang menjadi wisata yang mendunia.

Salah satu sudut bangunan Sanatorium Ngamplang Garut yang kini berubah fungsi jadi lapangan golf. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 16:04

Trotoar, PKL, dan Keadilan Ruang Kota

Kebutuhan trotoar, PKL yang tertata dan berkelanjutan hingga adanya keadilan ruang kota.

Warga berjalan di trotoar kawasan Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, Kamis 4 Juni 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 15:11

Optimasi Penyerapan Tenaga Kerja Sektor Industri Kendaraan Listrik

Audit teknologi tidak hanya terkait dengan transfer teknologi namun juga bertujuan untuk memperluas lapangan kerja yang layak secara berkesinambungan.

Ilustrasi kendaraan listrik. (Sumber: Pexels | Foto: Mad Knoxx)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 14:55

Kegagalan Penataan Kota, Menumbuhkan Tata Jalanan

Di balik semrawutnya Pasar Cicadas, membuat PKL terpaksa menutup akses toko. Namun justru memunculkan simbiosis sebagai jalan tengah keduanya tetap hidup.

Sejumlah spanduk penolakan pembangunan jalur BRT yang dipasang oleh para pedagang terlihat di depan lapak PKL, Jalan Ahmad Yani, Cicadas, Kota Bandung, (17/12026). (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 23 Jun 2026, 14:37

Fenomena Live Shopping, Mengapa Mahasiswa Sulit Menahan Godaan Belanja?

Menilik fenomena live shopping dari sudut pandang mahasiswa. Mengapa diskon temporal dan live shopping begitu adiktif hingga memicu gaya hidup konsumtif?

ilustrasi live shopping. (Sumber: gemini)