Idul Fitri: Jangan Cuma Suci, tapi Jadi Solusi

3 menit baca
nonny irayanti
Ditulis oleh nonny irayanti diterbitkan
Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Ramadan selalu terasa berbeda. Bangun lebih pagi, lebih sering ke masjid, lebih hati-hati dalam bicara, bahkan scrolling media sosial pun terasa “lebih dijaga”. Ada suasana yang membuat kita ingin menjadi lebih baik, setidaknya selama sebulan.

Tapi setelah Idul Fitri lewat, pelan-pelan semuanya kembali seperti semula. Waktu untuk ibadah tahajud, mulai kalah dengan rasa kantuk. Tilawah yang dulu rutin, kini jadi “kalau sempat”. Bahkan, emosi yang sempat lebih terkontrol, perlahan kembali meledak dalam hal-hal kecil. Rasanya seperti Ramadan hanya singgah, bukan mengubah.

Padahal, Ramadan bukan sekadar fase “versi terbaik sementara”. Ia adalah latihan. Masalahnya, banyak dari kita berhenti di latihan, tanpa benar-benar melanjutkan perjuangannya setelah Ramadan selesai.

Di sisi lain, kalau kita melihat lebih luas, kondisi umat juga tidak banyak berubah. Kita masih sibuk dengan urusan masing-masing, masih terpecah dalam banyak kepentingan, bahkan seringkali tidak sadar bahwa kita sedang berjalan tanpa arah yang sama. Kemenangan yang kita rayakan terasa sangat personal, tapi belum menyentuh kehidupan umat secara keseluruhan.

Yang menarik, sebenarnya umat ini punya segalanya. Jumlah besar, potensi luar biasa, posisi strategis. Tapi semua itu seperti tidak terkoneksi. Seolah-olah kita kuat sebagai individu, tapi lemah sebagai umat.

Mungkin yang kurang bukan sekadar semangat, tapi arah. Ramadan sudah memberi kita “rasa” bagaimana hidup lebih baik. Tapi tanpa kesadaran yang lebih dalam, bahwa Islam bukan hanya ibadah pribadi tapi juga pedoman hidup yang harus diperjuangkan, semua itu mudah kembali hilang.

Lalu, Idul Fitri seharusnya jadi apa?

Bukan sekadar momen kembali ke nol, tapi titik mulai. Mulai menjaga yang sudah dibangun selama Ramadan. Mulai memikirkan bukan hanya diri sendiri, tapi juga kondisi umat. Mulai menyadari bahwa perubahan besar tidak akan datang kalau kita hanya bergerak sendiri-sendiri.

Di titik ini, ada satu hal yang sering luput: soal kebermanfaatan. Kita sering mengukur keberhasilan dari apa yang kita capai untuk diri sendiri, karier, kenyamanan hidup, atau pencapaian pribadi lainnya. Padahal, hidup tidak berhenti di situ. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: sejauh mana kita bermanfaat bagi orang lain, bagi lingkungan, dan bagi umat ini?

Ramadan sejatinya melatih itu. Kita dilatih peduli lewat sedekah, dilatih peka lewat rasa lapar, dilatih menahan diri demi kebaikan orang lain. Tapi setelah Ramadan, nilai itu sering memudar, kembali digantikan oleh kesibukan dan kepentingan pribadi.

Namun, berhenti pada “peduli” saja tidak cukup.

Umat ini tidak kekurangan orang baik. Tidak kekurangan orang yang mau membantu. Tapi yang masih jarang adalah mereka yang siap melangkah lebih jauh: bukan hanya merespons masalah, tapi ikut mengubah keadaan. Bukan sekadar menjadi penonton yang prihatin, tapi menjadi bagian dari solusi yang nyata.

Di sinilah perbedaannya. Ada yang hanya menjadi objek dari keadaan, terbawa arus, mengeluh, lalu menyesuaikan diri. Tapi ada juga yang memilih menjadi pelaku perubahan. Mereka tidak menunggu keadaan ideal, tapi mulai bergerak dari apa yang bisa dilakukan, sekecil apa pun.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Menjadi pelaku perubahan berarti berani punya arah. Berani tidak sekadar ikut arus. Berani mengikat diri pada upaya yang lebih besar dari sekadar kepentingan pribadi. Karena perubahan umat tidak akan lahir dari individu-individu yang hanya fokus pada dirinya sendiri.

Idul Fitri seharusnya mendorong kita ke titik itu. Bukan hanya kembali “bersih”, tapi juga kembali dengan peran. Peran sebagai bagian dari solusi. Peran sebagai penggerak, bukan sekadar pengamat.

Mungkin kita tidak langsung mengubah dunia. Tapi setiap perubahan besar selalu dimulai dari orang-orang yang memutuskan untuk tidak lagi diam.

Jadi setelah Ramadan ini, pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang bisa aku berikan?” Tapi lebih jauh: “Perubahan apa yang siap aku perjuangkan?”

Karena pada akhirnya, umat ini tidak hanya butuh orang baik. Umat ini butuh orang yang bergerak.

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

nonny irayanti
Tentang nonny irayanti
Pemerhati pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 17:27

Toponimi yang Lahir dari Respons Indra Manusia terhadap Stimulus Gempa 

Guncangan gempa bumi yang besar dengan kehancuran permukiman, akan menimbulkan emosi dan rasa takut, sebab inilah yang dapat menjadi alasan lahirnya toponim Cieundeur dan Cigenjlong.

Korban Gempa Cianjur. (Sumber: Ayobandung | Foto: Kavin Faza)