Idul Fitri: Jangan Cuma Suci, tapi Jadi Solusi

nonny irayanti
Ditulis oleh nonny irayanti diterbitkan Selasa 17 Mar 2026, 20:16 WIB
Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)

Ramadan selalu terasa berbeda. Bangun lebih pagi, lebih sering ke masjid, lebih hati-hati dalam bicara, bahkan scrolling media sosial pun terasa “lebih dijaga”. Ada suasana yang membuat kita ingin menjadi lebih baik, setidaknya selama sebulan.

Tapi setelah Idul Fitri lewat, pelan-pelan semuanya kembali seperti semula. Waktu untuk ibadah tahajud, mulai kalah dengan rasa kantuk. Tilawah yang dulu rutin, kini jadi “kalau sempat”. Bahkan, emosi yang sempat lebih terkontrol, perlahan kembali meledak dalam hal-hal kecil. Rasanya seperti Ramadan hanya singgah, bukan mengubah.

Padahal, Ramadan bukan sekadar fase “versi terbaik sementara”. Ia adalah latihan. Masalahnya, banyak dari kita berhenti di latihan, tanpa benar-benar melanjutkan perjuangannya setelah Ramadan selesai.

Di sisi lain, kalau kita melihat lebih luas, kondisi umat juga tidak banyak berubah. Kita masih sibuk dengan urusan masing-masing, masih terpecah dalam banyak kepentingan, bahkan seringkali tidak sadar bahwa kita sedang berjalan tanpa arah yang sama. Kemenangan yang kita rayakan terasa sangat personal, tapi belum menyentuh kehidupan umat secara keseluruhan.

Yang menarik, sebenarnya umat ini punya segalanya. Jumlah besar, potensi luar biasa, posisi strategis. Tapi semua itu seperti tidak terkoneksi. Seolah-olah kita kuat sebagai individu, tapi lemah sebagai umat.

Mungkin yang kurang bukan sekadar semangat, tapi arah. Ramadan sudah memberi kita “rasa” bagaimana hidup lebih baik. Tapi tanpa kesadaran yang lebih dalam, bahwa Islam bukan hanya ibadah pribadi tapi juga pedoman hidup yang harus diperjuangkan, semua itu mudah kembali hilang.

Lalu, Idul Fitri seharusnya jadi apa?

Bukan sekadar momen kembali ke nol, tapi titik mulai. Mulai menjaga yang sudah dibangun selama Ramadan. Mulai memikirkan bukan hanya diri sendiri, tapi juga kondisi umat. Mulai menyadari bahwa perubahan besar tidak akan datang kalau kita hanya bergerak sendiri-sendiri.

Di titik ini, ada satu hal yang sering luput: soal kebermanfaatan. Kita sering mengukur keberhasilan dari apa yang kita capai untuk diri sendiri, karier, kenyamanan hidup, atau pencapaian pribadi lainnya. Padahal, hidup tidak berhenti di situ. Ada pertanyaan yang jauh lebih penting: sejauh mana kita bermanfaat bagi orang lain, bagi lingkungan, dan bagi umat ini?

Ramadan sejatinya melatih itu. Kita dilatih peduli lewat sedekah, dilatih peka lewat rasa lapar, dilatih menahan diri demi kebaikan orang lain. Tapi setelah Ramadan, nilai itu sering memudar, kembali digantikan oleh kesibukan dan kepentingan pribadi.

Namun, berhenti pada “peduli” saja tidak cukup.

Umat ini tidak kekurangan orang baik. Tidak kekurangan orang yang mau membantu. Tapi yang masih jarang adalah mereka yang siap melangkah lebih jauh: bukan hanya merespons masalah, tapi ikut mengubah keadaan. Bukan sekadar menjadi penonton yang prihatin, tapi menjadi bagian dari solusi yang nyata.

Di sinilah perbedaannya. Ada yang hanya menjadi objek dari keadaan, terbawa arus, mengeluh, lalu menyesuaikan diri. Tapi ada juga yang memilih menjadi pelaku perubahan. Mereka tidak menunggu keadaan ideal, tapi mulai bergerak dari apa yang bisa dilakukan, sekecil apa pun.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Menjadi pelaku perubahan berarti berani punya arah. Berani tidak sekadar ikut arus. Berani mengikat diri pada upaya yang lebih besar dari sekadar kepentingan pribadi. Karena perubahan umat tidak akan lahir dari individu-individu yang hanya fokus pada dirinya sendiri.

Idul Fitri seharusnya mendorong kita ke titik itu. Bukan hanya kembali “bersih”, tapi juga kembali dengan peran. Peran sebagai bagian dari solusi. Peran sebagai penggerak, bukan sekadar pengamat.

Mungkin kita tidak langsung mengubah dunia. Tapi setiap perubahan besar selalu dimulai dari orang-orang yang memutuskan untuk tidak lagi diam.

Jadi setelah Ramadan ini, pertanyaannya bukan hanya: “Apa yang bisa aku berikan?” Tapi lebih jauh: “Perubahan apa yang siap aku perjuangkan?”

Karena pada akhirnya, umat ini tidak hanya butuh orang baik. Umat ini butuh orang yang bergerak.

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

nonny irayanti
Pemerhati pendidikan dan sosial kemasyarakatan.

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 17 Mar 2026, 20:16

Idul Fitri: Jangan Cuma Suci, tapi Jadi Solusi

Ramadan melatih, Idul Fitri menguji: apakah kita hanya jadi pribadi lebih baik, atau naik level menjadi pelaku perubahan yang memberi dampak nyata bagi umat?

Salat Idulfitri. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 18:56

Apa yang Hilang dalam Lebaran

Kesempatan untuk menyentuh kembali relasi manusia, tradisi sederhana, dan pengalaman kebersamaan yang raib dalam kehidupan modern.

Salat berjamaah di Masjid Pusdai, Kota Bandung, Jumat 20 Februari 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 17:48

Salam Tempel 2026: Ketika THR Beralih ke Dompet Digital, Masihkah Amplop Fisik Diperlukan?

Meski dompet elektronik jadi "amplop modern" yang praktis, mampukah teknologi menggantikan hangatnya tradisi salam tempel?

Tanpa punya rupiah di dompet, kehadiran paylater menambah lapisan “keajaiban” baru, kita bisa membeli hari ini dan membayarnya nanti. (Sumber: Pexels/Defrino Maasy)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 16:01

Pasca-Lebaran: Simpul Perasaan, Peluang, dan Tantangan Baru di Tanah Parahyangan

Peralihan menuju Syawal menjadi titik awal baru bagi masyarakat, ditandai dengan arus urbanisasi, pergerakan pasar kerja, fluktuasi UMKM, hingga perubahan pola konsumsi.

Sejumlah pemudik sepeda motor melintas di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Sabtu 14 Maret 2026. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 15:06

Silaturahmi Lebaran di Bandung 1964 dalam Arsip Majalah Mangle

Salah satu potongan kecil itu dapat ditemukan dalam arsip Majalah Mangle edisi Januari 1964.

Karikatur klasik yang menggambarkan suasana perayaan Idulfitri 1383 H tahun 1964 di Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 14:11

Kawasan Terpadu Situ Aksan dan Perumahan Bergaya Taman Villa

Keberadaan Situ Aksan sudah menjadi ciri bumi, sehingga menjadi sebutan bila akan menuju ke perkampungan yang ada di seputar situ.

Jalan-jalan yang teratur, diberi warna kuning, di sanalah (A-B-C) dibangun 150 rumah tamanvilla. Situ Aksan menjadi kekuatannya. (Sumber: Sumber citra satelit: Google maps | Foto: T Bachtiar)
Linimasa 17 Mar 2026, 14:06

Kisah Balap Lari Pakansari, Dashrun Ramadan yang Lahir dari Jalanan

Setelah tarawih, kawasan Stadion Pakansari dipenuhi anak muda yang mengikuti balap lari pendek. Tradisi spontan ini berkembang menjadi agenda olahraga populer di Kabupaten Bogor.

Lomba lari Stadion Pakansari, Cibinong, Bogor. (Sumber: Pemkab Bogor)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 11:49

Kisah Rengginang di Dalam Kaleng Khong Guan yang Tak Pernah Usai

Malah kaleng kosong Khong Guan bisa juga di dalamnya berisi opak, kerupuk, atau emping.

Rengginang. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Hayati Mayang Arum)
Ayo Netizen 17 Mar 2026, 10:29

Kala Ketupat dan Nastar Berebut Tahta di Hari Lebaran

Nastar dan ketupat sama-sama berkontribusi pada kebahagiaan Lebaran kita semua. Karena tanpa mereka, Lebaran akan terasa seperti ada yang kurang.

Ilustrasi makan bersama saat Lebaran. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Gambar: AI Gemini)
Linimasa 17 Mar 2026, 09:45

Balada Lebaran Zaman Kolonial, Kala Pribumi Berburu Utang di Rumah Gadai

Tradisi baju baru saat Lebaran ternyata sudah kuat sejak zaman Hindia Belanda. Catatan majalah Indie 1922 menyebut banyak warga meminjam uang bahkan menggadaikan barang demi tampil rapi di hari raya.

ilustrasi pribumi menggadai barang untk keperluan lebaran.
Beranda 17 Mar 2026, 08:56

Upah Tak Menentu dan Tanggung Jawab Besar, Realitas Hidup Porter Stasiun Bandung

Kisah Surya Apandi, porter Stasiun Bandung yang telah bekerja selama 27 tahun, menggambarkan perjuangan pekerja sektor informal dengan penghasilan tidak menentu di tengah ramainya arus mudik.

Mengangkat barang sekaligus memandu penumpang menjadi tugas keseharian para porter di Stasiun Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Bandung 16 Mar 2026, 21:01

Mendobrak Sekat Finansial, Cara Disabilitas di Jawa Barat Kini Lebih Berdaya Lewat DIA KITA

Inisiatif DIA KITA muncul sebagai jawaban atas tantangan literasi keuangan yang sering kali belum menyentuh kebutuhan spesifik disabilitas.

Inisiatif DIA KITA muncul sebagai jawaban atas tantangan literasi keuangan yang sering kali belum menyentuh kebutuhan spesifik disabilitas.
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 20:43

Pembatasan Media Sosial Anak Resmi Berlaku 28 Maret: Solusi atau Tantangan Baru bagi Indonesia?

Mulai 28 Maret, Permen Komdigi No. 9/2026 ubah total akses digital anak bawah 16 tahun.

Ilustrasi media sosial. (Sumber: Pexels/Pixabay)
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 17:18

Ngabuburit bersama ‘Jalan Sama Malia’

Selain meriset dan menulis, saya juga bekerja sebagai pemandu wisata sejarah sejak 2015.

Berfoto di depan mesjid Al imtizaj jalan ABC kota Bandung. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 16:09

Puasa (Menangkal) Hoaks

Mari kita jadikan Ramadan ini sebagai momentum untuk berpuasa dari hoaks dengan cara menahan diri dari mempercayai berita yang belum pasti dan tidak tergesa-gesa menyebarkannya.

Pemerintah melakukan pembatasan akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun (Sumber: Pixabay)
Bandung 16 Mar 2026, 15:40

Batik Bukan Lagi "Pakaian Kondangan", Cara NAYARA Mengubah Wastra Menjadi Fashion Harian yang Modis

Penggunaan palet warna yang tidak mencolok membuat koleksi NAYARA mudah dipadupadankan sebagai busana kantor yang memberikan kesan elegan namun tetap bersahaja.

Salah satu jenama mode yang memperkenalkan batik dengan sentuhan santai untuk penggunaan harian adalah NAYARA. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 16 Mar 2026, 14:50

Cerita Ibu-ibu Majelis Taklim Menjaga Bumi dari Tumpukan Sampah di Jatihandap

Kisah perempuan pengelola Bank Sampah Ikhtiar 15 di Jatihandap Bandung yang memilah sampah warga demi menjaga lingkungan, meski kerap menghadapi stigma masyarakat.

Inisiatif perempuan di Bank Sampah Ikhtiar RW 15 membuktikan bahwa pengelolaan sampah tidak hanya menjaga lingkungan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi keluarga. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Sejarah 16 Mar 2026, 13:42

Sejak Kapan Ketupat jadi Sajian Khas Lebaran di Indonesia?

Ketupat identik dengan Lebaran, tetapi tradisinya jauh lebih tua. Jejaknya sudah muncul dalam sastra Jawa Kuno abad ke-9 dan kemudian mendapat makna baru ketika Islam berkembang di Jawa.

Ilustrasi ketupat lebaran.
Ayo Netizen 16 Mar 2026, 13:33

Smart Farming: Ketika Teknologi Membuka Peluang Baru bagi Generasi Muda di Sektor Pertanian Indonesia

Hadirnya smart farming dan inovasi agritech membuka peluang bagi Gen Z untuk menjadikan pertanian profesi modern yang menjanjikan.

Ladang pertanian. (Sumber: Pexels | Foto: Soo Ann Woon)