Kala Ketupat dan Nastar Berebut Tahta di Hari Lebaran

Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan Selasa 17 Mar 2026, 10:29 WIB
Ilustrasi makan bersama saat Lebaran. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Gambar: AI Gemini)

Ilustrasi makan bersama saat Lebaran. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Gambar: AI Gemini)

HARI Raya Idul Fitri alias Lebaran agaknya bukan cuma perkara silaturahim dan saling maaf-maafan. Tapi, juga menyangkut “konflik” abadi yang selalu muncul saban tahun, yakni perebutan tahta antara ketupat dan nastar. 

Sudah menjadi tradisi, kala Lebaran tiba, di meja makan, hidangan ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng kentang serta kerupuk udang bertumpuk-tumpuk senantiasa tersedia dan siap memanjakan lidah siapa pun.

Suasana penuh kehangatan terasa saat sanak saudara maupun kerabat saling menyapa, berbagi serta menumpahkan aneka cerita, dan mengenang masa lalu sembari menyantap hidangan ketupat bersama pasukannya.

Suara dentingan sendok, piring maupun garpu, serta alunan takbir yang berkumandang dari kejauhan kian menambah nuansa syahdu di hari kemenangan.

Sementara itu, berpaling ke meja tamu, berjajar aneka kue, termasuk nastar yang boleh jadi adonannya diaduk sepenuh hati dengan segenap cinta dan penuh kesabaran hingga benar-benar menghasilkan tekstur nan lembut, lalu diisi selai nanas Subang atau Nanas Malang yang manis-asam, siap memberi kejutan rasa di setiap gigitannya.

Nastar sebagai bintang utama

Nastar bisa dibilang selalu merasa dirinya adalah bintang utama di momen Lebaran. Dengan ukuran mungil dan tampilan imut menggemaskan, dia dengan pede-nya menempati toples kaca yang ditempatkan di ruang-ruang tamu kita. 

Ia siap menggoda tamu yang datang. Aroma nanas yang menggoda sering kali membuat jemari kita sukar menahan godaan untuk mengambil satu, kemudian satu, lagi, dan satu lagi. Dan lalu tiba-tiba setengah toples ludes dalam hitungan menit.

Dari kacamata psikologi makanan, kajian oleh Wansink & Kim (2005) menyebut bahwa makanan ringan berukuran kecil cenderung lebih cepat dikonsumsi dalam jumlah besar tanpa disadari. 

Hal tersebut menjelaskan mengapa nastar selalu habis sebelum waktunya. Ukurannya memang mungil, namun ia mampu memberikan kepuasan sensorik yang besar.

Belum lagi rasa manis yang berasal-usul dari selai nanas, yang meningkatkan produksi dopamin, hormon yang kita kenal terkait dengan perasaan senang dan ketagihan.

Akan tetapi, nastar punya satu kelemahan. Ia selalu habis terlalu cepat. Seakan-akan ada semacam konspirasi global yang membuatnya lenyap sebelum Lebaran benar-benar pergi. 

Ketupat yang menjadi primadona

Ketupat Lebaran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ketupat Lebaran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Di sisi lain, ketupat hadir dengan postur lebih gagah daripada nastar. Ia lebih besar, lebih berat, dan memiliki kehadiran yang lebih mendominasi.

Tatkala tiba waktunya makan besar di momen Lebaran, ketupatlah yang menjadi ratu sang primadona. Bisa dibilang, tanpa ketupat, meja makan Lebaran terasa seperti konser musik dangdut tanpa penonton.

Merujuk sejarah kuliner Nusantara, ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai simbol kebersihan dan kesucian setelah menjalankan ibadah shaum atau puasa. 

Dalam kajian antropologi makanan oleh Mintz & Du Bois (2002), makanan pokok seperti ketupat memiliki nilai budaya yang luhur karena melambangkan komunalitas dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Ketupat mungkin juga bisa lebih bertahan lama dibandingkan nastar. Jika nastar harus dijaga ketat agar tidak habis duluan, ketupat justru sering kali tersisa dan berakhir dalam kulkas selama beberapa hari, menunggu takdirnya untuk dihangatkan kembali atau diolah menjadi lontong goreng dadakan. 

Secara ilmiah, tekstur ketupat yang padat dan proses pembungkusannya dengan daun kelapa membantu memperpanjang umur simpannya dibandingkan nasi biasa yang lebih cepat basi (Purwani et al, 2018).

Pilih kubu mana

Jika melihat dari segi daya tarik, nastar jelas lebih memberikan pesona ketimbang ketupat. Namun, ketupat punya peran yang lebih strategis dalam ritus Lebaran. Tanpa Ketupat, tidak ada momen serangan makan besar Lebaran yang legendaris.

Pada akhirnya, seperti drama sinetron televisi yang tak berkesudahan, persaingan nastar dan ketupat ini akan terus berlanjut saban tahun. 

Namun, yang pasti, keduanya toh sama-sama berkontribusi pada kebahagiaan Lebaran kita semua. Karena tanpa mereka, Lebaran akan terasa seperti ada yang kurang.

Baca Juga: Upah Tak Menentu dan Tanggung Jawab Besar, Realitas Hidup Porter Stasiun Bandung

Masing-masing memiliki penggemarnya sendiri, yang tak ragu untuk berdebat ihwal mana yang lebih layak menjadi ikon utama perayaan Lebaran. Nastar dengan kelembutan dan kelezatan selainya, atau ketupat dengan kehangatan yang menyatukan hidangan-hidangan lain khas Lebaran di meja makan. 

Namun, di balik persaingan abadi itu, keduanya justru saling melengkapi, menciptakan harmoni dalam setiap momen kebersamaan Lebaran kita. 

Dan pada akhirnya, persaingan antara ketupat dan nastar dalam konteks Lebaran bukan lagi soal siapa yang lebih unggul, melainkan bagaimana keduanya mampu membawa kehangatan serta nostalgia yang tak tergantikan saat kita merayakan Lebaran bareng orang-orang tersayang. (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Bandung 18 Apr 2026, 15:10

Manis Legit Jenang Mbak Nana, Primadona Baru di Tengah Hiruk Pikuk Pasar Cihapit

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan.

Visual jenang yang autentik di Cerita Manis Mbak Nana terbukti ampuh mengundang rasa penasaran sekaligus menggugah selera para pelancong untuk menepi sejenak demi mencicipi semangkuk kehangatan. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Beranda 18 Apr 2026, 14:30

Melawan Arus Digital: Denyut Musik Analog di Bandung dan Makassar

Di tengah dominasi digital, kaset dan vinyl tetap hidup sebagai simbol identitas, koneksi emosional, dan ruang nostalgia antargenerasi.

Koleksi kaset lama di DU 68 Musik. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Beranda 18 Apr 2026, 11:47

Uang Menjadi Simbol: Membaca Realitas Sosial Lewat Lukisan “Uang Kecil”

Lukisan "Uang Kecil" karya Vania Kamila Zahra merefleksikan ketimpangan sosial dan perjuangan hidup melalui detail uang lusuh, mengajak penonton bersyukur di tengah kerasnya realitas ekonomi.

Vania Kamila Zahra dan lukisannya yang berjudul “Uang Kecil”. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 20:52

Tantangan Kartini Masa Kini : Bangkitkan Kesadaran Konsumen dan Geluti Ekonomi Kreatif

Kartini 4.0 memiliki tugas sejarah memperbaiki mutu, volume produksi dan kemasan pangan tradisional sehingga mampu bersaing di pasar.

Ilustrasi RA.Kartini dalam sebuah film (Sumber: Legacy Pictures)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 19:51

Pamer atau Bertahan? Logika Sosial di Balik Tren Flexing di Media Sosial

Flexing bukan sekadar pamer kekayaan, tetapi bagian dari logika media sosial yang menuntut setiap orang untuk terus terlihat dan diakui.

Ilustrasi swafoto untuk media sosial. (Sumber: Pexels/Sara mazin)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 18:03

Kisah Kaum Urban 'Wong Kalang' di Jantung Parijs van Java

Mungkin untuk sebagian orang kisah “Wong Kalang” ini masih terdengar samar.

Anak turun keluarga wong kalang yang menetap di barat Braga sejak 1880. (Foto: Dokumentasi keluarga Apandi)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 17:25

Di Balik Roda yang Bergerak: Bandung, Angkot, dan Cara Kita Membaca Kota

Hari Angkutan Nasional menjadi momen bersejarah sekaligus cara untuk mengenal Kota Bandung, tidak hanya dari keindahannya, tetapi juga dari kehidupan yang bergerak di dalamnya.

Angkot di Kota Bandung. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Wisata & Kuliner 17 Apr 2026, 16:44

Panduan Wisata Situ Bagendit Garut: Tiket, Rute, dan Wahana

Situ Bagendit menawarkan tiket murah, akses mudah, wahana air, dan panorama empat gunung, cocok untuk wisata keluarga di Garut.

Situ Bagendit, Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 12:51

Perempuan yang Menulis dalam Bahasa Penjajahnya, Sisi Lain Kartini yang Tak Pernah Diajarkan di Sekolah

Di balik peringatan Hari Kartini, ada sisi gelap yang terlupakan, perjuangan seorang perempuan yang bahkan harus menulis dalam bahasanya sendiri.

R.A. Kartini. (Sumber: Istimewa)
Beranda 17 Apr 2026, 11:45

Lapak Cilok dan Buku: Cara Raja Menantang Stigma di Jalan Dago

Lapak cilok di Dago jadi ruang baca gratis yang digagas Raja. Ia menantang stigma bahwa membaca hanya milik kalangan tertentu, lewat buku yang dibuka untuk siapa saja.

Berjualan cilok menjadi sumber penghasilan utama Raja, di sela kegiatannya mengelola lapak baca sederhana di pinggir jalan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 11:16

Membangun LRT Bandung Raya, Revolusi Angkutan Kota yang Esensial

Sistem LRT memiliki banyak keunggulan dibandingkan dengan moda yang lain.

Ilustrasi urgensi sistem angkutan LRT untuk kawasan Bandung Raya (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Linimasa 17 Apr 2026, 10:44

Para Peramal Piala Dunia, dari Paul Si Gurita hingga Prediksi AI

Fenomena ramalan Piala Dunia berkembang dari Paul si gurita hingga kecerdasan buatan yang kini memprediksi hasil turnamen global 2026.

Paul Si Gurita, peraamal Piala Dunia 2010. (Sumber: Wikimedia)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 09:42

Ciseeng, Endapan Laut Purba yang Dikukus Panas Bumi

Endapan travertin Cisѐѐng yang membukit, merupakan endapan dari masa lalu kini, yang sudah berlangsung jutaan tahun.

Gundukan endapan travertin, semula bentuknya menyerupai sѐѐng, menyerupai dandang, dan di dalamnya terdapat air panas yang terus membual. Inilah yang menjadi inspirasi para karuhun untuk menamai kawasan ini Cisѐѐng. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 17 Apr 2026, 08:50

Mitigasi El Nino Godzilla untuk Ketenagakerjaan

Para pekerja sangat rentan terkena dampak kabut asap , temperatur ekstrim serta debu beterbangan yang bisa membahayakan jiwanya.

Kekeringan akibat perubahan iklim El Nino di  di Kabupaten Bandung Barat (KBB). (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 20:13

Komunitas Lite Rock Society Wadah Ekspresi Musisi Rock Bandung dari Radio K-Lite FM

Radio K-Lite FM melalui program musik Lite Rock, kini memberikan kesempatan kepada band-band rock di seputaran Kota Bandung.

Host Lite Rock bersama Band Rain of Doom dan penggiat rock Ghowo Van Bares dalam sesi talk show di K-Lite FM Bandung. (Foto: Band Rain of Doom)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 18:26

Bandung Setelah Asia-Afrika: Apa yang Tersisa?

Kota yang menyimpan jejak Konferensi Asia-Afrika 1955 sekaligus menghadapi jarak antara simbol solidaritas masa lalu dan realitas tantangan masa kini.

eringatan 70 Tahun Konferensi Asia Afrika. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 17:52

Mengapa Jalur Sepeda di Kota Bandung Gagal Jadi Solusi Transportasi?

Jalur sepeda di Kota Bandung masih menghadapi konflik ruang dan lemahnya implementasi kebijakan, sehingga belum mampu menjadi alternatif transportasi harian yang andal dan selamat.

Pengecatan ulang garis jalur khusus sepeda di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kota Bandung, Rabu 10 Juli 2024. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Beranda 16 Apr 2026, 16:23

DU 68, Lapak Jalanan yang Tumbuh Jadi Ruang Berkumpul Pecinta Musik Analog

DU 68 berawal dari lapak kaset sederhana di jalanan Bandung, lalu tumbuh menjadi ruang berkumpul bagi pecinta musik analog yang bertahan di tengah dominasi era digital.

Di sudut Dipatiukur, DU 68 Musik menjadi tempat singgah para pencinta musik analog. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Ayo Netizen 16 Apr 2026, 16:19

Reinventing Bandung Kota Diplomasi, Nyalakan Lagi Solidaritas Asia Afrika!

Bentuk solidaritas bangsa Asia Afrika yang relevan dan aktual perlu dirumuskan kembali. Karena eksploitasi dan penjajahan sejatinya masih ada.

Ilustrasi diorama Konferensi Asia Afrika di Museum KAA Bandung (Sumber: dokpri | Foto: Totok Siswantara)
Wisata & Kuliner 16 Apr 2026, 15:25

7 Kegiatan, Wisata, dan Kuliner yang Paling Cocok Dinikmati Saat Cuaca Dingin

Rekomendasi 7 kegiatan seru saat cuaca dingin, mulai dari kuliner hangat, ngopi santai, hingga staycation nyaman.

Ilustrasi ngopi di kafe saat cuaca dingin. (Sumber: Freepik)