Kala Ketupat dan Nastar Berebut Tahta di Hari Lebaran

3 menit baca
Djoko Subinarto
Ditulis oleh Djoko Subinarto diterbitkan
Ilustrasi makan bersama saat Lebaran. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Gambar: AI Gemini)
Ilustrasi makan bersama saat Lebaran. (Sumber: Dokumentasi pribadi | Gambar: AI Gemini)

HARI Raya Idul Fitri alias Lebaran agaknya bukan cuma perkara silaturahim dan saling maaf-maafan. Tapi, juga menyangkut “konflik” abadi yang selalu muncul saban tahun, yakni perebutan tahta antara ketupat dan nastar. 

Sudah menjadi tradisi, kala Lebaran tiba, di meja makan, hidangan ketupat, opor ayam, rendang, sambal goreng kentang serta kerupuk udang bertumpuk-tumpuk senantiasa tersedia dan siap memanjakan lidah siapa pun.

Suasana penuh kehangatan terasa saat sanak saudara maupun kerabat saling menyapa, berbagi serta menumpahkan aneka cerita, dan mengenang masa lalu sembari menyantap hidangan ketupat bersama pasukannya.

Suara dentingan sendok, piring maupun garpu, serta alunan takbir yang berkumandang dari kejauhan kian menambah nuansa syahdu di hari kemenangan.

Sementara itu, berpaling ke meja tamu, berjajar aneka kue, termasuk nastar yang boleh jadi adonannya diaduk sepenuh hati dengan segenap cinta dan penuh kesabaran hingga benar-benar menghasilkan tekstur nan lembut, lalu diisi selai nanas Subang atau Nanas Malang yang manis-asam, siap memberi kejutan rasa di setiap gigitannya.

Nastar sebagai bintang utama

Nastar bisa dibilang selalu merasa dirinya adalah bintang utama di momen Lebaran. Dengan ukuran mungil dan tampilan imut menggemaskan, dia dengan pede-nya menempati toples kaca yang ditempatkan di ruang-ruang tamu kita. 

Ia siap menggoda tamu yang datang. Aroma nanas yang menggoda sering kali membuat jemari kita sukar menahan godaan untuk mengambil satu, kemudian satu, lagi, dan satu lagi. Dan lalu tiba-tiba setengah toples ludes dalam hitungan menit.

Dari kacamata psikologi makanan, kajian oleh Wansink & Kim (2005) menyebut bahwa makanan ringan berukuran kecil cenderung lebih cepat dikonsumsi dalam jumlah besar tanpa disadari. 

Hal tersebut menjelaskan mengapa nastar selalu habis sebelum waktunya. Ukurannya memang mungil, namun ia mampu memberikan kepuasan sensorik yang besar.

Belum lagi rasa manis yang berasal-usul dari selai nanas, yang meningkatkan produksi dopamin, hormon yang kita kenal terkait dengan perasaan senang dan ketagihan.

Akan tetapi, nastar punya satu kelemahan. Ia selalu habis terlalu cepat. Seakan-akan ada semacam konspirasi global yang membuatnya lenyap sebelum Lebaran benar-benar pergi. 

Ketupat yang menjadi primadona

Ketupat Lebaran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ketupat Lebaran. (Sumber: Ayobandung.id | Foto: Irfan Al-Faritsi)

Di sisi lain, ketupat hadir dengan postur lebih gagah daripada nastar. Ia lebih besar, lebih berat, dan memiliki kehadiran yang lebih mendominasi.

Tatkala tiba waktunya makan besar di momen Lebaran, ketupatlah yang menjadi ratu sang primadona. Bisa dibilang, tanpa ketupat, meja makan Lebaran terasa seperti konser musik dangdut tanpa penonton.

Merujuk sejarah kuliner Nusantara, ketupat pertama kali diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga sebagai simbol kebersihan dan kesucian setelah menjalankan ibadah shaum atau puasa. 

Dalam kajian antropologi makanan oleh Mintz & Du Bois (2002), makanan pokok seperti ketupat memiliki nilai budaya yang luhur karena melambangkan komunalitas dan tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Ketupat mungkin juga bisa lebih bertahan lama dibandingkan nastar. Jika nastar harus dijaga ketat agar tidak habis duluan, ketupat justru sering kali tersisa dan berakhir dalam kulkas selama beberapa hari, menunggu takdirnya untuk dihangatkan kembali atau diolah menjadi lontong goreng dadakan. 

Secara ilmiah, tekstur ketupat yang padat dan proses pembungkusannya dengan daun kelapa membantu memperpanjang umur simpannya dibandingkan nasi biasa yang lebih cepat basi (Purwani et al, 2018).

Pilih kubu mana

Jika melihat dari segi daya tarik, nastar jelas lebih memberikan pesona ketimbang ketupat. Namun, ketupat punya peran yang lebih strategis dalam ritus Lebaran. Tanpa Ketupat, tidak ada momen serangan makan besar Lebaran yang legendaris.

Pada akhirnya, seperti drama sinetron televisi yang tak berkesudahan, persaingan nastar dan ketupat ini akan terus berlanjut saban tahun. 

Namun, yang pasti, keduanya toh sama-sama berkontribusi pada kebahagiaan Lebaran kita semua. Karena tanpa mereka, Lebaran akan terasa seperti ada yang kurang.

Baca Juga: Upah Tak Menentu dan Tanggung Jawab Besar, Realitas Hidup Porter Stasiun Bandung

Masing-masing memiliki penggemarnya sendiri, yang tak ragu untuk berdebat ihwal mana yang lebih layak menjadi ikon utama perayaan Lebaran. Nastar dengan kelembutan dan kelezatan selainya, atau ketupat dengan kehangatan yang menyatukan hidangan-hidangan lain khas Lebaran di meja makan. 

Namun, di balik persaingan abadi itu, keduanya justru saling melengkapi, menciptakan harmoni dalam setiap momen kebersamaan Lebaran kita. 

Dan pada akhirnya, persaingan antara ketupat dan nastar dalam konteks Lebaran bukan lagi soal siapa yang lebih unggul, melainkan bagaimana keduanya mampu membawa kehangatan serta nostalgia yang tak tergantikan saat kita merayakan Lebaran bareng orang-orang tersayang. (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Djoko Subinarto
Tentang Djoko Subinarto
Penulis lepas, blogger

Berita Terkait

News Update

Ayo Netizen 19 Sep 2026, 20:19

Mengenang Wa Kepoh Maestro Dongeng Sunda di Gelombang Radio

Sandiwara Radio Saur Sepuh, yang pernah membuat pendengarnya di berbagai daerah larut dalam cerita.

H. Ahmad Sutisna alias Wa Kepoh, maestro dongeng Sunda dan salah satu tokoh penting dalam dunia penyiaran radio di Jawa Barat. (Sumber: Tabloid Nova, September 1996.)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 19:40

Tantangan Literasi Antara Menulis dan Kepunahan Bahasa Daerah

Begitu miris ketika kita membaca judul "Benarkah Indonesia mengalami Darurat Literasi?" Ada banyak penulis yang hanya sekadar menulis, tetapi tidak ada visi menjaga literasi terutama bahasa lokal.

Ilustrasi orang Sunda. (Sumber: Unsplash/Mahmur Marganti)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 18:17

Mengenal Bahaya Letusan Gunung Berapi di Bandung Raya dan Sekitarnya

Temukan ulasan mendalam mengenai potensi bahaya vulkanik di Bandung Raya. Pelajari langkah mitigasi yang tepat dan tingkatkan kesiapsiagaan Anda demi keselamatan bersama dari ancaman bencana alam.

Hoogvlakte van Bandoeng autowegenkaart, D E 29,1. Bandoeng: HOVIC, ca. 1920 (Peta jalan Dataran Tinggi Bandung, D E 29.1. Bandung: HOVIC, ca. 1920). (Sumber: Digital Collections Universteit Leiden | Foto: Anonim)
Ayo Netizen 19 Sep 2026, 17:46

Optimis atau Oportunis

Dari aktivis pro–demokrasi yang berujung menjadi elit rezim yang selalu mereka tentang selama masa nya menjadi mahasiswa.

Budiman Sudjatmiko bersama Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mendeklarasikan kelompok relawan Prabowo-Budiman Bersatu (Prabu) di Semarang, Jawa Tengah pada Jumat (18/08/2023). (Sumber: Gerindra.id)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 20:09

Sejarah dan Transformasi Nahdlatul Ulama di Bumi Pasundan (1926–1967)

Kehadiran Nahdlatul Ulama (NU) di wilayah ini bukanlah sebuah kebetulan sejarah, melainkan kebutuhan strategis untuk menjaga keseimbangan antara tradisi pesantren yang mengakar dan gelombang modernism

Gedung Dakwah PWNU Jawa Barat. (Sumber: Tangkapan layar YT: Kang inoe)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 17:52

Hebatnya Kreatifitas Dasa Warsa 1980-an

Bernostaldia dengan kehidupan remaja tahun 1980-an.

Motor klasik vespa. (Sumber: Pexels | Foto: setengah lima sore)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 15:17

Ketika Anak Bangsa Kehilangan Kesempatan Menjadi Cerdas dan Kritis

Sebetulnya apa yang menjadi akar persoalan dalam pendidikan kita. Pendidikan seharusnya tidak hanya butuh jawaban benar, tetapi bagaimana anak bisa bertanya secara kritis dan berpikir cerdas.

Ilustrasi anak sekolah. (Sumber: Pexels | Foto: Ida Rizkha)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 14:01

Jejak Rasa dan Budaya Kuliner Arab di Tatar Sunda

Kuliner Arab di Jawa Barat tumbuh dari jejak migrasi menjadi bagian dari keragaman rasa dan budaya Tatar Sunda.

Nasi kebuli, hidangan khas Timur Tengah yang populer di kalangan masyarakat Arab di Indonesia, termasuk di Jawa Barat. (Sumber: Istimewa)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 12:26

Ketika Layar Perak Menjadi Denyut Hiburan Bandung Tempo Doeloe

Jejak bioskop Bandung tempo dulu merekam bagaimana hiburan, kehidupan sosial, dan perkembangan kota pernah berpadu di balik layar perak.

Iklan ucapan selamat hari jadi Kota Bandung dari perusahaan film N.V. Sirna Galih Ind. Ltd.. Iklan tersebut memuat daftar bioskop yang dikelolanya. (Sumber: Dimuat dalam Pikiran Rakjat, 31 Maret 1956 | Foto: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 09:59

200 Ikon Bandung #7: Karmaka Surjaudaja

Kisah Karmaka Surjaudaja menjadi teladan tentang perjuangan, kejujuran, dan ketekunan dalam menghadapi berbagai ujian kehidupan.

Adegan dalam film Love and Faith pada 2015, yang menceritakan kisah kehidupan Karmaka. (Sumber: Love and Faith)
Ayo Netizen 18 Sep 2026, 08:23

Bukan Macan yang Salah Cari Alamat, tapi Kita yang Mengubah Alamat Mereka

Macan yang masuk kampung atau kera yang turun ke permukiman bukan sekadar kisah tentang satwa yang “nakal”.

Seekor macan terdampar di rumah warga. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Istimewa via ayobandung.com)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 18:03

Menelusuri Jejak 216 Tahun Kota Bandung dalam Surat Kabar Lawas

Bandung adalah kota yang tumbuh dari perjalanan sejarah yang panjang.

Beberapa surat kabar yang pernah menjadi bagian dari kehidupan dan kebanggaan warga Bandung pada era 1970–1990-an. (Sumber: Kin Sanubary)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 17:34

Jejak Gunung Api Purba di Kabupaten Bandung Barat

Singkapan batuan dan ignimbrit di Kabupaten Bandung Barat menjadi bukti keberadaan aktivitas gunungapi purba yang dapat dipelajari melalui geowisata.

Hasil kerajin patung kuyabatok dari batu di Kampung Ciawitali, Desa Cipangeran, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung Barat, memenuhi pesanan dari Jepara, Jawa Tengah, untuk diekspor ke Korea. (Sumber: T Bachtiar)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 16:05

Badut, Mimpi, dan Rizki

Mimpi tidak pernah benar-benar sendirian. Ya selalu ditemani ikhtiar, doa, dan keberanian untuk terus mencoba. Kendati, di antara semua itu, ada satu yang sering kita lupakan. Pekerjaan yang halal

Riasan badut yang dikenakannya saat merayakan wisuda bukan sekadar untuk tampil berbeda, (Sumber: Dokumentasi istimewa/ Kak Hakim (@badutbandung_kakhakim12))
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 15:09

Merdeka Berdaya, Merdeka Berkarya: Kaum Marginal Membangun Masa Depan

Setiap goresan tinta yang tercurahkan melalui hati, merupakan ketegaran dalam setiap halaman.

Bedah Buku "Prajurit Yang Tenggelam" Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas II B Majalengka. (Foto: Ayu Maimun)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 13:49

Rp7.000 dan Masa Depan Supir dan Angkot Bandung

Angkot berseliweran, penumpang naik-turun, uang masuk. Sopir mengejar setoran. Calon penumpang dicari. Angkot ngetem ketika dianggap perlu. 

Warga hendak turun dari angkot. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Irfan Al-Faritsi)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 12:08

200 Ikon Bandung #6: Raden Adipati Wiranatakusumah II, Dalem Kaum Bukan Hanya Nama Jalan

Di balik nama Dalem Kaum, tersimpan jejak Wiranatakusumah II sebagai salah satu tokoh penting dalam lahirnya Kota Bandung.

Alun-Alun Bandung pada masa kolonial. (Sumber: KITLV)
Ayo Netizen 17 Sep 2026, 09:38

Belajarlah Mencintai Bandung Seperti Haryoto Kunto Sang Kuncen Bandung

Selami kisah Haryoto Kunto, sang Kuncen Bandung dan temukan cara terbaik mencintai Kota Kembang (Paris van Java) lewat sejarah, romantisme dan sudut pandang mendalam.

Ilustrasi buku karya Haryoto Kunto. (Sumber: Istimewa)
Linimasa 16 Sep 2026, 23:37

Ketika Rentatan Gempa Guncang Kertasari

Puluhan gempa tercatat di sekitar Kertasari dan Pangalengan. Warga mengaku masih trauma dengan gempa yang terjadi pada 2024.

Ilustrasi gempa Kertasari tahun 2024. (Sumber: Ayomedia | Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 16 Sep 2026, 20:23

Filosofi Orang Kampung: Membaca Kehidupan Lewat Kisah Si Doel

Filosofi Orang Kampung mengajak kita mengenang Si Doel sekaligus memahami nilai kehidupan dan budaya yang tumbuh dari kampung.

Buku Filosofi Orang Kampung karya Harry Tjahjono, penulis serial televisi legendaris Si Doel Anak Sekolahan. (Sumber: Kin Sanubary)