Pasca Lebaran, Boleh Saja Kita Makan dan Minum Tanpa Menatap Jam Dinding!

Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan Rabu 11 Mar 2026, 12:25 WIB
Ilustrasi berdoa kegiatan spiritualitas. (Sumber: freepik.com)

Ilustrasi berdoa kegiatan spiritualitas. (Sumber: freepik.com)

Ada satu tradisi yang selalu berhasil membuat manusia merasa sangat spiritual sekaligus sangat lapar: ya, namanya adalah puasa. Di bulan Ramadan, manusia tiba-tiba menjadi makhluk yang penuh refleksi—meski sebagian refleksi itu terjadi sambil menatap jam dinding lima menit sekali menunggu datangnya azan Magrib.

Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan haus. Dalam bahasa psikologi analitik Carl Gustav Jung, manusia sebenarnya sedang berhadapan dengan arketip—pola kesadaran purba yang hidup di alam bawah sadar kolektif manusia.

Jung pernah menulis: “Archetypes are universal, archaic patterns and images that derive from the collective unconscious.” Artinya, arketip adalah pola kuno yang hidup dalam batin manusia. Ia muncul dalam mitos, simbol, agama, bahkan dalam kebiasaan sehari-hari.

Menariknya, jika kita melihat konsep takwa dalam tradisi Islam, ia bisa dipahami sebagai semacam arketip kesadaran ilahiyah—sebuah pola batin universal yang membuat manusia selalu merasa diawasi oleh sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri.

Takwa bukan sekadar aturan moral. Ia adalah kesadaran eksistensial teofanik. Dan bulan Ramadan adalah laboratorium kecil tempat arketip itu diuji.

Nafsu Bertemu Alarm Dapur

Pengalaman pribadi saya tentang puasa seringkali jauh dari gambaran khusyuk yang ada di buku-buku tasawuf.

Misalnya, pada suatu sore menjelang magrib, saya duduk di dapur menatap panci kolak seperti seorang filsuf Yunani nanggeuy gado. Bedanya, filsuf Yunani mencari makna kosmos, sementara saya mencari kepastian: apakah kolaknya sudah matang?

Di situlah terjadi pergulatan klasik antara arketip spiritual dan arketip perut. Carl Gustav Jung mungkin tidak pernah membahas kolak pisang, tetapi saya cukup yakin konflik antara kesadaran tinggi dan naluri dasar adalah bahan bakar utama psikologi manusia.

Puasa mengajarkan satu hal sederhana namun radikal: manusia tidak selalu harus mengikuti dorongan pertamanya. Dan itu adalah bentuk kecil dari takwa.

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

Setelah sebulan penuh latihan spiritual—dan latihan menahan diri dari membuka kulkas setiap lima menit—datanglah hari yang disebut Lebaran.

Secara antropologis, Lebaran adalah fenomena menarik. Manusia yang selama setahun sibuk dengan ego masing-masing tetiba saja berubah menjadi makhluk penuh pelukan, maaf, dan ketupat.

Kalimat yang paling sering terdengar adalah: “Mohon maaf lahir batin.” Kalimat ini luar biasa. Ia seperti tombol reset psikologis kolektif.

Arketip dalam diri

Dalam istilah Jungian, kita bisa melihatnya sebagai momen ketika arketip rekonsiliasi muncul ke permukaan kesadaran sosial. Manusia menyadari bahwa hubungan antar manusia lebih penting daripada sekadar menang dalam perdebatan keluarga tentang politik atau harga cabai.

Dan jujur saja, sebagian orang baru benar-benar memaafkan setelah makan opor ayam kedua.

Itu juga bagian dari proses batin.

Banyak orang mengira Ramadan adalah puncak spiritualitas, lalu setelah Lebaran semuanya kembali seperti semula. Menjadi manusia berlumuran dosa!

Padahal secara simbolik, Syawal justru adalah ujian sebenarnya. Dalam bahasa Sunda ada ungkapan yang sangat indah: “Syawal téh ningkatkeun kahadéan pikeun 11 bulan kahareup.”

Artinya, Syawal bukan akhir latihan—melainkan awal konsistensi. Kalau Ramadan adalah sekolahnya, maka Syawal adalah kehidupan nyata.

Dalam perspektif Jung, arketip hanya benar-benar bermakna jika ia diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran tidak cukup muncul dalam ritual; ia harus hidup dalam tindakan.

Takwa, dengan demikian, bukan sekadar pengalaman spiritual sesaat di bulan Ramadan. Ia adalah pola kesadaran yang terus hadir ketika kita bekerja, berbicara, mengambil keputusan, bahkan ketika kita tergoda mengambil kue terakhir di meja tamu.

Jika Jung berbicara tentang arketip sebagai pola batin yang hidup dalam manusia, maka dalam pengalaman religius kita bisa melihat takwa sebagai arketip kesadaran ilahiyah—suatu dorongan batin untuk hidup lebih jujur, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab.

Ramadan membangunkannya. Lebaran merayakannya. Syawal menuntut kita menjaganya. Dan jika suatu saat di bulan berikutnya kita kembali tergoda makan gorengan terlalu banyak—itu juga bagian dari perjalanan manusia.

Arketip tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya terus berbisik pelan dalam hati: “Jadilah sedikit lebih baik dari kemarin.” (*)

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Puasa Ayakan

News Update

Ayo Netizen 11 Mar 2026, 18:05

Jalan Rusak dan Tambal Sulam, Tingkat Kepuasan Pemudik Bisa Merosot

Faktor utama yang menentukan tingkat kepuasan mudik Lebaran bisa diukur dari kondisi jalan yang mulus hingga ke kampung halaman para pemudik.

Ilustrasi jalan rusak di Desa Banjaran Wetan, Kabupaten Bandung. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Toni Hermawan)
Bandung 11 Mar 2026, 17:45

Geliat Bolu Susu Asli Lembang di Tengah Kemeriahan Bazar Ramadhan

Bolu Susu Asli Lembang menawarkan beragam varian bolu yang menggoda selera. Mulai dari rasa original, tiramisu, black forest, hingga varian durian yang menjadi primadona di etalase pameran.

Bolu Susu Asli Lembang menawarkan beragam varian bolu yang menggoda selera. Mulai dari rasa original, tiramisu, black forest, hingga varian durian yang menjadi primadona di etalase pameran. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Bandung 11 Mar 2026, 16:01

Harmoni Dua Benua dalam Sepiring Hangat Ambara Biru, Hadirkan Sensasi Kuliner Fusion Sunda–Brazil

Meski masyarakat Indonesia gemar bereksplorasi dengan rasa, kuliner Negeri Samba masih sering dianggap asing atau sebatas hidangan daging panggang semata.

Sebuah narasi kuliner baru sedang dirajut oleh Ambara Biru, sebuah destinasi yang memadukan eksotisme Brasil dengan keramahan tanah Sunda. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Eneng Reni Nuraisyah Jamil)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 15:28

Zakat di Bandung Raya Abad ke-19

Berikut adalah hasil rangkuman tentang kisah zakat di Bandung raya pada abad ke-19.

Masjid Raya Bandung zaman baheula. (Sumber: Tropenmuseum)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 14:49

Pasar Ilmu dan Golden Tiket Pulang: Romantisme Ngaji Pasaran di Pesantren

Mengenal istilah pengajian rutin di Pondok Pesantren yang hanya ada pada bulan Ramadan.

Ilustrasi keseruan santri saat mengaji di pondok pesantren. (Sumber: Unplash | Foto: Muhammad Azzam)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 12:25

Pasca Lebaran, Boleh Saja Kita Makan dan Minum Tanpa Menatap Jam Dinding!

Di bulan Ramadan, manusia tiba-tiba menjadi makhluk yang penuh refleksi—meski sebagian refleksi itu terjadi sambil menatap jam dinding lima menit sekali menunggu datangnya azan Magrib.

Ilustrasi berdoa kegiatan spiritualitas. (Sumber: freepik.com)
Ikon 11 Mar 2026, 11:43

Jejak Sejarah Blewah dan Timun Suri, Bagaimana Keduanya jadi Takjil Ramadan Favorit di Indonesia

Blewah dan timun suri berasal dari keluarga melon yang menyebar lewat jalur perdagangan sebelum menjadi takjil Ramadan populer.

Penjual timun suri. (Foto: Kavin Faza)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 11:09

Berburu Busana Lebaran Tahun 1980-an di Bandung

Hiruk pikuk warga Kota Bandung belanja baju Lebaran tahun 1980-an.

Suasana Jalan Ahmad Yani Cicadas Bandung tahun 1980-an. (Sumber: Nationaal Museum van Wereldculturen | Foto: Henk van Rinsum)
Beranda 11 Mar 2026, 10:39

Kekerasan terhadap Perempuan Naik 14 Persen pada 2025, Aktivis Soroti Relasi Kuasa dan Budaya Patriarki

Data Komnas Perempuan menunjukkan kasus kekerasan berbasis gender terhadap perempuan meningkat di 2025. Aktivis menilai akar masalahnya berkaitan dengan ketimpangan relasi kuasa dan budaya patriarki.

Aksi International Women’s Day (IWD) 2026 di Kota Bandung suarakan solidaritas lintas gerakan serta tuntutan penghentian kekerasan berbasis gender dan pemenuhan hak kesehatan reproduksi (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)
Linimasa 11 Mar 2026, 10:22

Pasar Takjil Ramadan Mekarwangi Bandung, Surga Kuliner Sore di Cibaduyut

Jalan Indrayasa di kawasan Mekarwangi, Bandung, berubah menjadi pasar takjil setiap sore selama Ramadan. Ratusan pedagang menjual kolak, minuman segar, hingga jajanan kekinian.

Suasana pasar takjil Ramadan di Jalan Indrayasa, Mekarwangi, Bandung. (Foto: Mildan Abdalloh)
Wisata & Kuliner 11 Mar 2026, 10:12

Pesona Batu Tumpang di Perkebunan Teh yang Bisa Melihat Pantai Selatan

Batu Tumpang di Garut Selatan menawarkan pemandangan unik berupa batu raksasa di tengah hamparan perkebunan teh. Dari puncaknya, pengunjung bahkan bisa melihat garis biru Pantai Selatan saat cerah.

Batu Tumpang (Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 11 Mar 2026, 09:16

Air Lindih Menggenang di Jalan Pasar Gedebage, Warga Siap Laporkan ke Polda Jabar

Kondisi sampah di kawasan Pasar Gedebage, Kota Bandung, kembali dikeluhkan para pedagang pada pekan ini.

Satu sudut pasar Gedebage yang digenangi air lindih dari sampah. (Foto: Dokumen pribadi)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:44

Berkah Caruluk

Orang tua dulu sering berpesan, “hirup téh kudu siga caruluk.” Jadilah manusia yang bermanfaat dari ujung rambut hingga ujung kaki.

Penjual kolang kaling. (Sumber: Ayobandung.com | Foto: Tri Junari)
Bandung 10 Mar 2026, 20:44

Cerita Kimirai Fashion Menjemput Peluang di Tengah Semarak Pameran Menjelang Lebaran

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa.

UMKM yang berkesempatan untuk unjuk gigi dalam pameran adalah Kimirai, brand lokal fashion yang menyediakan berbagai jenis outfit lucu hingga busana muslim, dari usia remaja hingga dewasa. (Sumber: Ayobiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 20:01

Dua Visi Keberlanjutan dalam Ibadah Ramadan

Ramadan menjadi ruang refleksi untuk memandang masa depan.

Seorang laki-laki sedang tilawah al-Qur'an. (Sumber: Pixabay)
Linimasa 10 Mar 2026, 18:55

Open Iftar Trafalgar Square, Buka Bersama Puasa Ramadan di Jantung London

Open Iftar di Trafalgar Square bermula dari tenda kecil mahasiswa SOAS dan kini menjadi tradisi buka puasa Ramadan terbesar di London.

Suasana Open Iftar di Trafalgar Square, London.
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 17:45

Piala Dunia 1986 Digelar Bersamaan dengan Bulan Ramadan

FIFA World Cup '86 yang digelar di Meksiko berbarengan dengan bulan suci Ramadan.

Halaman muka surat kabar terbitan Bandung, Gala dan Mandala yang menyoroti perhelatan Piala Dunia 1986 di Meksiko. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Ayo Netizen 10 Mar 2026, 16:13

Belanja atau Investasi? Mengelola THR di Tengah Ketidakpastian Ekonomi

THR dapat menjadi kesempatan tidak hanya merayakan Lebaran, tetapi juga memperkuat keuangan rumah tangga.

Ilustrasi uang rupiah. (Sumber: Pexels | Foto: Ahsanjaya)
Sejarah 10 Mar 2026, 14:59

Sejarah Supersemar, Dokumen Kontroversial Fondasi 3 Dekade Kekuasaan Rezim Orde Baru

Supersemar 11 Maret 1966 menjadi dasar politik lahirnya Orde Baru dan awal kekuasaan Soeharto selama lebih dari tiga dekade.

Ilustrasi Supersemar, dokumen yang hingga kini keberadaannya kontroversial.
Beranda 10 Mar 2026, 12:47

Balap Lari Tengah Malam di Gudsel dan Ciumbuleuit, Cara Anak Muda Bandung Menunggu Sahur

Balap lari jalanan Gudsel Run Race di Gudang Selatan Bandung menjadi hiburan malam Ramadan bagi anak muda, menghadirkan lomba lari spontan yang ramai penonton hingga menjelang sahur.

Suasana balap lari jalanan di Jalan Gudang Selatan. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ilham Maulana)