Pasca Lebaran, Boleh Saja Kita Makan dan Minum Tanpa Menatap Jam Dinding!

3 menit baca
Sukron Abdilah
Ditulis oleh Sukron Abdilah diterbitkan
Ilustrasi berdoa kegiatan spiritualitas. (Sumber: freepik.com)
Ilustrasi berdoa kegiatan spiritualitas. (Sumber: freepik.com)

Ada satu tradisi yang selalu berhasil membuat manusia merasa sangat spiritual sekaligus sangat lapar: ya, namanya adalah puasa. Di bulan Ramadan, manusia tiba-tiba menjadi makhluk yang penuh refleksi—meski sebagian refleksi itu terjadi sambil menatap jam dinding lima menit sekali menunggu datangnya azan Magrib.

Namun di balik semua itu, ada sesuatu yang lebih dalam dari sekadar menahan lapar dan haus. Dalam bahasa psikologi analitik Carl Gustav Jung, manusia sebenarnya sedang berhadapan dengan arketip—pola kesadaran purba yang hidup di alam bawah sadar kolektif manusia.

Jung pernah menulis: “Archetypes are universal, archaic patterns and images that derive from the collective unconscious.” Artinya, arketip adalah pola kuno yang hidup dalam batin manusia. Ia muncul dalam mitos, simbol, agama, bahkan dalam kebiasaan sehari-hari.

Menariknya, jika kita melihat konsep takwa dalam tradisi Islam, ia bisa dipahami sebagai semacam arketip kesadaran ilahiyah—sebuah pola batin universal yang membuat manusia selalu merasa diawasi oleh sesuatu yang lebih tinggi daripada dirinya sendiri.

Takwa bukan sekadar aturan moral. Ia adalah kesadaran eksistensial teofanik. Dan bulan Ramadan adalah laboratorium kecil tempat arketip itu diuji.

Nafsu Bertemu Alarm Dapur

Pengalaman pribadi saya tentang puasa seringkali jauh dari gambaran khusyuk yang ada di buku-buku tasawuf.

Misalnya, pada suatu sore menjelang magrib, saya duduk di dapur menatap panci kolak seperti seorang filsuf Yunani nanggeuy gado. Bedanya, filsuf Yunani mencari makna kosmos, sementara saya mencari kepastian: apakah kolaknya sudah matang?

Di situlah terjadi pergulatan klasik antara arketip spiritual dan arketip perut. Carl Gustav Jung mungkin tidak pernah membahas kolak pisang, tetapi saya cukup yakin konflik antara kesadaran tinggi dan naluri dasar adalah bahan bakar utama psikologi manusia.

Puasa mengajarkan satu hal sederhana namun radikal: manusia tidak selalu harus mengikuti dorongan pertamanya. Dan itu adalah bentuk kecil dari takwa.

Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Ilustrasi suasana Bulan Puasa di Tanah Sunda. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)

Setelah sebulan penuh latihan spiritual—dan latihan menahan diri dari membuka kulkas setiap lima menit—datanglah hari yang disebut Lebaran.

Secara antropologis, Lebaran adalah fenomena menarik. Manusia yang selama setahun sibuk dengan ego masing-masing tetiba saja berubah menjadi makhluk penuh pelukan, maaf, dan ketupat.

Kalimat yang paling sering terdengar adalah: “Mohon maaf lahir batin.” Kalimat ini luar biasa. Ia seperti tombol reset psikologis kolektif.

Arketip dalam diri

Dalam istilah Jungian, kita bisa melihatnya sebagai momen ketika arketip rekonsiliasi muncul ke permukaan kesadaran sosial. Manusia menyadari bahwa hubungan antar manusia lebih penting daripada sekadar menang dalam perdebatan keluarga tentang politik atau harga cabai.

Dan jujur saja, sebagian orang baru benar-benar memaafkan setelah makan opor ayam kedua.

Itu juga bagian dari proses batin.

Banyak orang mengira Ramadan adalah puncak spiritualitas, lalu setelah Lebaran semuanya kembali seperti semula. Menjadi manusia berlumuran dosa!

Padahal secara simbolik, Syawal justru adalah ujian sebenarnya. Dalam bahasa Sunda ada ungkapan yang sangat indah: “Syawal téh ningkatkeun kahadéan pikeun 11 bulan kahareup.”

Artinya, Syawal bukan akhir latihan—melainkan awal konsistensi. Kalau Ramadan adalah sekolahnya, maka Syawal adalah kehidupan nyata.

Dalam perspektif Jung, arketip hanya benar-benar bermakna jika ia diintegrasikan dalam kehidupan sehari-hari. Kesadaran tidak cukup muncul dalam ritual; ia harus hidup dalam tindakan.

Takwa, dengan demikian, bukan sekadar pengalaman spiritual sesaat di bulan Ramadan. Ia adalah pola kesadaran yang terus hadir ketika kita bekerja, berbicara, mengambil keputusan, bahkan ketika kita tergoda mengambil kue terakhir di meja tamu.

Jika Jung berbicara tentang arketip sebagai pola batin yang hidup dalam manusia, maka dalam pengalaman religius kita bisa melihat takwa sebagai arketip kesadaran ilahiyah—suatu dorongan batin untuk hidup lebih jujur, lebih sadar, dan lebih bertanggung jawab.

Ramadan membangunkannya. Lebaran merayakannya. Syawal menuntut kita menjaganya. Dan jika suatu saat di bulan berikutnya kita kembali tergoda makan gorengan terlalu banyak—itu juga bagian dari perjalanan manusia.

Arketip tidak menuntut kesempurnaan. Ia hanya terus berbisik pelan dalam hati: “Jadilah sedikit lebih baik dari kemarin.” (*)

Ikuti AyoBandung.id di Google Jadikan kami sumber pilihan untuk mendapatkan berita terkini lebih cepat
Ikuti

Disclaimer

Tulisan ini merupakan artikel opini yang sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Pandangan yang disampaikan dalam artikel ini tidak mewakili pandangan atau kebijakan organisasi dan redaksi AyoBandung.id.

Sukron Abdilah
Tentang Sukron Abdilah
Peneliti Pusat Studi Media Digital dan Kebijakan Publik Universitas Muhammadiyah Bandung

Berita Terkait

Ayo Netizen 27 Feb 2026, 09:15

Puasa Ayakan

Puasa Ayakan

News Update

Ayo Netizen 28 Sep 2026, 12:24

Ayam Bekakak: Eksplorasi Gastronomi, Akar Historis, dan Filosofi Budaya Sunda

Dalam peta kuliner Tatar Pasundan, Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam) bukan sekadar sajian pemuas lapar.

Ayam Bekakak (atau Bakakak Hayam), hidangan ayam panggang utuh khas Tatar Pasundan. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: amrufm)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 11:19

Sesi Cukur Malam

Berkisah pembicaraan dua orang sobat, tukang cukur dan pelanggannya yang seorang dosen. Mereka menggosipkan mengenai kesialan-kesialan nasib karib mereka semasa SMA.

Sesi Cukur Malam. (Sumber: Chat GPT)
Ayo Netizen 28 Sep 2026, 07:40

Gunta Akhiri: Mewujudkan Rumah Besar Para Insinyur Kota Bandung

Tantangan besar ketersediaan Insinyur Profesional mesti segera diatasi

Ilustrasi Ketua PII  Cabang Bandung, Gunta Akhiri dan Ketum PII Pusat, Ilham Akbar Habibie (Sumber: dikreasi dengan chatgpt | Foto: Totok Siswantara)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 19:12

Eksplorasi Gastronomi Bandung: Menyingkap Jejak Rasa, Sejarah, dan Warisan Budaya Pasundan

Memahami kuliner Bandung bukan sekadar aktivitas konsumsi, melainkan sebuah penelusuran antropologis terhadap budaya Pasundan yang menempatkan harmoni alam di atas piring saji.

Soto Bandung tampil unik dengan kuah bening kaldu sapi sebagai pembeda dari soto bersantan di daerah lain, dipadukan secara khas dengan potongan lobak. (Sumber: Wikimedia Commons | Foto: Gunawan Kartapranata)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 16:09

Jalan yang Benar di 'Google Maps' Belum Tentu Benar bagi Kendaraan Kita

Google Maps tidak berada di balik kemudi. Ia tidak tahu secara langsung apakah kendaraan tertentu membawa muatan berlebih atau apakah mesin kendaraan sedang prima.

Google Maps (Sumber: ayobandung.com | Foto: ayobandung.com)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:36

Cuma Rp216 Bisa Keliling Bandung! Merayakan Ulang Tahun Kota Kembang Naik Bandros dan TMB

Pemerintah Kota Bandung memberikan kado spesial kepada seluruh warga dan wisatawan dalam rangka merayakan Hari Jadi Kota Bandung (HJKB) ke-216.

Salah satu video Youtube Boby Rachma "BANDUNG TOUR ON BUS!! KELILING KOTA BANDUNG NAIK BANDROS!!".
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 10:06

Ekstrakurikuler yang Membahagiakan sebagai Resiliensi Pendidikan Berkelanjutan

Hadirnya pembelajaran ekstrakurikuler bagi murid diwujudkan dengan kegiatan yang lebih tepat dan memberi ruang bagi murid untuk mengekspresikan dirinya sesuai dengan hobi atau minat bakatnya.

Ilustrasi murid sekolah negeri. (Sumber: Pexels/Yazid N)
Ayo Netizen 27 Sep 2026, 08:26

Kamera Dulu, Peluk dan Tolong Kemudian

Fenomena masyarakat modern yang lebih mengutamakan kamera dan dokumentasi dibandingkan dengan mengutamakan empati.

Fenomena yang sering terjadi pada masyarakat modern yang menjadikan dokumentasi satu-satunya yang penting ketika terjadi sesuatu (Sumber: Generated AI)
Beranda 26 Sep 2026, 11:23

46 Kilometer Jalan yang Melintasi Kota Bandung Ini Bukan Milik Pemkot

Berdasarkan dokumen itu, sebagian besar ruas jalan nasional yang melintasi Kota Bandung tersebut membentang dari barat ke timur.

Jalan Soekarno Hatta membentang sejauh 18 kilometer dari timur ke barat di kawasan selatan Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 19:46

MJT: Program Pemerintah Jawa Barat yang Cukup Solutif untuk Mengurangi Kemacetan

Metro Jabar Trans menjadi program yang cukup bermanfaat untuk meminimalisir kemacetan juga alternatif kendaraan umum yang terjangkau bagi masyarakat

Metro Jabar Trans menjadi salah satu transportasi umum pilihan masyarakat (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 18:19

Menonton Film di Bioskop Legendaris Bandung Era 90-an

Jauh sebelum bioskop hadir di dalam pusat perbelanjaan dan sinepleks modern, Bandung memiliki banyak gedung bioskop yang menjadi bagian dari denyut kehidupan kota.

Penulis berdiri di seberang bekas Bioskop Dian, Jalan Dalem Kaum, tepat di seberang kawasan Alun-Alun Bandung. (Sumber: Agus Wahyudi)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 17:24

Apa yang Salah Ketika Kekerasan Dipertontonkan di Sosial Media secara Vulgar?

Tontonan pada konten media sosial kini banyak yang mempertontonkan kekerasan secara vulgar. Nilai-nilai humanistik kian tergerus. Apakah kita bisa bijak dan memikirkan dampaknya untuk masa depan?

Ilustrasi korban kekerasan. (Sumber: Pexels | Foto: Daniel Reche)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 16:50

Nilai Diri 'Dus Obat' dalam Perspektif Industri Farmasi

Dus obat yang sering kita sepelekan ternyata tidak sesederhana yang kita pikirkan karena perlu spesifikasi tertentu saat diproduksi.

Dus Obat. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Seni Budaya 25 Sep 2026, 15:21

Mengenal Makna Kehidupan Melalui Batik

Legenda Ki Bahu Reksa dihadirkan melalui empat panel batik tulis Pekalongan yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.

Luqiani Octa Pratiwi menghidupkan legenda Ki Bahu Reksa melalui wayang beber dan batik tulis khas Pekalongan. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 15:17

Membenahi Kompetensi Sopir, Atasi Jalur Tengkorak di Bandung Raya

Regulasi mewajibkan pemerintah menjamin penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan bagi pengemudi

Ilustrasi jalur tengkorak di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.com)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 13:32

Api Biru Papandayan: Ketika Foto Indah Justru Bisa Menyimpan Bahaya

Foto yang baik tidak harus menjadi bukti bahwa fotografer berhasil mengalahkan jarak.

Fenomena blue fire. (Sumber: kemenparekraf.go.id)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 10:19

Jejak Kuliner Nusantara: Telaah Literatur Resep Masakan Indonesia Pascakemerdekaan (1950–1979)

Secara keseluruhan, literatur resep masakan kurun 1950 hingga 1979 berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern.

Di antara buku-buku resep masakan yang terbit pada kurun 1950 hingga 1979 telah berhasil meletakkan fondasi kokoh bagi kebudayaan Indonesia modern. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Badiatul Muchlisin Asti)
Ayo Netizen 25 Sep 2026, 08:28

Kado Istimewa Hari Jadi Kota Bandung:  Penghargaan Nasional Layanan Investasi

Pada semester pertama tahun 2026 telah mencatatkan angka investasi yang sangat impresif, yaitu melampaui Rp 6 triliun

Penghargaan Nasional Layanan Investasi 2026 untuk  kota Bandung (Sumber: dok bandung.go.id)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 20:45

Becak Listrik Bandung dan Penyakit Lama Kebijakan Publik

Becak listrik adalah alat produksi. Ia menghasilkan uang hanya ketika bergerak dan membawa penumpang. Kalau baterai habis, ada risiko pendapatan hilang.

Becak listrik bantuan Presiden tiba di Kota Bandung. (Sumber: ayobandung.com | Foto: Ayobandung)
Ayo Netizen 24 Sep 2026, 18:56

Koleksi Media Cetak Lawas: Merawat Ingatan dan Sumber Pengetahuan 

Di tengah derasnya arus informasi digital yang serba cepat dan instan, koleksi media cetak lawas menghadirkan cara lain untuk memahami perjalanan bangsa.

Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Sastra, Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, melakukan penelitian terhadap surat kabar Pikiran Rakyat edisi lawas. (Foto: Kin Sanubary)