Membuka kembali lembaran surat kabar lama sering menghadirkan pengalaman yang unik. Kertasnya mungkin telah menguning dan rapuh dimakan usia, tetapi isi di dalamnya menyimpan potret kehidupan masyarakat pada zamannya. Dari sana kita bisa membayangkan kembali bagaimana suasana kota, kebiasaan warganya, hingga denyut kehidupan sehari-hari yang pernah berlangsung puluhan tahun silam.
Salah satu potongan menarik dapat ditemukan dalam arsip surat kabar Berdikari edisi 28 November 1969. Pada hari itu, kalender Hijriah menunjukkan tanggal 18 Ramadan 1389, sekitar 57 tahun yang lalu.
Di halaman koran tersebut terdapat sebuah rubrik kecil bertajuk “Renungan Ramadhan” yang dilengkapi dengan jadwal puasa untuk Kota Bandung dan sekitarnya. Meski sederhana, rubrik semacam ini menunjukkan bagaimana media cetak pada masa itu ikut menghadirkan suasana spiritual Ramadan bagi para pembacanya.
Pada masa ketika radio dan koran menjadi sumber informasi utama, banyak warga Bandung memulai hari dengan membaca koran sambil menyeruput kopi atau teh hangat. Dari lembaran itulah mereka mengetahui kabar kota, berita nasional, hingga jadwal imsak dan berbuka puasa.
Dalam bagian renungan Ramadan, dimuat kutipan pesan keagamaan yang mengajak umat untuk memperbanyak amal kebaikan. Pesan tersebut berbunyi:
“Wahai manusia! Hamburkan salam, berikan makan kepada fakir miskin, hubungkan rahim dan bersembahyanglah di malam hari dikala manusia nyenyak tidur.”
(At Targhib I : 387)

Pesan singkat ini mengingatkan bahwa Ramadan bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, tetapi juga momentum memperkuat kepedulian sosial, menjaga silaturahmi, serta memperbanyak ibadah malam.
Di bawah renungan tersebut tercantum pula jadwal puasa untuk hari ke-18 Ramadan 1389 Hijriah, yang pada tahun itu jatuh pada 28 November 1969. Untuk wilayah Bandung, jadwalnya tercatat sebagai berikut:
Imsak : 04.00 WIB
Subuh : 04.05 WIB
Magrib : 17.51 WIB
Menariknya, koran itu juga mencantumkan penyesuaian waktu bagi beberapa daerah di sekitar Bandung. Disebutkan bahwa jadwal tersebut berlaku untuk Bandung dan sekitarnya, dengan beberapa pengecualian.
Wilayah seperti Tasikmalaya, Majalengka, Ciamis, dan Indramayu diminta mengurangi waktu sekitar lima menit. Sementara Cianjur dan Karawang ditambah dua menit, dan Sukabumi serta Bekasi ditambah empat menit.
Selain jadwal puasa, koran Berdikari edisi yang sama juga memuat daftar jadwal salat Jumat di sejumlah masjid di Kota Bandung, lengkap dengan nama khotib yang akan menyampaikan khutbah.

Berikut sebagian daftar yang dimuat dalam koran tersebut:
● Masjid Agung Bandung — Dinas Urusan Agama Kabupaten Bandung
● Ibtidaijah – Gg. Ibu Aisah — Bachrudin
● Thoriqul Djannah – Jl. Cibadak — Ust. Sodikin
● Al Hikam – Gg. Kamasan — Tjetje Hanafie
● Al Hikmah – Gg. Citepus — H. Dja’i
● Masjid Djami – Jl. Pajagalan — K.M.E. Abdurrachman
● Al Djihad – Pasar Babatan — Moh. Toha
● Al Hikmah – Gg. Durman — K.N. Latief
● Silaturahim — K.M. Idad
● Masjid Djami – Jl. Gereja — HMI Sudibja
● Masjid Djami – Leuwipanjang — M. Iri
● Masjid Djami – Jl. Moh. Toha — T. Toha
● Masjid Djami – Pabrik Mess — U. Sanusi
● Miftahul Manan — A. Chusaeri
● Al Muttaqien – Babakan H. Tamim — Adj. Ahub
● Al Hidayah – Dok Adj. Sekepondok — I. Rasidi
● Al Ikhlas – Sukasari — M. Entjon
● Al Ikhlas – Cikondang — A. Holil
● Al Ihsan – Bojong — Moh. Nana Wiria
● Al Irsyad — A. Samsuddin
● Masjid Djami – Cicadas — T. Anas
● Masjid Djami – Cinta Asih — E. Nasrullah
● Masjid Djami – Maleer — Ustman Shalahuddin
● Masjid Djami – Gg. Philips — A. Mamun
● Urwatul Wusqo — J. Wardi
● Masjid Djami – Cukangjati — Hadis
● Masjid Djami – Aspol Kosambi — A. Mihardja
● Al Manar – Jl. Puter — Danial Chalil
● Masjid Djami – Situsaeur — A. Sjarif Sukandi
● Masjid Djami – Bojong Asih — Ust. Udju
Catatan kecil dari sebuah koran lama ini memperlihatkan bagaimana media cetak pada masa itu menjadi sumber informasi praktis bagi masyarakat. Sebelum hadirnya aplikasi digital atau jadwal otomatis di telepon genggam, banyak orang mengandalkan koran untuk mengetahui waktu imsak, berbuka puasa, hingga kegiatan keagamaan di masjid-masjid sekitar.
Rubrik semacam ini juga menunjukkan bahwa koran tidak hanya memuat berita politik atau ekonomi, tetapi turut menjadi ruang penyebaran pesan moral dan spiritual.
Sebuah potongan kecil di halaman koran, namun sarat makna tentang kehidupan religius masyarakat Bandung pada akhir 1960-an.
Baca Juga: Kisah Ramadan dalam Lagu ‘Lebaran Sebentar Lagi’
Kini, lebih dari setengah abad kemudian, potongan arsip itu menjadi pengingat bahwa suasana Ramadan selalu hadir dalam berbagai bentuk termasuk melalui lembaran koran yang dahulu menemani pagi hari para pembacanya.
Dari sana kita dapat membayangkan kembali Bandung pada masa itu, udara pagi yang masih sejuk, warga yang menanti azan Magrib di rumah atau di masjid lingkungan, serta koran yang menjadi teman setia untuk mengetahui kabar kota dan jadwal puasa hari itu.
Sebuah jejak kecil Ramadan di Bandung, yang kini tersimpan dalam arsip surat kabar lama. (*)
