Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Aris Abdulsalam
Ditulis oleh Aris Abdulsalam diterbitkan Rabu 29 Apr 2026, 18:48 WIB
Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)

AYOBANDUNG.ID Rabu pagi, 23 April 2026. Langit di atas Kabupaten Bandung menggantungkan awan kelabu sejak pagi. Udara terasa sejuk, nyaris dingin, ketika saya tiba di sebuah rumah di kawasan Taman Cibaduyut. Yang pertama kali menyambut mata bukan pintu, bukan teras, melainkan deretan pot anggrek yang bergantungan di sepanjang langit-langit teras. 

Bunga-bunga itu tampak terawat, daun-daun hijaunya menjadi penyejuk di tengah cuaca yang muram. Rupanya, sang tuan rumah adalah seorang pembina Perhimpunan Anggrek Indonesia kota Bandung; dan kecintaannya pada tanaman itu tak hanya sekadar jabatan.

Fam Kiun Fat sudah menunggu. Pria yang akrab disapa Akiun ini menyambut dengan hangat dan segera mempersilakan duduk. Suasana di dalam rumah terasa tenang, sejuk, seolah menyerap keheningan awan di luar. Pukul 11 pagi, perbincangan pun dimulai.

Nama Adalah Doa, Bukan Sekadar Panggilan

Lahir di Bandung pada 19 Desember 1960, Akiun tumbuh dari akar keluarga Tionghoa yang merantau ke Indonesia. Ayahnya datang dari Tiongkok dan menetap di bumi pertiwi. Dari sanalah nama itu berasal (Fam Kiun Fat) sebuah nama yang menyimpan marga, doa, dan garis keturunan sekaligus.

"Kebetulan ayah saya lahir di Tiongkok sana. Ibu saya dari Bangka. Ibu saya juga keturunan Tionghoa. Jadi saya terlahir sebagai generasi pertama, dari keturunan ayah saya di Bandung ini. Dan masa itu saya terlahir sebagai warga negara asing (WNA), karena ayah saya sebagai WNA," buka Akiun kepada Ayobandung.id.

Dalam ajaran Konghucu yang ia pegang erat, nama bawaaan lahirnya (Fam Kiun Fat) bukan perkara kecil. Marga adalah penanda silsilah, serupa fungsi marga dalam tradisi Batak yang menentukan garis keluarga. Pernikahan pun dipandang sebagai penyatuan dua keluarga yang berbeda marga, sebuah peristiwa yang menghubungkan manusia dengan Tuhan, leluhur, dan keturunan yang akan datang.

Tetapi hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa.

"Pada saat itu keluar keluar Inpres (Instruksi Presiden) No. 14 Tahun 1967. Inpres tersebut melarang orang-orang Tionghoa memamerkan atau menampilkan tradisi-tradisi ke-Tionghoaannya," lanjut pria tersebut.

Masalah belum selesai di situ. Ketika Orde Baru datang dengan kebijakan asimilasi (mengimbau warga Tionghoa mengganti nama menjadi lebih "Indonesia")  Akiun yang saat itu baru berusia 21 tahun menghadapi pilihan yang tidak mudah. Di tengah arus besar yang mendorong banyak orang memilih "aman", ia memilih akar.

"Pada umur 21, (barulah) saya mengajukan sebagai warga negara Indonesia (WNI). Karena kalau orang tuanya lahir di Tiongkok sana sebagai WNA, saya boleh mengajukan sebagai WNI pada usia dewasa 21 tahun. Masalahnya waktu itu orang-orang Tionghoa yang menjadi WNI diimbau untuk ganti nama (ke-Indonesiaa-an), seperti Candra, Budi, dan segala macamnya. Tapi saya menolak. Saya tidak mau kehilangan akar saya, asal-usul saya,” tegasnya.

Imbauan itu, kata Akiun, memang bukan hukum yang bersifat mutlak. Tidak ada sanksi tertulis. Tetapi tekanan sosialnya nyata. Banyak orang memilih menggantinya demi kelancaran hidup, demi tidak mencolok, demi diterima. Akiun memilih sebaliknya. 

Alasannya sederhana namun teguh: mengganti nama berarti memutus hubungan batin dengan leluhur. Baginya, nama adalah doa yang dipanjatkan orang tua, dan mengubahnya sama saja dengan menolak doa itu.

Hingga hari ini, tidak ada nama Indonesia yang melekat padanya. Begitu pula dengan anak-anaknya, yang tetap menyandang nama Mandarin mereka. Identitas itu diwariskan bukan karena keras kepala, melainkan karena keyakinan: tanpa nama, kita kehilangan arah pulang.

"Percuma saya ganti nama yang lebih Indonesia, mata saya tetap sipit. Saya tetap tidak akan bisa hilang ke-Cina-annya atau ke-Tionghoa-an saya."

Generasi yang Kehilangan Akarnya

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)

Puluhan tahun tekanan Orde Baru meninggalkan luka yang tidak sebentar sembuhnya. Budaya Tionghoa dibatasi, tradisi ditekan, dan agama Konghucu nyaris tak bisa bernapas. Akibatnya, satu generasi tumbuh dalam kekosongan. Tidak tahu marganya, tidak mengenal leluhurnya, bahkan orang tuanya pun sudah lupa.

"Agama Konghucu itu tidak boleh berkembang, tidak boleh tampil di luar. Jadi di KTP pun agama Konghucu ditulis setrip (-)," getirnya.

Situasi mulai bergeser ketika era reformasi membuka ruang baru. Keppres No. 6 Tahun 2000 yang diterbitkan di masa Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) mencabut pembatasan atas agama, kepercayaan, dan adat istiadat Tionghoa. Konghucu perlahan mendapat pengakuan. Urusan administrasi kewarganegaraan yang dulu kerap menjadi hambatan bagi penganut Konghucu (termasuk soal kolom agama di KTP) mulai mendapat jalan.

"Sebetulnya zaman dulu, orang Tionghoa yang datang ke Indonesia itu 90 sekian persen Konghucu semua. Karena Inpres no.14 1967, banyak yang beralih agama. Jadi mereka tidak mau pusing."

Ketua yang Mengajak Berbaur, Bukan Menutup Diri

Di luar urusan identitas dan keyakinan, Akiun adalah seorang organisatoris yang aktif. Ia menjabat sebagai Wakil Ketua MAKIN (Majelis Agama Konghucu Indonesia) Bandung, Ketua Perhimpunan INTI (Indonesia Tionghoa) kota Bandung, anggota FKUB kota Bandung mewakili umat Konghucu, serta terlibat dalam berbagai forum lintas agama — dari Jakatarub hingga FLADS (Forum Lintas Agama Deklarasi Sancang).

Rekam jejak itu mencerminkan sikapnya yang konsisten: mempertahankan identitas bukan berarti membangun tembok. Justru sebaliknya. Sebagai ketua Perhimpunan INTI, ia selalu mengingatkan anggotanya bahwa mereka adalah warga negara Indonesia; dan pengabdian kepada Indonesia adalah kewajiban, bukan pilihan.

"Sejujurnya saya bangga menjadi WNI. Saya lahir di sini, bukan di Tiongkok sana," ucapnya menggebu.

Luka sejarah memang masih ada. Peristiwa 1998 adalah salah satu contoh pahit bagaimana komunitas Tionghoa bisa menjadi korban di tengah gejolak sosial. Karena itulah, kata Akiun, keharmonisan harus dijaga dengan cara aktif. Bukan dengan bersembunyi, bukan dengan larut dalam ketakutan, tetapi dengan hadir, berbaur, dan berkontribusi.

"Di orang Tionghoa itu ada falsafah hidup Luo Di Sheng Gen. Di mana kaki berpijak, di situ langit dijunjung. Orang Tionghoa di mana pun berada mereka tidak akan mengabdi ke Tiongkok, tetapi mengabdi pada negara masing-masing yang dihuni."

Kini, komunitas Tionghoa di Bandung semakin terlibat dalam kegiatan sosial kemasyarakatan melalui wadah seperti Masyarakat Tionghoa Peduli. Batas-batas yang dulu terasa kaku perlahan mencair.

“Waktu masih muda saya sama sekali tidak terbayangkan kondisi seperti hari ini. Juga tidak terbayangkan saat ini saya banyak terjun di (aktivitas gotong royong keberagaman) lintas agama.”

Di luar rumah langit Bandung kian mendung. Anggrek-anggrek di teras tetap bergantungan tenang. Akiun mengantar saya sampai ke jalanan kompleks dengan senyum yang sama seperti ketika menyambut, hangat, tanpa terburu-buru. Seperti seseorang yang sudah lama berdamai dengan waktu, dan tahu persis di mana ia berpijak (*)

Berita Terkait

News Update

Beranda 29 Apr 2026, 18:48

Mereka yang Agamanya Pernah ‘Dihapus’ dari KTP, Kini Gencar Menebar Hal Baik

Hidup pada masa Orde Baru tidaklah mudah. Terutama jika keturunan Tionghoa dan beragama Konghucu.

Fam Kiun Fat yang akrab disapa Akiun, salah satu tokoh Tionghoa dan Konghucu ternama di Bandung Raya. (Sumber: Ayobandung.id)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 16:54

Kota ini Tak Lagi Sama(Pah) Tanpamu

Tidak ada langkah yang lebih realistis untuk mengatasi masalah sampah di Kota Bandung selain mengendalikan petugas pengelola sampah dan terus mengedukasi masyarakat

Gunungan Sampah di TPST Batununggal Bandung. Rabu, 29 April 2026 (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Dias Ashari)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 15:35

Heritage: Mana yang Usang, Mana yang (harus) Terbuang

Konsep warisan kita sangat dibentuk oleh kolonialisme. Oleh karena itu, tulisan ini jadi ajakan dekonstruksi warisan yang elitis menjadi lebih inklusif, emansipatif, dan adil bagi pemilik properti.

Gedung-gedung peninggalan masa kolonial di Kota Bandung. (Sumber: Unsplash | Foto: Neermana Studio)
Beranda 29 Apr 2026, 15:16

Mengurus Sampah Kota Bandung Bukan Hal Ringan, Biaya "Segunung" Harus Dikeluarkan Setiap Hari

Kelola ribuan ton sampah setiap hari, Kota Bandung harus mengeluarkan ribuan liter BBM demi memastikan ratusan armada pengangkut tetap bergerak menyisir lingkungan warga.

"Gunung"sampah di Tempat Pembuangan Sampah (TPS) Dakota di Jl. Gunung Batu, Sukaraja, Kecamatan Cicendo, Kota Bandung pada Jumat, 7 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Ikbal Tawakal)
Bandung 29 Apr 2026, 15:05

Tren Intimate Wedding di Bandung, Afrodite WO: Tonjolkan Karakter Pengantin dan Kesesuaian Venue

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan.

Tren pernikahan bergeser ke arah privat dan personal. Afrodite Wedding Organizer Bandung ungkap pentingnya menyesuaikan venue dengan karakter pengantin dibandingkan sekadar mengejar keviralan. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 13:36

Dari Pesantren ke Panggung Nasional: Perjalanan Hayyun Halimatul Ummah Menjadi Duta Santri

Kisah Hayyun Halimatul Ummah, santri dari keluarga sederhana yang menembus Duta Santri Nasional lewat ketekunan, keberanian, dan tekad untuk bermanfaat.

Hayyun Halimatul Ummah ketika dinobatkan sebagai Duta Santri Nasional pada malam grand final. (Sumber: Dokumentasi Penulis)
Wisata & Kuliner 29 Apr 2026, 13:34

Panduan Wisata Pemandian Cipanas Garut, Pilih Tempat Sesuai Gaya Liburanmu di Kaki Gunung Guntur

Panduan wisata Cipanas Garut, mengulas sejarah dua abad, sumber air panas alami, serta pilihan pemandian dan resort terbaik di kaki Gunung Guntur.

Kawasan Wisata Cipanas Garut. (Sumber: Pemprov Jabar)
Beranda 29 Apr 2026, 10:30

Beban Berat Pengangkutan Sampah di Kota Bandung, Sehari Habiskan BBM Setara 457 Galon Air Mineral

Setiap hari, bahan bakar yang dipakai untuk mengangkut sampah di Bandung setara ratusan galon air minum. Jumlah ini menggambarkan betapa besar energi yang dibutuhkan hanya untuk menjaga kota tetap ber

Aktivitas pengangkutan sampah menuju TPA Sarimukti di Kecamatan Cipatat, Kabupaten Bandung Barat (KBB) pada Selasa 6 Mei 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Restu Nugraha Sauqi)
Beranda 29 Apr 2026, 09:15

Kota Bandung Kewalahan Hadapi 1.500 Ton Sampah per Hari, Armada Tertahan, TPA Kian Tertekan

Bandung menghadapi lonjakan sampah hingga 1.500 ton per hari. Armada tersendat akibat antrean dan kuota TPA, membuat pengangkutan melambat dan tumpukan sampah kian meluas.

Truk sampah Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bandung sedang mengangkut sampah pada 18 November 2025. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Bob Yanuar Muslim)
Beranda 29 Apr 2026, 08:45

Diskar Kota Bandung Ungkap Daftar Kecamatan dengan Tingkat Kejadian Kebakaran Tertinggi

Diskar mengungkap sejumlah kecamatan dengan tingkat kejadian kebakaran tertinggi di Bandung, dipicu kepadatan permukiman, instalasi listrik, dan meningkat saat musim kemarau.

Petugas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kota Bandung melakukan pendinginan pada kios material barang bekas yang terbakar di Jalan Soekarno-Hatta, Kota Bandung, Kamis 26 Maret 2026. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Irfan Al Faritsi)
Ayo Netizen 29 Apr 2026, 07:36

Menjelang 1 Mei di Bandung: Buruh Menghidupi Ekonomi Negara, tapi Siapa yang Menghidupi Mereka?

Selama buruh masih dihadapkan pada upah yang belum sepenuhnya layak, harga kebutuhan yang terus naik, dan kepastian kerja yang rapuh, maka tidak ada kata perjuangan buruh telah selesai.

Di tengah hiruk pikuk Bandung, ada mereka yang terus bekerja agar kota tetap hidup. (Sumber: Unsplash | Foto: Abdul Ridwan)
Bandung 28 Apr 2026, 20:52

Memperkuat "Imunitas" Finansial Warga Jabar, Mengapa Kampus Harus Jadi Garda Depan Melawan Pinjol?

Tanpa "imunitas" atau literasi keuangan yang kuat, kemudahan akses digital justru menjadi pintu masuk menuju jeratan utang yang menghancurkan ekonomi keluarga.

Edukasi keuangan harus masuk ke jantung pendidikan untuk menciptakan ekosistem keuangan yang sehat dan bertanggung jawab. (Sumber: OJK Jawa Barat)
Wisata & Kuliner 28 Apr 2026, 20:40

Panduan Wisata Tanjung Duriat Sumedang, Panorama 360 Derajat Waduk Jatigede

Tanjung Duriat Sumedang menawarkan panorama 360 derajat Waduk Jatigede dengan pemandangan bukit dan air luas dari satu titik.

Wahana Hammock Net di Tanjung Duriat Sumedang. (Sumber: Tanjung Duriat)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 18:04

Sering Salah Pakai Tanda Titik? Kenali Aturannya Biar Bagus Tulisanmu

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya.

Tanda titik, meski tampak sederhana, banyak orang masih keliru dalam penggunaannya. (Sumber: Ilustrasi oleh ChatGPT)
Linimasa 28 Apr 2026, 16:56

Jejak Perkebunan Kina di Bandung, Tinggal Puing Tak Terurus

Dulu kuasai 90 persen pasar dunia, pabrik kina Kertasari kini jadi puing akibat gempa, penyerobotan lahan, dan kebijakan

Pabrik Kina pertama di Kabupaten Bandung sudah hampir tak berwujud. (Sumber: Ayomedia | Foto: Mildan Abdalloh)
Ikon 28 Apr 2026, 16:06

Hikayat Tanjakan Emen, Jalur Horor di Subang yang telan Banyak Korban

Sejarah Tanjakan Emen dari kisah sopir oplet 1956 hingga menjadi jalur rawan kecelakaan akibat geometri jalan berbahaya.

Tanjakan Emen, Subang. (Sumber: Google Earth)
Bandung 28 Apr 2026, 15:21

Transformasi Seserahan, dari Sekadar Tradisi Menjadi Simbol Gaya Hidup dan Personal Branding

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin.

Seserahan kini tak lagi sekadar hantaran sebagai perwujudan janji suci kedua mempelai, tapi bergeser menjadi bagian dari personal branding dan karakter calon pengantin. (Sumber: AyoBiz.id | Foto: Nisrina Nuraini)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 15:01

Naik Angkot dari Soreang ke Kopo Tak Seindah dalam Lagu

Bagi mereka yang setiap hari melintasi Kopo, kemacetan parah bukan hal baru.

Kemacetan kendaraan mengular di salah satu ruas jalan di Bandung, mencerminkan padatnya mobilitas warga di tengah aktivitas harian. (Sumber: Magang Ayobandung | Foto: Miftahul Rizki)
Ayo Netizen 28 Apr 2026, 11:32

Komunitas HaikuKu Indonesia, Merawat Puisi dalam Sunyi

Berawal dari ruang maya bernama Facebook, ribuan orang berkumpul karena satu kesamaan yaitu kecintaan pada puisi.

Komunitas Haikuku Indonesia akur, rukun dan guyub. (Sumber: Dokumentasi Penulis | Foto: Kin Sanubary)
Beranda 28 Apr 2026, 09:25

Tujuh Tahun Menunggu, Penghuni Rumah Deret Tamansari Menagih Janji Penghidupan

Setelah 7 tahun menanti, penghuni Rumah Deret Tamansari kini menagih janji hunian layak dan ruang usaha yang belum terpenuhi di tengah sempitnya ruang hidup dan trauma penggusuran.

Wawan (duduk) di lorong rumah deret Tamansari, ia berusaha bertahan dengan pekerjaan serabutan di tengah perubahan hidup pascarelokasi. (Sumber: ayobandung.id | Foto: Halwa Raudhatul)